cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PSYCHOLOGICAL DYNAMICS IN A PATIENT WITH COMPLEX PARTIAL EPILEPSY AND ORGANIC MENTAL DISORDER: CASE STUDY Manda Hanun Ar Rasyid; Lely Nur Azizah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15940

Abstract

ABSTRAK Epilepsi merupakan kondisi neurologis kronis yang dapat disertai berbagai manifestasi psikologis, tetapi interaksi antara pengalaman psikopatologis, kondisi psikososial, respons koping, dan pengalaman pengobatan masih belum banyak dideskripsikan pada tingkat kasus individual. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika psikologis pada pasien dengan epilepsi parsial kompleks dan gangguan mental lain akibat kerusakan dan disfungsi otak serta penyakit fisik (F06.8). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal dan teknik purposive sampling pada seorang perempuan berusia 50 tahun yang diidentifikasi dengan inisial RH. Data diperoleh melalui observasi klinis, wawancara dengan pasien, caregiver, dan perawat psikiatri, serta telaah rekam medis, kemudian dianalisis secara tematik melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengalaman perseptual auditorik dan visual, keyakinan berkaitan dengan kebesaran dan persekusi, isolasi sosial, keterlibatan keluarga, koping religius, aktivitas sehari-hari, ketidakpatuhan pengobatan, kelelahan, dan kondisi emosi intens sebagai dimensi penting kasus. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dinamika psikologis pasien perlu dipahami sebagai pengalaman klinis dan psikososial yang saling berkaitan, bukan sebagai bukti mekanisme kausal tunggal. Penelitian menyimpulkan bahwa pemahaman dinamika psikologis pada pasien dengan komorbiditas neurologis dan psikiatri memerlukan perspektif terintegrasi dan berpusat pada pasien yang mempertimbangkan manifestasi klinis, pengalaman subjektif, konteks sosial, sumber koping, serta pengalaman pengobatan. ABSTRACT Epilepsy is a chronic neurological condition that may be accompanied by various psychological manifestations, yet the interaction among psychopathological experiences, psychosocial circumstances, coping responses, and treatment experiences remains insufficiently described at the individual case level. This study aimed to explore the psychological dynamics of a patient with complex partial epilepsy and other mental disorders due to brain damage and dysfunction and physical disease (F06.8). A qualitative approach with a single-case study design was employed using purposive sampling to select a 50-year-old woman identified by the initials RH. Data were collected through clinical observation, in-depth interviews with the patient, caregiver, and psychiatric nurses, and medical record review, followed by thematic analysis and source triangulation. The findings identified auditory and visual perceptual experiences, grandiose-related and persecutory-related beliefs, social isolation, family involvement, religious coping, daily activities, treatment nonadherence, fatigue, and intense emotional states as important dimensions of the case. These findings indicate that the patient's psychological dynamics comprised interconnected clinical and psychosocial experiences rather than a single causal mechanism. The study concludes that understanding psychological dynamics in patients with neurological and psychiatric comorbidity requires an integrated, person-centered perspective that considers clinical manifestations, subjective experiences, social context, coping resources, and treatment experiences.
HUBUNGAN DIGITAL NARCISSISM DENGAN SELF-PRESENTATION PADA GENERASI Z PENGGUNA MEDIA SOSIAL Elvi Fidhiyaningsih; Vania Ardelia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15955

Abstract

ABSTRACT Social media has become a space in which Generation Z develops impressions of themselves while responding to how others perceive them. Within an environment that allows users to select and manage what they choose to display, digital narcissism may be associated with how individuals engage in self-presentation. This study examines the relationship between these two aspects among Generation Z social media users using a quantitative correlational approach. A total of 271 participants were selected through purposive sampling. Data were collected using the Narcissistic Personality Inventory-16 (NPI-16) to assess digital narcissism and the Presentation of Online Self Scale (POSS) to assess self-presentation. Since the data for both variables were not normally distributed, their relationship was analyzed using Spearman’s rho correlation. The analysis yielded a correlation coefficient of r = 0.579 with p < 0.001, indicating a positive and significant relationship with a moderate strength. This pattern suggests that higher levels of digital narcissism are associated with higher levels of self-presentation. The findings are not intended to establish a causal relationship but rather to illustrate the association between psychological characteristics and how individuals manage their self-image within digital environments. ABSTRAK Media sosial menjadi salah satu ruang tempat Generasi Z membentuk kesan tentang dirinya sekaligus merespons cara orang lain memandang dirinya. Dalam ruang yang memungkinkan pengguna memilih dan mengatur apa yang ingin ditampilkan, kecenderungan digital narcissism dapat berkaitan dengan cara individu melakukan self-presentation. Penelitian ini menelaah keterkaitan kedua aspek tersebut pada pengguna media sosial Generasi Z melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 271 partisipan dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Narcissistic Personality Inventory-16 (NPI-16) untuk mengukur digital narcissism dan Presentation of Online Self Scale (POSS) untuk mengukur self-presentation. Karena data kedua variabel tidak berdistribusi normal, hubungan antarkonstruk dianalisis menggunakan korelasi Spearman’s rho. Hasil analisis menghasilkan koefisien korelasi sebesar r = 0,579 dengan p < 0,001, yang mengindikasikan hubungan positif dan signifikan dengan kekuatan hubungan pada kategori sedang. Pola tersebut memperlihatkan bahwa kecenderungan digital narcissism yang lebih tinggi berjalan bersama kecenderungan self-presentation yang lebih tinggi. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat, melainkan memperlihatkan keterkaitan antara karakteristik psikologis dan cara individu mengelola citra diri dalam lingkungan digital.
ADAPTASI DAN EVALUASI PSIKOMETRIK LAKAEV ACADEMIC STRESS RESPONSE SCALE-2 (LASRS-2) DALAM BAHASA INDONESIA Muhammad Yassar Aryasena; Muhammad Indra Astrawan; Prasetyo Budi Widodo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15956

Abstract

Psychological test adaptation requires more than literal translation because construct equivalence and psychometric evidence must be examined before an instrument is used in a new cultural setting. This study aimed to adapt the Lakaev Academic Stress Response Scale-2 (LASRS-2) into Indonesian and to examine preliminary evidence of its reliability and construct validity among undergraduate students. The adaptation involved forward translation, translation synthesis, back-translation, expert review, readability testing, pilot testing, and psychometric evaluation. ThePilot study involved 172 undergraduate students from the Faculty of Psychology at University X, with data collected using convenience sampling.. The original 26-item instrument represents four domains: affective, behavioral, cognitive, and physiological. Overall internal consistency was high, with omega of 0.920 and alpha of 0.919. However, the four-factor confirmatory factor analysis did not demonstrate adequate model fit (χ² = 491.843; df = 293; CFI = 0.892; TLI = 0.880; RMSEA = 0.063; SRMR = 0.063). These findings indicate strong internal consistency but insufficient evidence for construct validity and discriminant validity. The Indonesian LASRS-2 should therefore be considered a preliminary adaptation requiring item refinement, replication in a more heterogeneous sample, and further factor-analytic investigation before use in confirmatory research. ABSTRAK Adaptasi alat ukur psikologis ke dalam konteks bahasa dan budaya baru memerlukan lebih dari sekadar penerjemahan, karena kesetaraan konstruk dan bukti psikometrik perlu dipastikan sebelum instrumen digunakan. Penelitian ini bertujuan mengadaptasi Lakaev Academic Stress Response Scale-2 (LASRS-2) ke dalam Bahasa Indonesia dan mengevaluasi reliabilitas serta validitas konstruknya pada mahasiswa program sarjana. Adaptasi dilakukan melalui forward translation, sintesis terjemahan, back-translation, expert review, uji keterbacaan, pilot testing, dan evaluasi psikometrik. Uji coba melibatkan 172 mahasiswa program sarjana di Fakultas Psikologi Universitas X dengan teknik pengambilan data menggunakan convenience sampling. Instrumen awal terdiri atas 26 butir yang merepresentasikan empat domain, yaitu afektif, behavioral, kognitif, dan fisiologis. Reliabilitas internal keseluruhan menunjukkan koefisien omega 0.920 dan alpha cronbach 0.919. Namun, model empat faktor yang diuji melalui confirmatory factor analysis belum menunjukkan kecocokan yang memadai (χ² = 491.843; df = 293; CFI = 0.892; TLI = 0.880; RMSEA = 0.063; SRMR = 0.063). Temuan ini menunjukkan bahwa LASRS-2 versi Bahasa Indonesia memiliki konsistensi internal yang kuat, tetapi bukti validitas konstruk dan diskriminasi antar dimensinya masih belum memadai. Versi ini lebih tepat dipandang sebagai instrumen adaptasi awal yang memerlukan penyempurnaan item, replikasi pada sampel yang lebih heterogen, serta pengujian faktor lanjutan sebelum digunakan untuk penelitian konfirmatori.
KEPUASAN KERJA DOSEN: PERAN BEBAN KERJA, STRES KERJA, DAN PENGALAMAN KERJA SEBAGAI MODERATOR Hasan Masa
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15970

Abstract

ABSTRACT The increasingly complex demands of the higher education tridharma frequently trigger dynamic psychological pressures and work evaluations among lecturers; however, the mechanisms explaining these relationships continue to show inconsistent findings, particularly regarding how tenure or individual work experience differentiates the impacts of various types of workload. To address this research gap, this study aims to analyze the effects of workload and job stress on lecturers' job satisfaction and to examine work experience as a moderating variable in both relationships, using the Job Demands-Resources (JD-R) Theory as a theoretical framework. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed, involving 148 lecturers at Universitas Negeri Semarang (UNNES) selected through proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) via SmartPLS 4.0 by evaluating the measurement model, structural model, and moderation effects. The results indicate that workload has a positive and significant effect on job satisfaction (β = 0.272; p = 0.002), whereas job stress has a negative and significant effect (β = −0.384; p < 0.001). Work experience does not moderate the relationship between workload and job satisfaction (β = 0.031; p = 0.702), but it significantly moderates the relationship between job stress and job satisfaction (β = 0.198; p = 0.026), indicating an attenuation of the negative relationship. These findings provide additional evidence that the role of work experience within the JD-R framework is not uniform across different work relationships. Practically, higher education institutions need to strengthen stress management, professional support, mentoring, and workload allocation that is proportional to lecturers' capacities. ABSTRAK Tuntutan tridarma perguruan tinggi yang semakin kompleks kerap memicu dinamika tekanan psikologis dan evaluasi kerja dosen, namun mekanisme yang menjelaskan keterkaitan tersebut masih memperlihatkan inkonsistensi temuan, khususnya terkait bagaimana tenure atau masa kerja individu membedakan dampak dari berbagai jenis beban pekerjaan. Guna mengisi celah penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh beban kerja dan stres kerja terhadap kepuasan kerja dosen serta menguji pengalaman kerja sebagai variabel moderasi pada kedua hubungan tersebut dengan menggunakan Job Demands-Resources (JD-R) Theory sebagai landasan teoretis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 148 dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4.0 dengan pengujian model pengukuran, model struktural, dan efek moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (β = 0,272; p = 0,002), sedangkan stres kerja berpengaruh negatif dan signifikan (β = −0,384; p < 0,001). Pengalaman kerja tidak memoderasi hubungan beban kerja dengan kepuasan kerja (β = 0,031; p = 0,702), tetapi secara signifikan memoderasi hubungan stres kerja dengan kepuasan kerja (β = 0,198; p = 0,026), yang mengarah pada pelemahan hubungan negatif tersebut. Temuan ini memberikan bukti tambahan bahwa peran pengalaman kerja dalam kerangka JD-R tidak seragam pada setiap hubungan kerja. Secara praktis, perguruan tinggi perlu memperkuat pengelolaan stres, dukungan profesional, mentoring, dan pengaturan beban kerja secara proporsional.
PERAN KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MAKNA HIDUP TERHADAP PENGAMBILAN PEPUTUSAN KARIER PADA SISWA SMA Vincentius Ivan Agung Nugroho; Qurrota A’yuni Fitriana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.16018

Abstract

ABSTRACT Career decision-making is an important developmental task during adolescence and is influenced by various internal and external factors. In this process, students need to integrate information about career options with their self-understanding and sense of meaning in life, while parental involvement can provide support for career exploration and decision-making. This study aimed to examine the role of parental involvement and meaning in life in students’ career decision-making, both simultaneously and partially, and to identify the variable with the more dominant influence. This quantitative study involved 192 high school students in Metro City as the sample. Data were collected using the Parental Involvement Scale, Career Decision-Making Self-Efficacy Scale, and Meaning in Life Questionnaire. The three instruments demonstrated good reliability, with Cronbach’s Alpha coefficients of 0.888, 0.941, and 0.861, respectively. The data were analyzed using multiple linear regression to examine the effects of parental involvement and meaning in life on career decision-making. The results showed that parental involvement and meaning in life had a significant simultaneous effect on career decision-making. Partially, both variables also had significant effects, with meaning in life demonstrating a more dominant influence than parental involvement. These findings indicate that students’ career decision-making is not only related to support from the family environment but also to students’ ability to discover and experience meaning in life. Therefore, career guidance should integrate parental support with efforts to help students understand their values, goals, and meaning in life as a foundation for making mature and responsible career decisions. ABSTRAK Penentuan keputusan karier merupakan salah satu tugas perkembangan penting pada masa remaja yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Dalam prosesnya, siswa perlu mengintegrasikan informasi mengenai pilihan karier dengan pemahaman terhadap diri dan makna hidup yang dimilikinya, sementara keterlibatan orang tua dapat memberikan dukungan dalam proses eksplorasi dan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keterlibatan orang tua dan makna hidup terhadap pengambilan keputusan karier siswa, baik secara simultan maupun parsial, serta mengidentifikasi variabel yang memiliki pengaruh lebih dominan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 192 siswa SMA di Kota Metro sebagai sampel. Data dikumpulkan menggunakan Skala Keterlibatan Orang Tua, Skala Efikasi Diri Pengambilan Keputusan Karier, dan Meaning in Life Questionnaire. Ketiga instrumen menunjukkan reliabilitas yang baik, dengan koefisien Cronbach’s Alpha masing-masing sebesar 0,888; 0,941; dan 0,861. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk menguji pengaruh keterlibatan orang tua dan makna hidup terhadap pengambilan keputusan karier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dan makna hidup secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan karier. Secara parsial, kedua variabel tersebut juga memberikan pengaruh yang signifikan, dengan makna hidup menunjukkan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan keterlibatan orang tua. Temuan ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan karier siswa tidak hanya berkaitan dengan dukungan lingkungan keluarga, tetapi juga dengan kemampuan siswa dalam menemukan dan menghayati makna hidup. Oleh karena itu, pendampingan karier perlu mengintegrasikan dukungan orang tua dengan upaya membantu siswa memahami nilai, tujuan, dan makna hidup sebagai dasar dalam menentukan pilihan karier secara matang dan bertanggung jawab.
PERAN PSYCHOLOGICAL SAFETY DALAM PENGEMBANGAN ORGANISASI: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Ica Nur Fauziah; Olievia Prabandini Mulyana; Intan Febriaputri Wahyuda; Angelina Henias Sugianto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.16064

Abstract

ABSTRACT Psychological safety refers to a psychological and relational condition in which employees feel safe to express opinions, share knowledge, acknowledge mistakes, and propose new ideas without fear of interpersonal consequences. Although research on psychological safety in organizational contexts has continued to grow, findings regarding its role in supporting organizational development remain dispersed across various variables and mechanisms. This study aims to examine the role of psychological safety in supporting organizational development and to identify the mechanisms and variables associated with it based on studies published between 2020 and 2025. A systematic literature review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. The literature search was performed using Scopus, Sinta, and DOAJ, with inclusion criteria covering peer-reviewed journal articles published in Indonesian or English that positioned psychological safety as a key variable in organizational or workplace contexts. Of the 37 records identified, 27 studies proceeded to the eligibility assessment, and 17 studies met the criteria for further analysis. The findings indicate that psychological safety is associated with organizational development, particularly through innovative work behavior and team learning, as well as its relationship with leadership and various organizational outcomes. Psychological safety also functions as a mechanism linking leadership characteristics with accountability and innovation, while supervision incivility is associated with lower levels of psychological safety. Overall, psychological safety can be understood as a condition that supports openness, learning, and innovation within organizations. However, the findings should be interpreted cautiously because most of the reviewed studies employed cross-sectional designs. ABSTRAK Psychological safety merupakan kondisi psikologis dan relasional yang memungkinkan karyawan merasa aman dalam menyampaikan pendapat, berbagi pengetahuan, mengakui kesalahan, dan mengemukakan ide tanpa takut terhadap konsekuensi interpersonal. Meskipun penelitian mengenai psychological safety dalam konteks organisasi terus berkembang, temuan mengenai perannya dalam mendukung pengembangan organisasi masih tersebar pada berbagai variabel dan mekanisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran psychological safety dalam mendukung pengembangan organisasi serta mengidentifikasi mekanisme dan variabel yang berkaitan dengannya berdasarkan penelitian yang diterbitkan pada periode 2020–2025. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui Scopus, Sinta, dan DOAJ terhadap artikel jurnal peer-reviewed berbahasa Indonesia dan Inggris. Dari 37 rekaman yang ditemukan, 27 studi memasuki tahap penilaian kelayakan dan 17 studi memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa psychological safety berkaitan dengan pengembangan organisasi, terutama melalui perilaku kerja inovatif dan pembelajaran tim, serta memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan dan berbagai outcome organisasi. Psychological safety juga berperan sebagai mekanisme yang menghubungkan karakteristik kepemimpinan dengan accountability dan inovasi, sedangkan supervision incivility berkaitan dengan penurunan psychological safety. Dengan demikian, psychological safety menjadi kondisi penting yang mendukung keterbukaan, pembelajaran, dan inovasi dalam organisasi. Namun, hasil perlu ditafsirkan secara hati-hati karena sebagian besar studi menggunakan desain cross-sectional.
ANALISIS ENTREPRENEURIAL MINDSET SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS, PENGALAMAN KEWIRAUSAHAAN, DAN ORIENTASI KARIER Muhammad Naufal Herliansyah; Laila Listiana Ulya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.16075

Abstract

ABSTRAK Entrepreneurial mindset merupakan aspek penting bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mengenali peluang kewirausahaan dan menentukan arah karier setelah lulus. Penelitian ini bertujuan menganalisis entrepreneurial mindset siswa berdasarkan karakteristik demografis, pengalaman kewirausahaan, dan orientasi karier. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 275 siswa kelas XI SMK Saraswati Kota Salatiga. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur entrepreneurial mindset dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset siswa berada pada kategori sedang. Karakteristik demografis menunjukkan hubungan yang beragam. Jurusan dan pekerjaan ayah/wali laki-laki memiliki hubungan atau kontribusi signifikan pada beberapa aspek entrepreneurial mindset, sedangkan usia, jenis kelamin, status kewirausahaan orang tua, dan pekerjaan ibu/wali perempuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengalaman mengikuti pelatihan kewirausahaan berkorelasi positif dengan entrepreneurial mindset dan kedua dimensinya, sedangkan pengalaman menjalankan usaha menunjukkan hubungan yang lebih kuat serta berkontribusi positif dan signifikan terhadap entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset. Orientasi karier juga menunjukkan hubungan yang berbeda berdasarkan pilihan karier, dengan hubungan positif pada orientasi kuliah sambil berwirausaha dan berwirausaha. Temuan ini menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset siswa lebih berkaitan dengan pengalaman kewirausahaan dan orientasi karier dibandingkan karakteristik demografis. ABSTRACT Entrepreneurial mindset merupakan aspek penting bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mengenali peluang kewirausahaan dan menentukan arah karier setelah lulus. Penelitian ini bertujuan menganalisis entrepreneurial mindset siswa berdasarkan karakteristik demografis, pengalaman kewirausahaan, dan orientasi karier. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 275 siswa kelas XI SMK Saraswati Kota Salatiga. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur entrepreneurial mindset dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset siswa berada pada kategori sedang. Karakteristik demografis menunjukkan hubungan yang beragam. Jurusan dan pekerjaan ayah/wali laki-laki memiliki hubungan atau kontribusi signifikan pada beberapa aspek entrepreneurial mindset, sedangkan usia, jenis kelamin, status kewirausahaan orang tua, dan pekerjaan ibu/wali perempuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengalaman mengikuti pelatihan kewirausahaan berkorelasi positif dengan entrepreneurial mindset dan kedua dimensinya, sedangkan pengalaman menjalankan usaha menunjukkan hubungan yang lebih kuat serta berkontribusi positif dan signifikan terhadap entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset. Orientasi karier juga menunjukkan hubungan yang berbeda berdasarkan pilihan karier, dengan hubungan positif pada orientasi kuliah sambil berwirausaha dan berwirausaha. Temuan ini menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset siswa lebih berkaitan dengan pengalaman kewirausahaan dan orientasi karier dibandingkan karakteristik demografis.
VALIDITAS KONSTRUK INSTRUMEN FEAR OF NEGATIVE EVALUATION DENGAN METODE CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS (CFA) Khusnul Khowatim; Arbin Janu Setiyowati; Herlina Effendi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.16111

Abstract

ABSTRACT Fear of Negative Evaluation (FNE) is one of the factors associated with social anxiety during adolescence, highlighting the need for an assessment instrument that can accurately measure this construct within the Indonesian cultural context. This study aimed to obtain evidence of content validity and internal structure for the Indonesian version of The Brief Fear of Negative Evaluation Scale II (BFNE-II) among vocational high school students. The adaptation process followed the guidelines of the International Test Commission (2017) through forward translation, translation synthesis, backward translation, and an equivalence assessment conducted by two experts. The study involved 245 students from SMK Negeri 1 Kota Malang, aged 15–19 years, selected using simple random sampling. Content validity was examined using Gregory’s inter-rater agreement index, while the internal structure was assessed through a one-factor Confirmatory Factor Analysis (CFA) using AMOS 23. The results showed a Gregory index of 1.00, while the CFA yielded an adequate model fit with CFI = 0.925, RMSEA = 0.076, and p < 0.001. All 12 items demonstrated positive and significant factor loadings with t > 1.96; therefore, no items were eliminated. These findings provide initial evidence of content validity and internal structure supporting a unidimensional model of the Indonesian BFNE-II among the students studied. Further research should examine reliability, convergent and discriminant validity, and measurement invariance across more diverse samples. ABSTRAK Fear of Negative Evaluation (FNE) menjadi salah satu aspek yang berkaitan dengan kecemasan sosial pada masa remaja, sehingga diperlukan instrumen yang mampu mengukur konstruk tersebut secara tepat dalam konteks budaya Indonesia. Penelitian ini bertujuan memperoleh bukti validitas isi dan struktur internal The Brief Fear of Negative Evaluation Scale II (BFNE-II) versi bahasa Indonesia pada siswa sekolah menengah kejuruan. Proses adaptasi mengacu pada pedoman International Test Commission (2017) melalui tahapan forward translation, sintesis terjemahan, backward translation, dan penilaian kesepadanan oleh dua ahli. Penelitian melibatkan 245 siswa SMK Negeri 1 Kota Malang berusia 15–19 tahun yang dipilih melalui simple random sampling. Validitas isi dianalisis menggunakan indeks kesepakatan antarahli Gregory, sedangkan struktur internal diuji melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) model satu faktor dengan AMOS 23. Hasil menunjukkan indeks Gregory sebesar 1,00, sedangkan CFA menghasilkan CFI = 0,925, RMSEA = 0,076, dan p < 0,001. Seluruh 12 butir menunjukkan muatan faktor positif dan signifikan dengan nilai t > 1,96 sehingga tidak terdapat butir yang dieliminasi. Temuan ini memberikan bukti awal mengenai kesepadanan isi dan struktur internal BFNE-II versi bahasa Indonesia yang mendukung model satu faktor pada siswa yang diteliti. Pengujian reliabilitas, validitas konvergen dan diskriminan, serta measurement invariance pada karakteristik sampel yang lebih beragam diperlukan pada penelitian berikutnya.
EFEKTIVITAS TEKNIK PUNISHMENT POSITIF DALAM MENGURANGI PERILAKU PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU PRODUKTIF Ulfa Dillah; Rida Yanna Primanita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.13498

Abstract

ABSTRACT Excessive social media use can reduce the time available for learning and productive activities, particularly when social media is used during periods intended for academic activities or skill development. This study aimed to examine the effectiveness of positive punishment in reducing excessive social media use and increasing productive behavior. The study employed a Single Subject Research (SSR) design using an A-B-A′ model involving six subjects who used social media for five hours or more per day. The intervention was conducted for 21 days by providing a consequence in the form of reading and writing a review of two pages of a nonfiction book when social media use exceeded the predetermined limit. Data were collected through screen-time records and productive activity logs and were analyzed visually and descriptively across each phase. The results showed that five subjects experienced a reduction in social media use compared with baseline, while one subject showed inconsistent changes. All subjects demonstrated improvements in productive activities according to their respective targets. These findings indicate that positive punishment has potential as an alternative behavior-modification strategy, although individual responses varied and the sustainability of the changes requires further follow-up. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi waktu untuk belajar dan aktivitas produktif, terutama ketika penggunaannya berlangsung selama waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan akademik atau pengembangan keterampilan. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas teknik positive punishment dalam menurunkan penggunaan media sosial berlebihan dan meningkatkan perilaku produktif. Penelitian menggunakan desain Single Subject Research (SSR) model A-B-A′ terhadap enam subjek yang memiliki penggunaan media sosial lima jam atau lebih per hari. Intervensi dilakukan selama 21 hari dengan memberikan konsekuensi berupa membaca dan membuat review dua halaman buku nonfiksi ketika penggunaan media sosial melampaui batas yang ditetapkan. Data dikumpulkan melalui screen time dan pencatatan aktivitas produktif, kemudian dianalisis secara visual dan deskriptif pada setiap fase. Hasil menunjukkan bahwa lima subjek mengalami penurunan durasi penggunaan media sosial dibandingkan baseline, sedangkan satu subjek menunjukkan perubahan yang tidak konsisten. Seluruh subjek menunjukkan perkembangan pada aktivitas produktif sesuai target masing-masing. Temuan menunjukkan bahwa positive punishment berpotensi menjadi alternatif modifikasi perilaku, meskipun respons individual berbeda dan keberlanjutan perubahan memerlukan pengamatan lebih lanjut dalam periode tindak lanjut penelitian berikutnya.
HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DENGAN KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI PADA SISWA KELAS VIII Novian Fachri; Ni Ketut Alit Suarti; Nuraeni Nuraeni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14338

Abstract

ABSTRACT Emotion management is an important aspect of supporting students’ adjustment and social interaction in the school environment. One psychological aspect related to this ability is self-esteem, which refers to an individual’s evaluation of their own worth and abilities. This study aimed to determine the relationship between self-esteem and emotion management ability among eighth-grade students at SMP Salafiyah Darul Falah in the 2025/2026 academic year. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The sample consisted of 97 students selected using simple random sampling. Data were collected using self-esteem and emotion management questionnaires and analyzed using the Pearson Product Moment correlation test with the assistance of SPSS. The results showed a correlation coefficient of 0.676 with a significance value of 0.000 (p < 0.05). These results indicate a positive and significant relationship between self-esteem and emotion management ability, with the strength of the relationship categorized as strong. The findings indicate that higher levels of students’ self-esteem tend to be associated with better emotion management ability. These findings may serve as a basis for schools and guidance and counseling teachers to develop services that support the strengthening of students’ self-esteem and emotion management ability. ABSTRAK Kemampuan mengelola emosi merupakan aspek penting dalam mendukung penyesuaian diri dan interaksi sosial siswa di lingkungan sekolah. Salah satu aspek psikologis yang berkaitan dengan kemampuan tersebut adalah self-esteem, yaitu penilaian individu terhadap keberhargaan dan kemampuan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan kemampuan mengelola emosi pada siswa kelas VIII SMP Salafiyah Darul Falah Tahun Pelajaran 2025/2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian berjumlah 97 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui angket self-esteem dan angket kemampuan mengelola emosi, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,676 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-esteem dengan kemampuan mengelola emosi, dengan tingkat hubungan berada pada kategori kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-esteem siswa, semakin baik kecenderungan kemampuan siswa dalam mengelola emosinya. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi sekolah dan guru BK dalam mengembangkan layanan yang mendukung penguatan self-esteem dan kemampuan mengelola emosi siswa.