cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
KEBERHASILAN TERASA PALSU: PENGARUH SELF-ESTEEM TERHADAP IMPOSTOR PHENOMENON DI KALANGAN DEWASA AWAL Echa Bintari Putri Cahyawati; Onny Fransinata Anggara
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14619

Abstract

Young adults often encounter various developmental demands and new experiences that may be associated with the emergence of the impostor phenomenon. This phenomenon describes a condition in which individuals experience difficulty internalizing their achievements and tend to doubt their own abilities despite having objective evidence of competence. One psychological factor that is considered to be related to this phenomenon is self-esteem, which refers to an individual's evaluation of their own worth and competence. Although the relationship between self-esteem and impostor phenomenon has been widely examined among university students, studies involving a broader young adult population with diverse characteristics in Indonesia remain limited. This study aimed to examine the ability of self-esteem to predict the tendency of impostor phenomenon among young adults. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample was selected using a purposive sampling technique, involving 211 young adults aged 18–29 years. Data were collected using the Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), and analyzed using simple linear regression analysis. The results showed that self-esteem significantly predicted the impostor phenomenon in a negative direction. Individuals with higher levels of self-esteem tended to show lower tendencies of impostor phenomenon. These findings indicate that self-esteem is one of the psychological factors associated with the occurrence of impostor phenomenon, although other factors may also contribute to this phenomenon. This study contributes to expanding the understanding of the role of self-evaluation in explaining the tendency of impostor phenomenon among young adults in Indonesia. ABSTRAK Individu dewasa awal sering menghadapi berbagai tuntutan perkembangan dan pengalaman baru yang dapat berkaitan dengan munculnya kecenderungan impostor phenomenon. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika individu mengalami kesulitan dalam menginternalisasi keberhasilan dan cenderung meragukan kemampuan dirinya meskipun memiliki pencapaian yang objektif. Salah satu faktor psikologis yang diduga berkaitan dengan fenomena tersebut adalah self-esteem, yaitu evaluasi individu terhadap nilai dan kompetensi dirinya. Meskipun hubungan antara self-esteem dan impostor phenomenon telah banyak dikaji pada mahasiswa, penelitian yang melibatkan populasi dewasa awal dengan karakteristik yang lebih beragam di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan self-esteem dalam memprediksi kecenderungan impostor phenomenon pada individu dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan melibatkan 211 partisipan dewasa awal berusia 18–29 tahun. Data dikumpulkan menggunakan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem berperan sebagai prediktor negatif yang signifikan terhadap impostor phenomenon. Individu dengan tingkat self-esteem yang lebih tinggi cenderung menunjukkan kecenderungan impostor phenomenon yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa self-esteem merupakan salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan munculnya impostor phenomenon, meskipun terdapat faktor lain yang turut berkontribusi terhadap fenomena tersebut. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas pemahaman mengenai peran evaluasi diri dalam menjelaskan kecenderungan impostor phenomenon pada individu dewasa awal di Indonesia.
PERBEDAAN PERILAKU IMPULSIVE BUYING PRODUK SPORTSWEAR ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA DEWASA AWAL DI KOTA PADANG Amin Akbar; Arief Rahman Hakim; Alifah Desita Jannah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14636

Abstract

  ABSTRACT Sportswear is no longer viewed solely as apparel for physical activities but has increasingly become part of consumers’ lifestyles and a means of expressing personal identity. This shift in function creates opportunities for spontaneous purchasing when product appeal intersects with emotional impulses and consumer characteristics. This study examines whether impulsive buying tendencies toward sportswear differ between male and female young adults in Padang City. A total of 299 participants, comprising 134 males and 165 females, were recruited through purposive sampling in a quantitative study with a comparative design. Data were collected using a Likert-scale questionnaire measuring the cognitive and affective aspects of impulsive buying and were subsequently compared using an Independent Samples t-Test. A statistically significant difference was found between the two groups, t(297) = 6.743, p < 0.001. Male participants obtained a higher mean impulsive buying score (M = 63.32) than female participants (M = 53.07). This pattern suggests that impulsive purchasing tendencies cannot be separated from the specific product context encountered by consumers. Accordingly, gender should not be treated as a uniform predictor across all consumption situations. These findings contribute to consumer psychology research on product-specific impulse buying and offer practical considerations for developing more context-sensitive sportswear marketing strategies, particularly in consumer segmentation. ABSTRAK Sportswear kini tidak hanya hadir sebagai perlengkapan aktivitas fisik, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan cara konsumen menampilkan identitas dirinya. Perubahan fungsi tersebut membuka kemungkinan munculnya pembelian yang berlangsung spontan ketika daya tarik produk bertemu dengan dorongan emosional dan karakteristik konsumen. Penelitian ini menelaah apakah kecenderungan impulsive buying pada produk sportswear berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam kelompok dewasa awal di Kota Padang. Sebanyak 299 partisipan, terdiri atas 134 laki-laki dan 165 perempuan, direkrut melalui purposive sampling dalam penelitian kuantitatif dengan desain komparatif. Data diperoleh menggunakan kuesioner skala Likert yang mengukur aspek kognitif dan afektif impulsive buying, kemudian dibandingkan melalui Independent Samples t-Test. Perbedaan antarkelompok ditemukan secara signifikan, t(297) = 6,743, p < 0,001. Kelompok laki-laki memperoleh skor rata-rata 63,32, sedangkan kelompok perempuan memiliki rata-rata 53,07. Pola tersebut mengisyaratkan bahwa kecenderungan membeli secara impulsif tidak dapat dilepaskan dari konteks kategori produk yang dihadapi konsumen. Dengan demikian, gender tidak semestinya diperlakukan sebagai prediktor yang berlaku seragam pada seluruh situasi konsumsi. Temuan ini memperkaya kajian psikologi konsumen mengenai product-specific impulse buying sekaligus memberikan pertimbangan bagi pengembangan strategi pemasaran sportswear yang lebih kontekstual dalam melakukan segmentasi konsumen.
PERAN ADVERSE CHILDHOOD EXPERIENCES TERHADAP REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN PERILAKU SELF-HARM Hidayaturrahman Hidayaturrahman; Rizqi Amalia Aprianty; Dyta Setiawati Hariyono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14781

Abstract

The pressure felt by students in their academic life and personal life can affect emotional regulation in both positive and negative ways. This study aims to determine the role of Adverse Childhood Experiences on emotional regulation in students who have a tendency toward self-harm behavior. This study uses a quantitative method with a correlational design. Sampling method a purposive sampling method was used, with a total sample size of 77 respondents. Data collection was conducted using the 29-question World Health Organization Adverse Childhood Experiences International Questionnaire (WHO ACE-IQ), and the 10-question Emotion Regulation Questionnaire. Data analysis was performed using simple linear regression with JASP 0.95.4.0 (Jeffreys' Amazing Statistics Program) software. The results of this study indicate that ACEs are not associated with and do not have a significant effect on emotional regulation. It is hoped that college students will continue to develop their emotional regulation skills through adaptive emotional regulation strategies.
PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN TIKTOK DAN PAPARAN KONTEN SELF-DIAGNOSIS TERHADAP PERSEPSI DIRI SANTRI DI KOTA TUBAN, JAWA TIMUR Hikmah Rosyidah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14849

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the empirical effect of TikTok usage intensity and exposure to self-diagnosis content on adolescents' self-perception among Islamic boarding school students (santri) in Tuban, East Java. A quantitative survey design was employed, with 100 respondents aged 15–17 years selected through purposive sampling based on their active use of TikTok. Data were gathered using validated Likert-scale questionnaires and analyzed using multiple linear regression supported by SPSS version 27. The findings indicate that TikTok usage intensity and exposure to self-diagnosis content simultaneously exert a significant effect on self-perception (F=90.235;p<.001). Partially, TikTok usage intensity (t=10.087;p<.001) and exposure to self-diagnosis content (t=2.212;p=.029) positively and significantly influence students' self-perception. The coefficient of determination (R^2) of 0.650 indicates that 65.0% of the variance in self-perception is explained by both independent variables, while the remaining 35.0% is governed by external factors. These findings highlight the necessity of structured digital literacy programs and verified psychological education within Islamic educational environments.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh intensitas penggunaan TikTok dan paparan konten self-diagnosis terhadap persepsi diri santri di Kota Tuban, Jawa Timur. Pendekatan kuantitatif dengan metode survei diterapkan kepada 100 santri berusia 15–17 tahun yang dipilih menggunakan teknik penarikan sampel bertujuan (purposive sampling). Pengumpulan data menggunakan kuesioner berskala Likert yang telah teruji validitas butir serta reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil uji simultan menunjukkan bahwa intensitas penggunaan TikTok dan paparan konten self-diagnosis berpengaruh signifikan terhadap persepsi diri santri (F=90,235;p<0,001). Secara parsial, intensitas penggunaan TikTok (t=10,087;p<0,001) dan paparan konten self-diagnosis (t=2,212;p=0,029) terbukti berpengaruh signifikan terhadap pembentukan persepsi diri santri. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) sebesar 0,650 mengindikasikan bahwa kedua variabel bebas memberikan kontribusi efektif sebesar 65,0% terhadap variasi persepsi diri santri. Temuan ini menegaskan pentingnya kurikulum literasi digital dan penguatan bimbingan kesehatan mental di lingkungan pesantren guna memitigasi distorsi kognitif santri.
HUBUNGAN PERILAKU PHUBBING DENGAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA PADA REMAJA YANG TINGGAL SERUMAH Ghifani Rahma Ardian; Ellyana Ilsan Eka Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14859

Abstract

ABSTRACT The widespread use of smartphones has given rise to the phenomenon of phubbing within family settings, referring to the behavior of ignoring a person during an interaction by focusing attention on a smartphone. Such behavior is related to communication barriers and closely linked to family functioning, particularly among adolescents who are undergoing social and emotional development. This study aimed to examine the relationship between phubbing behavior and family functioning among adolescents living with their families. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 155 respondents aged 12–22 years who lived with their families, actively used smartphones during interactions with family members, and were selected through purposive sampling. The results showed a negative relationship between phubbing behavior and family functioning (r = -0.389, p < 0,001), indicating that respondents with higher phubbing scores tended to have lower family functioning scores. Descriptive analysis showed that the majority of respondents were in the moderate category for both variables. Analysis of the dimensions revealed that problem acknowledgement had the highest mean per item for phubbing behavior, whereas communication had the lowest mean per item for family functioning. These findings indicate that although adolescents' awareness of the negative effects of phubbing was relatively high, the behavior persisted and was associated with a gradual decline in family functioning, particularly through disruptions in face-to-face communication, while rarely triggering open conflict within the family. Furthermore, the findings suggest that the dangers of phubbing is not determined solely by the quantity of smartphone use but rather by emotional sensitivity in the form of feelings of being ignored within a collectivist cultural context. ABSTRAK Tingginya penggunaan smartphone menghadirkan fenomena phubbing dalam lingkungan keluarga, yaitu perilaku mengabaikan lawan bicara dengan memusatkan perhatian pada smartphone. Perilaku tersebut berkaitan dengan hambatan komunikasi dan memiliki keterkaitan erat dengan keberfungsian keluarga, khususnya remaja yang berada pada tahap perkembangan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku phubbing dengan keberfungsian keluarga pada remaja yang tinggal serumah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 155 responden berusia 12–22 tahun tinggal bersama keluarga, aktif menggunakan smartphone saat berinteraksi dengan anggota keluarga, dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif perilaku phubbing dengan keberfungsian keluarga (r = -0,389; p < 0,001) yang berarti responden dengan skor perilaku phubbing yang lebih tinggi memiliki skor keberfungsian keluarga yang lebih rendah. Analisis deskriptif menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori tingkat sedang untuk kedua variabel. Analisis per dimensi variabel mengungkapkan bahwa dimensi problem acknowledgement pada perilaku phubbing memperoleh rerata tertinggi, sedangkan dimensi communication memperoleh rerata rendah pada keberfungsian keluarga. Bersamaan dengan ditemukannya hubungan negatif antara kedua variabel, temuan tersebut mengindikasikan bahwa kesadaran remaja terhadap dampak phubbing relatif tinggi, namun perilaku tersebut tetap terjadi dan beriringan dengan mengikisnya keberfungsian keluarga secara perlahan melalui terganggunya komunikasi tatap muka, sekaligus minim memicu pertengkaran terbuka di dalam keluarga. Selain itu, temuan ini menegaskan bahwa bahaya phubbing bukan sekadar ditentukan oleh kuantitas penggunaan smartphone, melainkan oleh sensitivitas emosional berupa perasaan diabaikan dalam konteks budaya kolektivisme.
SELF-EFFICACY MAHASISWA SUKU BANJAR: SEBUAH STUDI ANALISIS KOMPARATIF DITINJAU DARI GENDER Rezky Aditya Anugrah; Aziza Fitriah; Dyta Setiawati Hariyono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14905

Abstract

ABSTRACT The dynamics of college life require early adult students to possess robust mental resilience in facing various academic and social pressures. This comparative quantitative study was designed to examine whether differences exist in the levels of General Self-Efficacy between male and female Banjar undergraduate students. Field data collection was structurally executed in April 2026, involving two hundred respondents recruited through a purposive sampling technique. The psychological construct was measured using the standardized General Self-Efficacy Scale (GSES) with its validated Indonesian adaptation. All numerical data distributions were subsequently analyzed using an independent samples t-test procedure via the JASP software. Empirical findings demonstrate no significant score disparity between the two gender groups, as evidenced by a significance value of 0.891, which exceeds the conventional error threshold. This figure confirms that gender is not a primary determinant in building students' self-belief. The contribution of this research lies in expanding cross-gender psychological mapping within the cultural framework of the Banjar ethnic group, while providing a foundation for educational institutions to design inclusive mental capacity-building strategies. ABSTRAK Dinamika kehidupan perkuliahan menuntut mahasiswa dewasa awal untuk memiliki ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi ragam tekanan akademik maupun sosial. Penyelidikan kuantitatif berdesain komparatif ini digagas untuk menguji ada tidaknya perbedaan tingkat General Self-Efficacy antara mahasiswa laki-laki dan perempuan suku Banjar. Pengambilan data lapangan telah dieksekusi secara terstruktur pada bulan April 2026, dengan melibatkan dua ratus responden yang direkrut melalui teknik purposive sampling. Pengukuran konstruk psikologis tersebut menggunakan instrumen baku General Self-Efficacy Scale (GSES) yang adaptasi bahasa Indonesianya telah teruji. Seluruh sebaran data angka kemudian diuji melalui prosedur statistik independent samples t-test dengan bantuan perangkat lunak JASP. Temuan empiris membuktikan bahwa tidak terdapat disparitas skor yang bermakna antara kedua kelompok gender, terbukti dari nilai signifikansi sebesar 0,891 yang berada di atas ambang batas kesalahan konvensional. Angka tersebut menegaskan bahwa faktor jenis kelamin tidak menjadi penentu utama dalam membangun keyakinan diri mahasiswa. Kontribusi riset ini terletak pada perluasan pemetaan psikologis lintas gender dalam bingkai kultural suku Banjar, yang sekaligus memberi pijakan bagi institusi pendidikan untuk merancang strategi penguatan kapasitas mental secara inklusif.
HUBUNGAN ANTARA AGRESI VERBAL DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA PENGGEMAR K-POP DI SIDOARJO Adelia Ilmi Rahma Safitri; Widyastuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14916

Abstract

ABSTRACT Cyber interaction dynamics within the K-Pop fandom community in Sidoarjo Regency frequently escalate difference of opinion, potentially leading to offensive verbal behavior on social media. This study was designed to analyze the correlation between verbal aggression and psychological well-being among K-Pop fans in Sidoarjo Regency. Employing a quantitative approach with a correlational design, initial data were collected from 294 participants aged 15–35 years using purposive sampling, yielding 246 clean data (n = 246) following a rigorous data screening process. Data collection relied on two Likert scales measuring verbal aggression indicators and psychological well-being dimensions, which were subsequently analyzed using simple linear regression at a significance threshold of alpha = 0.05. The findings confirmed a significant negative correlation between aggressive verbal behavior and psychological well-being levels (p < 0.001; Beta = -0.611). The coefficient of determination (R-square = 0.373) indicated that verbal aggression contributed 37.3% to the variance in fans' psychological well-being, while the remaining variance was influenced by factors outside the model. These findings highlight the importance of structuring the digital communication environment, where fanbase community managers and counseling practitioners need to promote media literacy education and emotional regulation to foster an inclusive and conducive fandom ecosystem. ABSTRAK Dinamika interaksi siber dalam komunitas fandom K-Pop di Kabupaten Sidoarjo kerap memicu eskalasi pertentangan pendapat yang berpotensi melahirkan tindakan tuturan menyerang di media sosial. Penelitian ini dirancang untuk menganalisis korelasi antara agresi verbal dan kesejahteraan psikologis pada penggemar K-Pop di Kabupaten Sidoarjo. Melalui pendekatan kuantitatif berdesain korelasional, data awal dijaring dari 294 partisipan berusia 15–35 tahun berbasis purposive sampling, hingga diperoleh 246 data bersih (n = 246) setelah melalui tahapan pembersihan respons (data screening). Pengumpulan data mengandalkan dua skala Likert yang mengukur indikator perundungan kata dan dimensi kesehatan mental, lalu dianalisis menggunakan regresi linear sederhana pada ambang signifikansi alpha = 0,05. Hasil pengujian membuktikan hadirnya korelasi negatif yang signifikan antara perilaku tuturan agresif dan tingkat kesejahteraan psikologis (p < 0,001; Beta = -0,611). Besaran koefisien determinasi (R-square = 0,373) menunjukkan bahwa ekspresi agresi verbal menyumbang 37,3% variasi pada penurunan kesehatan mental penggemar, sementara sisanya dipengaruhi faktor di luar model. Temuan ini menandai pentingnya penataan iklim komunikasi digital, di mana pengelola komunitas (fanbase) dan praktisi pendamping perlu mendorong edukasi literasi media serta regulasi emosi guna mewujudkan ekosistem fandom yang inklusif dan kondusif.
PENGARUH SELF-EFFICACY, STUDENT ENGAGEMENT, DAN LOCUS OF CONTROL TERHADAP MINAT KARIR SEBAGAI GURU Qurroti A'yunnia Afandi; Durinda Puspasari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.14942

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the effect of self-efficacy, student engagement, and locus of control on career interest as a teacher among undergraduate students of the Office Administration Education Program at Universitas Negeri Surabaya, class of 2022. The study is motivated by a gap between the orientation of a teacher-education program and the students’ actual career interest, in which most students have not shown a strong interest in becoming teachers. This research employs a quantitative approach with an explanatory method. The population consisted of 187 students, and a sample of 127 students was determined using the proportionate random sampling technique with the Slovin formula. Data were collected through a five-point Likert-scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression with SPSS. The results show that, partially, self-efficacy and student engagement have a positive and significant effect on career interest as a teacher, whereas locus of control has no significant effect. Simultaneously, the three variables have a positive and significant effect on career interest as a teacher, with a contribution of 62.8%. Therefore, self-belief in one’s own ability and student involvement in the learning process are important factors in fostering career interest as a teacher, so that strengthening both aspects should be a priority in the education of prospective teachers. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh self-efficacy, student engagement, dan locus of control terhadap minat karir sebagai guru pada mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya angkatan 2022. Latar belakang penelitian adalah adanya kesenjangan antara orientasi program studi kependidikan dengan minat karir aktual mahasiswa, di mana sebagian besar mahasiswa belum menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk menjadi guru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatori. Populasi berjumlah 187 mahasiswa dan sampel sebanyak 127 mahasiswa ditentukan menggunakan teknik proportionate random sampling melalui rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial self-efficacy dan student engagement berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat karir sebagai guru, sedangkan locus of control tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat karir sebagai guru dengan kontribusi sebesar 62,8%. Dengan demikian, keyakinan terhadap kemampuan diri dan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran menjadi faktor penting dalam menumbuhkan minat karir sebagai guru, sehingga penguatan kedua aspek tersebut perlu menjadi perhatian dalam proses pendidikan calon guru.
PERSEPSI GURU PADA PERILAU AGRESIF ANAK USIA DINI DAPAT MEMPENGARUHI KELELAHAN EMOSIONAL GURU PAUD Havida Hanina; Afi Mahesa Solehudin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15312

Abstract

ABSTRACT Aggressive behavior among young children can place particular emotional demands on teachers because managing such behavior occurs repeatedly within everyday learning interactions. How teachers perceive such behavior is therefore important to examine, as it may be associated with the emotional conditions they experience while carrying out their teaching responsibilities. This study aimed to describe teachers’ perceptions of aggressive behavior in early childhood, assess the level of emotional exhaustion among early childhood education teachers, and analyze the association between these two variables in Mojoroto District, Kediri City. Of the 270 educators comprising the study population, 161 teachers participated as respondents through cluster sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using simple linear regression. The largest proportion of respondents fell within the high category for both perceptions of aggressive behavior in young children (43%) and emotional exhaustion (40%). Regression analysis yielded a t-value of 5.552 with a significance level of 0.000 (p < 0.05), indicating a positive and significant association between teachers’ perceptions of aggressive behavior in young children and emotional exhaustion. The R² value of 0.161 indicates that teachers’ perceptions explained 16.1% of the variance in emotional exhaustion, while the remaining 83.9% fell outside the model examined. These findings indicate that teachers’ perceptions constitute one factor associated with emotional exhaustion, highlighting the need to consider other factors beyond the model when understanding this condition. ABSTRAK Perilaku agresif pada anak usia dini menghadirkan tuntutan emosional tersendiri bagi guru karena penanganannya berlangsung dalam interaksi pembelajaran yang berulang. Cara guru memaknai perilaku tersebut menjadi penting untuk dikaji karena dapat berkaitan dengan kondisi emosional yang menyertai pelaksanaan tugas mengajar. Penelitian ini bertujuan menggambarkan persepsi guru terhadap perilaku agresif anak usia dini dan tingkat kelelahan emosional guru PAUD serta menganalisis keterkaitan kedua variabel tersebut di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Dari 270 pendidik yang menjadi populasi, sebanyak 161 guru terlibat sebagai responden melalui cluster sampling. Informasi penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner dan diolah dengan analisis regresi linear sederhana. Proporsi responden terbesar berada pada kategori tinggi, baik untuk persepsi terhadap perilaku agresif anak usia dini (43%) maupun kelelahan emosional (40%). Pengujian regresi menghasilkan nilai t sebesar 5,552 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara persepsi guru terhadap perilaku agresif anak usia dini dan kelelahan emosional. Nilai R² sebesar 0,161 menunjukkan bahwa variabel persepsi menjelaskan 16,1% variasi kelelahan emosional, sementara 83,9% sisanya berada di luar model yang dianalisis. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi guru merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan kelelahan emosional, sehingga faktor lain di luar model juga perlu mendapat perhatian dalam memahami kondisi tersebut.
HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN LONELINESS PADA MAHASISWA PERANTAU TINGKAT AKHIR YANG BERSTATUS SINGLE Brenda Debora Mongi; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15467

Abstract

ABSTRACT Final-year migrant university students who are single face complex academic and social dynamics because they must complete their education away from their families while living without a romantic partner. Such circumstances may be associated with experiences of loneliness, while self-esteem represents one psychological aspect relevant to understanding this experience. This study aimed to determine the relationship between self-esteem and loneliness among final-year migrant university students who are single. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 140 university students from various regions of Indonesia selected through purposive sampling. Participants met the criteria of being final-year students, having lived away from their hometown for more than four years, and having no romantic partner. Data were collected using the State Self-Esteem Scale (SSES) and the UCLA Loneliness Scale Version 3, and were analyzed using the Spearman Rank Order correlation. The results revealed a significant positive relationship between self-esteem and loneliness (r = 0.309; p < 0.001). The weak strength of the relationship indicates that higher levels of self-esteem were associated with higher levels of loneliness, although the relationship was insufficient to comprehensively explain students’ experiences of loneliness. These findings highlight the need for contextual psychological and social support for final-year migrant university students. ABSTRAK Mahasiswa perantau tingkat akhir yang berstatus single menghadapi dinamika akademik dan sosial yang kompleks karena harus menyelesaikan tuntutan pendidikan jauh dari keluarga serta menjalani kehidupan tanpa pasangan romantis. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan munculnya loneliness, sementara self-esteem menjadi salah satu aspek psikologis yang relevan untuk dikaji dalam pengalaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan loneliness pada mahasiswa perantau tingkat akhir berstatus single. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional dan melibatkan 140 mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Responden memenuhi kriteria sebagai mahasiswa tingkat akhir, telah merantau lebih dari empat tahun, dan tidak memiliki pasangan romantis. Data dikumpulkan menggunakan State Self-Esteem Scale (SSES) dan UCLA Loneliness Scale Version 3, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Spearman Rank Order. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-esteem dan loneliness (r = 0,309; p < 0,001). Kekuatan hubungan yang lemah menunjukkan bahwa tingkat self-esteem yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat loneliness yang lebih tinggi, tetapi hubungan tersebut tidak cukup kuat untuk menjelaskan pengalaman loneliness secara menyeluruh. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan psikologis dan sosial yang kontekstual bagi mahasiswa perantau tingkat akhir.