cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Perizinan dalam Pelestarian Cagar Budaya Fr. Dian Ekarini
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.160

Abstract

Upaya pelestarian cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya meliputi pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Suatu warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya secara hukum terikat dengan aturan ataupun kaidah yang ada di dalam undang-undang ini. Segala bentuk kegiatan pelestarian cagar budaya baik upaya pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan harus didahului dengan izin dari instansi yang berwenang dibidang pelestarian. Setiap orang yang melakukan kegaitan pelestaian tanpa izin dari pemerintah sesuai dengan kewenangannya dapat dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Perizinan ini sebenarnya tidak untuk menyulitkan pemilik cagar budaya namun sematamata untuk melindungi cagar budaya agar tidak rusak ataupun salah dalam penanganannya.
Monitoring dan Evaluasi Hasil Pemugaran Gapura Royal Palace Angkor Thom Kamboja Nahar Cahyandaru
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.161

Abstract

Pemerintah Indonesia pernah berperan dalam pelestarian cagar budaya di tingkat internasional, yaitu melalui misi ITASA (The Indonesian Technical Assistance for Safeguarding Angkor) untuk melakukan pemugaran di kompleks Royal Palace Angkor Thom Kamboja. Program ini berjalan dengan sukses karena berhasil menyelesaikan pemugaran tiga gapura (1995-2000). Kesuksesan program ini karena menerapkan teknologi lokal yang digabungkan dengan pengalaman pemugaran di Indonesia, serta melibatkan masyarakat lokal sebagai bentuk transfer pengetahuan dan teknologi (Sedyawati, dkk, 2000). Keberhasilan ini perlu dimonitor dan dievaluasi sebagai pertimbangan untuk melaksanakan kembali proyek serupa untuk meningkatkan peran Indonesia di tingkat regional. Metode yang dilakukan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi hasil pemugaran Gapura Royal Palace Angkor Thom Kamboja ini adalah survei lapangan untuk mendata kondisi kerusakan dan pelapukan pada bangunan yang telah dipugar dalam proyek ITASA. Untuk mengetahui persepsi dan apresiasi mengenai proyek yang pernah dilaksanakan, serta harapan tindak lanjut maka dilakukan survei responden dan kunjungan ke APSARA Authority. Selain itu juga dilakukan beberapa kunjungan ke beberapa proyek internasional yang sedang berjalan. Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian ini adalah hasil pemugaran Indonesia melalui proyek ITASA yang telah berumur kurang lebih 15 tahun saat ini masih dalam kondisi yang baik. Beberapa permasalahan yang terjadi masih dalam batas yang wajar karena material candi yang memiliki kerentanan dalam kondisi lingkungan yang ada. Tingkat pengetahuan masyarakat kamboja dan staf APSARA terhadap proyek yang pernah dilaksanakan Indonesia cukup baik, sedangkan wisatawan asing sangat rendah. Sistem informasi yang ada perlu ditingkatkan untuk memberikan informasi kepada penunjung secara efektif. Secara umum masyarakat dan wisatawan memberikan apresiasi yang cukup baik terhadap hasil pemugaran oleh Indonesia. Dukungan terhadap bantuan internasional pada pemugaran situs-situs di Angkor termasuk oleh Indonesia cukup tinggi. Proyek pelestarian yang dilaksanakan oleh masyarakat internasional dari berbagai negara masih berlangsung secara intensif hingga saat ini. Pemerintah Kamboja dan APSARA Authority masih berharap adanya proyek dari masyarakat internasional.
Penggunaan Bahan Alami pada Bahan Restorasi Lukisan Gua Prasejarah Maros Pangkep (Sulawesi Selatan) Yudi Suhartono
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.162

Abstract

Di kawasan pegunungan kapur (kars) Maros dan Pangkep terdapat gua-gua yang pada masa prasejarah dihuni oleh manusia. Selain sebagai tempat tinggal, dinding-dinding gua digunakan sebagai media untuk mengekspresikan pengalaman, perjuangan dan harapan hidup manusia dalam bentuk lukisan gua. Pada umumnya lukisan gua prasejarah di Maros dan Pangkep hanya memiliki dua warna yaitu merah dan hitam. Warna merah yang digunakan dalam pembuatan lukisan umumnya dapat dihasilkan dari oker (ochre) atau oksida besi (Fe2O3 (haematite) yang bersumber dari bahan batuan mineral, sedangkan warna hitam biasanya menggunakan bahan arang, Hasil analisis laboratorium terhadap sampel lukisan gua menunjukkan bahwa lapisan merah bahan lukisan menunjukan adanya senyawa CaCO3, Ca SO4, serta unsur Al, Fe. Unsur Pb juga terdapat pada sampel lukisan. Adanya unsur Pb yang teroksidasi dengan Oksigen menjadi Pb O pada sampel lapisan merah bahan lukisan, menunjukkan bahwa selain unsur Fe merupakan unsur utama dari bahan hematit memberikan dugaan bahwa senyawa Pb O ini juga memberikan peran dalam pembentukan warna merah pada bahan lukisan. Hasil kajian yang telah dilakukan, memberi hasil bahwa sumber lukisan gua berupa batuan merah saat ini masih banyak dijumpai di sekitar gua prasejarah di Maros dan Pangkep. Bahan untuk restorasi lukisan gua penting untuk segera dirumuskan mengingat selama ini restorasi lukisan gua prasejarah jarang dilakukan karena belum ditemukannya bahan pengganti yang efektif untuk diterapkan dalam lukisan dinding gua. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan bahan hematit dengan campuran bahan kimia untuk restorasi lukisan gua kurang efektif dan warna lukisan agak berbeda dengan aslinya. Untuk itu dilakukan uji pembuatan bahan rekontruksi dengan bahan utama batuan merah dengan campuran bahan alami. Bahan untuk restorasi lukisan gua ini diharapkan aman untuk lukisan gua dan bersifat reversible serta tidak berdampak pada lingkungan. Hasil pengujian menunjukkan dari beberapa bahan alami, campuran daun sirih dan getah nangka memperlihatkan hasil yang efektif dan warna yang dihasilkan hampir mendekati dengan warna lukisan yang ada di gua-gua prasejarah.
Studi Diagnostik Konservasi Tempat Tidur Etnik Madura Koleksi Museum Kayu Wanagama I Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.163

Abstract

Kayu merupakan bahan yang terbaik untuk digunakan sebagai bahan dalam pembuatan benda-benda budaya, baik berupa benda fungsional maupun benda untuk mengekspresikan rasa seni. Benda-benda budaya mengandung nilai luhur dalam aspek-aspek: budaya, sosial, arkeologi, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi. Benda budaya ada yang tersimpan sebagai koleksi museum. Koleksi museum berfungsi sebagai sarana untuk menyelenggarakan pendidikan dalam suasana rekreasi bagi masyarakat dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur budaya dan jati diri sebagai bangsa yang majemuk serta memupuk rasa bangga sebagai warga Negara Indonesia. Nilai dan fungsi koleksi museum diharapkan dapat memberi inspirasi pemunculan suatu pemikiran baru. Keberadaan koleksi museum wajib dipertahankan, apalagi kayu sangat mudah mengalami kerusakan. Konservasi koleksi museum dan benda cagar budaya bahan kayu mencakup konservasi secara preventif dan kuratif dengan tujuan untuk mempertahankan keberadaan koleksi. Salah satu koleksi Museum Kayu Wanagama I adalah mebel yang berupa Tempat Tidur Etnik Madura. Koleksi yang diduga sebagai cagar budaya ini telah mengalami kerusakan pada beberapa komponen, sehingga perlu dilakukan tindakan konservasi secara kuratif. Tindakan konservasi wajib dilakukan dengan mengikuti prosedur tertentu, yakni studi diagnostik konservasi dan pelaksanaan konservasi koleksi. Studi diagnostik konservasi kayu terdiri atas lima tahapan, yaitu (1) deskripsi kondisi koleksi pada saat sebelum dilakukan konservasi, (2) deskripsi koleksi pelaksanaan konservasi koleksi. Hasil penelitian diagnostik konservasi koleksi menyimpulkan empat hal. Pertama, bagian koleksi yang mengalami degradasi adalah komponen gelagar depan bagian bawah dan komponen rusuk. Kedua, kerusakan komponen disebabkan serangan rayap kayu kering. Ketiga, jenis kayu bahan gelagar dan rusuk adalah jati (Tectona grandis Linn). Keempat, komponen galar terbuat dari bambu telah musnah. Berbasis studi tersebut, pemugaran dilakukan dengan mengganti gelagar bagian depan dan rusuk dengan kayu baru yang kualitasnya sama serta mengadakan komponen galar baru yang terbuat dari bambu.
Efektivitas Buah Maja (Aegle Marmelos (L.) Corr.) sebagai Bahan Pembersih Logam Besi Ira Fatmawati
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.164

Abstract

Buah Maja (Aegle marmelos (L.) Corr.) identik dengan sebuah kerajaan yang pernah berjaya pada abad XIII – XV, yaitu Kerajaan Majapahit. Ciri khas yang dimiliki buah Maja adalah dagingnya berwarna putih dan kulitnya berwarna hijau muda. Hingga kini, buah yang berasa manis ini masih banyak dijumpai di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Beberapa senyawa kimia yang terkandung di dalam buah Maja, antara lain : marmelosin (C13H12O3), minyak atsiri, pektin, saponin, tanin, dan2-furocoumarins-psoralen. Adanya sifat asam dalam daging buah menjadikanMaja dapat digunakan sebagai pembersih logam besi. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas antara buah Maja muda dan tua sebagai bahan pembersih logam besi. Metode yang digunakan adalah sampel sabit berbahan besi ditimbun dalam daging buah Maja selama 1 x 24 jam, 2 x 24 jam, 3 x 24 jam, dan 4 x 24 jam. Berdasarkan hasil penelitian pada sampel sabit yang ditimbun selama 4 x 24 jam dalam buah Maja tua menunjukkan bahwa sampel terlihat lebih bersih dibandingkan sampel yang ditimbun dalam buah Maja muda. Ini menunjukkan bahwa buah Maja tua lebih efektif sebagai bahan pembersih untuk logam besi.
Tanin Sebagai Inhibitor Korosi Artefak Besi Cagar Budaya Ari Swastikawati; Henny Kusumawati; Rifqi Kurniadi Suryanto; Yudhi Atmaja Hendra Purnama
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.165

Abstract

Stabilisasi adalah proses untuk menstabilkan artefak besi yang bertujuan untuk mencegah korosi lanjutan. Proses tersebut dilakukan dengan mengaplikasikan larutan inhibitor. Inhibitor korosi yang sering digunakan dalam proses stabilisasi artefak besi adalah tanin. Tanin merupakan senyawa kimia yang banyak ditemukan pada tanaman. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah salah satunya adalah tanaman yang menghasilkan zat tanin antara lain: teh, daun jambu biji, daun gambir, daun kopi, salak dan sebagainya. Sehingga Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan tanaman tersebut sebagai inhibitor korosi artefak besi. Kajian Tanin sebagai Inhibitor Korosi Artefak Besi Cagar Budaya bertujuan untuk mengetahui metode aplikasi tanin yang tepat pada artefak besi dan menentukan lingkungan yang sesuai untuk artefak besi yang telah dikonservasi dengan tanin. Metode penelitian yang dilaksanakan dalam kajian ini meliputi studi referensi, observasi dan eksperimen di laboratorium. Eksperimen yang dilakukan meliputi ektraksi teh dari Nglinggo, pengukuran kadar tanin dalam ekstrak teh, dan dilanjutkan dengan uji metode aplikasi tanin dengan berbagai perlakuan. Perlakuan tanin sintetik dibandingkan dengan ekstrak teh. Perlakuan penambahan asam fosfat, dan perlakuan pelapisan dengan paraloid pada sampel besi yang telah diberi tanin. Serta perlakuan pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban) dengan menempatkan sampel besi yang telah diberi tanin di luar ruangan, dalam ruang tanpa AC, dan dalam ruang ber-AC. Hasil penelitian menunjukan kandungan ekstrak daun teh tua asal Nglinggo 12,11% dan kandungan ekstrak daun teh mudanya 12,61%. Kandungan tanin dalam daun teh tua asal Nglinggo 1,78% dan kandungan tannin dalam daun teh mudanya 2,69%. Tanin dari ekstrak teh dapat menghambat korosi pada artefak besi namun kemampuannya masih di bawah tanin sintetik. Dalam aplikasi larutan ekstrak untuk stabilisasi besi perlu penambahan asam fosfat untuk mencapai pH optimum. Pelapisan paraloid dibutuhkan jika lapisan tanin besi yang terbentuk tipis. Jika tanin yang terbentuk sudah tebal maka tidak diperlukan lapisan pelindung tambahan. Pelapisan diperlukan pada artefak yang distabilkan dengan ekstrak teh. Lamanya perlindungan kompleks besi-tanin terhadap artefak besi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Besi yang telah distabilkan dengan tanin dan dilapisi akan lebih terawetkan jika berada pada lingkungan yang stabil dengan kelembaban udara di bawah 50% jika masih mengandung klor dan di bawah 65% jika sudah tidak mengandung klor.
Indonesian Essential As Biocidesin Traditional-Based Artefact Consertvationstudy: A mini Review Nahar Cahyandaru; Sri Wahyuni; Yudhi Atmaja Hendra Purnama
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.166

Abstract

Banyak minyak atsiri memiliki aktivitas biosida, seperti antijamur, antibakteri, dan insektisida. Aktivitas biosida tersebut tergantung pada senyawa aktif dalam minyak dan spesies mikrobanya. Penelitian tentang penerapan minyak atsiri sebagai biosida banyak dikembangkan di berbagai bidang. Praktik kehidupan tradisional untuk pengawetan bahan menggunakan produk alami yang mengandung minyal atsiri di temukan di banyak wilayah di Indonesia. Di Jawa, larasetu (dikenal sebagai akar wangi) dimasukkan ke dalam lemari kain untuk melindungi kain dari serangga dan jamur. Ekstrak cengkeh (yang dicampur dengan tembakau) biasa digunkan sebagai larutan pembersih dan pelindung untuk rumah kayu tradisional di Jawa Tengah bagian utara. Masih banyak contoh lain dari penggunaan produk tradisional untuk memelihara peralatan sehari-hari. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menggali potensi minyak atsiri Indonesia sebagai bahan konservan yang unggul. Minyak atsiri dari bahan alami memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan pelestarian artefak, walaupun masih dibutuhkan penelitian yang intensif. Hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan di Laboratorium Balai Konservasi Borobudur menunjukkan prospek yang menjanjikan. Minyak daun cengkeh secara ilmiah terbukti sebagai antijamur dan antirayap pada konsevasi artefak kayu (Cahyandaru, 2010). Minyak lada dan minyak sereh juga efektif untuk konservasi artefak kayu, dimana sifat antijamur dan antirayapnya telah terbukti secara ilmiah (Haldoko, 2014). Minyak atsiri sereh (Cymbopogon nardus L) memiliki aktifitas positif untuk mematikan jamur yang tumbuh pada batu andesit (Riyanto et al., 2016). Penelitian lain masih berlangsung untuk antijamurkerak (lichene) menggunakan minyak cengkeh, minyak pala, dan minyak kunyit.
Minyak Atsiri untuk Konservasi Cagar Budaya Berbahan Batu Tahap II Sri Wahyuni; Winda Diah Puspita Rini; Bambang Kasatriyanto; Al Widyo Purwoko; Basuki Rachmat
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.167

Abstract

Lumut kerak/lichen merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat mengakibatkan kerusakan dan pelapukan pada Cagar Budaya berbahan batu. Bahan kimia AC 322 selama ini merupakan satu-satunya bahan yang digunakan untuk mengatasi permasalahan lumut kerak yang menempel pada permukaan batu. Oleh sebab itu perlu dicari bahan alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi lumut kerak/lichen. Pengembangan metode dan teknik konservasi berbahan tradisional mulai banyak dikembangkan. Bahan tradisional banyak sekali ditemui di alam. Salah satunya adalah minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai pestisida alami untuk mengatasi permasalahan lumut kerak/lichen. Pada tahun 2014, Balai Konservasi Borobudur bekerjasama dengan Universitas Islam Indonesia dalam rangka penanganan lumut kerak menggunakan minyak atsiri. Minyak atsiri yang digunakan dalam penelitian adalah minyak atsiri cengkeh, minyak biji pala dan minyak serai wangi.Tahun 2015 juga dilakukan kajian terhadap penggunaan minyak atsiri nilam, temulawak, dan terpentin untuk menghambat pertumbuhan lumut kerak pada Cagar Budaya batu andesit. Percobaan yang telah dilakukan pada tahun 2014 dan 2015 hanya terbatas pada pengujian daya hambat pertumbuhan jamur. Mengingat lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dan alga, maka perlu dilakukan uji coba minyak atsiri untuk menghambat pertumbuhan mikroalga. Kajian lanjutan pada tahun 2016, dilakukan pengujian minyak atsiri sebagai bahan untuk menghambat pertumbuhan sel mikroalga. Minyak atsiri yang digunakan adalah minyak atsiri temulawak, nilam, pala dan cengkeh. Metode percobaan pengujian efektitasminyak atsiri untukmenghambat pertumbuhan sel mikroalga dilakukan secara mikroskopis dengan melihat perubahan morfologi perubahan warna kloroplas dalam durasi waktu 0, 3, 5, 7, 10, 15 hari dan dilakukan pengamatan jumlah mortalitas sel mikroalga durasi waktu 0, 3, 15 hari. Pengamatan terhadap parameter perubahan morfologi warna kloroplas atau peluruhan warna kloroplas secara mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000x. Sedangkan penghitungan kerapatan sel, mortalitas sel mikroalga dapat dilakukan dengan menggunakan metode kamar hitung Improved Neubauer. Variasi konsentrasi minyak atsiri adalah 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa keempat minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan sel mikroalga dengan tingkat keefektifan temulawak > pala > nilam >cengkeh. Minyak atsiri temulawak konsentrasi 20% dengan waktu pengujian 15 hari menunjukkan daya hambat yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan sel mikroalga dengan mortalitas sel sebesar 63,31%.
Pengembangan Perekat Alam untuk Penyambung Artefak Tahap II Leliek Agung Haldoko; Iskandar M Siregar; Yudi Suhartono; Linus Setyo Adhidhuto; Ajar Priyanto
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.168

Abstract

Salah satu Cagar Budaya berbahan kayu adalah artefak. Faktor fisik maupun mekanik dapat menyebabkan artefak menjadi retak atau patah. Untuk menyambung fragmen-fragmen yang patah tentunya dibutuhkan perekat. Perekat yang diuji dalam kajian ini meliputi perekat dari bahan tanin dan gondorukem. Perekat dari tanin dan gondorukem dikombinasikan dengan berbagai macam pelarut. Untuk bahan tanin digunakan pelarut aceton, etanol dan formaldehyde, sedangkan untuk bahan gondorukem digunakan pelarut tiner, minyak cat dan toluol. Pengujian daya tahan perekat dilakukan dengan siklus yang terdiri dari 3 (tiga) perlakuan, yaitu menempatkan sampel kayu yang direkat pada suhu 50°C, pada kondisi kelembaban 95% dan pada suhu kamar. Untuk pengujian kekuatan perekat dilakukan dengan pengujian kualitatif kekuatan rekat dengan beban statis dan pengujian kuat geser. Pengujian daya tahan perekat diperoleh hasil bahwa perekat dengan bahan tanin-aceton dan tanin-etanol tidak tahan terhadap kondisi kelembaban udara yang tinggi dan memiliki daya rekat yang rendah. Hal ini diketahui setelah dilakukan pengujian kualitatif dengan menggunakan beban statis. Berdasarkan pengujian kuat geser diperoleh hasil bahwa perekat gondorukem-toluol memiliki daya rekat paling besar, yaitu 14,83 kg/cm2; berturut-turut selanjutnya tanin–formaldehyde 9,95 kg/cm2; gondorukem–tiner 9,52 kg/cm2; dan gondorukem-minyak cat 4,81 kg/cm2.
Konservasi Cagar Budaya dengan Asap Cair Moh Habibi; Dian Eka Puspitasari; Arif Gunawan; Heri Yulianto; Wahyudi Wahyudi
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.169

Abstract

Jamur dan rayap adalah organisme yang menyebabkan pelapukan pada cagar budaya kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektitas asap cair untuk bahan konservasi cagar budaya kayu. Pengujian yang dilakukan meliputi antijamur dan antirayap. Bahan baku asap cair yang digunakan dari tempurung kelapa. Konsentrasi asap cair yang digunakan untuk antijamur dan antirayap adalah 0%; 7,5%; 15%; 30%; 50%; 100% (v/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair mampu menghambat pertumbuhan jamur dan memiliki daya tolak untuk rayap. Konsentrasi 30% menunjukkan hasil terbaik sebagai antijamur, sedangkan konsentrasi 50% merupakan konsentrasi terbaik asap cair untuk antirayap. Semakin tinggi konsentrasi asap cair menunjukkan semakin tinggi efektivitasnya. Kandungan kimiawi fenol dan asam yang berfungsi sebagai antijamur dan antirayap.

Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue