cover
Contact Name
Komariah
Contact Email
komariah@trisakti.ac.id
Phone
+62271-648939
Journal Mail Official
sembio@fkip.uns.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Biologi FKIP Gedung D Lt 3 FKIP Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126 Jawa Tengah INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Biology Education Conference
Core Subject : Health, Science,
Proceeding Biology Education Conference was published since 2003, with title Prosiding Seminar Nasional Biologi. The early number of the journal were published offline
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,234 Documents
Kadar Protein Urin Menggunakan Uji Asam Asetat pada Mahasiswa Pendidikan Biologi Semester VI FKIP UMS 2017 Dwi Setyo Astuti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 14, No 1 (2017): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urin merupakan produk sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh dan bersifat toksin. Oleh karena itu semua komponen yang masih berguna bagi tubuh tidak ikut terbuang bersama dengan urin, salah satunya adalah protein. Kondisi dimana terdapat protein dalam urin disebut sebagai proteinuria. Penelitian ini bertujan untuk : 1) mengetahui keberadaan protein urin secara kualitatif pada mahasiswa Pendidikan Biologi semester 6 FKIP UMS, 2) mengetahui kadar prosentase protein urin secara kualitatif pada mahasiswa Pendidikan Biologi semester 6 FKIP UMS menggunakan uji asam asetat. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Populasi adalah semua mahasiswa semester 6 prodi Biologi FKIP UMS sebanyak 186 mahasiswa, sedangkan sampel adalah 50% dari jumlah total atau sebanyak 93 mahasiswa. Dari uji yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut : 1) 46,2% atau 43 mahasiswa Biologi semester 6 prodi Biologi FKIP UMS positif terdapat ptotein dalam urinnya 2) 53,7% mahasiswa Biologi semester 6 prodi Biologi FKIP UMS tidak terdapat ptotein dalam urinnya, 3) 83,7% atau 36 mahasiswa Biologi semester 6 prodi Biologi FKIP UMS yang positif terdapat protein dalam urin adalah +1, sedangkan 16,2% atau 7 mahasiswa Biologi semester 6 prodi Biologi FKIP UMS yang positif terdapat protein dalam urin adalah +2
Daya Beda, Tingkat Kesulitan, dan Tebaan Tes Biologi Kelas 8 Semester Gasal Suwarto Suwarto
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of this research: (1) Want to know different effort in biology test items at 8 class odd semester, (2) want to know difficult level in biology test items at 8 class odd semester, (3) want to know guessing biology test items at 8 class odd semester. Biology test 8 class odd semester includes 100 question items and have tried on 200 respondent. For analysis is used R programming. The results show: (1) Different effort in biology test items at 8 class odd semester about 1,002 up to 2,969. The lowest different effort item is 8 item and the highest different effort item is 38 item. (2) Difficult level in biology test items at 8 class odd semester about 1,005 un to 1,992. The lowest difficult level test item is 83 and 93 item and the highest difficult level is 45 item. (3) Guessing biology test items at 8 class odd semester. Biology test 8 class odd semester about 0,018 up to 0,989. The lowest guessing is 80 item and the highest guessing is 68 item.Keywords:      Discrimination, Difficulty, and Guessing
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA KELAS VIII-B SEMESTER 4 PADA MAPEL BIOLOGI MELALUI GUIDED INQUIRY DI SMP NEGERI 26 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 Henny Riandari
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan berdasarkan tes awal (pra-siklus), yang dilakukan sebelum siswa mengalami perlakuan. Dari hasil tes tersebut diperoleh rata-rata kemampuan siswa masih rendah yaitu sebesar 47 %. Observasi dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa yaitu keterlibatan siswa dalam kegiatan kelompok sebesar 56 %, keterlibatan siswa dalam diskusi kelas 53 %, kemampuan bertanya sebesar 10 %, kemamuan menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti sebesar 12 % dan keberanian siswa untuk tampil di muka kelas sebesar 12 %. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran serta untuk meningkatkan pemahaman. Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan model Guided Inquiry, dengan prinsip konstruktivism, siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya dari pembelajaran yang dialaminya. Guru hanya berperanan sebagai fasilitator dan motivator untuk meng-konstruksi pengetahuan siswa (teori konstruktivisme) dan siswa mengalami sendiri dalam memahami teori yang akan lebih bertahan lama dalam benak siswa. Enam langkah pada Guided Inquiry ini memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Pada siswa ikut berpenan aktif, melatih keberanian, berkomunikasi dengan teman dan guru, berusaha mendapatkan pengetahuan dengan cara mengalami dan membangun sendiri pengetahuannya. Peranan guru adalah sebagai fasilitator dan motivator yaitu mempersiapkan skenario pembelajaran (RPP) dengan baik sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Indikator pencapaian dalam penelitian ini dapat dilihat dari kerjasama kelompok dalam menyelesaikan masalah dan kegiatan , keterlibatan siswa dalam diskusi kelas serta kecakapan personal yang meliputi keberanian bertanya, menjawab serta mengkomunikasikan hasil kegiatan atau hasil diskusi kelompok ke forum diskusi kelas untuk menyimpulkan dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Selain itu juga dapat dilihat dari ketercapaian target yang peneliti buat sebelum perlakuan dengan Model pembelajaran Guided Inquiry. Peningkatan untuk keaktifan siswa dalam melakukan diskusi kelompok sudah semakin baik dari 56 % menjadi 74 %. Peningkatan untuk keaktifan siswa dalam diskusi kelas menunjukkan peningkatan dari 53 % menjadi 71 %. Peningkatan kemampuan bertanya dari 10 % meningkat menjadi 40 %,  keberanian menjawab pertanyaan dari 12 %, meningkat menjadi 44 %, keberanian mengkomunikasikan hasil kegiatan di depan kelas dan disaksikan oleh teman-temannya dari 12 %, meningkat menjadi 40 %. Pemahaman siswa dapat dilihat dari peningkatan yang signifikans yaitu dari rata-rata Prestasi siswa sebesar 47  menjadi 71 dengan tingkat ketuntasan dari 5 % menjadi 77 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai terbiasa dengan model Guided Inquiry, siswa dibiasakan bekerja dalam kelompok sehingga dengan sering mendiskusikan masalah dalam kegiatan yang diberikan peneliti akan mendorong siswa untuk saling berbagi dalam pemecahan masalah yang dihadapi kelompok.   Kata kunci: Guided Inquiry, keaktifan siswa, konstruktivisme.
KARAKTERISASI KITIN DAN KITOSAN YANG TERKANDUNG DALAM EKSOSKELETON KUTU BERAS (Sitophilus oryzae) Komariah Komariah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi kitin dan kitosan hasil preparasi dari eksoskeleton kutu beras (Sitophilus oryzae). Penelitian terbagi menjadi penelitian pendahuluan yaitu preparasi dan uji proksimat, dan penelitian utama yang terdiri dari proses pembuatan dan karakterisasi kitin dan kitosan. Proses pembuatan kitin/kitosan diawali dengan uji demineralisasi (HCL 1 N, 90C), deproteinisasi (NaOH 3 N, 90C), dekalorisasi (NaOCl 4%, suhu kamar) dan deasetilasi (NaOH 50%, 130C). Karakterisasi meliputi tekstur, rendemen, kelarutan, kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, kadar mineral dan derajat deasetilasi. Kadar abu dan kadar air ditentukan dengan gravimetri, kadar protein dengan kjedahl. Uji Kelarutan dengan asam asetat 2%, kadar mineral dengan spektrofotometer, sedangkan derajat deasetilasi dianalisis dengan menggunakan  First Derivative Ultra Violet Spektrofotometry. Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan karakteristik kitin dari eksoskeleton Sitophilus oryzae menghasilkan kadar abu 2,00%, kadar air 8,00%, kadar nitrogen 3,57%, derajat deasetilasi 28,60 %. Kitin bersifat  tidak larut dalam asam asetat 2%, berwarna putih dan tidak berbau. Hasil yang diperoleh sesuai dengan kriteria mutu kitin. Untuk karakterisasi kitosan dari eksoskeleton kutu beras menghasilkan kadar abu 2,00%, kadar air 12,00%, kadar nitrogen 3,64%, derajat deasetilasi 68,25 %. Hasil yang diperoleh belum sesuai dengan kriteria mutu kitosan. Kata kunci :  Kutu Beras, Kitin, Kitosan, Derajat Deasetilasi
Teknik Penyusunan Modul Materi Sistem Ekkresi dengan Model Problem Based Learning Biologi SMA Eka vasia anggis
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 14, No 1 (2017): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Purposed of this research as follow: 1) Tecnical arrangement human excretion system in modul based contructivism with problem based learning in Biology SMA; 2) Validating human excretion system modul based contructivism with problem based learning in Biology SMA Laboratorium. This research methode is reserach and development with the steps that been adjusted with researcher needs as follow: 1) Define step, 2). Design step, 3) Develop step. This research still how to arrange modul based PBL that use human excretion system topic in Senior High School.  Location of research is in Senior High School Laboratorium Malang. This result research, such is steps of technical arrangement modul based PBL by excretion system, percentage average of modul feasibility by lecturer of learning material expert lecturer of material expert biology, and teacher in the grade natural science-3 have feasibility. This is important to development modul before implementation in field
ANALISIS KERAGAMAN DNA TANAMAN DURIAN SUKUN (Durio zibethinus Murr.) BERDASARKAN PENANDA RAPD Endang Yuniastuti; Supriyadi Supriyadi; Ismi Puji Ruwaida
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 7, No 1 (2010): Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDurian (Durio zibenthinus Murr.) merupakan buah-buahan tropis dari AsiaTenggara. Beberapa genotipe durian lokal telah dilepas menjadi varietas unggul,yaitu durian sukun, sunan, kani, monthong dan petruk, namun sampai saat inibelum diketahui keragaman DNA. Alternatif untuk mengkaji keragaman DNAdurian adalah dengan menggunakan penanda RAPD. Tujuan penelitian adalahmengkaji keragaman DNA pada varietas durian sukun, sunan, kani, monthong,dan petruk serta mengkaji keragaman DNA durian sukun yang ditanam padawilayah yang berbeda berdasarkan penanda RAPD.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar PenelitianBioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan di Yogyakarta mulai bulanNovember 2008 sampai bulan Januari 2009. Bahan penelitian analisis keragamanDNA antar varietas durian adalah daun tanaman durian sukun, sunan, kani,monthong dan petruk yang ada di kebun benih Ranukitri Karanganyar. Bahanpenelitian analisis keragaman DNA durian sukun pada wilayah penanamanberbeda adalah daun tanaman durian sukun dari Gempolan Karanganyar, duriansukun dari Kebun Benih Ranukitri Karanganyar, durian sukun dari Jepara dandurian sukun dari Salatiga. Selanjutnya dilakakukan analisis DNA terhadapsampel daun yang diawali dengan isolasi DNA, uji kuantitas dan kualitas DNA,seleksi primer, dan amplifikasi dengan PCR. Visualisasi hasil PCR dilakukandengan elektroforesis menggunakan etidium bromide yang menghasilkan pitaDNA. Pita DNA selanjutnya dianalisis dengan program NTSYS untukmendapatkan keragaman DNA antar varietas durian dan keragaman DNA duriansukun pada wilayah penanaman berbeda.Seleksi primer menghasilkan 6 primer polimorfik yang digunakan, yaituprimer OPA-01, OPA-02, OPA-07, OPA-16, OPA-18 dan OPA-19. Pola pitaDNA hasil amplifikasi menunjukkan adanya keragaman antar varietas duriansukun, sunan, kani, monthong dan petruk serta menunjukkan keragaman duriansukun yang ditanam di wilayah yang berbeda. Dendrogram pengelompokkan padalima varietas durian cenderung memisah, yaitu durian sukun, sunan, monthongdan petruk merupakan satu kelompok yang memisah dengan durian kani.Dendrogram pengelompokkan durian sukun yang ditanam pada wilayah berbedamenghasilkan dua kelompok, yaitu kelompok I terdiri dari durian sukun dariGempolan Karanganyar dan durian sukun dari Salatiga. Kelompok II terdiri daridurian sukun dari Kebun Benih Ranukitri Karanganyar dan durian sukun dariJepara.Kata kunci : Analisis keragaman, DNA, Durio zibethinus Murr, RAPD
Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Berbasis Scientific Approach Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X di SMA N 2 Banguntapan T.A 2014/2015 Dian Noviar; Dwi Reni Hastuti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 12, No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach terhadap hasil belajar biologi pada ranah kognitif siswa kelas X SMA Negeri  2 Banguntapan T.A 2014/2015, (2) mengetahui pengaruh model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach terhadap hasil belajar biologi pada ranah afektif siswa kelas X SMA Negeri  2 Banguntapan T.A 2014/2015, (3) mengetahui pengaruh model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach terhadap hasil belajar biologi pada ranah psikomotorik siswa kelas X SMA Negeri  2 Banguntapan T.A 2014/2015. Penelitian ini termasuk jenis penelitian quasi experiment (eksperimen semu) dengan design penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent control group design. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA N 2 Banguntapan. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan simple random sampling, yaitu kelas X3 (kelas eksperimen) dan kelas X4 (kelas kontrol). Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dan observasi. Analisis data hasil belajar siswa pada ranah kognitif menggunakan One Way Anova, sedangkan untuk hasil belajar pada ranah afektif dan psikomotor menggunakan uji Mann Whitney U. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach secara signifikan meningkatkan hasil belajar biologi pada ranah kognitif siswa dengan ditunjukkan p-value sebesar  0,001 < 0,05. (2) model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach secara signifikan meningkatkan hasil belajar biologi pada ranah afektif siswa dengan ditunjukkan p-value sebesar 0,029 < 0,05. (3) model Problem Based Learning berbasis Scientific Approach secara signifikan meningkatkan hasil belajar biologi pada ranah psikomotor siswa dengan ditunjukkan p-value sebesar  0,000 < 0,05.Keywords: Model PBL, Scientific Approach, Avertebrata, Hasil Belajar
PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY BERBANTU TWITTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS BIOLOGI SISWA KELAS X6 SMA BATIK 1 SURAKARTA Nurhayati Ike Pertiwi; Suciati Suciati; Riezky Maya Probosari
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis Biologi siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta melalui penerapan model guided inquiry berbantu twitter. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas  (classroom action research)  yang dirancang dalam beberapa siklus, setiap siklus meliputi 4 tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian  ini adalah siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2012/2013. Data diperoleh melalui tes (tes pilihan ganda) dan non tes (observasi, wawancara dan angket). Data dianalitis dengan teknik analitis deskriptif, serta validasi data menggunakan triangulasi teknik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis siswa meningkat pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III. Rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa sebesar 28,52% menjadi 63,13%. Peningkatan untuk aspek menginterpretasikan informasi dan gagasan sudah meningkat dari 25,24% menjadi 71,05%. Aspek mengevaluasi pendapat meningkat dari  16,19% menjadi 37,72%. Aspek menyusun pendapat untuk mendukung sebuah kesimpulan meningkat dari 36,19% menjadi 72,37%. Aspek mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman meningkat dari 29,52% menjadi 75,26%. Aspek mengumpulkan dan menilai informasi dari sumber tertulis, elektronik dan observasi meningkat dari 26,86% menjadi 57,89%. Aspek menyusun dan mendukung hipotesis meningkat dari 37,14% menjadi 64,47%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model guided inquiry berbantu  twitter dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta.   Kata kunci: Guided Inquiry, Twitter, Kemampuan Berpikir Analitis Biologi
Karakterisasi dan Evaluasi Plot Konservasi Ex Situ Merbau (Intsia Bijuga) di Bondowoso pada Umur 7 Tahun Tri Pamungkas Yudohartono
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 14, No 1 (2017): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merbau (Intsia bijuga) is a native species in Indonesia having high economic value of its timber Over exploitation of merbau timber have threatened its populations in natural distribution. Ex situ conservation plot of merbau was established at Sumberwringin Research Forest in Bondowoso, East Java. The objectives of this study are to know survival and growth characteristic of merbau from several provenances at Sumberwringin Research Forest at 7 years old. Genetic materias used in this study were orginated from Halmahera Timur, Waigo, Oransbari, Wasior, Nabire and Seram provenances. This plot test was designed as Randomized Complete Block Design The results showed that Wasior was provenance having the highest life percentage. Average life percentage of merbau at 7 years old was 78.26 %. It was indicated a good adapatability of merbau at ex situ conservation plot in Bondowoso. Average height was varied from 1.77 to 3.24 m with mean was 2.59 m. Average diameter was varied from 2.73 to 5.30 cm with mean was 4.37 cm. Genetic variation of height and diameter between provenances was significantly observed. The high genetic variation would increase selection opportunity to support tree improvement program.
Pengetahuan dan Kinerja Siswa SMA Negeri 1 Jorong, Kabupaten Tanah Laut dalam Budidaya Jamur Tiram (Pleorotus ostreatus) Kariyati Kariyati; Mochamad Arief Soendjoto; Sri Amintarti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modul on Oyster Mushroom cultivation was used in training for 17 students ofGrade X and XI, SMA Negeri 1 Jorong, Tanah Laut District, South Kalimantan Province. The purpose of the research was to measure their knowledge as well as performance and appoint students as cadres of oyster mushroom cultivation. Knowledge of the students was tested pre-training and post-training. Their performances were evaluated through 6 parameters. Those were discussion, making the planting medium, making leaflet, making school magazine, behaving as a guide, and making processed food based on Oyster Mushroom. The knowledge of the students increased post-training, although varied. In general their performanceswere very satisfying. Of 17 students, 15 wereappointed as cadres on Oyster Mushroom cultivation.Keywords:        cultivation, knowledge, Oyster Mushroom, performance, student

Page 15 of 124 | Total Record : 1234