cover
Contact Name
Abdillah Afabih
Contact Email
abdillahafa5@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalnabawi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Irian Jaya No. 10 Tebuireng Diwek Jombang
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Nabawi: Journal of Hadith Studies
ISSN : 27978370     EISSN : 27463206     DOI : -
NABAWI: Journal of Hadith Studies provide a platform for researchers on hadith and history of hadith. Author can send his research about hadith on any perspective. Nevertherless, We suggest the following broad areas of research: 1. Takhrij and dirasat al-asanid 2. Ulumul Hadith 3. Living Hadith 4. Mukhtalaf Hadith 5. Fiqh al-Hadith 6. Lughat al-hadith 7. Biographical research of ahl al-hadith
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 66 Documents
THE ETHICAL TRANSFORMATION OF ‘UYAINAH BIN ḤIṢN: INSIGHTS FROM HADITH ANALYSIS Amirudin, Helmi; Muhid, Muhid; Atim Muthoharoh, Isnaini Lu'lu'
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.231

Abstract

This study departs from the limitation of previous research, which predominantly examined ‘Uyainah bin Ḥiṣn al-Fazārī from historical and political perspectives, while the moral transformation dimension in the context of hadith has received little scholarly attention. It re-examines ‘Uyainah as a representative figure of Bedouin moral change through the prophetic guidance of the Prophet Muhammad SAW. Employing a qualitative approach that integrates textual and contextual analysis of narrations drawn from primary sources such as al-Isti‘āb fī Ma‘rifati al-Aṣḥāb, Ansāb al-Ashrāf, Faḍā’il al-Ṣaḥābah, Tārīkh al-Ṭabarī, and al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, the study reveals that ‘Uyainah’s moral transformation occurred gradually through the internalization of compassion (raḥmah), justice, and prophetic exemplarity. The findings position hadith as the primary source of moral values in dialogue with John Locke’s theory of empiricism, where social experience functions as a medium for ethical formation. Accordingly, this research reaffirms the relevance of prophetic ethics for contemporary moral education, especially in the digital era that demands social ethics grounded in compassion, truthfulness and responsibility [Penelitian ini berangkat dari keterbatasan kajian sebelumnya yang umumnya menyoroti ‘Uyainah bin Ḥiṣn al-Fazārī dari sisi historis dan politik, sementara dimensi transformasi moralnya dalam perspektif hadis belum mendapatkan perhatian yang memadai. Kajian ini berupaya meninjau ulang figur ‘Uyainah sebagai representasi perubahan moral masyarakat Badui melalui bimbingan profetik Nabi Muhammad SAW. Dengan pendekatan kualitatif yang memadukan analisis tekstual dan kontekstual terhadap riwayat-riwayat dalam sumber primer seperti al-Isti‘āb fī Ma‘rifati al-Aṣḥāb, Ansāb al-Ashrāf, Faḍā’il al-Ṣaḥābah, Tārīkh al-Ṭabarī, dan al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, penelitian ini menemukan bahwa transformasi moral ‘Uyainah berlangsung secara bertahap melalui internalisasi nilai rahmah, keadilan, dan keteladanan profetik. Temuan ini menempatkan hadis sebagai sumber utama nilai moral yang berdialog dengan teori empirisme John Locke, yang menyatakan bahwa pengalaman sosial menjadi medium pembentukan etika. Dengan demikian, studi ini menegaskan relevansi nilai-nilai hadis dalam rekonstruksi pendidikan moral kontemporer, termasuk di era digital yang menuntut etika sosial berbasis kasih sayang, kejujuran, dan tanggung jawab.]
HADITH-BASED RELIGIOUS MODERATION: Strategies for Building Social Resilience among Indonesian Students in Syria in the Wake of the Fall of the Assad Regime Nasrulloh, Nasrulloh; Munawwar, Faishal Agil; Harris, Abdul; Fahrudin, Ali; Umam, Khairul; Amri, Naufal Nuzulul
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.288

Abstract

This study explores the role of hadith-based religious moderation in enhancing the social resilience of Indonesian students studying in Syria during the downfall of the Bashar al-Assad regime. The main objective is to identify strategies for implementing the values of religious moderation that are relevant to preventing radicalism and fostering social resilience. The research employs Yūsuf al-Qaraḍāwī’s theory of religious moderation within a sociological case study approach. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation. The research questions include:(1) How is the contextual interpretation of ḥadīths on moderation understood among Indonesian students in Syria? (2) How are the prophetic principles of moderation applied to build social resilience in the post-Assad context? (3) What are the outcomes of internalizing hadith-based moderation among these students?The findings reveal that, based on al-Qaraḍāwī’s pillars of moderation, students demonstrate balance (tawāzun) by maintaining religious commitment while avoiding conflict and focusing on academic and religious studies. In terms of tolerance (tasāmuḥ), students show greater openness toward differences. Meanwhile, regarding comprehensiveness (syumūliyah),they actively engage in social interactions and embrace diverse groups without aligning with political factions. Social resilience efforts are manifested through hadith-based study circles emphasizing peace and harmony among Muslims. Consequently, Indonesian students remain unaffected by the demonstrations and civil resistance against the government.[Penelitian ini mengeksplorasi peran moderasi beragama yang berpijak pada hadis dalam meningkatkan resiliensi sosial mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Suriah pada fase jatuhnya rezim Bashar Assad. Kajian utama bertujuan mengidentifikasi strategi implementasi nilai-nilai moderasi beragama yang relevan untuk mencegah radikalisme dan membentuk ketahanan sosial. Metodologi penelitian menggunakan teori moderasi beragama Yūsuf al-Qaraḍāwī dengan pendekatan studi kasus sosiologis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non partisipasi, dan dokumentasi. Rumusan masalah penelitian meliputi: (1) Bagaimana kontekstualitas interpretasi hadis-hadis moderasi di kalangan mahasiswa di Suriah? (2) Bagaimana implementasi hadis moderasi dalam membangun resiliensi sosial pasca-jatuhnya rezim Assad? (3) Bagiamana hasil internalisasi hadis moderasi bagi mahasiswa Indonesia di Suriah? Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pilar moderasi yang ditawarkan al-Qaraḍāwī, dari aspek tawāzun, mahasiswa mampu bersikap religius dengan menghindari konflik dan focus pada kajian ilmiah dan keagamaan. Dari aspek tasāmuḥ, mahasisa lebih toleransi dalam melihat perbedaan. Sementara dari aspek syumūliyah, mahasiswa aktif sosialisasi dan merangkul semua golongan tanpa terlibat dalam arus pro-kontra pemerintahan. Upaya resiliensi sosial diimplementasikan melalui kajian-kajian hadis moderasi yang mengedepankan perdamaian antar sesama muslim. Hal ini menjadikan mahasiswa Indonesia tidak terpengaruh oleh demonstrasi dan perlawanan rakyat terhadap pemerintah.]
CHILD-FRIENDLY MOSQUES: UNDERSTANDING HADITHS ON TREATING CHILDREN IN THE MOSQUE Kudhori, Muhammad; Amaliah, Rizky
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.225

Abstract

This research examines the hadiths regarding the participation of children who have not yet reached the age of discernment (tamyīz) in mosques and how the Prophet Muhammad (PBUH) addressed situations where they passed in front of people praying. The study stems from the societal debates surrounding the presence of young children in mosques, which can sometimes lead to disturbances or children passing in front of those praying. This research is a qualitative study using the thematic hadith study method by collecting, analyzing, and interpreting hadiths related to the discussed theme. The findings reveal that there are numerous authentic (sahih) hadiths explaining the participation of children below the age of discernment in mosques. These hadiths indicate that the presence of such children in mosques did not disrupt the Prophet (PBUH) in leading prayers, particularly when he served as the imam. . Moreover, the practice of bringing small children, including those under the age of tamyiz, to mosques was common during the time of the Prophet (PBUH) and his companions. Authentic hadiths also show that young children passing in front of those praying were tolerated by the Prophet (PBUH), as there are the mosque has been a child-friendly place ever since the time of the Prophet.[Penelitian ini mengkaji hadis-hadis tentang keikutsertaan anak yang belum tamyiz ke masjid dan bagaimana hadis menyikapi mereka ketika bermain di dalam masjid. Penelitian ini berangkat dari adanya pro dan kontra di tengah masyarakat mengenai keikutsertaan anak-anak yang belum tamyiz ke masjid. Kehadiran mereka kerap dianggap berpotensi menimbulkan kegaduhan serta mengganggu kekhusyukan jamaah, misalnya dengan berjalan di depan orang yang sedang salat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi hadis tematik yang dijalankan dengan mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan hadis-hadis yang berkaitan dengan tema yang dibahas. Hasilnya, terdapat banyak hadis sahih yang menjelaskan tentang keikutsertaan anak-anak yang belum tamyiz ke masjid. Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan anak-anak yang belum tamyiz di masjid tidak mengganggu Nabi SAW dalam melaksanakan salat, terutama ketika beliau menjadi imam. Hadis-hadis ini juga menunjukkan bahwa kebiasaan membawa anak-anak kecil ke masjid, termasuk anak-anak yang belum tamyiz, sudah terjadi di masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Hadis-hadis sahih yang menyebutkan keikutsertaan anak-anak yang belum tamyiz ke masjid itu menunjukkan bahwa masjid merupakan tempat ramah bagi anak bahkan sejak zaman Rasulullah.]
DIFFERENTIATING THE HADITHS ON TABARRUK AT THE TOMB OF THE PROPHET AMONG SUNNIS IN THE BOOK OF MAFĀHIM AND AL-TABARRUK Prayogi, Ananda; Verawati, Sellyana; Said, Imam Ghazali; Bustomi, Achmad Wahid
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.293

Abstract

Among Sunni Muslims—particularly between traditionalist and reformist circles—the practice of tabarruk at the Prophet’s tomb has remained a persistent source of controversy. The differing views, as seen between Nahdlatul Ulama and Wahhabi groups, reflect deeper tensions in understanding the legitimacy of such a practice. This issue is worth examining, as it highlights how variations in the interpretation of hadith shape religious perspectives within the Muslim community.This article aims to identify the differences in the use of hadith concerning tabarruk at the Prophet’s tomb by two prominent scholars: Sayyid Muḥammad ibn ʿAlawī al-Mālikī, representing the Sunni traditionalist perspective, and ʿAlī ibn Nāfiʿ al-ʿIlyānī, representing the Sunni reformist view. The study analyzes the hadiths each scholar employs as evidence, taking into account their authenticity, authority, interpretation, and the contextual factors underlying their differing positions.Using the methods of hadith criticism and ijmālī (holistic) understanding, this article reveals fundamental differences in their reasoning regarding tabarruk. The divergence lies not only in their choice of hadiths but also in how each relates the practice to societal behavior—whether deemed excessive or overly restrictive. Sayyid Muḥammad ibn ʿAlawī al-Mālikī argues that people are too quick to prohibit tabarruk, whereas ʿAlī ibn Nāfiʿ al-ʿIlyānī contends that the public tends to overindulge in it. In terms of validity, both hadiths used are authentic: the one cited by Sayyid Muḥammad is mauqūf al-sanad but marfūʿ al-ḥukm, while that cited by Shaykh ʿAlī ibn Nāfiʿ is marfūʿ. Both therefore carry equal argumentative strength.{Di kalangan Muslim Sunnī, khususnya antara kalangan tradisionalis dan reformis, praktik tabarruk dengan makam Nabi telah menjadi sumber kontroversi yang terus berlanjut. Perbedaan pandangan ini, seperti yang terlihat antara kelompok Nahdlatul Ulama dan Wahhabi, mencerminkan ketegangan dalam pemahaman terhadap praktik tersebut. Isu ini menjadi relevan untuk diteliti mengingat pentingnya memahami bagaimana perbedaan interpretasi hadis memengaruhi pandangan keagamaan di kalangan umat Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan penggunaan hadis tentang tabarruk dengan makam Nabi oleh dua tokoh besar, yaitu Sayyid Muḥammad ibn ’Alawī al-Mālikī yang mewakili perspektif Sunnī tradisionalis, dan ‘Ali ibn Nafi’ al-‘Ilyani yang mewakili Sunnī reformis. Penelitian ini menganalisis hadis-hadis yang mereka gunakan sebagai dalil, dengan mempertimbangkan aspek kesahihan, kehujahan, pemahaman mereka, serta faktor yang melatarbelakangi perbedaan ini. Dengan pendekatan kritik hadis dan pemahaman ijmālī, artikel ini mengungkapkan perbedaan mendasar dalam pendalilan kedua tokoh ini terhadap tabarruk dengan makam Nabi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak hanya terletak pada pemilihan hadis, tetapi juga pada cara keduanya menghubungkan praktik ini dengan respons terhadap perilaku masyarakat, yang dianggap berlebihan atau sebaliknya. Di satu sisi, Sayyid Muḥammad ibn ’Alawī al-Mālikī memandang masyarakat terlalu mudah mengharamkan tabarruk makam Nabi, sementara di sisi lain, ‘Ali ibn Nafi’ al-‘Ilyani menganggap masyarakat berlebihan dalam mempraktikkannya. Dari sisi validitas, kedua hadis yang digunakan adalah sahih, Hadis yang digunakan oleh Sayyid Muḥammad berstatus mauqūf al-sanad namun marfū‘ al-ḥukm, sedangkan hadis yang digunakan Syaikh ‘Alī ibn Nāfi’ berstatus marfū‘. Keduanya memiliki kekuatan argumentatif yang seimbang.}
THE HAGARISM THEORY OF MICHAEL COOK: THE QUR’AN AND HADITH IN THE PERSPECTIVE OF RELIGIOUS SYNCRETISM Pulungan, Nur Hamidah; Adhli, Aulya; Adnir, Farid; Masuwd, Mowafg Abrahem
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.259

Abstract

The Hagarism theory developed by Michael Cook and Patricia Crone claims that Islam is the result of assimilation from Jewish, Christian, and pre-Islamic Arab cultural traditions. The Prophet Muhammad is accused of being the founder of a reform movement inspired by Judaism, which He and His followers were initially seen as part of a broader monotheistic tradition, before eventually formin a separate religious identity calling itself Muslims. This study aims to examine the Hagarism theory from the perspective of religious syncretism to assess the claim that the Qur'an and Hadith are products of the fusion of previous religions. This research employs a critical analysis method by reviewing the primary sources used by Cook and Crone and comparing them with Islamic historiography. The approach applied includes a literature review of orientalist texts and counterarguments from Muslim scholars. The findings indicate that the Hagarism theory has methodological weaknesses, as it relies on non-Muslim sources while disregarding Islamic traditions. The syncretic approach used in this theory also tends to overlook the originality of Islamic teachings. This study emphasizes the importance of a more objective academic approach in orientalist studies of Islam.[Teori Hagarisme yang dikembangkan oleh Michael Cook dan Patricia Crone mengklaim bahwa Islam merupakan hasil asimilasi dari tradisi budaya Yahudi, Kristen, dan Arab pra-Islam. Nabi Muhammad dituduh sebagai pendiri gerakan reformasi yang terinspirasi oleh Yudaisme, di mana beliau dan para pengikutnya awalnya dipandang sebagai bagian dari tradisi monoteistik yang lebih luas, sebelum akhirnya membentuk identitas keagamaan yang terpisah dengan menyebut diri mereka sebagai Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teori Hagarisme dari perspektif sinkretisme agama guna menilai klaim bahwa al-Qur’an dan Hadis merupakan produk dari peleburan agama-agama sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode analisis kritis dengan menelaah sumber-sumber primer yang digunakan oleh Cook dan Crone serta membandingkannya dengan historiografi Islam. Pendekatan yang digunakan mencakup telaah pustaka terhadap teks-teks orientalis dan tanggapan dari para sarjana Muslim. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teori Hagarisme memiliki kelemahan metodologis karena bergantung pada sumber-sumber non-Muslim dan mengabaikan tradisi Islam. Pendekatan sinkretis yang digunakan dalam teori ini juga cenderung mengesampingkan orisinalitas ajaran Islam. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan akademik yang lebih objektif dalam studi orientalis terhadap Islam.]
THE LEGITIMIZING POWER OF HADITH IN ANTI-MAULID DISCOURSE: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF SALAFI IDEOLOGY ON SOCIAL MEDIA Rohmah, Nur Maulidya Wardatur; Zamzami, Mukhammad; Hegazy, Wael; Lutfi, Muhammad
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 6, No 2 (2025): Nabawi: Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55987/njhs.v6i2.234

Abstract

This article critically examines the use of hadith in constructing the anti-Maulid narrative concerning the celebration of the Prophet’s Birthday disseminated through the Instagram account @foto.video.islam, using Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA) as an analytical lens. The study focuses on how Salafi ideology is articulated and propagated through religious discourse in the digital sphere. The research problem addresses how hadiths are selectively cited to delegitimize the celebration of the Prophet’s Birthday while undermining the authority of scholars who support it. This qualitative descriptive study analyzes the macrostructure, superstructure, and microstructure of the discourse produced by the account. The findings demonstrate that the use of hadith functions as a tool of ideological legitimation, consolidating Salafi authority within the digital space and marginalizing alternative perspectives in the broader landscape of Islamic intellectual traditions. This strategy is not merely textual or jurisprudential but reflects complex ideological operations that shape perceptions and religious orientations in contemporary digital public spheres. The study also highlights the importance of critical awareness regarding the politicization of religious texts and underscores the need for ethical dialogue and mutual respect across theological differences, ensuring that sectarian divergences do not become sources of social conflict or hierarchical domination. Overall, the research shows that digital anti-Maulid discourse mobilizes hadith as a means to construct and maintain religious authority, while emphasizing the broader implications for critical engagement and responsible communication in diverse Islamic communities.[Artikel ini secara kritis menelaah penggunaan hadis dalam konstruksi narasi anti-Maulid mengenai perayaan Maulid Nabi yang disebarkan melalui akun Instagram @foto.video.islam, dengan menggunakan lensa Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA). Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana ideologi Salafi diartikulasikan dan dipropagandakan melalui wacana keagamaan di ruang digital. Masalah yang diteliti adalah bagaimana hadis dipilih dan disajikan secara selektif untuk mendiskreditkan perayaan Maulid serta meremehkan otoritas ulama yang mendukungnya. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dan menganalisis struktur makro, superstruktur, dan mikro dari wacana yang dihasilkan akun tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hadis oleh akun ini berfungsi sebagai alat legitimasi ideologis, memperkuat posisi Salafi dalam ranah digital, dan memarginalkan perspektif lain dalam tradisi intelektual Islam. Strategi ini tidak hanya bersifat tekstual atau yuridis, tetapi juga mencerminkan operasi ideologis kompleks yang membentuk persepsi dan orientasi keagamaan dalam masyarakat digital kontemporer. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap politisasi teks agama dan perlunya menjaga etika dialog serta saling menghormati antarmazhab, sehingga perbedaan teologis tidak menjadi sumber dominasi atau konflik sosial. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa wacana anti-Maulid digital memobilisasi hadis sebagai sarana konstruksi dan pemeliharaan otoritas keagamaan, sekaligus menyoroti implikasi yang lebih luas terkait keterlibatan kritis dan komunikasi yang bertanggung jawab dalam komunitas Islam yang beragam.]