cover
Contact Name
Taufik Samsuri
Contact Email
empiric.journal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
empiric.journal@gmail.com
Editorial Address
Perumahan Lingkar Permai Blok Q4 LK Sembalun, Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Empiricism Journal
ISSN : -     EISSN : 27457613     DOI : https://doi.org/10.36312/ej
Empiricism Journal was published by Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM). This journal publishes empirical original research papers in the field of education and natural science.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1: June 2024" : 13 Documents clear
Pengembangan Modul Fisika Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pani, Andriadi; Sukroyanti, Baiq Azmi; Gummah, Syifaul
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1314

Abstract

Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan prototype modul fisika berbasis masalah yang layak digunakan untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah ADDIE, dimana model ADDIE terdiri dari 5 tahap pengembangan yaitu tahap analysis, design, development, implementation dan evaluation. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Keruak dengan subjek uji coba pada tahap penerapan berjumlah 32 siswa. Ditinjau hasil berdasarkan analisis penilaian dua orang validator menunjukkan bahwa produk modul fisika yang dikembangkan memperoleh kategori  sangat layak untuk diterapkan. Kategori ini diperkuat juga oleh respon positip siswa terhadap modul fisika berbasis masalah sehingga efektif meningkatkan hasil belajar mereka. Efek penerapan modul fisika berbasis masalah memperlihatkan adanya peningkatan hasil belajar fisika siswa yang dalam hal ini berkategori sedang (N-gain=0,44). Penelitian ini disimpulkan bahwa produk modul fisika berbasis masalah secara umum lebih efektif meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan bahan ajar yang biasa digunakan. Kedepannya, modul ini dapat menjadi salah satu alternatif bahan ajar yang digunakan oleh guru untuk mengeksplorasi tingkat kemampuan berpikir siswa dalam belajar fisika di sekolah. Development of Problem-Based Modules to Improve Student Learning Outcomes Abstract The aim of the research is to produce a prototype problem-based physics module that is suitable for use to improve student physics learning outcomes. The development used is the ADDIE model namely: analysis, design, development, implementation and evaluation stages. The research was conducted at SMA Negeri 1 Keruak with a sample of 32 students. The results based on the assessment analysis of two validators show that the physics module product developed is categorized as very suitable for application. This category is also strengthened by students' positive responses to the problem-based physics module so that it effectively improves their learning outcomes. The effect of implementing the problem-based physics module shows an increase in students' physics learning outcomes, which in this case is in the medium category (N-gain=0.44). This research concluded that problem-based physics module products are generally more effective in improving student learning outcomes compared to commonly used teaching materials. In the future, this module can become an alternative teaching material used by teachers to explore the level of students' thinking abilities in learning physics at school.
Pembelajaraan Contextual Teaching and Learning Berbantuan PhET Simulation untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Nabila, Putri; Herayanti, Lovy; Habibi, Habibi; Yanti, Fitri April
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1340

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan pembelajaran Contextual Teaching and Learning berbantuan PhET Simulation. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IPA di MA Dakwah Islamiyah Putri Nurul Hakim Kediri yang terdiri dari empat kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan X IPA 2 sebagai kelas kontrol. Teknik pemilihan sampel yaitu porposive sampling yang jumlahnya 31 orang untuk kelas eksperimen dan 30 orang untuk kelas control. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data berupa lembar observasi, soal pre-test dan post-test, serta dokumentasi. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai sig.= 0,00 (sig.< 0,05), sehingga keputusan didapatkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji selanjutnya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas eksperimen dan control. Berdasarkan analisis hasil N-Gain dari Kelas eksperimen sebesar 0,75 dengan kriteria tinggi, sedangkan pada kelas kontrol mendapatkan hasil sebesar 0,64 dengan kriteria sedang. Berdasrkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Contextual Teaching and Learning Berbantuan PhET Simulation berpengaruh positip terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Contextual Teaching and Learning Assisted PhET Simulation to Improve Critical Thinking Ability of Students Abstract This study aims to improve students' critical thinking skills through Contextual Teaching and Learning assisted by PhET Simulation. The research design used is a quasi-experimental study. The population in this study includes all tenth-grade science students at MA Dakwah Islamiyah Putri Nurul Hakim Kediri, consisting of four classes. The sample in this study includes students from class X IPA 1 as the experimental group and X IPA 2 as the control group. The sampling technique used is purposive sampling, with 31 students in the experimental class and 30 students in the control class. The instruments used for data collection include observation sheets, pre-test and post-test questions, and documentation. The hypothesis testing results obtained a significance value of 0.00 (sig.< 0.05), leading to the conclusion that Ha is accepted and Ho is rejected. Further tests show an increase in critical thinking skills among students in both the experimental and control classes. Based on the N-Gain analysis, the experimental class showed a high criterion increase of 0.75, while the control class showed a moderate criterion increase of 0.64. Based on these results, it can be concluded that Contextual Teaching and Learning assisted by PhET Simulation positively affects the improvement of Students' Critical Thinking Skills.
Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Penguasaan Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Elastisitas dan Hukum Hooke Sukmawati, Sukmawati; Verawati, Ni Nyoman Sri Putu; Makhrus, Muh.
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1531

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Learning Cycle 5E terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah pada materi elastisitas dan hukum hooke. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI MAN 1 Mataram yang berjumlah 138 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 yang berjumlah 35 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas IX IPA 4 yang berjumlah 34 orang sebagai kelas kontrol. Sampel pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen test yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 20 soal pilihan ganda untuk penguasaan konsep dan 6 soal uraian untuk kemampuan pemecahan masalah, soal tersebut telah diuji validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, daya beda soal, dan analisis fungsi pengecoh sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan konsep peserta didik memperoleh nilai rata-rata untuk kelas eksperimen yaitu 74,00 dan nilai rata-rata untuk kelas kontrol yaitu 68,67, sedangkan untuk kemampuan pemecahan masalah menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen yaitu 69,14 dan nilai rata-rata untuk kelas kontrol yaitu 58,52. Uji prasyarat analisis data posttest tes penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah terdistribusi normal dan homogen. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji MANOVA berbantuan IBM SPSS 16. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,00 dengan taraf signifikan yang ialah 0,05, sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh dari model Learning Cycle 5E terhadap penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada materi elastisitas dan hukum hooke. The Influence of the 5E Learning Cycle Model on Concept Mastery and Problem Solving Ability in Elasticity and Hooke's Law Material Abstract This study aims to determine the effect of the 5E Learning Cycle model on concept mastery and problem-solving skills on the topics of elasticity and Hooke's law. This type of research is a quasi-experiment with a Nonequivalent Control Group Design. The population in this study comprises all 138 students of class XI MAN 1 Mataram. The sample used in this study includes class XI Science 1, with 35 students as the experimental class, and class IX Science 4, with 34 students as the control class. The sample was selected using purposive sampling techniques. The test instruments used in this study consist of 20 multiple-choice questions for concept mastery and 6 essay questions for problem-solving skills. These questions have been tested for validity, reliability, difficulty level, discriminating power, and distractor function analysis to be used in this study. The results showed that the average score for concept mastery in the experimental class was 74.00, while the control class scored 68.67. For problem solving skills, the average score in the experimental class was 69.14, compared to 58.52 in the control class. The prerequisite tests for posttest data analysis of concept mastery and problem-solving skills showed normal and homogeneous distributions. The data obtained were analyzed using MANOVA with the help of IBM SPSS 16. The hypothesis testing results showed a significance value of 0.00 with a significance level of 0.05, indicating that the 5E Learning Cycle model significantly affects students' concept mastery and problem-solving skills on the topics of elasticity and hooke's law.
Penerapan Bahan Ajar Model Project Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains Peserta Didik Meinarni, Meinarni; Makhrus, Muh.; Wahyudi, Wahyudi; A., Syahrial
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1593

Abstract

Keterampilan generik sains peserta didik jarang sekali diperhatikan dalam proses pembelajaran, hal ini disebabkan waktu efektif pembelajaran terbatas, sedangkan penilaian keterampilan generik sains membutuhkan waktu yang lebih lama. Selain itu, materi yang harus disajikan oleh guru cenderung lebih banyak. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui hasil pembelajaran dengan penerapan bahan ajar model project based learning untuk meningkatkan keterampilan generik sains peserta didik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode deskriptif dimana metode penelitian ini digunakan untuk menggambarkan fenomena atau karakteristik dari subjek yang diteliti secara sistematis dan akurat, dalam hal ini digunakan untuk mengetahui hasil pembelajaran dengan bahan ajar model project based learning. Bahan ajar yang diterapkan berupa bahan ajar yang sudah disesuaikan dengan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrumen tes keterampilan generik sains. Materi yang disajikan pada bahan ajar tersebut yakni tentang alat-alat optik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket respon peserta didik terhadap bahan ajar yang ditrapkan dan uji N-Gain hasil nilai pretest dan posttest dengan menggunakan instrumen tes keterampilan generik sains. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini berupa respon peserta didik terhadap bahan ajar yang di terapkan memperoleh nilai rata-rata sebesar 83,73% dengan kategori sangat praktis. Sedangkan keterampilan generik sains peserta didik diperoleh dari hasil uji N-Gain sebesar 0,57 dengan kategori sedang. Hal ni menunjukkan bahwa penerapan bahan ajar model project based learning efektif dalam meningkatkan keterampilan generik sains peserta didik. Application of Project Based Learning Model Teaching Materials to Improve Students' Generic Science Skills Abstract Students' generic science skills are rarely given attention in the learning process. This is due to the limited effective learning time, while the assessment of generic science skills requires more time. In addition, the material that must be presented by the teacher tends to be more extensive. This study aims to determine the learning outcomes through the application of project-based learning model teaching materials to improve students' generic science skills. The research method used in this study is a descriptive method, which is used to describe the phenomena or characteristics of the subjects studied systematically and accurately. In this case, it is used to determine the learning outcomes with project-based learning model teaching materials. The teaching materials applied have been adjusted to the syllabus, Lesson Plans (RPP), and generic science skills test instruments. The material presented in these teaching materials is about optical instruments. The data collection techniques used in this study include questionnaires on students' responses to the applied teaching materials and the N-Gain test of pretest and posttest scores using the generic science skills test instrument. The results obtained in this study indicate that students' responses to the applied teaching materials received an average score of 83.73% in the very practical category. Meanwhile, students' generic science skills were obtained from the N-Gain test results of 0.57 in the medium category. This indicates that the application of project-based learning model teaching materials is effective in improving students' generic science skills.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Konflik Kognitif Berbantuan Video untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Fisika Peserta Didik Dinda, Yayi Ana; Gunada, I Wayan; Harjono, Ahmad; Kosim, Kosim
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1594

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan konflik kognitif untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika peserta didik yang valid, praktis, dan efektif. Penelitian ini termasuk dalam jenis Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D yaitu Define, Design, Develop dan Disseminate. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini beruba silabus, RPP, LKPD, Video Pembelajaran dan Instrumen tes kemampuan penguasaan konsep fisika peserta didik. Validitas produk dinilai oleh enam validator yaitu tiga orang dosen dan tiga orang guru. Hasil validasi menunjukkan bahwa penilaian validator ahli yakni tiga orang dosen memperoleh nilai rata-rata sebesar 82% dengan kriteria cukup valid, sedangkan validator pengguna yakni tiga orang guru memperoleh nilai rata-rata 89,4% dengan kriteria sangat valid. Hasil keterlaksanaan pembelajaran diperoleh 85,57% dengan kriteria terlaksanan dengan sangat baik.  Selanjutnya, hasil rata-rata N-gain untuk kemampuan penguasaan konsep sebesar 0,60 dengan kategori sedang Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa perangkat pembelajaran berbasis pendekatan konflik kognitif valid, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika. Development of Learning Tools Based on a Video Assisted Cognitive Conflict Approach to Improve Students Mastery of Physics Concepts Abstract This study aims to develop cognitive conflict-based learning tools to improve the mastery of physics concepts by students in a valid, practical, and effective manner. This research falls under the Research and Development (R&D) category, utilizing the 4D development model, which stands for Define, Design, Develop, and Disseminate. The products developed in this study include syllabi, lesson plans, student worksheets, educational videos, and test instruments for assessing students' mastery of physics concepts. The validity of the products was assessed by six validators, comprising three lecturers and three teachers. The validation results showed that the expert validators, the three lecturers, gave an average score of 82%, with a criterion of sufficiently valid, while the user validators, the three teachers, gave an average score of 89,4%, with a criterion of very valid. The implementation of the learning obtained 85,57%, with the criterion of being very well implemented. Furthermore, the average N-gain score for the mastery of concepts was 0,60, categorized as moderate. Based on these findings, it can be stated that the cognitive conflict-based learning tools are valid, practical, and effective for use in education to improve the mastery of physics concepts.
Literatur Review: Peran Guru Penggerak dalam Menghadapi Kurikulum Merdeka Belajar Kamaluddin, Kamaluddin; Sarnita, Fitria; Setiyadi, Muhammad Wahyu
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1598

Abstract

Kurikulum Merdeka belajar dan guru penggerak merupakan salah satu terobosan baru yang di andalkan untuk memajukan pendidikan Indonesia dengan menerapkan teknologi 4.0 saat ini. Dengan pendidikan, orang dapat kehilangan kemampuan berpikir kritis dan bertindak kritis. Dalam menghadapi era revolusi 4.0, penekanan pada konsep belajar bebas mengarahkan lembaga pendidikan untuk menciptakan daya saing, inovasi, dan daya saing. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan data atau mereview peran guru penggerak dalam kurikulum Merdeka belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan systematic literature review dengan 10 artikel dari topik yang relevan. Artikel-artikel yang dijadikan sampel berasal dari berbagai sumber seperti jurnal nasional serta jurnal nasional terakreditasi. Analisi data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa peranan guru penggerak memiliki peran khusus dalam merdeka belajar, yaitu menjadi guru yang mampu mengelola pembelajaran dengan inovatif, memberikan pengajaran yang inovatif, dan menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Guru penggerak juga berperan sebagai agen perubahan, pencipta forum diskusi dan kolaborasi guru, motivator, serta memastikan suasana belajar yang menghibur. Dengan demikian, guru penggerak diharapkan mampu memberikan kontribusi besar terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka belajar, meningkatkan motivasi belajar siswa, dan memperkuat inovasi pembelajaran. Literature Review: The Role of the Driving Teacher in Dealing with the Independent Learning Curriculum Abstract The independent learning curriculum and driving teachers is one of the new breakthroughs that are relied on to advance Indonesian education by applying technology 4.0 today. With education, people can lose the ability to think critically and act critically. In facing the era of revolution 4.0, the emphasis on the concept of free learning directs educational institutions to create competitiveness, innovation, and competitiveness. This article aims to present data or review the role of mobilizing teachers in the independent learning curriculum. The method used in this study was a systematic literature review with 10 articles from relevant topics. The articles sampled came from various sources such as national journals and accredited national journals. Data analysis in this study used descriptive data analysis. The results showed that the role of mobilizing teachers has a special role in independent learning, namely being teachers who are able to manage learning innovatively, provide innovative teaching, and mobilize learning communities for fellow teachers in schools and in the region. Teacher mobilizers also act as agents of change, creators of teacher discussion and collaboration forums, motivators, and ensure an entertaining learning atmosphere. Thus, mobilizing teachers are expected to be able to make a major contribution to the implementation of the Independent Learning Curriculum, increase student learning motivation, and strengthen learning innovation.
Analisis Metode Klasifikasi Penyakit Bell's Palsy Menggunakan Machine Learning RS, Asmaul Husna; Permata, Reny Amalia
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1610

Abstract

Bell’s Palsy adalah satu kondisi yang mempengaruhi saraf wajah, yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah. Klasifikasi Penyakit Bells’ Palsy sangat penting untuk diagnosis dan prognosis yang akurat. Dalam beberapa tahun terakhir, Algoritma pembelajaran mesin telah dieskplorasi sebagai alat potensial untuk mengklasifikasikan penyakit Bell’s Palsy berdasarkan jenis data, seperti informasi klinis,  data pencitraan dan elektrodiagnostik. Dalam tinjauan Pustaka sistematis ini, kami menganalisis keadaan peneliti saat ini tentang penggunaan algoritma mesin learning untuk mengklasifikasikan penyakit Bell’s Palsy, dengan metode Sistematic Literatur Riview (SLR) dengan mengumpulkan hasil penting dari literatur yang dikaji. Hasil penemuan kami menunjukkan beberapa penelitian telah menggunakan berbagai jenis algoritma mesin learning seperti Support Vector Machine (SVM) dan Convolutional Neural Network (CNN). Algortima tersebut menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi dalam mengklasifikasikan penyakit Bell’s Palsy dan memprediksi tingkat keparahan atau hasilnya. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuin ini dan mengeksplorasi potensi penggunaan jenis data lain untuk tujuan klasifikasi. Penggunaan algortima mesin learning untuk klasifikasi penyakit Bell’s palsy berpotensi meningkatkan akurasi diangnosisi dan prognosis serta meningkatkan penatalaksanaan kondisi ini secara keselruhan dengan menggunakan berbagai macam data dengan menganalisisnya secara akurat sehinga dokter dapat merencakan perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan unik pasien dengan memprediksi tingkat keparahan dan hasil pengobatan. Analysis of Bell's Palsy Disease Classification Methods Using Machine Learning Abstract Bell's palsy is a condition that affects the facial nerves, causing sudden weakness or paralysis of the muscles on one side of the face. The classification of Bell's palsy disease is crucial for accurate diagnosis and prognosis. In recent years, machine learning algorithms have been explored as a potential tool to classify Bell’s palsy disease based on data types such as clinical information, imaging data, and electrodiagnostics. In this systematic review of the library, we analyzed the current state of research on the use of machine learning algorithms to classify Bell’s palsy disease using the Riview Systematic Literature (SLR) method by collecting important results from the literature studied. Our findings suggest that some studies have used different kinds of machine learning algorithms, such as support vector machines (SVM) and convolutional neural networks . (CNN). The algorithm shows a high degree of accuracy in classifying Bell's palsy disease and predicting its severity or outcome. But further research is needed to validate these findings and explore the potential use of other types of data for classification purposes. Using machine learning algorithms to classify Bell's palsy disease has the potential to improve the accuracy of anginosis and prognosis as well as the implementation of the condition in a comprehensive way by using a wide range of data and analyzing it accurately, so long as doctors can plan treatment that is tailored to the unique needs of patients by predicting the severity and outcome of treatment.
Hubungan Prematuritas, BBLR dan Asfiksia dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Faisal, Siti Fadila Alviana; Benvenuto, Ananta Fittonia; Wanadiatri , Halia; Prajitno, Sugianto
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1784

Abstract

Ikterus neonatorum adalah kejadian biologis pada bayi yang muncul karena produksi sel darah merah yang tinggi dan ekskresi bilirubin rendah yang di tandai dengan gejala kulit berwarna kuning. Beberapa faktor risiko ikterus neonatorum yang sering terjadi di Asia yaitu jenis kelamin, usia kehamilan, berat badan lahir, jenis persalinan, kejadian asfiksia dan frekuensi pemberian Air Susu Ibu (ASI). Menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2023, Kabupaten Lombok Barat merupakan kabupaten yang memiliki jumlah penduduk ke-tiga terbanyak di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan jumlah penduduk sekitar 753?641. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Prematuritas, Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Asfiksia dengan kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat yang merupakan rumah sakit tipe B dan menjadi rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif analitik dengan desain penelitian cross sectional dimana suatu penelitian yang dilakuakn untuk mempelajari kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan cara pendekatan atau pengumpulan data sekaligus pada satu saat tertentu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dimana sampel penelitian sebanyak 170 Responden. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji korelasi Chi-Square. Adapun nilai p-value Prematuritas dengan kejadian Ikterus 0,009 (p-value <0,05), BBLR dengan kejadian ikterus 0,003 (p-value <0,05), Asfiksia dengan kejadian ikterus 0,013 (p-value <0,05). Berdasarkan hasil yang diperoleh maka terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas, BBLR, Asfiksia dengan kejadian Ikterus Neonatorum di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat. Relationship between Prematurity, BBLR and Asphyxia with the Occurrence of Neonatal Jaundice Abstract Neonatal jaundice is a biological occurrence in infants that arises due to high red blood cell production and low bilirubin excretion, marked by yellowish skin symptoms. Several risk factors for neonatal jaundice frequently observed in Asia include gender, gestational age, birth weight, type of delivery, incidence of asphyxia, and the frequency of breastfeeding. According to the Central Statistics Agency in 2023, West Lombok Regency has the third largest population in West Nusa Tenggara (NTB) with about 753,641. This study aims to analyze the relationship between prematurity, Low Birth Weight (LBW) Babies, asphyxia, and the occurrence of neonatal jaundice at the Patut Patuh Patju Hospital in West Lombok, which is a type B hospital and serves as a referral center for those in need of advanced healthcare services. This research was conducted analytically with a cross-sectional study design, where a study is performed to examine the correlation between risk factors by means of an approach or data collection at a specific point in time. The sampling technique used was purposive sampling, with a sample size of 170 respondents. The data obtained were analyzed using the Chi-Square correlation test. The p-values for prematurity with the occurrence of jaundice were 0.009 (p-value <0.05), LBW with the occurrence of jaundice was 0.003 (p-value <0.05), and asphyxia with the occurrence of jaundice was 0.013 (p-value <0.05). Based on the results obtained, there is a significant relationship between prematurity, LBW, asphyxia, and the occurrence of neonatal jaundice at the Patut Patuh Patju Hospital in West Lombok.
Pemanfaatan Kayu Rajumas, Sengon dan Bambu Petung Sebagai Produk Papan Laminasi Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1822

Abstract

Salah satu alternatif peningkatan nilai tambah kayu sengon dan rajumas dengan mengkombinasikan dengan bambu petung menjadi bentuk papan papan laminasi sebagai subtitusi material struktural. Bambu petung dapat dibuat papan laminasi karena memiliki dinding batang tebal (10 mm-30 mm), dinding batang yang tebal akan menghemat penggunaan perekat. Papan laminasi merupakan suatu produk yang dibentuk dari lamina-lamina kayu yang disatukan dengan perekat dengan proses pengempaan menjadi papan yang ukurannya bisa diatur sesuai keperluan. Kelebihan produk papan laminasi yaitu cacat kayu dapat dihilangkan, memiliki nilai estetika yang baik serta mudah dalam perawatannya. Persayaratan kayu untuk untuk penggunaan structural membutuhkan kekuatan yang tinggi dan memiliki dimensi yang besar.  Teknologi papan laminasi memungkinkan kayu dengan sifat inferior dikonversi menjadi produk structural.  Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh berat labur, jenis kombinasi kayu dan non kayu serta interaksinya terhadap sifat fisika dan mekanika papan laminas serta menentukan kelas kuat papan laminasi berdasarkan sifat fisika dan mekanikanya. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika (kerapatan, pengembangan tebal dan penyusutan tebal) papan laminasi tidak berpengaruh nyata terhadap berat labur, jenis kombinasi dan interaksinya kecuali pada pengujian kadar air berpengaruh nyata.  Pengujian sifat mekanika (MoE dan MoR) berpengaruh nyata terhadap berat labur, jenis kombinasi dan interaksinya.  Sifat fisika papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan sengon bambu petung sudah sesuai standar JAS 234-2007 namun pada pengujian sifat mekanika belum memenuhi standar.  Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika dan mekanika maka masuk dalam kelas kuat III yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan dengan pemakaian didalam ruangan. Utilization of Rajumas, Sengon and Petung Bamboo as Laminated Board Products Abstract One alternative to increase the added value of sengon and rajumas wood by combining with petung bamboo into a form of laminated board as a substitute for structural materials. Petung bamboo can be made into a laminated board because it has a thick stem wall (10 mm-30 mm), a thick stem wall will save the use of adhesive. Laminated board is a product formed from wood laminae that are joined together with adhesive by the process of forging into a board whose size can be adjusted as needed. The advantages of laminated board products are that wood defects can be eliminated, have good aesthetic value and are easy to maintain. Wood requirements for structural use require high strength and large dimensions.  Laminated board technology allows wood with inferior properties to be converted into structural products. The purpose of this research is to see the effect of labor weight, type of wood and non-wood combination and their interaction on the physical and mechanical properties of laminated boards and determine the strength class of laminated boards based on their physical and mechanical properties. Based on the results of testing the physical properties (density, thickness development and thickness shrinkage) of laminated boards have no significant effect on the weight of the lumber, the type of combination and its interaction except in testing the water content has a real effect. Testing of mechanical properties (MoE and MoR) has a significant effect on the weight of labur, the type of combination and its interaction. The physical characteristics of the laminated board combination of rajumas bamboo petung and sengon bamboo petung wood are in accordance with the JAS 234-2007 standard, but the mechanical properties test has not met the standard.  Based on the results of testing the physical and mechanical properties, it is included in strength class III which can be utilized as a lightweight construction material with indoor use.
Ontologi dalam Ilmu Pengetahuan Mengenai Hakikat Tuhan, Manusia, dan Alam: Sebuah Literatur Review Prihanta, Wahyu; Lubis, Mutiara; Widodo, Joko; Tobroni, Tobroni
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1906

Abstract

Manusia memiliki keingintahuan yang mendalam tidak hanya tentang alam sekitar dan hakikat dirinya sendiri, tetapi juga tentang esensi dari Tuhan serta hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia. Artikel ini bertujuan untuk mereview konsep ontologi dalam ilmu pengetahuan yang mengeksplorasi hakikat dari Tuhan, manusia, dan alam. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah review literatur. Secara umum, review literatur dapat digambarkan sebagai metode yang sistematis untuk mengumpulkan dan mensintesis penelitian yang telah ada sebelumnya. Studi ini mengkaji berbagai artikel dari jurnal, dan publikasi lainnya. Hasil kajian ini diperoleh melalui pencarian di Google Scholar dan Scopus, pencarian ini dipilih karena relevansinya dengan topik yang sedang dibahas. Untuk memilih artikel referensi yang paling tepat, studi ini menggunakan pendekatan yang menyeimbangkan antara relevansi, cakupan, dan keragaman referensi. Studi ini membahas bagaimana ontologi memaknai hakikat Tuhan. Proses pemahaman ini dimulai dari pertimbangan materi atau kebenaran, yaitu melalui pemikiran tentang keberadaan Tuhan. Keberadaan Tuhan dapat dipahami dengan melihat ciptaan-Nya, seperti makhluk hidup dan alam semesta. Semua ini, yang terbentuk secara kompleks dan sempurna, menunjukkan adanya Zat yang Maha Sempurna sebagai penciptanya. Selanjutnya, manusia, sebagai makhluk berakal, mampu memahami dan melihat bukti keberadaan alam yang menunjukkan adanya Tuhan. Manusia juga memahami dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sesuai dengan teori ontologis tentang eksistensi. Dengan mengamati ciptaan-Nya yang kompleks dan sempurna, kita dapat menarik kesimpulan tentang adanya Zat yang Maha Sempurna sebagai pencipta. Selain itu, manusia, sebagai makhluk berakal, memiliki kemampuan untuk memahami dan menafsirkan bukti-bukti keberadaan Tuhan yang termanifestasi dalam alam. Hal ini membantu manusia dalam memahami posisi sebagai makhluk ciptaan dan mengapresiasi hubungan yang lebih dalam antara Tuhan, manusia, dan alam. Dengan demikian, pendekatan ontologi tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang Tuhan tetapi juga memperkuat hubungan intrinsik antara keberadaan manusia dan alam semesta. Ontology in Science Concerning the Nature of God, Humans, and Nature: A  Literature Review Abstract Human beings possess a profound curiosity not only about the natural world and their own essence, but also about the essence of God and the relationships between God, nature, and humans. This article aims to review the concept of ontology in science that explores the essence of God, humans, and nature. The method used in this study is a literature review. Generally, a literature review can be described as a systematic method for collecting and synthesizing previous research. This study examines various articles from journals and other publications. The findings of this study were obtained through searches in Google Scholar and Scopus, chosen for their relevance to the topic under discussion. To select the most appropriate reference articles, this study uses an approach that balances relevance, coverage, and diversity of references. This study discusses how ontology interprets the essence of God. The understanding process begins with material considerations or truth, that is, through thinking about the existence of God. The existence of God can be understood by observing His creations, such as living beings and the universe. All of this, formed in a complex and perfect manner, indicates the presence of a Most Perfect Being as its creator. Furthermore, humans, as rational beings, are able to understand and see evidence of the existence of nature that indicates the presence of God. Humans also understand themselves as creations of God, in accordance with ontological theories about existence. By observing His complex and perfect creations, we can draw conclusions about the presence of a Most Perfect Being as the creator. Additionally, humans, as rational beings, have the ability to understand and interpret evidence of the existence of God manifested in nature. This helps humans understand their position as created beings and appreciate a deeper relationship between God, humans, and nature. Thus, the ontological approach not only expands our understanding of God but also strengthens the intrinsic relationship between human existence and the universe.

Page 1 of 2 | Total Record : 13