cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER" : 11 Documents clear
Allah-Allah Dalam Mazmur 82: Telaah Hermeneutika Kontekstual Atas Status Ilahi Dalam Tradisi Israel Kuno Titin, Veronica; Laeken, Daniel Van; Busno, Busno
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.283

Abstract

Psalm 82 is one of the Old Testament texts that contains the concept of ʾĕlōhîm in its plural form, sparking debates about divine status in ancient Israelite tradition. The background of this study is based on the need to understand how the heritage of Semitic mythology and the development of monotheism in ancient Israel are interconnected. The main question posed is how the status of ʾĕlōhîm is understood in Psalm 82 and what its theological and hermeneutical implications are for modern contextual theology. This article is conducted using a contextual hermeneutics-based study approach. The findings of the research indicate that Psalm 82 depicts a divine council that transforms the cultural heritage of Canaan and Ugarit within a monotheistic ethical framework. The conclusion of the research affirms that the divine legitimacy in this text is grounded in a commitment to social justice, while also offering dialogical value for theological interpretation in a multicultural era. Abstrak:Mazmur 82 merupakan salah satu teks Perjanjian Lama yang memuat konsep ʾĕlōhîm dalam bentuk jamak, memunculkan perdebatan mengenai status ilahi dalam tradisi Israel kuno.  Latar belakang kajian ini didasarkan pada kebutuhan untuk memahami bagaimana warisan mitologi Semitik dan perkembangan monoteisme dalam Israel purba yang berhubungan satu sama lain.  Rumusan pertanyaan utama yang diajukan adalah bagaimana status ʾĕlōhîm dipahami dalam Mazmur 82 dan apa implikasi teologis dan hermeneutisnya bagi teologi kontekstual moderen. Artikel ini dikerjakan dengan pendekatan studi berbasiskan hermeneutika kontekstual. Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazmur 82 menggambarkan sidang ilahi yang mengubah warisan budaya Kanaan dan Ugarit dalam kerangka etis monoteistik.Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa legitimasi ilahi dalam teks ini berpijak pada keberpihakan terhadap keadilan sosial, sekaligus menawarkan nilai dialogis bagi tafsir teologi di era multikultural Kata Kunci: Mazmur 82, ʾĕlōhîm, Israel, Sidang Ilahi.
Integrasi Iman dan Perbuatan: Analisis Gaya Retorika Diatribe dalam Yakobus 2:14-26 Priyono, Joko
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.245

Abstract

Integrating faith and works is a central concept in the New Testament, specifically in the letter James 2:14-26. This research explores the concept of integration between faith and action, where faith and action cannot be separated. Through diatribe style analysis, this research examines how James uses rhetorical arguments to connect true faith with the actions required in the life of a believer. The analytical method used involves a textual and contextual approach to the text, considering the socio-historical and religious background of that time. This finding provides a deeper understanding of the concept of integrating faith and deeds from a biblical theological perspective, as well as its implications for the lives of believers today. AbstrakIntegrasi iman dan perbuatan merupakan konsep sentral dalam Perjanjian Baru, khususnya di dalam surat Yakobus 2:14-26. Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep integrasi antara iman dan perbuatan, di mana iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Melalui analisis gaya diatribe, penelitian ini meneliti bagaimana Yakobus menggunakan argumen-argumen retoris untuk menghubungkan iman yang benar dengan perbuatan yang diperlukan dalam kehidupan orang percaya. Metode analisis yang digunakan melibatkan pendekatan tekstual dan kontekstual terhadap teks tersebut, dengan memperhatikan latar belakang sosio-historis dan keagamaan pada masa itu. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep integrasi iman dan perbuatan menurut perspektif teologis Alkitab, serta implikasinya dalam praktek kehidupan orang percaya saat ini.Kata Kunci: Integrasi Iman dan Perbuatan, Gaya Retorika Diatribe, Yakobus 2:14-26
Mendekonstruksi Narasi Transhumanisme: Refleksi Teologis untuk Formasi Iman Generasi Z Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.282

Abstract

Transhumanism promises a life without limits, enhanced intelligence, and even immortality, increasingly influencing Generation Z's perspective in shaping their identity and spirituality. This study aims to analyze the influence of transhumanist narratives on Generation Z's worldview within the context of their identity as God's creation, and to develop relevant theological reflections to strengthen Generation Z's faith formation amid the challenges of digital culture and contemporary technological ideologies. A qualitative research method based on literature review was used in this study, exploring theological sources, the Bible as the primary source, books, articles, and internet websites. The results of the study indicate that transhumanism obscures the essence of humanity as God's creation, reduces spiritual identity to a mere technological enhancement project, and offers false salvation outside of Christ's redemptive work. Theological reflection rooted in the doctrines of creation, the incarnation of Christ, and the resurrection affirms that human identity is determined by one's relationship with God, not by technological autonomy. This study concludes that the church and Christian faith education must be present in a contextual and prophetic manner in guiding Generation Z to reject the transhumanist narrative and grow in true faith. AbstrakTranshumanisme menjanjikan kehidupan tanpa batas, peningkatan kecerdasan, dan bahkan keabadian, yang kian memengaruhi cara pandang Generasi Z dalam membentuk identitas diri dan spiritualitas mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh narasi transhumanisme terhadap pola pikir Generasi Z dalam konteks identitasnya sebagai ciptaan Allah, serta menyusun refleksi teologis yang relevan untuk memperkuat formasi iman Generasi Z di tengah tantangan budaya digital dan ideologi teknologi masa kini. Metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka digunakan dalam penelitian ini dengan mengeksplorasi sumber-sumber teologi, Alkitab sumber utama, buku, artikel dan website internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transhumanisme mengaburkan hakikat manusia sebagai ciptaan Allah, mereduksi identitas spiritual menjadi proyek peningkatan teknologis semata, dan menawarkan keselamatan palsu di luar karya penebusan Kristus. Refleksi teologis yang berakar pada doktrin penciptaan, inkarnasi Kristus, dan kebangkitan, menegaskan bahwa identitas manusia ditentukan oleh relasi dengan Allah, bukan oleh otonomi teknologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja dan pendidikan iman Kristen harus hadir secara kontekstual dan profetis dalam membimbing Generasi Z agar mampu menolak narasi transhumanisme serta bertumbuh dalam iman yang sejati.Kata Kunci: Teknologi, Transhumanisme, Generasi Z, Imago Dei, Kristus
Visitasi Pastoral Sebagai Model Pendampingan Teologis untuk Formasi Iman Jemaat Pardede, Zulkisar
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.296

Abstract

This article discusses pastoral visitation as a model of theological accompaniment that plays an important role in the formation of church members' faith. The background for this writing is based on the reality that the practice of visitation is often marginalized amidst the busyness of church service and social change, despite having a strong biblical and theological foundation. The method used is qualitative with a practical theological approach. Research findings indicate that pastoral visits significantly contribute to strengthening personal spirituality, community solidarity, and holistic faith formation, despite facing challenges such as time constraints, congregational resistance, and digital developments. In conclusion, pastoral visitation remains relevant as a strategy for faith accompaniment. Suggestions for further research include exploring digital and intercultural forms of visitation to meet the needs of today'scongregation.Abstrak:Artikel ini membahas visitasi pastoral sebagai model pendampingan teologis yang berperan penting dalam formasi iman jemaat. Latar belakang penulisan didasari oleh kenyataan bahwa praktik visitasi sering kali terpinggirkan di tengah kesibukan pelayanan gereja dan perubahan sosial, padahal memiliki dasar biblika dan teologis yang kuat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologi praktis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa visitasi pastoral berkontribusi signifikan dalam memperkuat spiritualitas pribadi, solidaritas komunitas, serta pembentukan iman yang holistik, meski dihadapkan pada tantangan keterbatasan waktu, resistensi jemaat, dan perkembangan digital. Kesimpulannya, visitasi pastoral tetap relevan sebagai strategi pendampingan iman. Saran penelitian lanjutan adalah mengeksplorasi bentuk visitasi digital dan interkultural untuk menjawab kebutuhan jemaat masa kini.Kata Kunci: Visitasi, Pastoral, Iman Jemaat.
Peran Gereja dalam Melaksanakan Keadilan Sosial: Refleksi Etika Sosial dalam Injil Matius 25:35-40 Basri, Herman Adi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.221

Abstract

This research uses library research with an exegetical and hermeneutical approach as a data analysis technique. Data analysis is conducted through a critical review of relevant literary sources from online articles to gain a deeper understanding of the theological and ethical implications of the studied text in relation to social justice. The research findings indicate that Matthew 25:35-40 contains a profound message about solidarity, empathy, and social responsibility that must be realized by followers of Christ.  This teaching encourages the church and every individual to be active in social service as a true form of ministry to fellow human beings, especially those who are marginalized, neglected, and left behind, whether in the fields of education, social issues, creative economy, and health. In a modern context, this verse is relevant to encourage concrete actions in efforts to address inequality and social welfare. It is hoped that this research will contribute to the issue of social justice from a Christian perspective and provide a theological foundation for social movements focused on serving marginalized, neglected, and underprivileged communities. Further research may engage with studies on social ethics, public theology, the Kingdom of God, and holistic mission. AbstrakPenelitian ini menggunakan studi pustaka (library research) dengan pendekatan eksegetis dan hermeneutis sebagai teknik analisis data. Analisis data melalui telaah kritis terhadap sumber-sumber literatur yang relevan dari artikel online untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implikasi teologis dan etis dari teks yang dikaji berkenaan dengan keadilan sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Matius 25: 35 - 40 mengandung pesan mendalam mengenai solidaritas, empati, dan tanggung jawab sosial yang harus diwujudkan oleh para pengikut Kristus. Ajaran ini mendorong gereja dan setiap individu untuk aktif dalam pelayanan sosial sebagai bentuk pelayanan yang sejati kepada sesame manusia, terutama mereka yang terpinggirkan, terbaikan dan tertinggal, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi kreatif dan kesehatan,  Dalam konteks modern, ayat ini relevan untuk mendorong tindakan nyata dalam upaya mengatasi ketidaksetaraan dan kesejahteraan sosial. Diharapkan melalui penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kasus keadilan sosial dalam perspektif kekristenan dan menawarkan landasan teologis bagi gerakan sosial yang berfokus pada pelayanan kepada kelompok masyarakat yang terpinggirkan, terabaikan dan tertinggal. Penelitian lanjutan dapat bersentuhan dengan kajian etika sosial, teologi publik, Kerajaan Allah, dan misi holistik. Kata Kunci: Etika, Etika Sosial, Keadilan Sosial, Peran Gereja.
Injil dan Pluralitas Budaya Asia: Studi Narator Matius 28:19-20 Harming, Harming; Ginting, Alex Stefanus; Hu, Samuel Abdi; Tarigan, Nosita Br.
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.217

Abstract

This study analyzes the narrative of Matthew 28:19-20—known as the Great Commission—in the context of Asian cultural plurality using a translational model and narrative hermeneutic approach. The main focus of the research is how gospel texts can be translated and interpreted in a relevant and contextual way in the midst of the diversity of cultures, languages, and traditions in Asia. Through qualitative methods and document analysis, this study identifies the importance of understanding local cultures, contextualizing the gospel message, and the role of the church in building cross-cultural dialogue. The results of the study show that effective discipleship and evangelism require collective community involvement, adaptation to the challenges of the digital age, and a reinterpretation of the dimensions of baptism and teaching to remain relevant to the needs of modern society. This research recommends inclusive and adaptive evangelistic strategies, and emphasizes the importance of building intercultural relationships of mutual respect to realize the church's universal and contextual mission. Abstrak:Penelitian ini menganalisis narasi Matius 28:19-20-yang dikenal sebagai Amanat Agung-dalam konteks pluralitas budaya Asia dengan menggunakan pendekatan model translasi dan hermeneutik naratif. Fokus utama penelitian adalah bagaimana teks Injil dapat diterjemahkan dan diinterpretasikan secara relevan dan kontekstual di tengah keragaman budaya, bahasa, dan tradisi di Asia. Melalui metode kualitatif dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi pentingnya pemahaman budaya lokal, kontekstualisasi pesan Injil, serta peran gereja dalam membangun dialog lintas budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan dan penginjilan yang efektif memerlukan keterlibatan komunitas secara kolektif, adaptasi terhadap tantangan era digital, serta pemaknaan ulang dimensi baptisan dan pengajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini merekomendasikan strategi penginjilan yang inklusif dan adaptif, serta menekankan pentingnya membangun hubungan saling menghargai antarbudaya untuk mewujudkan misi gereja yang universal dan kontekstual.Kata Kunci: Injil, Matius, penginjilan, gereja.
Panggilan Ilahi dan Kerapuhan Manusia: Studi Teologis atas Moralitas Simson dalam Kitab Hakim-Hakim Harianto, Yusup Heri; Yohana, Yenny Herawati
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.289

Abstract

Research on Samson in the Book of Judges presents a space for theological reflection on the dynamics of divine calling and human frailty. The background of this article is written from the tension between Samson's status as a Nazarite of God and his recurring weaknesses, thus presenting a moral paradox that is relevant to be reread in the context of contemporary theology. The research question posed in this article is: How does the Book of Judges reveal the relationship between God's calling, human weakness, and the meaning of suffering in Samson's life? This research uses the literature study method with a biblical theological and narrative hermeneutic approach to interpret the highlighted text. The findings reveal that Samson's life exposes the existential ambiguity of humanity, where divine power continues to work despite Samson's moral fragility and personal failures. Samson's morality affirms that God's calling is not nullified by his weakness, but rather manifests His grace. AbstrakPenelitian tentang Simson dalam Kitab Hakim-Hakim menyajikan ruang refleksi teologis terkait dinamika panggilan Ilahi dan kerapuhan manusia. Dasariah latar-belakang artikel ini ditulis berangkat dari ketegangan antara status Simson sebagai Nazir Allah dengan kelemahannya yang berulang, sehingga menghadirkan paradoks moralitas yang relevan untuk dibaca ulang dalam konteks teologi kontemporer. Adapun rumusan masalah pertanyaan yang dikemukakan dalam artikel ini bagaimana Kitab Hakim-Hakim menyingkap hubungan antara panggilan Allah, kelemahan manusia, dan makna penderitaan dalam kehidupan Simson? Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan teologi biblika dan hermeneutik naratif untuk menafsirkan teks yang menjadi sorotan. Hasil temuan menunjukkan bahwa kehidupan Simson menyingkap ambiguitas eksistensial manusia, di mana kekuatan Ilahi tetap bekerja sekalipun kerapuhan moral dan kegagalan pribadi dalam diri Simson. Moralitas Simson menegaskan bahwa panggilan Allah tidak dibatalkan oleh kelemahannya, melainkan justru memanifestasikan kasih karunia-Nya. Kata Kunci: Simson, Nazir, Moral, Hakim-Hakim
Teologi Pengharapan dalam Dunia yang tidak Pasti: Studi Sistematika tentang Harapan Kristen di Era Post Sekuler Umboh, Steven Tommy Dalekes; Setiawan, Tjutjun
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.290

Abstract

ABSTRACTIn this study, the theology of hope is viewed from the perspective of the modern world, which is plagued by uncertainty in social and spiritual matters. This research focuses on the post-secular era, characterized by the return of religiosity to the public sphere amidst a crisis of meaning. This article explores the theological understanding of Christian hope based on biblical foundations, dogmatic reflections, and pastoral implications. The method used in this study is a qualitative approach using literature review and systematic analysis of theology. The findings of this study indicate that Christian hope is not only eschatological and transcendent but also plays a prophetic and transformational role in addressing the dynamics of a plural and fragile world. Hope serves to maintain faith, build social reconciliation, and provide a humanistic ethic worldwide. Therefore, the study found that the theology of hope is very helpful in understanding Christian faith and participating in building a more just, peaceful, and hope fulfuture. AbstrakDalam penelitian ini, teologi pengharapan dilihat dari sudut pandang dunia modern yang dilanda akan ketidakpastian dalam hal sosial, dan spiritual. Penelitian ini difokuskan pada era pasca-sekuler, yang ditandai dengan kembalinya religiusitas ke ruang publik di tengah krisis makna.  Artikel ini mengeksplorasi pemahaman teologis tentang pengharapan Kristen berdasarkan fondasi biblika, refleksi dogmatis, dan implikasi pastoral. Metode yang digunakan dalam menguraikan kajian ini melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kepustakaan dan menganalisis teologi secara sistematik.  Hasil temuan pada kajian ini menunjukkan bahwa pengharapan Kristen tidak hanya bersifat eskatologis dan transenden, tetapi juga memiliki peran profetik dan transformasional dalam menangani dinamika dunia yang plural dan rapuh. Pengharapan berfungsi untuk mempertahankan iman, membangun rekonsiliasi sosial, dan memberikan etika kemanusiaan di seluruh dunia.  Oleh sebab itu, kajian menemukan bahwa teologi pengharapan sangat membantu memahami iman Kristen dan berpartisipasi dalam membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan berpengharapan. Kata kunci: Teologi pengharapan, post-sekuler, eskatologi.
KEPEDULIAN SOSIAL KEPADA ORANG MISKIN: Tafsir Rut 2:1-23 dan Implikasinya bagi Gereja Christiawan, Johan; Panjaitan, Firman
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.254

Abstract

Social disparities rooted in structural injustices continue to pose significant challenges, most clearly visible in the uneven distribution of opportunities and access to essential resources. This situation underscores the urgency for an ethical response grounded in genuine social concern, particularly for individuals experiencing poverty. The central question of this study is: In what ways can the narrative of Boaz and Ruth (Ruth 2:1–23) offer a theological basis for the church in addressing social inequality? Utilizing a descriptive qualitative approach supported by narrative analysis and a deductive framework, this research investigates the narrative’s structure and thematic significance. The results indicate that Boaz’s gracious conduct toward Ruth—a marginalized, impoverished foreigner—embodies principles of compassion, justice, and human dignity that surpass legal expectations. These findings highlight the church’s calling to promote social transformation through ministries that advocate for the poor. Ultimately, Boaz’s example provides theological motivation for the church to embody Christ’s love tangibly and to extend hope to marginalized groups. AbstrakKesenjangan sosial sebagai akibat ketidakadilan struktural terus menjadi tantangan serius, terutama terlihat dalam akses yang timpang terhadap sumber daya dan peluang. Kondisi ini menegaskan kebutuhan akan respons moral berupa kepedulian sosial, khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertanya, “Bagaimana kisah Boas dan Rut (Rut 2:1-23) dapat memberikan landasan teologis bagi gereja dalam merespons kesenjangan sosial?” Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis naratif dengan pendekatan deduktif, penelitian ini menelaah struktur dan makna kisah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tindakan Boas yang penuh belas kasih terhadap Rut—seorang perempuan miskin dan asing—mencerminkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih yang melampaui tuntutan hukum. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen perubahan sosial melalui pelayanan yang berpihak pada kaum miskin dan menjunjung martabat manusia. Kesimpulannya, teladan Boas memberikan inspirasi teologis bagi gereja untuk memanifestasikan kasih Kristus secara konkret dan menghadirkan harapan bagi kelompok yang terpinggirkan.Kata-kata Kunci: Boas dan Rut, Gereja, Kepedulian Sosial, Rut 1:1-23
Etika Kristen di Era Digital dan Relevansinya Menghadapi Tantangan Dunia Digital Kurniawan, Dika
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.292

Abstract

The development of the digital world has brought significant changes to various aspects  of human life, including the lives of Christians. The open and minimally supervised virtual space often gives rise to behaviors that are inconsistent with moral values, such as hate speech, the spread of hoaxes, and other unethical conduct. This study aims to analyze the challenges of Christian ethics in addressing the phenomenon of morality in the digital realm and to affirm the role of biblical principles as a guide for the lives of believers. The method used is a literature review by examining theological literature, previous research, and empirical data related to digital behavior. The findings indicate that the application of Christian ethics in the digital space is not only relevant but also urgent in guiding believers to interact in a healthy, constructive manner that glorifies God amid the rapid flow of information. This study recommends strengthening digital literacy based on the Christian faith so that every believer can serve as a moral example in the digital era. Abstrak:Perkembangan dunia digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan umat Kristen. Ruang maya yang bebas dan minim pengawasan sering kali memunculkan perilaku yang tidak selaras dengan nilai-nilai moral, seperti ujaran kebencian, penyebaran hoaks, dan perilaku tidak etis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan etika Kristen dalam menghadapi fenomena moralitas di dunia digital, serta menegaskan peran prinsip-prinsip Alkitab sebagai pedoman hidup orang percaya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengkaji literatur teologis, penelitian terdahulu, dan data empiris terkait perilaku digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan etika Kristen di ruang digital bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk mengarahkan perilaku umat dalam berinteraksi secara sehat, membangun, dan memuliakan Tuhan di tengah derasnya arus informasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital berbasis iman Kristen agar setiap orang percaya mampu menjadi teladan moral di era digital. Kata Kunci: Etika Kristen, Moralitas Digital, Iman Kristen.

Page 1 of 2 | Total Record : 11