cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
PENGUJIAN SIFAT FISIK ASAP CAIR CANGKANG KEMIRI (Aleurites moluccana (L.) Willd) DARI HASIL PEMURNIAN MENGGUNAKAN ZEOLIT AKTIF DAN ARANG AKTIF ALABAN (Vitex pubescens VAHL) Rafi’ah Maulida; Noor Mirad Sari; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.13263

Abstract

The results of grade 3 hazelnut shell liquid smoke produced by the Batu Kura Forest Farmers Group have not been purified and tested for physical properties using Japanese standards. This study aims to analyze the quality of the physical properties of grade 1, grade 2 and grade 3 hazelnut shell liquid smoke, namely specific gravity, acidity (pH), gross content tau transparency, color and odor, then analyze the yield of hazelnut shell liquid smoke processing. The results of this research are the physical properties of grade 1 hazelnut shell liquid smoke have met Japanese standards in pH (3.58), transparency (0%), color (faint brass), typical smoke odor (lighter), grade 2 hazelnut shell liquid smoke has met the standards in pH (3.52), color (yellowish), odor (typical of liquid smoke, slightly pungent), grade 3 hazelnut shell liquid smoke that meets the standards in color (reddish brown) and typical smoke odor (pungent). The yield of grade 1 hazelnut shell liquid smoke is an average of 53.75%, grade 2 is 55.00% and grade 3 is 29.97%.Hasil dari asap cair cangkang kemiri grade 3 yang di produksi oleh Kelompok Tani Hutan Batu Kura belum dilakukan pemurnian dan pengujian sifat fisiknya menggunakan standar Jepang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas sifat fisik asap cair cangkang kemiri grade 1, grade 2 dan grade 3 yaitu berat jenis, keasaman (pH), kadar kotor tau transparansi, warna dan bau, kemudian analisis rendemen dari pengolahan asap cair cangkang kemiri. Hasil dari penelitian ini adalah sifat fisik asap cair cangkang kemiri grade 1 telah memenuhi standar Jepang ada pada pH (3,58), transparansi (0%), warna (kuningan samar), bau  khas asap (lebih ringan), asap cair cangkang kemiri grade 2 telah memenuhi standar ada pada pH (3,52), warna (kekuningan), bau (khas asap cair, agak menyengat), asap cair cangkang kemiri grade 3 yang memenuhi standar ada pada warna (coklat kemerahan) dan bau khas asap (menyengat). Rendemen dari asap cair cangkang kemiri grade 1 yaitu rata-rata 53,75% , grade 2 yaitu 55,00% dan grade 3 yaitu 29,97%.
PENILAIAN KINERJA PENYULUH DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) BARITO TENGAH KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH Rika Septiari; Asysyifa Asysyifa; Arfa Agustina Rezekiah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12309

Abstract

The Central Barito forest management unit (FMU) is located in North Barito Regency, Central Kalimantan, and its working area covers 7 (seven) sub-districts. The Central Barito FMU has experienced a decline in its carrying capacity either due to natural forces or human intervention. This requires the role of forestry extension workers to empower the community, therefore this research was conducted to analyze the performance of forestry extension officers. Data collection in this study was carried out by direct interviews with respondents. The results of interview data with forestry extension officers at KPH Barito Tengah, North Barito Regency, Central Kalimantan Province were analyzed according to the criteria for assessing forestry extension officers, Minister of Forestry Regulation Number P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2016 concerning General Guidelines for the Implementation and Appreciation of Sustainable Ecosystems. Based on the assessment of the 7 criteria or indicators for assessing forestry extension agents, the average value of the performance of forestry extension officers at KPH Barito Tengah is in the good category with a score of 77.99.Kesatuan pengelolaan hutan (KPH) Barito Tengah berada di Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah. KPH Barito Tengah berada di wilayah kerja 7 (tujuh) kecamatan. KPH Unit Barito Tengah telah mengalami penurunan daya dukungnya baik disebabkan oleh sumber alam itu sendiri ataupun karena adanya campur tangan manusia dari hal tersebut sangat diperlukan peran penyuluh kehutanan untuk memberdayakan masyarakat, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kinerja penyuluh kehutanan. Metode pengambilan data pada penelitian ini dengan cara  metode wawancara langsung kepada responden. Hasil data wawancara terhadap penyuluh kehutanan di KPH Barito Tengah Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah dianalisis sesuai kriteria Penilaian penyuluh kehutanan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2016 tentang Pedomanan Umum Untuk Penyelenggaraan dan Apresiasi Wana Lestari. Berdasarkan penilaian dari 7 kriteria atau indikator penilaian penyuluh kehutanan nilai rata-rata kinerja penyuluh kehutanan di KPH Barito Tengah ternasuk dalam kategori bagus dengan skor sebesar 77,99.
PENGARUH VARIASI KOMPOSISI CAMPURAN ARANG CANGKANG KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DAN ARANG ALABAN (Vitex pubescens) TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG firdaus kurniawan; Rosidah Radam; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9384

Abstract

ABSTRACT. Limitations in obtaining energy is one of the problems that occur throughout the world, including in Indonesia. One alternative that can be used to overcome the scarcity of raw materials is to use energy from biomass. The purpose of this study was to determine the effect of a mixture of alaban charcoal powder (Vitex pubescens) and palm shell charcoal (Elaeis guineensis Jacq ) on the quality of charcoal briquettes. The research will be conducted using a completely randomized design (CRD). The conclusion obtained from the results of this study, the results obtained from the test that the density in all treatments with an average value ranging from 1.1676-1.5392 g/cm3 meets the briquette standard in Indonesia (SNI 01-6235-2000) , namely ≥ 0.44 g/cm3, the water content in all treatments with an average value ranging from 3.4433-6.3433% complies with the briquette standard in Indonesia (SNI 01-6235-2000), namely ≤8% , the ash content in all treatments with an average value ranging from 0.5400-6.7500% complied with the standards of briquettes in Indonesia (SNI 01-6235-2000), namely ≤8%, volatile matter in all treatments with an average value -average ranges from 18.4967-25.9733%, only close to standard briquettes in Indonesia (SNI 01-6235-2000), namely <15%, carbon is bonded to all treatments with average values ranging from 67.7700-74.9600 % is only close to the standard of briquettes. Keywords: Activated charcoal briquettes; Biomass Energy; Palm waste; alaban charcoal;ABSTRAK. Keterbatasan dalam memperoleh suatu energi merupakan salah satu permasalahan yang terjadi di seluruh dunia tidak terkecuali di Negara Indonesia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi kelangkaan bahan baku adalah dengan menggunakan energi dari biomassa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi campuran serbuk arang alaban (Vitex pubescens) dan arang tempurung kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq ) terhadap kualitas briket arang. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini, Hasil yang diperoleh dari pengujian bahwa kerapatan pada semua perlakuan dengan nilai rata-rata yang berkisar antara 1,1676-1,5392 g/cm3 telah memenuhi standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu ≥ 0,44 g/cm3, kadar air pada semua perlakuan dengan nilai rata-rata yang berkisar antara 3,4433-6,3433%telah memenuhi standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu ≤8%, kadar abu pada semua perlakuan dengan nilai rata-rata yang berkisar antara 0,5400-6,7500%  telah memenuhi standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu ≤8%, zat terbang pada semua perlakuan dengan nilai rata-rata berkisar antara 18,4967-25,9733% hanya mendekati standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu <15%, karbon terikat semua perlakuan dengan nilai rata-rata berkisar antara 67,7700-74,9600% hanya mendekati standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu  (≥77%), dan nilai kalor pada semua perlakuan dengan nilai rata-rata berkisar antara 5289,5133-6616,2267 telah memenuhi standar briket di Indonesia (SNI 01-6235-2000), yaitu (≥5000). 
The Increment of Titi Plant (Gmelina moluccana) at 10 Years in the Hatusua Region, Kairatu District Absalom Dado Massolo; Febian F Tetelay; Hendrik S.E.S Aponno
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.12541

Abstract

ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the height and diameter increment of Titi plant (Gmelina moluccana) 10 years after planting, as well as the environmental factors influencing them. The study method employed a descriptive approach with observational techniques in the field. Data collection involved direct observations in the example II Titi plot (Gmelina moluccana), covering an area of 1 hectare with a planting distance of 3x3. The total number of Titi plant taken in the sample plot was 75 trees. Data analysis utilized quantitative analysis with the mean annual increment, current annual increment, and multiple linear regression analysis methods. The observed environmental variables included soil pH, soil moisture, air temperature, air humidity, and rainfall. The results of the study indicated that the Current Annual Increment (CAI) of diameter in the tenth year was 1.7 (cm/tnm/year), and the Mean Annual Increment (MAI) of diameter was 2.40 (cm/tnm/year). The Current Annual Increment Increment (CAI) of height was 1.99 (m/tnm/year), and the Mean Annual Increment (MAI) of height was 1.62 (m/tnm/year). Factors influencing the growth of Titi plant (Gmelina moluccana) in the Hatusua Seed Source Demonstration Plot were soil pH and soil moisture.
ANALISIS KERAWANAN DAN KEJADIAN LONGSOR PADA SUB DAS BAKAR DAS TABUNIO Meigi Sugihanli; Badaruddin Badaruddin; Syarifuddin Kadir
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9510

Abstract

Landslide is the displacement of slope-forming material in the form of rock, debris, soil, or mixed materials, moving down or off the slope. The decrease in the carrying capacity of the watershed is one of the factors in the occurrence of landslides. The purpose of this study was to analyze the level of landslide vulnerability and validate the level of landslide vulnerability based on actual land use in the Tabunio Watershed area, the Bakar Sub Watershed. This study uses methods and data analysis based on the journal Kustratmoko, et al. (2002), by weighting 4 parameters of landslide vulnerability, namely slope, land use, soil erodibility and rainfall. There are 5 classes of vulnerability to landslides in the Bakar Sub-watershed, namely the safe class covering an area of 1,834.53 ha or 58.10% of the Bakar Sub-watershed, a moderately vulnerable class covering an area of 649.38 ha or 20.56% of the area of the Bakar Sub-watershed, a moderately vulnerable class covering an area of 666.60 ha or 21.11% of the area of the Bakar Sub-watershed, a vulnerable class covering an area of 6.81 ha or 0.21% of the area of the Bakar Sub-watershed, and a very vulnerable class of 0.12 ha or only 0.003% of the area Bakar sub-watershed. Validation of land use was carried out at 14 points of vulnerability to landslides, namely, 11 points of the vulnerability class changed due to changes in land use, based on the validation there were 2 points into the safe class, the moderately vulnerable class became 1 point, the moderately vulnerable class became 7 points, the vulnerable class became 2 point and for very vulnerable class to be 2 points.Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Penurunan daya dukung DAS menjadi salah satu faktor terjadinya tanah longsor, Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kerawanan longsor dan memvalidasi tingkat kerawanan longsor berdasarkan penggunaan lahan yang aktual di wilayah DAS Tabunio Sub DAS Bakar. Penelitian ini menggunakan metode dan analisis data berdasarkan jurnal Kustratmoko, et al. (2002), dengan melakukan pembobotan 4 parameter kerawanan longsor yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, erodibilitas tanah dan curah hujan. Kerawanan longsor di Sub DAS Bakar terdapat 5 kelas kerawanan yaitu kelas aman seluas 1.834,53 ha atau 58,10 % dari Sub DAS Bakar, kelas agak rawan seluas   649,38 ha atau 20,56 % dari luas Sub DAS Bakar, kelas cukup rawan seluas 666,60 ha atau 21,11 % dari luas Sub DAS Bakar, kelas rawan seluas 6,81 ha atau 0,21 % dari luas Sub DAS Bakar, dan kelas sangat rawan seluas 0,12 ha atau hanya 0,003 % dari luasan area Sub DAS Bakar. Validasi penggunaan lahan yang dilakukan pada 14 titik kerawanan longsor yaitu, 11 titik kelas kerawanannya berubah dikarenakan perubahaan penggunaan lahannya, berdasarkan validasi terdapat 2 titik  ke dalam kelas aman, kelas agak rawan menjadi 1 titik, kelas cukup rawan menjadi 7 titik, kelas rawan menjadi 2 titik dan untuk kelas sangat rawan menjadi 2 titik.
MODAL SOSIAL MASYARAKAT DALAM PROGRAM DESA MANDIRI PEDULI GAMBUT DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Muhammad Syahrul Fahriady; Rina Muhayah Noor Pitri; Muhammad Helmi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.8710

Abstract

Upaya dalam mengembalikan kondisi ekonomi gambut perlu dilakukan dengan berbagai kegiatan. Suatu upaya yang dilakukan dan dilegalisasi oleh Kepala Desa dalam pengorganisasian masyarakat merupakan Tim Kerja Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (TK-PPEG). atau Lurah setempat agar lahan gambut dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis modal sosial TK-PPEG dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive sampling  dan penentuan sampel responden dilakukan dengan metode sampling jenuh atau sensus terhadap semua anggota TK-PPEG yang mempunyai usaha berbasis lahan gambut serta fasilitator dengan analisis data pendekatan kuantitatif dan dukungan kualitatif. Hasil dari penelitian merupakan Modal Sosial TK-PPEG yang berada di Desa pulau damar, Desa pewalutan,sungai rutas dan pebaungan hulu yang dapat diidentifikasi dari masyarakat adalah kepercayaan, jaringan, norma sosial, tindakan proaktif dan kepedulian masyarakat pada kategori sedang dan tinggi. Modal sosial masyarakat termasuk ke dalam kategori mudah untuk dikembangkan dilihat dari aspek modal sosial masyarakat.
ANALISIS PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN KARET REMAH (Crumb rubber) DI PT. KARYA SEJATI KECAMATAN SELAT KABUPATEN KAPUAS Ahmad Zuhdi; Muhammad Faisal Mahdie; Zainal Abidin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9222

Abstract

An important position as pillar of the Indonesian economy is the existence of rubber plants, which can provide livelihoods for farmers and serve as a foreign exchange earner for the country. PT. Karya Sejati Kuala faces competition from numerous rubber companies that have grown larger than PT. Karya Sejati Kuala, making it more difficult to obtain raw rubber materials. The purpose of this research is to determine the productivity and yield of crumb rubber at PT. Karya Sejati Kuala in Kapuas, Central Kalimantan. The research was conducted by directly interviewing the management, HRD, and employees of PT. Karya Sejati Kuala Kapuas, as well as reviewing relevant literature on the research topic. The research results indicate that the average productivity of crumb rubber is 0.367 kg/hour, with the highest productivity recorded at 0.545 kg/hour, and the lowest at 0.251 kg/hour. Furthermore, the highest average yield of crumb rubber from the data for four years was obtained for the wet-to-dry process in 2019 at 56.482% and in 2021 at 56.277%, while the lowest yield was recorded in 2022. The highest yield for the dry-to-SIR (Standard Indonesian Rubber) process from the four-year data occurred in 2021 at 86.030%, whereas the lowest yield was observed in 2022 at 71.449%. Finally, the average yield for the wet-to-SIR process reached its peak in 2020 at 55.590% and reached its lowest point in 2021 at 51.401%.Posisi penting sebagai penopang perekonomian negara Indonesia yaitu keberadaan tanaman Karet dimana bisa menjadi mata pencaharian petani, tetapi bisa sebagai penghasil devisa negara. Persaingan yang dialami oleh PT. Karya Sejati Kuala yaitu banyaknya perusahaan karet yang tumbuh yang melebihi PT. Karya Sejati Kuala sehingga menjadi lebih sulit dalam mendapatkan bahan baku karet mentah. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui produktivitas dan rendemen karet remah (crumb rubber) di PT. Karya Sejati Kuala Kapuas Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan dengan mewawancarai langsung pimpinan, hrd, dan karyawanPT. Karya Sejati Kuala Kapuasserta literatur yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian yang didapat yaitu rata-rata produktivitas karet remah (crumb rubber) sebesar 0,367 (kg/jam) dan produktivitas tertingginya sebesar 0,545 (kg/jam) lalu yang terendannya sebesar 0,251 (kg/jam), serta rata-rata rendemen karet remah yang tertinggi dari data 4 tahun terdapat untuk basah ke kering di tahun 2019 sebesar 56,482% dan 2021 sebesar 56,277% sedangkan yang terendah terdapat di bulan 2022. Rendemen kering ke SIR (Standar Indonesia Rubber) yang tertinggi dari data 4 tahun terjadi pada tahun 2021 sebesar 86,030% lalu yang terendah terjadi di tahun 2022 sebesar 71,449%, dan data rata-rata rendemen yang basah ke SIR (Standar Indonesia Rubber) yang tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 55,590% dan yang terendah terjadi pada tahun 2021 sebesar 51,401%.
AVIFAUNA PADA TIGA TIPE HABITAT DI KEBUN RAYA BANUA, BANJARBARU, INDONESIA Ali Yasin; Mochamad Arief Soendjoto; Eko Rini Indrayatie
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12314

Abstract

There is no available and published data on the avifauna (birds) that inhabit the Banua Botanical Gardens, Banjarbaru. The research was carried out with the aim of identifying the birds in the botanical gardens, measuring species diversity, and comparing the similarities of bird communities to habitat types in the botanical gardens. Two observation plots were each placed on the type of habitat in the form of open land, mixed plants, and acacia vegetation. Birds were observed within an observation radius of 50 m in open land and 30 m in mixed plants and acacia vegetation with binocular assistance at 07.00-10.00 and 15.30-17.30 for 3 replications. Data in the form of bird species names and the number of individuals for 3 replications were processed in order to obtain the Shannon-Wienner species diversity index and Dice similarity index or its modification. Twenty-four of the 25 bird species were found in open fields, 23 in mixed crops, and 22 in acacia vegetation. The community similarity index ranged from 0.89 to 0.98 when calculated based on the presence of species or from 0.97 to 0.99 when based on the number of individuals. Based on the difference in the number of bird species which is only 1-2 between habitat types, the similarity index of bird communities between habitat types that is closer to 1, and also field conditions related to the area and location of the habitat type and the availability of bird food in those habitat types, habitat types are not qualitatively significant. In other words, in subsequent bird research, only one type of habitat should be considered in the Banua Botanical Gardens, especially since this botanical garden is still under construction in the next 10 yearsBelum ada data tersedia dan terpublikasi tentang avifauna (burung) yang menghuni Kebun Raya Banua, Banjarbaru. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan mengidentifikasi burung di kebun raya itu serta mengukur keragaman spesies dan membandingkan kemiripan komunitas burung pada tipe-tipe habitat di kebun raya itu. Dua plot pengamatan masing-masing diletakkan pada tipe habitat yang berupa lahan terbuka, tanaman campuran, dan vegetasi akasia. Burung diamati dalam radius pengamatan 50 m pada lahan terbuka serta 30 m pada tanaman campuran dan vegetasi akasia diamati dengan bantuan binokuler pada jam 07.00- 10.00 dan 15.30-17.30 selama 3 kali ulangan. Data yang berupa nama spesies burung dan jumlah individu selama 3 kali ulangan diolah sehingga diperoleh indeks keragaman spesies Shannon-Wienner dan indeks kemiripan Dice atau modifikasinya. Dua puluh empat dari 25 spesies burung ditemukan di lahan terbuka, 23 di tanaman campuran, dan 22 di vegetasi akasia. Indeks kemiripan komunitas berkisar 0,89‒0,98 bila dihitung berdasarkan pada kehadiran spesies atau 0,97‒0,99 bila berdasarkan pada jumlah individu. Berdasarkan pada selisih jumlah spesies burung yang hanya 1-2 antara tipe habitat, indeks kemiripan komunitas burung antar-tipe habitat yang mendekati 1, dan juga kondisi lapangan terkait dengan luas dan letak tipe habitat serta ketersediaan makanan burung pada tipe habitat itu, tipe-tipe habitat secara kualitatif tidak berbeda signifikan. Dengan kalimat lain, dalam penelitian burung berikutnya, hanya satu tipe habitat saja yang sebaiknya dianggap ada di Kebun Raya Banua, apalagi kebun raya ini masih dalam pembangunan dalam 10 tahun ke depan
VARIASI BAHAN BAKU LIMBAH SERBUK ARANG ULIN DAN ARANG SEKAM PADI TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG Shinta Adjar Novita; Noor Mirad Sari; Violet Violet
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9354

Abstract

Briket arang sebagai bahan tidak kalah dengan bahan bakar lainnya dimana disebut sebagai padatan bahan lunak dari proses karbonasi. Kayu Ulin bagus digunakan sebagai arang karena memiliki berat jenis yang tinggi sehingga kadar air yang terkandung rendah. Limbah sekam umumnya belum banyak dimanfaatkan, sebagian kecil dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dan kompos. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis kualitas briket serta mengetahui perlakuan yang terbaik dari pembuatan briket arang dari serbuk arang ulin dan sekam padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap sebanyak 5 perlakuan dan 3 ulangan sehingga memiliki 15 sampel uji. Hasil dari penelitian yaitu kadar air perlakuan D memiliki nilai tertinggi (12,667 %) dan perlakuan B memiliki nilai terendah (2,8733 %) dimana perlakuan B dan C memenuhi standar, kadar abu pada perlakuan B memiliki nilai tertinggi (14,510 %) dan perlakuan E memiliki nilai terendah (13,646 %) dimana tidak ada memenuhi standar, zat terbang pada perlakuan A memiliki nilai tertinggi (28,2400%) dan perlakuan B memiliki nilai terendah (5,6867 %) dimana tidak ada yang memenuhi standar, karbon terikat pada perlakuan E memiliki nilai tertinggi (55,780 %) dan perlakuan A memiliki nilai terendah (37,227%) dimana perlakuan A saja yang tidak memenuhi standar, nilai Kalor pada perlakuan C memiliki nilai tertinggi (4367,366 kal/g) dan perlakuan A memiliki nilai terendah (3076,966 kal/g) dimana tidak ada yang memenuhi standar, serta kerapatan pada perlakuan A memiliki nilai tertinggi (0,8352 g/cm3) dan perlakuan E memiliki nilai terendah (0,5893 g/cm3) dimana tidak ada yang memenuhi standar.
Sampul JSS Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Trisnu Satriadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.13302

Abstract


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue