cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
STUDI PAKAN LEBAH MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DI PESANTREN MIFTAHUL ULUM DESA BANGKILING RAYA KECAMATAN BANUA LAWAS KABUPATEN TABALONG Bambang Sulistiyo; Yudi Firmanul Arifin; Damaris Payung
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.8713

Abstract

Serangga sosial yang mempunyai banyak manfaat dikarenakan madu yang dihasilkan berkhasiat untuk merupakan yaitu lebah madu. Produksi madu sangat dipengaruhi oleh tersedianya pakan, sehingga perlu informasi tentang tanaman yang berpotensi untuk produksi madu yang dihasilkan serta keberlangsungan dan keberhasilan pengelolaan lebah yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini yaitu survei jenis pakan lebah madu kelulut (Heterotrigna itama) dan menganalisis habitus pakan lebah madu kelulut di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kabupaten Tabalong. Data yang dikumpulkan yaitu data primer yang didapat secara wawancara dan observasi langsung dalam radius 500 m dari stup, serta data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. Analisa data menggunakan analisis kualitatif untuk mengetahui jenis tumbuhan pakan sebagai pakan lebah madu kelulut. Hasil dari penelitian adalah jenis pakan yang berpotensi berbunga sepanjang tahun  sebagai pakan lebah meliputi Jambu biji, Jeruk kuwit, Kaliandra, Putri Malu Air Mata Pengantin, dan Kelapa, serta kelompok habitus pakan lebah di area pondok pesantren miftahul ulum tabalong berasal dari tanaman jenis pohon 47,62%, jenis tanaman perdu 23,81%, jenis tanaman terna 19,05%, jenis tanaman liana 4,76% dan jenis tanaman herba 4,76%.
Sampul JSS Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Arman Mirza
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12372

Abstract

Sampul JSS Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Pengaruh Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kelompook Tani Hutan Batu Kura di Desa Galam Kceamatan Bajuin Menggunakan Metode Partial Least Square (PLS) Ayu Yunita Lolo; Muhammad Naparin; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9400

Abstract

ABSTRACT, An ecosystem with vast expanses of land where the dominant natural resources are composed of interconnected trees that are inseparable from their environment is called a forest. Forests are regulated by the government to provide positive impacts on sustainable forest management to ensure their continued utilization. Forests also play a role as managers of various cycles and providers of various natural resources needed by humans. The social forestry program has been implemented throughout the archipelago, including in South Kalimantan. Galam Village, located in the Bajuin District of Tanah Laut Regency, is one of the villages that has developed a social forestry program under the Community Forest (HKm) scheme and formed the Batu Kura Forest Farmers Group. Since the issuance of the Community Forest management permit by the Ministry of Environment and Forestry, the Batu Kura Forest Farmers Group has been engaged in HKm activities, focusing on the production of non-timber forest products, specifically candlenut fruit, which has been actively produced since 2019.ABSTRAK.  Ekosistem yang memiliki hamparan lahan yang luas dimana dominasi sumber daya alam hayati yang tersusun di dalamnya berupa pepohonan yang memiliki hubungan dengan alam lingkungannya dan tidak bisa dipisahkan merupakan hutan. Hutan diatur oleh pemerintah untuk menyediakan dampak positif terhadap pengelolaan hutan secara lestari agar tetap dapat dimanfaatkan hasilnya. Hutan juga berperan sebagai pengelola berbagai siklus sekaligus penyedia berbagai kebutuhan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh manusia. Program dari perhutanan sosial telah dilaksanakan di seluruh Nusantara termasuk di Kalimantan Selatan. Desa Galam Kecamatan Bajuin yang berada dalam wilayah Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu dari Desa yang telah mengembangkan program dari perhutanan sosial dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan membentuk Kelompok Tani Hutan Batu Kura. Sejak penerbitan SK izin pengelolaan Hutan Kemasyarakatan dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KTH Batu Kura memulai kegiatan HKm dengan memproduksi hasil hutan bukan kayu berupa buah kemiri yang aktif diproduksi sejak tahun 2019.
ANALISIS KOMUNITAS TUMBUHAN DI HUTAN LINDUNG GUNUNG KERAMAIAN KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Asfinnur Ahmad Triputra; Gusti Syeransyah Rudy; Setia Budi Peran
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12317

Abstract

Mount Keramaian is included in a protected forest area in Tanah Laut Regency. The research was conducted to analyze the composition and structure, diversity, evenness and similarity of plant communities at different altitudes in the area. Identification is done by using a combination method between the path method and the checkered line method. Obtained the results of the number of vegetation types as many as 45 species with very less, lees and sufficient dominance categories. As for diversity, there are moderate and evenly distributed categories and community similarities, there are seven communities with low categories and five communities with high categories.Gunung Keramaian termasuk dalam kawasan hutan lindung yang berada di Kabupaten Tanah Laut. Penelitian dilakukan untuk menganalisis komposisi dan struktur, keanekaragaman, kemerataan serta kesamaan komunitas tumbuhan pada ketinggian berbeda di kawasan tersebut. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi antara metode jalur dengan garis berpetak. Memperoleh hasil jumlah jenis vegetasi sebanyak 45 jenis dengan kategori dominasi sangat kurang, kurang dan cukup. Sedangkan untuk keanekaragaman terdapat kategori sedang dan merata, serta kesamaan komunitas terdapat tujuh komunitas dengan kategori rendah dan lima komunitas dengan kategori tinggi
KESALAHAN POSISI PENGUKURAN PAL BATAS KHDTK ULM PADA PENGGUNAAN GPS GARMIN TIPE GPSMAP 60s DAN 64s TERHADAP GPS TRIMBLE GeoXT 3000 Series Agus Wardoyo; Udiansyah Udiansyah; Suyanto Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.8888

Abstract

The satellite system used for navigation and positioning is called the Global Positioning System (GPS). The GPS Garmin 60s and 64 have similar weaknesses to other GPS models, but their main advantage is their user-friendly interface, allowing anyone to operate them and quickly determine their geographic coordinates. On the other hand, the Trimble GeoXT 3000 Series offers the advantage of higher GPS accuracy. It includes advanced features such as integrated cellular data, which enables voice calls using a handheld device, and it can also be used for taking photos.  The research aims to analyze the positional errors of the Garmin GPS models 60s and 64s compared to the Trimble GeoXT 3000 Series in boundary measurement within the ULM KHDTK area. The data processing method involves using descriptive statistics to determine the differences in actual position distances between the two sets of sampled coordinate points. The primary data collected consists of 40 sample points spaced 100 meters apart.  The results of this study indicate that the positional errors of the GPSMAP 60s and GPS Garmin 64s devices compared to the Trimble GeoXT 3000 Series have mean values of 6.747 meters and 5.318 meters, respectively. With a 95% confidence level, the range of positional errors is between 6.10 meters and 7.39 meters for the GPSMAP 60s and between 4.63 meters and 6.01 meters for the GPS Garmin 64s.Sistem satelit sebagai navigasi dan penentuan terhadap posisi yang dimiliki dan banyak negara yang mengelolanya yaitu Global Positioning System (GPS). Kelemahan GPS Garmin 60s dan 64 hampir sama dengan GPS model lainnya dimana kelebihannya sendiri yaitu setiap orang yang berada di manapun bisa mengoperasikan GPS karena mudah digunakan, dan bisa mengetahui posisi koordinat geografis dengancepat. Namun, kelebihan Trimble GeoXT 3000 Series yaitu posisi GPS yang didapat lebih tinggi dimana fitur canggih yang tersedia berupa data seluler yang terintegrasi yang bisa digunakan sebagai panggilan suara dengan satu alat genggam serta bisa digunakan untuk pengambilan foto. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu untuk menganalisis kesalahan posisi penggunaan alat GPS TIPE 60s dan 64s GARMIN terhadap GPS TRIMBLE GeoXT 3000 Series pada pengukuran pal batas. Wilayah KHDTK ULM. Metode pengolahan data menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui perbedaan jarak posisi yang nyata pada rata-rata dari kedua sumber sampel titik koordinat tersebut. Data yang dikumpulkan yaitu data primer berupa titik sampel sebanyak 40 titik yang berjarak 100 m. Hasil penelitian ini yaitu kesalahan posisi alat GPS GPSMAP 60s dan GPS Garmin 64s terhadap Trimble GeoXT 3000 Series dengan nilai rata-rata hitung sebesar 6,747 m dan 5,318 m, dan kisaran dengan tingkat kepercayaan 95% maka kisaran kesalahan posisi sebesar 6,10 m sampai dengan 7,39 m pada GPSMAP 60s. 4,63 m sampai 6,01 m pada GPS Garmin 64s.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK INFARM VITAMIN B1 LIQUINOX STAR TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN SEPATUDEA (Spathodea campanulata) DI BALAI PERBENIHAN TANAMAN HUTAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Widiani Widiani; Damaris Payung; Ahmad Yamani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12310

Abstract

Sepatudea (Spathodea campanulata) plants are suitable for development because they have health benefits. The success of Sepatudea cultivation is influenced by factors such as the application of fertilizers to plants.  The purpose of this study was to examine the effect of giving the right concentration of Infarm – Vitamin B1 Liquinox Star fertilizer on the growth of Sepatudea Seedlings. This study used a completely randomized design (CRD) with five treatments and repeated ten times. The treatment was Liquinox Star Infarm Vitamin B1 Fertilizer 0ml/2l water (control), 5ml/2l, 10ml/2l, 15ml/2l, dan 20ml/2l. The parameters observed were the increase in height, the increase in the number of leaves, and the increase in diameter. The results showed that the treatment of Infarm Vitamin B1 Liquinox star fertilizer had no significant effect on the parameters of height and diameter. Giving Infarm vitamin B1 Liquinox star fertilizer treatment had a very significant effect on the increase in the number of leaves, In research it is suggested to use fertilizer 10ml/2l to increase the number of leaves.Tanaman Sepatudea (Spathodea campanulata) sangat layak dikembangkan karena mempunyai banyak manfat eksklusifnya dibidang kesehatan. Keberhasilan budidaya tanaman Sepatudea dipengaruhi faktor diantaranya dengan dengan melakukan pemberian pupuk terhadap tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui respon terbaik dari pemberian pupuk Infarm – Vitamin B1 Liquinox Star terhadap pertumbuhan anakan Sepatudea. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan diulang sepuluh kali. Perlakuannya adalah Pupuk Infarm Vitamin B1 Liquinox Star 0ml/2l air (kontrol), 5ml/2l air, 10ml/2l air, 15ml/2l air, dan 20ml/2l air. Parameter dalam riset ini yakni pertambahan tinggi, pertambahan jumlah daun, dan pertambahan diameter. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemberian pupuk Infarm Vitamin B1 Liquinox star berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan tinggi serta diameter sedangkan hasil perpengaruh sangat nyata pada pertambahan jumlah daun. Dalam penelitian disarankan agar menggunakan perlakuan A2 (10ml/2l air) untuk memacu pertambahan jumlah daun.
STRATEGI PELIBATAN MASYARAKAT ADAT SEBAGAI PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SIRIMAU, KOTA AMBON, PROVINSI MALUKU Evelin Parera; Ris Hadi Purwanto; Dwiko Budi Permadi; Sumardi Sumardi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.12591

Abstract

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sebuah pengelolaan sumber daya alam adalah para pemangku kepentingan. Pengelolaan hutan lindung menjadi tanggung jawab semua pemangku kepentingan yang berhubungan dengannya. Kajian ini bertujuan untuk membuat strategi pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan lindung.  Penelitian dilakukan pada Kelompok Hutan Lindung Gunung Sirimau, Provinsi Maluku. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner, wawancara mendalam, observasi dan pengumpulan dokument terkait dengan tujuan penelitian.  Metode sampling menggunakan purposive sampling untuk instansi yang memiliki tugas pokok dan fungsi dan metode snow ball untuk pemangku kepentingan lainnya yang terlibat dalam pengelolaan hutan lindung. Metode anaslisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis actor linkages matrices yang dimodifikasikan dengan NodeXLGraph. Hasil identifikasi pemangku kepentingan didapati Instansi yang berkewenangan dalam pengelolaan hutan lindung di Pulau Ambon adalah Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. Pengelolaan hutan lindung di Pulau Ambon diintervensi oleh instansi dan Unit Pelaksana Teknis dalam lingkup Kehutanan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Pemangku kepentingan lain yang memberikan kontribusi seperti Lembaga Sosial Masyarakat, Organisasi Masyarakat, Organisasi keagamaan,  Akademisi,  Instansi di luar lingkup Kehutanan seperti Pekerjaan  Umum dan Permukiman Rakyat Bidang Tata Ruang.  Masyarakat di sekitar hutan lindung Pulau Ambon adalah masyarakat adat. Masyarakat adat di sekitar hutan lindung mempunyai kepentingan yang tinggi namun berpengaruh rendah, perlu dilibatkan secara optimal dalam pengelolaan hutan lindung. Strategi pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan lindung adalah menempatkan masyarakat adat sebagai key player yang didampingi oleh UPTD KPH Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease sebagai instansi yang berkewenangan dalam pengelolaan hutan lindung.
UJI ORGANOLEPTIK MADU HERBAL YANG TERBUAT DARI MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DAN EKSTRAK DAUN SUNGKAI (Peronema canescens Jack) DENGAN MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL Hanna Paramita Dewi; Trisnu Satriadi; Siti Hamidah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.12792

Abstract

Herbal product with a combination of kelulut honey and sungkai leaf extract are not yet available. The purpose of this study was to analyze the effect of honey formulations made from kelulut honey and sungkai leaf extract with ethanol solvent on organoleptic results based on SNI No.6884:2018. The method used was maceration to obtain a thick extract of 96% ethanol soluble sungkai leaf which was then mixed with kelulut honey until it was completely homogenized. The organoleptic test of herbal honey used a differentiating test method which was carried out by 28 panelists by stating whether or not the honey was distinctive for its taste and aroma. The data were statistically analyzed using one-way analysis of variance and the difference test if the difference was in accordance with the coefficient of variance. The formulation of sungkai leaf extract showed a very significant effect on the taste and aroma of herbal honey. The formulation with the addition of 0.25 g of sungkai leaf extract with 60 ml of kelulut honey complies with SNI No. 6884: 2018, whose formulation still shows a taste and aroma like pure honeyBelum tersedia produk herbal dengan kombinasi madu kelulut dan ekstrak daun sungkai. Tujuan penelitan ini untuk menganalisis pengaruh formulasi madu herbal yang terbuat dari madu kelulut dan ekstrak daun sungkai dengan pelarut etanol terhadap hasil uji organoleptik berdasarkan SNI No.6884:2018. Metode yang digunakan adalah maserasi untuk mendapatkan ekstrak kental daun sungkai larut etanol 96% yang kemudian dicampur dengan madu kelulut hingga terhomogenisasi sempurna. Uji organoleptik madu herbal menggunakan metode uji pembeda yang dilakukan oleh 28 panelis dengan menyatakan khas atau tidak khas madu terhadap rasa dan aroma. Data dianalisis secara statistik menggunakan analisis sidik ragam satu arah dan uji beda jika terdapat perbedaan sesuai nilai koefisien keragaman. Formulasi ekstrak daun sungkai menunjukkan hasil pengujian berpengaruh sangat nyata terhadap rasa dan aroma madu herbal. Formulasi dengan penambahan ekstrak daun sungkai 0,25 g dengan 60 ml madu kelulut memenuhi SNI No.6884:2018, yang mana formulasi masih menunjukkan rasa dan aroma seperti madu murni.
Keanekaragaman Makrofauna Di Atas Permukaan Tanah Pada Hutan Kemasyarakatan Desa Hujung Kabupaten Lampung Barat Desta Oktapiani; Ceng Asmarahman; Machya Kartika Tsani; Sugeng P. Harianto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.12476

Abstract

Makrofauna tanah merupakan komponen penting untuk melihat kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap keanekaragaman makrofauna di atas permukaan tanah pada hutan kemasyarakatan Desa Hujung Kabupaten Lampung Barat. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan pitfall trap pada 5 titik pengamatan, setiap titik pengamatan dipasang 10 trap. Pengamatan yang dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 748 individu yang tergolong dalam 27 spesies, 13 ordo, 18 famili. Pada musim kemarau dan musim penghujan didominasi oleh jenis Odontoponera denticulata. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan pada musim kemarau 1,67 % dan pada musim hujan 1,22 % nilai indeks persebaran tertinggi pada makrofauna tanah jenis jenis Odontoponera denticulata dengan nilai 4,93 musim kemarau dan 4,74 musim hujan.
ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN JABON (Anthocepalus cadamba Miq) PADA LAHAN REKLAMASI DI PT BORNEO INDOBARA KABUPATEN TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Ai Meilani Nurafifah; Yusanto Nugroho; Eny Dwi Pujawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.9061

Abstract

ABSTRAK. Reklamasi lahan merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan perusahaan tambang terhadap area yang terganggu akibat pertambangan guna menjaga kelestarian sumber daya alam. Lahan reklamasi merupakan lahan marginal sehingga pemilihan jenis tanaman yang cocok sangat diperlukan guna meningkatkan keberhasilan reklamasi lahan. PT. Borneo Indobara mengggunakan spesies jabon (Anthocepalus cadamba) menjadi  tanaman reklamasi karena memiliki sifat mudah beradaptasi dan fast growing. Penanaman jenis pionir diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan ekosistem pasca tambang. Lahan reklamasi yang mempunyai sifat kimia dan fisika tanah yang belum terurai akan merugikan perkembangan tanaman maka evaluasi pertumbuhan tanaman jabon pada lahan  reklamasi tambang sangat diperlukan. Evaluasi pertumbuhan jabon perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi dan dijadikan pertimbangan penanaman di masa yang mendatang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pertumbuhan tanaman jabon pada lahan setelah 7 tahun reklamasi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengukur tinggi dan diameter pohon pada 6 plot menggunakan ukuran plot 20 x 20 m. Penyajian analisis tinggi dan diameter tanaman menggunakan tabulasi untuk mencari rata-rata pertumbuhan tinggi dan perkembangan diameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan diameter dan tinggi tanaman jabon pada lahan reklamasi umur 7 tahun sebesar 24,00 cm dan 13,00 m. pertumbuhan jabon ini kurang optimal dibandingkan dengan tanaman jabon di Jawa Barat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tanah pada lahan reklamasi tergolong minim unsur hara. ABSTRACT. Land reclamation is an activity that mining companies must carry out on areas disturbed by mining in order to preserve natural resources. Reclaimed land is marginal land so the selection of suitable plant species is needed to increase the success of land reclamation. PT Borneo Indobara uses jabon species (Anthocepalus cadamba) as a reclamation plant because it is adaptable and fast growing. Planting pioneer species is expected to accelerate the process of post-mining ecosystem recovery. Reclamation land that has undecomposed soil chemical and physical properties will be detrimental to plant development, so evaluation of jabon plant growth on mine reclamation land is needed. Evaluation of jabon growth needs to be done as an evaluation material and as a consideration for future planting. The purpose of this study was to analyze the growth of jabon plants on land after 7 years of reclamation. The data collection method was carried out by measuring the height and diameter of trees in 6 plots using a 20 x 20 m plot size. Presentation of plant height and diameter analysis using tabulation to find the average height growth and diameter development. The results showed that the average growth of diameter and height of jabon plants on reclaimed land at the age of 7 years amounted to 24.00 cm and 13.00 m. This jabon growth is less than optimal compared to jabon plants in West Java due to several factors such as soil on reclaimed land is classified as lacking nutrients. 

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue