cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
Analisis Vegetasi Hutan Wisata Bukit Pulau Tangka Di Desa Mandiangin Timur Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Muhammad Adnan Nurwachid; Setia Budi Peran; Gusti Syeransyah Rudy
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9155

Abstract

Vegetation analysis is a way studying arrangement or composition of types and forms or structure of vegetation. This research uses 4 formulas as a reference, namely Importance Value Index, Diversity Index, Evenness Index, and Dominance Index. Purpose of this research was the structure and composition of vegetation, to analyze the dominant species at various growth levels, to provide information on the diversity of vegetation in the Bukit Pulau Tangka tourist forest as an area development effort. This research method covers the objects used, namely all levels of growth and equipment in general. The plots used were 3 plots with each plot being 300 meters long and the distance between plot lines being 100 meters long which contained 2x2 seedling levels, 5x5 saplings, 10x10 poles and 25x25 trees. The species composition found at all growth stages in the Bukit Pulau Tangka tourism forest was 54 species. At the seedling growth stage there were 35 species with 630 individual species, at the sapling growth stage there were 35 species with 551 individual species, at the pole growth stage there were 25 species with 433 individual species, and at the tree growth stage there were 20 species. with the number of individuals as many as 237 species. The highest importance value index was at the seedling growth rate, namely the Sari Berangkat species with a value of 32.8%, then at the sapling level, the Sari Berangkat species with a value of 20.21%, then at the pole level, the Madang puspa type with a value of 68.58%, and at the tree level, namely the Madang puspa with a score of 132.65%.Analisis vegetasi yaitu cara mempelajari komposisi dan susunan jenis atau bentuk serta struktur dalam vegetasi. Penelitan ini menggunakan 4 rumus sebagai acuannya yaitu indeks nilai penting (INP), indeks keanekaragaman (H’), indeks kemerataan (E), dan indeks dominansi (C). Tujuan penelitian ini untuk mempelajari struktur dan komposisi vegetasi, menganalisis dominan berbagai tingkat pertumbuhan, memberikan informasi keanekaragaman vegetasi pada hutan wisata Bukit Pulau Tangka sebagai upaya pengembangan kawasan. Metode penelitian ini mencakup objek yang digunakan yaitu semua tingkat pertumbuhan dan peralatan secara umum. Plot yang digunakan sebanyak 3 plot dengan masing-masing plot sepanjang 300 meter  dan jarak antar jalur plot sepanjang 100 meter yang berisikan tingkat semai seluas 2x2, pancang seluas 5x5, tiang seluas 10x10, dan pohon seluas 25x25. Komposisi jenis yang ditemukan disemua tingkat pertumbuhan pada hutan wisata Bukit Pulau Tangka sebanyak 54 jenis. Pada tingkatan pertumbuhan semai sebanyak 35 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 630 jenis, pada tingkatan pertumbuhan pancang sebanyak 35 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 551 jenis, pada tingkatan pertumbuhan tiang sebanyak 25 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 433 jenis, dan pada tingkatan pertumbuhan pohon sebanyak 20 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 237 jenis. Terdapat INP tertinggi di tingkat pertumbuhan semai yaitu jenis Sari Berangkat dengan nilai 32.8%, kemudian di tingkatan pancang yaitu jenis Sari Berangkat dengan nilai 20.21%, kemudian di tingkatan tiang yaitu jenis Madang puspa dengan nilai sebesar 68.58%, dan pada tingkatan pohon yaitu jenis Madang puspa dengan nilai sebesar 132.65%.
PENILAIAN POTENSI OBJEK WISATA TAMAN WISATA ALAM TANJUNG KELUANG DAN PANTAI KUBU DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT KALIMANTAN TENGAH Algifari Musthofan; Khairun Nisa; Abdi Fithria
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12315

Abstract

West Kotawaringin Regency has a variety of strategic and potential tourist objects to be managed and developed. The aims of this study were 1. To identify the attractions of natural tourism objects in Tanjung Keluang Nature Park and Kubu Beach, and 2. To assess the tourism potential of Tanjung Keluang Nature Park and Kubu Beach. The method used in this study is a quantitative method of survey techniques and field observations. The results show that the tourist attractions owned by the Tanjung Keluang Nature Park are beach tourism, turtle breeding, diversity of flora and fauna, and camping areas, while the tourist attractions of Kubu Beach are beaches and culinary tours. The internal potential of Tanjung Keluang Nature Park includes a high classification (score 13), the external potential is a moderate classification (score 17) and the combined potential is a moderate classification (score 30). The internal potential of Kubu Beach is a moderate classification (score of 9), the external potential is a classification high (score of 19), and the combined potential is a moderate classification (score of 28). The internal potential of Tanjung Keluang Nature Park is superior because the area is conservation and beauty, so nature is still maintained and as well as there is a turtle hatchery that can attract visitors, but facilities available for these tourist objects are limited, in contrast to Kubu Beach which has more complete facilities such as toilets, places of worship, parking lots, and food and beverage stalls, so that the external potential of Kubu Beach is highestKabupaten Kotawaringin Barat memiliki beragam objek wisata yang strategis dan potensial untuk dikelola dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah 1. Identifikasi atraksi objek wisata alam yang terdapat pada Taman Wisata Alam Tanjung Keluang dan Pantai Kubu serta 2. Penilaian potensi objek wisata Taman Wisata Alam Tanjung Keluang dan Pantai Kubu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif teknik survei, dan observasi lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa atraksi wisata yang dimiliki Taman Wisata Alam Tanjung Keluang berupa wisata pantai, penangkaran penyu, keragaman flora dan fauna, serta camping area, sedangkan atraksi wisata Pantai Kubu berupa pantai, dan wisata kuliner.  Potensi internal Taman Wisata Alam Tanjung Keluang termasuk klasifikasi tinggi (skor 13), potensi eksternal termasuk klasifikasi sedang (skor 17) dan potensi gabungan termasuk klasifikasi sedang (skor 30. Potensi internal Pantai Kubu termasuk klasifikasi sedang (skor 9), potensi eksternal termasuk klasifikasi tinggi (skor 19) dan potensi gabungan termasuk klasifikasi sedang (skor 28). Potensi internal Taman Wisata Alam Tanjung Keluang lebih unggul karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi sehingga keasrian alam masih terjaga serta terdapat penangkaran penyu yang dapat menarik minat pengunjung, namun fasilitas yang tersedia pada objek wisata tersebut masih terbatas berbeda dengan Pantai Kubu yang memiliki fasilitas lebih lengkap seperti toilet, tempat ibadah, tempat parkir, dan warung makanan dan minuman, sehingga potensi eksternal Pantai Kubu lebih tinggi
PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN KAYU LAPIS PADA KEMAMPUAN MESIN DOUBLE SIZER DI PT. TANJUNG SELATAN MAKMUR JAYA, KABUPATEN BARITO KUALA, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Tuti Maulida; Muhammad Faisal Mahdie; Gusti Abdul Rahmat Thamrin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9053

Abstract

Papan yang dibuat dengan ukuran tertentu terbuat dari beberapa lapisan finir berjumlah ganjil dan dipasang secara bersilang saling yang tegak lurus direkatkan menggunakan perekat khusus menjadi satu menggunakan tekanan tinggi merupakan kayu lapis atau plywood. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu lapis menyebabkan industri olahan kayu sesuai dengan permintaan. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis produktivitas dan rendemen kayu lapis pada kemampuan mesin Double sizer di PT. Tanjung Selatan Makmur Jaya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan yaitu pengamatan langsung di lapangan secara Nol Stop Method. Hasil yang didapatkan dari hasil penelitian produktivitas dan rendemen kayu lapis pada kemampuan mesin Double sizer di PT. Tanjung Selatan Makmur Jaya yaitu rata-rata produktivitas kayu lapis yaitu 0,58 m3/jam, dan dapat dikatakan bahwa produktivitas pada kemampuan mesin double sizer ini rendah, serta rata-rata rendemen kayu lapis yaitu 96,39 %, dan dapat dikatakan bahwa rendemennya tinggi karena diatas 50 %, dengan limbah sebesar 3,60 % hal ini disebabkan karena sisa dari potongan kayu lapis dari mesin double sizer yang tadinya tidak sesuai dengan ukuran yang ditentukan oleh perusahaan.
PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN WISATA ALAM PUREKMAS SESAOT KABUPATEN LOMBOK BARAT Susmaini Ana; Endah Wahyuningsih; Diah Permata Sari
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.11658

Abstract

Zero waste is the flagship program of the Governor of NTB for the 2018-2023 period. This zero waste activity is an agenda to improve the environmental conditions of the community implemented by the Regency government. For research purposes, analyzing waste generation in the Purekmas Sesaot Nature Tourism Area and analyzing waste management in the Purekmas Sesaot Nature Tourism Area. This research uses qualitative and quantitative descriptive methods, with the collection method referring to SNI 19-396-1994 concerning Methods of Taking and Measuring Examples of Waste Generation and Composition. For waste management using a questionnaire that is analyzed using a Likert scale. The results of this study show that waste generation for 8 consecutive days amounted to 310.22 kg from the overall component. Waste management in the Purekmas Sesaot Nature Tourism Area for types of waste that have no selling value, the waste is managed by burning, stockpiling and letting it accumulate because until now there has been no TPS and TPA in the Purekmas Sesaot Nature Tourism Area.
EVALUASI POSISI SEBAGIAN PAL BATAS KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Dicky Ganesa; Suyanto Suyanto; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9171

Abstract

 Re-evaluation of forest area boundaries is an important process in forest management that aims to ensure that the forest area boundaries determined are still relevant and in accordance with current conditions. Based on the results of boundary reconstruction, it shows that the location of the ULM Special Purpose Forest Area (KHDTK) boundary pal in the field does not follow natural boundaries such as foothills and ridges but in the middle of the hillside. This makes it difficult to ascertain the location of the boundary pal that can be known by field officers and the public. The purpose of this study was to analyze the results of the installation of KHDTK boundary pals (boundary reconstruction) against the characteristics of natural boundaries in the KHDTK area of Lambung Mangkurat University. This study used overlay method combined with field observation. The results of this study showed that at 76 coordinate points of the boundary pal position, there were findings that showed a discrepancy between the position of the boundary pal that had been set and the proper limit. Boundary Pal Position in Accordance with Predetermined Limits: Of the 76 coordinate points, there are only 8 boundary pal positions that correspond to the predetermined limit. A total of 49 pieces with an average distance difference of approximately 53.41 meters. Boundary pals are found outside the forest area and there are 19 boundary pals.Evaluasi ulang tata batas kawasan hutan adalah proses yang penting dalam pengelolaan hutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa batas kawasan hutan yang ditetapkan masih relevan dan sesuai dengan kondisi terkini. Berdasarkan hasil rekontruksi batas menunjukan bahwa lokasi pal batas Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) ULM di lapangan tidak mengikuti batas alam seperti kaki bukit dan punggung bukit melainkan pada tengah lereng bukit.  Hal tersebut menyulitkan kepastian lokasi pal batas yang dapat dikenal oleh petugas lapangan maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil pemasangan pal batas KHDTK (Rekonstruksi batas) terhadap karakteristik batas alam di wilayah KHDTK Universitas Lambung Mangkurat. Penelitian ini menggunakan metode overlay dikombinasikan dengan  observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada 76 titik koordinat posisi pal batas, terdapat temuan yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara posisi pal batas yang telah ditetapkan dengan batas yang semestinya. Posisi Pal Batas yang Sesuai dengan Batas yang Telah Ditentukan: Dari 76 titik koordinat, hanya terdapat 8 posisi pal batas yang sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Sebanyak 49 buah dengan rata-rata selisih jarak kurang lebih 53,41 meter. Pal batas ditemukan berada diluar kawasan hutan dan terdapat 19 buah pal batas.
KESEHATAN TANAMAN KAPUR (Dryobalanops aromatica) DI AREA TAMAN HUTAN HUJAN TROPIS INDONESIA (TH2TI) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Riza Marsetyawan; Basir Achmad; Susilawati Susilawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.12776

Abstract

Urban forest is one of the green open spaces consisting of vegetation communities in the form of trees and their associations. Taman Hutan Hujan tropis Indonesia (TH2TI) is part of the government's plan to protect the diminishing rainforests. Identification of the health of kapur plants (Dryobalanops aromatica) in the TH2TI area aims to analyze the health of kapur plants in the TH2TI. This kapur plant health data collection was carried out with an overall survey at the sapling level. Based on an analysis of the health of kapur plants totaling 225 stems, which followed the criteria of location, type, and severity of damage, the health index of kapur plants in the I TH2TI area was 0.25 and included in the healthy categoryHutan kota merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang terdiri dari komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya. Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) merupakan bagian dari rancangan pemerintah untuk melindungi hutan hujan yang semakin berkurang. Identifikasi kesehatan tanaman kapur (Dryobalanops aromatica) di area TH2TI bertujuan untuk menganalisis kesehatan tanaman kapur yang ada di area Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia. Pengambilan data kesehatan tanaman kapur ini dilakukan dengan survei keseluruhan pada tingkat pancang. Berdasarkan analisis kesehatan tanaman kapur yang berjumlah 225 batang, yang mengikuti kriteria lokasi, tipe, dan keparahan kerusakan, indeks kesehatan tanaman kapur di area Taman Hujan tropis Indonesia sebesat 0,25 dan termasuk kategori sehat.
Uji Hidroksimetilfurfural (HMF), Kadar Air dan Kadar Gula pada Madu Kelulut (Heterotrigona itama) berdasarkan Masa Simpan Noor Wilanda; Siti Hamidah; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9498

Abstract

Many factors can affect the quality of kelulut honey, one of which is the length of storage. Parameters that can be used to determine the quality of kelulut honey based on the shelf life in accordance with honey quality standards in Indonesia, namely SNI No 8664 : 2018 are HMF tests, water content and sugar content. This study aims to determine the effect of the shelf life (up to 6 years) of kelulut honey stored in dark glass bottles at room temperature on HMF content, water content and sugar content. The results showed that the longer the shelf life, the HMF content tends to increase and can reduce the quality of kelulut honey. However, the longer the shelf life, the higher the sugar content and the better quality of kelulut honey. The water content in this study could not be detected due to the limitations of the instrument in reading the value of the water content (a refractometer has a maximum digital range of 30%). The test results for honey HMF content from 2017 to 2023 were 1159 mg/kg, 1691 mg/kg, 1251 mg/kg, 443 mg/kg, 248 mg/kg and 0 mg/kg respectively. SNI sets the standard for HMF content in kelulut honey at a maximum of 40 mg/kg, so only honey with a shelf life of up to 1 year (honey in 2022 and 2023) meets SNI provisions. Honey from 2017 to 2023 as a whole has a water content of >30%, which means that the honey does not meet the provisions of SNI No 8664 : 2018 of a maximum of 27.5%. However, in terms of its sugar content, kelulut honey can be stored for up to 6 years of shelf life because this honey fully complies with the provisions of SNI No 8664 : 2018 which is above 55%. The sugar content in honey from 2017 to 2023 is 69.4%, 70.1%, 72.4%, 71.0%, 71.3%, 70.1% and 67.2%. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas madu kelulut, salah satunya yakni lama penyimpanan. Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas madu kelulut berdasarkan masa simpan sesuai dengan standar mutu madu di Indonesia yaitu SNI No 8664 : 2018 adalah uji HMF, kadar air dan kadar gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masa simpan (sampai dengan masa simpan 6 tahun) madu kelulut yang disimpan dengan botol kaca gelap pada suhu ruang terhadap kandungan HMF, kadar air dan kadar gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama masa simpan, maka kandungan HMF nya cenderung semakin meningkat dan dapat menurunkan kualitas madu kelulut. Namun, semakin lama masa simpan, peningkatan kadar gula juga akan semakin tinggi dan madu kelulut memiliki kualitas yang baik. Kadar air pada penelitian ini tidak dapat terdeteksi akibat keterbatasan alat dalam membaca nilai kadar air (alat refractometer memiliki jangkauan digital maksimal 30%). Hasil uji kandungan HMF madu tahun 2017 hingga tahun 2023 secara berturut-turut yaitu sebesar 1159 mg/kg, 1691 mg/kg, 1251 mg/kg, 443 mg/kg, 248 mg/kg dan 0 mg/kg. SNI menentukan standar kandungan HMF pada madu kelulut maksimal 40 mg/kg, sehingga hanya madu dengan masa simpan sampai dengan 1 tahun (madu tahun 2022 dan 2023) yang memenuhi ketetapan SNI. Madu tahun 2017 hingga tahun 2023 secara keseluruhan memiliki kadar air >30% yang artinya madu tersebut tidak memenuhi ketetapan SNI No 8664 : 2018 sebesar maksimal 27,5%. Namun, ditinjau dari kadar gulanya, madu kelulut dapat disimpan sampai dengan 6 tahun masa simpan karena madu tersebut sepenuhnya memenuhi ketetapan SNI No 8664 : 2018 yaitu diatas 55%. Kadar gula pada madu tahun 2017 hingga tahun 2023 yaitu 69,4%, 70,1%, 72,4%, 71,0%, 71,3%, 70,1% dan 67,2%.
KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT DAYAK DEAH DESA PANGELAK KECAMATAN UPAU KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Anggi Ocman Tampubolon; Budi Sutiya; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12318

Abstract

Pangelak Village is inhabited by the majority of Dayak Deah who have knowledge in the use of medicinal plants for generations. The knowledge possessed by the Dayak community is diverse, such as belief in the spirits of previous ancestors and ethnobotanical studies that they conduct in traditional medicine. This study used a descriptive method with in-depth interviews with selected persons, including traditional leaders and traditional healers using a questionnaire and purposive sampling techniques. The results obtained indicate that there are 39 types of medicinal plants. These medicinal plants are used for the treatment of back pain, impotence, nefrolitiasis, ulcers, antidote, hepatitis, cough, wound infection, cancer, diarrhoea, typhoid, bone fracture, stomach. pain, fever and hypertension. The most widely used plant part is the root, which is as much as 45.95%.  Plant parts can be processed into medicine in 5 ways: mixed with other plants and soaked with water, mixed with other plants and boiled, mixed with other plants or other ingredients and mashed, steamed, and sliced for sapDesa Pangelak dihuni oleh mayoritas Dayak Deah yang memiliki pengetahuan dalam penggunaan tanaman obat secara turun temurun. Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Dayak beragam, seperti kepercayaan terhadap arwah nenek moyang sebelumnya dan studi etnobotani yang mereka lakukan dalam pengobatan tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan wawancara mendalam dengan narasumber terpilih, antara lain tokoh adat dan pengobat tradisional dengan menggunakan kuesioner dan teknik purposive sampling. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada 39 jenis tanaman obat, tanaman obat ini digunakan untuk pengobatan sakit pinggang, lemah syahwat, kencing batu, maag, penawar, hepatitis, batuk, infeksi luka, kanker, diare, tipus, patah tulang, perut, nyeri, demam dan hipertensi. Bagian yang banyak digunakan adalah akar sebanyak 45,95%. Bagian tumbuhan dapat diolah menjadi obat dengan 5 cara: dicampur dengan tumbuhan lain dan di rendam dengan air, dicampur dengan tumbuhan lain dan di rebus, dicampur tumbuhan lain atau bahan lain dan dihaluskan, dikukus, dan disayat diambil getahnya.
PENGARUH PEMBERIAN HORMON 2,4 D TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN RAMANIA (Bouea macrophylla Griffith) SECARA IN VITRO Yuda Agus Pratama; Adistina Fitriani; Damaris Payung; Yulianto Syahid; Sigit Kristyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.8817

Abstract

Ramania as known as Gandaria (Bouea macrophylla Griffith), belonging to the Anacardiaceae family. Ramania is a tropical fruit plant native to Southeast Asia and has been commercially grown in the ASEAN region. This research aims to determine the effect of the addition of 2,4 D hormone and the appropriate concentration growth regulator of 2,4 D hormone on the growth of Ramania (Bouea macrophylla Griffith) leaf explants tissue culture Methodology used in this riset was to go directly to the field. The first treatment of hormone 2,4 D with a tissue concentration of 0.8 g for 5 weeks of observation of the size of the callus produced was small and could not last long, and the callus formed from ramania leaf explants on MS tissue culture media (murasihge and Skoog) with 2,4 D treatment all produced a compact textured callus.The use of auxin 2,4 D can affect callus growth in ramania leaf explants (Bouea macrophylla Griffith). The right concentration of 2,4 D hormone for the growth of Ramania leaf explants is the first treatment with a concentration of 0.8 g, the callus produced is the most and fastest growth (day 24).Ramania atau yang dikenal Gandaria memiliki nama latin (Bouea macrophylla Griffith), termasuk famili Anacardiaceae. Ramania merupakan tanaman buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara dan secara komersial telah ditanam di wilayah ASEAN. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan hormon 2,4 D dan konsentrasi hormon 2,4D yang tepat terhadap pertumbuhan eksplan daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith) secara in vitro. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah turun langsung ke lapangan.. Pertumbuhan kalus yang cepat muncul pada hari ke 24. Perlakuan pertama pada hormone 2,4-D dengan konsentrasi jaringan 0,8 gr selama 5 minggu pengamatan ukuran kalus yang dihasilkan berukuran kecil dan tidak dapat bertahan lama , dan Kalus yang terbentuk dari eksplan daun ramania pada media MS dengan perlakuan 2,4-D semua menghasilkan kalus yang tertekstur kompak.Penggunaan auksin 2,4-D memberikan respon pertumbuhan kalus pada eksplan daun ramania (Bouea macrophylla Griffith). Konsentrasi hormon 2,4-D yang tepat untuk pertumbuhan eksplan daun Ramania adalah perlakuan pertama dengan konsentrasi 0,8 gr, kalus yang dihasilkan paling banyak dan paling cepat pertumbuhannya (hari ke 24).
IDENTIFIKASI JENIS MAKRO FAUNA TANAH DI BAWAH TEGAKAN AREN (Arenga pinnata Merr.) DI KECAMATAN SUNGAI RAYA HULU SUNGAI SELATAN Nurhida Anggi Nirmala; Dina Naemah; Susilawati Susilawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12312

Abstract

This study aims to identify the type of soil macrofauna under the palm stand, Calculate the relative density value, relative frequency and important value index of soil macrofauna under the palm stand. The data collected on each observation plot by taking samples of soil macrofauna contained in the soil in the macrofauna research and analysis plots include density, relatif density, frequency, relative frequency, and diversity index. The results of the identification and calculation of soil macrofauna are arranged in several tables that will be calculated for the density of the fauna. Based on observations, 16 types of macrofauna were obtained that belonged to 11 families. Analysis of macrofauna calculations that have been carried out at the site found as many as 16 types of macrofauna dominated by termite types (Coptotermes curvignatus) with a total of 155 types contained in 10 number of measurement plots. Based on the results of the shannon wiener index of 1.220, soil macrofauna under the palm stand are included in the medium category.Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis makrofauna tanah yang terdapat di bawah tegakan aren,menghitung nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan Indeks Nilai Penting (INP) makrofauna tanah di bawah tegakan aren. Data dikumpulkan di setiap plot pengamatan dengan mengambil sampel makrofauna tanah yang terkandung dalam tanah dalam plot penelitian dan analisis makrofauna meliputi densitas, frekuensi, frekuensi relatif, dan indeks keanekaragaman. Hasil identifikasi dan perhitungan makrofauna tanah disusun dalam beberapa tabel yang akan dihitung untuk kepadatan fauna. Berdasarkan pengamatan, diperoleh 16 jenis makrofauna (11 famili ditemukan). Ditemukan 16 jenis makrofauna yang didominasi oleh jenis rayap (Coptotermes curvignatus) dengan total 155 jenis pada 10 jumlah plot pengukuran. Indeks Shannon wiener sebesar 1,220, makrofauna tanah di bawah tegakan aren masuk dalam kategori medium.

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue