cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI" : 22 Documents clear
IDENTIFIKASI POTENSI DAYA TARIK EKOWISATA BUKIT TALAGA DESA AUR SAMPUK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK Erianto, Erianto; Ardian, Fransiskus; Azahra, Siva Devi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.68336

Abstract

Identification of ecotourism potential is an activity of searching, recording, finding, and registering all that has potential or makes the place attractive for visitors to visit. This study aims to find and explain the existence of objects that are ecotourism attractions in Talaga Hill, Aur Sampuk Village, Sengah Temila District, and Landak Regency. The research method uses data collection techniques with direct field observations and interviews with visitor respondents and the local community with a questionnaire guide. Research shows that the Talaga Hills area has potential as an ecotourism attraction, including biological and non-biological potential. The biological potential is in the form of the presence of moss plants, types of fungi, orchids, corpse flowers (Amorphophallus sp.), fruit-producing trees for consumption, and a diversity of animal species such as lemurs (Galeopterus variegatus), rock magpies (Copsychus saularis), and porcupines (Hystrix brachyura). While the non-biological potential includes beautiful views of hills, high cliffs, rocks, stone caves, and clean water sources, Talaga Hill also presents attractions in the form of adventure activities, namely hiking activities, camping activities, wildlife observation, natural resource exploration activities, and rock-climbing activities. Apart from its natural beauty, Bukit Talaga also has the potential to attract cultural tourism, including the existence of three traditional Dayak ceremonial places on Bukit Talaga and the traditions and ceremonies of the local community.Keywords: attraction, ecotourism, identification, talaga hill.AbstrakIdentifikasi potensi ekowisata   merupakan suatu kegiatan mencari, mencatat, menemukan serta mendaftarkan semua yang menjadi potensi atau yang menjadikan tempat tersebut menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung. Penelitian ini bertujuan menemukan dan menjelaskan keberadaan objek-objek yang menjadi daya tarik ekowisata di Bukit Talaga Desa Aur Sampuk, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung dilapangan dan wawancara terhadap responden pengunjung dan masyarakat setempat dengan panduan kuesioner. Penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Bukit Talaga memiliki potensi yang menjadi daya tarik ekowisata diantaranya yaitu potensi hayati dan potensi non-hayati. Potensi hayati berupa keberadaan tumbuhan lumut, jenis jamur, tumbuhan angrek, bunga bangkai (Amorphophallus sp), pohon penghasil buah untuk konsumsi dan keanekaragaman jenis satwa seperti kubung (Galeopterus variegatus), burung murai batu (Copsychus saularis) dan landak (Hystrix brachyura). Sedangkan potensi non-hayati antara lain yaitu pemandangan indah di atas bukit, tebing tinggi, bebatuan, gua batu, dan sumber air bersih. Bukit Talaga juga menyajikan daya tarik berupa kegiatan petualangan yaitu kegiatan hiking, kegiatan berkemah, pengamatan satwa liar, kegiatan eksplorasi sumber daya alam dan kegiatan panjat tebing. Terlepas dari keindahan alamnya Bukit Talaga juga memiliki potensi daya tarik wisata budaya, diantaranya yaitu keberadaan tiga tempat upacara adat Dayak di Bukit Talaga, tradisi/upacara adat masyarakat setempat. Kata kunci: daya tarik, ekowisata, identifikasi, bukit talaga
ASOSIASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DENGAN TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis) DI KECAMATAN MEMPAWAH HILIR KABUPATEN MEMPAWAH Wulandari, Reine Suci; Permatasari, Endah Intan; Muin, Abdurrani; Putri, Erisa Ayu Waspadi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.55049

Abstract

Agarwood plants (Aquilaria malaccensis) planted in Mempawah Hilir District are developing well in various diameter sizes. Research on its association with natural arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) in Mempawah Hilir District is still limited. The aim of this research is to examine the natural association of AMF and agarwood plants by identifying the genus, the level of association of AMF with the plant and determining the correlation between the number of spores and the percentage of infection with the size of the plant diameter. The research was conducted in Mempawah Hilir District and the Silviculture Laboratory of the Forestry Faculty, Tanjungpura University. Soil and root samples were collected from the rhizosphere area of agarwood plants (Aquilaria malaccensis). The parameters measured are tree diameter, number of spores, and percentage of plant root infection. The research results show that agarwood plants are naturally associated with AMF. Spore identification and infection observations suggest an association with the genus Glomus sp. and Gigaspora sp. at a moderate level (score 3). Simple regression analysis showed a positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree, which indicated an increase in the number of spores and the percentage of infection as the tree diameter increased. The positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree indicates that the natural growth of the agarwood tree is supported by AMF colonization. This can be the basis for more effective forest management strategies, including maintaining soil microbes that enable optimal growth of agarwood plants in natural forests.Keywords: Aquilaria malaccensis, Association, Mempawah HilirAbstrak Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) yang ditanam di Kecamatan Mempawah Hilir berkembang dengan baik dalam berbagai ukuran diameter. Penelitian tentang asosiasinya dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA) alami di Kecamatan Mempawah Hilir masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah yaitu mengkaji asosiasi alami FMA dan tanaman gaharu dengan mengidentifikasi genus, tingkat asosiasi FMA dengan tanaman tersebut serta menentukan korelasi jumlah spora dan persentase infeksi dengan ukuran diameter tanaman. Penelitian dilakukan di Kecamatan Mempawah Hilir dan Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Sampel tanah dan akar dikumpulkan dari daerah rhizosfer tanaman gaharu. Paramater yang diukur adalah diameter pohon, jumlah spora, dan persentase infeksi akar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman gaharu secara alami berasosiasi dengan FMA. Identifikasi spora dan observasi infeksi menunjukkan adanya asosiasi dengan genus Glomus sp. dan Gigaspora sp. pada tingkat sedang (dengan skor 3). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu, yang menandakan peningkatan jumlah spora dan persentase infeksi seiring bertambahnya diameter pohon. Hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu menunjukan bahwa pertumbuhan pohon gaharu secara alami didukung oleh kolonisasi FMA. Ini dapat menjadi dasar bagi strategi manajemen hutan yang lebih efektif, termasuk pemeliharaan mikroba tanah yang memungkinkan pertumbuhan optimal tanaman gaharu dalam hutan alam.Kata kunci: Aquilaria malaccensis, Asosiasi, FMA, Mempawah Hilir
KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN TONGKOL JAGUNG Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini; Fahrussiam, Fauzan; Ningsih, Rima Vera; Raehnayati, Raehnayati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.70758

Abstract

Agricultural waste needs to be processed into products that provide benefits by making alternative fuels in the form of biobriquettes (charcoal briquettes). The purpose of this study was to determine the best composition of charcoal briquettes from coconut shell waste and corn cobs by testing charcoal briquettes in order to obtain quality charcoal briquettes in accordance with SNI No.1/6235/2000 standards.   The method used in this research is using experimental method with experimental design using non-factorial Completely Randomized Design (RAL) with three treatments of raw material types with 3 replications.     Based on the results of the study, the following conclusions were obtained: The value of moisture content, ash content, fly substance content and calorific value are included in the SNI 01-6235-2000 standard except the calorific value of corn cob charcoal briquettes is not included in the standard. Bound carbon content is not found in SNI 01-6235-2000 but based on Japanese, American and British standards the value is included in the standard. The highest value of moisture content in corn cob briquettes (TJ) with a value of 0.88% and the lowest in coconut shells at 0.41%.   The highest ash content value in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 11.79% and the lowest in the coconut shell charcoal briquettes (TK) was 7.09%. The highest value of flying matter content in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 25.67% and the lowest in coconut shell (TK) was 10.22%.   The value of bound carbon content of corn cob (TJ) was higher at 77.86% and the lowest in the charcoal briquette of mixed corn cob coconut shell (TT) at 50.94%.   The highest calorific value in the mixed charcoal briquettes of coconut shell corn cob (TT) was 5974 cal/gr and the lowest in the charcoal briquettes of corn cob was 4227 cal/gr.Keywords: charcoal briquette, coconut shell, corn cob, biomassAbstrakLimbah pertanian perlu dilakukan pengolahan menjadi produk yang   memberi manfaat dengan membuat bahan bakar alternative berupa biobriket (briket arang). Tujuan dari penelitian ini mengetahui komposisi terbaik briket arang dari limbah cangkang kelapa dan tongkol jagung dengan melakukan pengujian briket arang agar mendapat briket arang yang berkualitas sesuai dengan standar SNI No.1/6235/2000.   Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan tiga perlakuan jenis bahan baku dengan 3 ulangan.     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa kesimpulan bahwa hasil uji sifat fisis yang terdiri dari nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang dan nilai kalor sudah memenuhi persyaratan standar SNI 01-6235-2000. Akan tetapi, nilai kalor briket arang tongkol jagung tidak masuk dalam standar. Kadar karbon terikat tidak terdapat pada SNI 01-6235-2000 tetapi berdasarkan standar Jepang, Amerika dan Inggris nilainya masuk dalam standar. Nilai kadar air tertinggi pada briket tongkol jagung (TJ) dengan nilai sebesar 0,88% dan terendah pada cangkang kelapa sebesar 0,41%.   Nilai kadar abu tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung dan cangkang kelapa (TT) sebesar 11,79% dan terendah pada briket arang tempurung kelapa (TK) sebesar 7,09%. Nilai kadar zat terbang tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 25,67% dan terendah pada tempurung kelapa (TK) sebesar 10,22%.   Nilai kadar karbon terikat tongkol jagung (TJ) lebih tinggi sebesar 77,86% dan terendah pada briket arang campuran tongkong jagung tempurung kelapa (TT) 50,94%.   Nilai kalor tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 5974 cal/gr dan yang terendah pada briket arang tongkol jagung sebesar 4227 cal/grKata kunci: briket arang, tempurung kelapa, bongkol jagung, biomassa
POTENSI KERAGAMAN JENIS MANGROVE TEKOLABBUA, KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN (Potential Diversity Of Tekolabbua Mangroves, Pangkajene And Kepulauan Regency) Nirawati, Nirawati; Djafar, Muliana; Hadija, Hadija; athira, Ain
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.60753

Abstract

Information related to the potential of mangroves in the preservation and breeding of forest ecosystems is not comprehensive enough to support the function of mangrove forest ecosystems at large. This study aims to determine the potential diversity of mangrove species in Tekolabbua district pangkajene and islands. The method used was systematic line sampling with random start and data analysis using quantitative descriptive approach to determine the potential diversity of mangrove species based on the structure, composition, and diversity of mangrove species. The results showed that the structure of mangrove stands in the diameter class was dominated by Avicennia alba species in each diameter class. The composition of mangrove species found were Sonneratia alba, Avicennia alba, and Rhizophora mucronata with INP at the seedling growth rate of Avicennia alba 200% and at the sapling and tree level the highest INP was found in Avicennia alba with an INP value of 105.799% sapling level and 159.97% tree level INP. While the lowest INP value is found in Rhizophora mucronata species with an INP value for the sapling level of 95.54% and an INP value for the tree level of 45.16%.   The species diversity index is classified as low with a moderate level of evenness, indicating that the Tekolabbua mangrove community, Pangkajene Regency and the islands are classified as still unstable.Keywords: Stand, Structure, Species, Composition, Mangrove.AbstrakInformasi terkait potensi mangrove dalam pelestarian dan pemuliaan ekosistem hutan belum cukup komprehensifnya dalam medukung fungsi ekosistem hutan mangrove secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keragaman jenis Mangrove di Tekolabbua kabupaten pangkajene dan kepulauan. Metode yang digunakan adalah systematic line sampling with random start dan Analisis data mengunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengetahui potensi keragaman jenis mangrove berdasarkan struktur, komposisi, dan keragaman jenis mangrove. Hasil penelitian menunjukkan struktur tegakan mangrove pada kelas diameter didominasi oleh spesies Avicennia alba pada setiap kelas diameter. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan adalah Sonneratia alba, Avicennia alba, dan Rhizophora mucronata dengan INP pada laju pertumbuhan semai Avicennia alba 200% dan pada tingkat pancang dan pohon INP tertinggi terdapat pada Avicennia alba dengan nilai INP sebesar tingkat pancang 105,799% dan INP tingkat pohon 159,97%. Sedangkan nilai INP terendah terdapat pada spesies Rhizophora mucronata dengan nilai INP untuk tingkat pancang 95,54% dan nilai INP untuk tingkat pohon 45,16%.   Indeks keanekaragaman jenis tergolong rendah dengan tingkat kemerataan sedang, menunjukkan bahwa komunitas mangrove Tekolabbua Kabupaten Pangkajene dan kepulauan tergolong masih labil.Kata kunci: Struktur, Tegakan, Komposisi, Keragaman, Kemerataan, Mangrove
ETNOZOOLOGI RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT MELAYU KETAPANG DI DUSUN BINA USAHA DESA PESAGUAN KANAN KECAMATAN MATAN HILIR SELATAN KABUPATEN KETAPANG Sahal, Abdullah; Anwari, M Sofwan; M, Iskandar A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63691

Abstract

Kalimantan Island has a very high level of biodiversity, flora, and fauna that can still be found in the forests of Borneo. The Ketapang Malays in the Bina Usaha Village of Pesaguan Kanan is one of the original ethnic groups of West Kalimantan who currently still utilize biological resources to fulfill their needs, one of which is the use of animals for traditional and mystical rituals. The purpose of this research is to record what animals are used for traditional and mystical rituals by the Ketapang Malay community. The data collection technique was carried out by in-depth interviews with respondents who were selected using the survey method and the selection of respondents was carried out using the snowball sampling technique. Respondents amounted to 9 people and data collection using a questionnaire. The results showed that there were 16 species of animals used for Traditional and Mystical Rituals, consisting of 2 animals for Traditional Rituals and 14 animals for Mystics. The part that is used is the whole body and voice.Keywords: Ethnozoology, Ketapang Malay, Traditional and Mystical RitualsAbstrakPulau Kalimantan memiliki tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi, flora dan faunanya yang masih dapat di temui di dalam hutan Kalimantan. Suku Melayu Ketapang di Dusun Bina Usaha Desa Pesaguan Kanan merupakan salah satu etnis asli Kalimantan Barat yang saat ini masih memanfaatkan sumber daya hayati untuk memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya pemanfaatan satwa untuk Ritual Adat dan Mistis. Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis satwa yang dimanfaatkan untuk Ritual Adat dan Mistis oleh masyarakat Melayu Ketapang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap responden yang terpilih dengan menggunakan metode survey dan pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Responden berjumlah 9 orang dan pengumpulan data menggunakan bantuan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa satwa yang dimanfaatkan untuk Ritual Adat dan Mistis sebanyak 16 jenis satwa, yang terdiri dari 2 satwa untuk Ritual Adat dan 14 satwa untuk mistis. Bagian yang dimanfaatkan adalah seluruh badan dan suaranya. Kata kunci: Etnozoologi, Melayu Ketapang, Ritual Adat dan Mistis
VARIASI STRUKTUR ANATOMI DAN KUALITAS SERAT KAYU DENGEN (Dillenia serrata) DALAM SEBATANG POHON Muthmainnah, Muthmainnah; Asniati, Asniati; Erniwati, Erniwati; Ariyanti, Ariyanti; Hapid, Abdul
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.59329

Abstract

Dengen (Dillenia serrata) is a type of tree from the Dilleniaceae tribe which is widely distributed in Asia, including Indonesia. This tree is found in many areas of Indonesia, including Sulawesi. This tree grows in areas with an altitude of 80"“140 meters above sea level (asl) and is a perennial plant with a hardwood trunk texture The specific objective this research is to study the characteristic macroscopic and microscopic direction radial and vertical, including variations in fiber quality classes. This research was conducted at the Laboratory of Biology and Wood Preservation, Mulawarman University and the Faculty of Forestry, Tadulako University. The stages of this research include: a). Sampling, b). Observation of macroscopic characteristics, c). Observation of microscopic anatomical features, d). Preparation of maceration preparations and measurement of fiber dimensions. The macroscopic characteristics of dengen wood show: the core is dark brown-pale brown, the sapwood is not observed. The radius looks very conspicuous in the form of a dotted band image in the radial plane. Medium to rough texture, straight grain direction. The impression of touch is a bit rough with a slightly shiny color and is classified as a rather hardwood. Microscopic characteristics of dengen wood have vessels that are almost entirely solitary, diffuse axial parenchyma. Dengen wood has two types of rays lying and upright, multiseriate rays consisting of 3-6 cells. Its microscopic characteristics are vessel grouping and frequency, axial parenchyma type and the composition of the rays does not vary in the vertical and radial directions; while the vessel length, diameter, height and width of the rays and length and thickness of the fiber wall varied in the vertical and radial directions. The dengen Wood fiber belongs to Quality Class II.Keywords; Anatomy, fiber quality, radial, Vertical, Macroscopic and microscopic AbstrakDengen (Dillenia serrata) merupakan salah satu jenis pohon dari suku Dilleniaceae yang tersebar luas di kawasan Asia termasuk Indonesia. Pohon ini banyak di temukan di kawasan Indonesia termasuk Sulawesi.   Pohon ini tumbuh pada daerah dengan ketinggian 80"“140 meter di atas permukaan laut (dpl) dan termasuk tanaman menahun dengan tekstur pohon berbatang kayu keras.   Masyarakat lokal memanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan kerajinan. Penentuan jenis kayu merupakan hal utama dalam pengolahan kayu. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji ciri makroskopis dan mikroskopis arah radial (teras, peralihan, gubal) dan vertikal (Pangkal, tengah dan ujung) termasuk variasi kelas mutu seratnya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu Universitas Mulawarman dan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako.   Tahapan-tahapan penelitian ini, meliputi: a). Pengambilan sampel, b). Pengamatan ciri makroskopis, c). Pengamatan ciri anatomi mikroskopis, d). Pembuatan sediaan maserasi dan pengukuran dimensi serat. Ciri makroskopis kayu dengen memperlihatkan: bagian teras berwarna coklat tua-coklat pucat, gubal tidak termati. Jati-jari tampak sangat mencolok berupa gambar pita putus-putus pada bidang radial.   Tekstur sedang sampai kasar, arah serat lurus.   Kesan raba agak kesat dengan warna agak mengkilap dan tergolong kayu agak keras. Ciri mikroskopis kayu dengen memiliki pembuluh yang hampir seluruhnya soliter, parenkim aksial baur. Kayu dengen memiliki jari-jari dua tipe baring dan tegak, jari-jari multiseriate terdiri dari 3-6 sel. Ciri mikroskopisnya yaitu pengelompokan pori, frekuensi pori, tipe parenkim aksial dan komposisi jari-jari tidak bervariasi pada arah vertical dan radial; sedangkan panjang pori, diameter pori, tinggi dan lebar jari-jari serta panjang dan tebal dinding serat bervariasi pada arah vertical dan radial. Serat kayu dengen arah vertikal (pangkal, tengah dan ujung) dan radial (teras, perlaihan, gubal) tergolong dalam Kelas Mutu II.Kata kunci; Anatomi, kualitas serat, radial, vertical, mikroskopis, makroskopis
KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA MALEK KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Darwati, Herlina; Wibowo, Hari; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.73104

Abstract

Gastropods are soft-bodied animals that have a single shell. A good habitat for gastropods is the mangrove forest. The Malek Village Paloh District Sambas Regency has a mangrove forest managed by Malek Village community groups. The purpose of this study was to analyze data on the diversity of gastropod species in the mangrove forest of Malek Village, Paloh District, Sambas Regency. This research was conducted in the mangrove forest of Malek Village using the survey method and collects data from sampling plots in paths laid purposively and systematically. Data analysis conducted by this research is the species diversity index, species similarity index, species and relative abundance, species evenness index and dominance index. The results of observations found 4 families and 8 species of gastropods in the mangrove ecosystem. The gastropod species found were Cerithidea obtusa, Cerithidea cinggulata, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria melanostoma, Littoraria scabra, Clithon oualaniense and Neritina cornucopia. The diversity index of gastropod species on line 1 amounted to 1,127, line 2 amounted to 0,992, and line 3 amounted to 1,557, including in the medium category. The abundance index of gastropod species on line 1 amounted to 40,7, line 2 amounted to 13,8, and line 3 amounted to 30,4, including in the low category. The evenness index of gastropod species in line 1 was 0,700, line 2 was 0,617, and line 3 was 0,800, categorized as stable. The dominance index of gastropod species in line 1 was 0,3766, line 2 was 0,4663, and line 3 was 0,2609, categorized as low dominance. The similarity index of gastropod species in lanes 1 and 2 is 80%, lanes 1, 2 and 3 are 66,67%, which is categorized as high.Keywords: Gastropod Diversity, Malek Village, Mangrove Ecosystem, Salinity  AbstrakGastropoda adalah hewan bertubuh lunak yang memiliki cangkang tunggal. Habitat yang bagus untuk keberlangsungan tempat hidup gastropoda adalah hutan mangrove. Hutan mangrove Desa Malek Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas memiliki hutan mangrove yang dikelola oleh kelompok masyarakat Desa Malek. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis data keanekaragaman jenis gastropoda di hutan mangrove Desa Malek Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan metode survei dan pengumpulan data dari plot sampling dalam jalur yang diletakkan secara purposive dan sistematik. Analisis data yang dilakukan penelitian ini yaitu indeks keanekaragaman jenis, indeks kesamaan jenis, kelimpahan jenis dan relatif, indeks kemerataan jenis dan indeks dominansi. Hasil pengamatan ditemukan 4 famili dan 8 spesies gastropoda di ekosistem mangrove. Spesies gastropoda yang ditemukan yaitu Cerithidea obtusa, Cerithidea cinggulata, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria melanostoma, Littoraria scabra, Clithon oualaniense dan Neritina cornucopia. Indeks keanekaragaman jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 1,127, jalur 2 sebesar 0,992 dan jalur 3 sebesar 1,557 termasuk dalam kategori sedang. Indeks kelimpahan jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 40,7, jalur 2 sebesar 13,8, jalur 3 sebesar 30,4 termasuk dalam kategori rendah. Indeks kemerataan jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 0,700, jalur 2 sebesar 0,617 dan jalur 3 sebesar 0,800 dikategorikan stabil. Indeks dominansi jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 0,3766, jalur 2 sebesar 0,4663 dan jalur 3 sebesar 0,2609 dikategorikan dominasi rendah. Indeks kesamaan jenis gastropoda pada jalur 1 dan 2 sebesar 80%, jalur 2 dan 3 sebesar 66,67%, jalur 1 dan 3 sebesar 66,67% dikategorikan   tinggi.Kata kunci: Desa Malek, Ekosistem Mangrove, Keanekaragaman Gastropoda, Salinitas
PEMANFAATAN PANDAN DURI DAN SENGGANG SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Dirhamsyah, M; Yani, Ahmad; Yanti, Hikma; Bija, Yosanti Ester
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72338

Abstract

The people of Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency still carry out the use of plants as materials for woven crafts. This research aims to describe the use of pandan thorns and senggang as woven craft materials and the craft products produced by the people of Labian Village, Batang Lupar District. This research uses a survey method with data collection techniques using Snowball sampling. Data was obtained through observation and interviews with 16 respondents. The research results show that two types of plants are often used as woven material, namely, Pandan thorn (Pandanus tectorius) and Senggang (Hornstedtia reticulate). There are seven types of woven crafts produced from the Pandan duri plant, such as ale', kambu, iyut, alung-alung, singkara nest, kambu bara, and tolop bakam, while from the Senggang plant, six types of woven craft products are produced, namely baskets, lids, capan, mat, uyuyuk, and temuagan. The parts of the Pandan thorn and Senggang plants used as woven craft materials are the leaves and bark, and the processing is still in the traditional form.Keywords: Labian Village Community, Pandan Duri and Senggang, UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan anyaman masih dilakukan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pemanfaatan pandan duri dan senggang sebagai bahan kerajinan anyaman dan mendiskripsikan produk kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan Snowball sampling.   Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan jumlah responden sebanyak 16 orang. Berdasarkan hasil penelitian tumbuhan yang   dimanfaatkan sebagai bahan anyaman adalah Pandan duri (Pandanus tectorius), dan    Senggang (Hornstedtia reticulate). Kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tumbuhan Pandan duri sebanyak 7 jenis produk seperti  ale"™, kambu, iyut, alung- alung, sarang singkara, kambu bara, dan tolop bakam, sedangkan dari tumbuhan Senggang menghasilkan kerajinan anyaman sebanyak 6 jenis produk yaitu bakul, tutup benda, capan, tikar, uyuyuk, dan temuagan. Bagian tumbuhan Pandan duri dan Senggang yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman adalah daun dan kulit batang serta pengolahannya masih dalam bentuk tradisional. Kata kunci: Masyarakat Desa Labian, Pandan Duri dan Senggang, Pemanfaatan
JARAK SEBARAN AKAR LAKA (Dalbergia parviflora Roxb) DARI TEPI SUNGAI YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT DESA ULAK MEDANG KABUPATEN KETAPANG M, Iskandar A; Fariska, Rahmanisa Rizki; Munadian, Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.78792

Abstract

Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.) is a Non-Timber Forest Product (NTFP) that can be processed into various kinds of accessories and medicinal products, and can be used in worship activities.     Akar Laka is a type of liana that can be found in riverbank areas, which can support the community's economy through its utilisation activities.   This study aims to determine the distribution distance of Akar Laka from the riverbank starting from the first point of Akar Laka found and how far Akar Laka can still be found, and obtain information related to the harvesting technique carried out by the Ulak Medang Village Community, Ketapang Regency. The research method used was a survey method with data collecting technique consisting of interviews and observations, as well as measuring the distribution distance of Akar Laka in the field. The results showed that Akar Laka can be found at a distance of 150 metres to 250 metres from the banks of the Pawan River, with an altitude in the location ranging from 18 to 24 metres above sea level, with the harvesting technique applied by the Ulak Medang Village Community is by picking up dead Akar Laka parts that can be found in the ground, using traditional tools called Benas. The results of this study can be used as one of the data completeness for the initial mapping of the existence of Akar Laka in West Kalimantan, and can be the basis for determining regulations related to the sustainability of Akar Laka in the future.Keywords: Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.), Harvesting distribution,  Harvesting technique.AbstrakAkar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.) merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk aksesoris, dan obat-obatan, serta dapat digunakan dalam kegiatan peribadatan.     Akar Laka ialah sejenis liana yang dapat ditemui di area pinggiran sungai, yang dapat menunjang perekonomian masyarakat melalui pemanfaatannya.   Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak sebaran Akar Laka dari tepi sungai mulai dari titik pertama Akar Laka   ditemukan dan seberapa jauh Akar Laka masih dapat ditemukan, serta memperoleh informasi terkait teknik pemungutan yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Ulak Medang, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data yang terdiri dari wawancara dan observasi, serta pengukuran jarak sebaran Akar Laka di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan Akar Laka dapat ditemukan pada jarak 150 meter sampai dengan 250 meter dari tepi Sungai Pawan dengan ketinggian pada lokasi berkisar 18 sampai 24 meter dari permukaan laut, teknik pemungutan yang diterapkan oleh Masyarakat Desa Ulak Medang adalah dengan memungut bagian Akar Laka yang sudah mati yang dapat ditemukan di dalam tanah, dengan menggunakan alat tradisional yang disebut Benas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu kelengkapan data untuk pemetaan awal keberadaan Akar Laka di Kalimantan Barat, serta dapat menjadi landasan dalam penetapan peraturan terkait keberlangsungan Akar Laka dimasa mendatang. Kata Kunci: Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.), Sebaran pemungutan, Teknik  Pemungutan
VARIASI AKSIAL DAN RADIAL DIMENSI SERAT, SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU JABON (Neolamarckia cadamba Miq.) DI HUTAN RAKYAT KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA Ridho, Muhammad Rosyid; Marsoem, Sri Nugroho; Listyanto, Tomy; Sulistyo, Joko
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.76292

Abstract

Utilization of fast-growing wood species needs to be increased to support the sustainability of wood industry in Indonesia. Burflower (Neolamarckia cadamba Miq.) is a fast-growing wood species that widely planted in some community forest on Java Island recently, including in Yogyakarta. This study aims to provide information about burflower wood quality, based on its fiber dimension, physical and mechanical properties. The axial and radial variation of wood properties within stem in the axial and radial direction also examined. Three (3) free defects of burflower trees from community forest in Sleman regency, Yogyakarta, have been felled and cut into samples. The results show that green moisture content, air-dried density, and oven-dried density were varied in the axial direction. Meanwhile in the radial direction, fiber length, density, and static bending strength increase from the pith towards the bark. In contrast, green moisture content decreases from the pith towards the bark.Keywords: density, fast-growing, fiber length, modulus of elasticity, shrinkage.  AbstrakPemanfaatan jenis kayu cepat tumbuh perlu ditingkatkan untuk mendukung kelanjutan industri perkayuan di Indonesia. Jabon (Neolamarckia cadamba Miq.) adalah salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang banyak ditanam di hutan rakyat Pulau Jawa pada beberapa tahun terakhir, termasuk di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait kualitas kayu jabon di hutan rakyat, berdasarkan dimensi serat, sifat fisika dan mekanikanya. Variasi aksial dan radial sifat kayu dalam satu batang pohon juga diamati. Sebanyak 3 batang pohon jabon bebas cacat dari hutan rakyat di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ditebang dan dibuat sampel uji. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar air kering udara (KAKu), kerapatan kering udara (KKu), dan kerapatan kering oven (KKo) bervariasi pada arah aksial. Sementara itu pada arah radial, variasi terlihat pada panjang serat, kerapatan, dan kekuatan lengkung statis yang menunjukkan pola peningkatan dari empulur menuju kulit. Sebaliknya, kadar air segar menurun dari empulur menuju kulit.Kata kunci: cepat tumbuh, kerapatan, modulus elastisitas, panjang serat, penyusutan

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue