cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 2,161 Documents
PENGARUH PUPUK KANDANG KOTORAN BURUNG PUYUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PUTIH PADA TANAH ALUVIAL minarni, utin -; M.Sc, Ir. Nurjani; Sirojul S.Si, M.Sc, Akhmad Mulyadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.6802

Abstract

EFFECT OF QUAIL MANURE ON GROWTH AND YIELD OF WHITE MUSTARD ON ALUVIAL SOIL ABSTRACT Utin Minarni 1), Nurjani 2) and Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Student of Agriculture Faculty, Tanjungpura University 2) Lecturer of Agriculture Faculty, Tanjungpura University White mustard is one kind of vegetables favourite best by consumers and it have high nutrient content. This study aims to determine the dose of quail manure on growth and yield of white mustard on aluvial soil. The research carried out in the experimental farm of the faculty of agriculture Universitas Tanjungpura Pontianak. The study took place from September "“ October 2013. The method used was a completely randomized experimental design (CRD) with 1 factor, consisting of 6 treatments, 4 replications, each replication consisted of 3 samples of plants,so total of plant is 72 plants. Level treatment of quail manure that given was k0(without the quail manure), k1(200 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), K5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). With the observation variables, namely plant height (cm), number of leaves (blade), leaf area (cm2), plant fresh weight (g), and root volume (cm3). Quail Manure have no real effect on the obser vation of variables plant height, leaf number, leaf area and root volume. The giving of quail manure significant to fresh weight of plant. Keywords : Aluvial, Quail manure, White mustard Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah Aluvial ABSTRAK Utin Minarni1)Nurjani 2) dan Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura 2)Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Sawi putih merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari konsumen dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Sawi putih pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan dilingkungan kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian berlangsung pada September "“ Oktober 2013. Metode Penelitian yang digunakan adalah Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 Faktor, terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlahnya tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Dengan komposisi pemberian dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh sebagai berikut k0(0 g/polibek Puyuh Kandang Kotoran Burung Puyuh), k1(200 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh) dan k5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). Dengan variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar bagian tanaman (g) dan volume akar (cm3). Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sementara pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan berat segar bagian tanaman. Kata kunci : Aluvial, Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh, Sawi Putih PENDAHULUAN Sawi putih (Brassica juncea) sebagai tanaman horikultura merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak diminati dan disenangi masyarakat. Sawi ini sangat digemari oleh orang karena rasanya enak, daunnya lemas dan halus. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk serta kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi sayuran maka permintaan akan sayuran yang bernilai gizi tinggi dan permintaan akan jenis komoditi sayuran yang beraneka ragam semakin meningkatkan. Berdasarkan hal tersebut hendaknya dapat ditanggapi secara positif sebagai peluang untuk mengembangkan budidaya Sawi putih, dimana selain memiliki harga jual yang cukup tinggi, Sawi putih berumur singkat, dapat dipanen dalam waktu yang cepat sehingga dapat meningkatkan motivasi petani untuk mengembangkan usaha taninya. Pemanfaatan tanah aluvial untuk media tanam Sawi putih dihadapkan pada sejumlah kendala, yaitu tingkat kemasaman tanah tinggi, struktur tanah yang kurang baik, dan kandungan bahan organik rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah aluvial diantaranya adalah dengan pengapuran, pengolahan tanah yang baik, dan penambahan bahan organik. Pengapuran bertujuan untuk mengurangi kemasaman tanah, hingga diperoleh nilai pH tanah yang diperlukan oleh tanaman Sawi putih. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Penambahan bahan organik bertujuan untuk menambah kandungan bahan organik yang rendah pada tanah aluvial. Pupuk kandang kotoran burung puyuh merupakan kotoran yang berasal dari ternak burung puyuh yaitu berupa kotoran padat yang telah bercampur dengan urine dan sisa- sisa makan dikandang. Menurut Hermanudin (2002), pupuk kandang kotoran burung puyuh tergolong panas, hal ini terbukti dengan adanya hawa panas saat tumpukkan pupuk kandangnya siap dimatangkan. Selain timbulnya panas. Pupuk kandang kotoran burung puyuh ini baunya lebih menyengat dibandingkan dengan pupuk kandang kotoran ayam atau unggas lainnya. Bau yang menyengat tersebut dipengaruhi oleh kadar protein yang terkandung dalam makan cukup tinggi. Sawi putih menghendaki kondisi tanah yang subur dan gembur, pH 5,8. Berdasarkan kenyataan ini, pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh harus diperhatikan dosis pemberiannya agar tercapai efisiensi pemupukan. Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh dengan dosis yang terlalu rendah kurang berperan dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah aluvial. Jadi, pada dosis berapa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang efektif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil sawi putih? METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak selama 2 bulan mulai bulan September sampai bulan Oktober 2013. Bahan yang digunakan diantaranya polibek berukuran 40cm x 40cm, gelas plastik bekas air minum untuk tempat penyemaian benih, benih sawi putih, pupuk dasar, pupuk kandang kotoran burung puyuh, kapur dolomit. Alat yang digunakan adalah arit, cangkul, ember, ayakan tanah, meteran, termometer, handspayer, higrometer, leaf area meter, alat tulis menulis, alat dokumentasi, timbangan elektrik dan tabung ukur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola sederhana yang terdiri dari 1 faktor perlakuan, yaitu perlakuan pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlah tanaman seluruhnya adalah 72 tanaman. Adapun perlakuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah k0 = 0 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k1 = 200 g/ polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k2 = 400 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k3 = 600 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k4 = 800 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh k5 = 1000 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh PELAKSANAAN PENELITIAN Pelaksanaan penelitian diawali dengan membersihkan areal dari gulma dan sampah. Kemudian tanah dicangkul dengan kedalaman 0 "“ 20 cm, kemudian tanah diangkat dengan menggunakan ember, diamparkan untuk proses pengeringan kemudian tanah yang sudah dikeringkan lalu diayak. Polibek yang digunakan sebagai media penanaman sawi putih ukuran polibek 40 x 40 cm dan dilubangi dengan diameter 1,5 cm dan jarak tanam 20 x30 cm. Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh ditaburkan ke dalam polibek kemudian dicampur secara merata pada lapisan olah tanah dengan jumlah sesuai dengan perlakuan, setelah itu dilakukan pengapuran dan pemberian pupuk NPK dengan cara mencampurkan tanah olahan hingga merata, kemudian dilakukan inkubasi selama 2 minggu sebelum tanaman dipindahkan. Penanaman dilakukan pada umur semai 24 hari, kondisi fisik bibit sawi putih memiliki rata- rata 4-5 helai daun, dengan tinggi rata "“ rata 4 "“ 5 cm. Selama penelitian dilakukan pemeliharaan tanaman antara lain: penyiraman, penyulaman, penyiangan gulma dan pengendalian hama dan penyakit. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanam beserta akarnya dari media tanam secara hati "“ hati agar akarnya tidak putus, serta daun dan batang tidak sobek dan patah. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi tanaman (cm) Gambar 2. Tinggi Tanaman Sawi Putih Akhir Penelitian 2. Jumlah Daun ( helai ) Gambar 3. Jumlah Daun Tanaman Sawi Putih Tiap Perlakuan (helai) Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan jumlah daun tanaman sawi putih. Dosis pupuk kandang kotoran burung puyuh 800 g/polibek adalah dosis jumlah daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 6,2475 helai. 3. Luas Daun (cm2) Gambar 4. Analisis Luas Daun Pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (cm2) Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai luas daun sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah nilai luas daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 1047,5 cm2. Luas daun terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 442,5 cm2. 4. Berat Segar Per Tanaman (g) Untuk mengetahui taraf perlakuan yang memberikan perbedaan terhadap berat segar per tanaman maka dilakukan Uji BNJ yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Uji BNJ Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Berat Segar Per Tanaman (g) Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (g/polibek) Berat Segar Per Tanaman (g) (k0) 0 g/polibek 156,44 a (k1) 200 g/polibek 274,85 ab (k5) 1000 g/polibek 297,77 ab (k3) 600 g/polibek 305,95 ab (k2) 400 g/polibek 341,63 ab (k4) 800 g/polibek 463,78 b BNJ = 5% = 101,01 Ket : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan perlakuan tersebut berbeda tidak nyata pada Uji BNJ 5% Hasil Uji BNJ perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh terhadap berat segar per tanaman terlihat bahwa perlakuan pada dosis tanpa pupuk kandang kotoran burung puyuh berbeda tidak nyata terhadap perlakuan 200 g/polibek, 1000 g/polibek , 600 g/polibek dan 400 g/polibek, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan 800 g/polibek. Gambar 5. Berat Segar Per Tanaman Pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (g) Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai bobot segar per tanaman sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah nilai berat segar tertinggi pada penelitian ini yaitu 463,78 g. Berat segar terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 156,44 g. 5. Volume Akar ( cm3 ) Gambar 6. Rerata Volume Akar pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (cm3) Pembahasan Berdasarkan hasil analisis keragaman pada tabel 2,3,4 dan tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial berpengaruh tidak nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial pada penelitian ini berbeda nyata terhadap variabel pengamatan berat segar per tanaman sawi putih. Berpengaruh tidak nyatanya Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan volume akar diduga disebabkan karena pupuk kandang kotoran burung puyuh yang diberikan ke dalam tanaman dosisnya belum dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal, sehingga pengaruh dari masing "“ masing perlakuan masih belum terlihat jelas. Sementara berbeda nyata perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap berat segar per tanaman diduga pupuk kandang kotoran burung puyuh yang di berikan ke dalam tanaman dosisnya dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal. Menurut Sarief (1986), yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, tanaman harus mempunyai akar dan sistem perakaran yang luas serta untuk memperoleh unsur hara dan air sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Menurut Buckman (1982), kekurangan unsur N dan P dapat mempengaruhi pertumbuhan akar, unsur P yang terdapat pada bahan organik tidak begitu mudah dan cepat tersedia seperti unsur N. Unsur hara dalam bentuk yang tersedia lebih cepat terserap tanaman untuk digunakan dalam proses metabolisme sehingga akan memberikan respon terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain faktor hara yang diberikan, pertumbuhan tanaman sawi putih juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya seperti pH tanah, suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Suhu udara optimal untuk pertumbuhan sawi putih antara 19 °C - 21 °C. Rerata suhu udara selama penelitian berkisar antara 26,25 °C "“ 30,75 °C. Kelembaban udara relatif untuk pertumbuhan sawi putih adalah 80% - 90%. Rerata kelembaban udara selama penelitian 85,74%. Kondisi suhu udara dan kelembaban udara ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman sawi putih. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh dengan dosis 800 g/polibek (k4) dapat dikatakan sebagai dosis terbaik karena memberikan rerata tertinggi terhadap variabel pengamatan berat segar per tanaman.Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap pertumbuhan dan hasil sawi putih pada tanah aluvial, menunjukan berbeda nyata terhadap variabel berat segar per tanaman, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar.Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada dosis 600 g/polibek (k3) memberikan hasil yang berbeda tidak nyata dengan dosis yang lebih tinggi (1000 g/polibek) sehingga apabila dilihat dari segi efisiensi dosis 800 g/polibek dapat dijadikan sebagai dosis acuan. B. SaranBerdasarkan hasil penelitian, pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang efektif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil sawi putih pada dosis 800 g/polibek.Pemanfaatan pupuk kandang kotoran burung pada dosis 800 g/polibek perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk jenis tanaman yang sama pada jenis tanah yang berbeda ataupun untuk jenis tanaman dan tanah yang berbeda. Selain itupula diperlukan adanya penelitian lanjutan di lapangan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh terhadap tanaman yang dibudidayakan. DAFTAR PUSTAKA Buckman, H.O, dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman, Bharata Karya Aksara, Jakarta. Hermanudin. 2002. Pengaruh Limbah Crumb Rubber dan Kotoran Burung puyuh Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Pada Tanah Aluvial. Skripsi Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura: Pontianak. Tidak dipublikasikan. Sarief, E. S. 1986. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Pertanian. Universitas Panjadjaran Bandung.
ANALISIS FINANSIAL USAHA TERNAK SAPI POTONG DI DESA PASIR KECAMATAN MEMPAWAH HILIR KABUPATEN PONTIANAK Riawan, Zaka Mei; Nurliza, Nurliza; A. Yusra, Abdul Hamid
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.6858

Abstract

ABSTRAK Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usaha ternak sapi potong pada kelayakan usaha ternak sehingga dapat diketahui keterlanjutan investasi pada usaha yang menguntungkan. Tujuan penelitian adalah menganalisis kelayakan usaha ternak sapi potong yang ada di Desa Pasir Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak. Responden dipilih secara acak (simple random sampling) dengan tolak ukur utama pemilihan berupa skala usaha, berdasarkan kepemilikan jumlah sapi potong yang dimiliki oleh peternak sebanyak 44 orang. Metode analisis menggunakan 5 kriteria investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate Of Return (IRR), Payback Period (PP), dan Analisis Sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak sapi potong di Desa Pasir layak karena NPV yang diperoleh bernilai positif pada tingkat bunga 19% Net B/C Ratio sebesar 1,36, dan IRR sebesar 26,68%. Analisis Payback Period memerlukan waktu 4 tahun 2 hari dan Analisis Sensitivitas menunjukan bahwa kenaikan biaya operasional 7,5 % dengan asumsi benfit tetap NPV, Net B/C, IRR dan Payback Period layak untuk diusahakan. Hasil analisis finansial usaha ternak sapi potong yang paling menguntungkan yaitu pada jumlah ternak 7 ekor dibandingkan jumlah ternak 5, 6, dan 8. Kata Kunci : Analisis Finansial, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate Of Return (IRR), Payback Period (PP), dan Analisis Sensitivitas
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT LENGKENG PADA TANAH ULTISOL pabayo, perdian; purwaningsih, hj; rahayuni, hj tri
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.6875

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konesntrasi pupuk organik cair yang optimal pada pertumbuhan bibit tanaman lengkeng. Penelitian ini dilakukan di pembibitan tanaman Mitra Bibit,sejak10November 2013 sampai dengan 10 Februari 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu konsentrasi pupuk organik cair POC, dengan 6 taraf perlakuan yakni : (1) s0 kontrol ( tanpa pupuk organik cair) ; (2) s1( 2 ml/l); (3) s2( 4 ml/l); (4) s3(6 ml/l); (5) s4( 8 ml/l); (6) s5( 10 ml/l) terdiri dari 4 ulangan, setiap perlakuan dengan3 tanaman sampel. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi, panjang tunas entris(cm), pertambahan diameter batang (cm),dan pertambahan jumlah daun (helai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk organik cair (POC)memberikan pengaruh tidaknyata terhadap semua variabel pengamatan Kata kunci: Pupuk Organik Cair,Tanah Ultisol, Tanaman Lengkeng
Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah Aluvial Minarni, Utin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.6877

Abstract

ABSTRAK Utin Minarni1)Nurjani 2) dan Akhmad Mulyadi Sirojul 2) 1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura 2)Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Sawi putih merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari konsumen dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Sawi putih pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan dilingkungan kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian berlangsung pada September "“ Oktober 2013. Metode Penelitian yang digunakan adalah Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 Faktor, terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlahnya tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Dengan komposisi pemberian dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh sebagai berikut k0(0 g/polibek Puyuh Kandang Kotoran Burung Puyuh), k1(200 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh) dan k5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). Dengan variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar bagian tanaman (g) dan volume akar (cm3). Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sementara pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan berat segar bagian tanaman. Kata kunci : Aluvial, Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh, Sawi Putih
PENGARUH BOKASI AMPAS KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TERUNG PADA TANAH ULTISOL -, helda helda
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.6944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokasi ampas kelapa yang difermentasi dengan MOL sayuran dan mengetahui dosis pupuk ampas kelapa yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman terung pada tanah Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi Jalan Tanjung Raya II Gg Sari Mulya Pontianak, penelitian dilaksanakan dari tanggal 14 Januari 2014 sampai dengan tanggal 31 Maret 2014. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 1 faktor dengan 6 taraf perlakuan terdiri dari 4 ulangan, setiap ulangan terdapat 4 tanaman sampel. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman (cm), berat kering tanaman (g), volume akar (cm3), kadar kehijauan daun (Spad unit), jumlah buah pertanaman (buah), panjang buah (cm), berat buah pertanaman (g), diameter buah pertanaman (cm), luas daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk bokasi ampas kelapa dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terung. Kata kunci : Bokasi Ampas Kelapa, Mikro Organisme Lokal, Terung.
PENGARUH PANJANG ENTRIS DAN WAKTU PENYAMBUNGAN TERHADAP KEBERHASILAN SAMBUNG PUCUK PADA TANAMAN MANGGIS Pratama, Didiek; Wasi'an, Wasi'an; Budi, Setia
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7264

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui panjang entris yang ideal dan waktu sambung pucuk yang tepat terhadap tingkat keberhasilan sambungan yang terbaik pada perbanyakan bibit manggis. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan bibit buah tanaman di Jalan Tanjung Raya 2, Gg.H.Gani. Penelitian dilaksanakan mulai 11 Januari sampai 11 Maret 2014. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL), adapun faktor yang diteliti terdiri dari, panjang entris dengan kode (P), p1 dengan panjang entris 7.5cm, p2 dengan panjang entris 10cm, p3 dengan panjang entris 12.5cm, dan waktu penyambungan dengan kode (W), w1 pagi hari (07.00 "“ 09.00), w2 (11.00 "“ 13.00), w3 (15.00 "“ 17.00). Dari kedua perlakuan tersebut diperoleh 9 kombinasi perlakuan, yaitu, p1w1, p1w2, p1w3, p2w1, p2w2, p2w3, p3w1, p3w2, p3w3. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi persentase tanaman hidup (%), jumlah daun terbentuk (helai), pertambahan panjang tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan panjang entris dan waktu penyambungan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel persentase tanaman hidup dan variabel jumlah daun terbentuk, sedangkan perlakuan panjang entris berpengaruh nyata terhadap variabel pertambahan panjang tunas, sedangkan perlakuan waktu penyambungan dan interaksi antara panajng tunas dan waktu penyambungan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel pertambahan panjang tunas.
RESPON TANAMAN SAWI KERITING TERHADAP PEMBERIAN BOKASI PAKIS MERAH PADA TANAH ALLUVIAL alex, susanto; Sulistyowati, Henny; rohayeti, yeti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7284

Abstract

RESPON TANAMAN SAWI KERITING TERHADAP PEMBERIAN BOKASI PAKIS MERAH PADA TANAH ALLUVIAL Susanto Alex1) Henny Sulistyowati2) dan Yeti Rohayeti2) 1)Mahasiswa,2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan tanah dan bokasi pakis merah yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman sawi keriting pada tanah alluvial. Penelitian menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari lima taraf perlakuan diulang sebanyak lima kali, setiap ulangan terdiri dari tiga sampel tanaman. Perlakuan dalam penelitian ini adalah p0 = tanpa pemberian bokasi pakis merah, p1 = 1:1 setara dengan 3 kg tanah alluvial : 3 kg bokasi pakis merah/polybag, p2 = 2:1 setara dengan 4 kg tanah alluvial : 2 kg bokasi pakis merah/polybag, p3 = 3:1 setara dengan 4,5 kg tanah alluvial : 1,5 kg bokasi pakis merah/polybag, p4 = 4:1 setara dengan 4,8 kg tanah alluvial : 1,2 kg bokasi pakis merah/ polybag. Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah jumlah daun, berat segar tanaman, volume akar dan luas daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokasi pakis merah menghasilkan pengaruh nyata terhadap jumlah daun akhir penelitian dan berat segar tanaman sawi keriting, sedangkan terhadap volume akar dan luas daun memberikan pengaruh tidak nyata. Pemberian bokasi pakis merah dengan perbandingan 2 : 1 setara dengan 4 kg tanah alluvial dan 2 kg bokasi pakis merah/polybag merupakan perbandingan yang terbaik pada variabel jumlah daun akhir penelitian dan berat segar tanaman. Kata kunci : Bokashi pakis merah, sawi keriting, tanah alluvial. CURLY MUSTARD RESPONSEN AGAINT GRANTING BOKASI OF RED FERN ON ALLUVIAL SOIL Susanto Alex1) Henny Sulistyowati2) and Yeti Rohayeti2) 1)Student, 2)Lacturer of Agriculture Department Tanjungpura University. ABSTRAK This research aim to get the comparison soil and bokasi of red fern which the best growth and yield of collards curly in alluvial soil. This research use Completely Randomized Design ( CRD ) that consist of five extent treatment that is repeated five time, every repetitions consist of three plant sampe. The treament in question is p0 = without granting red fern bokasi, p1 = 1:1 equivalent to 3 kg alluvial soil : 3 kg bokasi of red fern/polibag, p2 = 2:1 equivalent to 4 kg alluvial soil : 2 kg bokasi of red fern/polibag, p3 = 3:1 equivalent to 4,5 kg alluvial soil : 2,5 kg bokasi of red fern/polibag, p4 = 4:1 equivalent to 4,8 kg alluvial soil : 1,2 kg bokasi of red fern/polibag. Variable of the observation in this research is the number of leaves, fresh plant weight, roots volume and leaf area. Result of research show that granting bokasi of red fern provide real effect on the number of leaves the end of research and the weight of fresh curly mustard, whereas against roots volume and leaf area give no effect unreal. The granting of bokasi of red fern by comparison 2:1 equivalent to 4 kg alluvial soil and 2 kg bokasi of red fern/polibag constitute comparison the best on the variabel of leaves numbers at the end of research and weight of fresh plant. Keyword : alluvial soil, bokasi of red fern, curly mustard.
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGGILINGAN PADI (RICE MILLING) DI KECAMATAN SEMPARUK KABUPATEN SAMBAS Musnita, Wiwik; Isytar, Ibrahim; A. Yusra, Abdul Hamid
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7444

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usaha penggilingan padi di Kecamatan Semparuk Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja yaitu di Kecamatan Semparuk dengan pertimbangan bahwa setiap desa di Kecamatan Semparuk merupakan salah satu daerah yang memiliki penggilingan padi yang cukup banyak di antara desa-desa pada kecamatan lain di Kabupaten Sambas. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 responden`. Pegambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha penggilingan padi di Kecamatan Semparuk Kabupaten Sambas layak untuk diusahakan. Nilai NPV yang diperoleh Rp. 77.749.127, IRR 48,89 persen, dan Net B/C Rasio 2,25. Adapun waktu pengembalian modalnya selama dua tahun lima bulan. Kenaikan biaya operasional (terutama bahan bakar solar) dan penurunan benefit (terutama produk beras) sebesar 6,97 persen (berdasarkan rata-rata inflasi Bank Indonesia tahun 2013) usaha ini tidak layak untuk diusahakan. Kata kunci: Analisis Kelayakan Finansial, Analisis Sensitivitas, Penggilingan Padi, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return (IRR)
PENGARUH TINGKAT SUPLEMENTASI SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI MI BASAH Dessy Pranita, Dessy; Lestari, Retno Budi; Priyono, Suko
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 2: Agustus 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i2.7454

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat suplementasi sawi hijau pada mi basah yang mempunyai sifat fisiko kimia dan sensori terbaik Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan yaitu suplementasi sawi hijau yang terdiri dari tujuh taraf perlakuan yaitu n0= 0%, n1= 25%, n2= 30%, n3= 35%, n4= 40%, n5= 45%, dan n6= 50%. Variabel yang diamati adalah karakter fisikokimia dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mi basah suplementasi sawi hijau yang dihasilkan memiliki kandungan air berkisar antara 36,74-45,07%, abu 0,77-2,27%, lemak 1,51"“3,08%, protein 10,03"“12,54%, dan karbohidrat 41,10-46,84%. Suplementasi sawi hijau berpengaruh nyata terhadap kadar air, dan kadar abu mi basah, namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat mi basah yang dihasilkan. Berdasarkan uji fisikokimia dan sensori, mi basah 35% sawi hijau menghasilkan nilai perlakuan (NP): 0,56 sebagai perlakuan terbaik dengan karakter fisikokimia yaitu kadar air 41,36%, abu 1,46%, lemak 2,78%, protein 10,92%, dan karbohidrat 43,46%. Hasil analisis sensori terbaik yaitu warna 4,25 (hijau), citarasa 4,53 (langu), tekstur 3,50 (agak kenyal), dan kesukaan 3,28 (agak suka). Kata kunci : Suplementasi, Sawi Hijau, Mi Basah.
Beberapa Cara Pematahan Dormansi Benih Padi Inpara prihatini, reni; Anggorowati, Dini; Palupi, Tantri
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 3: Desember 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.7456

Abstract

Benih padi merupakan bagian yang umum digunakan sebagai bahan tanam. Pada umumnya benih padi yang baru dipanen tidak dapat ditanam secara langsung, karena benih padi mengalami masa dormansi (after-ripening). Pematahan dormansi benih padi dapat dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan KNO3, air, dan dalam larutan MOL rebung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pematahan dormansi yang terbaik dan periode pematahan dormansi tercepat pada benih padi Inpara 3. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 April sampai 13 Juni 2014 di Laboratorium Agronomi dan Klimatologi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian menggunakan metode eksperimen rancangan petak terbagi (split-plot) dengan 2 faktor, dimana perlakuan pematahan dormansi (K), sebagai main plot dengan 4 taraf perlakuan yaitu kontrol (tanpa perendaman), perlakuan dengan perendaman KNO3 3% selama 24 jam, perendaman dengan air selama 24 jam, dan perendaman dalam larutan MOL rebung dengan konsentrasi 25 ml/liter selama 6 jam yang diulang sebanyak tiga kali dan periode pematahan dormansi (T), sebagai sub plot dengan waktu 1-8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan perendaman KNO3 3% selama 24 jam terbaik dan dapat mematahkan dormansi benih padi Inpara 3 dengan cepat yaitu 4 minggu setelah panen, selain itu perlakuan dengan KNO3 juga dapat meningkatkan daya berkecambah, keserempakan tumbuh, indeks vigor, kecepatan tumbuh, berat kering kecambah normal dan laju pertumbuhan kecambah. Kata kunci : Benih Padi, Dormansi, KNO3, MOL Rebung, Perendaman