cover
Contact Name
Yani Osmawati
Contact Email
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Ciledug, Petukangan Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12260
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Deviance: Jurnal Kriminologi
ISSN : 25803158     EISSN : 25803166     DOI : -
Core Subject : Social,
Deviance Jurnal Kriminologi (ISSN 2580-3158 for printed version and ISSN 2580-3166 Online version), is a peer-reviewed, open-access journal published by Universitas Budi Luhur. This journal publishes twice a year (June and December). Deviance Jurnal Kriminologi publishes articles on criminological Issue. The journal invites scholar to submit original articles from variety of persperctives (sociological, philosophical, geographical, psychological, jurisprudential, cultural, political, policy standpoints, etc), focusing on crime and society
Articles 117 Documents
Sexting in Teenagers: The Risk of Revenge Porn Threats in a Victimology Perspective Nurhadiyanto, Lucky
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.3512

Abstract

Technology development in the digital era has significantly changed social interaction patterns, including adolescent dating styles. One of the emerging phenomena is sexting, which is sending sexual content through digital media, which often leads to the threat of revenge porn. This study aims to understand the risk of revenge porn victimization in the context of victimology with a qualitative descriptive-exploratory approach. Data were collected through in-depth interviews with victims, observations, and review of related documents. The results of the study indicate that revenge porn is a form of Online Gender-Based Violence (OGV) driven by toxic relationships, where perpetrators use the victim's sexual content as a means of control or revenge. These findings also reveal the importance of digital literacy, legal protection, and the role of psychosocial counseling in preventing and handling revenge porn cases. This study highlights the need for a holistic approach involving legal, social, and educational aspects to protect victims and prevent this phenomenon. 
Strategi Kebijakan Penanganan Penelantaran Anak Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Gusnita, Chazizah
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.3505

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penelantaran anak korban dari Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Anak awalnya menjadi korban dari KDRT kedua orangtua. Karena kondisi keluarga yang berantakan, anak menjadi korban penelantaran sehingga dikhawatirkan menjadi pelaku kejahatan kekerasan yang berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji bagaimana upaya dan strategi penanganan anak menjadi korban penelantaran dari kondisi keluarga yang berantakan karena adanya kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan teori viktimisasi struktural dengan metode kualitatif yang melaksanakan wawancara kepada 2 sumber pembuat kebijakan penanganan anak menjadi korban penelantaran dan pelaku penelantaran tersebut. Hasil dari penelitian ini menjadi program kebijakan sebagai upaya meminimalisir terjadinya penelantaran anak yang sesuai dengan amanat UUD 1945 untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Reaksi Victim Blaming oleh Komunitas Gaming ‘Valorant’ di Media Sosial ‘X’ terhadap Pengalaman Kekerasan Seksual Pemain Perempuan Ardana, Ariza; Tjahyana, Jessica; Klose, Mikail; Maydita, Yovani Salsabila
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.3011

Abstract

Artikel ini membahas mengenai reaksi victim blaming oleh komunitas gaming ‘Valorant’ di media sosial ‘X’ terhadap pengalaman kekerasan seksual pemain perempuan. Artikel ini menggunakan komentar-komentar dari komunitas gaming di media sosial ‘X’ terhadap publikasi pengalaman kekerasan seksual perempuan dalam game Valorant dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Temuan data menunjukkan adanya reaksi-reaksi victim blaming dalam komentar yang diambil. Hasil analisis menggambarkan adanya kaitan victim blaming dengan nilai maskulinitas di dalam ruang game online.   
Faktor Determinan Tingkat Kriminalitas di Indonesia Tahun 2022 Ramadhani, Suci; Riyanti, Salwa; Aurellia, Alya Nisa'; Arlina, Dyah Nur; Kusuma, Lisa Dwijaya; Martono, Nanang
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.3417

Abstract

Kriminalitas di Indonesia meningkat, dengan laporan Badan Pusat Statistik menunjukkan 133.484 kasus pada 2021-2022; ini berbanding terbalik dengan penurunan tahun sebelumnya. Faktor utama penyebabnya adalah kondisi ekonomi, termasuk kemiskinan dan pengangguran. Ketimpangan pendapatan dan kepadatan penduduk juga berkontribusi, mendorong individu melakukan tindakan kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara faktor sosial dan tingkat kriminalitas.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data sekunder kuantitatif dengan menggunakan data kemiskinan, rata-rata pendapatan, pengangguran kepadatan penduduk, kriminalitas dari data BPS tahun 2022. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Sampel penelitian ini adalah data dari 34 provinsi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi yang dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kriminalitas di Indonesia pada tahun 2022. Hasil menunjukkan kepadatan penduduk berhubungan positif dengan kriminalitas, sementara kemiskinan, rata-rata pendapatan, dan pengangguran tidak berhubungan signifikan. Provinsi dengan kriminalitas tertinggi adalah Jawa Timur, sedangkan terendah di Maluku Utara. Kemiskinan dipengaruhi oleh akses pendidikan dan kesempatan kerja yang rendah.Penelitian menunjukkan bahwa kepadatan penduduk berhubungan positif dengan tingkat kriminalitas, sedangkan kemiskinan, rata-rata pendapatan, dan pengangguran tidak berkorelasi signifikan. Meningkatnya kepadatan penduduk dapat memicu masalah sosial dan ekonomi, yang pada gilirannya meningkatkan kriminalitas. Variabel lain mungkin dipengaruhi faktor kompleks yang tidak langsung memengaruhi tindakan kriminal dalam masyarakat.
Strategi Coping pada Narapidana Perempuan yang sedang Menjalani Hukuman: Literature Review Yanti, Made; Tobing, David Hizkia
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2757

Abstract

Narapidana merupakan seorang yang sedang menjalani pidana penjara untuk waktu tertentu dan seumur hidup atau terpidana mati yang sedang menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan. Perempuan yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan lebih rentan mengalami masalah psikologi dengan prevalensi lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sehingga narapidana perempuan memerlukan strategi coping untuk mengatasi masalah internal dan eksternal. Literature Review ini bertujuan untuk mengetahui strategi coping yang digunakan narapidana perempuan yang sedang menjalani hukuman. Kajian literatur dilakukan secara komprehensif pada 10 artikel yang menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan rentan waktu 8 tahun terakhir (2015-2023). Hasil literature review menunjukkan terdapat 4 strategi coping yang digunakan narapidana perempuan yaitu coping religius, coping stress, emotion focused coping dan problem focused coping. Temuan dari literature review ini adalah strategi coping yang dominan digunakan narapidana perempuan selama menjalani masa hukuman adalah emotion focused coping yang disesuaikan dengan emosi yang dirasakan seperti mendekatkan diri kepada tuhan dengan rajin melakukan ibadah.
Altruistic Suicide Committed by Terrorist Cyrena Temaluru; Adrianus Eliasta Meliala
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4293

Abstract

Altruistic suicide is a term introduced by Durkheim in his monograph Suicide, which emphasizes the high level of integration between the actor of suicide and his/her social group. Meanwhile, if we look at the altruistic concept, it is the highest self-actualization concept of an adult by being useful to other people, which this concept becomes a golden moral in some cultures and dogma. These concepts conflict when we put them into the terrorism concept, which already took victims other than the perpetrators himself/herself, not only combatants but also civilians. This study aims to determine whether suicide committed by a terrorist is altruistic suicide from a criminological point of view. This study used a qualitative method by conducting semi-structured interviews with academic and practitioner observers and conducting a literature study of suicide cases by terrorists in Indonesia. As a result, it was found that altruistic suicide in terrorism was specific altruistic, which is a product of social construction in terrorist groups, where they produce a high level of integration that encourages someone to sacrifice his or her life for the benefit of his or her group and destruction for other groups.
Analisis Flexing sebagai Bentuk Ekspresi Kekerasan Simbolik dalam Media Sosial Instagram Muhammad Elrazy; Chazizah Gusnita
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4644

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah mendorong munculnya fenomena “flexing” sebagai praktik menampilkan kekayaan, gaya hidup, dan simbol status sosial guna memperoleh pengakuan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik flexing sebagai bentuk ekspresi kekerasan simbolik dalam arena media sosial Instagram dengan menggunakan perspektif teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengguna Instagram yang melakukan praktik Flexing dan seorang ahli sosiologi, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Flexing tidak lagi sekadar menjadi bentuk hiburan atau ekspresi diri, tetapi telah berkembang menjadi mekanisme kekerasan simbolik yang bekerja secara halus melalui representasi kemewahan, keberhasilan, dan status sosial. Praktik tersebut membentuk standar sosial baru yang mendorong individu untuk mengejar legitimasi dan pengakuan melalui akumulasi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Penelitian ini juga menemukan tiga pola utama Flexing, yaitu komodifikasi modal ekonomi artifisial, pemanfaatan modal budaya, dan eksploitasi modal sosial sebagai strategi untuk memperoleh prestise di ruang digital. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya perilaku konsumtif, tekanan psikologis, serta reproduksi ketimpangan simbolik di masyarakat digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Instagram telah menjadi arena reproduksi kekuasaan simbolik yang menormalisasi dominasi melalui simbol-simbol kemewahan, sehingga diperlukan peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu memahami dan mengkritisi praktik flexing secara lebih reflektif.
Kebijakan Green Policing Polda Riau di Kota Pekanbaru: Analisis Penanggulangan Permasalahan Sampah dengan Pendekatan Green Criminology Rio Tutrianto; Vici Sofianna Putera; Arif Hakim; Hanifa Halim
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4534

Abstract

Praktik pembuangan sampah ilegal, pengangkutan tidak resmi, serta lemahnya distribusi layanan pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru menunjukkan adanya dimensi sosial, hukum, dan tata kelola yang berkaitan dengan environmental harm. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika implementasi Green Policing oleh Polda Riau dalam penanggulangan pembuangan sampah ilegal di Kota Pekanbaru serta menjelaskan batas dan peluang pengembangannya melalui perspektif green criminology dan Responsive Regulation. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen kebijakan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensifikasi patroli lingkungan dan penindakan terhadap praktik pembuangan ilegal berkontribusi pada penurunan titik pembuangan sampah ilegal dari 23 titik menjadi 14 titik, atau turun sebesar 39%. Temuan ini menunjukkan bahwa kepastian pengawasan dan peningkatan visibilitas aparat dapat mendorong kepatuhan awal. Namun, masih tersisanya 14 titik pembuangan ilegal menunjukkan bahwa persoalan tidak dapat dijelaskan hanya melalui lemahnya sanksi atau kurangnya penindakan. Hambatan utama terletak pada belum meratanya layanan pengangkutan, keterbatasan fasilitas pembuangan resmi, lemahnya koordinasi antaraktor, serta keberadaan praktik ekonomi informal dalam pengelolaan sampah. Oleh karena itu, Green Policing perlu dikembangkan melalui prinsip Responsive Regulation, yaitu respons bertahap yang dimulai dari perbaikan fasilitas, edukasi, persuasi, pengawasan, teguran, hingga penindakan terhadap pelanggaran yang berulang, disengaja, atau terorganisasi. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Green Policing tidak cukup diposisikan sebagai instrumen represif, tetapi perlu dibangun sebagai model penegakan hukum lingkungan yang kolaboratif, proporsional, dan berkeadilan ekologis.
Law Enforcement and Victim Protection in Online Gender-Based Violence: A Case Study of The Distribution of Public Figures’ Private Content in Indonesia Shafira Dita Sasmita; Chisa Belinda Harahap
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4538

Abstract

This study examines law enforcement and victim protection in cases of online gender-based violence, particularly the non-consensual distribution of public figures’ private content in Indonesia. Using a qualitative case study approach, the research analyzes how digital space transformation has intensified new forms of social harm, including violations of privacy, dignity, and human rights. The findings reveal that victims experience multidimensional impacts such as psychological distress, social stigma, and marginalization, while perpetrators exploit anonymity and rapid information dissemination to evade accountability. Although Indonesia has established legal frameworks to address cybercrime, gaps remain in implementation, victim protection mechanisms, and institutional responsiveness. From a sociological perspective, law is not only a normative system but also a social instrument that must adapt to digital dynamics. This study highlights the need for more adaptive legal enforcement, integrated institutional coordination, and victim-centered protection policies to ensure justice and strengthen public trust in the legal system within the digital era.
Peran Interpol dalam Fasilitasi Kerja Sama Indonesia – Thailand terkait Penanganan Kejahatan Narkotika Transnasional: Perspektif Teori Rezim Internasional Nazya Zahwa Purinjani; Widiandaru Wiryawan; Diah Puji Astuti; Arief Rahman Hakim
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4544

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran Interpol dalam memfasilitasi kerja sama antara Indonesia dan Thailand untuk menangani kejahatan narkotika lintas negara yang menjadi ancaman serius akibat globalisasi dan perkembangan di kawasan Golden Triangle. Berdasarkan teori rezim internasional, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana norma, aturan, dan prosedur yang difasilitasi oleh Interpol membentuk kerangka kolaborasi antara kedua negara. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan yuridis-normatif dan deskriptif-analitis, didukung oleh data primer (wawancara) dan data sekunder (dokumen resmi dan laporan lembaga). Hasil temuan dan diskusi menunjukkan bahwa Interpol memiliki peran penting sebagai fasilitator pertukaran informasi intelijen melalui sistem I-24/7 dan penerbitan red notice, yang terbukti efektif dalam pelacakan dan penangkapan pelaku lintas negara, seperti Chaowalit Thongduang. Selain itu, Interpol mendukung operasi gabungan dan penguatan kapasitas hukum melalui MoU. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kesamaan persepsi ancaman narkoba (norma), penggunaan sistem I-24/7 dan red notice (aturan), serta koordinasi melalui NCB Jakarta dan NCB Bangkok (prosedur) menjadikan kerja sama Indonesia dan Thailand stabil, berkelanjutan, dan efektif dalam menanggulangi kejahatan transnasional.

Page 11 of 12 | Total Record : 117