cover
Contact Name
Boby Rahman
Contact Email
kajianruangplanologi@unissula.ac.id
Phone
+6285233945781
Journal Mail Official
kajianruangplanologi@unissula.ac.id
Editorial Address
Jl Kaligawe Raya Km 4, Gedung Fakultas Teknik Lantai 2 Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50112
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kajian Ruang
ISSN : -     EISSN : 28277678     DOI : http://dx.doi.org/10.30659/jkr.v1i2
Core Subject : Social, Engineering,
Articles written for the Jurnal Kajian Ruang, covering the results of thoughts and research results relating to the field of study urban and regional planning directly or indirectly. 1) Spatial planning 2) Remote Sensing 3) Urban Design 4) Transportation 5) Infrastructure 6) Environmental Studies 7) Socio-Economic Area and City 8) Rural Planning 9) Disaster Mitigation 10) Islamic City
Articles 90 Documents
Transformasi Ruang Pasca Konflik Sosial di Kecamatan Sirimau, Ambon (1999 - 2024) Putra, Erianda; Berhitu, Pieter Th; Rasyid, Risal
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.45229

Abstract

ABSTRACTBefore 1999, Sirimau District was characterized by a religiously diverse population. In 1999, a horizontal conflict with ethno-religious dimensions (SARA) erupted, leading to substantial transformations in social spaces defined here as areas that facilitate everyday social practices. This study examines the transformation of these spaces across three phases: before the conflict (pre-1999), during the conflict (1999-2004), and after the conflict (2005–2024). A qualitative case study approach was employed, incorporating empirical-descriptive analysis, spatial-temporal methods, participatory mapping, and both synchronic and diachronic perspectives to trace spatial changes over time. The findings reveal that the conflict triggered both physical and non-physical transformations of social space, and new social spaces also emerged during the conflict period. These changes occurred gradually, evolving alongside the phases of the conflict. This study contributes to the understanding of post-conflict urban transformation in Eastern Indonesia, highlighting the emergence of new social spaces and spatial reconfigurations as mechanisms of informal reconciliation.Keywords: Ambon Conflict, Post-Conflict Transformation, Socio-Spatial Segregation, ABSTRAKKecamatan Sirimau sebelum tahun 1999 memiliki penduduk dengan latar belakang agama yang beragam. Pada tahun 1999 terjadi konflik horizontal bernuansa SARA yang mengakibatkan transformasi pada ruang-ruang sosial. Ruang Sosial sendiri merupakan ruang yang mewadahi aktivitas sehari-hari masyarakat (spatial practise). Oleh sebab itu dalam penelitian ini akan menganalisis bagaimana transformasi ruang sosial tersebut, yang akan dikaji dalam 3 (tiga) tahapan yakni sebelum konflik (sebelum tahun 1999), saat masa konflik (tahun 1999-2004), dan sesudah konflik (tahun 2005-2024). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Alat analisis yang digunakan yaitu, deskriptif empiris, spatial temporal, partisipatory mapping, serta sinkronik dan diakronik untuk mendapatkan gambaran informasi tentang perubahan ruang sosial mulai dari sebelum konflik tahun 1999 hingga sesudah konflik. Temuan dari penelitian ini adalah ruang sosial mengalami transformasi akibat adanya konflik sosial, mulai dari transformasi secara fisik maupun non fisik, selain itu terdapat ruang sosial baru yang muncul saat konflik terjadi. Proses transformasi ruang sosial terjadi tidak secara spontan, melainkan mengalami perubahan secara bertahap seiring dengan fase konflik yang terjadi. Penelitian ini berkontribusi dalam menjelaskan transformasi perkotaan pasca-konflik di Indonesia Timur melalui kemunculan ruang sosial baru dan penataan ulang spasial sebagai bentuk rekonsiliasi informal.Kata kunci: Konflik Ambon, Segregasi Sosio Spasial, Transformasi Pasca Konflik
Analisis Pengaruh Kecepatan Penutupan Katup terhadap Ketahanan Infrastruktur Sistem Distribusi Air Perkotaan (Studi Kasus SPAM Sepaku) Sani, Gavin A; Niam, Moh Faiqun; Poedjiastoeti, Hermin
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.50496

Abstract

ABSTRAK Sistem penyediaan air minum perkotaan menghadapi tantangan dalam menjaga keandalan layanan dan ketahanan infrastruktur, terutama pada jaringan distribusi dengan perbedaan elevasi signifikan dan konfigurasi sistem yang kompleks. Salah satu risiko operasional utama adalah fenomena water hammer yang berpotensi merusak pipa dan mengganggu kontinuitas layanan air bersih. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kecepatan penutupan katup terhadap tekanan puncak water hammer serta implikasinya terhadap keandalan sistem distribusi air perkotaan. Studi kasus dilakukan pada Jaringan Distribusi Utama dan Pembagi Sub-WP 1B dan 1C SPAM Sepaku menggunakan pipa baja dan HDPE. Simulasi numerik dilakukan menggunakan perangkat lunak Bentley OpenFlows HAMMER dengan Metode Karakteristik (MOC) untuk memodelkan perilaku hidraulik transien. Variasi waktu penutupan katup 30, 60, dan 120 detik dianalisis untuk mengevaluasi fluktuasi tekanan dan respons sistem. Hasil menunjukkan bahwa penutupan katup yang lebih cepat meningkatkan tekanan puncak dan ketidakstabilan sistem. Pada skenario 30 detik, tekanan maksimum mencapai 17,0 bar dengan tekanan minimum -0,6 bar yang mengindikasikan risiko kavitasi tinggi. Skenario 120 detik menurunkan tekanan maksimum menjadi 13,8 bar dan menghasilkan profil tekanan yang lebih stabil. Waktu penutupan 60-120 detik direkomendasikan sebagai rentang operasional optimal untuk memitigasi risiko transien. Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian operasional penutupan katup tidak hanya merupakan persoalan teknis hidraulik, tetapi juga bagian strategis dalam meningkatkan ketahanan infrastruktur dan menjaga keberlanjutan layanan air perkotaan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi perencanaan utilitas jangka panjang, manajemen infrastruktur, serta perumusan kebijakan operasional SPAM pada sistem distribusi berbasis gravitasi dengan perbedaan elevasi tinggi.Kata kunci: water hammer, penutupan katup, ketahanan infrastruktur, layanan air perkotaan, manajemen SPAM. ABSTRACT Urban water supply systems face increasing challenges in maintaining service reliability and infrastructure resilience, particularly in areas with significant elevation differences and complex distribution networks. One critical operational risk is water hammer, which can threaten pipe integrity and disrupt urban water services. This study evaluates the effect of valve closure speed on peak water hammer pressure and its implications for the reliability of urban water distribution infrastructure. The case study focuses on the Main and Sub-Distribution Networks (Sub-WP 1B and 1C) of the Sepaku Water Supply System (SPAM Sepaku), utilizing steel and HDPE pipelines. Numerical simulations were conducted using Bentley OpenFlows HAMMER with the Method of Characteristics (MOC) to model transient hydraulic behavior. Valve closure durations of 30, 60, and 120 seconds were analyzed to assess pressure fluctuations and system response. The results show that faster valve closures significantly increase peak pressure and system instability. In the 30-second scenario, peak pressure reached 17.0 bar with a minimum pressure of –0.6 bar, indicating high cavitation risk. In contrast, the 120-second scenario reduced peak pressure to 13.8 bar and improved pressure stability. A closure duration of 60–120 seconds is identified as the optimal operational range to mitigate transient risks. These findings demonstrate that operational control of valve closure is not only a hydraulic issue but also a strategic component in enhancing infrastructure resilience and ensuring sustainable urban water service delivery. The study provides practical implications for long-term utility planning, infrastructure management, and policy formulation in SPAM operation, particularly in systems with high elevation gradients and gravity-based distribution.Keywords: water hammer, valve closure, infrastructure resilience, urban water service, SPAM management.
ANALISIS STABILITAS TANAH DENGAN PENERAPAN RIGID INCLUSION PADA FENOMENA LIKUIFAKSI DI YOGYAKARTA INTERNASIONAL AIRPORT Apriyadi, Twe Endo M; Sulaeman, Agus
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.51097

Abstract

ABSTRACTYogyakarta International Airport (YIA), located in a coastal alluvial area, is characterized by loose saturated sandy soils with high susceptibility to earthquake-induced liquefaction. Although rigid inclusion (RI) has been widely applied as a ground improvement method, its effectiveness in optimizing spacing configuration for liquefaction mitigation under site-specific conditions such as YIA has not been comprehensively evaluated. This study aims to assess the liquefaction potential beneath the runway area and to evaluate the performance of rigid inclusion with different spacing configurations. A two-dimensional dynamic numerical analysis was conducted using PLAXIS 2D under a Peak Ground Acceleration (PGA) of 0.30 g. Four modeling scenarios were analyzed: without reinforcement and with rigid inclusion spacing of 3 m, 2.5 m, and 2 m. The results indicate that the unreinforced condition exhibits severe liquefaction potential, characterized by excess pore pressure ratio (RU) exceeding 1.0 and a safety factor (SF) below 1.0. The installation of rigid inclusion significantly reduces pore pressure development and improves soil stability. The most effective configuration is achieved at 2 m spacing, resulting in RU reduction to 0.19 and an increase in SF up to 5.29. These findings demonstrate that closer rigid inclusion spacing substantially enhances liquefaction resistance and provide a practical basis for optimizing ground improvement design in liquefaction-prone airport infrastructure.Keywords: liquefaction mitigation, rigid inclusion, soil stabilization, numerical modeling, PLAXIS 2D. ABSTRAKYogyakarta International Airport (YIA) yang berlokasi pada kawasan aluvial pesisir dicirikan oleh tanah pasir lepas jenuh air dengan kerentanan tinggi terhadap likuifaksi akibat gempa bumi. Meskipun rigid inclusion (RI) telah banyak diterapkan sebagai metode perbaikan tanah, efektivitasnya dalam mengoptimalkan konfigurasi jarak pemasangan untuk mitigasi likuifaksi pada kondisi tanah spesifik seperti di YIA belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai potensi likuifaksi di bawah area runway serta mengevaluasi kinerja rigid inclusion dengan variasi jarak pemasangan. Analisis numerik dinamis dua dimensi dilakukan menggunakan PLAXIS 2D dengan pembebanan gempa sebesar Peak Ground Acceleration (PGA) 0,30 g. Empat skenario pemodelan dianalisis, yaitu tanpa perkuatan serta dengan rigid inclusion berjarak 3 m, 2,5 m, dan 2 m. Hasil menunjukkan bahwa kondisi tanpa perkuatan memiliki potensi likuifaksi yang tinggi, ditandai dengan rasio tekanan air pori berlebih (RU) melebihi 1,0 dan faktor keamanan (SF) kurang dari 1,0. Penerapan rigid inclusion secara signifikan mampu menekan perkembangan tekanan air pori dan meningkatkan kestabilan tanah. Konfigurasi paling efektif diperoleh pada jarak 2 m dengan penurunan RU hingga 0,19 dan peningkatan SF mencapai 5,29. Temuan ini menunjukkan bahwa jarak rigid inclusion yang lebih rapat secara substansial meningkatkan ketahanan terhadap likuifaksi serta memberikan dasar praktis dalam optimasi desain perbaikan tanah pada infrastruktur bandara di kawasan rawan likuifaksi.Kata Kunci: liquefaction mitigation, rigid inclusion, soil stabilization, numerical modeling, PLAXIS 2D. 
Re-Engineering Pada Proyek Pembangunan Sarana Prasarana Pemerintahan II di Ibu Kota Negara Suryono, Adi; Wibowo, Kartono
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.50375

Abstract

ABSTRAK Pemindahan ibu kota negara ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan proyek pembangunan strategis nasional yang memiliki tingkat kompleksitas konstruksi tinggi serta target waktu pelaksanaan yang ketat, khususnya pada pembangunan bangunan Istana dan Kantor Wakil Presiden. Kondisi tersebut menuntut penerapan metode pelaksanaan yang efektif dan efisien untuk menjamin pencapaian target mutu, waktu, dan biaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan re-engineering pada pekerjaan struktur beton, khususnya pekerjaan plat lantai, melalui evaluasi metode pengecoran dan bekisting. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tahapan re-engineering yang meliputi tahap informasi, kreatif, analisis, dan rekomendasi. Identifikasi pekerjaan kritis dilakukan menggunakan Breakdown Cost Model dan analisis Pareto, sedangkan evaluasi alternatif metode dilakukan melalui analisis waktu–biaya berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), analisis harga satuan pekerjaan, serta perbandingan durasi pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode bekisting sistem dan beton ready mix dengan concrete pump yang ditambahkan aditif superplasticizer Sika Viscocrete 8007 merupakan alternatif paling optimal. Penerapan metode tersebut mampu mengurangi durasi pekerjaan sebesar 66 hari dibanding metode eksisting serta menghasilkan efisiensi biaya sebesar Rp327.419.470,00 tanpa menurunkan mutu pekerjaan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan re-engineering metode konstruksi dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek infrastruktur pemerintahan dan mendukung percepatan pembangunan kawasan inti pemerintahan secara lebih efektif.Kata Kunci: Ibu Kota Nusantara (IKN), percepatan pekerjaan, metode kerja beton, ready mix concrete, superplasticizer, bekisting semi sistem. ABSTRACT The relocation of Indonesia’s capital city to the Nusantara Capital City (IKN) represents a strategic national development project characterized by high construction complexity and strict completion targets, particularly in the construction of the State Palace and the Vice Presidential Office buildings. These conditions require effective and efficient construction methods to ensure the achievement of quality, time, and cost targets. This study aims to analyze the implementation of re-engineering in concrete structural works, specifically floor slab construction, through the evaluation of casting and formwork methods. The research employs a quantitative approach using re-engineering stages consisting of information, creative, analysis, and recommendation phases. Critical work items were identified using the Breakdown Cost Model and Pareto analysis, while alternative methods were evaluated through time–cost analysis based on the Bill of Quantities (BOQ), unit price analysis, and schedule comparison. The results indicate that the combination of system formwork and ready-mix concrete using a concrete pump with the addition of the superplasticizer Sika Viscocrete 8007 is the most optimal alternative method. The implementation of this method reduces project duration by 66 days and achieves cost efficiency of IDR 327,419,470 compared to the existing method without compromising construction quality. These findings demonstrate that the application of construction method re-engineering can significantly improve project efficiency and support the acceleration of government infrastructure development within the core administrative area.Keywords:Nusantara Capital (IKN), construction acceleration, concrete work methods, ready-mix concrete, superplasticizer, semi-system formwork.
Penentuan Zona Nilai Jual Lahan Berbasis Aplikasi Sistem Informasi Geografis Fathoni, Mohamad Maulana; Widyasamratri, Hasti
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.47100

Abstract

ABSTRACTDetermining land value zones is essential today, as rapid regional development and economic growth have led to high demand for land, especially in urban and developing areas. Therefore, mapping land value zones can help establish priority development zones, prevent land price speculation, and protect areas that are unsuitable for development, such as disaster-prone areas or protected areas. The use of Geographic Information Systems in this study is highly relevant, as these applications can efficiently manage spatial data and support decision-making in regional planning. This study found that the most influential factors determining land value zones are land use type, accessibility, and facility completeness. The methods used include spatial overlay, buffering, scoring, and weighting. This study recommends periodic updates of land value data and strengthening the integration of Geographic Information Systems in licensing and land policy systems in order to achieve adaptive and sustainable urban development.Keywords: Land Value Zone Map, Geographic Information System, Determining Factors  ABSTRAKPenentuan zona nilai lahan sangat diperlukan pada masa sekarang, karena dinamika pembangunan wilayah dan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat telah menyebabkan tingginya permintaan terhadap lahan, terutama di kawasan perkotaan dan daerah berkembang. Oleh karena itu, dengan adanya pemetaan zona nilai lahan, dapat menetapkan zona – zona prioritas pembangunan, menghindari spekulasi harga tanah, serta melindungi kawasan yang tidak layak bangun, seperti daerah rawan bencana atau kawasan lindung. Penggunaan Sistem Informasi Geografis dalam penelitian ini sangat relevan, karena aplikasi tersebut dapat mengelola data spasial secara efisien dan mendukung dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan wilayah. Penelitian ini menemukan faktor penentu zona nilai lahan yang paling berpengaruh yaitu jenis pengunaaan lahan, Aksebilitas, dan kelengkapan fasilitas. Metode yang digunakan antara lain, overlay spasial, buffering, skoring harkat, dan pembobotan. Penelitian ini merekomendasikan pembaruan data nilai lahan secara berkala dan penguatan integrasi Sistem Informasi Geografis dalam sistem perizinan dan kebijakan pertanahan demi tercapainya Pembangunan kota yang adaptif dan berkelanjutan.Kata kunci : Peta Zona Nilai Lahan, Sistem Informasi Geografis, Faktor Penentu
Analisis Kesesuaian Lahan untuk Berbagai Komoditas Pertanian dalam Meningkatkan Produktivitas Lahan: Kajian Literatur Komparatif Nugroho, Farid Nugroho; Yuliani, Eppy; Rahman, Boby
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.36653

Abstract

ABSTRAKSektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan nasional. Namun, ketidaksesuaian antara karakteristik lahan dan komoditas yang dibudidayakan masih menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas lahan serta terjadinya degradasi lingkungan di berbagai wilayah. Meskipun analisis kesesuaian lahan telah banyak dilakukan, sebagian besar studi masih bersifat parsial dan belum mensintesis faktor-faktor kunci yang secara komprehensif menentukan tingkat kesesuaian lahan dalam konteks pembangunan pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan berbagai studi kesesuaian lahan pertanian guna mengidentifikasi pola faktor penentu, karakteristik pembatas, serta strategi peningkatan kesesuaian lahan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Metode yang digunakan adalah kajian literatur komparatif terhadap sejumlah penelitian terdahulu yang relevan dengan evaluasi kesesuaian lahan berbasis karakteristik fisik, kimia, topografi, serta aspek sosial-ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor utama yang menentukan tingkat kesesuaian lahan meliputi kondisi iklim (curah hujan dan temperatur), sifat fisik dan kimia tanah, serta kemiringan lereng. Faktor pembatas diklasifikasikan menjadi faktor yang dapat diperbaiki (drainase, retensi hara, unsur hara, dan erosi) dan faktor yang tidak dapat diperbaiki (temperatur dan curah hujan). Perbaikan terhadap faktor pembatas yang bersifat teknis terbukti meningkatkan kelas kesesuaian lahan dari aktual menjadi potensial. Secara konseptual, studi ini menegaskan bahwa analisis kesesuaian lahan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen teknis evaluasi biofisik, tetapi juga sebagai dasar strategis dalam perencanaan pengembangan wilayah pertanian yang berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi dalam memperkuat integrasi antara evaluasi kesesuaian lahan dan kebijakan perencanaan pertanian berbasis daya dukung lingkungan guna meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan petani.Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Produktivitas Pertanian, Faktor Pembatas, Evaluasi Lahan, Perencanaan WilayahABSTRACTThe agricultural sector plays a strategic role in national economic development and food security. However, the mismatch between land characteristics and cultivated commodities remains a major cause of low land productivity and environmental degradation in many regions. Although numerous land suitability studies have been conducted, most remain fragmented and lack a comprehensive synthesis of key determining factors within the framework of sustainable agricultural development. This study aims to comparatively review previous land suitability assessments to identify dominant determining factors, limiting constraints, and improvement strategies that enhance land productivity. A comparative literature review method was employed by analyzing selected studies focusing on land evaluation based on physical, chemical, topographic, and socio-economic characteristics. The findings indicate that climatic conditions (rainfall and temperature), soil physical and chemical properties, and slope gradient are the primary determinants of land suitability. Limiting factors are classified into improvable factors (drainage, nutrient retention, nutrient availability, and erosion risk) and non-improvable factors (temperature and rainfall). Technical interventions addressing improvable constraints can elevate actual land suitability to potential suitability levels. Conceptually, this study highlights that land suitability analysis should not be viewed merely as a biophysical evaluation tool but as a strategic instrument for sustainable agricultural spatial planning. The findings contribute to strengthening the integration of land evaluation and regional agricultural planning policies to enhance land productivity and farmers’ welfare.Keywords: Land Suitability, Agricultural Productivity, Limiting Factors, Land Evaluation, Spatial Planning
Evaluasi Kelaikan Teknis Hunian Vertikal Berdasarkan Permen PUPR No. 22 Tahun 2018 (Studi Kasus: Rusunawa Kraton Kota Tegal) Pranitasari, Deanty; wibowo, kartono; sumirin, sumirin
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.48909

Abstract

ABSTRACTThe provision of vertical housing in developing cities such as Tegal faces challenges not only in construction but also in sustaining building functionality and maintenance over time. The feasibility of public rental housing (Rusunawa) constitutes a critical component of urban housing asset management to ensure safety, comfort, and service sustainability for low-income residents. This study aims to assess the feasibility level of Block B of Kraton Rusunawa within a framework that integrates technical evaluation and occupants’ perceptions. A descriptive quantitative approach was employed through checklist-based observations in accordance with the Regulation of the Ministry of Public Works and Housing (Permen PUPR No. 22/2018), combined with user assessments. The evaluation covered three main aspects: structure (45%), architecture (35%), and utilities (20%), using a 1–4 rating scale. The results indicate that all floors fall into the conditionally feasible category, with scores ranging from 1.61 to 2.12. A disparity in building conditions across floors was identified, with the fourth and fifth floors exhibiting higher levels of degradation compared to the lower floors, thereby requiring priority maintenance. These findings highlight the importance of preventive maintenance strategies and periodic rehabilitation scheduling as part of Rusunawa asset management. From a policy perspective, the study provides an evaluative basis for local governments in planning maintenance programs and allocating housing budgets within the framework to ensure the long-term sustainability of vertical housing.Keywords: Building Feasibility, Vertical Housing, Public Housing Maintenance, Urban Asset Management, Technical EvaluationABSTRAKPenyediaan hunian vertikal di kota sedang berkembang seperti Kota Tegal menghadapi tantangan tidak hanya pada pembangunan, tetapi juga pada keberlanjutan fungsi dan pemeliharaan bangunan. Kelaikan bangunan Rusunawa menjadi bagian penting dalam manajemen aset permukiman perkotaan untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan pelayanan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kelaikan Gedung Blok B Rusunawa Kraton dalam kerangka evaluasi teknis dan persepsi penghuni. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif melalui observasi berbasis daftar simak sesuai Permen PUPR No. 22 Tahun 2018 yang diintegrasikan dengan penilaian pengguna. Evaluasi dilakukan terhadap tiga aspek utama, yaitu struktur (45%), arsitektur (35%), dan utilitas (20%) menggunakan skala 1–4. Hasil menunjukkan seluruh lantai berada pada kategori laik bersyarat dengan skor antara 1,61 hingga 2,12. Ditemukan disparitas kondisi antar lantai, di mana lantai 4 dan 5 menunjukkan tingkat degradasi lebih tinggi dibanding lantai bawah, sehingga memerlukan prioritas pemeliharaan. Temuan ini menunjukkan pentingnya strategi pemeliharaan preventif dan penjadwalan rehabilitasi berkala sebagai bagian dari pengelolaan aset Rusunawa. Secara kebijakan, hasil penelitian ini memberikan dasar evaluatif bagi pemerintah daerah dalam perencanaan pemeliharaan dan pengalokasian anggaran perumahan agar keberlanjutan hunian vertikal tetap terjamin.Kata Kunci: Kelaikan Bangunan, Hunian Vertikal, Pemeliharaan Perumahan Publik, Manajemen Aset Perkotaan, Evaluasi Teknis
Park Facilities Evaluation Based on Neighborhood Quality and Differences in Gender Perception in Cimahi Apartment Permatasari, Gladya Putri; Sugiama, Aceng Gima
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.46969

Abstract

 The physical facilities of apartment parks are crucial, yet studies on this subject are scarce. This study aims to evaluate apartment park facilities based on neighborhood quality (accessibility, attractiveness, functionality, safety) and investigate differences in gender perception. Using a quantitative approach, the data is analyzed using descriptive statistics and the Mann-Whitney U test. Using data from 133 respondents, the study results found, descriptively,  accessibility is in good condition but the pedestrian path is slightly damaged and has not been equipped with information boards; attractiveness is still lacking to improve aesthetics and ensure the cleanliness of the park; functionality for sports facilities is not yet available, and seating and children's play areas are uncomfortable; and safety has been met, but lighting at night is inadequate. The results also showed, generally, no significant difference between the assessments of the park's physical facilities by the two genders. However, specifically, there were significant differences in perceptions of proximity, vegetation availability, and trash receptacle availability. This study is expected to serve as a reference in creating apartment parks by integrating quality neighborhood parks and designing park facilities that function inclusively for both males and females. Keywords: physical asset facility, low-cost apartment, neighborhood park quality.
Analisis Metode Shortcrete Dalam Proteksi Permukaan Lereng Tanah Clay Shale Terhadap Slaking Dan Fissility (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Seksi 6B IKN) Sangaji, Anton; Rochim, Abdul; Brilyant, Rifqi
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.50043

Abstract

ABSTRAKPembangunan infrastruktur jalan di Ibu Kota Nusantara (IKN) menghadapi tantangan geoteknik akibat dominasi lapisan clay shale yang bersifat rapuh, berpermeabilitas rendah, dan sangat sensitif terhadap perubahan kadar air. Fenomena slaking dan fissility pada clay shale menyebabkan degradasi kekuatan geser dan meningkatkan potensi kelongsoran, khususnya pada lereng galian, sehingga berimplikasi langsung terhadap keberlanjutan dan keselamatan perencanaan infrastruktur jalan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penggunaan shotcrete dalam meningkatkan stabilitas lereng clay shale pada berbagai variasi kemiringan lereng sebagai dasar teknis penentuan geometri lereng pada koridor infrastruktur strategis IKN. Studi kasus dilakukan pada pembangunan Jalan Bebas Hambatan IKN Paket 6B menggunakan analisis numerik untuk membandingkan kondisi lereng sebelum dan sesudah perkuatan shotcrete. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng tanpa perkuatan memiliki nilai faktor keamanan (Safety Factor/SF) antara 0,6-1,335, yang belum memenuhi kriteria aman sebesar 1,5. Penerapan shotcrete meningkatkan nilai SF menjadi 1,27-1,335, meskipun pada kemiringan tertentu stabilitas jangka panjang masih belum optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan metode perkuatan saja tidak cukup tanpa pengendalian geometri lereng. Oleh karena itu, kemiringan lereng minimum yang direkomendasikan adalah 1,5:1 hingga 2:1 karena menunjukkan tingkat stabilitas yang lebih baik dan lebih aman untuk kondisi jangka panjang. Secara ilmiah, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara metode perkuatan lereng dan pengaturan geometri lereng dalam perencanaan infrastruktur jalan pada kawasan dengan dominasi clay shale, sehingga dapat berkontribusi sebagai dasar teknis dalam mitigasi risiko lereng dan perencanaan infrastruktur jalan berkelanjutan di IKN.Kata Kunci: Clay Shale, Galian Lereng, Shotcrete, Safety Factor, Stabilitas Lereng. ABSTRACTRoad infrastructure development in the Capital City of Nusantara (IKN) faces significant geotechnical challenges due to the dominance of clay shale layers, which are fragile, low-permeability, and highly sensitive to changes in water content. The phenomena of slaking and fissility in clay shale lead to shear strength degradation and increase the risk of slope failure, directly affecting the sustainability and safety of road infrastructure planning. This study aims to evaluate the effectiveness of shotcrete application in improving the stability of clay shale slopes at various slope inclinations as a technical basis for determining appropriate slope geometry within strategic infrastructure corridors in IKN.A case study was conducted on the Section 6B IKN Toll Road construction project using numerical analysis to compare slope conditions before and after shotcrete reinforcement. The results indicate that slopes without reinforcement have safety factor (SF) values ranging from 0.6 to 1.335, which do not meet the required safety criterion of 1.5. The application of shotcrete increases the SF to 1.27–1.335; however, stability under certain slope configurations remains insufficient for long-term safety. These findings demonstrate that reinforcement alone is not adequate without proper control of slope geometry. Therefore, minimum slope gradients of 1.5:1 to 2:1 are recommended, as they provide better stability performance and improved long-term safety. Scientifically, this study highlights the importance of integrating slope reinforcement methods with geometric slope design in road infrastructure planning within clay shale-dominated areas, contributing technical insight for slope risk mitigation and sustainable infrastructure development in IKN.Keywords: Clay Shale, Slope Excavation, Shotcrete, Safety Factor, Slope Stability
Kesenjangan Persepsi dan Adaptasi Nelayan terhadap Perubahan Iklim di Desa Teluk Tamiang, Kalimantan Selatan Wardana, Falik; Gea, Endang Puspita; Noor’Reka, Dias Anggraeni Putri; Putry, Dahliani; Viandra, Danti Alma
Jurnal Kajian Ruang Vol 6, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v6i1.50722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan pola adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim di Desa Teluk Tamiang, Kalimantan Selatan. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner dan wawancara mendalam terhadap 33 nelayan aktif yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data kuantitatif dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan data kualitatif dianalisis melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, dan interpretasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan telah menyadari dan merasakan langsung dampak perubahan iklim, seperti ketidakpastian cuaca, penurunan hasil tangkapan ikan, dan berkurangnya pendapatan. Namun demikian, strategi adaptasi yang dilakukan masih didominasi tindakan reaktif dan bersifat individual, dengan 72,7% responden menyesuaikan jadwal melaut berdasarkan kondisi cuaca sebagai respons utama. Kendala utama yang diidentifikasi meliputi rendahnya tingkat pendidikan, terbatasnya akses terhadap informasi iklim, serta lemahnya dukungan kelembagaan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran risiko iklim dan kapasitas adaptasi di tingkat komunitas. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi adaptasi, peningkatan akses informasi iklim, penguatan organisasi nelayan, serta pengembangan strategi adaptasi berbasis komunitas untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan iklim.