cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG VERTIKAL TAKIKAN TIDAK SEJAJAR TIPE U LEBAR 2 CM TIAP JARAK 15 CM DENGAN POSISI KULIT BAMBU DI SISI DALAM Ratih, Patria Eka; Budi, Agus Setiya; Sangadji, Senot
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.598 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37062

Abstract

Bambu dapat menjadi alternatif ramah lingkungan yang dapat menggantikan peranan tulangan baja pada balok beton bertulang, dimana kondisi untuk memproduksi bahan baku baja berupa bijih besi memerlukan energi yang sangat besar dan tidak ramah lingkungan, juga sulit dijangkau untuk masyarakat pedesaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi seberapa besar kuat lentur balok beton tulangan bambu petung vertikal takikan tidak sejajar tipe U lebar takikan 20 mm setiap jarak 150 mm dengan posisi kulit bambu di sisi dalam. Pengujian agregat halus, agregat kasar dan pengujian karakteristik bambu digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui kelayakan material. Perencanaan rancang campur beton menggunakan metode SK SNI 03 - 2834 - 2000. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan jumlah benda uji 14 buah balok memiliki dimensi panjang 1700 mm, lebar 110 mm dan tinggi 150 mm. Delapan buah balok menggunakan tulangan bambu petung (dua buah untuk penelitian longterm), sisanya 6 buah menggunakan tulangan baja. Dimensi bambu yang digunakan adalah panjang 1650 mm, lebar 20 mm dan tebal 5 mm. Mutu beton minimal yang digunakan adalah 17 MPa. Uji lentur dilakukan pada umur 28 hari dengan metode two point loading dan nilai kuat lentur balok beton tulangan bambu petung adalah 5,2976 N/mm2 atau sekitar 42,828 % dari kuat lentur balok tulangan baja sebesar 12,3693 N/mm2.
KAJIAN TEGANGAN-REGANGAN DAN KUAT TEKAN HVFA KADAR 50% MEMADAT SENDIRI TERHADAP BETON NORMAL DENGAN KEKANGAN TEFLON DAN GREASE Riswanda Binta Ichsan; Agus Setiya Budi; Senot Sangadji
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 4 (2019): DESEMBER
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.572 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i4.38484

Abstract

Dalam beberapa penelitian terakhir, terdapat inovasi baru yaitu dengan menggabungkan beton yang berjenis scc dengan fly ash berkadar tinggi. Inovasi tersebut dikenal dengan High Volume Fly Ash -Self Compacting Concrete (HVFA-SCC). Pada saat pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan mesin uji tekan, terjadi gaya friction pada permukaan atas dan bawah beton. Hal tersebut mengakibatkan pengaruh terhadap perilaku tegangan-regangan pada beton. Untuk mengurangi gaya friksi yang terjadi, pada permukaan atas dan bawah beton pada saat pengujian diberikan media yang bersifat menghilangkan gaya friksi. Dalam penelitian ini mengkaji pengaruh media untuk menghilangkan gaya friksi yang terjadi pada saat pengujian kuat desak yaitu dengan teflon dan grease. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan kadar fly ash 50% yang berbentuk silinder berukuran 150mm x 300mm. Pengujian dilakukan dengan Universal Testing Machine (UTM). Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan rata-rata kuat desak yang dihasilkan oleh HVFA-SCC 50% sebesar 28,35 MPa sedangkan Beton Normal sebesar 26,31 MPa.
ANALISIS STABILITAS LERENG DENGAN TERASERING DAN PERKUATAN BRONJONG DI DESA SENDANGMULYO, TIRTOMOYO, WONOGIRI Saputro, Cahyo Dwi; Djarwanti, Noegroho; Purwana, Yusep Muslih
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.92 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36949

Abstract

Indonesia yang beriklim tropis mempunyai curah tinggi yang dapat memberi dampak terjadinya bahaya longsor pada daerah lereng atau daerah perbukitan.. Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah yang pernah terjadi longsor pada tanggal 25 dan 26 Desember 2007 akibat musim hujan di penghujung tahun tersebut. Melihat besarnya dampak yang terjadi akibat pengaruh hujan dan pemanfaatan lahan terhadap kelongsoran, maka penelitian ini sangat penting untuk dilakukan guna untuk keperluan perbaikan lereng, dalam penelitian ini lereng didesain agar mencapai safety factor yang aman. Perbaikan lereng yang digunakan adalah perbaikan lereng dengan terasering dan perkuatan bronjong. Stabilitas lereng dianalisis dengan menggunakan metode Bishop. Program yang digunakan dalam penelitian ini adalah Slope W. Data-data yang dibutuhkan dalam penggunaan program ini adalah parameter tanah, jenis material yang digunakan, dan lain-lain. Stabilitas lereng akan dianalisis dalam 2 kondisi yang berbeda yaitu pada kondisi sebelum dan setelah hujan. Setiap kondisi yang dianalisis menggunakan veriabel yang berbeda antara lain dengan sudut kemiringan lereng 60?, 45? dan 30?. Terasering berjumlah 3 trap dengan ketinggian 5, 3, 2 meter yang dihitung dari kaki lereng serta menggunakan bronjong berdimensi 0,5 x 1 meter dan 0,3 x 2 meter. Hasil dari analisis dengan Program Slope W ini merupakan solusi kondisi tanah berpasir adalah kemiringan dan terasering lereng, hal ini dibuktikan bahwa nilai safety factor aman pada kondisi sebelum dan setelah hujan yang didapat pada kemiringan lereng (a) 30? dengan terasering dan diperkuat dengan bronjong.
PENGARUH PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) TERHADAP TINGKATAN KECELAKAAN KERJA KONSTRUKSI Dwi Rahmawati Faizah; Widi Hartono; Sugiyarto Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.048 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37502

Abstract

Indonesia merupakan Negara berkembang yang sedang melakukan pembangunan nasional untuk menjadi sebuah Negara yang maju. Pembangunan banyak dilakukan pada sektor konstruksi, sehingga menyebabkan tingkat persentase kecelakaan kerja paling tinggi dibanding sektor-sektor yang lain. Kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan karena belum diterapkannyaSistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) terhadap tingkatan kecelakaan kerja dan menganalisis pengaruhnya sesuai dengan kriteria audit penilaian kategori tingkat awal dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan cara survei melalui kuesioner pada 21 proyek konstruksi di Surakarta, Sukoharjo, dan Karanganyar. Penilaian kriteria untuk pencapaian 0-59% termasuk tingkat penilaian penerapan kurang, pencapaian 60-84% termasuk tingkat penilaian penerapan baik, dan pencapaian 85-100% termasuk tingkat penilaian penerapan memuaskan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi, uji reliabilitas, dan uji F.Penerapan SMK3 pada proyek-proyek besar didapat rata-rata sebesar 75,73%, untuk proyek-proyek sedang diperoleh rata-rata sebesar 57,94%, dan untuk total penerapan semua proyek sebesar 71,49% yang termasuk tingkat penerapan baik. Tingkat kecelakaan kerja didapat sebesar 0,8%. Hasil analisis pengaruh penerapan SMK3 terhadap tingkatan kecelakaan kerja didapatkan hasil korelasi yaitu sangat kuat (0,80-1,00), uji reliabilitas yaitu 0,948 yang berarti lebih dari nilai Alpha (0,6), uji F didapat F hitung>F tabel yakni 3,828>2,35 (sig 0,00). Hasil analisis menunjukkan variabel-variabel mempunyai pengaruh yang signifikan dan dapat menjadi gambaran penerapan SMK3 terhadap tingkatan kecelakaan kerja konstruksi pada proyek di Kota Surakarta dan sekitarnya.
KAJIAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANGAN BAMBU ORI TAKIKAN TIPE V DENGAN JARAK 6 CM DAN 7 CM Imam Brata Adi Kusuma; Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.793 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v2i4.37368

Abstract

Dalam pertumbuhan industri kontruksi, beton bertulangan baja masih menjadi bahan konstruksi yang sering digunakan pada struktur bangunan, dimana kuat tekan pada beton yang besardan kuat tarik pada baja yang tinggi merupakan kombinasi yang saling melengkapi dan mudah pembuatanya. Namun demikian, masih ada beberapa kendala yang ditimbulkan dari penggunaan baja sebagai tulangan diantaranya harga yang semakin tinggi dan merupakan produk hasil tambang yang tidak dapat diperbaharui dan suatu saat akan habis. Untuk mengatasi hal tersebut, dipilihlah alternatif sebagai pengganti tulangan baja, yaitud engan memanfaatkan bambu, dimana bambu merupakan produk alam yang renewable, mudah diperoleh, murah, dan memiliki kuat tarik yang tinggi. Atas pemikiran tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik leleh bambu ori yang digunakan untuk perhitungan secara analisis serta kapasitas lentur balok bertulangan bambuori, dengan membuat balok benda uji sebanyak 12 buah dengan ukuran 11 cm x 15 cm x 170 cm. Tiga balok benda uji pertama ditanam tulangan bambu ori takikan tipe V dengan jarak takikan 6 cm dan 7 cm untuk tiga balok berikutnya, selanjutnya tiga balok benda uji ditanam tulangan baja ø 8 mm dan tiga balok benda uji tanpa tulangan sebagai pembanding. Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Struktur, FT UNS, pada umur beton 28 hari dengan memberikan dua titik beban terpusat pada jarak 1/3 bentang balok dari tumpuan. Berdasarkan analisis dan hasil pengujian dapat diambil kesimpulan, kuat tarik leleh bambu ori diambil sebesar 276,560 N/mm2 atau kuat tarik pada nodia, karena kuat tarik pada nodia berkisar setengah dari kuat tarik internodia. Untuk kapasitas lentur hasil pengujian, balok bertulangan bambu ori takikan jarak 6 cm lebih kecil 48,647% dari pada kapasitas lentur balok bertulangan baja ø 8 mm, untuk balok bertulangan bambu ori takikan 7 cm didapat 37,882% lebih kecil dari pada balok bertulangan baja ø 8 mm. Dari 12 buah balok yang diuji, rerata keruntuhan terjadi pada daerah 1/3 bentang tengah balok dan dapat dikatakan sebagai keruntuhan lentur.
PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG PUSKESMAS DENGAN BAHASA PEMROGRAMAN VISUAL BASIC BERBASIS METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (STUDI KASUS GEDUNG PUSKESMAS KABUPATEN SUKOHARJO) Widi Hartono; Vina Putri Cahyarini; Sugiyarto Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.095 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i4.37247

Abstract

Bangunan Puskesmas adalah salah satu infrastruktur milik pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan masyarakat. Infrastruktur Bangunan adalah salah satu pendukung dalam terjadinya kegiatan untuk mewujudkan suatu misi atau fungsi yang ingin dicapai. Dengan demikian pemeliharaan bangunan perperan penting dalam mewujudkan kepentingan pelayanan kesehatan yang baik. Penelitian dilakukan di bangunan puskesmas Kabupaten Sukoharjo yang terdiri dari 12 kecamatan. Penelitian dilakukan dengan pengamatan fisik untuk menentukan prosentase kerusakan bangunan. Penelitian menggunakan metode Analytical Hierachi Process (AHP) untuk menentukan bobot komponen. Data bobot komponen di peroleh dari penyebaran kuesioner kepada responden. Responden dipilih dari orang yang dianggap ahli dalam bidang pembangunan. Hasil analisa didapatkan nilai eigen vector arsitektural (0.2246), sruktural (0.30505), utilitas (0.2745), dan tata lingkungan (0.1958). Bobot komponen dikalikan dengan nilai dari data kondisi bangunan akan menghasilkan Indeks Kondisi Bangunan. Bangunan Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo memiliki kondisi yang baik. Indeks Kondisi bangunan dari 5 Puskesmas yang mempunyai tingkat kerusakan paling tinggi, yaitu Puskesmas Bulu (IKB : 89.246), Puskesmas Weru (IKB : 89.4568), Puskesmas Mojolaban (IKB : 89.6201), Puskesmas Nguter (IKB : 90.3192), dan Puskesmas Baki (IKB : 91.4251).
STUDI KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LASTON (AC) DENGAN BAHAN PENGIKAT DAMAR ASPAL (DASPAL) KOMBINASI MATERIAL GETAH DAMAR, FLY ASH, OLI BEKAS DAN LATEKS Ary Setyawan; Slamet Jauhari Legowo; Ahsan Musthafa Shidiq
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.946 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i3.36707

Abstract

Pemeriksaan aspal beton campuran daspal dengan alat marshall dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) terhadap kelelehan plastis (flow) pada campuran daspal. Damar aspal (Daspal) adalah bahan pengganti aspal yang tanpa menambahkan komposisi aspal didalamnya, karena daspal berasal dari bahan campuran getah damar, fly ash (abu terbang), lateks dan oli bekas, sehingga cukup layak dikatakan daspal merupakan bahan yang bersifat ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai karakteristik aspal beton campuran daspal melalui pengujian Marshall, juga mengevaluasi kelayakan daspal modifikasi ini sebagai bahan alternatif campuran aspal beton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan langkah awal pengujian berat jenis agregat kasar dan halus, pembuatan benda uji dan pengujian Marshall. Benda uji Marshall dibuat sesuai presentase perhitungan perkiraan awal kadar aspal rencana (Pb) dengan interval 0,5% yang menghasilkan persentase 5% ; 5,5% ; 6% ; 6,5% ; 7% dimana masing-masing persentase dibuat 3 benda uji. Evaluasi dari penelitian ini membandingkan hasil penelitian aspal beton campuran daspal dengan batas spesifikasi sifat aspal beton campuran aspal penetrasi dan asbuton. Kesimpulan dari penelitian ini adalah benda uji memenuhi spesifikasi aspal penetrasi dan asbuton kecuali pada nilai rongga dalam campuran (VIM).
Uji Balok Beton Bertulang Memadat Sendiri High Volume Fly Ash 50% Dengan ρ = 0,17 Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto; Oktavian Farrozy Hartono
Matriks Teknik Sipil Vol 8, No 4 (2020): Desember
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.285 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v8i4.45472

Abstract

Abstrak Penelitian ini akan mengkaji seberapa besar pengaruh reinforcment ratio terhadap kapasitas geser balok beton bertulang HVFA–SCC dengan kadar fly ash 50 %. Benda uji yang digunakan 2 jenis balok beton bertulang dengan ukuran 10 cm x 18,5 cm x 155 cm dengan reinforcement ratio sebesar 1,77 % dan 2,68 %. Pengujian kapasitas geser menggunakan alat loading frame dengan 2 titik dengan jarak antar beban sebesar 20 cm. Dari pengujian ini akan didapatkan grafik hubungan beban-lendutan serta selisih kapasitas geser balok beton HVFA-SCC 50% dengan ρ sebesar 0,177.  Berdasarkan hasil penelitian ini kapasitas geser pada pengujian balok HVFA beton bertulang HVFA-SCC 50% memiliki nilai sebesar 23,5 kN yang diuji pada umur 28 hari. Kata Kunci : fly ash, hvfa-scc, kapasitas geser.
Evaluasi Jalur Pejalan Kaki Di Universitas Sebelas Maret Kentingan Surakarta Handayani, Dewi; Sumarsono, Agus; Hasanah, Fina
Matriks Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2020): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.221 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v8i1.41522

Abstract

Kawasan kampus sudah selayaknya memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada yang beraktivitas di dalamnya. Diantaranya adalah jalur pedestrian untuk menunjang pergerakan lalu lintas dan kelancaran aktivitas masyarakat khususnya di Universitas Sebelas Maret (UNS). Di UNS sudah terdapat jalur pedestrian, baik jalur yang lama maupun yang baru di bangun. Untuk mengetahui seberapa baik jalur yang ada sekarang, perlu diadakan observasi untuk mengevaluasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase skala nilai dan kondisi fasilitas jalur pejalan kaki di UNS. Metode pengambilan data lapangan menggunakan teknik observasi berupa survei pengukuran. Metode analisis yang dilakukan yakni deskriptif kuantitatif dengan menggunakan ukuran skala nilai fasilitas dan evaluasi melalui perbandingan proporsi kondisi eksisting tiap ruas terhadap standar peraturan Permen PU 03/PRT/M/2014. Persentase skala nilai fasilitas jalur pejalan kaki di UNS : Zona V memiliki lebar trotoar terbaik dengan nilai skala 3 sebesar 81%; trotoar Zona II yang tidak licin saat hujan hanya sebesar 14%; lebar jalur perabot jalan dan jalur hijau pada Zona II sangat baik dengan nilai skala 3 sebesar 100%; beda tinggi trotoar dengan jalur perabot jalan dan jalur hijau terbilang kurang baik dengan nilai skala 1 lebih dari 50% untuk semua Zona jalur pejalan kaki; lebar ramp  rata-rata kurang dari standar hampir di semua Zona, kecuali pada Zona V dengan nilai skala 2 sebesar 82%; kemiringan ramp rata-rata baik dengan nilai skala 2 lebih dari 50%; tekstur ramp tidak licin pada semua Zona; dan hampir seluruhnya memiliki lebar tepi pengaman ramp yang memenuhi standar. Kondisi fasilitas jalur pejalan kaki di UNS : trotoar dan ramp dalam kondisi baik dan bersih serta rata-rata dapat dikatakan tidak licin saat hujan, hanya untuk ramp perlu dilengkapi dengan pegangan rambatan; perlu ditambah jumlah tempat duduk, tempat sampah dan pagar pengaman.
ANALISIS KEKERINGAN HIDROLOGI BERDASARKAN STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI Warakesthi Rahayu Wicaksanti; Raden Roro Rintis Hadiani; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 3 (2019): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.208 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i3.36498

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Tirtomoyo merupakan daerah yang memiliki tanah berjenis kapur yang rentan terhadap bencana kekeringan ketika musim kemarau. Untuk mengurangi dampak kekeringan, maka perlu mengenali karakteristiknya lebih awal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekeringan hidrologi dengan menghitung indeks kekeringan dan debit bulanan yang kemudian dihubungkan untuk mendapatkan prediksi kekeringan. Indeks kekeringan digunakan untuk pemetaan kriteria kekeringan.Penelitian kekeringan ini dilakukan pada tahun 2008-2017. Indeks kekeringan dianalisis dengan Metode Standardized Precipitation Index (SPI). Metode SPI merupakan metode indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan tinggi hujan terhadap kondisi normalnya dalam satu periode yang panjang. Sedangkan debit bulanan dianalisis dengan Metode Global Rainfall-Runoff Model (GR2M). Nilai indeks kekeringan dan debit bulanan dihubungkan kedalam sebuah grafik. Grafik hubungan ini bertujuan untuk menghitung debit bulanan dengan berdasarkan nilai indeks yang didapatkan. Selain itu, klasifikasi dari indeks kekeringan SPI digunakan untuk pemetaan persebaran kriteria kekeringan dengan menggunakan software ArcGIS.Hasil analisis diperoleh nilai indeks kekeringan SPI terkecil yaitu -1,71 dengan kriteria sangat kering pada Agustus 2016 dan indeks terbesar yaitu 2,19 dengan kriteria amat sangat basah pada Desember 2014. Sedangkan debit bulanan GR2M terkecil diperoleh 0,002 m3/detik pada November 2008 dan debit bulanan terbesar 0,426 m3/detik pada Februari 2009. Dari grafik hubungan indeks kekeringan SPI dengan debit bulanan diperoleh grafik linier dengan persamaan  , dengan  adalah debit bulanan GR2M dan  adalah indeks kekeringan SPI. Kemudian untuk pemeteaan persebaran kriteria kekeringan diperoleh bahwa kekeringan tidak terjadi pada tahun 2008, 2009 dan 2015, namun kekeringan terparah terjadi pada Agustus 2016.