cover
Contact Name
Gesnita Nugraheni
Contact Email
gesnita@gmail.com
Phone
+6281357351183
Journal Mail Official
editorjfk@ff.unair.ac.id
Editorial Address
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia 60115
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Farmasi Komunitas
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23555912     EISSN : 23555912     DOI : https://doi.org/10.20473/jfk.v9i1.24085
Core Subject : Health,
The aim of Jurnal Farmasi Komunitas (JFK) is to publish exciting, empirical research, recent science development, and high-quality science that addresses fundamental questions in pharmacy practice. JFK publishes articles in pharmacy practice area including: 1. Clinical and Community Pharmacy 2. Public Health 3. Psychology 4. Medicine, and other health related topics.
Articles 150 Documents
Hubungan Pengetahuan dan Kemampuan Memilah Informasi Hoaks dengan Status Vaksinasi COVID-19 di Kalangan Masyarakat Kota Surabaya Hanie Salim; Putu Pradnya Mimba Prameswari; Ananda Permata Fitri; Dewi Kusuma Ningrum; Familian Kusuma Hidayat; Kevin Ksatria Handoko; Khadijah Millah; Linda Adianti Rosalina; Manis Nur Rohma; Maulid Tianora Kurnia Tsamara; Ng Chee Xuan; Solomon Seah Putra; Andi Hermansyah; Rizka Nanda Sadiwa
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32893

Abstract

COVID-19 telah menjadi pandemi global sejak tahun 2020 dan menyebabkan angka kematian yang signifikan di Indonesia. Program vaksinasi adalah salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memutus penyebaran virus. Namun, peredaran misinformasi mengenai vaksin di masyarakat menjadi hambatan kesuksesan program vaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, kemampuan memilah informasi hoax dan status vaksinasi COVID-19 masyarakat Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam survei ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara accidental sampling yaitu masyarakat Surabaya yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari 3 jenis pertanyaan berupa pengetahuan, kemampuan memilah informasi mitos atau fakta, sikap, dan status vaksinasi. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Sebanyak 297 responden berpartisipasi dalam survei. Mayoritas responden adalah laki-laki dengan rentang usia 17-25 tahun dan berstatus pelajar/mahasiswa. Lebih dari 80% responden menjawab benar pada aspek pengetahuan tentang vaksinasi COVID-19, termasuk kemampuan mengenali mitos dan fakta tentang vaksin COVID-19. Responden juga menyadari bahwa pemberitaan yang salah (hoaks) berpotensi menurunkan angka partisipasi vaksinasi. Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kemampuan memilah informasi hoaks, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan antara status vaksinasi (p>0,005) dan terdapat hubungan berkebalikan antara kemampuan memilah informasi hoaks dengan status vaksinasi (p<0,005; r=-0,182). Meskipun demikian, sejumlah responden menyatakan kesulitan untuk mengakses informasi yang benar dan dapat dipercaya untuk menjawab hoaks. Hal ini menunjukkan perlunya upaya dalam menyediakan akses informasi yang lebih baik kepada masyarakat.
Faktor yang Berpengaruh terhadap Kesehatan Mental Karyawan Non Kesehatan ketika Kembali Bekerja saat Pandemi COVID-19 Alfiyah Hasanah; Alvita Raniah Aisyah Putri; Aranza Khoirina Audrey Abbas; Cici Aisyah Putri Rogahang; Cladita Pamungkas Putri; Clarissa Budiman; Desi Ratu Puspita; Erviana; Bambang Subakti Zulkarnain; Febria Rossa Alba; Hana Rizqi Ghaesani; Misbahul Munir; Nurul Khikmiyah; Paulina Ari Damayanti; Rebecca Ferida Octaviani
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32895

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan sebagian orang merasa khawatir atau takut berlebihan hingga menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Kecemasan merupakan hal wajar yang dialami setiap manusia, dimana seseorang merasa ketakutan yang tidak jelas,seperti saat pandemi COVID-19 sebagai wabah yang membawa dampak termasuk korban. Terlebih banyaknya informasi yang belum akurat menambah dampak psikis termasuk stres dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik demografi dengan tingkat stres dan kecemasan pada karyawan non kesehatan yang kembali bekerja di kantor setelah work from home. Studi observasional dilakukan dengan menggunakan kuesioner survei PSS (Perceived Stress Scale) dan GAD-7 (General Anxiety Disorder-7). Sampel diambil menggunakan metode accidental sampling dengan kriteria inklusi karyawan non kesehatan yang bekerja di kantor dan sudah kembali bekerja secara luring dengan intensitas kerja minimal 3 hari dalam seminggu. Terdapat 145 responden yang berpartisipasi pada penelitian ini. Uji korelasi pearson dilakukan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik demografi terhadap stress dan kecemasan. Data demografi mencakup usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status pernikahan, pekerjaan, jumlah jam kerja, pendapatan, riwayat COVID-19, vaksinasi, dan persepsi terhadap COVID-19. Terdapat hasil yang bermakna antara tingkat stres dengan usia dan pendidikan (p<0,05).. Kesehatan mental berupa stres dan kecemasan pada penelitian ini dipengaruhi oleh usia, dan tingkat pendidikan. Promosi kesehatan yang berfokus pada kesehatan mental perlu untuk dilakukan.
Pengetahuan Mahasiswa tentang Pencegahan dan Pengobatan Computer Vision Syndrome selama Work From Home Alisa Sari Nastiti; Alysa Intan Santika; Angeline Tirza Galuh Palupi; Anisa Maulidi Syavira; Devinta Julian Tupenalay; Elsa Ananda Setya Budi; Mochammad Haris Firdaus; Yunita Nita; Nadhira Mileni Tsalitsia; Neva Safitri Salsabila; Ni Putu Widya Sriastuti; Salsabilla Madudari Kasatu; Theresia Florida Damayanti; Via Qurrota A’yun; Wikanti Sunaringtyas
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32911

Abstract

Peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan PMK No.9 Tahun 2020 yang menuntut masyarakat bekerja di rumah (Work from Home). Penerapan kebijakan meningkatkan intensitas waktu penggunaan gawai. Menatap layar komputer lebih dari 4 jam dapat menyebabkan gejala Computer Vision Syndrome (CVS). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa S1 Perguruan Tinggi di Surabaya mengenai CVS. Penelitian menggunakan metode cross-sectional dengan variabel penelitian adalah pengetahuan mengenai CVS, pencegahan terhadap CVS, dan pengobatan terhadap CVS. Pengambilan data menggunakan survei daring dengan kuesioner berisi 23 pertanyaan pilihan ganda yang divalidasi menggunakan metode face validity dengan nilai minimum 0 dan nilai maksimum 23. Responden berjumlah 226 orang. Tingkat pengetahuan dikategorikan rendah untuk jawaban benar 0-8 pertanyaan, sedang 9-16 pertanyaan, dan tinggi 17-23 pertanyaan. Hasil menunjukkan 1 responden (0,4%) termasuk kategori rendah, 113 responden (50,0%) kategori sedang dan 112 responden (49,6%) kategori tinggi. Dilakukan perbandingan nilai pengetahuan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan menggunakan analisis korelasi biserial. Terdapat korelasi yang signifikan (p = 0,021) antara variabel kategori jurusan dengan nilai total pengetahuan dengan nilai r = (-0,154). Mahasiswa non kesehatan paling banyak menjawab salah pada kuesioner, sehingga perlu adanya edukasi berupa promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan CVS.
Upaya Pencegahan dan Penanganan Low Back Pain Akibat Work From Home pada Pekerja di Surabaya Alfira Maulidyah Rahmah; Amelia Ghaisani; Andika Fajar Fortuna Dhonny Kusuma; Andwynanda Bhadra Nareswari; Anita Nur Azizah; Azzalin Devariany Mufidah; Farhan Athallah Rafif; Jessica Febe Prawadi; Noer Aqiel Natsier; Ridka Aulia Santi; Sinta Wahyu Nur Muthi; Sylvia Annisa Mahardiani; Tasya Mahira Salsabila; Yuniar Gusrianti Azzahra; Yunita Nita
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32919

Abstract

Penetapan kebijakan Work From Home yang diberlakukan bagi pekerja di Surabaya selama pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan permasalahan terkait Low Back Pain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan serta upaya pencegahan dan penanganan Low Back Pain (LBP) akibat Work From Home (WFH) pada pekerja di Surabaya. Desain penelitian berupa observasional deskriptif dengan metode survei secara online. Teknik pengambilan sampel dengan convenience sampling dan instrumen penelitian berupa kuesioner. Uji validitas instrumen yang dilakukan adalah uji validitas rupa. Kriteria inklusi penelitian adalah pekerja berusia 20-44 tahun, pernah atau sedang WFH di Surabaya, pernah atau sedang mengalami LBP akibat WFH. Sampel penelitian sebesar 141 responden. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan dan pengalaman LBP, upaya pencegahan LBP, serta upaya penanganan LBP. Hasil penelitian didapatkan sebesar 73 (51,8%) responden memiliki tingkat pengetahuan LBP tinggi. Sebesar 108 (76,6%) responden pernah mengalami nyeri pada bahu atau leher selama beberapa hari dan/atau kurang dari 4 minggu. Didapatkan lebih dari 70 (50,0%) responden tidak melakukan upaya pencegahan LBP, baik farmakologis maupun non farmakologis. Responden telah melakukan beberapa upaya penanganan LBP baik farmakologis maupun non farmakologis, namun 112 (79,4%) responden tidak menggunakan kursi kantor dalam upaya penanganan non farmakologis LBP. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan masih rendahnya upaya pencegahan dan penanganan LBP pada pekerja di Surabaya sehingga perlu adanya edukasi mengenai upaya pencegahan dan penanganan LBP.
Pengetahuan dan Praktik Terkait Pembelian, Penggunaan, dan Pengelolaan Vitamin, Masker, dan Disinfektan Pada Pekerja Publik Sektor Non-Kesehatan Alya Naura Yolanda; Cecilia Yohana Selviana; Fadilla Sukraina; Aniek Setiya Budiatin; I Gede Rekyadji Arimbawa; ismailia Wienda Yasmin Pratama Putri; Isna Asidah; Latif Azizah; Melania Aneswari; Nikolas Yakub; Rayya Zhafira; Rio Marcellino; Rita Mela Kurnia Weno Saputri; Rizqa Maghfira; Tri Yoga Wicaksono
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32928

Abstract

COVID-19 dapat ditularkan pada manusia melalui aktivitas sehari-hari yang melibatkan interaksi antar manusia, seperti interaksi yang terjadi di tempat kerja. Kegiatan pada sektor esensial dapat dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi protokol kesehatan yang ketat melalui Work From Office (WFO). Para pekerja masih banyak yang belum melaksanakan protokol kesehatan dengan tepat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pekerja non-kesehatan terkait asupan vitamin, penggunaan masker, dan disinfektan untuk menekan klaster perkantoran COVID-19. Desain survei menggunakan kuisioner online dengan media Google Form dan responden dipilih dengan metode snowball sampling. Responden diberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai penggunaan vitamin, masker, dan disinfektan. Subjek penelitian terdiri dari seluruh pekerja non-kesehatan dalam sektor perkantoran dan industri meliputi para pekerja bank, industri kemasan, industri properti, perusahaan supplier, dan pekerjaan lain yang ada di Pulau Jawa. Responden yang didapat dalam penelitian ini berjumlah 158 orang. Sebagian besar responden belum mengetahui dengan benar mengenai penggunaan vitamin, masker, dan disinfektan yang disebabkan karena kurangnya pemahaman para pekerja non-kesehatan mengenai asupan vitamin, penggunaan masker, dan disinfektan. Maka dari itu, masih diperlukan edukasi terhadap ketiga hal tersebut kepada para pekerja yang akan menjalani Work From Office (WFO).
Pengetahuan Ibu terkait Kebutuhan Vitamin D untuk Anak Tahun di Era Pandemi COVID-19 Laila N Azizah; Airinda G Ningrum; Amartia P Wahyudiandi; Cindi D Rakhmawati; Desak M A Trisnapratiwi; Erlisa A Hanifah; Happy R Rakhmawati; Kartika D Arifianti; Masrur F Wisaninda; Nabilah A Devitri; Sania P Arista; Vita T Wulandari; Vivi F Rahmawati; Violyta A Gunawan; Yunita W Renawati; Ana Yuda
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32932

Abstract

Adanya pandemi COVID-19 mengharuskan masyarakat untuk selalu menjaga sistem imun, khususnya bagi anak-anak yang akan menjalankan sekolah tatap muka. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan mengonsumsi vitamin D yang terbukti dapat menghambat aktivitas mikroba. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu-ibu mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan vitamin D bagi anak-anaknya sebagai langkah pencegahan dan mengurangi tingkat risiko dan keparahan penyakit apabila terpapar virus COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan menggunakan instrumen online survey dalam bentuk google form serta teknik sampling secara non-random, yaitu purposive sampling. Pada penelitian ini terdapat responden sebanyak 298 ibu yang mempunyai anak dengan usia 6—16 tahun. Berdasar hasil penelitian, 8,05% responden termasuk ke dalam kategori pengetahuan rendah, 67,12% responden termasuk ke dalam kategori pengetahuan sedang, dan 24,83% responden termasuk ke dalam kategori pengetahuan tinggi. Responden pada penelitian ini mendapatkan informasi tentang vitamin D melalui berbagai media, dimana paling banyak adalah media sosial yaitu sebesar 70,5%, media elektronik 33,2%, dan media cetak 20,8%. Sebanyak 75,2% responden memilih tenaga kesehatan sebagai sumber informasi tentang vitamin D. Sementara 5% responden tidak pernah mendapatkan informasi mengenai vitamin D. Tempat mendapatkan vitamin D yang paling banyak dari sarana kesehatanan (81,5%) seperti rumah sakit, puskesmas, apotek, dan toko obat, sedangkan dari swalayan sebanyak 19,5% responden dan online shop sebanyak 15,4% responden.
Pengetahuan tentang Legalitas Obat dan Tindakan Pembelian Obat secara Online untuk COVID-19 Tarissa Sekar Ayunda; Medyna Prastiwi; Arina Inas Maheswari; Deapriska Tampake; Deya Andriani; Galuh Laksatrisna Pide; Gina Yola Okvitasari; Isna Fauziah; Lubby Razan Fawwaz; Muhammad Fathurrahman; Nafiladiniaulia Jihanwasila; Naufal Abiyyu Tetuko Aji; Tarisya Dinda Saraya; Zannuba Tazkia Azizah; Anila Impian Sukorini
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32935

Abstract

Sejak pandemi COVID-19, sebagian besar masyarakat memiliki atensi lebih besar terhadap permasalahan kesehatan termasuk pembelian  obat-obatan yang pada era 4.0 ini banyak dilakukan secara daring dimana dapat menjadi celah bagi peredaran obat ilegal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil pengetahuan tentang legalitas obat, tindakan responden dalam pembelian obat secara online untuk  COVID-19 serta korelasi antara tingkat pengetahuan dengan tindakan responden dalam pembelian obat online untuk COVID-19. Pengambilan data dilakukan dengan instrumen kuesioner yang disebarkan secara daring pada bulan Oktober 2021 dengan kriteria inklusi responden  berusia 17-55 tahun dan pernah membeli obat untuk COVID-19 secara online . Pemilihan sampel dilakukan secara accidental sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden (73,45%) memiliki tingkat pengetahuan sedang terkait legalitas obat. Sebanyak 85% responden telah melakukan pengecekan legalitas obat sebelum pembelian obat secara online dengan 12,4% diantaranya melakukan pengecekan dengan mengecek merek dan tanggal kadaluarsa. Berdasarkan uji korelasi yang dilakukan, penelitian kami menunjukkan  bahwa tidak ada korelasi antara pengetahuan dan tindakan pengecekan legalitas obat. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait legalitas obat.
Pengetahuan dan Praktik terkait Pembelian, Penggunaan, dan Pengelolaan Masker pada Pekerja Publik Non-Kesehatan Aldo Julio Sylvester Manting; Anggria Caesary; Annisa Arifatul Fitriyah; Elida Zairina; Ardio Harya Firmansyah; Dica Ramadhani; Elvia Mei Nadilasari; Jenni Marlena; Jessica Immanuel Gunawan; Lutfiatur Rohmah; Marsha Fendria Prastika; Mirzario Aryananda Verrian; Nabila Berlianti; Ni Made Millania Laksmi Dewi; Niken Ayu Setyaningrum; Nur Ahmad Syaifullah
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32936

Abstract

Pada masa pandemi COVID-19 ini diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian yang tepat, salah satunya adalah penggunaan masker. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan praktik terkait pembelian, penggunaan dan pengelolaan masker serta perbedaan pada pekerja publik non-kesehatan antara Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1, 2, dan 3. Pengambilan data secara cross-sectional dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring dan luring kepada pekerja publik non-kesehatan di daerah PPKM level 1, 2 dan 3. Skor pengetahuan dan praktik dihitung dan dibandingkan dengan karakteristik demografi serta dilakukan analisis hubungan antara skor pengetahuan dan praktik. Sebanyak 182 pekerja publik non-kesehatan berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan median (IQR) skor pengetahuan adalah 15,00 (4). Skor pengetahuan berhubungan signifikan dengan tingkat pendidikan terakhir (p=0,022) dan usia (p=0,036). Skor praktik dengan rata-rata 49,17±8,24 dan dikategorikan baik (skor>43) untuk 76,4% responden. Tingkat pengetahuan dan praktik pada daerah PPKM level 1, 2, dan 3 tidak berbeda secara signifikan. Skor pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan skor praktik (p=0,000) dimana semakin tinggi skor pengetahuan maka skor praktik juga semakin tinggi. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan praktik yang baik. Daerah tempat bekerja yang dikategorikan berdasarkan level PPKM tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan dan praktik dari responden, sehingga tempat bekerja responden tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan dan praktik dari responden. Terlepas dari pengetahuan dan praktik responden yang baik, tetap diperlukan penyuluhan mengenai pembelian, penggunaan dan pengelolaan masker yang baik sesuai panduan dari Kemenkes maupun WHO.
Pengetahuan dan Pemanfaatan Telefarmasi dalam Memenuhi Kebutuhan Obat secara Swamedikasi pada Kelompok Usia Produktif selama Pandemi COVID-19 Hikma Urwatil Wusqo; Retno Iradian; Linda Wiwid Kurniasari; Dwi Abirlina Fitri Aldina; Izzatul Afifah; Chaerini Rizkyah; Felicia Alice Putri; Azzalia Firdanthi; Briline Steffy Laurent; Muhammad Pramudya Pangestu; Clarisa Dian Cahyani; Meiza Orchid Dewani Suhanto; Mia Etika Rahayu; Oudrey Addriana; Sausan Syahira Arsyie; Liza Pristianty
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32938

Abstract

Pada akhir tahun 2019 terjadi pandemi COVID-19. Pandemi ini menyebabkan masyarakat berupaya agar terhindar dari penularan virus COVID-19, salah satunya dengan membeli kebutuhan obat secara swamedikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan telefarmasi dalam memenuhi kebutuhan obat secara swamedikasi pada kelompok usia produktif di era pandemi COVID - 19. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Responden diperoleh secara accidental sampling dengan menggunakan kuesioner online melalui google form yang disebarkan melalui media sosial. Jumlah responden yang berpartisipasi pada penelitian ini sebanyak 172 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan telefarmasi dalam memenuhi kebutuhan obat secara swamedikasi pada kelompok usia produktif di era pandemi COVID - 19 sebesar 24,42%. Alasan terbanyak penggunaan telefarmasi adalah kepraktisan. Sebanyak 56,98% responden tidak mengetahui bahwa terdapat apotek yang menerapkan telefarmasi. Meskipun demikian, sebanyak 86,63% responden menyatakan keberadaan telefarmasi di era pandemi merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan. Diperlukan media promosi kesehatan yang tepat untuk masyarakat mengenai pemanfaatan telefarmasi dalam memenuhi kebutuhan obat secara swamedikasi pada usia produktif di era pandemi COVID - 19
Penerapan Layanan Telefarmasi oleh Apoteker di Apotek Wilayah Surabaya pada Masa Pandemi COVID-19 Alda Khairunnisa; Frenido Aryanto; Bulan Rhea; Martha Ilmi; Nur Milenia; Riska Salfa; Mareta Rindang; Rossa Auli; Sheila Shavira; Sheirly Afrilians; Sholihatul Ayatulloh; Shinnin Hayfa; Siti Nasikatus; Sopta Putri
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 10 No. 1 (2023): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v10i1.32940

Abstract

Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan, salah satunya yaitu segi pelayanan kefarmasian di apotek. Pada kondisi pandemi COVID-19, apoteker dituntut tetap melakukan pelayanan kefarmasian secara profesional, yaitu melalui pelayanan telefarmasi. Namun, tidak semua apotek, khususnya di Kota Surabaya, melakukan pelayanan telefarmasi dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian. Dengan banyaknya faktor yang kemungkinan mempengaruhi pelaksanaan telefarmasi, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan layanan telefarmasi di apotek kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional  dengan metode pengambilan sampel accidental sampling dengan kriteria inklusi yaitu apoteker yang berpraktek kerja di apotek di wilayah Kota Surabaya. Terdapat 58 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi yang ditunjukkan oleh 97,9% pertanyaan telah terjawab dengan benar. Sebanyak 45 responden (77,6%) telah menerapkan pelayanan telefarmasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan telefarmasi lebih dipengaruhi oleh berbagai hambatan dalam melakukan layanan telefarmasi daripada tingkat pengetahuan telefarmasi yang dimiliki oleh responden. Hambatan terbanyak yang dimiliki oleh responden yang telah menerapkan layanan telefarmasi yaitu kesulitan dalam mengidentifikasi atau menilai kondisi pasien (73,3%). Sedangkan hambatan terbanyak yang menyebabkan responden belum menerapkan layanan telefarmasi yaitu kekhawatiran responden terkait informasi obat yang tidak tersampaikan dengan baik dan benar (53,8%). Apoteker di wilayah Kota Surabaya telah memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi. Sehingga, banyak dari apoteker tersebut telah menerapkan telefarmasi. Hambatan dalam penerapan telefarmasi dialami oleh apoteker yang menerapkan telefarmasi dan yang belum menerapkannya.

Page 7 of 15 | Total Record : 150