cover
Contact Name
Christine
Contact Email
christinekromoprawiro@gmail.com
Phone
+6285241079002
Journal Mail Official
christinekromoprawiro@gmail.com
Editorial Address
Jl. Thalua Konchi, Mamboro, Palu Utara, Kota Palu, 94145 Sulawesi Tengah, Indonesia
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : 27978176     EISSN : 27978184     DOI : https://doi.org/10.33860/bjkl
Core Subject : Health, Social,
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan accepts original research articles and literature review articles covering the following topics: 1. Environmental Health 2. Environmental Epidemiology 3. Environmental Health Risk Assessment 4. Environmental Health Management 5. Environmental Health Technology 6. Environmental-Based Diseases 7. Environmental Toxicology 8. Water and Sanitation 9. Waste Management 10. Vector Rodent Disease Control and Prevention 11. Food Safety 12. Aspects of Environmental Health in Disaster Management
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2025)" : 5 Documents clear
Pengaruh Faktor Lingkungan Biologik terhadap Kejadian Filariasis di Daerah Endemis Kabupaten Sigi Santriana, Santriana; Gunawan, Gunawan; Agustiany, Dessy
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4072

Abstract

Latar Belakang: Filariasis adalah penyakit parasit yang juga dikenal sebagai penyakit kaki gajah atau filariasis limfatik. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi cacing filaria. Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah endemis filariasis yang belum berhasil menurunkan angka mikrofilaria menjadi <1% dan masih menjadi kabupaten yang belum bebas dari eliminasi filariasis. Tujuan: Menganalisis besar risiko faktor lingkungan biologik yang terdiri dari Breeding place dan keberadaan kandang terhadap kejadian filariasis pada daerah endemis di Kabupaten Sigi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancangan studi kasus kontrol (case control study). Lembar kuesioner dengan menggunakan aplikasi Kobocollect. Analisis data hasil penelitian menggunakan program Statistical Software For Data Science (Stata). Hasil: Ada hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan biologik yang berupa keberadaan breeding place dan keberadaan kandang ternak terhadap kejadian filariasis pada daerah endemis di Kabupaten Sigi. Kesimpulan: upaya pengendalian filariasis di daerah endemis perlu memperhatikan dan mengelola faktor-faktor lingkungan biologik ini untuk mengurangi risiko dan prevalensi penyakit. Ini bisa dilakukan melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi tempat pembiakan nyamuk dan meminimalkan kontak manusia dengan vektor. Diharapkan upaya pengendalian dapat memperhatikan faktor biologik yakni breeding place dan keberadaan kendang ternak di Kabupaten Sigi.
Artikel Review: Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Kesehatan Masyarakat di Indonesia Najla Achza, Arrayyan; Hudia Amaliana, Cut; Firdus; Nasir, Muhammad; Rizki, Alia
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4113

Abstract

Latar Belakag: Penggunaan pestisida dalam sektor pertanian terus meningkat untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, namun paparan pestisida secara berlebihan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara paparan pestisida dengan meningkatnya kasus keracunan, gangguan sistem saraf, gangguan endokrin, hingga stunting pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak paparan pestisida terhadap kesehatan manusia dan lingkungan berdasarkan studi literatur terkini. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi literatur naratif dengan analisis terhadap 50 artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2015–2024, dipilih melalui metode purposive sampling, dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa pestisida seperti organofosfat, karbamat, dan organoklorin memiliki peran signifikan dalam memicu berbagai gangguan kesehatan baik akut maupun kronis. Selain itu, pestisida juga menyebabkan pencemaran tanah dan air yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Faktor risiko utama adalah rendahnya penggunaan alat pelindung diri (APD) di kalangan petani, kurangnya edukasi tentang penggunaan pestisida yang aman, serta lemahnya pengawasan regulasi. Kesimpulan: Paparan pestisida berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan kualitas lingkungan
Literatur Review: Dampak Penambangan Emas Terhadap Pencemaran Sungai di Indonesia Firdus; Fachreyna Morhaban, Vania; Tiara, Wiga; Rizki, Alia; Nasir, Muhammad
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4115

Abstract

Penambangan emas di Indonesia, baik legal maupun ilegal, memberikan dampak signifikan terhadap pencemaran sungai. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis dampak aktivitas penambangan emas terhadap kualitas fisik dan kimia air sungai, ekosistem perairan, kesehatan masyarakat, serta aspek sosial dan ekonomi. Berdasarkan hasil telaah dari berbagai studi antara tahun 2015 hingga 2025, ditemukan bahwa merkuri (Hg) merupakan polutan utama yang mencemari sungai-sungai di berbagai daerah seperti Riau, Kalimantan, Aceh, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Pencemaran ini menyebabkan kerusakan ekosistem, akumulasi logam berat dalam biota air, serta gangguan kesehatan seperti penyakit kulit hingga risiko keracunan kronis pada masyarakat sekitar. Selain itu, kegiatan penambangan juga menimbulkan konflik sosial dan mengubah struktur ekonomi masyarakat. Kajian ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk pengendalian pencemaran dan penerapan praktik penambangan yang berkelanjutan.
Sosial Demografi, Lingkungan, dan Pelayanan Kesehatan Terhadap Case Fatality Rate COVID-19:Analisis Ekologi di Jawa Tengah Ardiansyah, Iqbal; Subagiyo, Agus; Widyanto, Arif; Rifqi Maulana, Muhammad; Susiyanti; Abdullah, Sugeng; Ihwani Tantia Nova, Rusyda
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4119

Abstract

Latar Belakang: Jawa Tengah, salah satu provinsi utama Indonesia, menghadapi peningkatan Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2021, naik dari 4,4% menjadi 6,2%, menempatkannya di antara tiga provinsi teratas dengan CFR tertinggi di Indonesia. Tujuan: Untuk menganalisis faktor sosial demografi, lingkungan, dan layanan kesehatan terhadap CFR COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah. Metode: Desain penelitian ini adalah studi ekologi exploratory. Data dihimpun dari 29 kabupaten dan 6 kota di Jawa Tengah selama periode 2020-2023. Variabel dependen adalah Tingkat Kematian Kasus COVID-19 (CFR), sedangkan variabel independen meliputi faktor sosio-demografis (kepadatan penduduk, Indeks Pembangunan Manusia/IPM, kunjungan wisatawan), cakupan layanan kesehatan (jumlah seluruh tenaga kesehatan, tenaga kesehatan komunitas, tenaga sanitasi lingkungan), dan faktor lingkungan (akses sanitasi yang layak, akses air minum bersih, curah hujan, dan jumlah hari hujan). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil: Korelasi positif yang signifikan antara jumlah tenaga kesehatan per luas wilayah dengan CFR (r = 0,43, p = 0,009) dan antara rasio populasi terhadap tenaga kesehatan dengan CFR (r = 0,43, p = 0,010) pada 2021-2022. Selain itu, akses rumah tangga ke air minum bersih menunjukkan korelasi yang signifikan dengan CFR (r = 0,40, p = 0,018). Namun, faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, HDI, dan curah hujan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan CFR. Kesimpulan: distribusi tenaga kesehatan dan akses air minum bersih memainkan peran penting dalam mengurangi angka kematian COVID-19, Studi ini memberikan wawasan berharga untuk pembuatan kebijakan dalam upaya mitigasi pandemi, terutama di daerah dengan karakteristik demografis dan lingkungan yang serupa.
Parameter Fisik Dan Risiko Kesehatan Lingkungan Akibat Pajanan Merkuri (Hg) Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Di Perairan Morosi Kabupaten Konawe Nurcahyani; Tosepu, Ramadhan; Nasaruddin, Nasaruddin
Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bjkl.v5i1.4120

Abstract

Latar Belakang: Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, merupakan wilayah dengan aktivitas pengolahan nikel yang cukup intensif, yang berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan perairan, khususnya di Kecamatan Morosi. Paparan logam berat seperti merkuri (Hg) pada ekosistem perairan menimbulkan risiko terhadap biota akuatik, termasuk ikan nila (Oreochromis niloticus), yang merupakan salah satu sumber pangan utama masyarakat setempat..Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air, mengukur konsentrasi merkuri dalam jaringan ikan nila, serta menilai potensi risiko kesehatan masyarakat akibat konsumsi ikan yang terkontaminasi.Metode:Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengukuran parameter fisik kualitas air, yang meliputi oksigen terlarut (DO), total zat terlarut (TDS), konduktivitas, salinitas, dan kekeruhan. Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) dilakukan melalui perhitungan Risk Quotient (RQ) untuk menilai tingkat risiko paparan. Sampel ikan nila dikumpulkan dari lima lokasi strategis dan dianalisis menggunakan spektrofotometri serapan atom (AAS) untuk mendeteksi kadar merkuri. Responden masyarakat ditentukan secara purposif, dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang berdasarkan perhitungan rumus Slovin. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter fisik kualitas air bervariasi pada lima lokasi, dengan beberapa parameter mendekati batas ambang minimal kualitas air. Konsentrasi merkuri dalam jaringan ikan nila berkisar antara 0,000971 hingga 0,0021 mg/kg, dengan nilai tertinggi ditemukan pada lokasi yang berdekatan dengan aktivitas industri. Hasil perhitungan RQ untuk pajanan harian (realtime) menunjukkan nilai sebesar 1,643, sedangkan RQ untuk pajanan jangka panjang (lifetime) mencapai 4,383 pada durasi paparan hingga 40 tahun, yang mengindikasikan adanya potensi risiko kesehatan yang signifikan. Kesimpulan: Konsumsi ikan nila dari perairan Morosi berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang akibat akumulasi merkuri, terutama pada individu dengan durasi paparan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi melalui pengurangan konsumsi ikan dari wilayah terdampak, penguatan pengawasan terhadap pencemaran lingkungan, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya kontaminasi logam berat dan strategi pencegahannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5