cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
ISSN : 28078829     EISSN : 28078659     DOI : https://doi.org/10.51878/educator.v2i1
Core Subject : Education,
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 230 Documents
PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN PETA DAN GLOBE TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS SISWA SMP Sri Mardiani; Lalu Parhanuddin; Armin Subhani
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15247

Abstract

ABSTRACT Social Studies learning, particularly geography and history, still faces limitations in the use of instructional media that can support student engagement, resulting in less optimal learning motivation and achievement. This study aimed to analyze the effect of using maps and globes on learning achievement, the relationship between their use and learning motivation, and the relationship between motivation and learning achievement among eighth-grade students at SMP Negeri 2 Kediri and SMP Negeri 2 Kuripan. A quantitative approach with an experimental design was employed, involving an experimental group taught using maps and globes and a control group taught without these media. Data were collected through learning achievement tests and motivation questionnaires whose validity and reliability had been established. Data were analyzed using t-tests, Pearson product-moment correlation, and multiple correlation after normality and homogeneity assumptions were met. The results showed significantly higher learning achievement in the experimental group in geography (t = 12.59) and history (t = 8.29), with t-table = 1.981. The use of maps and globes also showed positive correlations with learning motivation (r = 0.708; 0.797). These findings indicate that maps and globes support students’ motivation and learning achievement in Social Studies. ABSTRAK Pembelajaran Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya geografi dan sejarah, masih menghadapi keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang dapat mendukung keterlibatan siswa, sehingga motivasi dan hasil belajar belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan media peta dan globe terhadap hasil belajar, hubungan penggunaannya dengan motivasi belajar, serta keterkaitan motivasi dengan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kediri dan SMP Negeri 2 Kuripan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen yang melibatkan kelompok eksperimen menggunakan media peta dan globe dan kelompok kontrol tanpa media tersebut. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar dan angket motivasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan melalui uji-t, korelasi product moment, dan korelasi ganda setelah terpenuhinya uji normalitas dan homogenitas. Hasil menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi secara signifikan pada geografi (t = 12,59) dan sejarah (t = 8,29), dengan t tabel = 1,981. Media peta dan globe juga berkorelasi positif dengan motivasi belajar (r = 0,708; 0,797). Temuan menunjukkan bahwa penggunaan media peta dan globe mendukung motivasi dan hasil belajar IPS.
PROFIL PEMAHAMAN GURU TENTANG PERANGKAT AJAR DEEP LEARNING BERBASIS KEARIFAN LOKAL SASAK DALAM PEMBELAJARAN SENI RUPA SMA Usman Usman; Khirjan Nahdi; Muh. Jaelani Al-Pansori
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15248

Abstract

ABSTRACT Art education in the Merdeka Curriculum should promote mindful, meaningful, and joyful learning through a deep learning approach. Sasak local wisdom has strong potential as a learning resource, but its implementation requires teachers to translate concepts into operational teaching materials. This study aims to map the understanding of senior high school Art teachers in Central Lombok regarding deep learning-based teaching modules, instructional materials, and assessment instruments integrated with Sasak local wisdom. The study employed a descriptive design with qualitative inquiry involving seven Art teachers from public senior high schools. Data were collected through questionnaires, semi-structured interviews, and document analysis and analyzed descriptively and thematically. The results showed that teachers’ understanding was categorized as “Good,” with scores of 69.20% for teaching modules, 73.98% for instructional materials, and 65.71% for assessment instruments. Teachers understood deep learning principles and Sasak cultural resources but faced difficulties in independently developing modules, creating interactive instructional materials, and formulating specific assessment indicators. These findings highlight the need for continuous support to strengthen culturally responsive learning implementation. ABSTRAK Pembelajaran Seni Rupa dalam Kurikulum Merdeka perlu diarahkan pada pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan melalui pendekatan deep learning. Kearifan lokal Sasak berpotensi menjadi sumber belajar, tetapi penerapannya memerlukan kemampuan guru menerjemahkan konsep ke dalam perangkat ajar yang operasional. Penelitian ini bertujuan memetakan pemahaman guru Seni Rupa SMA di Lombok Tengah tentang modul ajar, bahan ajar, dan instrumen penilaian deep learning berbasis kearifan lokal Sasak. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendalaman kualitatif dan melibatkan tujuh guru Seni Rupa SMA Negeri. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen serta dianalisis secara deskriptif dan tematik. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman guru berada pada kategori Paham, dengan skor modul ajar 69,20%, bahan ajar 73,98%, dan instrumen penilaian 65,71%. Guru memahami prinsip deep learning dan sumber budaya Sasak, tetapi masih menghadapi kendala dalam penyusunan modul mandiri, pengembangan bahan ajar interaktif, dan perumusan indikator penilaian spesifik. Temuan ini menegaskan perlunya pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat implementasi pembelajaran berbasis budaya lokal.
PROFIL PESERTA DIDIK DIGITAL PADA ERA GENERATIVE ARTIFICIAL INTELLIGENCE: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Yusli Malindera; Lalu Muh. Mi’rojusshibyan; M. Ihwanul Muslimin; Irmanom Irmanom; Nur’aini Nur’aini
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15249

Abstract

ABSTRACT Generative Artificial Intelligence (GenAI) has transformed the educational landscape and increased the need to understand digital learner profiles. This study aimed to characterize digital learner profiles, identify their key dimensions, analyze variations based on contextual and demographic factors, and formulate implications for education. A qualitative Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA 2020 protocol. Literature searches across eight databases covering publications from 2016–2026 yielded 74 eligible articles analyzed through thematic synthesis. The findings indicate that digital learner profiles are multidimensional constructs encompassing AI literacy and competence, cognitive and metacognitive characteristics, psychological attitudes, usage patterns and learning strategies, contextual-demographic factors, and social and creative dimensions. AI literacy was the dominant dimension, appearing in 68 articles (91.9%). The synthesis also identified four profiles: cautious adopters (32%), knowledge-seekers (28%), efficiency-seekers (21%), and sceptics (19%). Profile variations were associated with demographic characteristics, technological experience, academic discipline, and institutional support. These findings highlight the need for differentiated learning and critical, ethical, and reflective AI literacy. ABSTRAK Generative Artificial Intelligence (GenAI) telah mengubah lanskap pendidikan dan menuntut pemahaman terhadap profil peserta didik digital. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi profil peserta didik, mengidentifikasi dimensinya, menganalisis variasinya berdasarkan faktor kontekstual dan demografis, serta merumuskan implikasinya bagi pendidikan. Penelitian menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan kualitatif dan protokol PRISMA 2020. Pencarian pada delapan database periode 2016–2026 menghasilkan 74 artikel yang dianalisis melalui sintesis tematik. Hasil menunjukkan bahwa profil peserta didik digital merupakan konstruk multidimensi yang mencakup literasi dan kompetensi AI, aspek kognitif dan metakognitif, sikap psikologis, pola penggunaan dan strategi belajar, faktor kontekstual-demografis, serta dimensi sosial dan kreatif. Literasi AI menjadi dimensi dominan, ditemukan pada 68 artikel (91,9%). Sintesis juga mengidentifikasi empat profil, yaitu cautious adopters (32%), knowledge-seekers (28%), efficiency-seekers (21%), dan sceptics (19%). Variasi profil berkaitan dengan karakteristik demografis, pengalaman teknologi, disiplin ilmu, dan dukungan institusional. Temuan menegaskan perlunya pembelajaran terdiferensiasi dan literasi AI yang kritis, etis, serta reflektif.
EFEKTIVITAS KONSELING INDIVIDU TEKNIK KURSI KOSONG UNTUK MENGATASI INNER CHILD PADA MAHASISWA Safitri Safitri; Micha Felayati Silalahi; Ikhlas Rasido; Nur Eka Wahyuningsih Riyadi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15388

Abstract

Inner child refers to the part of the self associated with emotional experiences during childhood that may influence emotional conditions, self-confidence, interpersonal relationships, and behavior in adulthood. This study aimed to determine the effectiveness of individual counseling using the empty chair technique in addressing inner child issues among university students. The study employed a quantitative approach with a Single Subject Research (SSR) A–B design. The population consisted of 80 students from the 2023 cohort at Universitas Tadulako, while two students were selected through purposive sampling based on screening results, predetermined research criteria, and their willingness to participate in the entire intervention process. Measurements were conducted six times, consisting of two baseline (A) sessions and four intervention (B) sessions, using a 30-item inner child questionnaire. The instrument testing showed that all items were valid, with calculated r values exceeding the r table value of 0.219, and a Cronbach’s Alpha coefficient of 0.898. The results showed an increase in inner child scores in both subjects following the intervention. Subject 1 increased from 33–34 during the baseline phase to 40, 60, 79, and 105 during the intervention phase, while Subject 2 increased from 35–36 to 44, 68, 86, and 111. In this study, higher scores indicated a better inner child condition. The between-condition analysis showed a 0% overlap percentage for both subjects. These findings indicate that individual counseling using the empty chair technique produced positive changes and was effective in addressing inner child issues among the two university students who participated in the study. ABSTRAK Inner child merupakan bagian diri yang berkaitan dengan pengalaman emosional masa kanak-kanak dan dapat memengaruhi kondisi emosional, kepercayaan diri, hubungan interpersonal, serta perilaku individu pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling individu menggunakan teknik kursi kosong dalam mengatasi permasalahan inner child pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Single Subject Research (SSR) A–B. Populasi penelitian berjumlah 80 mahasiswa angkatan 2023 Universitas Tadulako, sedangkan dua mahasiswa dipilih sebagai subjek melalui purposive sampling berdasarkan hasil screening, kriteria penelitian, dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian intervensi. Pengukuran dilakukan sebanyak enam kali, terdiri atas dua kali fase baseline (A) dan empat kali fase intervensi (B), menggunakan angket inner child yang terdiri atas 30 butir. Hasil uji instrumen menunjukkan seluruh butir valid dengan nilai r hitung lebih besar daripada r tabel sebesar 0,219 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,898. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor inner child pada kedua subjek setelah pemberian intervensi. Subjek 1 meningkat dari skor 33–34 pada fase baseline menjadi 40, 60, 79, dan 105 pada fase intervensi, sedangkan Subjek 2 meningkat dari 35–36 menjadi 44, 68, 86, dan 111. Dalam penelitian ini, skor yang lebih tinggi menunjukkan kondisi inner child yang semakin baik. Analisis antar kondisi menunjukkan persentase overlap sebesar 0% pada kedua subjek. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konseling individu menggunakan teknik kursi kosong memberikan perubahan positif dan efektif dalam membantu mengatasi permasalahan inner child pada kedua mahasiswa yang menjadi subjek penelitian.
PENGARUH KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) TERHADAP KONTROL DIRI SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 GERUNG Nanda Salsabilla Syaqinah; Hariadi Ahmad; M. Najamuddin
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15401

Abstract

ABSTRACT Self-control is an individual's ability to regulate thoughts, emotions, and behaviors in accordance with goals and applicable norms, which plays an important role in students' academic success and social adjustment. This study was motivated by the identification of several eleventh-grade students at SMA Negeri 1 Gerung who demonstrated low self-control, as indicated by frequent lateness to class, becoming easily angry when reprimanded, noncompliance with school rules, and conflicts with peers. This study aimed to determine the effect of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) counseling on the self-control of eleventh-grade students. A quantitative approach with a one-group pretest-posttest design was employed. The research subjects were selected using purposive sampling based on the results of an initial assessment of self-control using a Likert-scale questionnaire. The intervention was conducted through group counseling using the REBT approach, consisting of problem identification, identification of irrational thoughts, challenging irrational beliefs, developing rational beliefs, changing emotional and behavioral responses, and practicing the acquired skills. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and the Paired Sample t-Test with the assistance of SPSS. The results showed an increase in the mean self-control score from 103.67 in the pretest to 128.00 in the posttest. The Paired Sample t-Test yielded t = 17.541, df = 5, and p = 0.000 < 0.05. Therefore, group counseling using the REBT approach had a significant effect on improving students' self-control and can serve as an alternative guidance and counseling service in schools. ABSTRAK Kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengatur pikiran, emosi, dan perilaku sesuai dengan tujuan dan norma yang berlaku, yang berperan penting dalam keberhasilan belajar dan penyesuaian sosial siswa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ditemukannya siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gerung yang menunjukkan kontrol diri rendah, ditandai dengan keterlambatan masuk kelas, mudah marah ketika ditegur, kurang mematuhi tata tertib, dan terlibat konflik dengan teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) terhadap kontrol diri siswa kelas XI. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling berdasarkan hasil pengukuran awal kontrol diri menggunakan angket berskala Likert. Perlakuan diberikan melalui konseling kelompok dengan pendekatan REBT yang meliputi identifikasi masalah, identifikasi pikiran irasional, menantang keyakinan irasional, membangun keyakinan rasional, perubahan emosi dan perilaku, serta latihan dan praktik. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan Paired Sample t-Test dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor kontrol diri dari 103,67 pada pretest menjadi 128,00 pada posttest. Hasil Paired Sample t-Test menunjukkan nilai t = 17,541, df = 5, dan p = 0,000 < 0,05. Dengan demikian, konseling kelompok dengan pendekatan REBT berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kontrol diri siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gerung dan dapat menjadi alternatif layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
PENGARUH TEKNIK BEHAVIOR CONTRACT TERHADAP PERILAKU OPOSISI PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMPN 2 LINGSAR Muthiani; Ni Ketut Alit Suarti; Lalu Jaswandi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15417

Abstract

ABSTRACT Oppositional behavior is one of the behavioral problems commonly found among junior high school students, characterized by arguing, refusing instructions, violating rules, becoming easily angry, disturbing peers, and displaying defiant attitudes toward authority figures. If not appropriately addressed, such behavior may interfere with the learning process and students’ social-emotional development. This study aimed to determine the effect of the behavior contract technique on oppositional behavior among eighth-grade students at SMP Negeri 2 Lingsar in the 2026/2027 academic year. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The participants were 6 students selected through purposive sampling from a population of 108 eighth-grade students based on initial assessment results indicating high and very high levels of oppositional behavior. Data were collected using a 34-item oppositional behavior questionnaire with four response options. The behavior contract intervention was implemented through group counseling services involving behavioral agreement, periodic monitoring, and reinforcement. The data were analyzed using a Paired Sample t-Test with the assistance of SPSS. The results showed that the mean oppositional behavior score decreased from 113.83 in the pretest to 78.67 in the posttest, representing a decrease of 35.17 points. The Paired Sample t-Test yielded a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that H0 was rejected and Ha was accepted. Therefore, the behavior contract technique implemented through group counseling services had a significant effect on reducing students’ oppositional behavior. variabel utama dan konteks penelitian.  ABSTRAK Perilaku oposisi merupakan salah satu permasalahan perilaku pada peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ditandai dengan perilaku membantah, menolak instruksi, melanggar aturan, mudah marah, mengganggu teman, dan menentang figur otoritas. Perilaku tersebut apabila tidak ditangani secara tepat dapat menghambat proses pembelajaran serta perkembangan sosial-emosional peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik behavior contract terhadap perilaku oposisi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Lingsar Tahun Pelajaran 2026/2027. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 6 peserta didik yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari 108 peserta didik kelas VIII berdasarkan hasil pengukuran awal dengan kategori perilaku oposisi tinggi dan sangat tinggi. Data dikumpulkan menggunakan angket perilaku oposisi yang terdiri atas 34 item dengan empat alternatif jawaban. Intervensi teknik behavior contract dilaksanakan melalui layanan konseling kelompok dengan tahapan penyusunan kesepakatan perilaku, pemantauan, dan pemberian penguatan. Data dianalisis menggunakan Paired Sample t-Test dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku oposisi menurun dari 113,83 pada saat pretest menjadi 78,67 pada saat posttest, dengan penurunan sebesar 35,17 poin. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, teknik behavior contract melalui layanan konseling kelompok berpengaruh signifikan dalam menurunkan perilaku oposisi peserta didik.
PENGARUH KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR TERAPHY (REBT) TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIER SISWA KELAS XI SMAN 6 MATARAM Satia Saharani; Ni Ketut Alit Suarti; Mujiburrahman Mujiburrahman; Baiq Sarlita Kartiani
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15418

Abstract

ABSTRACT Career decision-making is an important aspect of students’ development because it is related to their ability to determine educational and occupational choices in accordance with their potential. However, self-doubt, fear of failure, and irrational thought patterns may hinder students from making appropriate career decisions. This study aimed to determine the effect of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) counseling on the career decision-making of Grade XI students at SMAN 6 Mataram. This study employed a quantitative approach with a One Group Pretest–Posttest design. An initial assessment was conducted with 403 students, after which 7 students with the lowest career decision-making scores were selected as research subjects based on the initial identification results. The subjects received individual counseling using the REBT approach, followed by measurements before and after the intervention. The data were analyzed using a normality test and a paired samples t-test to determine the effect of REBT counseling on the career decision-making of the research subjects. The results showed that REBT counseling had an effect on students’ career decision-making. The mean pretest score was 58.43 with a standard deviation of 5.996, while the paired samples t-test indicated an effect of REBT counseling on career decision-making following the intervention. These findings indicate that REBT counseling has an effect on helping students identify and modify irrational thought patterns that hinder the career decision-making process. Therefore, REBT counseling can be used as an alternative guidance and counseling service to support the improvement of career decision-making abilities among students with low levels of career decision-making. The findings of this study are limited to the 7 students who participated as research subjects and therefore cannot be directly generalized to all Grade XI students at SMAN 6 Mataram. ABSTRAK Keputusan karier merupakan aspek penting dalam perkembangan siswa karena berkaitan dengan kemampuan menentukan pilihan pendidikan dan pekerjaan sesuai dengan potensi diri. Namun, keraguan terhadap kemampuan diri, ketakutan terhadap kegagalan, dan pola pikir irasional dapat menghambat siswa dalam mengambil keputusan karier secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) terhadap keputusan karier siswa kelas XI SMAN 6 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pretest–Posttest. Pengukuran awal dilakukan terhadap 403 siswa, kemudian dipilih 7 siswa dengan skor keputusan karier terendah sebagai subjek penelitian berdasarkan hasil identifikasi awal. Subjek diberikan layanan konseling individu menggunakan pendekatan REBT, kemudian dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas dan paired samples t-test untuk mengetahui pengaruh konseling REBT terhadap keputusan karier subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling REBT berpengaruh terhadap keputusan karier siswa. Rata-rata skor pretest sebesar 58,43 dengan standar deviasi 5,996, sedangkan hasil uji paired samples t-test menunjukkan adanya pengaruh konseling REBT terhadap keputusan karier setelah diberikan intervensi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konseling REBT berpengaruh dalam membantu siswa mengidentifikasi dan mengubah pola pikir irasional yang menghambat proses pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, konseling REBT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif layanan bimbingan dan konseling untuk mendukung peningkatan kemampuan mengambil keputusan karier pada siswa yang memiliki tingkat keputusan karier rendah. Hasil penelitian ini terbatas pada 7 siswa yang menjadi subjek penelitian sehingga tidak dapat digeneralisasikan secara langsung kepada seluruh siswa kelas XI SMAN 6 Mataram.
PENGARUH TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING TERHADAP STRES AKADEMIK PADA SISWA SMP ISLAM ARROHMAN GERINTUK LOMBOK TENGAH PRAYA BARAT DAYA Suci Fatmawati; Hariadi Ahmad; Ani Endrian
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15440

Abstract

ABSTRACT Academic stress is one of the problems that can interfere with students’ learning processes and development; therefore, an appropriate intervention is needed to help students manage academic pressure and negative thoughts. This study aimed to determine the effect of the Cognitive Restructuring technique on the academic stress of students at SMP Islam Arrohman Gerintuk, Central Lombok, Southwest Praya, in the 2026/2027 academic year. This study employed a quantitative approach using an experimental method with a One Group Pretest-Posttest Design. The population consisted of 49 students, while the sample comprised 9 students who met the criteria for experiencing academic stress based on the initial assessment and were selected using purposive sampling. The research procedures included administering a pretest, implementing the Cognitive Restructuring technique, and administering a posttest. The data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-Wilk normality test, and the Paired Sample t-Test. The results showed that the mean academic stress score before the intervention was 140.11 with a standard deviation of 7.66, while the mean score after the intervention decreased to 91.78 with a standard deviation of 10.91, indicating a mean reduction of 48.33 points. The Paired Sample t-Test resulted in t = 12.445, df = 8, with a significance value of 0.000 (p < 0.05). Therefore, there was a significant difference in students’ academic stress levels before and after the intervention, indicating that the Cognitive Restructuring technique had a significant effect on reducing students’ academic stress. ABSTRAK Stres akademik merupakan salah satu permasalahan yang dapat menghambat proses belajar dan perkembangan siswa, sehingga diperlukan upaya intervensi yang tepat untuk membantu siswa mengelola pikiran dan tekanan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik Cognitive Restructuring terhadap stres akademik siswa SMP Islam Arrohman Gerintuk Lombok Tengah Praya Barat Daya Tahun Pelajaran 2026/2027. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian berjumlah 49 siswa, sedangkan sampel terdiri atas 9 siswa yang memenuhi kriteria mengalami stres akademik berdasarkan hasil pengukuran awal dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi pemberian pretest, pelaksanaan teknik Cognitive Restructuring, dan pemberian posttest. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor stres akademik sebelum perlakuan sebesar 140,11 dengan standar deviasi 7,66, sedangkan setelah perlakuan menurun menjadi 91,78 dengan standar deviasi 10,91, sehingga terjadi penurunan rata-rata sebesar 48,33 poin. Hasil Paired Sample t-Test menunjukkan nilai t = 12,445 dengan df = 8 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat stres akademik sebelum dan sesudah perlakuan, sehingga teknik Cognitive Restructuring berpengaruh signifikan terhadap penurunan stres akademik siswa.
PENGARUH KONSELING BEHAVIORISTIK TEKNIK MODELLING TERHADAP PERILAKU BULLYING SISWA SMA NEGERI 7 MATARAM Baiq Annila Alminasari; Hariadi Ahmad; Baiq Sarlita Kartiani
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15498

Abstract

ABSTRACT Bullying behavior in the school environment is one of the problems that can interfere with students’ social and psychological development and create a less conducive learning environment. Therefore, appropriate guidance and counseling services are needed to help reduce such behavior. This study aimed to determine the effect of behavioristic counseling using the modelling technique on bullying behavior among students at SMA Negeri 7 Mataram. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental design using a One Group Pretest–Posttest Design. The study began with a pretest administered to 105 students using a bullying behavior questionnaire consisting of 20 statements. Based on the pretest results, six students with the highest bullying behavior scores were selected using purposive sampling. The selected participants subsequently received treatment in the form of group counseling based on a behavioristic approach using the modelling technique for three sessions. After the treatment, a posttest was administered to determine changes in bullying behavior scores. The results showed a decrease in the mean bullying behavior score from 67.33 in the pretest to 46.50 in the posttest. The results of the Paired Sample t-Test showed a Sig. (2-tailed) value of 0.000 (< 0.05), indicating a statistically significant difference between the bullying behavior scores before and after the treatment. Thus, the findings indicate that behavioristic counseling using the modelling technique through group counseling was effective in helping reduce bullying behavior among students at SMA Negeri 7 Mataram. ABSTRAK Perilaku bullying di lingkungan sekolah merupakan salah satu permasalahan yang dapat mengganggu perkembangan sosial dan psikologis siswa serta menciptakan suasana belajar yang kurang kondusif. Oleh karena itu, diperlukan upaya layanan bimbingan dan konseling yang tepat untuk membantu mengurangi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling behavioristik dengan teknik modelling terhadap perilaku bullying siswa SMA Negeri 7 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe One Group Pretest–Posttest Design. Subjek penelitian diawali dengan pemberian pretest kepada 105 siswa menggunakan angket perilaku bullying yang terdiri atas 20 butir pernyataan. Berdasarkan hasil pretest, dipilih 6 siswa yang memperoleh skor perilaku bullying tertinggi melalui teknik purposive sampling. Selanjutnya, subjek diberikan treatment berupa konseling kelompok dengan pendekatan behavioristik menggunakan teknik modelling sebanyak tiga kali pertemuan. Setelah treatment selesai, subjek diberikan posttest untuk mengetahui perubahan skor perilaku bullying. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan rata-rata skor perilaku bullying dari 67,33 pada pretest menjadi 46,50 pada posttest. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor perilaku bullying sebelum dan sesudah pemberian treatment. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling behavioristik dengan teknik modelling melalui konseling kelompok efektif dalam membantu menurunkan perilaku bullying pada siswa SMA Negeri 7 Mataram.
EVALUATION OF THE MORAL AGREEMENT MODEL TO IMPROVE PERFORMANCE AND WORK CULTURE AT THE AL-BAHJAH CIREBON FOUNDATION Faizatulatifah Faizatulatifah; Fadia Nurfazriah
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15029

Abstract

ABSTRACT This study examines the implementation of the moral agreement at Yayasan Al-Bahjah Cirebon by positioning moral values as part of organizational practice rather than merely as written rules. The evaluation was directed at examining how organizational needs, resource support, implementation, and outcomes are interconnected through the CIPP (Context, Input, Process, Product) model. A qualitative approach with a case study design was employed, involving five key informants selected through purposive sampling based on their involvement in organizational implementation and management. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), participatory observation, and organizational document review, and were subsequently analyzed thematically and mapped onto the four dimensions of CIPP. The findings indicate that implementation was supported by the need for shared behavioral guidelines, the presence of the Manhajiah Pejuang, personnel guidelines, and organizational resources. At the process stage, the guidelines were applied in work activities and interactions, although consistency of implementation and member involvement varied. At the product stage, reported improvements were identified in individual performance, changes in work culture, more directed work behavior, and a more conducive work environment. These findings position the moral agreement as an evaluative and organizational instrument whose sustainability depends on consistent implementation and member involvement. ABSTRAK Penelitian ini menelaah pelaksanaan moral agreement di Yayasan Al-Bahjah Cirebon dengan menempatkan nilai moral sebagai bagian dari praktik organisasi, bukan sekadar aturan tertulis. Evaluasi diarahkan untuk melihat bagaimana kebutuhan organisasi, dukungan sumber daya, pelaksanaan, dan hasilnya saling terhubung melalui model CIPP (Context, Input, Process, Product). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus, melibatkan lima informan kunci yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka dalam implementasi dan pengelolaan organisasi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi partisipatif, dan telaah dokumen organisasi, kemudian dianalisis secara tematik dan dipetakan ke dalam empat dimensi CIPP. Temuan memperlihatkan bahwa implementasi didukung oleh kebutuhan akan pedoman perilaku bersama, keberadaan Manhajiah Pejuang, pedoman personalia, serta dukungan sumber daya organisasi. Pada tahap proses, pedoman telah digunakan dalam aktivitas dan interaksi kerja, meskipun konsistensi penerapan dan keterlibatan anggota masih beragam. Pada tahap produk, ditemukan laporan mengenai perbaikan kinerja individu, perubahan budaya kerja, perilaku kerja yang lebih terarah, dan lingkungan kerja yang lebih kondusif. Temuan ini menempatkan moral agreement sebagai instrumen evaluatif dan organisatoris yang keberlanjutannya bergantung pada konsistensi penerapan serta keterlibatan anggota.