cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru
ISSN : 28078837     EISSN : 28078667     DOI : https://doi.org/10.51878/teacher.v2i1
Core Subject : Education,
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik dan lain lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 251 Documents
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPAS MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD Fadzilah Jati Mulyana; Hatma Heris Mahendra; Fajar Nugraha
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14148

Abstract

This study was motivated by the low learning outcomes in Natural and Social Sciences (IPAS) among fourth-grade students at SDN Sinagar, as shown by baseline data in which only 8 of 24 students (33.33%) reached the Minimum Mastery Criteria (KKM) of 75. This condition was triggered by teacher-centered instruction that left students passive and poorly trained in solving authentic problems. This study aimed to describe the planning, implementation, and improvement of IPAS learning outcomes of fourth-grade students at SDN Sinagar on the topic of Interaction between Living Things and the Environment through the application of the Problem Based Learning (PBL) model. The method used was Classroom Action Research (CAR) following the Kemmis and McTaggart model, carried out in two cycles, each consisting of planning, acting, observing, and reflecting stages, with 24 fourth-grade students as subjects. Data were collected through learning outcome tests, observation of teacher and student activities, and documentation, then analyzed descriptively using quantitative and qualitative approaches. The results showed a consistent improvement across cycles. The quality of lesson planning increased from 61.84% (fair) in Cycle I to 94.74% (very good) in Cycle II. Teacher activity increased from 72.92% to 97.92%, and student activity increased from 62.50% to 100%. The class average score rose from 65.42 (pre-cycle) to 75.83 (Cycle I) and reached 86.87 (Cycle II), while classical mastery increased from 33.33% to 83.33% and finally 100%, exceeding the success indicator of ≥ 85%. It can be concluded that the application of the Problem Based Learning model is effective in improving the IPAS learning outcomes of fourth-grade students at SDN Sinagar. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) siswa kelas IV SDN Sinagar, yang ditunjukkan oleh data awal bahwa hanya 8 dari 24 siswa (33,33%) mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 75. Kondisi ini dipicu oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher-centered), sehingga siswa cenderung pasif dan kurang terlatih memecahkan masalah nyata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan peningkatan hasil belajar IPAS siswa kelas IV SDN Sinagar pada materi Interaksi Makhluk Hidup dan Lingkungan melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL). Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi, dengan subjek 24 siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, observasi aktivitas guru dan siswa, serta dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang konsisten pada setiap siklus. Kualitas perencanaan pembelajaran meningkat dari 61,84% (kategori cukup) pada Siklus I menjadi 94,74% (sangat baik) pada Siklus II. Aktivitas guru meningkat dari 72,92% menjadi 97,92%, dan aktivitas siswa meningkat dari 62,50% menjadi 100%. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 65,42 (pra-siklus) menjadi 75,83 (Siklus I) dan mencapai 86,87 (Siklus II), dengan ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 33,33% menjadi 83,33% dan akhirnya 100%, melampaui indikator keberhasilan penelitian sebesar ≥ 85%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPAS siswa kelas IV SDN Sinagar.
PENGARUH METODE ROLE PLAYING TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Nurapni Juliati; Febri Fajar Pratama; Hatma Heris Mahendra
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14220

Abstract

The learning of Natural and Social Sciences (IPAS) in grade IV of SDN 2 Pengadilan is still dominated by one-way lecturing, causing students to be passive and to achieve less than optimal learning outcomes, particularly on the topic of buying and selling as a way of fulfilling needs. Prior studies on the Role Playing method are abundant, yet most focus on Social Studies (IPS), while research on its effect on IPAS a subject newly introduced under the Merdeka Curriculum for fourth-grade students remains scarce. This study's novelty lies in applying the Role Playing method specifically within the IPAS learning context, aiming to describe its effect on the IPAS learning outcomes of fourth-grade elementary school students. The study used a quantitative approach with a quasi-experimental method employing a Nonequivalent Control Group Design involving an experimental group and a control group of fourth-grade students at SDN 2 Pengadilan. Learning outcome data were collected through tests that had been tested for validity and reliability, then analyzed using prerequisite tests and the Independent Sample T-Test. The results showed that the increase in learning outcomes of the experimental group taught with the Role Playing method was higher and significantly different from the control group taught with conventional learning. These findings confirm that the Role Playing method has a significant effect on the IPAS learning outcomes of fourth-grade elementary school students and can be used as an alternative, more active and meaningful learning variation, contributing new empirical evidence on Role Playing in the still-underexplored IPAS subject. ABSTRAK Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas IV SDN 2 Pengadilan masih didominasi oleh metode ceramah satu arah sehingga siswa cenderung pasif dan hasil belajarnya belum optimal, khususnya pada materi kegiatan jual beli sebagai salah satu cara pemenuhan kebutuhan. Penelitian mengenai metode Role Playing telah banyak dilakukan, namun sebagian besar berfokus pada mata pelajaran IPS, sedangkan kajian mengenai pengaruhnya terhadap hasil belajar IPAS sebagai mata pelajaran baru dalam Kurikulum Merdeka pada siswa kelas IV sekolah dasar masih sangat terbatas. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan metode Role Playing secara khusus dalam konteks pembelajaran IPAS, sehingga penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh metode Role Playing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen desain Nonequivalent Control Group Design yang melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada siswa kelas IV SDN 2 Pengadilan. Data hasil belajar dikumpulkan melalui tes yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis melalui uji prasyarat serta uji hipotesis Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar kelompok eksperimen yang menerapkan metode Role Playing lebih tinggi dan berbeda secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional. Temuan ini menegaskan bahwa metode Role Playing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV sekolah dasar dan dapat dijadikan alternatif variasi pembelajaran yang lebih aktif dan bermakna, sekaligus melengkapi kajian empiris tentang penerapan Role Playing pada mata pelajaran IPAS yang masih jarang diteliti.
PENGEMBANGAN E-MODUL SEJARAH BERBASIS INFOGRAFIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI PESERTA DIDIK SMP Sinta Dewi Maulani; Nara Setya Wiratama; Zainal Afandi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14221

Abstract

This research was motivated by the low literacy skills of students in history learning and the limited use of engaging and innovative learning media at SMP Pawyatan Daha 1 Kediri. History learning, which is still dominated by the use of textbooks and conventional teaching methods, causes students to be less active in understanding historical materials. This study aims to determine the development process of an infographic-based history e-module, its feasibility and practicality, and its effectiveness in improving students' literacy skills. This study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consists of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, documentation, and pre-test and post-test. The results showed that the infographic-based history e-module obtained a validation score of 97.5% from the material expert, categorized as very valid, and 85% from the media expert, categorized as valid. The practicality of the e-module obtained a score of 90% based on the teacher's response and 80% based on the students' responses, with an average score of 85%, categorized as very practical. The effectiveness of the e-module was demonstrated by an increase in the students' average score from 79 on the pre-test to 94 on the post-test, with an N-Gain score of 71.43%, categorized as high. Therefore, the infographic-based history e-module is feasible, practical, and effective for use as a learning material to support the improvement of students' literacy skills at SMP Pawyatan Daha 1 Kediri. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan literasi peserta didik dalam pembelajaran sejarah serta masih terbatasnya penggunaan media pembelajaran yang menarik dan inovatif di SMP Pawyatan Daha 1 Kediri. Pembelajaran sejarah yang masih didominasi penggunaan buku teks dan metode konvensional menyebabkan peserta didik kurang aktif dalam memahami materi sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengembangan e-modul sejarah berbasis infografis, tingkat kelayakan dan kepraktisan produk, serta efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dokumentasi, serta tes pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul sejarah berbasis infografis memperoleh persentase validasi sebesar 97,5% dari ahli materi dengan kategori sangat valid dan 85% dari ahli media dengan kategori valid. Kepraktisan e-modul memperoleh persentase sebesar 90% berdasarkan respons guru dan 80% berdasarkan respons peserta didik, dengan rata-rata sebesar 85% yang termasuk kategori sangat praktis. Efektivitas e-modul ditunjukkan melalui peningkatan nilai rata-rata dari 79 pada pre-test menjadi 94 pada post-test, dengan nilai N-Gain sebesar 71,43% yang termasuk kategori tinggi. Dengan demikian, e-modul sejarah berbasis infografis layak, praktis, dan efektif digunakan sebagai bahan ajar untuk mendukung peningkatan kemampuan literasi peserta didik di SMP Pawyatan Daha 1 Kediri.
PENINGKATAN PARTISIPASI BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI SMP NEGERI 1 PONTIANAK Arjun Wahyudi; Era Dara Babalo; Gita Aidilia Fitri; Gracia Efra Scolastika; Ratih Nur Zammi; Suhaida Suhaida
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14291

Abstract

ABSTRACT Student participation in social studies learning is reflected not only in verbal activity but also in engagement with thinking processes and responses to learning experiences. The initial condition in class VIIIB at SMP Negeri 01 Pontianak indicated uneven student engagement, leading to an instructional improvement effort through the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach. This classroom action research was conducted in two cycles involving 28 students. Changes in participation were observed across three dimensions, namely verbal, cognitive, and emotional participation, while academic achievement was assessed through tests administered at the end of each cycle. The data showed that all three dimensions of participation increased from Cycle I to Cycle II. Verbal participation increased from 68.32 to 79.64, cognitive participation from 68.86 to 79.79, and emotional participation from 68.21 to 80.00. Overall participation increased from 68.46 to 79.81, accompanied by a shift in category distribution from predominantly Poor in Cycle I to Good and Very Good in Cycle II. The range of learning outcomes also shifted from 61–86 to 74–94. These findings position CTL as an alternative for improving social studies instruction by creating greater opportunities for comprehensive student engagement, although the changes in learning outcomes are not interpreted as a causal relationship with participation. ABSTRAK Partisipasi murid dalam pembelajaran IPS tidak hanya tercermin dari aktivitas berbicara, tetapi juga dari keterlibatan dalam proses berpikir dan respons terhadap pengalaman belajar. Kondisi awal pada kelas VIIIB SMP Negeri 01 Pontianak memperlihatkan keterlibatan yang belum merata, sehingga perbaikan pembelajaran diarahkan melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan melibatkan 28 murid. Perubahan partisipasi diamati melalui tiga dimensi, yaitu lisan, kognitif, dan emosional, sedangkan capaian akademik diperoleh melalui tes pada akhir setiap siklus. Data menunjukkan bahwa ketiga dimensi partisipasi mengalami peningkatan dari Siklus I ke Siklus II. Rata-rata partisipasi lisan meningkat dari 68,32 menjadi 79,64, partisipasi kognitif dari 68,86 menjadi 79,79, dan partisipasi emosional dari 68,21 menjadi 80,00. Secara keseluruhan, rata-rata partisipasi meningkat dari 68,46 menjadi 79,81, disertai pergeseran distribusi kategori dari dominan Kurang Baik pada Siklus I menjadi Baik dan Sangat Baik pada Siklus II. Rentang hasil belajar juga bergerak dari 61–86 menjadi 74–94. Temuan ini menempatkan CTL sebagai alternatif perbaikan pembelajaran IPS yang dapat membuka ruang keterlibatan murid secara lebih menyeluruh, meskipun perubahan hasil belajar tidak ditafsirkan sebagai hubungan kausal dengan partisipasi.
ANALISIS GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VIII DALAM PEMBELAJARAN IPA PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA Meriani Waruwu; Nia Erlina; Putu Hari Sudewa
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14303

Abstract

The implementation of the Merdeka Curriculum requires learning that takes into account the diversity of students’ characteristics and needs, including their learning style preferences in science learning. This study aims to describe and explain the learning styles and factors influencing the learning styles of eighth-grade students in science subjects at SMP Negeri 4 Sukasada. This study employed a mixed-methods approach with a sequential explanatory design. The questionnaire respondents consisted of 119 students from classes VIII B, VIII C, VIII D, and VIII E, while interview informants were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires, semi-structured interviews, and documentation studies, and were analyzed descriptively and using the Miles and Huberman interactive model. The results showed that students exhibited visual, auditory, and kinesthetic learning style tendencies, with visual learning styles accounting for 45.38%, auditory learning styles for 37.82%, and kinesthetic learning styles for 16.80%. The interview findings revealed differences in students’ characteristics in receiving and understanding learning information, while the factors influencing learning styles included physical, emotional, social, and environmental aspects. These findings highlight the importance of using information about students’ learning characteristics as one of the considerations in designing flexible and responsive science learning that accommodates student diversity in the implementation of the Merdeka Curriculum. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut pembelajaran yang memperhatikan keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik, termasuk kecenderungan gaya belajar dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan gaya belajar serta faktor-faktor yang memengaruhi gaya belajar peserta didik kelas VIII pada mata pelajaran IPA di SMP Negeri 4 Sukasada. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan desain eksplanatori sekuensial (sequential explanatory design). Responden angket dalam penelitian ini terdiri atas 119 peserta didik kelas VIII B, VIII C, VIII D, dan VIII E, sedangkan informan wawancara dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik memiliki kecenderungan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dengan distribusi visual sebesar 45,38%, auditori 37,82%, dan kinestetik 16,80%. Hasil wawancara menunjukkan adanya perbedaan karakteristik peserta didik dalam menerima dan memahami informasi pembelajaran, sedangkan faktor yang memengaruhi gaya belajar meliputi aspek fisik, emosional, sosial, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan pentingnya pemanfaatan informasi mengenai karakteristik belajar sebagai salah satu pertimbangan dalam merancang pembelajaran IPA yang fleksibel dan responsif terhadap keberagaman peserta didik dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN IPA PADA KURIKULUM MERDEKA: TANTANGAN DAN STRATEGI ADAPTASI GURU (STUDI KASUS DI SMP NEGERI 4 SUKASADA) Juwidarlian Gulo; Ni Made Pujani; Nia Erlina
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14304

Abstract

The use of digital technology in science learning is increasingly important in supporting interactive learning that aligns with the demands of the Kurikulum Merdeka. This study aims to analyze the implementation of digital technology in science learning under the Kurikulum Merdeka at SMP Negeri 4 Sukasada, to identify the challenges faced by teachers, and to examine the adaptation strategies employed in integrating digital technology into the learning process. This study employed a qualitative approach with a case study design. The subjects consisted of 2 science teachers and 30 eighth-grade students. Data collection techniques included in-depth interviews, observation, and documentation study. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that teachers have utilized various digital tools such as PowerPoint, Canva, Quizizz, Kahoot, Google Forms, instructional videos, and other digital platforms in science instruction. The use of digital technology effectively enhances students' learning motivation, engagement, and comprehension. However, the implementation still encounters several challenges, including disparities in students' digital literacy skills, limitations in selecting appropriate media, and internet network constraints. To overcome these challenges, teachers applied adaptation strategies such as utilizing simpler media, collaborating with peers, and conducting digital-based evaluations. Overall, the implementation of digital technology in science learning delivers a positive impact, although further improvements in infrastructure support and teacher competence are still required to ensure optimal technology integration. This study contributes by identifying teachers' adaptation strategies in addressing the obstacles of digital technology integration in junior high school science learning within the implementation of the Kurikulum Merdeka. ABSTRAK Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran IPA semakin penting dalam mendukung pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi teknologi digital dalam pembelajaran IPA dengan Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 4 Sukasada, mengetahui tantangan yang dihadapi guru, serta strategi adaptasi yang dilakukan dalam mengintegrasikan teknologi digital pada proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas 2 guru IPA dan 30 siswa kelas VIII. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah memanfaatkan berbagai teknologi digital seperti PowerPoint, Canva, Quizizz, Kahoot, Google Form, video pembelajaran, dan platform digital lainnya dalam proses pembelajaran IPA. Pemanfaatan teknologi digital memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan memperoleh respons positif dari siswa, terutama dalam mendukung motivasi, keterlibatan, dan kemudahan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Namun, implementasi teknologi digital masih menghadapi beberapa tantangan, seperti perbedaan kemampuan literasi digital siswa, keterbatasan dalam memilih media yang sesuai, serta kendala jaringan internet. Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru menerapkan berbagai strategi adaptasi seperti penggunaan media yang sederhana, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan evaluasi berbasis digital. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi teknologi digital dalam pembelajaran IPA memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran, meskipun masih diperlukan peningkatan dukungan infrastruktur dan kompetensi guru agar integrasi teknologi dapat berjalan lebih optimal. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa identifikasi strategi adaptasi guru dalam mengatasi kendala integrasi teknologi digital pada pembelajaran IPA di tingkat SMP dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
HUBUNGAN ANTARA KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA PESERTA DIDIK KELAS XI DI SMKN 7 MATARAM Marta Sofianti Malo; Farida Herna Astuti; Mujiburrahman Mujiburrahman; Ani Endriani
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14685

Abstract

ABSTRACT Online game addiction among adolescents is a concern that requires attention because excessive use may be associated with behavioral problems, including aggressive behavior in the school environment. This study focused on examining the relationship between online game addiction and aggressive behavior among eleventh-grade students at SMKN 7 Mataram in the 2025/2026 academic year. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The study population consisted of 86 students, all of whom were selected as the sample using total sampling. Data were collected using two questionnaires, namely an online game addiction questionnaire and an aggressive behavior questionnaire, each consisting of 24 statements. The data were then analyzed using the Pearson Product Moment correlation test with the assistance of SPSS. The results showed a correlation coefficient of 0.622 with a significance value of 0.000 < 0.05. These findings indicate a positive and significant relationship with a strong level of association between online game addiction and aggressive behavior. Thus, the higher the level of online game addiction, the higher the tendency of aggressive behavior among eleventh-grade students at SMKN 7 Mataram. These findings highlight the importance of paying attention to online game use as one of the factors associated with students' behavior in the school environment. ABSTRAK Penggunaan game online yang berlebihan pada remaja dapat berkaitan dengan munculnya berbagai persoalan dalam kehidupan sosial, termasuk kecenderungan perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecanduan game online dengan perilaku agresif pada peserta didik kelas XI di SMKN 7 Mataram Tahun Pelajaran 2025/2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 86 peserta didik yang ditentukan melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan dua angket, yaitu angket kecanduan game online dan angket perilaku agresif, yang masing-masing terdiri atas 24 pernyataan. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,622 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecanduan game online dengan perilaku agresif dengan tingkat hubungan yang kuat. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kecanduan game online, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku agresif pada peserta didik kelas XI SMKN 7 Mataram. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi guru Bimbingan dan Konseling dalam memberikan perhatian terhadap penggunaan game online dan pengembangan pengendalian diri peserta didik.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN KITAB QAWAID AL-IMLA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB TERHADAP KEMAMPUAN MAHARAH KITABAH SISWA Nor Afifah
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.14890

Abstract

ABSTRACT Arabic language learning still faces challenges in developing writing skills, particularly in accurate letter formation, letter connection, and the application of imla' rules. Limited learning resources highlight the need for teaching materials that are relevant to students' learning needs. This study aims to analyze the effectiveness of Qawa'id al-Imla' in improving the maharah al-kitabah of seventh-grade students at MTs Halunuk. This quantitative study employed a One-Group Pretest-Posttest design involving 20 students. Data were collected through pretests and posttests and analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and Paired Sample t-Test. The results showed that the mean score increased from 51.75 in the pretest to 89.50 in the posttest, with a mean improvement of 37.75 points. All students demonstrated increased scores, while the Paired Sample t-Test indicated a significant difference, with t = 23.803, df = 19, and p < 0.001. The 95% confidence interval for the mean difference ranged from 34.43 to 41.07, with a Cohen's d of 5.32. These findings indicate that rule-based teaching materials and gradual writing exercises support the development of Arabic writing skills. The study concludes that Qawa'id al-Imla' is effective in improving maharah al-kitabah within the investigated group, although generalization is limited by the absence of an external control group. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Arab masih menghadapi kendala dalam penguasaan keterampilan menulis, terutama ketepatan bentuk huruf, penyambungan huruf, dan penerapan kaidah imla'. Keterbatasan sumber belajar menunjukkan pentingnya penggunaan bahan ajar yang relevan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Kitab Qawa'id al-Imla' dalam meningkatkan maharah al-kitabah siswa kelas VII MTs Halunuk. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One-Group Pretest-Posttest yang melibatkan 20 siswa. Data dikumpulkan melalui tes sebelum dan sesudah pembelajaran, kemudian dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor meningkat dari 51,75 pada pretest menjadi 89,50 pada posttest, dengan rata-rata peningkatan sebesar 37,75 poin. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor, sedangkan hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai t sebesar 23,803, df = 19, dan p < 0,001. Interval kepercayaan 95% terhadap rata-rata selisih berada pada rentang 34,43–41,07, dengan Cohen’s d sebesar 5,32. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kaidah dan latihan bertahap mendukung pengembangan keterampilan menulis bahasa Arab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kitab Qawa'id al-Imla' efektif meningkatkan maharah al-kitabah pada kelompok yang diteliti, meskipun generalisasi dibatasi karena desain penelitian tidak menggunakan kelompok kontrol eksternal tambahan.
PENGARUH KONSELING KELOMPOK DENGSN TEKNIK MINDFULNESS TERHADAP REGULASI EMOSI NEGATIF PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 21 MATARAM Muhammad Falakus Ulya; Sarilah Sarilah; Reza Zulaifi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.15003

Abstract

ABSTRACK Negative emotion regulation is an important ability for students in dealing with various changes and pressures during adolescence. Difficulties in managing emotions may lead to maladaptive responses in social life and the learning process. One approach that can help students develop this ability is group counseling using mindfulness, which emphasizes awareness of present experiences and acceptance of thoughts and feelings without judgment. This study aimed to examine the effect of group counseling using mindfulness techniques on negative emotion regulation among eighth-grade students at SMP Negeri 21 Mataram. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 10 students selected using purposive sampling. Data were collected using a negative emotion regulation scale and analyzed using a paired sample t-test. The results showed that the mean score increased from 35.20 in the pretest to 55.20 in the posttest, representing an increase of 20.00 points. The paired sample t-test yielded t = 8.273, df = 9, and Sig. (2-tailed) = 0.000 < 0.05*, indicating a significant difference between scores before and after the intervention. Thus, group counseling using mindfulness techniques had a significant effect on students’ negative emotion regulation and may serve as an alternative guidance and counseling service in schools. ABSTRAK Regulasi emosi negatif merupakan kemampuan penting bagi siswa dalam menghadapi berbagai perubahan dan tekanan pada masa remaja. Kesulitan dalam mengelola emosi dapat mendorong munculnya respons yang kurang adaptif dalam kehidupan sosial maupun proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan tersebut adalah konseling kelompok dengan teknik mindfulness, yang menekankan kesadaran terhadap pengalaman saat ini dan penerimaan terhadap pikiran serta perasaan tanpa penghakiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling kelompok dengan teknik mindfulness terhadap regulasi emosi negatif siswa kelas VIII di SMP Negeri 21 Mataram. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental berupa one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 10 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket skala regulasi emosi negatif dan dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor regulasi emosi negatif meningkat dari 35,20 pada pretest menjadi 55,20 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 20,00 poin. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai t = 8,273, df = 9, dan Sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian, konseling kelompok dengan teknik mindfulness berpengaruh terhadap regulasi emosi negatif siswa dan berpotensi menjadi salah satu alternatif layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
PENGEMBANGAN MODUL AJAR PEMBELAJARAN MENDALAM BERBASIS KEARIFAN LOKAL PESISIR UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS Wigberta Lezo
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.15005

Abstract

This classroom action research aimed to develop and implement a Deep Learning-based teaching module integrating coastal local wisdom to improve seventh-grade students' motivation and learning outcomes in English at SMPN 4 Aimere. The study responded to teachers' difficulties in designing contextual lesson plans under Indonesia's new Deep Learning Curriculum (Permendikdasmen No. 13/2025) and to students' low motivation and achievement in the Reading-Viewing and Writing-Presenting elements. Using the Kemmis and McTaggart action research model, the study was carried out in two cycles-each following the planning, acting, observing, and reflecting stages-with the themes "My Coastal Village" and "My Daily Activities". Data were collected through learning achievement tests, an ARCS-based motivation questionnaire, and observation sheets, then analyzed descriptively and qualitatively. Findings showed a consistent rise in classical mastery from 29.2% at pre-cycle to 62.5% in Cycle 1 and 87.5% in Cycle 2, exceeding the 75% success indicator, together with a steady increase in motivation scores, particularly on the Relevance and Confidence aspects of the ARCS model. The study concludes that a locally contextualized Deep Learning teaching module effectively enhances students' motivation and achievement in learning English in a coastal school setting. ABSTRAK Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengembangkan dan menerapkan modul ajar Pembelajaran Mendalam berbasis kearifan lokal pesisir untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Bahasa Inggris murid kelas VII SMPN 4 Aimere. Penelitian ini menjawab kesulitan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran kontekstual pada Kurikulum Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025) serta rendahnya motivasi dan hasil belajar murid pada elemen Membaca-Memirsa dan Menulis-Mempresentasikan. Dengan menggunakan model penelitian tindakan Kemmis dan McTaggart, penelitian dilaksanakan dalam dua siklus-masing-masing melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi-dengan tema "My Coastal Village" dan "My Daily Activities". Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, angket motivasi adaptasi model ARCS, dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketuntasan klasikal secara konsisten dari 29,2% pada pra-siklus menjadi 62,5% pada Siklus 1 dan 87,5% pada Siklus 2, melampaui indikator keberhasilan (75%), disertai peningkatan skor motivasi yang konsisten, terutama pada aspek Relevance dan Confidence model ARCS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modul ajar Pembelajaran Mendalam yang dikontekstualisasikan dengan kearifan lokal efektif meningkatkan motivasi dan hasil belajar Bahasa Inggris murid di sekolah wilayah pesisir.