cover
Contact Name
Gatot Suparmanto
Contact Email
info.lppm@ukh.ac.id
Phone
+62271-857724
Journal Mail Official
jurnal@ukh.ac.id
Editorial Address
masgat@yahoo.co.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
ISSN : 20875002     EISSN : 2549371x     DOI : https://doi.org/10.34035/jk.v13i2
Core Subject : Health,
jurnal ini masih berfokus pada ilmu kesehatan kedokteran,keperawatan,biologi,kebidanan dan bidang kesehatan lainnya
Articles 434 Documents
PERBANDINGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN DENGAN DAN TANPA GANGGUAN SOSIAL MEDIA Fatma M Idrus Baagil; Nurfitri Bustamam; Lisa Safira
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.987

Abstract

Pada pandemi COVID-19 sebagian besar aktivitas mahasiswa kedokteran dilaksanakan secara daring. Hal tersebut membuat mahasiswa berisiko mengalami gangguan sosial media dan keluhan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan keluhan muskuloskeletal antara mahasiswa kedokteran dengan atau tanpa gangguan sosial media. Penelitian menggunakan desain potong lintang dan teknik stratified proportional random sampling pada mahasiswa kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta tahun 2021. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner karakteristik subjek, Nordic Body Map dan Social Media Disorder questionnaire. Hasil analisis didapatkan 32,8% dari 64 subjek mengalami gangguan sosial media. Bagian tubuh yang banyak mengalami keluhan adalah leher (47,6%), tengkuk (42,9%), punggung (52,4%), pinggang (61,9%), dan pergelangan tangan kanan (7%). Hasil uji Chi-square exact didapatkan perbedaan keluhan muskuloskeletal antara mahasiswa yang mengalami gangguan sosial media dan yang tidak mengalami gangguan sosial media (p = 0,001). Terdapat perbedaan keluhan pada leher dan pinggang antara mahasiswa yang mengalami gangguan sosial media dengan yang tidak mengalami gangguan sosial media (p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya self awareness terhadap keluhan fisik muskuloskeletal dan gangguan sosial media sehingga masalah tersebut dapat segera diatasi. During the COVID-19 pandemic, most medical student activities were held online. These put students at risk for social media disorders and musculoskeletal complaints. This study aims to compare musculoskeletal complaints between medical students with or without social media disorders. The study used a cross-sectional design with a stratified proportional random sampling technique towards medical students of Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta in 2021. The research instruments used were the subject characteristics questionnaire, the Nordic Body Map, and the Social Media Disorder questionnaire. The results of the analysis showed that 32.8% of 64 subjects experienced social media disorders. The body parts that experienced the most complaints were the neck (47.6%), the nape (42.9%), the back (52.4%), the waist (61.9%), and the right wrist (7%). The results of the Chi-square exact test showed differences in musculoskeletal complaints between students who experienced social media disorders and those who did not experience social media disorders (p = 0.001). There are differences in complaints about the neck and waist between students who experience social media disorders and those who do not experience social media disorders (p<0.05). The results of this study indicate the need for self-awareness of musculoskeletal physical complaints and social media disorders so that these problems can be treated immediately.
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN SALAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA WANITA LANSIA Asti Mukarromah; Yenny Aulya; Anni Suciawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.992

Abstract

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tinggi di dalam arteri yang dapat menaikkan resiko penyakit kardiovaskular. Pengobatan non farmakologi yang dapat digunakan untuk membantu penurunan tekanan darah tinggi diantaranya dengan daun salam (Syzygium polyanthum). Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh dari air rebusan daun salam terhadap tekanan darah. Jenis penelitian ini quasi-experiment dengan pretest-posttest with control group design. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling sebanyak 38 responden. Analisis yang digunakan menggunakan uji Paired t-test dan analisis uji beda menggunakan uji Independent t-test. Selisih rata-rata penurunan tekanan darah antara sebelum dan setelah intervensi diperoleh selisih tekanan sistolik 24.43 mmHg dan tekanan diastolik 3.84 mmHg. Hasil uji Paired t test pada tekanan sistolik p value 0.000 (<0.05) dan tekanan diastolik p value 0,001 (<0,005). Ada pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap penurunan tekanan darah wanita lansia. Abstract Hypertension is a condition of high blood pressure in the arteries that can increase the risk of cardiovascular. One of the non-pharmacological treatments to reduce high blood pressure is bay leaf (Syzygium polyanthum). This study to determine the effect of consumption of bay leaf decoction water on reducing blood pressure in elderly women. This study used quasi-experiment with pretest-posttest with control group design. The sampling used a purposive sampling technique which involved 38. The analysis used uses the Paired test and Independent test. The average difference blood pressure between before being given bay leaf decoction water was systolic blood pressure of 24.43 mmHg and the average blood pressure of diastolic was 3.84 mmHg. Paired t-test results of systolic obtained p value 0.000 (<0.05) and diastolic obtained p value 0.000 (<0.05). There is an effect of giving bay leaf decoction water on reducing blood pressure in elderly women.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN EDAN JARAH (WEDANG JAHE MERAH) TERHADAP PENURUNAN NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI ASRAMA PUTRI MAN 1 SURAKARTA W Wijayanti; Icha Meilani Ikhsaputri; Deny Eka Widyastuti
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1003

Abstract

Nyeri menstruasi atau dismenore merupakan masalah umum yang sering dikeluhkan oleh remaja putri yang mengalami menstruasi berupa nyeri pada perut bagian bawah. Bagi remaja usia sekolah, permasalahan nyeri menstruasi ini dapat berdampak buruk baik secara fisik maupun psikologi seperti sulit berkonsentrasi saat belajar bahkan ada yang mengalami pingsan. Salah satu penatalaksanaan terapi non farmakologi untuk penurunan nyeri menstruasi yaitu dengan pemberian edan jarah (wedang jahe merah) yang mengandung oleoresin berupa gingerol dan shogaol yang berfungsi sebagai anti peradangan yang dapat memblokir prostaglandin sehingga menurunkan intensitas nyeri menstruasi dan menimbulkan rasa nyaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pemberian edan jarah (wedang jahe merah) terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri di asrama putri MAN 1 Surakarta. Metode penelitian quasi experiment dengan rancangan pre test - post test with control. Pemilihan sampel menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 38 siswi asrama putri MAN 1 Surakarta dengan pembagian kelompok dua intervensi. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan nilai p value 0,000 < 0,05 maka Ha diterima dan dapat disimpulkan bahwa pemberian edan jarah (wedang jahe merah) efektif terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri di asrama putri MAN 1 Surakarta. Kesimpulan penelitian ini yaitu edan jarah (wedang jahe merah) dapat menurunkan nyeri menstruasi pada remaja putri. Penanganan dengan edan jarah (wedang jahe merah) pada saat nyeri menstruasi atau dismenore dapat dijadikan intervensi yang digunakan dalam pengobatan secara non farmakologi. Menstrual pain or dysmenorrhea is a common problem that is often complained by young women who experience menstruation in the form of pain in the lower abdomen. For school-age teenagers, this menstrual pain problem can have a bad impact both physically and psychologically, such as difficulty concentrating while studying and some even experience fainting. One of the non-pharmacological therapeutic management for reducing menstrual pain is by giving edan jarah (wedang jahe merah) which contains oleoresin in the form of gingerol and shogaol which functions as an anti-inflammatory which can block prostaglandins thereby reducing the intensity of menstrual pain and causing a sense of comfort. The purpose of this study was to determine the effectiveness of giving edan jarah (wedang jahe merah) to reduce menstrual pain in adolescent girls in the female dormitory of MAN 1 Surakarta. The research method is quasi experiment with pre test - post test with control. The sample selection used simple random sampling with a total sample of 38 female dormitory students of MAN 1 Surakarta with two intervention groups divided. Analysis of the data in this study using the Wilcoxon. The results of the study obtained p value of 0.000 < 0.05 then Ha was accepted and it can be concluded that the provision of edan jarah (wedang jahe merah) is effective against reducing menstrual pain in young women in the female dormitory of MAN 1 Surakarta. The conclusion of this study is that edan jarah (wedang jahe merah) can reduce menstrual pain in young women. Treatment with edan jarah (wedang jahe merah) during menstrual pain or dysmenorrhea can be used as an intervention used in non-pharmacological treatment.
PROGRAM “KARANG BERDENTING” SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI DESA KARANGTULUN KECAMATAN KRAS KABUPATEN KEDIRI Sal Shabila Ayumas Puteri
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1005

Abstract

Latar belakang: Permasalahan gizi masih menjadi tantangan yang nyata di negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Masalah stunting merupakan prioritas masalah kesehatan yang utama di Desa Karangtalun, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Berdasarkan data sekunder Puskesmas Kras, terdapat 41 balita stunting per agustus 2021, dengan rincian 31 dengan kategori balita pendek dan 10 dengan kategori balita sangat pendek. Tujuan: memperoleh informasi mengenai kasus stunting di Desa Karangtalun Kabupaten Kediri, mengidentifikasi akar penyebab masalah stunting dan mengetahui upaya mengatasi permasalahan stunting tersebut. Metode: Focus Grooup Discussion (FGD), Indepth Interview dan data sekunder. Hasil: Program KARANG BERDENTING "Karangtalun Bergerak Demi Entaskan Stunting" terdiri atas 3 kegiatan yaitu pemberian buku panduan pengukuran kepada kader posyandu, pemberian buku kumpulan menu MPASI kepada ibu balita, dan penanaman bibit sayuran. Kesimpulan: Program sudah berjalan lancar, dimana kader posyandu mendapatkan buku pedoman kader, poster terpasang di seluruh posyandu di Desa Karangtalun, bibit sayuran sudah ditanam, dan buku menu telah dibagikan kepada ibu yang memiliki balita stunting. Background: Nutritional problems are still a real challenge in developing countries, one of which is in Indonesia. The problem of stunting is a top priority health problem in Karangtalun Village, Kras Sub-District, Kediri District. Based on secondary data from the Kras Health Center, there were 41 stunted toddlers as of August 2021, with details of 31 in the short toddler category and 10 in the very short toddler category. Aim: to obtain information about stunting cases in Karangtalun Village, Kediri Regency, identify the root causes of the stunting problem and find out the efforts to overcome the stunting problem. Method: Focus Group Discussion (FGD), In-depth Interview and secondary data. Results: The KARANG BERDENTING program "Karangtalun Moves to End Stunting" consists of 3 activities, namely the distribution of measurement manuals to posyandu cadres, distribution of MPASI menu collections to mothers of toddlers, and planting vegetable seeds. Conclusion: The program has been running smoothly, where the posyandu cadres have received the cadre manual, posters have been posted at all posyandu in Karangtalun Village, vegetable seeds have been planted, and menu books have been distributed to mothers who have stunted toddlers.
EFEKTIVITAS HYPERTENSION SELF-MANAGEMENT EDUCATION (HESME) DENGAN BOOKLET TERHADAP PERAWATAN MANDIRI KELUARGA PASIEN HIPERTENSI Andika Siswoaribowo; Farida Hayati; Aulia Nurhanisa
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1006

Abstract

Perawatan mandiri keluarga mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien dalam menjaga kesehatan terutama pada kasus penyakit kronis..Salah satu upaya untuk meningkatkan perawatan mandiri hipertensi yaitu Hesme dengan booklet. Tujuan penelitian mengetahui Efektivitas Hypertension Self-Management Education dengan booklet terhadap perawatan mandiri keluarga pasien hipertensi di Desa Nawangan Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan Design Quasy experiment. Populasi 200 responden dengan teknik sampling purposive sampling didapatkan 40 sampel yang terbagi menjadi 20 kontrol dan 20 perlakuan. Intervensi diberikan dalam waktu 1 kali dalam 1 minggu. Data dianalisis dengan uji t test. Hasil penelitian pada kelompok kontrol didapatkan nilai mean pre 56,10 dan post 56,40, sedangkan kelompok perlakuan pre test dan post test didapatkan nilai mean 54,60 dan 69,50. Uji independen t test post test kontrol dan perlakuan nilai P value 0,033 < 0,05 dengan nilai mean 69,50 dan 56,40. Hasil analisis penelitian didapatkan adanya perbedaan niali mean antara kelompok control dan perlakuan, dimana pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan nilai mean yang signifikan. Sehingga dapat disimpulkan adanya efektivitas hesme dengan booklet terhadap perawatan mandiri keluarga pasien hipertensi. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk meneliti permasalahan di masyarakat terkait hipertensi serta memodifikasi hesme dengan teknik dan media terbaru yang diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Family self-care affects the level of patient compliance in maintaining health, especially in cases of chronic disease. One of the efforts to improve hypertension self-care is Hesme with a booklet. The research objective was to determine the effectiveness of Hypertension Self-Management Education with booklets on self-care for families of hypertension patients in Nawangan Village, Pacitan Regency. This study uses a quasy experimental design. The population of 200 respondents using purposive sampling technique obtained 40 samples which were divided into 20 controls and 20 treatments. Intervention is given once a week. Data were analyzed by t test. The results of the study in the control group obtained a mean pre-test of 56.10 and a post-test of 56.40, while the pre-test and post-test treatment groups obtained a mean value of 54.60 and 69.50. Independent test t test post test control and treatment value P value 0.033 <0.05 with a mean value of 69.50 and 56.40. The results of the research analysis found that there was a difference in the mean value between the control and treatment groups, where in the treatment group there was a significant increase in the mean value. So it can be concluded that there is effectiveness of hesme with booklets on self-care for families of hypertensive patients. This research can be used as a reference for researching problems in society related to hypertension and modifying hesme with the latest techniques and media that are expected to improve people's welfare.
KARAKTERISTIK PASIEN TIROTOKSIKOSIS DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR TAHUN 2018-2020 Prema Hapsari Hidayati; Rahmatul Atika Jamal; I Irmayanti; Indah Lestari Daeng Kanang; R Rahmawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1009

Abstract

Tirotoksikosis terjadi akibat berlebihnya hormon tiroid yang beredar dalam darah. Gejala tirotoksikosis meliputi jantung berdebar, adanya pembesaran kelenjar tiroid, nafsu makan meningkat namun berat badan menurun, dan lain-lain. Pengetahuan mengenai karakteristik pasien tirotoksikosis diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terutama di Indonesia. Tujuan penelitian ini Mengetahui karakteristik pasien tirotoksikosis di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2018-2020. Menggunakan Metode Desain penelitian ini adalah descriptive retrospective study dengan pendekatan crosssectional. Hasil: Pasien tirotoksikosis terbanyak didapatkan pada kelompok usia 36-45 sebanyak 37,9%, berjenis kelamin perempuan 81,0%, daerah asal Sulawesi Selatan 82,8%, pekerjaan sebagai IRT 62,1%, dan berpendidikan terakhir SMA/SMK 34,5%. Gejala klinis tirotoksikosis terbanyak adalah jantung berdebar 32 orang (26,9%), tekanan darah prehipertensi 28 orang (48,3%), denyut nadi normal 48 orang (82,8%), dan 27 orang (46,6%) didapatkan pembesaran kelenjar tiroid. Pada 50 orang (86,2%) didapatkan TSH dan FT4 tidak terkontrol, sedangkan hasil laboratorium yang lain dalam batas normal. Ada 9 orang (15,5%) memiliki hasil USG tiroid struma nodusa, sedangkan multinodusa dan diffusa masing-masing 3 orang (5,2%). Kesimpulan pada penelitian ini Pada pasien tirotoksikosis di RS Ibnu Sina Makassar didominasi jenis kelamin perempuan berusia 36-45 tahun dengan gejala klinis adalah jantung berdebar, tekanan darah meningkat, teraba pembesaran kelenjar tiroid dan tidak terkontrolnya kadar hormon tiroid. Background: Thyrotoxicosis results from an excess of thyroid hormones circulating in the blood. Symptoms of thyrotoxicosis include palpitations, enlargement of the thyroid gland, increased appetite but decreased weight, and others. Knowledge of the characteristics of thyrotoxicosis patients is needed to improve the quality of health services, especially in Indonesia. Objective: Knowing the characteristics of thyrotoxicosis patients at Ibnu Sina Hospital Makassar in 2018-2020. Methods: This research design is a descriptive retrospective study with a crosssectional approach. Results: The most thyrotoxicosis patients were found in the age group 36-45 as much as 37.9%, female gender 81.0%, South Sulawesi origin 82.8%, work as housewives 62.1%, and the last education SMA / SMK 34.5%. The most common clinical symptoms of thyrotoxicosis were palpitations 32 people (26.9%), prehypertension blood pressure 28 people (48.3%), normal pulse 48 people (82.8%), and 27 people (46.6%) obtained enlarged thyroid gland. In 50 people (86.2%) obtained uncontrolled TSH and FT4, while other laboratory results were within normal limits. There were 9 people (15.5%) who had struma nodusa thyroid ultrasound results, while multinodusa and diffusa were 3 people (5.2%) each. Conclusion: Thyrotoxicosis patients at Ibnu Sina Hospital Makassar are predominantly female aged 36-45 years with clinical symptoms of palpitations, increased blood pressure, palpable enlargement of the thyroid gland and uncontrolled thyroid hormone levels.
IMPLEMENTASI STIMULASI KOGNITIF (GERAKAN SENAM OTAK) DALAM MENURUNKAN TINGKAT DEMENSIA LANSIA Kholifah Hasnah; Ganik Sakitri
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1027

Abstract

Demensia menjadi sindrom terjadinya penurunan kognitif yang ditandai dengan perubahan perilaku. Demensia apabila tidak ditangani akan mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi intelektual dan gangguan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu implementasi yang dapat diberikan pada penderita demensia adalah dengan melakukan gerakan senam otak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penurunan tingkat demensia setelah diberikan implementasi gerakan senam otak pada lansia. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasy eksperimental dengan one group pretest and posttest design. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 20 lansia yang akan diberikan implementasi gerakan senam otak dan diukur tingkat demensia dengan kuisioner Mini Mental State Examination sebelum dan sesudah diberikan implementasi gerakan senam otak. Hasil analisa menunjukkan bahwa ada penurunan kategori demensia dari demensia sedang ke demensia ringan dengan selisih nilai rata rata sebesar 2,3 pada nilai pre test dan post test. Kesimpulan Implementasi gerakan senam otak dapat menurunkan tingkat demensia dari demensia sedang ke demensia rendah. Saran perlu adanya penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penyakit degenerative pada lansia Dementia is a syndrome of cognitive decline characterized by changes in behavior. Dementia if left untreated will result in impaired intellectual function and disruption in daily activities. One of the implementations that can be given to people with dementia is to do brain gymnastic movements. The purpose of this study was to determine the decrease in the level of dementia after being given the implementation of brain gymnastic movements in the elderly. The method used in this research is quasy experimental with one group pretest and posttest design. The number of subjects in this study were 20 elderly who would be given the implementation of brain gymnastic movements and measured their level of dementia with the Mini Mental State Examination questionnaire before and after being given the implementation of brain gymnastic movements. The results of the analysis showed that there was a decrease in the category of dementia from moderate to mild dementia with a difference in the average score of 2.3 in the pre-test and post-test scores. Conclusion Implementation of brain gymnastic movements can reduce the level of dementia from moderate to low dementia. Suggestions need further research related to degenerative diseases in the elderly
SKRINING KESEHATAN DAN PERSEPSI CALON PENGANTIN TENTANG PERNIKAHAN DI PUSKESMAS KLATEN SELATAN Dwi Retna Prihati; RD Rahayu; Aris Prastyoningsih; S Sugito
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1043

Abstract

Skrining pranikah adalah strategi penting sebagai upaya pencegahan kelainan genetik, anomali kongenital, dan beberapa masalah medis, psikologis, dan perkawinan, serta menginformasikan kepada pasangan tentang dampak yang akan ditimbulkan dari kondisi kesehatan yang dapat membahayakan calon pasangan suami istri, termasuk pengaruhnya pada keturunannya. Kesiapan calon pengantin tidak hanya meliputi kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan psikologisnya. Penyesuaian terhadap peran dan tugas bagi pasangan yang baru menikah sering menimbulkan masalah. Satu dari indikator yang dapat dilihat dari kesiapan menikah adalah persepsi tentang pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kesehatan fisik dan persepsi calon mempelai wanita tentang pernikahan di Puskesmas Klaten Selatan. Jenis penelitian skrining kesehatan adalah deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan sebanyak 116 responden. Persepsi pernikahan menggunakan analitik komparatif dengan rancangan post test with control design untuk 2 kelompok berbeda. Sampel yang digunakan 30 responden. Hasil: Usia 75% berkisar 20-30 tahun, kadar hemoglobin 90% ≥ 11 gr/dl, kadar HBSAg 99% negatif, hasil tes kehamilan 94% negatif, 100% negatif HIV. Konseling tambahan oleh Psikolog setelah diberikan konseling dari puskesmas tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi calon pengantin tentang pernikahan (p value=0,070) dan tidak berpengaruh signifikan terhadap penambahan skor persepsi calon pengantin tentang pernikahan pada kelompok perlakuan (p value =0,147). Premarital screening is an important strategy as an effort to prevent genetic disorders, congenital anomalies, and some medical, psychological and marital problems, as well as informing couples about the impact that will be caused by health conditions that can harm prospective husband and wife, including the effect on their offspring. The readiness of the bride and groom does not only include physical readiness, but also psychological readiness. Adjustment to roles and duties for newly married couples often creates problems. One of the indicators that can be seen from the readiness to marry is the perception of marriage. The purpose of this study was to determine the physical health status and perceptions of the bride and groom about marriage at the South Klaten Health Center. This type of health screening research is quantitative descriptive. The sample used was 116 respondents. Perceptions of marriage used comparative analysis with a post test with control design for 2 different groups. The sample used was 30 respondents. Results: Age 75% ranged from 20-30 years, hemoglobin level 90% ≥ 11 gr/dl, HBSAg level 99% negative, pregnancy test result 94% negative, 100% HIV negative. Additional counseling by a psychologist after being given counseling from the health center did not have a significant effect on the perceptions of the bride and groom about marriage (p value = 0.070) and did not significantly affect the addition of the score of the perception of the bride and groom about marriage in the treatment group (p value = 0.147).
PENGARUH PEER GRUP EDUCATION TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN LANSIA TENTANG KETASIDOSIS DIABETIKUM DI POSBINDU LANSIA SAKURA KELURAHAN PLESUNGAN KABUPATEN KARANGANYAR Erlina Windyastuti; Siti Mardiyah
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1045

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit dengan pengobatan jangka Panjang dan seumur hidup. DM merupakan salah satu penyakit sistemik yang mampu memunculkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang muncul apda penderita DM adalah Ketoasidosisi Diabetik. Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan komplikasi akut diabetes melitus tipe 1 yang ditandai dengan dehidrasi, kehilangan elektrolit, asidosis dan disebabkan oleh pembentukan keton yang berlebihan. Keadaan ini merupakan gangguan metabolisme yang paling serius dan mengancam jiwa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan peer gorup education terhadap tingkat pengetahuan Ketoasidosis Diabetikum pada lansia DM di Posbindu Lansia Sakura di wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo. Responden lansia berjumlah 25 orang. Uji statistic dengan menggunakan Wilcoxon diperoleh nilai p value = 0,01. Nilai p value = 0,01 lebih kecil dari alpha 0,05 berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan peer gorup education terhadap tingkat pengetahuan Ketoasidosis Diabetikum pada penderita DM di Posbindu Lansia Sakura di wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo. Hasil penelitian ini dapat menambah menambah informasi bagi perawat dalam penatalaksanaan peningkatan pengetahuan Ketoasidosis Diabetikum melalui pendidikan kesehatan peer gorup education. Diabetes Mellitus (DM) is a disease with long-term and lifelong treatment. DM is a systemic disease that can cause complications. One of the complications that arise in DM patients is diabetic ketoacidosis. Diabetic ketoacidosis (DKA) is an acute complication of type 1 diabetes mellitus which is characterized by dehydration, loss of electrolytes, acidosis and is caused by excessive formation of ketones. This condition is the most serious and life-threatening metabolic disorder. The purpose of this study was to analyze the effect of peer group health education on the level of knowledge of diabetic ketoacidosis in elderly DM at the Elderly Sakura Posbindu in the working area of the Gondangrejo Health Center. Elderly respondents totaled 25 people. Statistical test using Wilcoxon obtained p value = 0.01. The p value = 0.01 is smaller than alpha 0.05, meaning that there is an influence of peer group education health education on the level of knowledge of diabetic ketoacidosis in DM sufferers at the Elderly Sakura Posbindu in the working area of the Gondangrejo Health Center. The results of this study can add additional information for nurses in the management of increased knowledge of diabetic ketoacidosis through peer group education health education.
HUBUNGAN WORK-FAMILY CONFLICT DENGAN KINERJA PERAWAT WANITA DALAM PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN S Dwi Sulisetyawati; G Giatmi; Atiek Murharyati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 2, Juli 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i2.1046

Abstract

Work-family conflict merupakan konflik peran yang sering terjadi pada perawat wanita yang sudah menikah., salah satunya dalam hal pendokumentasian asuhan keperawatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan work-family conflict dengan kinerja perawat wanita dalam pendokumentasian asuhan keperawatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah perawat wanita yang sudah menikah yang betugas di ruang IGD, ICU dan rawat inap RS PKU Muhammadiyah Karanganyar sebanyak 73 perawat. Pengambilan sampel menggunakan teknik propotion stratified random sampling dengan jumlah 42 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner work-family conflict dan kinerja dalam pendokumentasian asuhan keperawat. Korelasi kedua variabel diuji menggunakan uji Kendall’s tau-c. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami tingkat work-family conflict rendah yaitu 34 responden (81%). Sebagian besar responden memiliki kinerja dalam pendokumentasian asuhan keperawatan baik yaitu sebanyak 41 responden (97,6%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,324 (p>0,05) dengan nilai koefisien korelasi yaitu 0,018. Nilai ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara work-family conflict dengan kinerja perawat wanita dalam pendokumentasian asuhan keperawatan Work-family conflict is a role conflict that often occurs in married female nurses. one of which is in terms of documentation of nursing care. The purpose of this research is to determine the relationship between work-family conflict and the performance of female nurses in documenting nursing care. This was a quantitative research with a cross sectional approach. The population of this research were 73 married female nurses who served in the emergency room, ICU and inpatient care at PKU Muhammadiyah Karanganyar Hospital. Sampling was conducted using a proportional stratified random sampling technique with a total of 42 respondents. The research instrument used questionnaire on the relationship between work-family conflict and performance in the documentation of nursing care. The correlation of the two variables was tested using Kendall's tau-c test. The results showed that most of the respondents experienced a low level of work-family conflict, which were 34 respondents (81%). Most of the respondents have good performance in documenting nursing care, which were 41 respondents (97.6%). Statistical test results obtained p value of 0.324 (p> 0.05) with a correlation coefficient value of 0.018. This value indicates that there is no significant relationship between work-family conflict and the performance of female nurses in documenting nursing care.