cover
Contact Name
Alice Whita Savira
Contact Email
alicewhitasavira@usd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
suksma@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Kampus III Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma
ISSN : 14129426     EISSN : 27454185     DOI : doi.org/10.24071/suksma
Core Subject : Humanities,
Jurnal Suksma adalah jurnal open access yang bertujuan untuk mendiseminasikan penelitian di bidang ilmu psikologi. Jurnal suksma menerima naskah dalam area Psikologi Sosial, Psikologi Industri Organisasi, Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, dan Psikometri dengan berbagai metodologi riset yang sesuai dengan standar publikasi jurnal. Target pembaca jurnal ini adalah akademisi, mahasiswa, praktisi, dan profesional lain yang tertarik dengan bidang ilmu psikologi.
Articles 91 Documents
Literasi Digital pada PNS Sabatti, P. Henrietta P. D. A. D.
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6937

Abstract

Abstrak Masyarakat dalam era digital dikarakteristikkan dengan penggunaan teknologi yang sangat luas. Perkembangan teknologi digital yang masif memiliki pengaruh yang besar pada cara hidup kebanyakan orang. Untuk menghadapi perkembangan teknologi, dibutuhkan literasi digital yang baik. Literasi digital tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat secara umum, tetapi juga dibutuhkan di sektor pelayan publik seperti pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang literasi digital pada PNS. Partisipan penelitian ini adalah PNS dari beberapa kota di Indonesia yang berjumlah 426 partisipan, dengan 138 pria dan 288 wanita. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan demografis, dan skala literasi digital (α = 0,952). Hasil analisis menunjukkan bahwa usia, dan lama bekerja berkorelasi negatif dengan literasi digital. Sedangkan tingkat pendidikan dan durasi atau lamanya mengakses internet berkorelasi positif dengan literasi digital.  
Bukan Sekadar Konfirmatorik Widiyanto, YB. Cahya
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.7386

Abstract

Adalah James Earle Deese (1921–1999), murid B.F. Skinner, seorang peneliti psikologi kognitif yang berparadigma sosial berpendapat bahwa fakta merupakan hasil interpretasi subjektif dari subjek pengamatnya. Pernyataan ini didasarkan pada penelitiannya yang konsisten tentang fakta, ingatan dan bahasa dalam karir sebagai peneliti psikologi. Ia menerangkan bahwa fakta adalah pemahaman subjek tentang stimulus atau data, yang terbentuk oleh ingatan. Ingatan (memory) sebenarnya adalah state dibentuk oleh bahasa dan pengalaman kesehariannya. Lantas Deese pun memberikan kesimpulan tegas bahwa subjektivitas memiliki kontribusi yang besar dalam lahirnya sebuah fakta apa pun, karena alasan peran ingatan (Deese, 1972 dalam Gross, 2017).Bahasa adalah penentu ingatan yang dikonstruksi oleh lingkungan subjek (Marshall Deese, 1968). Bahasa adalah artikulasi manusia yang dibangun sebagai hasil interaksinya dengan lingkungannya. Segala peristiwa perjumpaan yang dialami seseorang dimediasi oleh sistem koding tertentu yang memungkinkan satu dengan yang lain terhubung. Selanjutnya bisa diidentifikasi bahwa lingkungan yang berbeda akan melahirkan variasi  bahasa; bahasa subjek adalah representasi dari masing masing lingkungannya (Chomsky, 1986; 2000; Wilson, 2005).Lingkungan adalah bagian dari determinasi ingatan yang menentukan lahirnya fakta. Jika ternyata konten dan karakter ingatan ditentukan oleh bahasa,  maka jelaslah bahwa kontribusi lingkungan menjadi layak untuk diperhitungkan ketika mengkaji sebuah fakta. Seperti dikatakan Deese dan kawan kawannya ingatan bentukan lingkungan adalah referensi yang memberikan semacam “kerangka” bagi subjek dalam memahami suatu data atau objek yang dijumpainya. Salah satu penelitian yang terinspirasi oleh pemikiran Deese tentang memori dan bahasa yaitu Roedinger McDermott yang di pada tahun 1995 dengan judul “Creating False Memories: Remembering Words Not Presented in Lists”, dan mencetuskan paradigma paradigma Deese-Roediger-McDermott (DRM), yang merupakan teknik eksplorasi dalam terjadinya ingatan palsu (false memory). Dalam paradigma ini, peserta diberikan daftar kata-kata yang semuanya terkait dengan kata kritis yang tidak ditampilkan. Misalnya, jika kata kritis adalah "tidur," daftar tersebut mungkin termasuk kata-kata seperti "tempat tidur," "mimpi," dan "lelah." Peserta kemudian diminta untuk mengenali kata-kata yang mereka lihat, dan ternyata para peserta lebih sering melaporkan pemahaman yang sebenarnya tidak ada dalam daftar probabilitas kata kritis. Penelitian ini telah memberikan wacana dalam studi tentang ingatan, bahasa, dan bagaimana fakta terbentuk.  Ingatan adalah sebuah referensi membangun fakta pengetahuan. Ingatan adalah data yang telah terkonstruksi sedemikian rupa dalam kognitif subjek, selanjutnya menjadi sistem atau model asosiasi (Deese, 1972; Carruthers, 1990; Copenhaver, 2006). Objek atau data yang baru yang dijumpai subjek akan diasosiasikan dengan model ingatan dan akhirnya pemahaman fakta tentang suatu objek terbentuk, menjadi informasi dan memiliki prospek menjadi pengetahuan (Engel, 1999; Danziger, 2002). Cara pandang ini menyiratkan bahwa sebenarnya tiada fakta pengetahuan yang bisa diberlakukan secara universal, dengan mempertimbangkan ragam lingkungan yang membangun variasi ingatan dalam subjek.***Diskusi tentang bagaimana peran ingatan sebagai referensi pembentukan fakta dan pengetahuan adalah layak untuk dipertimbangkan dalam memahami ilmu psikologi dalam perspektif kontekstual maupun generik. Hal ini sangat berguna dalam membangun kemampuan distingsi dalam membaca perkembangan dan aktualitas psikologi yang berkembang. Kemampuan distingtif dalam membaca perkembangan dan aktualitas pengetahuan psikologi merujuk pada pilihan kesadaran kita dalam memperlakukan hasil-hasil penelitian psikologi; hasil yang bersifat teoritis logis, dan mana yang relevan dengan kebutuhan dan konteks nyata (Gross, 2017).  Diakui, lebih banyak hasil penelitian psikologi yang lebih bertujuan mempertajam sisi logis teoritik dalam psikologi daripada yang berfokus pada persoalan- persoalan yang kontekstual (Ratner, 1991; Gross 2017). Pada sisi yang lain melalui pertimbangan tersebut, sebagai peneliti kita memiliki kesempatan untuk membuka diskusi kritis kepada publik ilmiah psikologi tentang evaluasi dan refleksi soal penerapan teori psikologi arus utama yang dijadikan referensi dalam meneliti problem lokal. Sekurang kurangnya, kedua kepentingan ini berguna untuk membangun kesadaran dan peta jalan pengembangan ilmu psikologi yang lebih relevan bagi kebutuhan masyarakat kita.Kita tentu menyadari bahwa batu bata pengetahuan yang berupa teori dan perspektif yang telah dirintis oleh para pelopor psikologi adalah sangat bernilai, dan menjadi kapital penting dalam menerapkan dan mengembangkan psikologi sebagai ilmu. Perspektif dan teori tersebut memberikan dasar pemahaman bagi para ilmuwan dan praktisi psikologi dalam memahami perilaku. Teori dan perspektif dapat dianggap semacam “ingatan” dalam memahami data, seperti teori psikologi digunakan dalam mencerna data perilaku menjadi fakta pengetahuan.Perspektif dan teori psikologi yang generik esensial menjadi instrumen yang telah lazim digunakan dalam penelitian psikologi. Umumnya penelitian psikologi yang saya baca, selalu menggunakan teori teori besar psikologi sesuai topiknya sebagai landasan untuk mendefinisikan data, gejala dan membangun pemaknaan simpulan psikologisnya. Dari berbagai bidang penelitian yang ada dalam psikologi seperti  diketahui, tidak pernah sekalipun melewatkan  pembubuhan teoritis salah satu (atau justru semua)  mazhab psikologi (Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik, Psikologi Gestalt, Psikologi Positif, Psikologi Transpersonal dan Psikologi lintas Budaya) dalam mendefinisikan kajiannya. Tentu ini adalah sah sah saja, karena sebagai peneliti kita perlu mengantar, menjelaskan objek kajian kepada pembacanya, hingga peneliti sekaligus pembaca terbantu dalam berkomunikasi tentang topik penelitian.Cara kerja konfirmatorik menjadi tren dalam pembacaan data psikologi (Ratner, 1991; Gross, 2017). Paradigma dan teori psikologi yang pernah lahir dalam ruang pengetahuan secara masif digunakan oleh para peneliti sebagai “kacamata” untuk melihat data yang ditemukan. Cara kerja konfirmatorik dalam meneliti memang memberikan kemudahan bagi peneliti untuk menentukan judgement criteria terhadap data dan hasilnya, sehingga arah tindakan penelitian tampak lebih jelas (Danziger, 2002). Selanjutnya melalui jalan konfirmatorik peneliti barangkali juga dimudahkan dalam menentukan dan mengontrol konten dan karakter objek kajiannya, sekaligus dapat menyusun argumen yang lebih jelas dalam penelitian. Secara praktis penelitian (dan juga tindakan psikologis) dapat membangun kesan tentang hasil dan penjelasan yang kredibel dan komunikatif. Titik lemah paradigma konfirmatorik dalam penelitian terletak pada aktualitas dan kontekstualitasnya (Danziger, 2002; Gross, 2017). Hal ini sangat mungkin terjadi karena pergerakan realitas dunia, termasuk realitas keperilakuan yang sangat dinamis. Melalui perubahan segala dimensi dan spektrum kehidupan yang pesat terjadi, maka realitas dan problem perilaku juga bergerak dan berubah (Giddens, 2003). Kombinasi perubahan konteks temporal, geografis dan struktural telah melahirkan data data keperilakuan yang tak lagi cermat terbaca oleh teori- teori (ingatan yang bukan lokal) psikologi yang kemarin lalu. Tentu kenyataan ini mengingatkan kita tentang risiko dalam menjalani cara berpikir konfirmatorik alam penelitian.Membuka ruang inklusif dalam model konfirmatorik menjadi pertimbangan penting. Menyadari potensi persoalan di balik kejelasan dalam cara berpikir konfirmatorik, perlu sebuah improvisasi untuk memberikan ruang bagi cara berpikir inklusif dalam praktek konfirmatorik. Jika hasil penelitian hanya berhenti pada kesimpulan sesuai dan tidak sesuai, sejalan atau berlawanan dengan sebuah ground theories-nya, barangkali sebuah penelitian sekadar wujud replikasi saja, dan yang kurang mendukung aktualitas dan pengembangan pengetahuan. Seperti yang dikhawatirkan oleh Karl Popper (1959), bahwa konfirmatorik dalam penelitian ilmiah hanya akan menghasilkan penegasan ulang yang kurang sebenarnya tidak membuat pengetahuan berkembang. Karl Popper menyebutnya sebagai arah pengembangan pengetahuan yang meluas namun tidak mendalam.Agenda temuan tambahan sebagai langkah praktis inklusif. Kesadaran pada praktek penelitian yang tidak berhenti pada konfirmasi hipotetik menunjuk pada semangat curiosity peneliti untuk mengetahui lebih dalam tentang hasil analisis data yang ditemukannya, dan mengartikulasikannya dalam agenda “temuan tambahan”. Selain menuruti hipotesa penelitian, sebaiknya peneliti juga memberdayakan konteks dalam analisis dengan mencari dan menemukan hasil hasil yang khas dari data penelitian. Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian temuan temuan khas di luar hipotesa penelitian menjadi bagian dari temuan penelitian. Sebagai sebuah penelitian yang mungkin akan dibaca publik psikologi melalui proses publikasi, sajian temuan tambahan (temuan lain di luar hipotesis) ini barangkali akan menjadi hasil penelitian yang akan memperkaya muatan penelitian; secara praktis hal ini juga membuka kemungkinan untuk menginspirasi publik psikologi untuk mendalami dan barangkali meneruskan dalam agenda penelitian yang baru.Ruang inklusi dalam praktek penelitian psikologi memberikan kemungkinan pengembangan ilmu psikologi secara lebih komprehensif.  Selain berpegang teguh pada teori dan perspektif yang telah kokoh dan diyakini banyak orang, rupanya keterbukaan pada gejala dan dinamika yang kontekstual dan terlihat marginal juga tak kalah pentingnya. Keberanian untuk melibatkan gejala dan kekuatan kontekstual menjadi penting bagi pengembangan ilmu psikologi yang aktual dan kritis, supaya kita tidak tergelincir pada gerakan replikasi yang berpotensi membawa psikologi pada diskusi pengetahuan yang formal semata.***Dalam SUKSMA edisi Oktober 2023 ini,  kami menghaturkan 6 artikel penelitian terpilih: (1) Studi Kasus: Pengaruh Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Klien dengan Diagnosa Gangguan Afektif Bipolar, (2) Rumus Slovin: Panacea Masalah Ukuran Sampel?, (3) Kesepian dan Regulasi Emosi pada Emerging Adulthood, (4) Gambaran Perilaku Komunikasi Guru Sekolah Menengah Pertama berdasarkan Konstruk Teacher Communication Behaviour Questionnaire (TCBQ), (5) Program Intervensi Narimo Ing Pandum dalam Meningkatkan Penerimaan Diri ADHA di Kota Yogyakarta, (6) Literasi digital pada PNS;   dan 1 artikel gagasan: Taksonomi Kewenangan Psikolog.Dengan segala hal yang barangkali kurang sempurna kami berharap para pembaca dapat menikmati sajian kami. Masih dalam semangat membangun ruang inklusi dalam pengembangan pengetahuan psikologi melalui ketujuh atikel ini, SUKSMA mengajak para pembaca untuk mengkritisi dan membangun diskusi yang berkontribusi bagi pengembangan pengetahuan psikologi yang progresif dan aktual. Terima kasih  
Program Intervensi Narimo Ing Pandum dalam Meningkatkan Penerimaan Diri ADHA di Kota Yogyakarta Hanifa, Dea Aurellia; Hayatun Najah, Desita Amalia; Syakila, Ghania Bilqistiyani; Simatupang, Jeremia
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6560

Abstract

According to the Ministry of Health, around 1.7 million children under the age of 14 globally are living with HIV. The condition of physical hardship and social rejection of ADHA makes ADHA have a negative perception that then affects his acceptance. This study aimed to evaluate the effect of the Narimo Ing Pandum intervention program in increasing self-acceptance among children with HIV. In this study, a total of 9 children with HIV aged 7 to 15 years were recruited. The study method used is experimental research design of one group pretest-posttest, and data analysis techniques using t-test statistical analysis techniques. The results showed that the levels of self-acceptance weren’t significantly different before and after the intervention.
Studi Kasus: Pengaruh Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Klien dengan Diagnosa Gangguan Afektif Bipolar Ginting, Anette Isabella
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6271

Abstract

This study aims to explore how the cognitive behavioural therapy affected a client with bipolar affective disorder. Participant was a 25-years-old woman (SM) who is diagnosed with bipolar disorder specify current or most recent episode: manic, depressed (F31.6). Before beginning the therapy session, the participant completed a series of assessment, including interview (autoanamnesa and alloanamnesa), observation, graphic tests (BAUM, DAP, HTP Wartegg) and Sack’s Sentence Completion Test (SSCT) to evaluate the participant’s personality, and Standard Progressive Matrices (SPM) to assess cognitive ability. Therapy was conducted in 5 sessions (1 session each week) with additional daily task to track the thoughts and behaviors pattern. The result shows a decrease in depression scores (BDI-II) and also SUDS (Subjective Unit Disturbance Scale). Qualitatively, CBT helps the participant to select her own automatic negative thoughts and form more adaptive thinking pattern by her own. Participant also shows an increasing score in GAF (Global Assesment Functioning) after completing the whole therapy sessions
Menjadi Manusia Berkesadaran di Era Digital Sabatti, P. Henrietta Puji Dwi Astuti Dian
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 1 (2024): Edisi Khusus: Menjadi Manusia Berkesadaran di Era Digital
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i1.8042

Abstract

 Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam hidup keseharian, belajar, pelaksanaan tugas, maupun dalam berelasi. Teknologi digital memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan mengakses informasi dengan cepat. Tetapi perkembangan teknologi digital juga memiliki tantangan yang harus dihadapi. Putri (2023) dalam situs resmi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, menyebutkan bahwa untuk menghadapi tantangan perkembangan teknologi digital, masyarakat perlu beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri, sehingga dapat memanfaatkan teknologi secara positif. Untuk beradaptasi dibutuhkan kesadaran, pengembangan keterampilan dan literasi digital, serta partisipasi aktif masing – masing individu dalam masyarakat digital (Putri, 2023). Adaptasi dan peningkatan kapasitas diri diawali dengan kesadaran diri. Scheier, dan Buss (1975, seperti dikutip dalam Scheier, et al., 1979) mendefinisikan kesadaran diri sebagai keadaan yang mana perhatian diarahkan pada diri sendiri. Kesadaran dan perhatian adalah kapasitas utama dalam kesejahteraan manusia. Brown dan Ryan (2003) menambahkan bahwa kesadaran adalah “radar” yang terus memantau lingkungan dalam dan luar individu.Carden et al. (2022) menyatakan bahwa kesadaran diri penting untuk munculnya perilaku positif, kepuasan, dan kinerja yang baik dari individu. Kesadaran diri membawa banyak manfaat psikologis, termasuk peningkatan pengaturan diri, lebih banyak perhatian terhadap kebutuhan orang lain, dan berkurangnya stres dan kecemasan (Donald dkk. 2019, Hali dkk. 2021, Hülsheger dkk. 2021, Rasheed dkk.2019). Ketika manusia menjadi lebih sadar diri, mereka menjadi lebih tangguh dan lebih baik, mereka mampu mempersiapkan diri menghadapi situasi sulit dan meningkatkan perasaan efikasi diri; mampu menganalisis situasi yang tidak pasti dan penuh tekanan; mengidentifikasi kemungkinan solusi; berimprovisasi; menjaga ketenangan; dan siap untuk beradaptasi ketika diperlukan (Chen et al. 2005; Park Park 2019).Baumeister dan Vohs (2003) menyatakan bahwa salah satu fungsi adaptif utama dari kesadaran diri adalah pengaturan diri, yang mencakup mengubah perilaku, menolak godaan, mengubah suasana hati, memilih respons dari berbagai pilihan, dan menyaring informasi yang tidak relevan. Kesadaran diri dapat membantu individu untuk memahami dan mengatur dirinya. Termasuk ketika individu menggunakan teknologi, individu yang memiliki kesadaran diri akan mampu untuk mengelola perilakunya, memilih hal – hal yang ia butuhkan, dan merespon dengan tepat.Morin (2011) menyatakan bahwa berkurangnya atau melemahnya kesadaran diri dapat membuat kesenjangan dalam diri seseorang, munculnya perilaku – perilaku negatif dan lambatnya perkembangan diri. Menurunnya kesadaran diri dapat membuat diri individu terlepas dan tenggelam dalam aktivitas- aktivitas yang merugikan. Orang yang kehilangan kesadaran juga melarikan diri dari diri mereka sendiri dengan meminum alkohol, menggunakan narkoba, makan berlebihan, melakukan perilaku seksual ekstrem, dan akhirnya melakukan bunuh diri (Baumeister, 1990, 1991; dan Hull, 1981, seperti dikutip dalam Morin, 2011). Brown dan Ryan (2003) menemukan bahwa ketidaksadaran pengguna teknologi digital dapat menyebabkan rendahnya produktivitas secara keseluruhan atau kegagalan proses teknologi yang seharusnya bermanfaat positif bagi manusia.Artikel – artikel dalam Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma edisi khusus ini membahas tentang manusia yang berkesadaran di era digital.  Manusia yang berkesadaran atau memiliki kesadaran artinya adalah manusia yang memantau dan mengetahui tentang diri dan lingkungannya; ia juga mampu untuk beradaptasi; dan mampu untuk meningkatkan kapasitas atau mengembangkan dirinya menjadi lebih baik dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Artikel pertama membahas tentang penelitian yang bertujuan untuk mengetahui integrasi teknologi yang dilakukan guru SMP dan SMA dalam pembelajaran abad 21 berbasis komponen TPACK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki pengetahuan yang memadai mengenai integrasi teknologi dalam bidang pendidikan. Pengetahuan yang dimiliki oleh para guru ini tentu berkaitan dengan kesadaran para guru tentang peran teknologi dalam proses pembelajaran. Carden, et al. (2022) menjelaskan bahwa pengetahuan diri merupakan hasil pengembangan dari kesadaran diri.Artikel kedua adalah artikel yang memaparkan hasil uji validitas alat tes penalaran logis berbasis permainan yang disebut Library Game. Alat tes yang valid juga dapat dikembangkan melalui permainan inovatif. Pembuatan alat tes melalui permainan inovatif sangat menarik sebagai upaya untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini.Artikel ketiga menjelaskan tentang penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas stand up comedy sebagai respon terhadap transformasi digital yang telah merambah berbagai aspek kehidupan. Penelitian ini menemukan bahwa faktor kunci yang menjamin keberhasilan komunitas stand up comedy di era digital antara lain adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi, memahami preferensi dan kebutuhan audiens digital, serta membangun jaringan kolaboratif yang kuat dalam komunitas itu sendiri. Kemampuan adaptasi adalah bentuk dari adanya kesadaran.Artikel keempat merupakan artikel penelitian yang bertujuan untuk menganalisis sifat psikometrik dan norma LAI. Temuan ini membuktikan bahwa LAI adalah penilaian daring yang andal dan valid untuk mengukur fluid intelligence dalam konteks seleksi atau evaluasi karyawan.Artikel kelima berangkat dari keprihatinan tentang banyaknya informasi di internet dan kurangnya pemahaman remaja tentang dinamika gangguan kesehatan mental yang membawa dampak negatif, yaitu self diagnose. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang diagnosis diri dan kesehatan mental remaja pengguna media sosial, dampak secara psikologis, serta peran media sosial.Artikel keenam bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang perilaku defensif konstruktif sebagai perilaku prososial daring. Artikel ini menjelaskan bahwa perilaku defensif konstruktif mendukung pengamat untuk mengelola emosi ketika menghadapi situasi konflik interpersonal seperti cyberbullying, meningkatkan keterhubungan sosial, kualitas komunikasi antar pengguna media sosial, dan mengurangi dampak cyberbullying terhadap korban. Yurdakul et al. (2023) menemukan bahwa peningkatan kesadaran telah menjadi prioritas dalam studi – studi terkait metode untuk mencegah dan memberi intervensi pada perilaku cyberbullying. Faktanya, individu yang sadar dan paham tentang risiko cyberbullying lebih dapat menyesuaikan diri, mengambil langkah pencegahan dan menghadapi cyberbullying (Yurdakul et al., 2023).
Gambaran Self Efficacy Guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran yang Memanfaatkan Teknologi Chrysantha, Charlotte; Purwanti, Margaretha; Aisyah, Aireen Rhammy Kinara
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i2.8224

Abstract

Teachers are the pillars of education who are in direct contact with students, thus playing a crucial role in guiding and teaching them. To perform their duties well, teachers must have confidence in their abilities, also known as self-efficacy. In today's era, it is a requirement for teachers to integrate technology into their teaching, starting from the elementary education level. With the unique characteristics of elementary school students, teachers must be able to use technology appropriately in elementary education to prepare students for the future. This study aims to explore the self-efficacy of elementary school teachers in teaching with technology and the types of technology used. This research was conducted with a quantitative approach using descriptive methods. The sampling method used convenience sampling techniques and obtained 139 participants. The population of this study were elementary school teachers in grades 1-3 and were in the age range of 40-60 years. Data collection was carried out using teacher self-efficacy measuring instruments and processed with descriptive statistics. The test results of this measuring instrument show that this measuring instrument is valid and reliable. The research results show that teacher self-efficacy tends to be high. This means that in learning that utilizes technology, elementary school teachers can; (1) overcome the challenges faced; (2) managing learning effectively and efficiently; (3) designing learning methods according to student characteristics; (4) prepare students to face the future. The types of technology used by elementary school teachers are Google Classroom, Whatsapp, Webex, Power Points and Paint. Suggestions for further research are (1) considering the data collection techniques used (2) adding questions to participant data.
Perilaku Membela Konstruktif: Wujud Empati Bystander dalam Tindakan Pembelaan yang Prososial Silvania, Olyn
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 1 (2024): Edisi Khusus: Menjadi Manusia Berkesadaran di Era Digital
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i1.7626

Abstract

Bystander's responses can potentially strengthen or weaken the cyberbullying situation. However, the facts show that most bystanders choose to be passive rather than defend the victim. Nonetheless, passive bystander behavior does not necessarily mean approval of the perpetrator's actions. Some bystanders consider cyberbullying to be an unpleasant thing, so it can generate a sense of empathy for the victim. Unfortunately, a lack of self-efficacy and knowledge regarding how to deal with cyberbullying can inhibit bystanders from defending victims. Therefore, knowledge about constructive defending behaviors can help bystanders to defend victims in a good way. This article aims to provide knowledge about constructive defending behavior as an online prosocial behavior. This article explains that prosocial behavior theory is more relevant with constructive defending behavior than aggressive defending behavior. Then, constructive defending behavior can minimize cyberbullying because constructive defending behavior supports bystander emotion regulation, creates social norms related to positive online social interactions, and realizes social capital in the form of social ties. These social ties offer four useful resources, like information on how to deal with cyberbullying, social connectedness of bystanders with other social media users, potential bystander to be influent person who motivates other social media users to take constructive defense actions, and become a reinforcement of identity and a sense of worth to the victim. Hopefully, this article can provide an understanding that constructive defending behavior should be priority to develop by social media users. 
Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) pada Guru SMP dan SMA di Jabodetabek Pratami, Elisabeth Vania; Ajisuksmo, Clara R. P.
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 1 (2024): Edisi Khusus: Menjadi Manusia Berkesadaran di Era Digital
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i1.7577

Abstract

Technological advances are developing very rapidly and have become a part of human life in the 21st century. The digitalization era demands that educational institutions and the parties within them carry out educational transformation by changing the learning paradigm. This is done in response to changing times that require new skills in global society. 21st century learning emphasizes learning that is integrated with technology. Therefore, educators need skills in mastering three fundamental components, namely content, pedagogy, and technology, which can be understood through the Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) framework. This study aims to determine the integration of technology by private middle and high school teachers in Jabodetabek in 21st century learning based on the TPACK component. A total of 138 participant data was obtained by self-report via electronic questionnaire using convenience sampling and analyzed using the descriptive statistical analysis method. The study results show that teachers have adequate knowledge regarding the integration of technology in the education sector because the majority of teachers' scores are in the high category. The Covid-19 pandemic has also increased the integration of technology in the learning process. In utilizing technology, most teachers use Google Classroom as a type of Learning Management System (LMS) that can increase learning efficiency.
Produksi Pengetahuan dalam Psikologi Berhampiran Budaya Supratiknya, Augustinus
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i2.8391

Abstract

The subject matter of the culturally-turned Psychology is subjectivity. Adopting the postructuralist Lacanian theory of subjectivity, the human subject is the split subject and/or the lacking subject. The dinamics of subjectivity are constituted by the Other’s desire that circulates in the daily life in the form of discourse and affects subjectivity through identification and interpellation. Research in the culturally turned Psychology aims at creating or constructing in the sense of producing (new) knowledge through reading or interpreting phenomena including things, actions, social institutions, social events, various forms of speech including written, visual, oral, and the like, all of which may be treated as social texts in the sense of a world of signifiers that represents certain meanings in the widest sense of the word. Such kind of research may be conceived as a form of cultural criticism; hence it should ultimately create difference or change in the lives of those it serves. Semiotics and discourse analysis are supposed to be the main methodological tools in the culturally-turned Pschology research.
Kecenderungan Bunuh Diri Siswi SMP Korban Perundungan: Sebuah Studi Naratif Liem, Yani Mulia; Devi, Inez Lyvia; Lailani, Raeda Nur
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v5i2.7271

Abstract

Bullying is a serious problem in education. The number of bullying cases in Indonesia demands that the government, academics, and the wider community pay more attention to this problem. This study aims to further explore the suicidal tendencies of a junior high school student who is a victim of bullying. This qualitative research uses a narrative approach. The participant is a 15 years-old teenager, who is a student of a private junior high school in Sleman Regency, who has been bullied from kindergarten to junior high school. Thematic analysis was conducted to analyze the result. The results showed that long-term bullying can lead to a tendency to self-harm and suicide. Some of the risk factors identified from this study were family members’ inability to understand the victim's condition, poor family's economic condition, neglect of teachers and school friends, and the victim's own capabilities such as communication and emotion regulation skills. This study also identified several protective factors such as family support, teachers and school friends, the victim’s ability to show her feelings, attitude, and behavior.

Page 6 of 10 | Total Record : 91