cover
Contact Name
Alice Whita Savira
Contact Email
alicewhitasavira@usd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
suksma@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Kampus III Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma
ISSN : 14129426     EISSN : 27454185     DOI : doi.org/10.24071/suksma
Core Subject : Humanities,
Jurnal Suksma adalah jurnal open access yang bertujuan untuk mendiseminasikan penelitian di bidang ilmu psikologi. Jurnal suksma menerima naskah dalam area Psikologi Sosial, Psikologi Industri Organisasi, Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, dan Psikometri dengan berbagai metodologi riset yang sesuai dengan standar publikasi jurnal. Target pembaca jurnal ini adalah akademisi, mahasiswa, praktisi, dan profesional lain yang tertarik dengan bidang ilmu psikologi.
Articles 91 Documents
Mempersoalkan Kecantikan Natalie Katherine
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.618 KB) | DOI: 10.24071/suksma.v1i1.2424

Abstract

Hubungan antara Perilaku Overprotective Orang Tua dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Rantau Tahun Pertama di Yogyakarta Beauty Cesya Mutiara; Anwar Anwar; Martaria Rizky Rinaldi
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1922.432 KB) | DOI: 10.24071/suksma.v2i1.4500

Abstract

This study aims to determine the relationship between overprotective parental behavior with adjustment in first-year overseas students in Yogyakarta. The hypothesis proposed is that there is a negative relationship between overprotective behavior of parents with adjustment to the first-year overseas students in Yogyakarta. The subjects in this study were 60 first-year overseas students in Yogyakarta . The data collection in this study used the overprotective behavior scale and the Adjustment scale. The data analysis technique used is the product moment correlation from Karl Person. Based on the results of data analysis obtained correlation coefficient r = - 0.226, (p 0.050), indicating there is a negative relationship to overprotective parental behavior with the adjustment of overseas students. The overprotective behavior variable contributed 5.1% to the low adjustment and the remaining 94.9% was influenced by other factors. 
Efek Stres terhadap False Memory Recall dan Recognition Nurwanti, Ratri; Permatasari, Dian Putri; Fitria, Ika; Ahmad, Zakki Munawar; Anggraini, Yohana Dwivi
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.5188

Abstract

Memory is often thought of as a video recorder that can record and store events precisely as they occur. Whereas in addition to being constructive, memory is also reconstructive, which means that memory can change due to certain conditions, resulting in false memories. The effect of stress on false memory was tested in this between-subject design experiment.  Participants in this study (N = 38) were divided into two conditions through a random assignment process, control conditions (N = 27) and stress or experiment conditions (N = 11).  We used a modified Trier Social Stress Test-Group to induce stress and Deese-Roediger-McDermott Paradigm to measure false memory. The independent sample t-test showed that there was no significant difference on false memory recall and false memory recognition between participants in the experiment condition and participants in the control condition. This indicated that stress did not affect false memory. The implications of this finding are the importance of replicating similar studies investigating stress induction in various stages of memory processing and forms of stress induction to produce a more precise understanding of the stress and false memory mechanism.
Dunia Simbolik: Ruang bagi Pemaknaan dan Kesadaran Hartoko, Victorius Didik Suryo
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.5284

Abstract

Apa itu ilmu psikologi? Pertanyaan semacam ini cukup lazim di antara akademisi psikologi. Pertanyaan ini terus menerus muncul dalam sejarah psikologi, seolah-olah para peneliti dan akademisi psikologi tidak pernah merasa kerasan tinggal di rumahnya sendiri. Seperti seseorang yang mendiami rumah baru, beberapa tampak asing dan beberapa tampak familiar, namun selalu timbul perasaan ada yang tidak cocok. Orang awam dengan mudah menyebutkan psikologi sebagai ilmu jiwa dengan merunut pada etimologinya, psike, namun para akademisi terombang-ambing antara psikologi sebagai ilmu perilaku dan ilmu mental. Asosiasi psikologi Amerika yang menjadi acuan sebagaian besar akademisi psikologi di Indonesia mendefinisikan psikologi sebagai, ilmu yang meneliti pikiran dan perilaku atau kajian ilmiah terhadap perilaku individu dan proses-proses mentalnya (Perez-Alvarez, 2018). Kesulitan terutama yang dihadapi untuk menentukan ruang lingkup psikologi salah satunya berasal dari upaya menggambarkan psikologi sebagai ilmu yang dipandang “sejati”, yakni ilmu yang mengikuti kaidah dan norma cara meneliti ilmu alam. Jika psikologi harus beroperasi seperti halnya ilmuwan fisika, data tentang pengalaman subjektif mengenai perjuangan seseorang untuk mencapai kesejahteraan mental maupun berbagai pengalaman psikologis lainnya tidak dapat masuk hitungan. Standard emas menurut pendekatan ini, sering disebut sebagai pendekatan positivisme, adalah gejala yang dapat teramati oleh pihak ketiga. Dan yang paling memenuhi standar ini adalah gejala perilaku, seperti jumlah air liur yang keluar atau jumlah perilaku menginjak pedal di dalam kotak Skinner. Perilaku seperti itu dapat diamati oleh pihak ketiga dan sekaligus dapat dihitung. Tes-tes prestasi dan tes kemampuan lain dapat digolongkan ke dalam perilaku yang teramati, karena dalam tes semacam itu berapa jumlah soal yang terjawab dengan benar dapat diketahui oleh siapapun. Tes inventori maupun skala sikap meskipun memiliki penampakan yang sama dengan tes prestasi atau kemampuan, dalam standar emas ini kurang dapat diterima karena masih mengandalkan pelaporan diri yang tak dapat diperiksa oleh pihak ketiga. Peneliti yang menggunakan peralatan ini berasumsi bahwa pengakuan testee dapat dipercaya, ketika ia menyatakan bahwa perilakunya sesuai atau tidak sesuai dengan item pernyataan. Namun karena pengakuan itu dapat direpresentasikan dalam derajat angka kesetujuan dan dapat dibandingkan tingkat kesetujuan antar responden, publik akdemik psikologi cenderung dapat menoleransi kelemahan tersebut. Alhasil studi-studi psikologi dipenuhi dengan data-data kuesioner berskala. Yang tidak mudah diterima oleh arus utama psikologi modern adalah narasi dan pengakuan verbal pihak pertama, si pelaku atau si orang yang mengalami keadaan dan peristiwa yang menjadi topik penelitian. Isi dari pengakuan verbal dan narasi pengalaman tidak dapat disaksikan secara langsung oleh pihak lain. Orang lain hanya dapat merasakan dan membandingkannya dengan perasaan dan gambarannya sendiri. Proses ini memerlukan sikap empatik dan intersubjektivitas peneliti, yaitu sejauh mana narasi dan pengakuan itu dapat menjadi masuk akal di dalam dunia subjektif peneliti atau pendengar lain. Asosiasi psikologi arus utama seperti Asosiasi Psikologi Amerika telah menerima keberadaan penelitian kualitatif sebagai bagian dari praktek disiplin ilmiah psikologi di dalam Divisi 5 Asosiasi Psikologi Amerika: Division for Quantitative and Qualitative Methods (American Psychological Association, 2022). Penerimaan ini tidak serta merta membuat kajian kualitatif dipandang sejajar dengan kajian kuantitatif. Posisinya tetaplah marginal (Kidd, 2002; Rennie, 2012). Keengganan ini selain bersumber dari sifat data yang naratif dan pengakuan diri, juga bersumber dari sifat interpretatif dari analisis data kualitatif yang mengancam generalitas, validitas sekaligus berseberangan dengan gambaran ilmu yang positivistik (Kidd, 2002). Interpretasi peneliti dalam proses pemerolehan data hingga analisis data kualitatif tidak dapat dihindari. Dunia kesadaran dan pemaknaan hanya dapat terkomunikasikan dengan jelas melalui narasi dan bahasa yang memerlukan penafsiran dari pihak pendengarnya. Bahkan proses interpretasi sudah dimulai ketika pengalaman ataupun peristiwa itu terjadi. Di dalam dunia phenomenal orang berhadapan dengan dunia yang tak terdefinisikan dengan jelas. Si pelaku atau si penderita mencoba menggambarkan apa yang dialaminya dengan kata-kata dan narasi. Ia menerka-nerka apa yang dialaminya dan mencoba menuturkannya dengan perangkat yang dapat dipahami oleh pendengarnya. Demikian juga pendengarnya. Ia mencoba untuk membayangkan apa yang dirasakan dan dialami si pencerita dan sekaligus mengkonseptualisasikannya dalam kosa kata yang dapat dimengerti oleh pembaca, yakni publik ilmiah psikologi. Pemahaman dunia kesadaran dan pemaknaan memerlukan penafsiran yang berujung pada rasa kesamaan pengalaman atau empati (Kendler, 1970). Hampir mirip dengan orang yang membaca novel. Novel yang bagus dinilai dari kemampuannya untuk menginduksi pengalaman yang sama dalam diri pembacanya. Celakanya sebagian besar pengalaman psikologis kita hanya terkomunikasikan melalui medium kata-kata dan narasi. Menolak mode penelitian semacam ini akan membuat banyak hal dari kehidupan kita tidak mendapat tempat dalam dunia psikologi ilmiah.Kesadaran dan pemaknaan terhadap pengalaman adalah mode sehari-hari orang tinggal di dunia bersama dengan orang lain. Untuk menyatakan kesadaran maupun pemaknaan orang memerlukan simbol-simbol yang diciptakan bersama secara kolektif. Pembedaan manusia dari spesies hewan adalah dunia simbolik tersebut. Cassirer (1987) menyebut manusia sebagai binatang simbolik. Urusan manusia bukan hanya terarah pada dunia alamiah tetapi terutama pada dunia simbolik ciptaannya sendiri yang dimaksudkan untuk menggambarkan dunia alamiah di luar sana maupun dunia perasaan dan imajinasi di dalam diri sendiri. Bahasa dan simbol menjadi penghubung antar manusia maupun penghubung antara manusia dengan dunia alamiahnya (baik dunia eksternal maupun dunia internalnya). Dunia simbolik tersebut merupakan rekayasa kolektif atau kebudayaan. Pengalaman pribadi sekalipun tak dapat terpahami oleh diri sendiri jika tidak melewati dunia simbolik tersebut. Dengan kata lain pemahaman diri sendiri atas kehidupan sekaligus merupakan pemahaman bersama melalui kegiatan berbicara dan bercerita (Bruner, 2004). Ruang lingkup psikologi tidak bisa dibatasi hanya pada dunia mental phenomenal maupun perilaku individu, seperti yang didefinisikan oleh APA tetapi merentang dari rasa kebertubuhannya hingga dunia semiotik / simbolik yang bersifat kolektif dan kultural. Henriques (1983; 2004) menggambarkan psikologi sebagai dunia antara ilmu-ilmu biologi dan ilmu-ilmu kemanusiaan kultural. Individu yang menjalani kehidupan tinggal dalam tiga dunia secara simultan: dunia tubuhnya, dunia psikologisnya dan dunia sosial-kulturalnya (Perez-Alvarez, 2018). Freud (1949) menggambarkan dunia mental manusia baik yang disadari maupun tidak disadarinya dengan mengacu pada tiga dunia tersebut secara sekaligus yakni id (dunia tubuh dengan segala gambaran mengenai nafsu maupun dorongannya), ego (rasa kedirian dan individualitas) dan super ego, yang secara harafiah berarti dunia diatas ku, yaitu dunia sosial dan kultural yang termediasi melalui kehadiran orangtua. Kehidupan seseorang tidak terbayangkan tanpa ketiga dunia tersebut. Pengalaman badaniah selalu akan mewarnai rasa kedirian seseorang baik sebagi pelaku (agen) maupun sebagai penderita (orang yang merasakan pengalaman) dan perasaan kedirian itu selalu mengandaikan adanya kehidupan bersama orang lain. Jika psikologi akademis memiliki komitmen terhadap kenyataan ini mau tak mau dunia akademis psikologi akan memeluk pluralitas epistemologis-metodologis maupun ontologis ini. Artikel pertama dalam edisi ini yang berjudul “Analisis Statistika dalam Riset-Riset Psikologi Komunikasi: Sebuah Studi Literatur” mencoba memetakan kecenderungan metodologis para peneliti ketika meniliti dunia komunikasi. Artikel kedua, “Hubungan antara Regulasi Diri dengan Fear of Missing Out pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial” memperlihatkan keterkaitan dunia internal dengan dunia sosial yang menjadi habitat kehidupan seseorang. Upaya untuk mendeskripsikan dunia phenomenal dengan memanfaatkan cerita maupun dunia simbolik kata tampak dalam dua artikel berikutnya yang berjudul: “Dinamika Meaning Making Process pada Emerging Adulthood dengan Riwayat Adverse Childhood Experiences dan Non Suicidal Self Injury”, serta “Analisis Tematik Kebahagiaan pada Milenil Kelas Menengah”. Kedua artikel tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif. Artikel kelima yang berjudul “Efek Stress terhadap False Memory Recall dan Recognition”, memperlihatkan bagaimana proses pemaknaan yang terepresentasikan dalam false memori bersifat kokoh dan tidak terganggu oleh kehadiran stres. Artikel keenam, “Keterikatan Kerja dan Intensi Turnover pada Karyawan Generasi Y” menunjukkan intensi seseorang tidak dapat dilepaskan dari pengalamannya. Keragaman topik dan metodologis dari berbagai artikel tersebut dapat ditawarkan sekaligus pada para pembaca karena komitmen Jurnal ini terhadap pluralitas epistemologis-metodologi maupun ontologis, sepanjang mengacu pada tiga dunia tempat habitat manusia. Selamat Membaca!
Keterikatan Kerja dan Intensi Turnover pada Karyawan Generasi Y Dewi, Gusti Ayu Made Dwi Aprillia; Savira, Alice Whita
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.5120

Abstract

This research aimed to determine the correlation between work engagement with turnover intention among generation Y employees. The research hypothesis proposed that there was a negative correlation between work engagement with turnover intention among generation y employees. The participants in this study were 411 generation Y employees. This research was a quantitative study with non-probability sampling technique. The data was collected by distributing online scales which are Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9) and Turnover Intention Scale Six Items (TIS-6). From the try-out of scales, the reliability of coefficients on UWES-9 was .91 and TIS-6 was .78. The data was analyzed using Pearson Product Moment Correlation technique because the data was normally distributed. The result of the analysis test showed that work engagement has a negative correlation with turnover intention with r = -.63; p .01. Based on the result, it can be concluded that there was a significant negative correlation between work engagement with turnover intention among generation y employees.
Analisis Statistika dalam Riset-Riset Psikologi Komunikasi: Sebuah Studi Literatur Santoso, Agung
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.4684

Abstract

The increasing number of studies in psychology on communication demanded the use of more relevant statistical analysis techniques that can meet the needs for these studies. Conventional analysis techniques, such as ones that were based on linear model, assume that the observation are independent. Such assumption were often violated in studies on communication. Therefore, it was imperative to develop statistical analysis techniques that could address problems related to data with dependent observation either in communication events. Such efforts could not be separated from literature studies addressing several research questions: (1) What kind of research questions  that frequently arose in communication in Psychology?, (2) What statistical analysis techniques that were commonly used to answer the questions in such studies?, (3) What potential statitical analysis techniques that could be used in the studies?, and (4) How were the discrepancies between the needs in communication studies in Psychology with the statistical analysis techniques currently available? The current studies attempted to address those questions by conducting a study of literature review. It was shown that there was still a big space for improvement for studies on communication particularly in Indonesia. Many statistical techniques that were currently available, such as dyadic analysis or social network analysis, have not been employed to address the issues related to dependence of observation or social relations data. Moreover, statistical models or techniques should be developed to measure communication events to reduce the dependence on self-report assessments.     
Hubungan antara Regulasi Diri dengan Fear of Missing Out (FoMO) pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial Kusnadi, Melisa Lusiana; Suhartanto, Paulus Eddy
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.4933

Abstract

This research aimed to determine the correlation between self-regulation and Fear of Missing Out (FoMO) in college students who used social media. The hypothesis of this research there was a negative correlation between self-regulation and Fear of Missing Out (FoMO) in college students who used social media. The participants of this research were 402 college students aged 18 to 25 years who used at least one of the following four social media: YouTube, WhatsApp, Facebook, or Instagram. This research was quantitative research using a non-probability sampling technique. The instruments used in this research were two scales arranged by the researcher, self-regulation modeled on Bandura’s self-regulation theory (in Feist et al., 2018), and the FoMO scale modeled on Przybylski et al’s FoMO theory (2013). According to the try-out of scales, the reliability coefficient on the self-regulation scale was 0,861 and on the FoMO scale was 0,815. The data analysis technique in this research used Spearman’s rho technique because the data were not normally distributed. The results of this research showed that there was a significant negative correlation between self-regulation and Fear of Missing Out (FoMO) in college students who use social media (r = -0,247, p = 0,000).
Dinamika Meaning Making Process pada Emerging Adults dengan Riwayat Adverse Childhood Experiences dan Non-Suicidal Self-Injury Herdianto, Adeline; Dewi, Zahrasari Lukita
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.5059

Abstract

Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) is a maladaptive phenomenon that becomes a concern in Indonesia, especially in the prevalence of emerging adults. One of the predisposing factors for NSSI is exposure to Adverse Childhood Experience (ACE). Individuals in these two contexts are also found to have different worldviews. The aim of this study was to describe the dynamics of meaning-making in the context of emerging adults with a history of ACE and NSSI. This study uses a qualitative-phenomenological approach. Interviews were conducted with three participants aged 19-25 years, having 5-8 ACE (ACE questionnaire screening), doing NSSI (NSSI-AT screening), and live in Jabodetabek. Participants were selected by purposive sampling. Thematic analysis of the data was carried out according to the theory of meaning-making model, ACE, and NSSI. The results showed that distress by adversive experience triggered the meaning-making process. The role of the deliberate and cognitive process is more helpful in the dynamics of meaning-making. The meanings made, such as acceptance, re-appraisal, re-attribution, perceptions of growth, and changes in global meaning, were found to reduce distress and generate compassion. However, the meanings made can still be dynamically developed throughout the individual's life. In further research, exploration in the gender role, culture, and other humanistic aspects, such as forgiveness and support system in meaning-making can be carried out. Longitudinal or mixed-method methods can also be chosen to develop the results of this study.
Analisis Tematik Kebahagiaan pada Milenial Kelas Menengah Harimurti, Albertus
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v3i2.4956

Abstract

This current study aimed to map the experience of happiness among middle-class millennials in Indonesia. Data were collected through the written stories and experiences of 37 subjects aged 19-20 years. Using thematic analysis with constructionist epistemology, this research found four major themes across the stories. Subjects portrayed that happiness is a condition in which the subjects: (1) Enjoy the moment, (2) Subjectively, (3) Support from others, and (4) Self-worth. These findings have implications for research models on happiness that can be directed at welfare issues at various levels, namely individual, interpersonal, organizational, and communal which are interconnected and influence each other.
Reorientasi Program Profesi Psikologi Justin, Ernest; Supratiknya, Augustinus
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i1.5741

Abstract

Law number 23 of 2022 concerning “psychology education and services” provides certainty regarding higher education of psychology in Indonesia. In particular, this article wants to explore and provide orientation towards professional psychology education programs in Indonesia. After discussing the brief history of professional psychology education programs in Indonesia and the legal complexities that accompany them, the authors explore the curriculum of professional programs compared to academic programs. The writers try to look at two aspects of the curriculum: (1) substantive knowledge and skills regarding scientific disciplines; (2) knowledge of the service context and practice of the discipline. The authors then try to identify four competencies that need to be learned in the Professional Psychology program. These competencies will be described in the curriculum framework proposed by the authors; the curriculum framework emphasizes practical aspects, competency-based curricula, and problem-based learning.

Page 4 of 10 | Total Record : 91