cover
Contact Name
Novi Anoegrajekti
Contact Email
arif.jurnal@unj.ac.id
Phone
+6281584654042
Journal Mail Official
arif.jurnal@unj.ac.id
Editorial Address
Jl. Rawamangun Muka Barat No.11, RT.9/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota, Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
ISSN : 28303296     EISSN : 28078608     DOI : https://doi.org/10.21009/Arif.031
Jurnal ARIF bertujuan menyediakan ruang publikasi bagi peneliti bidang humaniora dalam konteks budaya Indonesia. Publikasi difokuskan pada kajian budaya, sastra, dan kearifan lokal yang meliputi bidang sosial, seni, bahasa, politik, ritual, tradisi lisan, mitos, dan identitas kelolakan Nusantara. Publikasi sebagai media komunikasi dan internalisasi nilai untuk menumbuhkan pemahaman, penghayatan, dan pemilikan bersama. Internalisasi nilai menjadi ruang bertumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam mempertahankan, mengembangkan, dan memanfaatkan nilai budaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan harmoni sosial
Articles 90 Documents
Masculinity and Femininity Symbols in South China Buddhist Temples: Psycho-Anthropological Perspective Anas Ahmadi
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.05

Abstract

Studies on masculinity in the last ten years have increased along with men's awareness of themselves. The study of masculinity is in opposition to the study of femininity. In this regard, this research intersects both of them, namely the study of masculinity and femininity in the Quan Yin temple in China. This research explores the Quan Yin symbols in the Southern Chinese (Mahayana Buddhist) Temples. This study uses a psycho-anthropological perspective. This research with a qualitative approach uses data from the architecture of the Quan Yin Temple. Data collection techniques refer to ethnographic studies, namely (1) observation, (2) photography, (3) recording, and (4) interviewing. The results of the study show that the structure that appears in Quan Yin symbolism is a dyadic structure that is divided into oppositions of (i) temples with pagodas without pagodas, (ii) masculine-feminine, (iii) strong-gentle, (iv) closed (introversion)-open (extroversion), and (v) anima -animus. Meanwhile, in terms of the collective mediation function of symbolism, it is shown that Quan Yin has symbolism, which shows that Quan Yin is indeed the highest and surpasses gods or goddesses. Therefore, Quan Yin can manifest/become anything to help mankind on Earth. This research universally shows that masculinity and femininity are also present in religious symbols. Both masculinity and femininity are nondualities that cannot be separated. This concept is almost the same as yin and yang in Chinese human philosophy.
Aspek Agraris dan Maritim dalam Makanan Tradisional Kuah Tige Destriyadi
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.10

Abstract

Hasil hubungan masyarakat dengan alam dapat dilihat dari makanan tradisional kuah tige, Natuna. Budaya maritim dan budaya agraris berhubungan dengan masyarakat dan alam. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan aspek agraris dan maritim dalam makanan tradisional kuah tige. Data penelitian kualitatif deskriptif ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Ada tiga tahap penelitian, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Natuna yang dikelilingi lautan luas dan tanah yang subur, makanan tradisional kuah tige menjadi milik sebagian komunitas masyarakat secara kolektif. Bahan baku makanan tradisional kuah tige berasal dari budaya agraris seperti kelapa kukur, sagu butir, dan ubi rebus, sedangkan yang berasal dari budaya maritim adalah gulai air ikan. Perbedaan pandangan dan kebiasaan masyarakat Natuna mengenai kuah tige dipandang sebagai cara untuk menguatkan dan memperkaya kebudayaan.
Konsep Habitus Bourdieu dan Dinamika Masyarakat Tionghoa dalam Pendidikan Jang Kliroe dan Korban Dari Peroentoengan Dewojati, Cahyaningrum; Nadhilah Nurtalia
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.01

Abstract

Sastra peranakan Tionghoa sebelum Indonesia merdeka adalah pioneer sastra modern Indonesia. Karya-karya yang dihasilkan oleh pengarang Tionghoa banyak merefleksikan dinamika sosial dan budaya masyarakat pada masa itu. Sebagian dari mereka berhasil memasuki kelas sosial baru sekaligus membangun kultur yang baru pula. Penelitian ini bertujuan mengkaji habitus, modal, serta kritik pengarang terhadap aspek gaya hidup dan pendidikan kalangan Tionghoa dalam Pendidikan Jang Kliroe karya Lauw Giok Lan dan Korban dari Peroentoengan karya Gan Tjian Lie. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat habitus tertentu yang menarik yang muncul melalui tokoh dalam novel PJK dan KDP, sementara modal yang dimiliki antara lain modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya. Lauw dan Gan menggunakan karya mereka sebagai sarana kritik terhadap permasalahan yang menjangkiti masyarakat kelas atas Tionghoa di Hindia Belanda, seperti perilaku konsumerisme kalangan hartawan Tionghoa dan efek-efek negatif dari pendidikan ala Barat yang diterima oleh anak-anak muda Tionghoa.
Analisis Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Novel Si Dul Anak Jakarta Karya Aman Datuk Madjoindo Eliastuti, Maguna
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.09

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan nilai kearifan lokal dalam novel Si Dul Anak Jakarta karya Aman Datuk Madjoindo. Penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan pendekatan antropologi sastra. Dalam novel Si Dul Anak Jakarta nilai kearifan lokal dianalisis melalui pendekatan sastra-antropologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah membaca, mencatat, dan pengambilan keputusan. Hasil penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan analisis tentang nilai kearifan lokal dalam novel Si Dul Anak Jakarta karya Aman Datuk Madjoindo. Secara keseluruhan, novel ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal, termasuk pendidikan dan budaya.
Tradisi Lisan Ngabeluk pada Masyarakat Sunda: Hegemoni dan Representasi Identitas Nurfajrin, Dinni
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.02

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dinamika hegemoni atas tradisi Ngabeluk, representasi identitas yang di tampilkan oleh komunitas seni tradisi. Penelitian ini diawali bulan meret 2019 sampai dengan februari 2022. Adapun lokasi penelitiannya berada di Desa Rancakalong RT. 01 RW08 Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Keterlibatan peneliti dalam melakukan etnografi dilakukan dengan interview mendalam dengan bahasa sumber yakni bahasa Sunda dan berkesinambungan dalam observasi partisipan dari suatu situasi. Berdasarkan hasil temuan, tradisi Ngabeluk telah beradaptasi dengan berbagai macam dasar dan alasan seperti Negara, pasar, dan juga agama. Perubahan lainnya ditemukan dalam maksud serta tujuan pertunjukan. Adaptasi yang dilakukan oleh para penembangnya sebagai bentuk pemertahanan tradisi oleh pelaku budaya menghadapi relasi kuasa pemerintah, agama dan pasar, tradisi Ngabeluk membentuk tujuh representasi identitas yakni; 1) Beluk sebagai media komunikasi, 2) Beluk Magawe,3) Beluk Rengkong, 4) Beluk Rudat, 5) Beluk Saman, 6) Beluk Badud, dan 7) Beluk wawacan. Berdasarkan ketujuh representadi identitas diperoleh pengertian baru, seni Beluk di Rancakalong bukan hanya seni membaca Wawacan atau seni berkomunikasi antar pertani di Huma atau Sawah. Kini yang disebut sebagai seni Beluk adalah kesenian-kesenian yang dipertunjukan dengan ciri khas nada tinggi (nada Beluk).
Sihir Osing dalam Ritual Penyembuhan Fahmi Ilyas; Murni, Sri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.07

Abstract

Orang Osing seringkali diidentikkan oleh orang luar dengan kemampuan menggunakan sihir, santet dalam kehidupan keseharian mereka. Penelitian ini mencoba memahami penggunaan sihir dalam penyembuhan tradisional orang Osing melalui pendekatan kualitatif. Sihir Osing yang dipraktikkan dalam penyembuhan tradisional efek yang dihasilkan dari prosesi ritual. Sihir yang dikelompokkan menjadi empat warna, yaitu putih, hitam, merah, dan kuning memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda, dan salah satunya adalah untuk tujuan penyembuhan. Sihir yang dikenal orang Osing ini juga memiliki ciri-ciri yang serupa dalam aplikasinya, yaitu memerlukan adanya mantra, media untuk menyalurkan mantra, serta ‘meleburkan’ dunia spiritual dengan dunia material.
Pendekatan Strukturalisme dan Praktik Triangulasi di dalam Penelitian Sastra Nugraha, Dipa
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.04

Abstract

Berdasarkan penelusuran, beberapa akademisi sastra Indonesia terdapati telah tidak tepat di dalam menerapkan pendekatan strukturalisme di dalam penelitian sastra. Akademisi sastra Indonesia lainnya ditemukan telah menggunakan istilah triangulasi di dalam penelitian mereka dengan keliru. Artikel ini adalah artikel kajian pustaka sistematis. Pustaka yang relevan dengan topik pendekatan strukturalisme dan triangulasi disarikan dan diletakkan di dalam konteks penelitian sastra. Artikel ini memberikan kesimpulan bahwa ketidaktepatan penerapan pendekatan strukturalisme terjadi pada penghentian langkah pengkajian hanya pada tahapan awal dari pendekatan strukturalisme, yaitu identifikasi unsur-unsur pembangun karya sastra, tanpa kelanjutan pada tahap pengulasan mendalam dan tindak analisis hubungan antarunsur. Adapun kekeliruan pemahaman atas dan ketidaktepatan penggunaan istilah triangulasi di dalam penelitian sastra di Indonesia bisa diatasi dengan pembacaan cermat atas buku rujukan utama dari penggunaan triangulasi yang sebenarnya berlaku di dalam penelitian sosial dengan judul The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods karya Norman Denzin.
Eksistensi Cerita Rakyat dan Fungsinya dalam Kehidupan Masyarakat di Manggarai Timur Ni Wayan Sumitri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.03

Abstract

Tulisan ini membahas eksistensi cerita rakyat dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat di Manggarai Timur yang kini semakin dilupakan terutama oleh para generasi mudanya. Karenanya penelitian ini dilakukan. Fokus kajiannya pada aspek isi salah satu cerita mitos yaitu Tiwu Inding yang dikaji secara tekstual dalam perspektif etnolinguistik dan foklor untuk mengungkap kebermaknaan cerita rakyat dalam fungsinya sebagai pedoman dalam kehdupan masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Manggarai Timur. Data diperoleh secara etnografi melalui metode simak-catat dan wawancara, serta didukung oleh studi kepustakaan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif dengan metode induktif. Temuan menunjukkan bahwa keberadaan cerita rakyat di Manggarai Timur memiliki berbagai versi cerita karena diwadahi oleh enam bahsa lokal yang berbeda yaitu bahasa Manggarai, Manus, Mbaen, Rongga, Rajong dan Kepo. Cerita rakyat tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat pemiiknya dalam fungsinya sebagai sarana hiburan, religius, pemersatu dan pemertahanan nilai budaya serta sebagai sarana kontrol sosial.
Patriotisme sebagai Ruang Ketiga: Praktik Ritual Adat Ujung Mantra dalam Masyarakat Gucialit-Lumajang Salam, Aprinus
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.06

Abstract

Perubahan prosesi ritual adat dalam suatu tradisi masyarakat merupakan hal yang lazim terjadi seiring pergerakan sosiokultural masyarakat. Bagaimana tradisi dan budaya berubah di antara pergerakan manusia secara kolektif, periode sejarah, dan hubungan dilematis antara agama, budaya (adat), dan transisi lainnya. Tulisan ini memusatkan perhatian pada upacara adat ujung mantra masyarakat Lumajang. Apakah ujung mantra pada masyarakat Gucialit Lumajang yang menuju modern masih mempertahankan otentitasnya? Sebagai ruang kultural, berdasarkan data historisnya, Lumajang adalah wilayah diaspora sehingga sebagian besar masyarakatnya adalah Madura-Jawa dan masyarakat Gucialit, sebagian besar beragama Islam. Bahasan utama tulisan, adalah sejarah, praktik, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam upacara adat ujung mantra. Di balik praktik ritual tercipta ruang liminal dengan menghadirkan wacana patriotik. Tujuan upacara bergeser dari ritual pemanggil hujan menjadi mencipta kerukunan antarwarga. Patriotisme sebagai strategi pengalihan wacana dan alternatif untuk melebur persinggungan antara agama, budaya, dan modernitas di dalam ruang ketiga (ujung mantra).
Fungsi Edukatif Tradisi Lisan Teater Dulmuluk pada Masyarakat Palembang Andriani, Margareta; Siti Gomo Attas; Zuriyati
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2023): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.031.08

Abstract

Teater Dulmuluk sebaga teater tradisional merupakan ikon masyarakat Palembang. Sebagai tradisi lisan, teater Dulmuluk tentu saja memiliki fungsi kebermanfaatan yang dapat dijadikan pedoman dalam berprilaku bagi masyarakat khususnya masyarakat Palembang. Namun sayangnya, saat ini teater Dulmuluk berada di titik nadir. Dahulu, pertunjukannya ditunggu dan digemari masyarakat, tetapi sekarang eksistensinya mulai memudar. Berdasarkan hal ini, maka penting dikaji bagaimana fungsi-fungsi kebermanfaatan di dalam pertunjukan teater Dulmuluk sehingga dapat dijadikan pedoman dalam berprilaku bagi masyarakat Palembang. Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Adapun hasil penelitian ini, yaitu 1) berfungsi sebagai pendidikan bagi generasi muda karena di dalam pertunjukan teater Dulmuluk penuh dengan nilai-nilai kebermanfaatan yang dapat dijadikan pedoman dalam berprilaku bagi masyarakatnya; 2) berfungsi sebagai peningkatan perasaan solidaritas suatu kelompok baik antar pemain maupun bagi masyarakat penonton; 3) berfungsi sebagai pemberian sanksi social bagi yang bersalah serta mengajarkan kebaikan-kebaikan; 4) berfungsi sebagai sarana kritik sosial yang disampaikan melalui guyonan-guyonan yang segar; 5) dan dapat mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi sebuah permainan yang mengasyikkan.