cover
Contact Name
Eko Didik Widianto
Contact Email
rumah.jurnal@live.undip.ac.id
Phone
+6285740947996
Journal Mail Official
gjec@live.undip.ac.id
Editorial Address
Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika UNDIP Jl. Prof. Sudarto, SH Tembalang Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27770664     DOI : -
Core Subject : Science,
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry adalah Jurnal yang diterbitkan oleh Departemen Kimia, Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal ini terbit 2 kali dalam setahun pada bulan Mei dan November. Jurnal Greensphere: Journal of Environmental Chemistry mempubliksikankan hasil penelitian dan telaah (review) bidang Kimia Organik, Kimia Anorganik, Kimia Fisik, Biokimia dan Kimia Analitik yang mendukung greenchemistry dan kesehatan.
Articles 59 Documents
Evaluation of pH Effect on Conformation of Protein Interaction E-Cadherin…ADTC5 Complex: Molecular Dynamic Simulation Royhanshah, Moch Freskha Fauzi; Anam, Khairul; Hudiyanti, Dwi; Siahaan, Parsaoran
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Issue 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2023.20955

Abstract

Abstract. Blood Brain Barrier (BBB) is a barrier located in the brain that controls the delivery of peptide drug to the brain. The difficulties of delivering drugs through BBB is because of E-Cadherin…E-Cadherin interaction that prevent drugs to pass through. ADTC5 has shown positive results to improve drug delivery through the BBB by modulating E-Cadherin…E-Cadherin interaction. Conformation are one of the factors that can affect the modulation stability between E-Cadherin…ADTC5. To analyze the conformation and stability of E-Cadherin…ADTC5 complex throughout the simulation time with pH effect, Molecular Dynamic (MD) method was used to simulate the conformational changes. The results indicate that pH 7.4, E-Cadherin…ADTC5 is the most stable conformation, with the lowest maximum radius gyration value 28.906 Å and the lowest ΔG Binding -168.244 kJ/mol. In the other hand, the most unstable conformation can be seen at pH 2.4, indicated by the positive ΔG Binding values 51,802 kJ/mol, high RMSD average at 2.8 Å and high RMSF fluctuations on residues. 
Sintesis Membran Kitosan Tertaut Silang Tripolifosfat dengan Paduan Polivinil Alkohol untuk Permeasi Kreatinin Ikhsan, Tauhid Nur; Khabibi, Khabibi; Lusiana, Retno Ariadi
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Issue 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2024.21044

Abstract

Penelitian tentang modifikasi kitosan menggunakan taut silang natrium tripolifosfat (NaTPP) dengan paduan polivinil alkohol (PVA) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh membran kitosan tertaut silang TPP dengan paduan PVA dan mengkarakterisasinya kemudian mengaplikasikannya untuk uji permeasi terhadap kreatinin. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu sintesis membran kitosan termodifikasi NaTPP dan PVA, karakterisasi membran dan aplikasi membran untuk permeasi kreatinin. Penelitian diawali dengan membuat larutan kitosan (Cs), kitosan-PVA (CsP) dan kitosan termodifikasi NaTPP dengan variasi mol kitosan:NaTPP yaitu CsPT1 (1:30), CsPT2 (1:20) dan CsPT3 (1:10), kemudian mencetaknya menjadi membran. Tahap berikutnya, mengkarakterisasi membran meliputi uji FTIR untuk mengidentifikasi gugus fungsi, uji morfologi permukaan menggunakan SEM, uji serap air, daya pengembangan, porositas, hidrofilisitas, kuat tarik dan uji permeasi terhadap kreatinin. Keberhasilan sintesis membran kitosan tertaut silang NaTPP dengan paduan PVA dibuktikan dengan adanya pergeseran bilangan gelombang dari 3280 ke 3251 cm-1 yang menunjukkan adanya interaksi antara gugus O-H dan -NH2 dari kitosan, PO- dari TPP dan -OH dari PVA. Hasil karakterisasi fisik membran termodifikasi pada pengukuran berat dan ketebalan membran, uji serapan air, porositas dan hidrofilisitas meningkat seiring peningkatan kadar NaTPP, sedangkan pada uji kuat tarik dan pengembangan mengalami penurunan. Membran terbaik pada permeasi kreatinin adalah membran CsPT3 dengan kenaikan persentase transpor kreatinin sebesar 33,17% dari membran kitosan awal. 
Pengaruh Asam dan High Energy Milling serta Karakterisasi Zeolit Alam Termodifikasi Mn Anghistra, Pradipta Ditya; Pardoyo, Pardoyo; Subagio, Agus
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Issue 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2023.20974

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh zeolit alam dengan perlakuan asam dan high enrgy milling serta mengetahui karakter dari zeolit alam termodifikasi Mn. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh zeolit alam termodifikasi Mn dan mengetahui karakter akibat perlakuan asam dan high energy milling. Zeolit yang lolos ukuran 230 mesh dibagi menjadi dua bagian, pertama diberi perlakuan milling sedangkan yang kedua tanpa perlakuan milling. Kedua zeolit diaktivasi dengan HF 1% dan HCl 6M, selanjutnya ditambahkan MnCl2.4H2O 0,5M. Hasil penelitian menunjukkan adanya Mn pada kedua kerangka zeolit. Karakterisasi dengan FT-IR mengindikasikan terjadi dealuminasi ditandai dengan pergeseran bilangan gelombang dari 1049,78 cm-1 menjadi 1095,57 cm-1 dan 1080,14 cm-1 pada masing-masing zeolit dengan perlakuan  milling dan  tanpa milling. Analisis SEM diperoleh morfologi permukaan zeolit berbentuk bulat tak beraturan. Data SAA diketahui luas permukaan, volume pori dan diameter pori zeolit dengan perlakuan milling adalah 80,043 m2/g, 0,165 cc/g, dan 2,882 nm sedangkan zeolit tanpa perlakuan milling berturut-turut 141,946 m2/g, 0,170 cc/g, dan 2,693 nm.
Modifikasi Silika dari Abu Sekam Padi pada Variasi pH Menggunakan Cetyltrimethylammonium Bromide (CTAB) untuk Adsorpsi-Desorpsi Urea Madania, Pawitra; Sriyanti, Sriyanti; Sriatun, Sriatun
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Issue 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2023.20990

Abstract

Sintesis silika mesopori telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pH gelasi dan penambahan surfaktan CTAB terhadap karakter silika mesopori yang dihasilkan, serta kemampuan silika mesopori dalam adsorpsi-desorpsi pada urea. Sintesis silika mesopori dilakukan dengan menambahkan natrium silikat (Na2SiO3) dari abu sekam padi ke dalam larutan CTAB dengan konsentrasi 0,0009 M (MS-3, MS-5, MS-7 dan MS-9). Larutan HCl 3 M ditambahkan secara bertahap hingga mencapai pH 3, 5, 7, 9 dan 11 Penghilangan CTAB dilakukan melalui proses kalsinasi pada suhu 550°C selama 5,5 jam. Selanjutnya diuji kemampuan adsorpsi-desorpsi urea. Karakterisasi hasil menggunakan metode Spektroskopi Serapan Atom (AAS), Gas Surface Analyzer (GSA) Brunauer – Emmett-Teller (BET), Fourier Transform Infra-Red (FTIR), dan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis AAS natrium silikat hasil sintesis mengandung Si sebanyak 32,68%. Analisis FTIR silika hasil sintesis dengan variasi pH gelasi menunjukkan bahwa daerah bilangan gelombang 960-980 cm-1 termasuk golongan Si-OH dan pada daerah 1000-1200 cm-1 merupakan golongan Si-O-Si. kelompok. Spektrum dekonvolusi FTIR juga menemukan bahwa rasio Si-OH/Si-O-Si pada MS-7 lebih tinggi dibandingkan variasi pH gelasi lainnya. Hasil analisis GSA menunjukkan silika gel pada pH 3, 7, dan 11 mempunyai pori-pori berukuran meso dengan diameter pori berturut-turut 3,88 nm, 16,36 nm, dan 9,55 nm. Hasil analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada larutan urea setelah dilakukan proses adsorpsi-desorpsi menghasilkan kemampuan adsorpsi tertinggi pada MS-7 yaitu sebesar 53,91% dan kemampuan desorpsi terendah pada MS-7 yaitu sebesar 24,10%.
Pengambilan Logam Berat Pb dengan Metode Elektrogulasi dalam Sistem Al(s)|Pb(NO3)2(aq), KCl(aq)||H2O(l) Fadilah, Umi; Suyati, Linda; Nuryanto, Rahmad; Widodo, Didik Setiyo; Gunawan, Gunawan
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Issue 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2023.19363

Abstract

Sumber pencemaran air sebagian besar berasal dari limbah industri. Air limbah tersebut mengandung logam berat yang berbahaya dan beracun seperti logam timbal (Pb). Metode elektrokoagulasi dinilai tepat dan efektif dalam mengurangi polutan logam berat. Proses elektrokoagulasi menghasilkan koagulan yang mampu mengikat logam berat dalam suatu sistem. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kondisi optimum (tegangan, konsentrasi KCl, pH dan waktu elektrokoagulasi) dalam pengambilan Pb2+, menentukan kinetika elektrokoagulasi pengambilan Pb dan mengetahui komposisi unsur yang terkandung pada endapan hasil elektrokoagulasi Pb.Pada penelitian ini elektroda Al sebagai anoda dan elektroda C sebagai katoda. Larutan timbal nitrat sebagai limbah artifisial yang mengandung ion timbal dengan elektrolit pendukung KCl. Proses elektrokoagulasi dilakukan pada variasi tegangan 1, 2, 3, 4, dan 5 V, konsentrasi KCl 0,05; 0,10; 0,15; 0,20; 1,00 dan 1,50 M, variasi pH 3, 5, 7, 9 dan 11 serta variasi waktu yang digunakan yaitu 15, 30, 60, 90 dan 120 menit. Analisis konsentrasi Pb2+ setelah elektrokoagulasi dengan menggunakan instrument Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Endapan hasil elektrokoagulasi dikarakterisasi dengan EDX mapping dan FTIR.Hasil penelitian didapatkan kondisi optimum untuk pengambilan Pb2+dalam sistem ini adalah pada tegangan 3 V , konsentrasi KCl 0,10 M , pH larutan 9  dan waktu elektrolisis 120 menit . Kinetika elektrokoagulasi pengambilan Pb mengikuti pseudo orde dua,  dengan k =0,9984 g.mg-1.menit-1, sedangkan unsur yang terkandung pada endapan adalah oksigen, aluminium, timbal, kalium dan klorida. Hal ini menunjukkan bahwa Pb berhasil dikoagulasi oleh Al(OH)3 diperkuat dengan spektra FTIR yang menunjukkan adanya vibrasi Pb-O, Al-O dan O-H. 
Pembuatan Karbon Aktif Nanopartikel dan Uji Potensinya Sebagai Bahan Aditif Tanah Kering/Tandus Untuk Meningkatkan Produktifitasnya Aini, Riris Nur; Wibawa, Pratama Jujur; Nur, Muhammad; Asy'ari, Mukhammad; Wijanarka, Wijanarka
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Issue 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2024.23626

Abstract

Karbon aktif adalah salah satu material karbon yang sangat berpori dengan strukur material amorf yang dapat diproduksi dari berbagai jenis biomasa melalui proses pirolisis. Sifat dasar yang paling menonjol dari karbon aktif adalah kemampuannya mengadsorpsi atau menjerap berbagai jenis adsorptif dalam fasa gas maupun cair. Sifat adsorpsi karbon aktif yang besar dan unggul dibanding bahan berpori lainnya dapat dimanfaatkan untuk menyimpan molekul-molekul air relatif lebih lama sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke lingkungan sekitarnya melalui mekanisme pelepasan lambat mandiri (self-slow release mechanism). Jika disekitarnya itu adalah partikel-partikel tana kering/tandus maka molekul-molekul air ini akan dapat melembabkan permukaan tanah kering/tandus sehingga menjadi lebih produktif. Maksud dari penelitian ini ingin memastikan seberapa mampu partikel-partikel karbon aktif dapat meningkatkan produktifitas tanah kering/tandus bagi tanaman jagung. Dalam penelitian ini karbon aktif nanopartikel berukuran sekitar 200 ± 10-3 nm berhasil dibuat melalui proses agitasi ultrasonik (40 kHz, 2´50 watt) pada suhu 50oC selama 30 menit dan aktifasi termal pada suhu 400°C selama 1 jam. Analisis luas permukaan pori, volum pori, dan diameter pori karbon aktif yang dilakukan menggunakan metoda adsorpsi-desorpsi gas nitrogen, diketahui secara berurutan sebesar 178,844 m2g-1, 0,046 cm3g-1, dan 18,060 Å. Sementara itu, kemampuan menjerap pupuk urea partikel karbon aktif tersebut mencapai maksimum setelah 80 menit. Diketahui pula, adisi karbon aktif pada tanah kering/tandus dapat meningkatkan tingkat produktifitasnya sebesar 90% untuk tanaman jagung. Dapat disimpulkan bahwa karbon aktif nanopartikel berpotensi dapat digunakan sebagai bahan aditif tanah kering/tandus untuk meningkatkan produktifitasnya secara signifikan.
Sintesis Lempung Terpilar TiO2 dan Uji Kemampuan Penyisihan Zat Organik Terlarut Pada Air Lindi TPA Kampus Undip Tembalang Suhartana, Suhartana; Janitra, Atikah Ayu; Azmiyawati, Choiril; Sriatun, Sriatun
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No 2(2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2024.25392

Abstract

Pembuatan lempung terpilar TiO2 dan uji kemampuan adsorpsi dan fotokatalitik pada penghilangan senyawa organik terlarut telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah membuat lempung yang diaktivasi asam dan  terpilar TiO2 serta uji performa adsorpsi-fotokatalitik pada penghilanagn senyawa organik terlarut pada air lindi dari tempat pembuangan akhir (TPA) kampus UNDIP Tembalang. Sintesis lempung terpilar TiO2 dilakukan melalui aktivasi lempung dan pilarisasi lempung. Proses aktivasi lempung menggunakan H2SO4 pada sistem refluks, kemudian dilakukan pilarisasi dengan penambahan agen pemilar lalu dikalsinasi. Lempung alam, teraktivasi, dan terpilar TiO2 dikarakterisasi menggunakan FTIR dan XRD, masing – masing untuk menentukan gugus fungsi dan mengetahui basal spacing dari ketiga lempung tersebut. Kemampuan penyisihan lempung terhadap zat organik terlarut  diukur dari konsentrasi  zat organik terlarut  sisa dalam filtrat menggunakan parameter COD, BOD, TSS, pH dan TSSHasil yang diperoleh pada penelitian ini menujukan bahwa aktivasi dan pilarisasi lempung dapat menyebabkan penurunan rasio gugus fungsi SiOH/SiOTi dan peningkatan basal spacing. Perubahan terbesar terjadi pada lempung terpilar TiO2 variasi 3 terhadap lempung alam, yakni rasio SiOH/SiOTi menurun dari 0,6773 menjadi 0,5735 dan basal spacing meningkat dari 19.1868 Å pada 2θ = 4.6º menjadi 29.1673 Å pada 2θ = 3.03º. Kemampuan optimal pada penyisihan senyawa organik terlarut yang berasal dari tempat pembuangan akhir (TPA) kampus UNDIP Tembalang  terjadi pada waktu kontak 45 menit dengan randemen 70,15 (pada lempung sebelum terpilar) – 89,8% (pada lempung sedudah terpilar TiO2). 
Koloid Karbon Aktif untuk Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Minyak Atsiri Bunga Lavender sebagai Material Terapiaroma: Studi Tekanan Uap, Kinetika, dan Termodinamika Adsorpsi Rosyadah, Jihan; Wibawa, Pratama Jujur; Fachriyah, Enny
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2025.27565

Abstract

Minyak atsiri bunga lavender  merupakan salah satu bahan penting terapi aroma, pengharum ruangan, dan bahan prekursor obat. Untuk meningkatkan efisiensi daya gunanya, perlu diberi tambahan bahan penjerap/adsorben yang unggul, yakni karbon aktif mikro-partikel. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio volum (v/v) optimal campuran minyak atsiri-koloid karbon aktif yang memberikan efisiensi adsorpsi tertinggi, menentukan model kinetika, dan besaran-besarn termodinamikanya. Untuk itu, penelitian dilakukan dengan membuat variasi perbandingan volume campuran minyak atsiri-koloid karbon aktif adalah 1:1, 1:2, 2:1, 1:3 dan 3:1; variasi suhu termodinamika dan tekanan uap adalah 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, dan 39oC; variasi suhu adsorpsi adalah 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, dan 15 oC; variasi waktu studi kinetika adalah setiap interval waktu 15 menit sampai didapat hasil konstan; dan variasi waktu laju penguapan adalah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 20 hari. Analisis gugus fungsi dilakukan menggunakan spektroskopi Fourier-transformed infrared (FTIR). Hasilnya, campuran minyak atsiri-koloid karbon aktif 2:1 v/v merupakan kondisi optimal yang dapat meningkatkan efisiensi kegunaan minyak atsiri hingga 500 % atau 5 kali lebih efisien. Proses adsorpsi berlangsung melalui kinetika orde dua semu (pseudo order dua), secara eksotermis dan bersifat fisisorpsi dengan nilai DH, DG, dan DS secara berurutan sebesar -1,805 kJ mol-1, 6,15´10-3 kJ mol-1, dan -3,63 kJ mol-1. 
Pengaruh High Energy Milling (HEM) pada Ukuran Partikel dan Kristalinitas Zeolit Alam untuk Adsorpsi Ion Cu(II) dan Ca(II) Pardoyo, Pardoyo; Suhartana, Suhartana; Haikel, Haikel; Wibawa, Pratama Jujur
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No 2(2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2024.22724

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh High Energy Milling (HEM) pada ukuran partikel dan kristalinitas zeolit alam untuk adsorpsi ion Cu(II) dan Ca(II). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh HEM pada ukuran partikel zeolit dan kristalinitas serta menentukan waktu  adsorpsi terbaik dengan zeolit alam dan zeolit alam milling. Metode penelitian dibagi menjadi tiga tahap, tahap pertama proses milling zeolit alam dengan HEM.  Tahap kedua karakterisasi zeolit dengan PSA dan XRD. Tahap ketiga adsorpsi ion  Cu(II) dan Ca(II) dengan kedua adsorben serta analisis perubahan konsentrasi dengan AAS. Hasil penelitian menunjukkan ukuran partikel zeolit alam dan zeolit alam milling berturut-turut adalah 3000 nm – 6000 nm, dan 288 nm – 540 nm. Hasil XRD menunjukkan kenaikan intensitas dan nilai 2θ dari zeolit milling terhadap zeolit alam. Perlakuan milling menyebabkan zeolit memiliki ukuran partikel lebih kecil sehingga zeolit alam milling mampu mengadsorpsi ion Cu(II) dan Ca(II) masing-masing 94,2% dan 35,69%. Perlakuan HEM mampu meningkatkan kemampuan adsorpsi Cu(II) dan Ca(II)
Pengaruh Logam Al(III) dan Cu(II) sebagai Mordan Terhadap Ketahanan Luntur Zat Warna Indigo Carmine pada Kain Katun Simanullang, Jhosua Enrico H.; Sriyanti, Sriyanti; Suhartana, Suhartana
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No 2(2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2024.25393

Abstract

Perkembangan industri batik tekstil dalam memenuhi kebutuhan sandang, industri batik tidak lepas dari pewarnaan kain. Pewarna yang umum digunakan di industri tekstil adalah pewarna sintetik karena warna yang dihasilkan lebih menarik, pengerjaan pewarnaan cepat dan zat warna sintetis mudah diperoleh. Salah satu pewarna tekstil yaitu indigo carmine yang menghasilkan warna biru tua Pada proses pewarnaan kain, zat warna tidak memungkinkan untuk berinteraksi langsung karena mudah luntur. Maka dibutuhkan suatu zat yang dapat mengikat warna dengan kain agar warna yang dihasilkan lebih tahan luntur dan merata yaitu zat mordan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh logam Al(III) dan Cu(II) sebagai mordan pada pewarnaan kain, serta membandingkan kemampuan logam Al(III) dan Cu(II) sebagai mordan terhadap zat warna indigo carmine. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah premordanting, yaitu kain lebih dahulu diberi mordan lalu dicelupkan pada zat warna. Hasil penelitian menunjukkan rasio mol terbaik berada pada 1:5. Kain katun yang tidak diberi perlakuan dengan logam mordan, diperoleh warna biru tua pada panjang gelombang maksimum 610 nm, dan dengan logam mordan Al2(SO4) diperoleh warna biru tua lebih pekat pada panjang gelombang maksimum 607 nm, dan dengan mordan CuSO4.5H2O diperoleh warna yang berbeda yaitu hijau kebiruan pada panjang gelombang maksimum 610 nm. Hasil analisis SEM-EDX mendeteksi unsur aluminium 0,40% dan unsur tembaga sebanyak 0,35%. Hasil aplikasi uji ketahanan luntur kain berdasarkan SNI, dibandingkan dengan kain yang tidak diberi perlakuan dengan logam mordan, menunjukkan bahwa dengan penggunaan logam mordan lebih baik dalam mempertahankan ikatan zat warna.