cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
+6285733562345
Journal Mail Official
jihi3s.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jl. Semarang No. 5 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-ilmu Sosial
ISSN : -     EISSN : 27970132     DOI : http://dx.doi.org/10.17977/um063
Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) is a journal focused on articles of research and community service in social sciences and humanities such as civics, laws, history, economics, sociology, geography, anthropology, politics, culture, religion, and also educational perspectives such as Citizenship Education, Geography Education, Sociology Education, Economic Education, Historical Education, Anthropological Education, Religious Education, Communication Studies for Educational Needs, Social Studies, and other relevant social sciences.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2021)" : 15 Documents clear
Transformasi televisi sebagai media belajar di tengah pandemi dalam kacamata rasional instrumental Rohmatin Alfianistiawati; Pramana Herjati Putra Dionchi; Hasna Bararah M; Joan Hesti Gita Purwasih
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.563 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p116-124

Abstract

During the Covid-19 pandemic, various areas of life experienced changes and adjustments, including in the field of education by conducting distance learning. As a form of adjustment for distance learning, the government and educators use television as a learning medium. The transformation of television as a learning medium is aimed at every level of education, one of which is at the high school level. This study aims to determine the form of television transformation in the perspective of the instrumental rational theory as well as the perspective of students on learning through television. This research was conducted using descriptive qualitative methods with data collection techniques through observation and interviews. The results obtained in the form of structured programs during learning through television as a form of instrumental rational action during distance learning as well as the perspective of students with this transformation. Pada masa pandemi Covid-19 berbagai bidang dalam kehidupan mengalami perubahan serta penyesuaian, termasuk pada bidang pendidikan dengan mengadakan pembelajaran jarak jauh. Sebagai bentuk penyesuaian pembelajaran jarak jauh tersebut pihak pemerintah serta pendidik memanfaatkan televisi sebagai media belajar. Transformasi televisi sebagai media belajar ini ditujukan pada setiap jenjang pendidikan, salah satunya pada jenjang sekolah menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk transformasi televisi dalam perspektif teori rasional instrumental tersebut serta perspektif peserta didik akan kegiatan belajar memelalui televisi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi serta wawancara. Hasil yang diperoleh berupa adanya program terstruktur selama pembelajaran melalui televisi sebagai bentuk tindakan rasional instrumental selama pembelajaran jarak jauh serta perspektif peserta didik dengan adanya transformasi tersebut.
Studi fenomenologi makna pengembangan Industri Rumah Tangga (IRT) rengginang bagi buruh perempuan di Desa Sambigede Ifan Andriado; Anis Khoirun Nisa; Dini Rahmawati Agustin; Dwi Mulyani Indrawati; Hamida Zama Rahmatillah; Elya Kurniawati
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.166 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p125-134

Abstract

Globalisasi membawa pengaruh kuat terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai industri pada masyarakat desa, salah satunya Industri Rumah Tangga (IRT) rengginang di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Dalam proses produksinya, IRT rengginang ini mempekerjakan buruh yang mayoritas perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna pengembangan Industri Rumah Tangga (IRT) rengginang bagi buruh perempuan di Desa Sambigede. Penelitian ini dikaji menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian berjumlah lima orang buruh yang ditentukan dengan cara purposive sampling dan dilanjutkan dengan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dalam penelitian ini diperoleh menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau kesimpulan. Penelitian ini dikaji menggunakan teori Fenomenologi oleh Huserl. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima makna Industri Rumah Tangga (IRT) rengginang bagi buruh perempuan, antara lain: 1) sebagai mata pencaharian utama, 2) sebagai pekerjaan sampingan, 3) sebagai sarana memperluas relasi, 4) sebagai aktivitas pengisi waktu luang, dan 5) sebagai sarana untuk meneruskan usaha keluarga.
Sinkretisme budaya dan agama: Tradisi Selamatan dan Pagelaran Wayang Pesarean Gunung Kawi Tasya Kartika Chandra; Nur Hadi
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.86 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p135-141

Abstract

One of the diversity that Indonesia has is in terms of local culture. This culture can be in the form of tangible and intangible culture. One of the intangible cultures is the tradition Selamatan by most of the Javanese Muslim community, one of which is in Wonosari Village, Malang. Selamatan is held to fulfill someone's nadzar or for the purpose of connecting humans and the god to ask for salvation in life and the next life. In addition to Selamatan, there is also a puppet tradition that is held to tell various kinds of stories according to the request of the respondent and for the purpose of ruwatan. The purpose of this study was to determine the syncretism of culture and religion in the tradition of Selamatan and wayang performances. Where syncretism can be seen in the food served, the scripts and mantras that are read, as well as the stories on the puppets that are delivered. The sample used was purposive sampling and data collection methods were observation and interviews. This study uses qualitative research methods and data processing uses Miles and Huberman's analysis. Dalam keanekaragaman yang dimiliki Indonesia salah satunya yaitu dalam hal kebudayaan lokal. Kebudayaan ini dapat berupa budaya benda dan tak benda. Salah satu budaya tak benda adalah tradisi selamatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Islam suku Jawa, salah satunya di Desa Wonosari, Malang. Selamatan ini diadakan untuk memenuhi nadzar dari seseorang atau untuk tujuan penghubung antara manusia dengan sang pencipta untuk memohon keselamatan dalam hidup dan kehidupan selanjutnya. Selain selamatan juga ada tradisi pewayangan yang digelar untuk menceritakan berbagai macam cerita sesuai permintaan penanggap dan untuk tujuan ruwatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengenai sinkretisme budaya dan agama dalam tradisi selamatan dan pagelaran wayang. Dimana sinkretisme terlihat pada makanan yang disajikan, skrip dan mantra yang dibacakan, serta cerita pada pewayangan yang dibawakan. Sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan metode pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pengolahan data menggunakan analisis Miles dan Huberman.
Toleransi antarumat beragama dan relasinya terhadap pemeliharaan kebudayaan masyarakat Desa Pancasila, Sukoreno, Umbulsari, Jember Tamarin Erningtyas; Ahmad Arif Widianto
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.738 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p142-150

Abstract

Dalam sebuah masyarakat terutama masyarakat Indonesia, kita dihadapkan dengan konsekuensi adanya beberapa konflik yang melibatkan perselisihan ras, suku, bahkan agama. Seperti sebuah desa di Jember, Kecamatan Umbulsari, yang bernama desa Sukoreno. Untuk menghindari hal tersebut toleransi diagung-agungkan untuk disosialisasikan dan diinternalisasikan di setiap anggota masyarakat baik dari tingkat sekolah sampai pada aktivitas lainnya di Desa. Adanya sebuah perayaan besar dimanfaatkan oleh berbagai pihak sebagai ajang mempererat tali persaudaraan antar warga desa. Setiap adanya event, selalu ada tangan-tangan lain yang ikut membantu dikarenakan nilai luhur yang mengakar akan sebuah rasa gotong royong khas masyarakat desa, apapun agamnya, hal ini juga yang ingin dipertahankan oleh beberapa pihak untuk memelihara desa dengan pendapukkan desa Pancasila. Tulisan ini dibuat untuk mengetahui penyebab sebuah kebudayaan bisa diselenggarakan dalam keberagaman umat dan menjadikannya faktor pendorong toleransi. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan merangkum beberapa informasi dari informan yang layak dijadiakn bahasan sesuai tema, secara purposive. Karena dengan adanya pendidikan pembiasaan local wisdom akan tetap terjaga. Bangsa Indonesia berkomiten bahwasannya negara multikultur dan multi agama ini perlu adanya komitmen yang kuat akan toleransi dan integrasi dalam pengemasannya. Kebiasaan, apresiasi, dan partisipasi masyaraat inilah yang nantinya akan membentuk kerukunan sesuai kebiasaan uri-uri budaya yang dilakukanya guna mempersatukan perbedaan akan kesadaran kognitif yang terintegrasi.
Tenaga kerja wanita (TKW) dan perubahan sosial yang disebabkannya Eka Khoirul Ana; I Nyoman Ruja; I Dewa Putu Eskasasnanda
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.741 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p151-159

Abstract

The focus of this research is to analyze 1) the characteristics of TKW; 2) reasons for the overseas mobility carried out by TKW; and 3) social changes that occur in the families of TKW. This research is located in Dawung Village, Ringinrejo District, Kediri Regency. A qualitative approach with this type of descriptive research is used to achieve the focus of this study. The results showed that the characteristics of TKW from Dawung Village were 1) productive age; 2) Low level of education, 3) Total dependable burden of more than 1 person; 4) the occupation which is mostly done is domestic servants; 5) Working in Asian countries. Income that is greater than working in the country is the main reason for TKW to travel abroad. They also want to have business capital, meet their children's educational needs, and are in debt. Social changes that occur in the families of TKW are in the form of changes in the role of family members, child care patterns, ways of communicating, and lifestyle. For further researchers, it is hoped that they can study the social changes of TKW families related to children's education. Fokus pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menganalisis 1) karakteristik TKW; 2) alasan mobilitas ke luar negeri yang dilakukan oleh TKW; dan 3) perubahan sosial yang terjadi pada keluarga TKW. Penelitian ini berlokasi di Desa Dawung Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif digunakan untuk mencapai fokus dari penelitian ini. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik TKW dari Desa Dawung yaitu 1) Berusia produktif; 2) Tingkat pendidikan yang rendah, 3) Jumlah beban tanggungan lebih dari 1 orang; 4) pekerjaan yang banyak digeluti adalah pembantu rumah tangga; 5) Bekerja di negara-negara Asia. Penghasilan yang lebih besar dibandingkan kerja di dalam negeri menjadi penyebab utama TKW melakukan mobilitar ke luar negeri. Selain itu, mereka juga ingin memiliki modal usaha, memenuhi kebutuhan pendidikan anak, serta terlilit hutang. Perubahan sosial yang terjadi pada keluarga TKW yaitu berupa perubahan peran anggota keluarga, pola pengasuhan anak, cara berkomunikasi, dan gaya hidup. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengkaji mengenai perubahan sosial keluarga TKW terkait dengan pendidikan anak.
Pembinaan karakter nasionalisme melalui pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan pra pembelajaran di SMPN 2 Megaluh Kabupaten Jombang Meylina Tria Ambarwati; Yuniastuti Yuniastuti; Desinta Dwi Rapita
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.47 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p160-172

Abstract

This study is based on the eroding sense of nationalism that is increasingly fading among the younger generation that makes the planting of nationalism values in the world of education is now beginning to be improved. This study aims to know the development of nationalism character, supporting factors, obstacles experienced, and how to overcome the obstacles experienced in the application of nationalism character building through habituation singing the pre-learning national anthem. This study uses qualitative approach with descriptive research type. The data sources used in this study are primary and secondary data sources. The data collection techniques in this study used non-participant observations, interviews, and documentation. Data analysis in this study was conducted by data collection. reduction of data, presentation of data, and withdrawal of conclusions. The implementation of singing the national anthem of Indonesia Raya to foster the character of nationalism in students at SMP Negeri 2 Megaluh is in accordance with Permendikbud No.21 Year 2015 on the Rules of The First Day of School Admission. The supporting factor in the development of nationalism character through habituation to sing the pre-learning national anthem at SMP Negeri 2 Megaluh is the existence of adequate facilities. The obstacles owned by SMP Negeri 2 Megaluh in carrying out the policy of singing the national anthem of Indonesia Raya to foster the character of nationalism in students are the lack of seriousness of students, speakers that do not function properly, and the lack of strict sanctions. The efforts that will be made in overcoming the obstacles of fostering the character of nationalism through habituation to sing the pre-learning national anthem at SMP Negeri 2 Megaluh are to reward, buy some new speakers, and give a reprimand to teachers who are less assertive. Kajian ini didasarkan atas terkikisnya rasa nasionalisme yang semakin lama semakin memudar dikalangan generasi muda yang membuat penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam dunia pendidikan sekarang ini mulai ditingkatkan. Pendidikan karakter nasionalisme menjadi langkah efektif untuk membangun rasa semangat nasionalisme para generasi muda. Kajian ini bertujuan mengetahui pembinaan karakter nasionalisme, faktor pendukung, kendala yang dialami, dan cara mengatasi kendala yang dialami dalam penerapan pembinaan karakter nasionalisme melalui pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan pra pembelajaran. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam kajian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data pada kajian ini menggunakan observasi non partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dalam kajian ini dilakukan dengan pengumpulan data. reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pelaksanaan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk menumbuhkan karakter nasionalisme dalam diri peserta didik di SMP Negeri 2 Megaluh sudah sesuai dengan Permendikbud No.21 Tahun 2015 tentang Aturan Hari Pertama Masuk Sekolah. Faktor pendukung dalam pembinaan karakter nasionalisme melalui pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan pra pembelajaran di SMP Negeri 2 Megaluh adalah dengan adanya fasilitas yang sudah memadai. Kendala yang dimiliki oleh SMP Negeri 2 Megaluh dalam melaksanakan kebijakan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk menumbuhkan karakter nasionalisme dalam diri peserta didik adalah kurangnya kesungguhan siswa, speaker yang tidak berfungsi dengan baik, dan kurangnya sanksi tegas. Upaya yang akan dilakukan dalam mengatasi kendala pembinaan karakter nasionalisme melalui pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan pra pembelajaran di SMP Negeri 2 Megaluh adalah memberikan reward, membeli beberapa speaker baru, dan memberikan teguran kepada guru yang kurang tegas.
Konstruksi sosial: Aktivitas belajar siswa SMP Negeri 10 Malang korban school bullying pada kelas VII Nelly Isroy Camelya; I Nyoman Ruja; Sukamto Sukamto; I Dewa Putu Eskasasnanda
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.77 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p173-181

Abstract

This study aims to describe the characteristics of students victims of school bullying grade VII, (2) forms of school bullying, (3) social construction causes school bullying, (4) learning activities of students victims of school bullying, (5) social construction of teachers in providing social intervention and construction to school bullying. The research was conducted at SMP Negeri 10 Malang using qualitative approach with case study type research. The results showed that: first, victims of bullying in grade VII are different from students in general both physically and academically, victims of bullying have hurt their feelings and do not have many friends. Second, this form of bullying consists of physical, verbal, mental/psychological and electronic. Third, acts of bullying cannot be released from social construction because perpetrators, spectators and teachers justify bullying occurring because of the victim's fault. Fourth, bullying can make victims have learning difficulties. Fifth, the intervention taken by the teacher is to provide material about bullying, make the classroom atmosphere comfortable and make a picture about the prohibition of bully. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai: (1) karakteristik siswa korban school bullying kelas VII, (2) bentuk-bentuk school bullying, (3) konstruksi sosial penyebab school bullying, (4) aktivitas belajar siswa korban school bullying, (5) konstruksi sosial guru dalam memberikan intervensi dan konstruksi sosial terhadap school bullying. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 10 Malang dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, korban bullying di kelas VII berbeda dengan siswa pada umumnya baik secara fisik maupun akademik, korban bullying pernah menyakiti perasaan temannya dan tidak memiliki teman yang banyak. Kedua, bentuk bullying terdiri dari fisik, verbal, mental/psikologis dan elektronik. Ketiga, tindakan bullying tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial karena pelaku, penonton dan guru membenarkan bullying terjadi karena kesalahan korban. Keempat, bullying dapat membuat korban mengalami kesulitan belajar. Kelima, tindakan intervensi yang dilakukan guru adalah memberikan materi mengenai bullying, membuat suasana kelas nyaman dan membuat gambar tentang larangan mem-bully.
Menumbuhkan nasionalisme di kalangan remaja kelompok seni musik Patrol Perkusi Bendho Agung di Desa Gadungsari Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang Dini Dwi Dista Ramadina; Rosyid Al Atok; Didik Sukriono
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.768 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p182-193

Abstract

This study aims to describe how to grow an attitude of nationalism, the appearance of nationalism, obstacles in developing nationalism, and those efforts are made to overcome obstacles to developing nationalism among youths Bendho Agung Percussion Patrol Music Art Group. This study uses a qualitative approach with descriptive research type. Data collection was carried out by means of observation, interviews, and documentation study. Data analysis using interactive analysis. Checking the validity of the data using triangulation techniques. how to grow an attitude of nationalism among adolescents with doing various activities includes of dancing traditional dances and playing traditional percussion patrol instruments such as kenong, saron, tambourine, drums, plastic drum, iron drum, gong and all members should to memorize the national song and folk songs. The appearance of nationalism is that the members t-shirts have nuances or patterns of batik and it doesn’t have feeling inferior or inferiority when playing traditional musical instruments and dancing traditional dances. The develeoping nationalism among youths is also inseparable from the obstacles when realizing nationalism among youths Bendho Agung Percussion Patrol Music Art Group, these obstacles are the include the time clashes between school time and the time of the event and the lack of dance costumes of Bendho Agung Percussion Patrol Music Art Group. In overcoming these obstacles the Bendho Agung Percussion Patrol Music Art Group makes efforts to overcome them by giving permission to schools and borrow or rent dance costumes in an art studio Turen. Kajian ini bertujuan mendiskripsikan cara menumbuhkan nasionalisme, bentuk perwujudan nasionalisme, kendala yang dihadapi dalam menerapkan nasionalisme, dan solusi dalam menghadapi kendala penerapan nasionalisme di kalangan remaja Kelompok Seni Musik Patrol Perkusi Bendho Agung. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Cara menumbuhkan sikap nasionalisme di kalangan remaja diantaranya melalui kegiatan menari tari tradisional, bermain alat musik tradisional patrol perkusi seperti kenong, dig dug, saron, rebana, kendang, drum plastik, drum besi, gong dan mewajibkan seluruh anggota untuk hafal lagu nasional dan lagu-lagu daerah. Bentuk perwujudan nasionalisme diantaranya kaos anggota ada nuansa atau corak batik dan tidak ada rasa minder atau rendah diri ketika bermain alat musik tradisional dan menari tarian tradisional. Dalam menumbuhkan nasionalisme di kalangan remaja tidak lepas dari kendala-kendala yang muncul saat mewujudkan nasionalme di kalangan renaja Kelompok Seni Musik Patrol Perkusi Bendho Agung, kendala tersebut yaitu waktu yang bentrok antara waktu sekolah dengan waktu event dan kurangnya kostum tari yang dimiliki Kelompok Seni Musik Patrol Perkusi Bendho Agung. Dalam mengatasi kendala-kendala tersebut, Kelompok Seni Musik Patrol Perkusi Bendho Agung melakukan upaya-upaya dalam mengatasinya dengan cara memberian surat izin ke sekolah dan meminjam atau menyewa kostum tari di sanggar seni Turen.
Analisis teori kritis Jurgen Habermas: Agama dan kehidupan modern mahasiswa ibu kota Jakarta Adinda Novalia R Putri; Luhung Achmad Perguna
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.717 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p194-203

Abstract

Ibu Kota Indonesia, Jakarta, menjadi tempat strategis bagi arus globalisasi untuk membuka keran selebar-lebarnya. Globalisasi yang menjadikan budaya barat sebagai acuan gaya hidup ini kemudian melahirkan modernisasi. Modernisasi merupakan sebuah wujud transformasi kondisi yang sebelumnya kurang maju, menjadi berkembang ke sebuah kemajuan yang lebih baik. Segala pusat kehidupan cenderung didominasi pada kota Jakarta. Modernisasi yang terus memaparkan pengaruhnya ini kemudian memberi dampak kepada masyarakatnya juga, seperti berkembangnya paham hedonisme dan individualisme yang bertentanngan dengan ajaran agama. Agama sendiri merupakan sarana media penghubung antara manusia dan Tuhan. Kehidupan modern yang dijalani oleh mahasiswa di Jakarta ini mau tidak mau akan berdampak kepada cara atau pemahaman seseorang pada suatu hal termasuk agama. Setiap orang memiliki perspektif tersendiri akan suatu hal. Cara pandang mahasiswa dalam memandang partik agamanya pun sangat bervariasi dan memiliki latar belakangnya sendiri. Dalam penelitian ini banyak ditemukan jawaban dan temuan unik mengenai agama di dalam kehidupan mahasiswa Jakarta ini, serta pendapatnya mengenai agama di tengah-tengah kehidupan modern.
Tokoh agama dalam penyebaran hoax di whatsapp group (ditinjau dengan teori dominasi Max Weber) Atma Mubarok; Ahmad Arif Widianto
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.142 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p204-213

Abstract

Saat ini, media sosial semakin masif penggunaanya di dunia atau bahkan di Indonesia. Sayangnya, peningkatan penggunaan internet dan media sosial juga diiringi dengan kenaikan penyebaran hoax di media sosial. Salah satu media sosial yang paling sering dijadikan penyebaran informasi hoax adalah WhatsApp group. Sehingga setiap pengguna dapat langsung mengirimkan pesan yang diterima tanpa melakukan crosschek terlebih dahulu. Lebih parah, tokoh agama ikut menjadi penyumbang kenaikan angka penyebaran informasi hoax. Seorang tokoh agama layaknya pemimpin bagi umatnya, sehingga apapun yang dilakukan oleh pemimpinnya, sedikit banyak akan mempengaruhi masyarakat yang ada. Dalam masyarakat desa, seorang tokoh agama dianggap suci dan sangat dihormati termasuk semua anggota keluarganya. Max Weber menjelaskan beberapa konsep mengenai kepemimpinan yang diuraikan dalam teori dominasi. Diantaranya adalah kepemimpinan tradisional dan karismatik yang kerap dijumpai di masyarakat pedesaan. Tanggung jawab untuk menjadi contoh dan panutan bagi sekitar mereka, menuntut mereka untuk selalu berusaha berperilaku sesusai norma. Sayangnya, hal itu belum bisa diimbangi dengan kemampuan mencerna informasi dari media sosial.

Page 1 of 2 | Total Record : 15