cover
Contact Name
Ratna Kumalasari
Contact Email
medicinus@dexagroup.com
Phone
+6287808191388
Journal Mail Official
medicinus@dexagroup.com
Editorial Address
Gedung Titan Center 5th Floor, Jl. Boulevard Bintaro B7/B1 No. 5, Bintaro Jaya Sektor 7, Pokdok Aren, Tangerang Selatan 15224
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MEDICINUS
Published by PT Dexa Medica
ISSN : 1979391X     EISSN : 29638399     DOI : 10.56951
Core Subject : Health, Science,
Tujuan penerbitan jurnal Medicinus adalah untuk meningkatkan wawasan dan menambah khasanah pengetahuan para praktisi medis dan farmasis di bidang kedokteran dan kefarmasian. Ruang lingkup dari jurnal ilmiah ini adalah publikasi artikel-artikel ilmiah yang bisa disajikan dalam bentuk penelitian (research), laporan kasus (case report), teknologi dan klinis kefarmasian, serta ulasan literatur medis.
Articles 179 Documents
Laporan Kasus: Dapsone Hypersensitivity Syndrome Ayu Amalia; Hanny Tanasal
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/aked7b89

Abstract

Dapsone adalah suatu antibiotik yang bersifat bakteriostatik dan antiinflamasi yang digunakan secara luas untuk menangani kasus infeksi. Dapsone paling sering digunakandalam terapi penyakit Morbus Hansen, namun dilaporkan memiliki potensi efek samping serius yang dikenal dengan dapsone hypersensitivity syndrome (DHS), Kerusakan kulit berupa erosi dengan pustula, plak, dan papula eritematosa, Stevens-Johnson syndrome (SJS), serta toxic epidermal necrolysis (TEN) dapat menjadi manifestasi dari DHS. Selain itu, komplikasi serius akibat kerusakan organ yang berpotensi mengancam jiwa juga dapat terjadi. Tulisan ini melaporkan sebuah kasus anak laki-laki berusia 12 tahun dengan keluhan luka-luka pada sekujur tubuh terutama wajah, disertai rasa gatal dan panas, setelah mengonsumsi 6 tablet dapsone. Lesi kulit berupa erosimultipel dan ekskoriasi disertai krusta dan skuama. Lesi dilaporkan berangsur membaik dengan pemberian corticosteroid dan antihistamin oral, ditambah dengan antibiotik dan corticosteroid topikal selama 2 minggu. 
Laporan Kasus Kusta Pausibasiler Tipe Tuberkuloid dengan Lesi Wajah Menyerupai Facial Palsy Unilateral Annisa Fildza Hashfi
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/m7a02537

Abstract

Latar belakang: Kusta merupakan penyakit infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi. Lebih dari 80% total kasus kusta di dunia terjadi di Indonesia. Kusta dapat menyebabkan disabilitas fisik yang memengaruhi kehidupan sosial serta pekerjaan penderitanya, terlebih dengan masih tingginya stigma terhadap penyakit ini. Diagnosis kusta didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan kulit dan saraf, pemeriksaan slit skin smear, serta pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan serologis saat ini sering digunakan apabila hasil pemeriksaan slit skin smear negatif dan pemeriksaan histopatologi mengalami keterbatasan. Kasus: Seorang laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan utama bercak kemerahan di pipi kanan sejak 4 bulan yang lalu. Bercak dirasa tidak gatal, tidak nyeri, dan terasa agak kebas. Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh tidak dapat memejamkan mata kanannya dengan sempurna. Dari hasil pemeriksaan dermatologis didapatkan tampak plak eritem soliter berukuran 7,5 x 7,5 x 0,1 cm, berbatas tegas, bagian tepi meninggi, dan bagian tengah mengalami atrofi disertai skuama tipis di atasnya. Pemeriksaan inspeksi tampak kesan wajah kanan dan kiri asimetris. Pemeriksaan BTA negatif dan hasil biopsi mendukung diagnosis kusta tipe tuberkuloid. Pemeriksaan serologi menunjukkan hasil ELISA anti-PGL-1 IgM 903 µ/ml dan IgG 240 µ/ml. Diskusi: Adanya temuan klinis berupa lesi tunggal yang terasa kebas di pipi kanan serta lagoftalmus merupakan tanda kardinal pada kusta. Hasil pemeriksaan slit skin smear negatif serta gambaran histopatologi mendukung diagnosis kusta pausibasiler (PB) tipe tuberkuloid (TT). Diagnosis kusta diperkuat dengan hasil seropositif IgM anti-PGL-1 pada pemeriksaan serologis.
Pengembangan Nanoselulosa Bakteri yang Mengandung Ekstrak Propolis Sebagai Pembalut Luka Bakar Calista Tantya Hadiwarsito; Safira Prisya Dewi; Heni Rachmawati
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/cnnqkm69

Abstract

Nanoselulosa bakteri (bacterial nanocellulose/BNC) adalah bahan yang menjanjikan untuk penyembuhan luka bakar. Keunggulan BNC antara lain bersifat biokompatibel, biodegradable, serta memiliki tingkat kemurnian selulosa yang tinggi. Karakteristik BNC memenuhi mayoritas sifat pembalut luka yang optimal sehingga hanya memerlukan sedikit modifikasi untuk mencapai titik optimal. Modifikasi utama yang diperlukan BNC adalah penambahan aktivitas antimikroba. Ekstrak propolis nonetanolik (PgEP) digunakan sebagai agen antimikroba karena berpotensi membantu proses penyembuhan luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mendemonstrasikan aktivitas antimikroba serta hasil penyembuhan luka bakar secara in vivo menggunakan BNC yang mengandung PgEP (BNC-P). Menggunakan air kelapa sebagai substitusi sumber karbon, dihasilkan rendemen BNC sebesar 161,54±35,92 g/l yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan media standar (p=0,025). BNC-P memiliki efisiensi penjerapan sebesar 52,91±1,16% dan drug load berbanding lurus dengan konsentrasi PgEP. Terkait aktivitas antimikroba, BNC-P pada tiga tingkat konsentrasi (1, 3, dan 5%) menunjukkan diameter hambat berturut-turut sebesar 7,7±0,31; 12,22±0,99; dan 13,68±1,58 mm. Pada demonstrasi penyembuhan luka bakar in vivo, BNC-P dengan konsentrasi 1% (BNC-P1) memiliki aktivitas penyembuhan luka paling tinggi.
Terapi Terkini Pityriasis Rosea Riyanti Astrid Diahtantri; Aida SD Hoemardani; Yudo Irawan
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/72h6tw89

Abstract

Pityriasis rosea (PR) merupakan erupsi kulit papuloskuamosa akut. Penyebab PR belum diketahui secara pasti, namun diduga akibat gangguan imunitas seluler atau infeksi HHV-6 dan HHV-7. Umumnya kondisi ini bersifat self-limiting disease dan akan mengalami pemulihan spontan dalam waktu beberapa minggu hingga bulan dengan pengobatan simtomatik topikal maupun sistemik. Penyakit ini relatif jarang mengalami kekambuhan. Dari keseluruhan kasus PR, terdapat beberapa kasus yang memerlukan terapi tambahan, seperti pada kasus lesi yang luas, pruritus berat, dan pasien yang dalam masa kehamilan. Tata laksana PR terbagi ke dalam tiga lini. Tata laksana lini pertama terdiri dari pemberian corticosteroid topikal, emolien, dan antihistamin oral. Lini kedua yaitu fototerapi narrow-band ultraviolet B (NBUVB) dan fototerapi ultraviolet A1 (UVA1). Kemudian lini ketiga terdiri dari terapi prednisone oral, erythromycin, acyclovir, dan dapsone.
The Use of Predimenol After Simple Pain Intervention in High-Risk Patients: A Case Series Rizaldy Taslim Pinzon; Aditya Aristo Marvel Nugroho
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/4fb0jj22

Abstract

Effective pain management is a common challenge in clinical practice, whether it involves prescription medications or over-the-counter (OTC) nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). The use of NSAIDs has been linked to various risks, including cardiovascular (CV), kidney, and gastrointestinal (GI) complications. Certain group of patients face a higher likelihood of these risks. NSAIDs consumptions have been shown to cause a modest, but steady increase in the chance of experiencing CV events and developing kidney problems. In this case series, we reported a series of inflammatory pain cases. Following simple pain intervention, we administered paracetamol and Predimenol over a 10 day period. The use of Predimenol was proven to be effective in alleviating pain without causing any notable adverse effects. 
Laporan Kasus Blok Atrioventrikular Total pada Pasien Usia Lanjut dengan NSTEMI Dewi Anggini
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/mzj2t722

Abstract

Pendahuluan: Blok AV derajat tiga atau blok AV total menunjukkan hilangnya hubungan antara atrium dan ventrikel secara total yang dapat disebabkan oleh fibrosis idiopatik, sklerosis sistem konduksi, penyakit jantung iskemik, obatobatan, peningkatan tonus vagal, valvulopati, kelainan jantung bawaan, genetik, atau kelainan lainnya. Blok AV total dapat berubah menjadi irama ventrikular yang tidak stabil seperti takikardia ventrikel atau fibrilasi ventrikel yang dapat berakibat fatal sehingga memerlukan pemasangan alat pacu jantung (pacemaker). Kasus: Seorang laki-laki usia 73 tahun datang ke IGD dengan keluhan utama pingsan sebanyak dua kali dalam sehari, pusing, mual, nyeri dada sebelah kiri sampai ke punggung, dan rasa berat saat menarik napas. Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dan kebiasaan merokok. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, laboratorium, EKG, CXR, dan echocardiography, pasien didiagnosis dengan blok AV total dengan non-ST-elevation myocardial infarction (NSTEMI), hipertensi derajat I, serta hipokalemia ringan. Pasien menjalani pemasangan alat pacu jantung permanen (permanent pacemaker/PPM) untuk tata laksana blok AV total. Kesimpulan: Penyebab terjadinya blok AV total pada pasien ini di antaranya NSTEMI yang baru saja dialami, serta proses fibrosis idiopatik akibat proses penuaan dan hipertensi kronis. Pada pasien dilakukan pemasangan PPM sesuai indikasinya yaitu blok AV total yang bergejala dan infark miokardium.
Modalitas Terapi Veruka Vulgaris Dita Eka Novriana; Nurrachmat Mulianto
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/26szjs56

Abstract

Veruka vulgaris adalah lesi jinak akibat infeksi human papillomavirus (HPV) dengan lesi berupa papul verukosa dengan permukaan keratotik. Beberapa modalitas terapi dapat diberikan pada veruka vulgaris, antara lain berupa terapi destruktif, terapi antivirus, imunoterapi, dan pembedahan, dengan hasil yang bervariasi. Veruka vulgaris memiliki risiko kekambuhan yang cukup tinggi karena terdapat kemungkinan adanya sisa partikel HPV pascaterapi.
Farmasi Cerdas: Era Baru Penemuan Obat dengan AI dan Big Data Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/rhvmjy22

Abstract

Proses penemuan obat telah memasuki era baru dengan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan big data. Pendekatan tradisional, panjang, dan mahal kini dilengkapi dengan alternatif yang efisien berkat kemampuan AI untuk menganalisis pola yang kompleks dan kemampuan big data untuk mengintegrasikan kumpulan data berskala besar. Artikel ini membahas peran teknologi tersebut dalam mempercepat inovasi farmasi, mengulas aplikasi praktis, dan menyoroti tantangan serta prospek masa depan. Dengan AI dan big data, industri farmasi dapat memajukan pengobatan presisi dan memperdalam pemahaman kita tentang biologi penyakit.
Kemerdekaan Nasional dalam Genggaman Industri Farmasi Mandiri Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/e2zq6d98

Abstract

Kemerdekaan negara dalam konteks sektor farmasi merupakan pilar penting yang mendukung kemandirian, ketahanan, dan kesejahteraan nasional. Di era globalisasi dan ketidakpastian ini, memiliki industri farmasi yang mandiri dan kuat adalah suatu keharusan bagi setiap negara yang ingin memastikan keamanan kesehatan, stabilitas ekonomi, dan pengaruh geopolitiknya. Kemerdekaan ini tidak hanya berarti kemampuan untuk memproduksi obat-obatan dalam negeri, tetapi juga mencakup berbagai aspek yang lebih luas seperti ketahanan kesehatan, pengembangan ekonomi, inovasi teknologi,kemandirian politik, keamanan nasional, peningkatan kualitas hidup, serta kolaborasi internasional.
Perspektif Baru dalam Manajemen Nyeri: Pendekatan Multidisiplin Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 1 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/s5zcnd64

Abstract

Nyeri merupakan pengalaman yang kompleks dan memiliki banyak sisi, tetap menjadi salah satu tantangan paling signifikan dalam dunia kedokteran. Karena sifatnya yang subjektif, terkait dengan dimensi fisik, emosional, dan psikologis, menjadikan nyeri sebagai kondisi yang relatif sulit untuk diobati secara efektif. Namun, kemajuan terkini dalam penelitian dan teknologi telah mengubah pemahaman kita tentang nyeri dan membuka jalan baru untuk penanganannya. Dari penemuan farmakologis hingga terapi psikologis yang inovatif, pendekatan multidisiplin membuka jalan bagi strategi yang lebih efektif, individual, dan holistik untuk meredakan nyeri. Salah satu perkembangan paling menarik dalam manajemen nyeri berasal dari penemuan inhibitor monoacylglycerol lipase (MAGL). Para peneliti dari Weill Cornell Medicine dan Temple University telah menunjukkan bahwa inhibitor ini dapat memblokir sifat adiktif opioid dengan tetap mempertahankan kemampuan penghilang rasa sakitnya yang kuat. Dengan meningkatkan kadar endocannabinoid alami otak, 2-arachidonoylglycerol (2-AG), inhibitor ini mengurangi pelepasan dopamine yang berperan dalam proses terjadinya adiksi. Mekanisme ini menawarkan alternatif yang menjanjikan untuk penatalaksanaan nyeri kronis tanpa risiko kecanduan yang menghancurkan, menandakan potensi pergeseran paradigma dalam farmakoterapi nyeri.

Page 11 of 18 | Total Record : 179