cover
Contact Name
Ratna Kumalasari
Contact Email
medicinus@dexagroup.com
Phone
+6287808191388
Journal Mail Official
medicinus@dexagroup.com
Editorial Address
Gedung Titan Center 5th Floor, Jl. Boulevard Bintaro B7/B1 No. 5, Bintaro Jaya Sektor 7, Pokdok Aren, Tangerang Selatan 15224
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MEDICINUS
Published by PT Dexa Medica
ISSN : 1979391X     EISSN : 29638399     DOI : 10.56951
Core Subject : Health, Science,
Tujuan penerbitan jurnal Medicinus adalah untuk meningkatkan wawasan dan menambah khasanah pengetahuan para praktisi medis dan farmasis di bidang kedokteran dan kefarmasian. Ruang lingkup dari jurnal ilmiah ini adalah publikasi artikel-artikel ilmiah yang bisa disajikan dalam bentuk penelitian (research), laporan kasus (case report), teknologi dan klinis kefarmasian, serta ulasan literatur medis.
Articles 179 Documents
Inovasi Terbaru dalam Pengobatan Diabetes: Suatu Perspektif Perpaduan Pendekatan Molekuler dan Sistemik Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/h5kqns72

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah salah satu tantangan utama di dunia kesehatan secara global. Penyakit ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat resistansi insulin, disfungsi sel beta pankreas, maupun kombinasi keduanya. Dalam beberapa dekade terakhir, terapi diabetes telah mengalami perkembangan pesat yang mencakup pendekatan molekuler, bioteknologi, dan sistemik.  Perkembangan ini tidak hanya menjanjikan peningkatan kualitas hidup pasien, tetapi juga merevolusi paradigma pengobatan yang sebelumnya dianggap statis. Dalam konteks terapi insulin, inovasi signifikan lainnya adalah pengembangan formulasi gabungan IDegAsp, yang mengintegrasikan insulin degludec basal dan insulin aspart. Formulasi ini dirancang untuk menyederhanakan regimen terapi dengan satu suntikan harian, sekaligus memastikan fleksibilitas dalam pemberian dosis. Studi klinis menunjukkanbahwa IDegAsp tidak hanya meningkatkan kepatuhan pasien, tetapi juga mengurangi risiko hipoglikemia berat dibandingkan formulasi insulin konvensional. Dampaknya terhadap penurunan variabilitas glukosa harian menambah keunggulan klinisnya. Kemajuan teknologi dalam dunia medis turut mendukung keberhasilan pengelolaan diabetes melalui closed-loop system, yang mengombinasikan pompa insulin dengan monitor glukosa kontinu. Sistem ini secaraotomatis menyesuaikan pemberian insulin berdasarkan tingkat glukosa darah secara real-time. Teknologi yang sering disebut sebagai “pankreas buatan” ini memberikan kontrol glikemik yang lebih stabil dibandingkan metode tradisional, serta meningkatkan kualitas hidup pasien
The Benefit of DLBS3233 as Add-on Therapy for Symptomatic Painful Diabetic Neuropathy: Case Series Rizaldy Taslim Pinzon; Abraham Al Jody; Nicholas Adriel Pinzon
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/rhjkcb40

Abstract

Symmetrical painful diabetic neuropathy (PDN) is a highly prevalent form of diabetic peripheral neuropathy with significant morbidity. Despite its high prevalence, the optimal treatment of this condition remains a clinical challenge. There was an emergence need for add-on therapy that more focused on the dimensions of inflammation and toxic oxidative stress.Previous evidences from placebo-controlled studies have shown that opioids, antiepileptic, and antidepressant drugs are effective for alleviating PDN symptoms. In many cases, safety issues regarding potential side effects of those drugs limit the optimal use of the medications. We report case series of painful diabetic neuropathy in type 2 diabetic patients. DLBS3233 was given as add-on therapy to standard oral antidiabetic medication or insulin and adjuvant analgesics for all patients. After 3 months follow up, there was modest pain reduction and improvement in blood glucose control in allpatients. DLBS3233 was well tolerated in all patients. 
Infeksi Tuberkulosis Ekstra Paru tanpa TB Paru Primer pada Pasien Imunokompeten: Sebuah Laporan Kasus Ferrdy Pratama Wijaya; Christian Permana; Anissa Dian Harlivasari; Giovani Anggasta
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/czm4rj14

Abstract

Pendahuluan: Penyakit tuberkulosis (TB) pada tulang belakang atau spondilitis TB merupakan salah satu manifestasi TB ekstra paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya kondisi ini diawali oleh infeksi TB paru yang menyebar secara hematogen ke organ lainnya dan sebagian besar terjadi pada individu dengan sistemimun yang lemah, serta hanya terjadi sekitar 1% dari seluruh kasus TB paru. Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 44 tahun, datang dengan keluhan nyeri punggung bawah kronis progresif. Nyeri bersifat radikuler, menjalar, dan tidak kunjung membaik dengan pemberian obat antinyeri. Tidak terdapat adanya tanda dan gejala serta riwayat terdiagnosis TB parusebelumnya. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan adanya peningkatan LED, dan hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya lesi berupa spondilitis serta multiple fracture pada vertebra lumbalis. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, diberikan tata laksana berupa operasi pemasangan stent dan debridement, serta terapi farmakologi berupa OAT untuk satu tahun dan analgesik. Terjadi perbaikan klinis dan gejala yang signifikan setelah 2 bulan terapi. Kesimpulan: Nyeri punggung bawah kronis dengan tanda red flag perlu mendapat perhatian khusus. Meskipun jarang, kasus spondilitis TB dapat terjadi tanpa adanya TB paru sebelumnya, sehingga diagnosis yang tepat dapat menentukan tata laksana yang sesuai dan menghasilkan perbaikan yang signifikan serta prognosis yang lebih baik.
Cryptogenic Organizing Pneumonia (COP) Fariz Nurwidya; Aprilia Katarina
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/4yy1sr23

Abstract

Organizing pneumonia (OP) merupakan respons cedera paru nonspesifik dengan berbagai pola pencitraan yang didapatkan melalui pemeriksaan high-resolution computed tomography (HRCT) toraks dan secara histopatologis ditemukan sel radang serta matriks jaringan ikat di saluran pernapasan bagian distal. Organizing pneumonia (OP) dengan etiologi yang tidak diketahui disebut sebagai cryptogenic organizing pneumonia (COP) dan diklasifikasikan menjadi penyakit paru interstisial akut atau subakut. Kasus COP terjadi akibat cedera alveolar dan terdapat obstruksi jaringan granulasi di lumen alveolar serta bronkiolus. Gejala klinis COP berupa demam, batuk, lemas, dan sesak napas dengan tingkat keparahan ringan hingga berat. Biopsi jaringan merupakan pemeriksaan penunjang yang penting untuk diagnosis COP. Sejauh ini, belum ada penelitian yang membandingkan terapi atau durasi pengobatan dalam kasus COP. Pasien dengan gejala progresif serta gambaran radiologis difus diberikan terapi corticosteroid oral dengan hasil yang relatif baik. Walaupun demikian, pasien COP dapat mengalami kekambuhan setelah terapi tersebut.
Memanfaatkan Kecerdasan Buatan dan Pembelajaran Mesin dalam Inovasi Farmasi Raymond R. Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/kma7ev64

Abstract

Integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (machine learning/ML) telah merevolusi industri farmasi, mengubah cara obat ditemukan, dikembangkan, diuji, dan diproduksi. Teknologi ini memungkinkan efisiensi dan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan memanfaatkan sejumlah besar data dan algoritmakomputasi canggih. Dalam penemuan obat, AI mempercepat identifikasi target terapeutik dan desain molekul baru, secara drastis mengurangi waktu menuju pemasaran. Selama pengembangan, ML membantu mengoptimalkan desain uji klinik dan stratifikasi populasi pasien untuk meningkatkan presisi dan efektivitas. Dalam uji klinik, alat berbasis AI meningkatkan rekrutmen, pemantauan, dan desain adaptif, menghasilkan studi yang lebih andal dan hemat biaya. Terakhir, AI memastikan pengendalian kualitas real-time dan pemeliharaan prediktif dalam manufaktur, meningkatkan konsistensi produk dan mengurangi biaya operasional. Makalah ini mengeksplorasi aplikasi AI/ML secara komprehensif di berbagai domain, didukung oleh studi kasus dan analisis mendalam tentang dampaknya. Selain itu, makalah ini membahas tantangan seperti kualitas data, hambatan regulasi, dan transparansi algoritma yang menghambat adopsinya secara luas. Pertimbangan etis, termasuk masalah privasi dan risiko bias dalam sistem AI juga dievaluasi. Akhirnya, makalah ini menguraikan peluang untuk kemajuan di masa depan, menekankan perlunya upaya kolaboratif antara akademisi, industri, dan badan regulasi untuk memanfaatkan potensi penuh AI/ML dalam membentuk kembali lanskap farmasi.
Menimbang Keadilan dalam Indeksasi Akademik: Mengapa Kita Tak Hanya Mengandalkan Scopus? Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 2 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/fvade672

Abstract

Dominasi Scopus dalam lanskap akademik Indonesia telah menciptakan ketergantungan signifikan terhadap standar global yang sering kali mengabaikan kebutuhan lokal. Artikel ini mengeksplorasi implikasi ketergantungan ini terhadap berbagai aspek akademik, termasuk inovasi lokal, representasi ilmu sosial dan humaniora, serta aksesibilitas akademik, khususnya bagi peneliti dari negara berkembang. Masalah utama yang diidentifikasi mencakup hambatan biaya publikasi, bias linguistik terhadap bahasa Inggris, dan ketimpangan signifikan antara disiplin STEM dan non-STEM dalam hal pendanaan serta pengakuan akademik. Untuk mengatasi tantangan ini, artikel ini mengusulkan penguatan platform pengindeksan lokal seperti Science and Technology Index (SINTA) yang dapat memprioritaskan relevansi lokal sambil tetap mempertahankan standar internasional. Selain itu, adopsi sistem evaluasi hibrida yang mengintegrasikan metrik kuantitatif dan penilaian kualitatif diharapkan dapat mendukung pengakuan penelitian yang relevan secara sosial dan kontekstual. Langkah-langkah ini diperlukan untuk menciptakan ekosistem akademik yang lebih inklusif, adil, dan sejalan dengan kebutuhan serta prioritas nasional. 
Terapi Terbaru untuk Osteoporosis: Perkembangan Intervensi Farmasi dan Terapi Penunjang Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 3 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/evzm6949

Abstract

Osteoporosis adalah penyakit metabolik tulang paling umum yang ditandai dengan penurunan massa tulang serta gangguan mikroarsitektur tulang yang menyebabkan peningkatan risiko fraktur. Penyakit ini sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang, yang umumnya terjadi pada pergelangan tangan, pinggul, serta tulang belakang. Faktor risiko utama osteoporosis meliputi usia lanjut, defisiensi hormon, malnutrisi, gaya hidup sedenter, serta penggunaan obat-obatan tertentu yang memengaruhi keseimbangan metabolisme tulang. Dengan semakin meningkatnya angka harapan hidup di berbagai negara, osteoporosis menjadi tantangan kesehatan global yang tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga pada sistem kesehatan secara keseluruhan. Seiring dengan meningkatnya pemahaman mengenai patofisiologi osteoporosis, berbagai strategi telah dikembangkan untuk mencegah dan menangani penyakit ini secara lebih efektif. Pendekatan dalam penanganan osteoporosis berfokus pada dua aspek utama, yaitu menjaga kepadatan mineral tulang serta mengurangi risiko fraktur. Intervensi didunia farmakologi telah mengalami perkembangan pesat dengan hadirnya berbagai metode baru yang bertujuan untuk menghambat proses degradasi tulang sekaligus merangsang pembentukan tulang baru. Meskipun demikian, terapi farmasi tidak dapat berdiri sendiri dan perlu dikombinasikan dengan pendekatan lain seperti perubahan gaya hidup, terapi nutrisi, serta latihan fisik yang berkelanjutan guna memperoleh hasil yang optimal.
Fraksi Bioaktif dan Inovasi Terapeutik: Jembatan Etnofarmasi dan Sains Modern Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 38 No. 3 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/dbddjf02

Abstract

Studi fraksi bioaktif telah muncul sebagai bidang transformatif dalam farmakologi modern, menekankan pemurnian dan isolasi senyawa yang dipandu bioassay dengan potensi terapeutik. Makalah ini mengeksplorasi mekanisme, metodologi, dan implikasi fraksi bioaktif dalam memajukan penemuan obat. Mengambil pengetahuan etnofarmakologi, makalah ini menyoroti integrasi kearifan tradisional dengan teknologi modern. Meskipun ada tantangan dalam standardisasi dan skalabilitas, sifat interdisipliner bidang ini menggarisbawahi potensinya untuk mengatasi tantangan kesehatan global. Arah masa depan meliputi pengoptimalan teknik ekstraksi, peningkatan bioavailabilitas, dan peningkatan praktik berkelanjutan.
The Use of Predimenol for Nonspecific, Mild-to-Moderate Headache: Case Series Rizaldy Taslim Pinzon; Andre Darmawan Wiyono
MEDICINUS Vol. 38 No. 3 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/s2zpt094

Abstract

Headache is a major healthcare concern worldwide. Adequate headache management is a widespread clinical concern, either using prescription or over-the-counter (OTC) nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). The use of NSAIDs for headache has been associated with several risk of cardiovascular (CV), renal, and gastrointestinal (GI) complications.There were certain patients are at increased risk of using these agents. The use of NSAIDs results in small but consistent increases in the risk of cardiovascular events and kidney problem. We report case series of primary headache conditions with GI comorbidities. After careful history taking, neurological examination, and imaging, we used paracetamol and Predimenol for one week. The use of Predimenol was effective in reducing headache severity without any significant side effects. 
Pencitraan untuk Diagnosis Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser: Laporan Kasus Bella Negustin; Yoki Citra Perwira; Jeffy Winarta Wahjudi; Taufik Wirayudi
MEDICINUS Vol. 38 No. 3 (2025): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/3n9j4319

Abstract

Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) adalah kelainan pada wanita yang memiliki ciri-ciri seks sekunder dan kariotipe wanita normal (46,XX), yang ditandai dengan vagina bagian atas tidak berkembang dan rahim hanya berkembang sebagian atau tidak berkembang sama sekali (aplasia uterus). Kasus ini tergolong sangat jarang terjadi, dan diagnosisdapat dilakukan dengan pemeriksaan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Kasus: Seorang wanita berusia 25 tahun dengan keluhan kesulitan berhubungan seksual melalui vagina karena penetrasi tidak sempurna dan tidak pernah menstruasi (amenore). Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya hipoplasia uterus yang mengarah pada MRKH tipe A.Selanjutnya pasien dirujuk ke rumah sakit yang mampu melakukan tindakan neovagina. Kesimpulan: MRKH merupakan penyakit yang jarang terjadi. Keluhan sulit berhubungan seksual melalui vagina dan tidak menstruasi merupakan salah satu tanda kelainan agenesis vagina. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti MRI untuk mendapatkan gambaran struktur dan anatomi saluran reproduksi beserta organ sekitarnya.