cover
Contact Name
Ratna Kumalasari
Contact Email
medicinus@dexagroup.com
Phone
+6287808191388
Journal Mail Official
medicinus@dexagroup.com
Editorial Address
Gedung Titan Center 5th Floor, Jl. Boulevard Bintaro B7/B1 No. 5, Bintaro Jaya Sektor 7, Pokdok Aren, Tangerang Selatan 15224
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MEDICINUS
Published by PT Dexa Medica
ISSN : 1979391X     EISSN : 29638399     DOI : 10.56951
Core Subject : Health, Science,
Tujuan penerbitan jurnal Medicinus adalah untuk meningkatkan wawasan dan menambah khasanah pengetahuan para praktisi medis dan farmasis di bidang kedokteran dan kefarmasian. Ruang lingkup dari jurnal ilmiah ini adalah publikasi artikel-artikel ilmiah yang bisa disajikan dalam bentuk penelitian (research), laporan kasus (case report), teknologi dan klinis kefarmasian, serta ulasan literatur medis.
Articles 179 Documents
Fototerapi pada Dermatologi Anak Wibisono Nugraha; Endra Yustin Ellistasari
MEDICINUS Vol. 36 No. 3 (2023): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/b5jqva33

Abstract

Phototherapy is a non-ionizing ultraviolet (UV) radiation therapy used as a treatment for several medical conditions. The mechanism of action of phototherapy is to act as antiproliferative, induce apoptotic, and provide immunosuppressive effect. Several therapeutic modalities that can be used as alternative therapy in children include NB-UVB, BB-UVB, ultraviolet A, PUVA, and excimer laser. Phototherapy in children is indicated especially in diseases such as psoriasis, atopic dermatitis, vitiligo, pityriasis lichenoides, and mycoses fungoides. The use of phototherapy has indications, contraindications, dose, and side effects that should be considered when choosing appropriate phototherapy in children. Common side effects are erythema, xerosis, burning sensation, and itching. Several groups of patients with refractory complaints are advised to use additional phototherapy modalities, either as monotherapy or in combination with topical and systemic therapy.
Terapi Zink Oral pada Vitiligo Eka Devinta Novi Diana; Muhammad Eko Irawanto
MEDICINUS Vol. 36 No. 3 (2023): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/g52hfk35

Abstract

Background: World Health Organization (WHO) estimates that 2 billion people in the world have zinc deficiency. Clinical manifestation of zinc deficiency includes immune system dysfunction, increase of oxidative stress, and release of proinflammatory cytokines. Oxidative stress is one of main factors that plays important role in various autoimmune diseases such as vitiligo. Discussion: Vitiligo is the most common depigmentation disease caused by melanocyte damages which characterized by depigmentation macule or patch on the skin or mucous membranes. Treatment of vitiligo is still considered a challenge, and various treatment modalities show varying results. Zinc is a micronutrient and antioxidant that posseses antiapoptotic activity by influencing melanogenesis and eliminating free radicals. Conclusion: Zinc inhibits oxidative stress and prevent melanocyte damage so it can bd considered as an adjuvant treatment for vitiligo.
Mewaspadai Sindrom Kardiovaskular Ginjal Metabolik dalam Tata Cara Perawatan Holistik Raymond R. Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 36 No. 3 (2023): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/mb5sdx46

Abstract

American Heart Association (AHA) mempublikasikan fenomena kesehatan baru yang disebut sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik (cardiovascular-kidney-metabolic/CKM syndrome). Terdapat beban berat dari kesehatan kardiovaskular-ginjal-metabolik yang buruk di masyarakat, yang memengaruhi hampir semua sistem organ dan memiliki dampak yang sangat kuat terhadap kejadian penyakit kardiovaskular. Sindrom CKM, yang dikenal juga sebagai sindrom ginjal kardiometabolik (cardiometabolic renal syndrome/CMR), melibatkan interkoneksi antara penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD), faktor risiko metabolik seperti obesitas dan diabetes tipe 2 (type 2 diabetes/T2D), dan penyakit kardiovaskular (cardiovasular disease/CVD).
Masa Depan Genomik dan Kecerdasan Buatan Raymond R. Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/6ktgrf38

Abstract

Dalam dua tahun belakangan ini, kita telah mendapatkan banyak perubahan dalam bidang genomik, termasuk diagnosis berbasis pengurutan DNA yang sangat cepat untuk mendeteksi penyakit langka dan munculnya teknologi yang menjanjikan pengurutan (sequencing) seluruh genom seharga sekitar 1,5 juta rupiah ($100). Pengurutan DNA kemungkinan akan menjadi komoditas dalam waktu dekat karena kombinasi kecepatan dan biaya yang lebih rendah. Perkiraan menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada proyek genomik akan menghasilkan hingga 40 exabyte data pada tahun 2030, atau lima hingga sepuluh miliar data. Satu exabyte terdiri dari sekitar satu triliun byte atau satu miliar gigabyte.
Terapi Montelukast pada Asma Alfian Nur Rosyid; Arief Bakhtiar; Daniel Maranatha; Muhammad Amin
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/51tkjy13

Abstract

Asthma is a chronic inflammatory respiratory condition caused by various inflammatory mediators, including those from the arachidonic acid pathway, which serves as a precursor for leukotrienes and prostaglandins. Leukotriene receptor antagonists (LTRAs) have been approved since 1998 as a treatment for asthma. Montelukast is one of the LTRAs that is useful for asthma control, including cases that accompanied by allergic rhinitis. A daily dose of 5-10 mg is recommended for persistent asthma as the preferred controller. LTRAs are not recommended for acute asthma exacerbation due to their relatively slow onset, but they are beneficial in preventing exacerbations. They are also indicated for exercise-induced asthma (EIA), and can be taken 2 hours prior to exercise. Montelukast can be administered as monotherapy or added to LABA-ICS therapy. It is suitable for adults, children, and infants over 1 year of age, preferably taken at night to prevent symptoms in the early morning. Possible side effects include respiratory tract infections, abdominal pain, diarrhea, and neuropsychiatric disorders. Montelukast is considered safe for use during pregnancy and breastfeeding. Physicians should provide comprehensive education for patients regarding medication compliance and the potential risks of side effects. Regular daily use of montelukast is beneficial in preventing acute exacerbations in asthma patients.
Hubungan Pemberian Kemoterapi Fase Induksi terhadap Fungsi Hati Pasien Anak dengan Leukemia di RSUP Haji Adam Malik Medan Fahira Mulya Suhady; Selvi Nafianti; Rina Amelia; Irma Sepala Sari Siregar
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/581rhj90

Abstract

Leukemia menduduki urutan sepuluh besar penyakit kanker terbanyak yang umumnya diderita oleh anak-anak. Pengobatan yang paling sering digunakan pada leukemia adalah kemoterapi. Kemoterapi pada leukemia dibagi menjadi beberapa fase, fase induksi termasuk salah satu fase kemoterapi paling singkat dan intensif. Agen kemoterapi yang digunakan dalam fase induksi umumnya memiliki potensi efek samping berupa gangguan fungsi hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian kemoterapi terhadap fungsi hati pada pasien anak dengan leukemia yang menjalani fase induksi di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2021−2023. Penelitian ini merupakan penelitian analitik perbandingan dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien anak dengan leukemia di RSUP Haji Adam Malik, Medan, tahun 2021−2023 sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data menggunakan rekam medis dengan uji statistik Wilcoxon. Dari 100 pasien anak penderita leukemia, nilai mean dan standar deviasi kadar enzim aspartate aminotransferase (AST) sebelum dan sesudah pemberian kemoterapi fase induksi adalah 30,21±23,235 dan 37,11±25,223; serta kadar enzim alanine transaminase (ALT) memiliki rerata sebesar 48,37±62,824 dan 61,48±64,301. Hasil uji Wilcoxon antara pemberian kemoterapi fase induksi dengan parameter fungsi hati AST dan ALT menunjukkan nilai p<0,05. Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian kemoterapi fase induksi dengan nilai parameter fungsi hati AST dan ALT pada pasien anak dengan leukemia di RSUP Haji Adam Malik, Medan, tahun 2021−2023.
Terapi Tambahan Predimenol pada Osteoartritis: Serial Laporan Kasus Rizaldy Taslim Pinzon
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/wdj43n05

Abstract

Osteoartritis merupakan suatu kelainan muskuloskeletal yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan terganggunya aktivitas hidup sehari-hari (activities of daily living/ADL). Degenerasi sendi yang terjadi pada osteoartritis dapat menimbulkan beberapa manifestasi klinis seperti nyeri, bengkak, kaku, dan terbatasnya pergerakan pada sendi, yang menyebabkan penderita osteoartritis mengalami hambatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tulisan ini melaporkan serial kasus pasien osteoartritis KL2−KL3 dengan berbagai penyakit penyerta. Terapi awal yang diberikan adalah paracetamol 500 mg tiga kali sehari yang dikombinasikan dengan terapi tambahan predimenol 200 mg dua kali sehari. Pada observasi yang dilakukan setelah terapi selama dua minggu, kami mengamati perbaikan yang signifikan dalam penurunan intensitas nyeri dan mobilitas. Predimenol juga dilaporkan dapat ditoleransi dengan baik pada semua pasien.
Pneumotoraks Spontan Sekunder akibat Tuberkulosis Paru Viktoria Thanita
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/66c77517

Abstract

Pneumotoraks spontan sekunder merupakan salah satu kondisi yang mengancam nyawa, berupa masuk dan terkumpulnya udara di dalam rongga pleura, dan umumnya merupakan komplikasi dari perjalanan penyakit tuberkulosis (TB) paru. Berdasarkan Global TB Report 2018, diperkirakan pada tahun 2017 di Indonesia terdapat 842.000 kasus TB baru (319 per 100.000 penduduk). Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara kasus TB paru tertinggi di dunia. Sementara berdasarkan data nasional, diperkirakan terdapat 12.000 kasus pasien TB paru yang ternotifikasi yang berasal dari 1,2% kasus baru dan 13% kasus pengobatan berulang. Angka kejadian pneumotoraks spontan sekunder yang disebabkan oleh TB paru adalah yang terbesar dengan proporsi 46,15% dari seluruh kasus pneumotoraks spontan sekunder. Tata laksana pada kasus pneumotoraks spontan sekunder akibat TB paru adalah dengan pembedahan (torakotomi), dan prosedur nonpembedahan (oksigen, water sealed drain/WSD), serta pengobatan dengan obat antituberkulosis.
Pengembangan Formula Nanoemulsi Minyak Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dan Ekstrak Siwak (Salvadora persica) serta Uji Aktivitasnya terhadap Bakteri dari Saliva Mencit Galur BALB/c Siti Fatimah Zahro; Safira Prisya Dewi; Amirah Adlia; Heni Rachmawati
MEDICINUS Vol. 37 No. 1 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/jp1ap691

Abstract

Mulut merupakan habitat bagi sekitar 700 spesies bakteri yang dapat memicu gangguan jika kebersihan mulut tidak terjaga. Salah satu upaya menjaga kebersihan mulut adalah dengan menggunakan mouthwash atau obat kumur. Saat ini masih banyak beredar obat kumur di pasaran yang mengandung alkohol, padahal penggunaan alkohol dalam obat kumur dapat menimbulkan beberapa efek samping setelah pemakaian. Di sisi lain, terdapat bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri mulut seperti Salvadora persica dan Syzygium aromaticum. Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri yang kurang stabil, sehingga pada penelitian ini dikembangkan formula nanoemulsi minyak cengkeh dengan penambahan ekstrak siwak. Formula akhir nanoemulsi diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri dari saliva mencit galur BALB/c melalui penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM). Pada formula akhir, diperoleh nanoemulsi dengan ukuran 22,4 nm dengan indeks polidispersitas 0,385, zeta potensial -2,1 mV,dan pH 7,15. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa nanoemulsi yang ditambahkan dan tidak ditambahkan ekstrak siwak memiliki KHM terhadap bakteri saliva mencit sebesar 6,25 mg/ml. Hal ini disebabkan karena KHM dari minyak cengkeh adalah 6,25 mg/mL, sedangkan dari ekstrak siwak adalah 12,5 mg/ml sehingga jumlah ekstrak dalam formula tidak dapat menurunkan KHM nanoemulsi. Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa nanoemulsi stabil terhadap 2 siklus beku-cair dan masih dapat diterima pada penyimpanan selama 4 minggu dalam suhu 4°C. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa formula yang dikembangkan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri saliva mencit BALB/c dan memiliki stabilitas yang cukup baik selama 4 minggu dengan suhu penyimpanan 4°C.
Penelitian Terkini tentang Sirkulasi Otak Raymond R. Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 37 No. 2 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/6gy9j026

Abstract

Sirkulasi otak yang optimal sangat penting untuk memastikan bahwa otak menerima pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup, yang merupakan dasar bagi semua aktivitas neurologis. Gangguan sirkulasi darah ke otak dapat menyebabkan berbagai kondisi serius, termasuk strok, demensia, dan gangguan kognitif lain. Penelitian terkini telah mengungkap berbagai aspek baru tentang bagaimana otak beradaptasi dan berfungsi dalam kondisi normal maupun patologis. Dengan meningkatnya prevalensi penyakit neurodegeneratif dan adanya fenomena penuaan populasi, penelitian tentang sirkulasi otak menjadi semakin mendesak. Temuan-temuan terbaru dalam bidang ini tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak berfungsi, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan terapi baru yang dapat membantu menjaga kesehatan otak sepanjang hidup seseorang.

Page 9 of 18 | Total Record : 179