cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah lt.5, Jl. A. Yani Pabelan, Kartasura Sukoharjo
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
ISSN : 2527533X     EISSN : 26858770     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) adalah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Articles 687 Documents
Self Regulated Learning: Pembelajaran dan Tantangan pada Era Revolusi Industri 4.0 Zubaidah, Siti
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.187 KB)

Abstract

Perubahan global yang sangat cepat akibat revolusi industri mengakibatkan perubahan dalam segala bidang kehidupan termasuk pendidikan, namun perubahan bidang pendidikan tidak secepat perubahan bidang industri sehingga sering disebut evolusi pendidikan. Perubahan pendekatan pendidikan dari pedagogi, andragogi, heutagogi, dan cybergogi, menimbulkan tantangan bagi peserta didik, pendidik, dan lembaga pendidikan. Salah satu tantangan adalah bagaimana menumbuhkembangkan dan menguatkan self-regulated learning (SRL), sebagai pendorong suksesnya peserta didik dalam belajar. SRL secara umum memiliki tiga fase, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Setiap fase melibatkan proses mikroyang kompleks pada diri self-regulated learner, karena dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya: motivasi, emosi, perilaku, manajemen waktu, kognisi, metakognisi, fungsi eksekutif, fungsi fisik, manajemen konteks, dan keterampilan akademik. Pendidik merupakan fasilitator dalam pengembangan SRL peserta didik, sehingga diharapkan juga memiliki keterampilan SRL dan keterampilan lain, di antaranya kecakapan untuk menerima dan mengelola ambiguitas, kemampuan memupuk keterlibatan, kapasitas untuk belajar, dan kemampuan menerapkan sistem keterbukaan berpikir.
Problematika Solusi: Publikasi Pembelajaran Biologi Masa Pandemi Parmin, P
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2635.171 KB)

Abstract

PROBLEMATIKA SOLUSI: Publikasi Pembelajaran Biologi MASA PANDEMI
Jenis Tikus dan Potensi Penularan Penyakit Zoonosis di Daerah Endemis Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Nurwidayati, Anis; Siahaan, Hayani Anastasia
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.014 KB)

Abstract

Tikus dikenal sebagai reservoir alami dari beberapa infeksi cacing yang penting bagi kesehatan masyarakat, salah satunya schistosomiasis. Tikus mengandung mikroorganisme parasit yang dapat ditularkan melalui kontak dengan kotoran tikus yang terinfeksi atau melalui ektoparasit, maupun secara tidak langsung melalui hospes keong perantara schistosomiasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tikus dan telur cacing zoonotik pada tikus di daerah endemis schistosomiasis Napu, khususnya di Desa Dodolo dan Kaduwaa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Penelitian ini merupakan studi observasional yang dilakukan pada bulan Mei sampai Juni tahun 2018. Penangkapan tikus dilakukan selama tiga malam berturut-turut menggunakan 100 perangkap hidup yang dipasang pada tempat yang berbeda, yaitu kebun cokelat, kebun sagu, ladang jagung, dan semak belukar. Jumlah total tikus yang tertangkap di Desa Dodolo adalah 15 ekor dari 100 perangkap yang dipasang selama tiga malam (trap succes 5%). Jenis tikus yang ditemukan yaitu Rattus argentiventer, Rattus sp., R.tanezumi, R.exulans, Maxomys muechenbroekii, dan Paruromys dominator. Jumlah tikus yang terinfeksi schistosomiasis adalah tujuh ekor (infection rate 46,67%), Hymenolepis diminuta delapan ekor (53,33%), dan nematoda darah delapan ekor (53,33%). Jumlah total tikus yang tertangkap di Desa Kaduwaa adalah 13 ekor dari 100 perangkap yang dipasang selama tiga malam (trap succes 4%). Jenis tikus yang ditemukan yaitu Rattus argentiventer, R.tanezumi, dan R.exulans. Jumlah tikus yang terinfeksi schistosomiasis adalah tiga ekor (infection rate 23%), Capillaria hepatica dua ekor (15,38%) Hymenolepis diminuta dua ekor (15,38%), dan nematoda darah empat ekor (26,67%). Dengan ditemukannya telur cacing pada tikus perlu diwaspadai sebagai investigasi awal sumber penularan penyakit kecacingan melalui tikus.
Tren Perkembangan Penelitian Keanekaragaman Hayati untuk Pembangunan Berkelanjutan Rahmadi, Cahyo
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.195 KB)

Abstract

Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan kekayaan negara yang dapat dijadikan modal dasar pembangunan berkelanjutan. Namun demikian, kondisi saat ini penelitian terkait keanekaragaman hayati masih perlu didorong seperti kegiatan penelitian inventarisasi dan monitoring serta kajian taksonomi, ekologi dan populasi. Di sisi lain, ancaman kehilangan keanekaragaman hayati di tingkat global maupun nasional makin mengkhawatirkan. Penelitian terkait potensi keanekaragaman hayati dari tingkat ekosistem, spesies, dan genetik belum banyak dijadikan dasar kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan dan sekaligus juga pembangunan ekonomi hijau.Kegiatan penelitian keanekaragaman hayati dari tingkat pengungkapan melalui eksplorasi, karakterisasi, penapisan (screening), sampai tingkat lanjut pemanfaatan keanekaragaman hayati masih perlu didorong untuk mendukung upaya pemanfaatan berkelanjutan sekaligus menjadi pondasi pembangunan berkelanjutan.Makalah ini bertujuan menyampaikan bagaimana kesadaran global dalam menyikapi potensi keanekaragaman hayati dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, bagaimana status keanekaragaman hayati Indonesia, bagaimana perkembangan dunia penelitian terkait keanekaragaman hayati untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan upaya apa yang perlu dilakukan untuk membangun kolaborasi dan sinergi para pihak.
Media Alternatif Bibit F1 Jamur Tiram dan Jamur Kuping Menggunakan Biji Kacang Hijau dan Kacang Merah Syafitri, Anis; Suparti, S
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.525 KB)

Abstract

Kacang Hijau dan Kacang Merah memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang dapat digunakan sebagai media alternatif pembibitan F1 dari jamur tiram dan jamur kuping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan miselium bibit F1 jamur tiram dan jamur kuping pada media kacang hijau dan kacang merah. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor yang dilakukan dalam 3 kali pengulangan. Faktor 1 jenis jamur bibit (J), faktor 2 variasi media biji (M). Parameter yang diukur adalah pertumbuhan panjang miselium bibit F1 jamur tiram dan jamur kuping. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian setelah 14 hari inokulasi diperoleh panjang miselium bibit F1 jamur tiram terbaik yaitu 4,7 cm pada perlakuan jamur tiram media kacang merah. Panjang miselium jamur kuping terbaik yaitu 4,3 cm pada perlakuan jamur kuping media kacang merah. Pertumbuhan panjang miselium bibit F1 terendah yaitu 3,6 cm pada jamur kuping media kacang hijau. Berdasarkan hasil penelitian, maka biji kacang hijau dan biji kacang merah dapat digunakan sebagai media pertumbuhan bibit F1 jamur tiram dan jamur kuping.
Cortisol Analysis of Pterygoplichthys pardalis from Ciliwung River Zhafirah, Adienda Yoesmah; Puspitasari, Riris Lindiawati
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.615 KB)

Abstract

The existence of Pterygoplichthys pardalis as one Loricariidae species were introduced to Indonesia and dominated the Ciliwung River. The high contaminant in Ciliwung River can lead to high stress levels so that fish experienced a decline due to the death or failure to reproduce. But not entirely external stressors affect the existence Pterygoplichthys pardalis. P. pardalis stress levels need to determined the adaptive mechanism polluted environment through the concentration of the hormone cortisol. This study was conducted to identify the level of stress P. pardalis based on concentration of the hormone cortisol. The method used a sample of fish raised in tank and fish from the river. Fish plasma will be analyzed using the ELISA method measure the cortisol. The higher concertration of cortisol showed more stress in Ciliwung fish. Based on the statistic result showed the significance value between two groups was 0.012 (sig<0.05). This assumed were difference cortisollevel between fish from tank and river. The results show that P. pardalis collected from river have higher concentrations of the cortisol than from tank. The cortisol level was 113.06 ng / ml.
Infeksi Soil Transmitted Helminths di Dataran Tinggi Bada, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah Tahun 2018 Widayati, Anis Nur; Srikandi, Yuyun; Risti, R; Nelfita, N; Tolistiawaty, Intan; Anastasia, Hayani
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.067 KB)

Abstract

Infeksi kecacingan atau Soil Transmitted Helminths masih menjadi masalah kesehatan di negara tropis dan sub tropis, salah satunya di Indonesia. Penyakit kecacingan di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu antara 45-65%. Infeksi STH disebabkan oleh tiga jenis cacing, yaitu cacing gelang, cacing tambang, dan cacing cambuk. Infeksi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak usia sekolah. Tujuan penelitian untuk menentukan tingkat infeksi STH pada penduduk di empat desa di Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Desain yang digunakan adalah potong lintang. Survei dilakukan pada bulan Maret – November tahun 2018. Dilakukan pengumpulan tinja penduduk dan selanjutnya diperiksa dengan metode Kato-Kat’z. Hasil penelitian menunjukkan infeksi STH disebabkan cacing tambang dan cacing gelang sebesar 16,92% dan 1,74%. Infeksi gabungan juga ditemukan yaitu cacing gelang dengan cacing tambang, sebesar 1,49%. Infeksi ditemukan pada penduduk dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 51% dan pada perempuan sebesar 49%. Hal tersebut terkait dengan pekerjaan masyarakat yang sebagian besar adalah petani. Berdasarkan hasil survei dapat disimpulkan bahwa infeksi STH di Dataran Tinggi Bada masih tinggi. Perlu dilakukan upaya pengobatan serta penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat.
Kajian Beberapa Tumbuhan yang Digunakan dalam Pembuatan Bahan Baku Nitroselulosa Propelan Muna, Arifa Fikriya Zaharol; Dacosta, Fransisca Clodina; Aritonang, Sovian
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.601 KB)

Abstract

Propellant is one of the national industries development program. Raw material of double base propellant is nitrocellulose and nitroglycerin. Nitroglycerin approved by country, but nitrocellulose still relies on imports. The need for nitrocellulose continues to increase and independence in the manufacture is very necessary to support alusista independence. Therefore, it is necessary to map the types of local plants needed to produce nitrocellulose. Method of this research is carried out a discussion from literature by tracing and collecting data taken with various references about plant which has potential as raw material for making nitrocellulose. The data collected is described as information describing plant species with the highest potential forproducing nitrocellulose. There are several plants that can produce nitrocellulose, including sago (Metroxylon sago Rottb.), Cotton (Gossyoium sp.), Kapok (Ceibe Petandra), Palm Oil (Arecaceae), Aren (Arenga pinnata), Pineapple (Ananas comosus) and Bamboo Beema (Bambusa balcoa). Most nitrocellulose by the process of nitration produced by cottonwood plants with levels reaching 50%. Several other types of plants have cellulose content. Most of the higher alpha cellulose include acacia (Acasia mangium), kenaf (Hibiscus cannabinus), Mangrove (Rhizophora) and banana klutuk (Musa balbisiana colla). Plants that have high cellulose content specially alpha cellulose content, can be using with chemically nitration processed to produce nitrocellulose. Further research is still needed to maximize the yield of nitrocellulose in local plants.
Inventarisasi Jenis Hama yang Menyerang Bibit Kayu Kuku (Pericopsis mooniana) Umur 1 Tahun di Persemaian Fiani, Ari; Yuliah, Y; Pamungkas, Tri
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.599 KB)

Abstract

Kayu kuku (Pericopsis mooniana Thw.) merupakan salah satu jenis lokal Sulawesi yang juga ditemukan pada beberapa lokasi seperti Kalimantan, Sumatera dan Papua. Informasi tentang aspek silvikultur kayu kuku belum banyak ditemukan, diantaranya tentang keberadaan jens-jenis hama pada kayu kuku di tingkat semai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hama yang menyerang tiga populasi kayu kuku di tingkat semai, yakni populasi Cagar Alam Lamedai, populasi Hutan Alam Tanggetada dan populasi Pulau Laut Kalimantan Selatan. Inventarisasi dan identifikasi jenis hama pada kayu kuku di tingkat semai memperlihatkan bahwa jenis-jenis hama yang menyerang bibit kayu kuku adalah Belalang (Valanga sp.); ulat pelipat daun (larva Sylepta sp.) dan penggerek batang (larva Zeuzera coffeae). Intensitas serangan belalang masing masing populasi (CA Lamedai, Hutan Alam Tanggetada dan Pulau Laut, Kalimantan Selatan berturut-turut adalah sebesar 28,41 %; 21,42 % dan 23,07 %. Sedangkan intensitas serangan ulat penggulung daun hanya di temukan pada populasi CA Lamedai dan Hutan Alam Tanggetada berturut-turut sebesar 2,74 %; 1,22 %. Hama penggerek batang hanya ditemukan pada populasi Hutan Alam Tanggetada sebesar 1,65 %.
A Research to The Solar Coronal Initial Magnetic Dynamics Prior a Launch of CME Setiahadi, Bambang; Kamarudin, Farahana; Sujito, S; Wisodo, Hari
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.234 KB)

Abstract

Two dimensional magnetic-structures is developed and derived in the basic assumption line-tied condition in solar plasma. The type is two-dimensional half-circle magnetic arcade topology imbedded in photosphere dense plasma. The magnetic topology is assumed to be converted dynamically due to disturbance in magnetic fields and became a CME. Disturbance is derived from magneto-hydrostatic condition and perturbation is applied as first-order small deviation along the magnetic fields. Along the base of the magnetic arcade every disturbance is assumed to be zeroed by dense plasma and the magnetic fields of line is line-tied on photosphere. By inspecting snapshot data it is found that the derived structure is similar with solar coronal magnetic structure prior a launch of CME from coronagraph white light data.