cover
Contact Name
Sawaluddin Siregar
Contact Email
laborfasih@gmail.com
Phone
+6285362262331
Journal Mail Official
laborfasih@gmail.com
Editorial Address
Jalan T. Rizal Nurdin Km, 4,5 Sihitang Padangsidimpuan
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Al Fawatih: Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis
ISSN : -     EISSN : 27453499     DOI : -
Al Fawatih: Jurnal Kajian Al-Quran dan Hadis is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadis from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Qur’anic and Hadis Studies, Quranic and Hadis sciences, Living Quran and Hadis, Quranic and Hadis Stuides accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Quran and Hadis studies. publishes twice in the year (June and December) by Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan
Articles 88 Documents
USURY IN THE MODERN ERA: A REVIEW OF QUR'ANIC VERSES AND HADITH Nabilla Zalfa Azzahra
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.15932

Abstract

The prohibition of usury is one of the basic teachings in Islam which is emphasized both in the Qur'an and hadith. In modern times, the practice of usury is increasingly widespread, especially through conventional financial institutions and online loan services (pinjol) that offer convenience but are often accompanied by high interest rates. This article aims to examine the law of usury according to the arguments in the Qur'an and hadith and explore its relevance to contemporary economic challenges. The discussion begins with an explanation of the definition of usury, followed by an analysis of the verses of the Qur'an and hadith that explicitly prohibit the practice, as well as the wisdom behind the prohibition of usury. The article also reviews various forms of usury that appear in modern forms, such as online loans, credit cards, and conventional banking systems. Through this study, it is hoped that it can increase understanding of the importance of implementing a sharia-based economic system that is fairer and brings blessings to Muslims.
KONSEPSI HADIS DALAM PENAFSIRAN MUHAMMAD HUSEIN ATH-THABATHABA’I DALAM TAFSIR AL-MIZAN Muhammad Sulton
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.19553

Abstract

This study examines the biography and exegetical thought of Muhammad Husain ath-Thabathaba’i, with a particular focus on the conception of Hadith in his Tafsir al-Mizan. He was born into a scholarly family deeply rooted in intellectual and spiritual traditions, which shaped his intellectual character from an early age. His formal and religious education began in Tabriz and continued in Najaf, a major center of Islamic learning, where he studied various disciplines such as jurisprudence (fiqh), principles of jurisprudence (usul), philosophy, and mysticism (irfan). His intellectual development was also influenced by the socio-political conditions of Iran during the Pahlavi era, marked by processes of secularization. His major work, Tafsir al-Mizan, employs the method of interpreting the Qur’an through the Qur’an (tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an), combined with rational, analytical, and comparative approaches. Within this framework, Hadith is not treated as a primary source, but rather as a supporting tool in understanding Qur’anic verses. Ath-Thabathaba’i adopts a selective approach, accepting mutawatir Hadith while exercising caution toward solitary (zhanni) reports. He also demonstrates a moderate stance by engaging with both Sunni and Shi‘i sources. In his perspective, Hadith includes narrations from the Prophet as well as the Imams of Ahl al-Bayt. The use of Hadith in his exegesis serves to reinforce the meanings derived from the Qur’an, particularly in themes such as imamate, intercession, and ulil amr. Thus, the conception of Hadith in Tafsir al-Mizan is integrative, critical, and remains subordinate to the authority of the Qur’an. Although ath-Thabathaba’i belongs to the Twelver Shi‘i tradition, his moderate engagement with Sunni sources in constructing his Hadith conception indicates that he cannot be characterized as excessive (ghuluw).
INTERPRETASI QS. AL-A‘RĀF [7]: 56 SEBAGAI LANDASAN NORMATIF PELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF DALĀLAH MAFHŪM Ida Mawaddah Ahmad Ima Ahmad; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.19880

Abstract

Artikel ini bermula dari kesadaran bahwa pemahaman ayat-ayat. Al-Qur'an yang berhenti, pada makna literal (dalālah manṭūq) memiliki keterbatasan dalam menanggapi isu-isu ekologi kontemporer yang semakin kompleks. QS. al-A'rāf [7]: 56 telah lama ditafsirkan sebagai larangan normatif terhadap perusakan lingkungan, namun belum banyak dipelajari melalui pendekatan metodologis ushul fiqh, khususnya dalālah mafhūm. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dalālah mafhūm dalam QS. al-A'rāf [7]: 56 dan mengungkap implikasi normatifnya terhadap isu-isu ekologi kontemporer. Metode yang digunakan adalah riset pustaka. dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui tinjauan literatur tafsir dan ushul fiqh yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frasa ba‘da iṣlāḥihā berfungsi sebagai qayyid yang membuka ruang bagi makna implisit melalui mafhūm muwāfaqah dan mafhūm mukhālafah. Dalam hal mafhūm .muwāfaqah, ayat ini menegaskan larangan yang lebih kuat terhadap bentuk-bentuk penghancuran sistemik dan masif, sedangkan dalam hal mafhūm mukhālafah, ayat ini menyiratkan kewajiban untuk melaksanakan islāḥ ketika bumi telah rusak. Kesimpulannya, penerapan dalālah mafhūm dalam QS. Al.-A'rāf [7]: 56 menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak hanya melarang penghancuran, tetapi juga memerintahkan perbaikan lingkungan secara aktif sebagai tanggung jawab normatif dan etis umat manusia.
DAKWAH POLITIK DI TIKTOK PERSPEKTIF TAFSIR MAUDHU’I: ANTARA AMAR MA’RUF, TABAYYUN DAN MANIPULASI INFORMASI Darania Anisa; Ahmad Sainul; Kholifatun Nur Mustofa
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.19914

Abstract

Perkembangan media sosial TikTok telah menghadirkan ruang baru bagi praktik dakwah politik di Indonesia. Platform ini tidak hanya digunakan sebagai sarana penyebaran nilai-nilai keislaman dan pendidikan politik masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan untuk membentuk opini publik melalui narasi keagamaan yang berpotensi mengandung disinformasi dan polarisasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena dakwah politik di TikTok dalam perspektif tafsir maudhu’i dengan menitikberatkan pada konsep amar ma’ruf, tabayyun, dan etika komunikasi dalam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif dan studi kepustakaan melalui penelaahan ayat-ayat Al-Qur’an, kitab tafsir, serta literatur terkait media digital dan etika politik Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah politik dalam Islam harus dilandasi prinsip shidq (kejujuran), ‘adl (keadilan), tabayyun (verifikasi informasi), serta menghindari praktik fasad, ghuluw, dan ta’assub dalam penyampaian pesan politik. Manipulasi informasi berbasis agama di media sosial dipandang bertentangan dengan nilai-nilai etika politik Islam dan tujuan dakwah yang rahmatan lil ‘alamin. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital Islami dan penyusunan pedoman etika dakwah digital oleh lembaga keagamaan di Indonesia.
INTEGRASI NILAI AL-QUR’AN DALAM TRANSFORMASI PEMIKIRAN WAHDAH AL-WUJUD IBNU ‘ARABI: KAJIAN TERHADAP SYEKH NAWAWI AL-BANTANI Maya sari
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.20388

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa seorang mufassir sering kali dipengaruhi oleh lingkungan intelektual tempat ia belajar dan berkembang. Dalam tradisi keilmuan Islam, tidak jarang seorang mufassir menjadikan karya mufassir sebelumnya sebagai rujukan utama dalam menyusun tafsirnya. Secara historis, pemikiran Muhyiddin Ibn Arabi diketahui menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Syekh Nawawi al-Bantani dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bercorak sufistik, khususnya dalam karya tafsirnya, Tafsir Marah Labid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan sumber utama berupa Futuhat al-Makkiyah dan Tafsir Marah Labid. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teori transformasi intelektual dan metodologis dari Max Weber untuk melihat proses adaptasi dan kontekstualisasi pemikiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pemikiran Ibn Arabi dalam tafsir Nawawi al-Bantani dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, faktor lingkungan intelektual dan tradisi pesantren yang membentuk corak sufistik dalam penafsiran Nawawi. Kedua, kedalaman metafisika tasawuf Ibn Arabi yang memberikan landasan spiritual dalam memahami ayat-ayat ketuhanan. Ketiga, kompatibilitas antara pendekatan tasawuf Ibn Arabi dengan prinsip syariat, sehingga tidak menimbulkan pertentangan teologis yang signifikan. Atas dasar inilah Nawawi al-Bantani mengadopsi dan mentransformasikan sebagian pemikiran Ibn Arabi dalam karya tafsirnya.
RELASI IBADAH DAN KEMAKMURAN NEGARA BERBASIS NILAI-NILAI AL-QUR’AN: KAJIAN TAFSIR TEMATIK TENTANG KESALEHAN KEADILAN, DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL Dahliati Simanjuntak
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.19570

Abstract

Abstract This study aims to analyze the relationship between worship and the prosperity of a country through the perspective of siyāsah tafsir. The methodology employed is literature review with a qualitative approach, examining classical and contemporary works that discuss the role of spirituality in national prosperity. The findings indicate that consistent worship can enhance morals, ethics, and social justice, which positively contribute to economic stability and national prosperity. Siyasah tafsir emphasizes that a country’s success depends not only on material aspects but also on the spiritual and moral integrity of its people. Therefore, strengthening worship plays a strategic role in creating sustainable prosperity. This research suggests the need to integrate spiritual values into national policies to achieve true welfare. Keywords: worship, prosperity, siyāsah tafsir, spirituality, national policy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ibadah dan kemakmuran suatu negara melalui perspektif tafsir siyasah. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, menelaah berbagai karya klasik dan kontemporer yang membahas peran spiritualitas dalam kemakmuran nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah yang dijalankan secara konsisten dapat meningkatkan moral, etika, dan keadilan sosial, yang berkontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi dan kemakmuran negara. Tafsir siyasah menekankan bahwa keberhasilan sebuah negara tidak hanya bergantung pada aspek material, tetapi juga spiritual dan moral rakyatnya. Oleh karena itu, penguatan ibadah memiliki peran strategis dalam menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan. Penelitian ini menyarankan perlunya integrasi nilai spiritual dalam kebijakan negara untuk mencapai kesejahteraan yang hakiki. Kata kunci: ibadah, kemakmuran, tafsir siyasah, spiritualitas, kebijakan negara
Wasathiyah: Dari Ayat ke Riwayat Dari Wahyu ke Aksi (Analisis semantik terhadap ayat ayat moderasi dalam Al-Qur’an dan Hadis ) Badar Alam Kalasuba
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.15265

Abstract

Penelitian ini membahas konsep wasathiyah (moderasi) dalam Al-Qur’an dan hadis melalui pendekatan semantik. Pemahaman terhadap nilai moderasi dinilai penting untuk membangun karakter umat Islam yang adil, seimbang, dan terhindar dari sikap ekstrem. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan diksi dan nilai wasathiyah dalam Al-Qur’an dan hadis serta mengkaji transformasi konsep tersebut dari tataran wahyu menuju praktik kehidupan nyata. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan semantik ala Toshihiko Izutsu, menganalisis makna kata melalui hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wasathiyah dalam Al-Qur’an, khususnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 143, tidak hanya bermakna ‘tengah’ secara fisik, melainkan mengandung nilai keadilan, keseimbangan, keterbukaan, dan moderasi dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam hadis, konsep ini dipertegas sebagai karakter utama umat Islam yang adil dan menjadi saksi atas umat manusia. Secara sinkronik dan diakronik, makna wasathiyah berkembang dari makna fisik menjadi makna moral dan spiritual, seiring perkembangan diskursus keislaman klasik hingga kontemporer. Penelitian ini menegaskan bahwa wasathiyah merupakan prinsip dinamis dan esensial dalam membangun masyarakat berkeadaban, harmonis, serta jauh dari ekstremisme. Dengan demikian, nilai wasathiyah perlu diinternalisasi secara menyeluruh dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara.Kata kunci: Wasathiyah, Semantik Al-Qur’an, Moderasi Islam, Adil, Sintagmatik Paradigmatik
INTEGRASI TAHSIN PADA AL-QUR’AN HADIS UNTUK MENGOPTIMALKAN BTQ DI MA PLUS SUNAN DRAJAT 7 Sholikah Sholikah; Sania Putri Setiya; Ahmad Soleh Hasibuan
Al FAWATIH:Jurnal Kajian Al Quran dan Hadis Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/alfawatih.v7i1.18855

Abstract

Penelitian ini berfokus pada evaluasi penerapan integrasi metode tahsin ke dalam kurikulum mata pelajaran Al-Quran Hadis di MA Plus Sunan Drajat 7 sebagai strategi peningkatan kompetensi baca tulis Al-Quran (BTQ) peserta didik. Studi ini bertujuan memetakan pola sinergi antara pembelajaran tahsin dan materi Al-Quran Hadis guna mengoptimalkan kemahiran BTQ. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan relevansi dan kebutuhan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi tahsin mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap kaidah tajwid, ketepatan makhraj huruf, serta kelancaran membaca Al-Quran. Peningkatan ini terjadi karena penerapan pendekatan integratif yang mengombinasikan praktik tahsin secara langsung dengan materi teoritis Al-Quran Hadis. Dengan demikian, model integratif ini dinilai efektif dan direkomendasikan untuk mendukung pencapaian tujuan pembelajaran Al-Quran di jenjang Madrasah Aliyah. Kata kunci: Integrasi; Optimalisasi; BTQ