cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Pengalaman Kekerasan Verbal terhadap Tingkat Forgiveness Rachmi Dwi Utami; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5504

Abstract

Abstract. Violence is an unpleasant experience and can be a traumatic experience for the survivors (Kusristanti et al., 2020). Coping strategies that can be carried out by victims of violence are by providing forgiveness (forgiveness) to the perpetrator (Asnawati, 2017). Forgiving individuals' relationships when they are hurt or perceived as an underlying personality trait (Eaton et al. 2006; Hannn et al. 2012; McCullough et al. 2013; Menezes Fonseca et al, 2012). This study aims to see the effect of the experience of verbal violence on the level of forgiveness. This study uses a causal quantitative approach. Measurements were made using two measuring tools that have been adapted to the Indonesian context, namely the Verbal Abuse Scale (VAC), and the Transgression Related Interpersonal Motivations Scale (TRIMS). The sample in this study found 227 early adult individuals in the Bandung Regency and Bandung City areas who were selected through purposive sampling technique. The data analysis technique used was multiple regression test using the Baron's casual method. The results of this study indicate that verbal violence affects the level of forgiveness with an R count of 0.551 (55.1%); Sig. 0.00. Abstrak. Kekerasan merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan bisa menjadi pengalaman yang traumatis bagi penyintasnya (Kusristanti et al., 2020). Strategi koping yang dapat dilakukan oleh korban kekerasan yaitu dengan cara memberikan pemaafan (forgiveness) pada pelaku (Asnawati, 2017). Memaafkan merupakan relasi individu ketika mereka disakiti atau dilanggar dan dianggap sebagai ciri kepribadian yang mendasar (Eaton et al. 2006; Hannn et al. 2012; McCullough et al. 2013; Menezes Fonseca et al, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pengalaman kekerasan verbal terhadap tingkat forgiveness. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausal. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan dua alat ukur yang telah diadaptasi ke dalam konteks Indonesia, yaitu Verbal Abuse Scale (VAC), dan Transgression Related Interpersonal Motivations Scale (TRIMS). Sampel dalam penelitian ini menemukan 227 individu dewasa awal yang berada di wilayah Kabupaten Bandung dan Kota Bandung yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dengan uji regresi berganda menggunakan metode kasual dari Baron. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kekerasan verbal mempengaruhi tingkat forgiveness dengan R hitung 0,551 (55,1%) ; Sig. 0,00.
Pengaruh Loneliness dan Self–Control terhadap Instagram Social Media Disorder pada Emerging Adulthood Putri Rossya Ardelia Hasanah; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5524

Abstract

Abstract. Improper utilization of Instagram social media and access continuously can have a negative impact. For individuals in the emerging adulthood phase who experience loneliness and low self–control, these conditions may cause social media disorder. This study aims to obtain empirical data on the effect of loneliness and self–control on Instagram social media disorder in emerging adulthood in Bandung Raya. This quantitative research used a causality research design with research subjects of 385 people. The measuring instruments used were the 11–item De Jong Gierveld Loneliness Scale by Gierveld and Tilburg (2006), the Brief Self–Control Scale by Tangney, et al., (2004), and the Social Media Disorder Scale by Van den Eijnden, et al. , (2016). The analysis technique used was the Multiple Linear Regression Test. This study found that loneliness and self–control significantly affect Instagram social media disorder in emerging adulthood in Bandung Raya, contributing 41.7%. Then partial loneliness significantly affects Instagram social media disorder in emerging adulthood in Bandung Raya with a contribution of 18.5%, and self–control significantly affects Instagram social media disorder in emerging adulthood in Bandung Raya with a contribution of 23.2%. Abstrak. Pemanfaatan media sosial Instagram yang tidak tepat dan diakses secara terus menerus dapat memberikan dampak negatif. Bagi individu yang berada dalam fase emerging adulthood yang mengalami loneliness dan self–control yang rendah kondisi tersebut dapat berpotensi menyebabkan social media disorder. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang pengaruh loneliness dan self–control terhadap Instagram social media disorder pada emerging adulthood di Bandung Raya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian kausalitas dengan jumlah subjek penelitian 385 orang. Alat ukur yang digunakan The 11–aitem De Jong Gierveld Loneliness Scale oleh Gierveld dan Tilburg (2006), Brief Self–Control Scale oleh Tangney, et al., (2004), dan Social Media Disorder Scale oleh Van den Eijnden, et al., (2016). Teknik analisis menggunakan Uji Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian ini menemukan bahwa loneliness dan self–control secara signifikan mempengaruhi Instagram social media disorder pada emerging adulthood di Bandung Raya dengan kontribusi pengaruhnya sebesar 41.7%. Kemudian secara parsial ditemukan loneliness secara signifikan mempengaruhi Instagram social media disorder pada emerging adulthood di Bandung Raya dengan pengaruhnya sebesar 18.5% dan self–control secara signifikan mempengaruhi Instagram social media disorder pada emerging adulthood di Bandung Raya dengan kontribusi pengaruhnya sebesar 23.2%.
Hubungan Big Five Personality dan Fear of Missing Out pada Pengguna Instagram Indryana Fauziah Alamsyah; Hedi Wahyudi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5554

Abstract

Abstract. College students are the most internet users in Indonesia, especially Instagram users. Fear of Missing Out is a phenomenon that often occurs in students. FoMO causes them to use social media more often to follow other people's activities so they don't miss the latest information. This FoMO phenomenon can be seen through the Big Five Personality personality type. This study aims to see the close relationship between the Big Five Personality personality types and FoMO on Instagram users. The research method used is quantitative research with a correlational research design with a research subject of 258 student respondents in Bandung. The analytical technique used is the Spearman Rank Correlation Test. The data obtained indicate that there is a positive relationship between extraversion and FoMO with r = 0.699 and p = 0.000 < 0.05; there is a positive relationship between agreeableness and FoMO with r = 0.672 and p = 0.000 <0.05; there is a positive relationship between neuroticism and FoMO with r = 0.653 and p = 0.000 <0.05; and there is a positive relationship between openness to experience and FoMO with r = 0.644 and p = 0.000 <0.05. The data obtained also show that there is a negative relationship between conscientiousness and FoMO r = -0.687 with p = 0.000 <0.05. Abstrak. Mahasiswa merupakan pengguna internet terbanyak di Indonesia, terutama pengguna Instagram. Fear of Missing Out menjadi salah satu fenomena yang sering terjadi pada mahasiswa. FoMO menyebabkan mereka lebih sering menggunakan media sosial untuk mengikuti aktivitas orang lain dan agar tidak tertinggal informasi terkini. Fenomena FoMO ini dapat dilihat melalui tipe kepribadian Big Five Personality. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat keeratan hubungan antara tipe kepribadian Big Five Personality dengan FoMO pada mahasiswa pengguna Instagram. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasi dengan subjek penelitian sebanyak 258 responden mahasiswa di Bandung. Teknik analisis yang digunakan adalah Uji Korelasi Rank Spearman. Data yang diperoleh menunjukkan terdapat hubungan positif antara extraversion dengan FoMO dengan r = 0,699 dan p = 0,000 < 0,05; terdapat hubungan positif antara agreeableness dengan FoMO dengan r = 0,672 dan p = 0,000 < 0,05; terdapat hubungan positif antara neuroticism dengan FoMO dengan r = 0,653 dan p = 0,000 < 0,05; dan terdapat hubungan positif antara openness to experience dengan FoMO dengan r = 0,644 dan p = 0,000 < 0,05. Data yang diperoleh juga menunjukkan terdapat hubungan negatif antara conscientiousness dengan FoMO r = -0,687 dengan p = 0,000 < 0,05.
Pengaruh Parent dan Peer Attachment terhadap Problematic Internet Use pada Mahasiswa di Kota Bandung Nada Cantika Rubama; Eni Nuraeni Nugrahawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5600

Abstract

Abstract. The increasing number of internet use in students is currently one of the factors that can make students experience problematic internet use. The use of the internet that can make students experience problematic internet use is related to the relationship between parents and peers, such as trust, good communication, and comfort called parent and peer attachment. This study aims to obtain empirical data on how much influence parents and peer attachments have on problematic internet use in students in the city of Bandung. This study used a quantitative approach with multiple regression analysis techniques conducted on 163 respondents of students aged 18-22 years. The measuring instrument used inventory of parent and peer attachment (IPPA) developed by Arsmden & Greenberg (1987) adapted by Claresta SA, and the generalized problematic internet use scale 2 (GPIUS 2) measuring instrument constructed by Caplan (2010) adapted by Nafisah and Halimah. The results showed that parent and peer attachments had an effect on problematic internet use by R2 = 0.059 or 50.9%. Peer attachment has a moderate influence of b = 0.455, parent attachment mother has a moderate influence of b = 0.388, while parent attachment father has a weak influence of b = 0.271 on problematic internet use. Abstrak. Meningkatnya jumlah penggunaan internet pada mahasiswa saat ini menjadi salah satu faktor yang dapat membuat mahasiswa mengalami problematic internet use. Penggunaan internet yang dapat membuat mahasiswa mengalami problematic internet use ini berkaitan dengan relasi antara orang tua dan juga teman sebaya, seperti rasa percaya, komunikasi yang baik, serta kenyamanan yang disebut dengan parent dan peer attachment. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang seberapa besar pengaruh parent dan peer attachment terhadap problematic internet use pada mahasiswa di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi berganda yang dilakukan kepada 163 responden mahasiswa usia 18-22 tahun. Alat ukur yang digunakan Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) yang dikembangkan oleh Arsmden & Greenberg (1987) yang diadaptasi oleh Claresta SA, dan alat ukur Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) yang dikonstruksikan oleh Caplan (2010) yang diadaptasi oleh Nafisah dan Halimah. Hasil penelitian menunjukkan parent dan peer attachment berpengaruh terhadap problematic internet use sebesar R2 = 0.059 atau 50.9%. Peer attachment memiliki pengaruh yang moderat sebesar b = 0.455, parent attachment Ibu memiliki pengaruh yang moderat sebesar b = 0.388, sedangkan parent attachment Ayah memiliki pengaruh yang lemah sebesar b = 0.271 terhadap problematic internet use.
Hubungan antara Basic PSychological Need dengan Pengabilan Keputusan Karir pada Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi SMK 11 Bandung aulia trisdaloka; Endang Supraptiningsih
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5601

Abstract

Abstract. Career decision making has an impact on human life, including adolescents. Career decision making in adolescents is influenced by internal and external factors. One of the internal factors in making career decisions is self-determination on aspects of basic psychological need. The phenomenon of class XI students majoring in accounting at SMK 11 Bandung shows that most students have not been able to make a decision because parents are still very instrumental in making their career decisions, where this affects the learning process of students at school even in the career plans that will be chosen. The purpose of this study was to determine the close relationship between Basic Psychological Need and Career Decision Making in class XI students majoring in Accounting at SMK 11 Bandung. This study uses the theory of Basic Psychological Need from Ryan & Deci (2017) and the theory of career decision making from Parsons (in Super 2010). This research uses quantitative research methods with correlational research methods. This study involved 101 students majoring in accounting with data collection using a questionnaire. The results of data analysis using Spearman rank correlation test. The results of this study indicate that there is a relationship (correlation) between Basic Psychological Need and Career Decision Making in class XI students majoring in accounting at SMK 11 Bandung with a correlation value of 0.795. That is, the higher the basic psychological need, the higher the career decision making. Abstrak. Pengambilan keputusan karir memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia termasuk pada remaja. Pengambilan keputusan karir pada remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal. Salah satu fakor internal dalam pengambilan keputusan karir adalah self determination pada aspek basic psychological need. Fenomena pada siswa kelas XI jurusan akuntansi SMK 11 Bandung menunjukan bahwa kebanyakan siswa belum mampu dalam mengambil sebuah keputusan karena dalam orang tua masih sangat berperan dalam pengambilan keputusan karir mereka, dimana hal ini mempengaruhi proses pembelajaran siswa disekolah bahkan dalam rencana karir yang akan dipilih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keeratan hubungan antara Basic Psychological Need dengan Pengambilan Keputusan Karir pada siswa kelas XI jurusan Akuntansi SMK 11 Bandung. Pada penelitian ini menggunakan teori Basic Psychological Need dari Ryan & Deci (2017) dan teori pengambilan keputusan karir dari Parsons (dalam Super 2010). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan metode penelitian korelasional. Penelitian ini melibatkan 101 siswa jurusan akuntansi dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan (korelasi) antara Basic Psychological Need dengan Pengambilan Keputusan Karir pada siswa kelas XI jurusan akuntansi SMK 11 Bandung dengan nilai korelasi sebesar 0,795. Artinya, semakin tinggi basic psychological need maka semakin tinggi pula pengambilan keputusan karir.
Pengaruh Playful Work Design terhadap Work Engagement pada Dosen Bima Satria Nugraha; Hendro Prakoso
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5604

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to determine how much influence the playful work design has on work engagement in lecturers. This research method is quantitative with a causality research design. The sample in this study was 95 lecturers from Bandung Islamic University, Indonesian Education University, and Pasundan University. The measuring instrument used is the Playful Work Design Scale developed by Scharp Bakker et al (2021) and the Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES- 17) from Schaufeli & Bakker (2002) adapted by Sutisna et al (2020). The results of the study show that playful work design has a major influence on work engagement by 60.4% with the aspect that provides the greatest contribution, namely designing competition on work engagement in the participants of this study. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari playful work design terhadap work engagement pada Dosen. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 95 dosen yang berasal dari Universitas Islam Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Pasundan. Alat ukur yang digunakan yaitu Playful Work Design Scale yang dikembangkan oleh Scharp Bakker et al (2021) dan Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) dari Schaufeli & Bakker (2002) yang diadaptasi oleh Sutisna et al (2020). Hasil penelitian menunjukan bahwa playful work design memberikan pengaruh besar terhadap work engagement sebesar 60,4% dengan aspek yang memberikan kontribusi paling besar yaitu designing competition terhadap work engagement pada partisipan dosen penelitian ini.
Studi Deskriptif mengenai Mental Toughness pada Atlet Bola Basket Porda 2022 hilmi abdurachman; Hedi Wahyudi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5700

Abstract

An athlete in achieving achievement cannot be separated from sports coaching. Porda is a benchmark for the results of regional athlete sports coaching. Although basketball is an underdog sport, basketball athletes from West Bandung Regency can prove that they are capable of achieving achievements on the group stage. It requires physical, technical, and mental abilities. Basketball athletes can control and direct actions to achieve achievement, and see obstacles as opportunities to develop themselves. Mental toughness is an individual's ability to handle stress, pressure, and challenges by displaying the best abilities they have in various situations they face. The purpose of this study was to obtain data regarding the mental toughness of basketball athletes in West Bandung Regency for 2022. The research method used was descriptive. This research was conducted on 24 basketball athletes in West Bandung Regency. The measuring instrument used is a mental toughness questionnaire (MTQ) modified by Faisal (2019) based on the concept of mental toughness theory from Peter Clough (2012). The results showed that 14 athletes had high mental toughness scores and 10 athletes had low mental toughness scores. Seorang atlet dalam mencapai prestasi tidak lepas dari pembinaan olahraga. Porda menjadi tolak ukur hasil pembinaan olahraga atlet daerah. Meskipun olahraga bola basket adalah cabang olahraga yang tidak diunggulkan, atlet bola basket Kabupaten Bandung Barat dapat membuktikan bahwa mereka mampu meraih prestasi pada babak penyisihan grup. Hal tersebut membutuhkan kemampuan fisik, teknik, dan mental. Para atlet bola basket mampu mengendalikan dan mengarahkan tindakan untuk meraih prestasi, serta memandang hambatan sebagai peluang untuk mengembangkan diri. Mental toughness adalah kemampuan individu dalam menangani stres, tekanan, dan tantangan dengan menampilkan kemampuan terbaik yang dimiliki dalam berbagai situasi yang dihadapi. Tujuan dalam penelitian ini adalah memperoleh data mengenai gambaran mental toughness pada atlet bola basket Kabupaten Bandung Barat porda 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian ini dilakukan terhadap 24 atlet Bola Basket di Kabupaten Bandung Barat. Alat ukur yang digunakan adalah mental toughness questioner (MTQ) yang dimodifikasi oleh Faisal (2019) berdasarkan konsep teori mental toughness dari Peter Clough (2012). Hasil penelitian diperoleh data sebanyak 14 orang atlet memiliki skor mental toughness yang tinggi dan terdapat 10 orang atlet yang memiliki skor mental tougness yang rendah.
Pengaruh Motivasi Akademik terhadap Kematangan Karir Vironica Andesta Meyshera; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5780

Abstract

Abstract. Vocational High School students are classified as teenagers who have demands to be able to make decisions related to their future careers, while Vocational Schools are school institutions that have the goal of preparing graduates to have special skills and be absorbed in the world of work. In the learning process at Vocational Schools, the role of academic motivation is needed for students who play a role in fostering enthusiasm and passion for learning so that they are able to provide satisfactory results related to the goals of the vocational school itself (competent in the field of expertise and ready to go into the world of work). This study aims to examine the effect of academic motivation on the career maturity of students in grades XII and XIII at SMKNs throughout the city of Bandung, using a quantitative approach and causality research. The measuring instrument using the Academic Motivational Scale was constructed by Natalya referring to Valler's theory and on the basis of Ryan & Deci's Self Determination Theory. Career Maturity is measured using a career maturity instrument, which was constructed by Dewi Sartika based on Super theory. Data analysis used a simple regression test with 1,341 respondents. The results of the analysis show that the R Square value of academic motivation on career maturity is 0.158. This means that academic motivation has an influence on career maturity of 15.8%. Abstrak. Pelajar SMK adalah tergolong pada masa remaja yang memiliki tuntutan untuk mampu membuat keputusan terkait karir masa depanya, sementara SMK adalah institusi sekolah yang memiliki tujuan untuk mempersiapkan lulusannya memiliki keahlian khusus dan terserap di dunia kerja. Dalam proses belajar di SMK dibutuhkan peranan motivasi akademik pada siswa yang berperan dalam menumbuhkan semangat serta gairah untuk belajar sehingga mampu memberikan hasil yang memuaskan terkait tujuan dari sekolah kejuruan itu sendiri (kompeten dalam bidang keahlian dan siap turun ke dunia kerja). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh motivasi akademik terhadap kematangan karir siswa kelas XII dan XIII SMKN se-Kota Bandung, dengan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian kausalitas. Alat ukur menggunakan Academic Motivational Scale dikonstuksi oleh Natalya mengacu pada teori Vallerand atas dasar Self Determination Theory Ryan & Deci. Kematangan Karir di ukur menggunakan instrumen kematangan karir, yang dikonstruksi oleh Dewi Sartika berlandaskan teori Super. Analisis data menggunakan uji regresi sederhana dengan responden berjumlah 1.341. Hasil analisis menunjukan nilai R Square motivasi akademik terhadap kematangan karir adalah 0,158. Artinya motivasi akademik memberikan kontribusi pengaruh terhadap kematangan karir sebesar 15,8%.
Pengaruh Loneliness terhadap Perilaku Cyberbullying pada Mahasiswa Jawa Barat Latisha Haifa Putri; Suliswoo Kusdiyati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5812

Abstract

Abstract. Technology continues to develop makes humans easier to do their activities, especially with the emergence of the internet which makes humans have other lives in cyberspace. Bullying is known rampant in Indonesia and West Java is known have a high level of bullying. However, along with the development of technology, bullying does not only occur directly but also occurs online or commonly known as cyberbullying. Loneliness known as a one of the predictors of cyberbullying, but there are other studies which state that loneliness is not correlated with cyberbullying. College student are in early adulthood phase which is known to be vulnerable to loneliness. This study aims to determine the effect of loneliness on the cyberbullying of west java college students. The method in this study uses causality method. The measuring instruments used are Social and Emotional Loneliness Scale Short Version (SELSA-S) by DiTommaso and Cyberbullying and Online Aggression Survey by Hinduja and Patchin. The respondents were 120 college students in west java. The study used a purposive sampling technique and the analytical technique used a multiple regression. The results showed that family loneliness subscale had a positive and significant effect on cyberbullying (p< .05; β= .358). the contribution of loneliness to cyberbullying is 17.2% (R2= .172), it means the cyberbullying variable can be explained by loneliness variable by 17.2% Keywords: College student, Cyberbullying, Loneliness Abstrak. Teknologi yang terus berkembang memudahkan manusia dalam beraktifitas, terutama dengan kemunculan internet yang membuat manusia memiliki kehidupan lain di dunia maya. Bullying diketahui marak terjadi di Indonesia dan Jawa Barat diketahui memiliki tingkat bullying yang tinggi. Namun seiring dengan perkembangan teknologi perilaku bullying ini tidak hanya terjadi secara langsung melainkan terjadi juga secara online atau yang biasa disebut dengan cyberbullying. Salah satu faktor prediktor perilaku cyberbullying ialah loneliness, namun terdapat penelitian lain yang menyatakan bahwa loneliness tidak berkorelasi dengan cyberbullying. Mahasiswa termasuk kedalam fase dewasa awal dan pada fase ini individu diketahui rentan mengalami loneliness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lonelinessterhadap perilaku cyberbullying pada mahasiswa di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kausalitas. Alat ukur yang digunakan adalah Social and Emotional Loneliness Scale Short Version (SELSA-S) yang dikembangkan oleh DiTommaso dan Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument yang dikembangkan oleh Hinduja dan Patchin. Penelitian dilakukan kepada 120 Mahasiswa di Jawa barat dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan analisis uji regresi berganda, dan didapatkan hasil family loneliness subscale berkontribusi positif dan signifikan terhadap cyberbullying (p< .05; β= .358). Kontribusi loneliness terhadap cyberbullying sebesar 17.2% (R2= .172), artinya cyberbullying dapat dijelaskan oleh variabel loneliness sebesar 17.2% Kata Kunci: Kesepian, Mahasiswa, Perundungan Siber
Hubungan Antara Self-Disclosure dengan Perilaku Cyberbullying Pada Pengguna Media Sosial Instagram Fenny Angraini Asmi; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5904

Abstract

Abstract. Instagram application can be used as an alternative in communicating, a expressing themselves and adding to the relationships. Activities that are often carried out by social media users are doing self-disclosure by sharing both in the form personal activities, complaints, both in the form of photos and videos. However, the characteristics of social media is ability to respond and give input that can cause cyberbullying. The purpose of this study was to determine how closely the relationship between self-disclosure and cyberbullying behavior on Instagram in emerging adulthood. The subjects in this study were 100 individuals in the age range of 18-25 years who used Instagram in Bandung. The instruments used in this research are Revised Self-Disclosure Scales (RSDS) from Wheeless (1986) which was adapted by Fauzia (2019) and Revised Cyber Bullying-II (RCBI-II) which was adapted by Putri (2019). This study uses a quantitative method using the Spearman correlation test technique. The result of this study indicate that there is a fairly close positive relationship between self-disclosure and cyberbullying behavior in emerging adulthood of 0,405. Abstrak. Aplikasi Instagram dapat digunakan sebagai alternatif dalam berkomunikasi, wadah mengekspresikan diri dan menambah relasi. Aktivitas yang kerap dilakukan para pengguna media sosial yaitu melakukan self-disclosure dengan membagikan baik berupa kegiatan pribadi, curhatan, baik berupa foto maupun video. Namun adapun karakteristik dari media sosial yaitu adanya kemampuan untuk menanggapi dan memberi masukan yang dapat menyebabkan terjadinya cyberbullying. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara self-disclosure dengan perilaku cyberbullying di media sosial Instagram pada emerging adulthood. Subjek dalam penelitian ini adalah 100 individu pada rentang usia 18-25 tahun yang menggunakan media sosial Instagram di Kota Bandung. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Revised Self-Disclosure Scales (RSDS) dari Wheeless (1986) yang di adaptasi oleh Fauzia (2019) dan Revised Cyber Bullying-II (RCBI-II) yang diadaptasi oleh Putri (2019). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik uji korelasi Spearman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang cukup erat antara self-disclosure dengan perilaku cyberbullying pada emerging adulthood sebesar 0,405.