cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Hubungan antara Kesepian dengan Nomophobia pada Mahasiswa Universitas Islam Bandung Bunga Sesilya Gunawan; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.11643

Abstract

Abstract. Loneliness can happen to anyone. Loneliness is not just the absence of other people, more than that, individuals need the social relationships they desire. Individuals who experience loneliness will look for other escapes to reduce their feeling of loneliness. Using smartphones is a coping strategy used by most students to reduce their feelings of loneliness. However, excessive use of smartphones will trigger individuals to experience nomophobia (No-Mobile Phone Phobia). This research aims to find out how close the relationship is between Loneliness and Nomophobia in Bandung Islamic University Students. The sampling technique in this research is quota sampling with a research sample of 390 students. The research design used is quantitative correlational using statistical analysis of the Spearman rank test. The measuring instruments used are the UCLA Loneliness Scale Version 3 and NMP-Q (Nomophobia Questionnaire), each of which has been adapted into Indonesian. The results in this study show that there is a strong positive relationship between loneliness and Nomophobia, as shown by a correlation value of r = 0.544 and p < 0.01. Abstrak. Kesepian dapat terjadi kepada siapapun. Kesepian tidak hanya sekedar tidak ada orang lain lebih dari itu individu memerlukan hubungan sosial yang diinginkannya. Individu yang mengalami kesepian akan mencari pelarian lain untuk mengurangi rasa kesepiannya. Penggunaan smartphone merupakan strategi coping yang digunakan oleh kebanyakan mahasiswa untuk mengurangi rasa kesepiannya. Tetapi dengan menggunakan smartphone secra berlebihan ini akan memicu individu mengalami kecenderungan nomophobia (No-Mobile Phone Phobia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara Kesepian dengan Nomophobia pada Mahasiswa Universitas Islam Bandung. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu quota sampling dengan sampel penelitian sebanyak 390 mahasiswa. Desain penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional dengan menggunakan analisis statistik uji rank spearman. Alat ukur yang digunakan yaitu UCLA Loneliness Scale Version 3 dan NMP-Q (Nomophobia Questionnaire) yang masing masing telah diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia. Hasil dalam penelitian ini menunjukan adanya hubungan kuat yang positif antara kesepian dengan Nomophobia ditunjukan dengan nilai korelasi sebesar r = 0.544 dan p < 0.01.
Studi Kontribusi Workplace Spirituality terhadap Employee Well-Being pada Dosen Wanita Amalia Nur'aini Widyasari; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.11911

Abstract

Abstract. Workplace spirituality is the understanding of individuals as spiritual beings whose who need nurturing at work, with purpose and meaning in their work, and having a feeling of connection with others or the community at work (Ashmos & Duchon, 2000). Employee well-being is employee well-being related to employee feelings about satisfaction at work which can affect employee goals in showing the results achieved from their work (Page and Vella-Brodick, 2009). The purpose of the study was to examine how much workplace spirituality contributes to employee well-being in female lecturers at religious-based private universities in Bandung City. Using cross sectional study with multiple regression data analysis. The measuring instrument used is the Workplace Spirituality Scale by Ashmos & Duchon (2000) which has been adapted into the Indonesian version by Mubarak et al., (2022), while employee well-being uses the Employee Well-Being Scale (EWBS) measuring instrument developed by Zheng et al. (2015) which has been adapted into the Indonesian version by Rahmi et al., (2021). The results showed 96.3% of female lecturers had high workplace spirituality and 86.1% of female lecturers had high employee well-being. In this study, workplace spirituality contributed 53.1% to employee well-being. Abstrak. Workplace spirituality adalah Pemahaman individu sebagai makhluk spiritual yang jiwanya membutuhkan pemeliharaan di tempat kerja, dengan tujuan dan makna pada pekerjaannya, dan memiliki perasaan terhubung dengan orang lain atau komunitas di tempat kerja (Ashmos & Duchon, 2000). Employee well-being adalah Kesejahteraan karyawan terkait perasaan karyawan mengenai kepuasaan saat bekerja yang dapat mempengaruhi tujuan karyawan dalam menunjukan hasil yang diraih dari pekerjaannya (Page dan Vella-Brodick, 2009). Tujuan penelitian untuk menguji seberapa besar kontribusi workplace spirituality terhadap employee well-being pada dosen wanita di perguruan tinggi swasta berbasis agama di Kota Bandung. Menggunakan metode kuantitatif kausalitas dengan analisis data regresi berganda. Alat ukur yang digunakan adalah Workplace Spirituality Scale oleh Ashmos & Duchon (2000) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Mubarak et al., (2022), sedangkan employee well-being menggunakan alat ukur Employee Well-Being Scale (EWBS) yang dikembangkan oleh Zheng et al. (2015) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Rahmi et al., (2021). Hasil penelitian menunjukkan 96.3% dosen wanita memiliki workplace spirituality yang tinggi dan 86.1% dosen wanita memiliki employee well-being yang tinggi. Dalam penelitian ini workplace spirituality memberikan kontribusi sebesar 53,1% terhadap employee well-being.
Hubungan Work Engagement terhadap Turnover Intention pada Karyawan PT. X Ita Djuita; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12381

Abstract

Abstract. This study aims to determine the relationship of work engagement to turnover intention in PT X employees. The method used in this research is quantitative method and data analysis using Pearson's Product Moment Correlation to see the relationship between two variables. The population of this study is PT X employees totalling 1932 employees with a research sample of 332 determined by simple random sampling technique. The work engagement measurement tool uses the Ultrech Work Engagement Scale (UWES) developed and translated by Schaufeli (2004) and adapted by Aditya (2022). Meanwhile, the turnover intention measurement tool used is a three-item turnover intention questionnaire developed by Mobley et al. (1978) which has been adapted by Abid & Butt (2017) and translated by Farhan Farisan (2022) [17]. The results of this study indicate that work engagement and turnover intention have a negative relationship with a correlation coefficient value of -0.543 or with a percentage of 54.3%. This means that the high work engagement of PT X employees can reduce the turnover intention of PT X employees. The results also show that the level of work engagement in PT X employees is classified in the high category (61.7%) and turnover intention is in the low category (53.6%). Meanwhile, the aspect of work engagement that has the strongest negative relationship with turnover intention is absorption (50.6%). Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan work engagement terhadap turnover intention pada karyawan PT. X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dan analisis data menggunakan Product Moment Correlation Pearson untuk melihat hubungan dua variable. Populasi penelitian ini yaitu karyawan kantor pusat PT. X yang berjumlah 1932 karyawan dengan sampel penelitian sebanyak 332 ditentukan dengan teknik simple random sampling. Alat ukur work engagement menggunakan Ultrech Work Engagement Scale (UWES) yang dikembangkan dan diterjemahkan oleh Schaufeli (2004) dan diadaptasi oleh Aditya (2022). Sementara itu, alat ukur turnover intention yang digunakan merupakan three-item turnover intent questionnaire yang dikembangkan oleh Mobley et al. (1978) yang telah diadaptasi oleh Abid & Butt (2017) dan diterjemahkan oleh Farhan Farisan (2022) [17]. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa work engagement dan turnover intention memiliki hubungan yang negatif dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0.543 atau dengan presentase sebesar 54,3%. Artinya tingginya work engagement yang dimiliki karyawan PT. X dapat menurunkan turnover intention karyawan PT. X. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat work engagement pada karyawan PT. X tergolong dalam kategori tinggi (61,7%) dan turnover intention berada pada kategori rendah (53,6%). Sementara itu, aspek dari work engagement yang memiliki hubungan negatif paling kuat terhadap turnover intention adalah absorption (50,6%).
Kesejahteraan Psikologis Wanita Lajang di indonesia Mulyani, Ailia; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12459

Abstract

Abstract. The number of singlehood increases every year in Indonesia. Stigma is an inherent part of singlehood. People often label singlehood as spinsters or unmarketable. This can affect the psychological well-being of singlehood. This study aims to explore articles on psychological well-being in single women in Indonesia using the scoping review method. The researcher searched for articles related to the research theme on Google Scholar, Scopus, Sagepub and SpringerLink. Articles with themes related to the psychological well-being of singlehood were obtained with publications in the time span of 2012 to 2023 in the form of Indonesian and English scientific articles. A total of 50 articles were identified from the searches in the four databases. After selection, the number of articles used in this study was 11. The results of several articles show that the stigma circulating in society affects the psychological well-being of singlehood. In addition, psychological well-being in single women is influenced by loneliness and perceived social support. Loneliness is felt in the form of anxiety and feeling uncomfortable with their single status. Loneliness and depression are also experienced by single women due to the negative stigma from society. In addition, factors that affect psychological well-being are good social relations, having productive activities, support from family and the surrounding environment. Abstrak. Peningkatan angka melajang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Stigma merupakan bagian yang melekat pada wanita lajang. Masyarakat sering kali menjuluki wanita lajang sebagai perawan tua ataupun tidak laku. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis wanita lajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi artikel mengenai kesejahteraan psikologis pada wanita lajang di Indonesia dengan menggunakan metode scoping review. Peneliti mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan tema penelitian pada Google Scholar, Scopus, Sagepub dan SpringerLink. Artikel-artikel dengan tema terkait kesejahteraan psikologis wanita lajang didapatkan dengan publikasi dalam rentang waktu 2012 hingga 2023 berbentuk artikel ilmiah berbahasa Indonesia maupun Inggris. Total 50 artikel diidentifikasi dari penelusuran di empat database. Setelah melakukan seleksi, jumlah artikel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 11 artikel. Hasil dari beberapa artikel menunjukan bahwa stigma yang beredar di masyarakat mempengaruhi kesejahteraan psikologis wanita lajang. Selain itu kesejahteraan psikologis pada wanita lajang dipengaruhi oleh kesepian dan dukungan sosial yang dirasakan. Kesepian dirasakan dalam bentuk cemas dan merasa tidak nyaman dengan status lajangnya. Rasa kesepian dan tertekan juga dialami wanita lajang akibat adanya stigma negatif dari masyarakat. Selain itu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yaitu relasi sosial yang baik, memiliki kegiatan yang produktif, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Pengaruh Work Study Conflict terhadap Work Engagement pada Mahasiswa Pekerja Part Time di Coffee Shop Kota Bandung Citra Ayu Purnama Sari; Temi Damayanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12463

Abstract

Abstract. Coffee shops are one of the business sectors that students choose to do part time. Students who work will have two different demands which can cause work study conflicts. Work study conflict is an experience when the demands and responsibilities of work interfere with a person's ability to handle the demands and responsibilities of education. Apart from demands on studies, students have demands for responsibility at work regarding their work performance. Work engagement is something positive that is related to behavior at work which includes thoughts about the relationship between workers or employees and their work, which is characterized by vigor, dedication, and absorption in work. This research aims to obtain empirical data regarding the influence of work-study conflict on work engagement among part-time students in Bandung city coffee shops with 100 part-time students in Bandung city coffee shops as respondents. This research was conducted using the Work-study conflict measuring instrument which refers to the theory of Markel & Frone (1998) and using the UWES measuring instrument which consists of 17 items which is a development of the measuring instrument from Schaufeli et al., (2010). The sampling technique used is the convenience sampling technique. The method used is a quantitative causality method with simple linear regression analysis techniques. The results of this research show that the large contribution of the influence of work-study conflict (X) on work engagement (Y) among part-time students in coffee shops in the city of Bandung can be seen through the coefficient of determination of 8.80%, which means that work-study conflict has an insignificant effect on work engagement. Abstrak. Coffee shop meurpakkan salah satu sektor usaha yang dipillih mahasiswa untuk melakukan part time. Mahasiswa yang bekerja akan memiliki dua tuntutan berbeda yang dapat menimbulkan work study conflict. Work study conflict merupakan pengalaman ketika tuntutan dan tanggung jawab dalam pekerjaan mengganggu kemampuan seseorang dalam tuntutan dan tanggung jawab dalam pendidikan. Selain tuntutan pada studi, mahasiswa memiliki tuntutan tanggung jawab pada tempat bekerja bagaimana performa kinerja terhadap pekerjaannya. Work engagement adalah sesuatu yang bersifat positif yang berkaitan dengan perilaku dalam pekerjaan yang meliputi pikiran mengenai hubungan antara pekerja atau karyawan dengan pekerjaannya, yang ditandai dengan vigor, dedication, absorption dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris mengenai pengaruh work study conflict terhadap work engagement pada mahasiswa part time di coffee shop kota Bandung dengan responden sebanyak 100 orang mahasiswa part time di coffee shop kota Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur work study conflict yang mengacu pada teori Markel & Frone (1998) dan menggunakan alat ukur UWES yang terdiri dari 17 item yang merupakan pengembangan alat ukur dari Schaufeli et al., (2010). Teknik sampling yang digunakan teknik convenience sampling. Metode yang digunakan metode kuantitatif kausalitas dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan besarnya kontribusi pengaruh work study conflict (X) terhadap work engagement (Y) pada mahasiswa part time di coffee shop kota Bandung dapat diketahui melalui koefisien determinasi 8,80% yang artinya work study conflict berpengaruh tidak signifikan terhadap work engagement.
Pengaruh Co-Worker Support terhadap Work-Family Conflict pada Perawat Wanita Rafi Muhammad Harits; Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12475

Abstract

Abstract. Studies have shown that working women are particularly at risk of experiencing work-family conflict. Various efforts can be made to reduce the impact of work-family conflict. One of them is with positive support from co-workers. This study aims to determine how much influence co-worker support has on work-family conflict in female inpatient nurses at Cibabat Hospital. The sample size of this study was 30 female nurses in the inpatient room of Cibabat Hospital who have children under 10 years old. The research method used is non-experimental causality using a quantitative approach and multiple regression data analysis. The measuring instrument used is Sarafino & Smith's co-worker support scale which has been adapted by Puspita Wibawa E. P. While work-family conflict uses Carlson, Kacmar, & William's work-family conflict scale which has been adapted by Kuntari. The results showed that 93.3% of female nurses had high co-worker support and 6.7% of female nurses had high work-family conflict. Based on the results of multiple regression analysis, it is found that co-worker support has a major effect on work- family conflict, which is 44.9%. Abstrak. Berbagai studi telah menunjukan bahwa wanita yang bekerja sangat beresiko untuk mengalami work-family conflict. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak work-family conflict. Salah satunya adalah dengan dukungan positif dari rekan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh co-worker support terhadap work-family conflict pada perawat wanita ruang rawat inap di RSUD Cibabat. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 30 perawat wanita ruang rawat inap RSUD Cibabat yang memiliki anak usia dibawah 10 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah kausalitas non- eksperimen dengan menggunakan pendekatan kuantitatif serta analisis data multiple regression. Alat ukur yang digunakan adalah co-worker support scale milik Sarafino & Smith yang telah diadaptasi oleh Puspita Wibawa E. P. Sedangkan work-family conflict menggunakan alat ukur work-family conflict scale milik Carlson, Kacmar, & William yang telah diadaptasi oleh Kuntari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93.3% perawat wanita memiliki co-worker support tinggi dan 6,7% perawat wanita memiliki work-family conflict yang tinggi. Berdasarkan hasil analisis multiple regression didapatkan bahwa co-worker support berpengaruh besar terhadap work- family conflict yaitu sebesar 44,9%.
Studi Deskriptif Persepsi Guru, Orang Tua, dan Siswa Mengenai Perilaku Bullying di Sekolah Dasar Haqoni Jannati Adnin; Halimah, Lilim
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12476

Abstract

Abstract. The current behavior of bullying remains a major problem for education in Indonesia. There are many factors that contribute to the occurrence of bullying behavior. Teachers and parents have varying ways of responding to and handling bullying behavior. As an observer, the way teachers and parents respond to and handle bullying behavior begins with their perception of bullying behavior. This study aims to find out the perceptions of teachers, parents, and students about bullying behavior. This research uses a qualitative approach with data collection using interview methods on 14 respondents, namely 5 teachers, 4 parents, and 5 students. The results showed that the perceptions of teachers and parents have similarities regarding the meaning of bullying behavior, the causes of bullying behavior, and the impact of bullying behavior, but they both do not yet understand the types of bullying behavior and how to handle bullying behavior effectively. On the other hand, students do not understand the meaning of bullying behavior and the types of bullying behavior. However, they are brave enough to report the perpetrator to the school. According to teachers and parents, the handling given is effective in reducing bullying behavior, while according to students, the handling is not enough to stop bullying behavior in schools. Differences in the perceptions of teachers, parents, and students can be influenced by individual differences and cultural influences. Abstrak. Perilaku bullying saat ini masih menjadi permasalahan besar bagi pendidikan di Indonesia. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying. Guru dan orang tua memiliki cara yang beragam dalam menanggapi dan menangani perilaku bullying. Sebagai pengamat, cara guru dan orang tua menanggapi dan menangani perilaku bullying diawali dari persepsi mereka mengenai perilaku bullying. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu persepsi guru, orang tua, dan siswa mengenai perilaku bullying. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara terhadap 14 orang responden yaitu 5 orang guru, 4 orang tua, dan 5 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru dan orang tua memiliki kesamaan mengenai pemaknaan perilaku bullying, penyebab terjadinya perilaku bullying, dan dampak perilaku bullying, tetapi keduanya belum memahami tipe-tipe perilaku bullying dan cara menangani perilaku bullying secara efektif. Disisi lain siswa tidak memahami makna dari perilaku bullying dan tipe-tipe perilaku bullying. Tetapi untuk penanganan siswa berani melaporkan pelaku pada pihak sekolah. Menurut guru dan orang tua bahwa penanganan yang diberikan cukup efektif mengurangi perilaku bullying, sedangkan menurut siswa bahwa penanganan yang dilakukan tidak menghentikan perilaku bullying di sekolah. Perbedaan persepsi guru, orang tua, dan siswa dapat dipengaruhi oleh perbedaan individu dan pengaruh budaya.
The Relationship Between Social Support and Subjective Well Being in Early College Students at Bandung Islamic University Kamilah, Nadiefa; Budiman, Agus
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.12478

Abstract

Abstract. Early college students are faced with changes such as moving to a higher education structure, a new learning system, and interaction with a wider environment. Early college students are also in the transition from late adolescence to early adulthood. The changes that occur in these students cause various feelings ranging from happy, sad to lonely, this can be a threat to students because subjective well being helps them to perform well. Subjective well being is related to social support, where with social support students are expected to have good subjective well being. The problems in this study are: (1) How’s the description of subjective well being in early level students at faculty of psychology UNISBA? (2) How’s the description of social support in early level students at faculty of psychology UNISBA? (3) How’s the level of relationship between social support and subjective well being in early level students at UNISBA?. The research design uses a quantitative method approach with a correlational type.The population in this study were early semester active students at the faculty of psychology UNISBA with 70 active students in 2nd semester as the sample, with simple random sampling technique. Data collection techniques used were questionnaires and observations. Data analysis technique used is simple regression analysis technique. The results of this study are: there is a positive relationship between social support and subjective well being. There are 31% of students have a high level of social support and subjective well being. Abstrak. Mahasiswa tingkat awal dihadapkan pada perubahan seperti perpindahan ke struktur pendidikan yang lebih tinggi, sistem pendidikan yang baru, hingga interaksi lingkungan yang lebih luas. Mahasiswa tingkat awal juga berada pada masa transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Adanya perubahan pada mahasiswa ini bisa menimbulkan berbagai perasaan dari mulai bahagia, sedih hingga kesepian. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi subjective well being mahasiswa karena subjective well being membantu untuk berprestasi dengan baik. Subjective well being berkaitan dengan dukungan sosial. Adanya dukungan sosial mahasiswa diharapkan memiliki subjective well being yang baik. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana gambaran subjective well being pada mahasiswa tingkat awal di fakultas psikologi UNISBA? (2)Bagaimana gambaran dukungan sosial pada mahasiswa tingkat awal di fakultas psikologi UNISBA? (3)Bagaimana tingkat hubungan antara dukungan sosial dengan subjective well being pada mahasiswa tingkat awal di UNISBA?. Desain penelitian menggunakan pendekatan metode kuantitatif dengan jenis korelasional. Populasi penelitian merupakan mahasiswa aktif fakultas psikologi semester awal di UNISBA dengan 70 orang mahasiswa aktif semester 2 sebagai sampelnya, menggunakan teknik sampel simple random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil dari penelitian ini adalah: terdapat hubungan positif antara social support dengan subjective well being. Sebanyak 31% mahasiswa memiliki tingkat social support dan tingkat subjective well being yang tinggi.
Pengaruh Loneliness terhadap Self Esteem pada Pengguna Aplikasi Bumble Febriani Purnama Dewi; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12715

Abstract

Abstract. Self esteem refers to an individual's evaluation of themselves, encompassing both positive and negative attitudes, and has a significant impact on psychological well being. Loneliness is a mental condition characterized by feelings of emptiness and isolation. Previous research has shown a negative relationship between loneliness and self esteem, indicating that individuals experiencing loneliness often suffer from a decrease in self-esteem. In the modern social era, the use of dating applications has become increasingly popular among the younger generation, including the "Bumble" application. According to research conducted by Triwahyuningsih (2017) on the use of the Bumble application and its correlation with loneliness, the main motive for using Bumble is to overcome loneliness due to a lack of social interaction. Therefore, this study was conducted to examine how strongly loneliness influences self-esteem among Bumble application users. This research employs a quantitative approach with causal studies to determine the cause-and-effect relationship between variables. The study uses the Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) to measure self-esteem and the UCLA Loneliness Scale to measure loneliness. The population of this study consists of university students who use the Bumble application and reside in Bandung, with a total sample of 173 individuals. The data analysis employed is simple linear regression. The data processing results show an R2 value of 0.230, indicating that loneliness only affects self esteem by 23%, which falls into the category of weak or not very strong influence. Abstrak. Self esteem mengacu pada penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup sikap positif dan negatif, dan berpengaruh besar pada kesejahteraan psikologis. Loneliness merupakan kondisi mental yang ditandai dengan perasaan hampa dan isolasi yang dirasakan seseorang. Penelitian sebelumnya menunjukkan terdapat hubungan negatif diantara loneliness dan self esteem, yaitu ketika inidividu merasa loneliness sering mengalami penurunan self esteem. Dalam era sosial modern, penggunaan aplikasi kencan semakin populer di kalangan generasi muda, diantaranya aplikasi “Bumble”. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Triguswinri (2022) mengenai penggunaan aplikasi Bumble yang berkorelasi dengan loneliness motif utama penggunaan Bumble adalah untuk mengatasi loneliness karena kurangnya interaksi sosial. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk melihat sebarapa kuat pengaruh loneliness terhadap self esteem pada pengguna aplikasi Bumble. Metode penelitian ini menggunakan pendekatakan kuantitatif dengan studi klausal untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antar variable. Penelitian ini menggunakan alat ukur Rosenberg Self esteem scale (RSES) untuk mengukur self esteem dan UCLA Loneliness Scale untuk mengukur loneliness. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa pengguna aplikasi Bumble yang berdomisili di Bandung dengan total sampel yang didapat sebanyak 173 orang. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Hasil pengolahan data menunjukan nilai R2 = 0.230 yang artinya loneliness hanya berpengaruh 23% terhadap self esteem dan termasuk dalam kategori berpengaruh lemah atau tidak begitu kuat.
Hubungan antara Self-Esteem dengan Hubungan Parasosial pada NCTzen Dewasa Awal Dianita Rahma; Hedi Wahyudi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12717

Abstract

Abstract. Parasocial relationships refer to fans reactions towards their idols, resulting in feelings of closeness and attachment. The age range that finds parasocial relationships preferable to feeling isolated is early adulthood, as individuals who fail to form intimate and close relationships with others may feel isolated. The experience in parasocial relationships involves an illusion of intimacy, leading one to experience fantasies that differ from real-life situations. The discrepancy between real-life situations and desired situations causes low self-esteem. This study aims to determine the strength of the relationship between self-esteem and parasocial relationships among early adult NCTzens residing in Bandung. The research method used is a quantitative approach, with data collection through questionnaires. The measuring instruments used are the Rosenberg Self-esteem Scale (RSES), adapted to Indonesian by Maroqi (2018), and a tool constructed by Nur'afifah, Farida, and Lestari (2019) based on Schramm and Hartmann's (2008) parasocial relationship theory. The sampling technique used in this study is convenience sampling, with a sample of 254 respondents. Data analysis was performed using the Spearman's Rho correlation test. The results show a significant negative relationship, indicated by 0.004<0.05, between the variables of self-esteem and parasocial relationships among early adult Bandung NCTzens, with a correlation coefficient of -0.180, indicating a very low strength of correlation. Thus, the lower the level of self-esteem, the higher the level of parasocial relationships. Abstrak. Hubungan parasosial adalah interaksi yang mengacu pada reaksi penggemar terhadap idola, sehingga merasakan keakraban dan kelekatan. Rentang usia yang merasa lebih baik memiliki hubungan parasosial daripada merasa terisolasi yaitu usia dewasa awal, karena seseorang yang gagal dalam membentuk hubungan yang intim, maka ia akan merasa terisolasi. Pengalaman dalam hubungan parasosial melibatkan ilusi keintiman sehingga membuat seseorang mengalami fantasi yang berbeda dari situasi kehidupan nyata. Perbedaan situasi dalam kehidupan nyata dengan situasi yang diinginkan menyebabkan rendahnya self-esteem. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa erat hubungan antara self-esteem dengan hubungan parasosial pada NCTzen dewasa awal berdomisi Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Alat ukur yang digunakan yaitu Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) yang telah diadaptasikan ke Bahasa Indonesia oleh Maroqi (2018) dan alat ukur yang dikonstruk oleh Nur’afifah, Farida, dan Lestari (2019) berdasarkan teori hubungan parasosial Schramm dan Hartmann (2008). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu convenience sampling dengan sampel sebanyak 254 responden. Analisis data dilakukan dengan teknik uji korelasi Rho Spearman. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan yang ditunjukkan dengan 0.004 < 0.05 antara variabel self-esteem dengan hubungan parasosial pada NCTzen dewasa awal berdomisili Bandung dan angka koefisien korelasi sebesar -0.180, artinya tngkat kekuatan hubungan sangat rendah. Dengan demikian, semakin rendahnya tingkat self-esteem, maka semakin tingginya tingkat hubugan parasosial.