cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Hubungan antara Stres Akademik dan Adiksi Internet dengan Self-control sebagai Moderator Siti Annisa Nugraheni; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12763

Abstract

Abstract. Studies that discuss the relationship between academic stress and internet addiction produce varying strengths of the relationship ranging from weak to strong. The study was conducted to see whether the role of self-control as a moderator variable can affect the relationship between academic stress and internet addiction. This study used a quantitative approach with 104 participants from Bandung City University students who also live in Bandung City, aged 18-25 years, experiencing academic stress, and internet addiction according to Young's (2011) criteria. Data were collected by independently filling out questionnaires by respondents to measure research variables, Student-life stress inventory (SLSI) to measure academic stress, Internet Addiction Test (IAT) to measure internet addiction, and Brief Self-control Scale (BSCS) to measure self-control. From the data analysis, several results were found. First, academic stress is positively correlated with internet addiction. Second, self-control negatively moderated the relationship between academic stress and internet addiction among university students in Bandung City. The findings emphasise the predictor role of stress on internet addiction and the role of self-control in the relationship between the two variables, and also provide insights into interventions in college students' excessive internet use behaviour for educators and practitioners, such as reducing academic stress levels and increasing self-control abilities. Abstrak. Penelitian-penelitian yang membahas hubungan antara stres akademik dan adiksi internet menghasilkan kekuatan hubungan yang bervariasi mulai dari lemah hingga kuat. Penelitian dilakukan untuk melihat apakah peran self-control sebagai variabel moderator dapat memengaruhi hubungan antara stres akademik dan adiksi intenet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan berjumlah 104 mahasiswa Perguruan Tinggi Kota Bandung yang juga berdomisili di Kota Bandung, berusia 18–25 tahun, mengalami stres akademik, dan adiksi internet sesuai kriteria Young (2011). Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner secara mandiri oleh responden untuk mengukur variabel penelitian, Student-life stress inventory (SLSI) untuk mengukur stres akademik, Internet Addiction Test (IAT) untuk mengukur adiksi internet, dan Brief Self-control Scale (BSCS) untuk mengukur self-control. Dari hasil analisis data ditemukan beberapa hasil. Pertama, stres akademik berkorelasi positif dengan adiksi internet. Kedua, self-control memoderasi secara negatif hubungan antara stres akademik dan adiksi internet pada mahasiswa di Kota Bandung. Temuan ini menekankan peran prediktor stres terhadap adiksi internet dan peran self-control dalam hubungan kedua variabel tersebut, dan juga memberikan wawasan tentang intervensi dalam perilaku penggunaan internet yang berlebihan oleh mahasiswa bagi para pendidik maupun praktisi, seperti mengurangi tingkat stres akademik dan meningkatkan kemampuan self-control.
Pengaruh Internalisasi Tubuh Kurus Ideal terhadap Ketidakpuasan Bentuk Tubuh pada Wanita Dewasa Awal Pengguna Instagram M. Ghani Denfiana; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12764

Abstract

Abstract. Many images on social media, especially Instagram, depict an ideal thin body. This behavior has a negative impact, creating the perception that their bodies are not ideal when compared to what they see. As a result, this can lead to dissatisfaction with their own body shape. This study aims to determine the influence of Thin Ideal Internalization on Body Dissatisfaction among early Adulthood Instagram Users. Researchers used a quantitative causality method with 391 subjects. The Body Dissatisfaction scale used the Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scale (MBSRQ – AS) from Cash & Pruzinsky (2002) which has been adapted by Jannah, (2022). Thin Ideal Internalization scale used The Sociocultural Attitudes Toward Appearance Questionnaire-3 (SATAQ-3) from Thompson & Heinberg (1999) which has been adapted by Nursyaifuddin (2016). This study shows that there is an influence of Internalization of the Ideal Thin Body on Body Dissatisfaction of 17.2%. Thin Ideal Internalization has a significance value below 0.05, so it can be concluded that Thin Ideal Internalization has a significant effect on Body Dissatisfaction. Abstrak. Banyak gambar di media sosial, terutama di Instagram, yang menampilkan tubuh ideal yang kurus. Perilaku ini berdampak negatif, menciptakan persepsi bahwa tubuh mereka tidak ideal jika dibandingkan dengan yang mereka lihat. Akibatnya, hal ini dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Internalisasi Tubuh Kurus Ideal Terhadap Ketidakpuasan bentuk tubuh Pada Wanita Dewasa Awal Pengguna Instagram. Peneliti menggunakan metode kuantitatif kausalitas dengan jumlah subjek 391. Skala alat ukur Ketidakpuasan bentuk tubuh menggunakan Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scale (MBSRQ – AS) dari Cash & Pruzinsky (2002) yang telah diadaptasi oleh Jannah, (2022). Skala alat ukur Internalisasi Tubuh Kurus Ideal menggunakan The Sociocultural Attitudes Toward Appearance Questionnaire-3 (SATAQ-3) dari Thompson & Heinberg (1999) yang telah diadaptasi oleh Nursyaifuddin (2016). Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh Internalisasi Tubuh Kurus Ideal terhadap Ketidakpuasan bentuk tubuh sebesar 17,2%. Internalisasi Tubuh Kurus Ideal memiliki nilai signfikansi dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Internalisasi Tubuh Kurus Ideal berpengaruh signifikan terhadap Ketidakpuasan bentuk tubuh.
Independent – Interdependent Self Construal pada Mahasiswa Kota Bandung Herkyles Surya Fadilah; Dewi Rosiana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12765

Abstract

Abstract. This study aims to comprehensively explore Self-Construal among university students in Bandung, considering their ethnic and cultural backgrounds. Comparisons of students' self-construal can influence whether they behave according to personal desires or follow academic demands. This study employs a mixed-methods approach with a sequential explanatory strategy (quantitative-qualitative-interpretation of both findings). The measuring instrument used is the Self-Construal Scale (SCS) (n = 24) which measures two dimensions, namely independent (0.88) and interdependent self-construal (0.89), as well as semi-structured questions. There were 276 respondents in the quantitative study and 10 subjects in the qualitative study, representing cultural variations including Sundanese, Makassarese, Javanese, and Betawi. Two main conclusions were drawn. First, Self-Construal among students showed significant differences regardless of ethnicity for each student. Second, when viewed by ethnicity, there were no significant differences among students. The qualitative findings indicate that most students follow the majority cultural group in the expectations of the academic environment, but have different values in viewing themselves and interpersonal dependence based on various situations. Cultural differences can influence students' self-perception of the diverse academic environment, affecting their social and intercultural skills. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Construal secara komprehensif pada mahasiswa Kota Bandung dengan memperhatikan latar belakang etnis budaya. Perbandingan self-construal mahasiswa dapat memengaruhi apakah mereka berprilaku sesuai keinginan pribadi atau mengikuti tuntutan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix metode dengan model sequential explanatory strategy (kuantitatif-kualitatif-inteprestasi kedua temuan). Alat ukur yang digunakan adalah Self-construal Scale (SCS) (n = 24) yang mengukur dua dimensi, yaitu independent (0,88) dan interdependent self-construal (0,89), serta pertanyaan semi-terstruktur. Terdapat 276 responden dalam studi kuantitatif dan 10 subjek dalam studi kualitatif, mewakili variasi budaya termasuk suku Sunda, Makasar, Jawa, dan Betawi. Menghasilkan dua kesimpulan utama. Pertama, Self Construal pada mahasiswa menunjukan perbedaan signifikan tanpa melihat kesukuannya pada setiap mahasiswa. Kedua, melihat pada kesukuannya menunjukan tidak ada perbedaan signifikan pada setiap mahasiswa. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengikuti suku budaya mayoritas dalam harapan lingkungan perkuliahan, namun memiliki nilai yang berbeda dalam melihat diri dan ketergantungan interpersonal berdasarkan situasi yang beragam. Perbedaan budaya dapat memengaruhi pandangan diri mahasiswa terhadap lingkungan perkuliahan yang beragam, memengaruhi keterampilan sosial dan interkultural mereka.
Pengaruh Stres Kerja terhadap Komitmen Organisasi Karyawan BPR Kota Bandung Muhammad Zidane Al Hidayat; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12766

Abstract

Abstract. Organizational commitment is generally based on employees' belief in various organizational values, their willingness to support the achievement of organizational goals, and their loyalty to remain committed to being part of the organization. One of the various factors that potentially influence organizational commitment is job stress. Job stress is a condition where individuals perceive or experience personal dysfunction due to situations encountered in their work environment. This study aims to determine the extent of the influence of job stress on the organizational commitment of employees at BPR Kota Bandung, with a total of 77 bank employees as subjects. A quantitative method is used as the approach in this study. The measurement tool utilized is the Job Stress Scale adapted from the scale by Adihsty Merilya Oya (2018), which is based on the theory by Parker & DeCotils (1983), encompassing two dimensions: time stress and anxiety. The Organizational Commitment Scale is based on the self-report scale proposed by Mowday et al. (1982), and adapted by Ingarianti (2017). The sampling technique employed is a saturated sample, where the entire population is used as the sample, making this study a population study. It was found that there is an influence between Job Stress and Organizational Commitment of 42.3%. Abstrak. Komitmen organisasi yang terbentuk umumnya didasarkan pada keyakinan karyawan terhadap berbagai nilai organisasi, kesediaan karyawan dalam mendukung tercapainya tujuan organisasi, serta loyalitas mereka untuk terus berkomitmen menjadi bagian dari organisasi. Satu di antara berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi komitmen organisasi adalah stres kerja. Stres kerja adalah kondisi di mana individu menyadari atau merasakan disfungsi personal akibat situasi yang dialami di lingkungan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Stres Kerja terhadap Komitmen Organisasi Karyawan BPR Kota Bandung dengan jumlah subjek 77 karyawan bank. Metode kuantitatif dipakai sebagai pendekatan dalam penelitian ini. Alat ukur yang dimanfaatkan yaitu Skala Stres Kerja yang di adaptasi dari skala milik Adihsty Merilya Oya (2018) yang disusun berdasarkan teori dari Parker & DeCotils (1983) yang meliputi 2 dimensi yakni time stress serta axienty. Alat ukur Komitmen Organisasi yang disusun berdasarkan self-report scale yang dikemukakan oleh Mowday et al., (1982), lalu diadaptasi oleh Ingarianti (2017). Teknik sampling yang dimanfaatkan yaitu sampel jenuh yang dimana keseluruhan dari populasinya dijadikan sampel sehingga penelitian ini termasuk dalam penelitian populasi. Bahwa terdapat pengaruh antara Stres Kerja dan Komitmen Organisasi sebesar 42,3%.
Pengaruh Self Concept tehadap Kematangan Karir Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP di Kota Bandung Putri Julieta Yasmine; Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12783

Abstract

Abstract. Individuals with low SES have limited range of aspirations in planning their career choices. However, students from lowest SES with positive Self Concept can achieve high Career Maturity compared to students with other SES strata. This study aims to examine how much contribution Self Concept has on Career Maturity of KIP Scholarship Students in Bandung. The data was collected using Google Form with a non-purposive snowball sampling technique to students (N = 100) aged 18-25 years who are currently pursuing Higher Education in Bandung. Self Concept were measured using the AF5 (Five-Factor Self-Concept) scale developed by Garcia-Grau et al (2014) which has been adapted into Indonesian by Putri (2020). Career Maturity were measured using the Career Maturity scale compiled by Dewi Sartika (2003) in Hadisti (2021). Linear regression analysis was used to examine how much contribution Self Concept has on Career Maturity with a determination coefficient value of 0.302, which has contibuted 30.2% with a Sig value of 0.007 (Sig. <0.05), which means that there is a significant contribution of the Self Concept variable on Career Maturity. Schools and universities need to pay attention to be able to provide effective career guidance so that students with low SES can show high Career Maturity. Abstrak. Individu dengan SES yang rendah memiliki jangkauan aspirasi yang lebih sempit dalam merencanakan pilihan karir mereka. Namun mahasiswa dari SES terendah dengan Self Concept yang positif dapat memperoleh Kematangan Karir yang tinggi dibandingkan dengan Mahasiswa dengan strata SES lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji seberapa besar pengaruh Self Concept terhadap Kematangan Karir Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan menggunakan Google Form dengan teknik sampling non purposive snowball kepada Mahasiswa (N=100) berusia 18-25 tahun yang sedang melaksanakan Pendidikan Tinggi di Kota Bandung. Self Concept diukur dengan AF5 (Five-Factor Self-Concept) scale yang dikembangkan oleh Garcia-Grau et al (2014) yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Putri (2020). Kematangan Karir diukur dengan menggunakan skala Kematangan Karir yang disusun oleh Dewi Sartika (2003) dalam Hadisti (2021). Analisis regresi linier digunakan untuk menguji seberapa besar pengaruh Self Concept terhadap Kematangan Karir dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0.302 yaitu berpengaruh sebesar 30.2% dengan nilai Sig 0.007 (Sig.<0.05) yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel Self Concept terhadap Kematangan Karir. Perlu diperhatikan oleh sekolah dan Perguruan Tinggi untuk dapat memberikan bimbingan karir yang efektif agar siswa dan Mahasiswa dengan SES yang rendah agar dapat menunjukkan Kematangan Karir yang tinggi.
Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organisasi pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Panawangan Hasybi Muhammad Azka; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12791

Abstract

Abstract. Organizational commitment is an indicator of how far an employee experiences a sense of unity with the organization. Organizational culture is a set of values ​​and practices that are shared and have developed rapidly over time, so that they really influence how an organization is run. This research aims to determine whether or not there is an influence of Organizational Culture on Organizational Commitment among health workers at the Panawangan Community Health Center, as well as to see how much it contributes. This research is quantitative research with a correlational approach. The subjects used were the entire population, namely health workers at the Panawangan health center. The respondents for this study consisted of 47 health workers at the Panawangan health center. Using the Organizational Culture measuring tool from Priandana (2016) and the Organizational Commitment measuring tool by Hatta (2019). The results of this research show that organizational culture contributes significantly to organizational commitment by 9.5%. Meanwhile, affective commitment has a positive correlation with organizational culture with a contribution of 31.5%. Abstrak. Komitmen organisasi merupakan indikator seberapa jauh seorang karyawan mengalami rasa kesatuan dengan organisasi. Budaya organisasi merupakan suatu nilai-nilai dan praktik-praktik yang dianut bersama dan telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan zaman sehingga benar-benar sangat mempengaruhi bagaimana sebuah organisasi dijalankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organisasi pada tenaga kesehatan di Puskesmas Panawangan, juga untuk melihat seberapa kontribusinya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis pendekatan korelasional. Subjek yang digunakan merupakan seluruh populasi yaitu tenaga kesehatan di puskesmas Panawangan. Responden penelitian ini terdiri dari 47 tenaga kesehatan di puskesmas Panawangan. Menggunakan alat ukur Budaya Organisasi dari Priandana (2016) dan alat ukur Komimen Organisasi oleh Hatta (2019). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Budaya organisasi berkontribusi secara signifikan terhadap komitmen organisasi sebesar 9.5%. Sedangkan komitmen afektif memiliki korelasi positif terhadap budaya organisasi dengan kontribusi sebesar 31.5%.
Studi Deskriptif tentang Pengambilan Keputusan pada Atlet Silat di Perguruan Tapak Suci Gorontalo Trizki Diva Maharani; Umar Yusuf
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12793

Abstract

Abstract. In the world of sports, particularly in martial arts like pencak silat, decision-making is a critical aspect that can significantly affect an athlete's performance. Based on this phenomenon, the research problem formulated is: "What is the description of decision-making among silat athletes at Tapak Suci Gorontalo?". The researcher used a descriptive method with a quantitative approach. The selected population for this study consisted of 67 athletes aged 12 – 21 years. Data collection techniques used in this study were questionnaires, observation, and literature review. The data analysis technique employed was descriptive analysis. The results of this study indicate that older age groups demonstrate better abilities in handling competition situations and making precise decisions. Abstrak. Dalam dunia olahraga, terutama pada cabang seni bela diri seperti pencak silat, pengambilan keputusan adalah aspek kritis yang dapat mempengaruhi performa atlet secara signifikan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka rumuasan permasalahan penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran pengambilan keputusan pada Atlet silat di Perguruan Tapak Suci Gorontalo?”. Peneliti menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah atlet yang berusia 12 – 21 tahun sebanyak 67 atlet. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, observasi dan studi pustaka. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini memberikan gambaran bahwa kelompok usia yang lebih matang menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi situasi pertandingan dan membuat keputusan yang tepat.
Pengaruh Work Family Conflict terhadap Komitmen Organisasi pada Single Mother di Kota Bandung Alya Nur Nisrina Suhendar; Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12797

Abstract

Abstract. In a globalized organizational world with high levels of competition, it cannot be denied that companies need employees who are qualified and committed to the company (Rini & Indrawati, 2019). Organizational commitment is a behavioral dimension to evaluate the continuity of employee commitment in the organization and the possibility of employees to survive and remain members of the organization. This is seen from three aspects: identification, involvement and loyalty as explained by Mowday et al., 1982. Factors involved which has the potential to influence organizational commitment is work family conflict. Work family conflict is a conflict between roles (interrole conflict) where demands in the work domain and the family domain clash with each other (Greenhaus & Beutell 1985). This research aims to determine the effect of work family conflict on organizational commitment among single mothers in the city of Bandung. This research is a non-experimental research that uses the causality method, involving 100 single mothers in the city of Bandung. Purposive sampling technique was used in this research as a sampling technique. Multiple linear regression was used to analyze the data in this study. The result is an R Square value = 0.287 with a sig value of 0.000 < 0.05. It can be interpreted that work family conflict has an effect of 28.7% on single mother organizational commitment in the city of Bandung. Abstrak. Dalam dunia organisasi yang mengglobal dengan tingginya tingkat persaingan, tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan membutuhkan karyawan yang berkualitas dan berkomitmen terhadap perusahaan (Rini & Indrawati, 2019). Komitmen organisasi merupakan dimensi perilaku untuk mengevaluasi kelangsungan komitmen karyawan dalam organisasi dan kemungkinan karyawan untuk bertahan dan tetap menjadi bagian dari anggota organisasi, hal ini dilihat dari tiga aspek: identifikasi, keterlibatan dan loyalitas seperti yang dijelaskan oleh Mowday et al., 1982. Faktor yang berpotensi memberikan pengaruh kepada komitmen organisasi adalah Work family conflict. Work family conflict merupakan konflik antar peran (interrole conflict) di mana tuntutan pada domain pekerjaan dan domain keluarga saling berbenturan (Greenhaus & Beutell 1985). Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh work family conflict terhadap komitmen organisasi pada single mother di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental yang menggunakan metode kausalitas, dengan melibatkan 100 single mother di Kota Bandung. Teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini sebagai teknik untuk pengambilan sampel. Regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis data pada penelitian ini. Hasilnya nilai R Square = 0.287 dengan nilai sig 0,000 < 0,05. Dapat diartikan work family conflict berpengaruh sebesar 28,7% terhadap komitmen organisasi single mother di Kota Bandung.
Pengaruh Gratitude terhadap Well-Being pada Remaja di Pondok Yatim Assalaam Bandung Yasmien Mumtaz; Agus Budiman
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12832

Abstract

Abstract. Well-being is important for adolescents to be able to help adolescents cope with the challenges of adaptation. Adolescence is a transitional period where there are physical or psychological changes that often cause problems. The role of the family is important for the development of adolescents. But, in fact, not all the lucky teens are, there are teens who have to live in an orphanage so that they grow up with the affection of an imperfect parent. The Orphanage Assalaam Bandung is one of the orphanages in Bandung. In addition to providing facilities, the orphanage has practices to realize visions and missions, such as religious education, softskill training, social upbuilding, physical training, and advancing the family. It makes teenagers feel grateful during their stay at the orphanage. They feel happy, engaged in activity, have good relationships with others, have meaning in life, can a goal or achievement. This research is intended to find out the influence of gratitude on well-being in teenagers in the Assalaam Bandung Orphanage. This research uses a quantitative approach. Analysis techniques used simple regression analysis techniques. The research is a population study with a total of 51 adolescent subjects. Data collection using a questionnaire based on the gratification theory of Emmons & Mccullough (2004) namely The Gratitude Questionnaire-six items (GQ-6) adapted by Qodariah (2019) and the well-being scale The Workplace PERMA Profiler from Butler & Kern (2016) adapted by Elfida et al., (2021) refers to the Seligman theory. (2011). The results of this study have an influence of gratitude on well-being of 16.9% in the teens of the Orphanage Assalaam Bandung. Abstrak. Well-being penting dimiliki remaja agar bisa membantu remaja dalam menghadapi tantangan yang akan datang secara adaptif. Remaja adalah masa transisi dimana adanya perubahan fisik ataupun psikologis yang sering menyebabkan masalah. Peran keluarga terlebih orang tua penting bagi perkembangan remaja. Tetapi, pada kenyataannya tidak semua remaja bernasib beruntung, ada remaja yang harus tinggal di panti asuhan sehingga tumbuh dengan kasih sayang orang tua yang tidak utuh. Pondok Yatim Assalaam Bandung merupakan salah satu panti asuhan di Bandung. Selain menyediakan fasilitas, panti asuhan ini memiliki pembiasaan untuk mewujudkan visi dan misi, seperti pembiasaan keagamaan, pelatihan softskill, pembinaan sosial, pelatihan fisik, serta mengedepankan kekeluargaan. Hal itu membuat remaja merasa bersyukur selama tinggal di panti asuhan. Mereka merasa senang, terlibat dalam aktifitas, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, memiliki makna hidup, bisa mencapai tujuan atau prestasi. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh gratitude terhadap well-being pada remaja Pondok Yatim Assalaam Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang dipakai teknik analisis regresi sederhana. Penelitian berbentuk studi populasi dengan subjek sejumlah 51 remaja. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dilandaskan pada teori gratitude dari Emmons & Mccullough (2004) yaitu The Gratitude Questionnaire-six item (GQ-6) yang sudah diadaptasi oleh Qodariah (2019) dan skala well-being yaitu The Workplace PERMA Profiler dari Butler & Kern (2016) yang sudah diadaptasi oleh Elfida et al., (2021) merujuk pada teori Seligman (2011). Hasil penelitian ini terdapat pengaruh gratitude terhadap well-being sebesar 16.9% pada remaja Pondok Yatim Assalaam Bandung.
Pengaruh Work Family Conflict terhadap Turnover Intention pada Dosen Wanita di Kota Bandung Radityo Satya Wicaksana; Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12836

Abstract

Abstract. Female lecturers are faced with various challenges and demands in the workplace.The scope of lecturers' duties in the teaching aspect is quite varied, starting from designing teaching syllabi according to class characteristics and different student characteristics, providing teaching, as well as compiling and evaluating student assignments, these demands are carried out simultaneously with taking care of the family which can cause conflict, especially for female lecturers. who plays a dual role as a mother and career woman. If work-family conflict is not handled, it can lead to turnover intention, namely someone's thoughts about leaving their current job. This research aims to examine the influence of Work Family Conflict on Turnover Intention among female lecturers in the city of Bandung. This research uses a quantitative causality approach with simple linear regression techniques and the subjects in this research were 355 people. The Work Family Conflict Scale measuring tool was compiled by Carlson, Kacmar, & William (2000) and has been adapted into Indonesian by Soca (2018) and the Turnover Intention measuring tool uses the Turnover Intention Scale based on the theory of Mobley, Horner, and Hollingsworth (1978) which consists of three aspects and was modified from the turnover intention scale of Yin-Fah (2010) and has been adapted into Indonesian by Gevia (2020). Apart from that, the coefficient of determination test shows an R-Square value of 0.463, so it can be said that the Work Family Conflict variable has a contribution of 46.3% to Turnover Intention, so it can be concluded that Work Family Conflict has a significant effect on Turnover Intention, the rest is influenced by other variables not examined in this research. Abstrak. Dosen wanita dihadapkan dengan berbagai tantangan dan tuntutan di tempat kerja.Cakupan tugas dosen dalam aspek pengajaran cukup bervariasi, dimulai merancang silabus pengajaran sesuai dengan karakteristik kelas dan karakteristik mahasiswa yang berbeda ,memberikan pengajaran, serta menyusun dan mengevaluasi tugas mahasiswa, tuntutan tersebut dilakukan secara bersamaan dengan mengurus keluarga yang mana dapat menimbulkan konflik terutama pada dosen wanita yang menjalani peran ganda sebagai ibu dan wanita karier. Work-family conflict yang dialami apabila tidak ditangani dapat mengarah ke turnover intention yaitu pemikiran seseorang untuk keluar dari pekerjaannya sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Work Family Conflict terhadap Turnover Intention pada dosen wanita di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas dengan teknik regresi linier sederhana dan subjek pada penelitian ini berjumlah 355 orang. Alat ukur Work Family Conflict Scale yang disusun oleh Carlson, Kacmar, & William (2000) dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Soca (2018) dan alat ukur Turnover Intention menggunakan dari Skala intensi turnover disusun berdasarkan teori dari Mobley, Horner, dan Hollingsworth (1978) yang terdiri dari tiga aspek dan dimodifikasi dari skala intensi turnover Yin-Fah (2010) dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gevia (2020). Selain itu pada uji koefisien determinasi menunjukkan nilai R-Square 0,463 sehingga dapat dikatakan bahwa variable Work Family Conflict memiliki kontribusi sebesar 46.3% pada Turnover Intention, sehingga dapat disimpulkan bahwa Work Family Conflict berpengaruh signifikan terhadap Turnover Intention,sisanya dipengaruhi variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.