Bandung Conference Series: Psychology Science
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
490 Documents
Studi Ableism pada Mahasiswa Muslim
Pramesti Noer Aliffah;
Hamdan, Stephani Raihana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10129
Abstract. Indonesia has implemented inclusive education that respects diversity and is non-discriminatory. On the other hand, people with disabilities in Indonesia still face obstacles in their social life such as discrimination against people with disabilities (ableism), especially in higher education. In Islam, Allah has created humans in the most perfect form. Islam emphasizes the value of deeds and good deeds rather than physical perfection, so Islam views people with disabilities and other humans equally, and also condemns all forms of discriminatory actions against people with disabilities. Everyone has the potential to be ableist to varying degrees, which can be high and low. In addition, ableism can be overt or covert (unconscious). Ableism in education will only create invisible barriers between people with disabilities and non-disabled people so that a climate of inclusivity is not created. This study aims to determine the level of ableism in Muslim students. This study used an online survey method involving 298 students of Bandung Islamic University. The measuring instrument used was the Symbolic Ableism Scale (Friedman & Awsumb, 2019) which was adapted into Indonesian by the researcher. The results of this study indicate that the level of ableism in non-disabled UNISBA students is low. The low level of ableism is owned by students who are female and have had direct interaction with people with disabilities, especially with physical disabilities. Abstrak. Indonesia telah menerapkan pendidikan inklusif yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif. Disisi lain, penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi hambatan dalam kehidupan sosialnya seperti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas (ableism), khususnya dalam mengenyam pendidikan tinggi. Dalam Islam, Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna. Islam menekankan nilai amal perbuatan dan perbuatan baik daripada kesempurnaan fisik, sehingga Islam memandang sama antara penyandang disabilitas dan manusia lainnya, juga mengecam segala bentuk tindakan diskriminatif terhadap penyandag disabilitas. Setiap orang memiliki potensi sebagai ableist dengan tingkatan yang bervariatif, dapat tinggi dan dapat pula rendah. Selain itu, ableist dapat bersifat secara terbuka atau secara tersembunyi (tidak disadari). Ableism di dalam pendidikan hanya akan membuat invisible barriers antara penyandang disabilitas dengan non-disabilitas sehingga iklim inklusivitas tidak tercipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ableism pada mahasiswa muslim. Penelitian ini menggunakan metode survei daring yang melibatkan 298 mahasiswa Universitas Islam Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Symbolic Ableism Scale (Friedman & Awsumb, 2019) yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat ableism pada mahasiswa non-disabilitas UNISBA tergolong rendah. Tingkat ableism yang rendah dimiliki oleh mahasiswa berjenis kelamin perempuan dan pernah berinteraksi langsung dengan penyandang disabilitas, terutama dengan jenis disabilitas fisik.
Studi Kontribusi Resilience at Work terhadap Burnout pada Guru SLB di Kota X
Raihan, Farhan Muhammad;
Mubarak, Ali
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10131
Abstract. Resilience at work is defined as an individual's capacity to manage challenging work situations such as daily work stress, bounce back, learn from unexpected setbacks, and proactively adapt to pursue opportunities for competency growth in preparing for future challenges (Malik & Garg, 201810). Burnout, according to Maslach (in Samsudin, 2013)1, is a prolonged experience of work-related stress characterized by exhaustion without a source for replenishing energy. This study aims to investigate whether there is a contribution between resilience at work and burnout among Special Education teachers in City X. The measurement tools used are Resilience at Work by Malik and Garg (2018)10 and Maslach-Trisni Burnout Inventory by Widhianingtanti and Luijtelaar (2023)9. The research method employed is quantitative research with multiple linear regression analysis. Based on the results of hypothesis testing, it was found that there is a significant contribution between resilience at work and burnout with an R Square of 23.5%. Moreover, the dominant aspect of resilience at work contributing to burnout is living authentically with a value of 53.96% Abstrak. Resilience at work didefinisikan sebagai kapasitas individu dalam mengelola situasi kerja yang menantang seperti stres kerja sehari-hari, bangkit kembali, dan belajar dari kemunduran yang tidak terduga serta adaptasi secara proaktif dalam mengejar peluang pertumbuhan kompetensi dalam mempersiapkan tantangan yang ada di masa depan (Malik & Garg, 2018)10. Burnout menurut Maslach (dalam Samsudin, 2013)1 merupakan stres kerja yang dialami oleh individu dalam jangka waktu yang lama yang ditandai dengan adanya kelelahan yang tinggi tanpa adanya sumber untuk mengisi ulang daya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi antara resilience at work terhadap burnout pada guru SLB di Kota X. Alat ukur yang digunakan Resilience at Work dari Malik dan Garg (2018)10 dan Maslach-Trisni Burnout Inventory dari Widhianingtanti dan Luijtelaar (2023)9. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil uji hipotesis, didapatkan bahwa terdapat kontribusi signifikan antara resilience at work terhadap burnout dengan R Square sebesar 23.5%. Lalu, aspek resilience at work yang paling bersar berkontribusi terhadap burnout adalah living authentically dengan nilai 53.96%
Stres Bertanding pada Atlet Renang di Kota Bandung
Hasna Zahra Rodhiyah;
Umar Yusuf Supriatna
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10132
Abstract. Bandung is one of the areas that contributes many outstanding swimming athletes. However, it is not uncommon for athletes to experience psychological conditions in the process or when facing competitions, namely competition stress. Competitive stress is an imbalance between the pressure received and the ability to deal with the pressure received. To minimize perceived stress, psychological strength such as patience is needed. Patience is the ability to handle, control and direct thoughts, feelings and actions to overcome difficulties. Patience is important for achieving professional success, because it will provide the calm needed to look for opportunities and carefully consider the activities that are carried out in the right way. This research aims to examine the effect of patience on the stress of competing swimming athletes in the city of Bandung. This research design uses non-experimental causality with a quantitative approach and the number of respondents is 55 athletes. Measurement uses a patience measuring tool compiled by Yusuf, U (2021) and competition stress uses a measuring tool compiled by Nurmalita (2015) which refers to the theory of Singgih (2008: 67-68) and Husdarta (2010: 70). The data analysis technique used is multiple regression technique. The results of the research show that there is an influence of patience with an R-square gain of 20.6% on competing stress in Bandung City swimming athletes and the most influential aspect is persistence. Abstrak. Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang banyak menyumbangkan atlet renang berprestasi. Namun, tak jarang dalam proses maupun ketika menghadapi pertandingan atlet mengalami kondisi psikologis yaitu stres bertanding. Stres bertanding adalah ketidakseimbangan antara tekanan yang didapatkan dengan kesanggupan untuk menghadapi tekanan yang diterima. Untuk meminimalisir stres yang dirasakan, diperlukan kekuatan psikologis seperti kesabaran. Kesabaran adalah kemampuan untuk menangani, mengendalikan, dan mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakan untuk mengatasi kesulitan. Kesabaran memiliki arti penting untuk mencapai kesuksesan profesional, karena akan memberi ketenangan yang dibutuhkan untuk mencari peluang serta mempertimbangkan secara matang tentang aktivitas yang dilakukannya dengan cara yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kesabaran terhadap stres bertanding atlet renang di Kota Bandung. Rancangan penelitian ini menggunakan kausalitas non-eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan jumlah responden sebanyak 55 atlet. Pengukutan menggunakan alat ukur kesabaran yang disusun oleh Yusuf, U (2021) dan stres bertanding menggunakan alat ukur yang disusun oleh Nurmalita (2015) yang mengacu pada teori Singgih (2008: 67-68) dan Husdarta (2010:70). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kesabaran dengan perolehan R-square sebesar 20.6% terhadap stres bertanding pada atlet renang Kota Bandung dan aspek yang paling berpengaruh adalah tekun.
Permasalahan yang di Hadapi Mahasiswa Salah Jurusan dari Sudut Pandang Psikologi
Annisa Hasna
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10133
Abstract. College students who choose a major without considering their interests and talents, and continue their studies despite the lack of suitability, can be categorized as college students experiencing a misalignment in their chosen field or referred to as misplaced students. According to the Indonesia Career Center Network (ICCN) in 2017, regarding students in the wrong major, it was stated that 87% of students reported facing issues in choosing their majors. The purpose of this article is to elucidate the condition of college students in the wrong major based on psychological research findings. This article is structured based on references from several articles of psychological research discussing students experiencing misalignment in their chosen majors. The search for articles was conducted through Google Scholar with the criteria that articles are the results of quantitative research and published in scientific journals within the last 20 years. Through several stages of selection, including abstract and full paper selection, 11 articles were obtained. The findings of the research in these articles are summarized and presented in this article. This study concludes that the issue of being in the wrong major hinders students in overcoming academic challenges. Psychological factors, such as poor social relationships, lack of parental support, and low self-efficacy, impede students in developing effective coping strategies. Recommendations include the need for students to enhance self-efficacy and make well-prepared decisions in addressing such challenges. Abstrak. Mahasiswa yang memilih jurusan dengan tidak mempertimbangkan suatu minat dan juga bakat dalam memilih jurusan, dan tetap melanjutkan perkuliahan walaupun tidak adanya kecocokan dapat dikategorikan sebagai mahasiswa yang mengalami salah jurusan atau dikatakan sebagai mahasiswa salah jurusan. Menurut Indonesia Career Center Network (ICCN) di tahun 2017 mengenai mahasiswa salah jurusan, menyatakan bahwa (87%) mahasiswa menyatakan mereka mengalami permasalahan dalam memilih jurusan. Tujuan penulisan artikel ini untuk memaparkan kondisi mahasiswa salah jurusan berdasarkan hasil-hasil penelitian psikologi. Metode yang diterapkan adalah fenomenologi. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa yang mengalami dilema dalam pemilihan jurusan mereka. Artikel ini disusun berdasarkan referensi beberapa artikel hasil penelitian di bidang psikologi yang membahas mengenai mahasiswa yang mengalami salah jurusan. Pencarian artikel dilakukan melalui google scholar dengan kriterita yaitu artikel merupakan hasil penelitian kuantitatif, artikel diterbitkan di jurnal ilmiah dalam kurun waktu maksimal 20 tahun terakhir. Melalui beberapa tahap seleksi yaitu seleksi abstrak serta full paper, didapatkanlah 11 artikel. Hasil penelitian pada artikel-artikel ini dirangkum dan disajikan ke dalam artikel ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masalah salah jurusan menghambat mahasiswa dalam mengatasi kendala perkuliahan. Faktor psikologis seperti hubungan dalam faktor sosial yang kurang baik, seperti dukungan orangtua, dan rendahnya self-efficacy, terkendala dalam coping strategi pada mahasiswa. Saran yang diberikan adalah mahasiswa perlu meningkatkan self-efficacy dan mempersiapkan keputusan dengan matang dalam menyelesaikan masalah.
Pengaruh Stres Akademik terhadap Resiliensi pada Mahasiswa Merantau yang Sedang Mengerjakan Skripsi
Raidah Luthfiyyah Indana Zulfa;
Kusdiyati, Sulisworo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10136
Abstract. Students who are working on their thesis often find it difficult and experience pressure. Preparing a thesis is often a source of stress, plus the situation of being away from family means that students who are working on their thesis require more adjustment. Low resilience can lead to suboptimal thesis work because students are more pessimistic about their abilities. The aim of this research was to determine the effect of academic stress on resilience in overseas students who were working on their thesis at Bandung Islamic University. The method in this research is non-experimental causality. This research was taken using an online survey data method and collected 191 overseas students who contracted a thesis at Bandung Islamic University. The data collection technique used convenience sampling and was distributed to students who were contracting their thesis at Bandung Islamic University. The measuring instruments used are SLSI (Student-Life Stress Inventory) belonging to Bernadette M. Gadzella (1991) which was adapted by Pragholapati et al., (2021) and CD-RISC (Connor-Davidson Resilience Scale) which has been adapted by Wahyudi et al. ., (2020). This research uses multiple linear regression analysis techniques. The results obtained in this research are that there is an influence between academic stress on resilience in the group of students who have migrated and who have not migrated who are working on their thesis at Bandung Islamic University. Apart from that, there is a significant negative influence between academic stress and resilience which has a contribution value of 55.5% for overseas students with a significant value of 0.00 < 0.05. This means that this research means that the higher the academic stress, the lower the resilience Abstrak. Mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi sering merasa kesulitan dan mengalami tekanan. Penyusunan skripsi sering menjadi sumber stressor, ditambah keadaan merantau yang jauh dari keluarga, membuat mahasiswa merantau yang sedang mengerjakan skripsi membutuhkan penyesuaian yang lebih. Rendahnya resiliensi dapat menimbulkan tidak optimalnya pengerjaan skripsi karena mahasiswa lebih pesimis terhadap kemampuannya. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh stres akademik terhadap resiliensi pada mahasiswa merantau yang sedang mengerjakan skripsi di Universitas Islam Bandung. Metode pada penelitian ini yaitu kausalitas non eksperimen. Penelitian ini diambil melalui metode data survei daring dan terkumpul sebanyak 191 mahasiswa merantau yang mengontrak skripsi di Universitas Islam Bandung. Teknik pengambilan data menggunakan convenience sampling dan dibagikan kepada mahasiswa yang sedang mengontrak skripsi di Universitas Islam Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah SLSI (Student-Life Stress Inventory) milik Bernadette M. Gadzella (1991) yang diadaptasi oleh Pragholapati et al., (2021) dan CD-RISC (Connor-Davidson Resilience Scale) yang sudah diadaptasi oleh Wahyudi et al., (2020). Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara stres akademik terhadap resiliensi pada kelompok mahasiswa merantau dan tidak merantau yang sedang mengerjakan skripsi di Universitas Islam Bandung. Selain itu terdapat pengaruh negatif yang signifikan antara stres akademik dengan resiliensi yang memiliki nilai kontribusi sebesar 55.5% pada mahasiswa merantau dengan nilai signifikan 0.00 < 0.05. Artinya penelitian ini memiliki arti bahwa semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah resiliensi.
Pengaruh Father Presence terhadap Psychological Well Being pada Wanita Dewasa Muda Lajang di kota Bandung
Namira Putri Adjani;
Aslamawati, Yuli
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10137
Abstract. In recent years, there have been several changes in the way women of reproductive age think about marriage, namely thinking about being single. Adult women who are not married and are in a culture that expects to get married tend to experience pressure from those around them to get married. One of the reasons they are single is having a bad experience with their father. Where active father involvement should be able to increase caring attitude, increase self-confidence, and build good social relations. This study aims to determine how the influence of the father's presence on the psychological well-being of single young adult women in the city of Bandung. This study used an online survey data collection method involving 204 single young adult female respondents with an age range of 30-35 years. The measurement tools used are Krampe and Newton's Father Presence Questionnaire (2006) which has been adapted to the Indonesian context by Dewi and Ginanjar (2019) and Ryff's Scale of Psychological Well Being (RPWB) owned by Ryff (1995) which has been adapted to the Indonesian context. by Rachmayani and Ramadhani (2014). The sampling technique used in this study is convenience sampling and the data analysis used is simple linear regression. Based on the results of the study, it was found that the father's presence had a significant effect on psychological well-being by 53%. Abstrak. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi beberapa perubahan cara berpikir wanita di usia produktif mengenai pernikahan, yaitu berpikir untuk melajang. Perempuan dewasa yang belum menikah dan berada di budaya yang mengharapkan untuk melangsungkan pernikahan, cenderung mendapatkan tekanan dari orang sekitar untuk menikah. Salah satu penyebab mereka melajang adalah memiliki pengalaman yang buruk dengan ayah. Dimana seharusnya keterlibatan ayah aktif dapat meningkatkan sikap perhatian, meningkatkan rasa percaya diri, serta membangun hubungan sosial yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kehadiran ayah terhadap kesejahteraan psikologis pada wanita dewasa muda lajang di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data survei daring yang melibatkan 204 responden wanita dewasa muda lajang dengan rentang usia 30-35 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah Father Presence Questionnaire milik Krampe dan Newton (2006) yang telah disesuaikan ke dalam konteks Indonesia oleh Dewi dan Ginanjar (2019) dan Ryff's Scale of Psychological Well Being (RPWB) milik Ryff (1995) yang disesuaikan ke dalam konteks Indonesia oleh Rachmayani dan Ramadhani (2014). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling dan analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa kehadiran ayah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis sebesar 53%.
Pengaruh Fear of Missing Out terhadap Perilaku Phubbing Gen Z Pengguna TikTok di Kota Bandung
Lydia Affrillia Frans;
Eni Nuraeni Nugrahawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10142
Abstract. Phubbing is a term that refers to the act of ignoring people around you to focus on your smartphone. It stems from a continuous need to be connected and updated through social media on your smartphone, driven by the fear of missing out (FOMO). This constant need for social interaction can lead to phubbing behavior, as individuals become engrossed in seeking information and connecting with their friends in the digital world. Generation Z, the most prolific group of internet users in Indonesia, especially on TikTok, is the target of this research. The study aims to understand the impact of FOMO on phubbing behavior among Generation Z TikTok users in Bandung City. The sample size for this study comprises 384 participants, selected using non-probability sampling with convenience sampling techniques. The research uses a simple linear regression analysis with the help of SPSS for Windows to analyze the data. The data was collected using two adapted scales: the Fear of Missing Out scale from Przybyski et al. (2013) and the Phubbing scale from Chotpiyasunondh (2018). The research findings indicate a significant positive effect of the Fear of Missing Out on Phubbing behavior among Gen Z TikTok users in Bandung City. The effect is 0.619 or 69.1%, with the remaining 30.9% being influenced by other factors not included in the study. This means that as the Fear of Missing Out increases, so does the phubbing behavior of Gen Z TikTok users in Bandung City, and conversely, as the Fear of Missing Out decreases, so does the phubbing behavior. A cross-tabulation analysis revealed that female users were more likely to engage in phubbing, accounting for 31% of the total phubbing instances.Abstrak. Fenomena phubbing merupakan tingkah laku mengabaikan orang lain karena lebih memilih untuk fokus pada handphone. Suatu kebutuhan yang terus dicari dan harus dipenuhi melalui media sosial yang ada di smartphone yang memicu indikasi fear of missing out. Pemenuhan kebutuhan sosial ini yang menimbulkan perilaku phubbing, akibat individu mulai sibuk untuk mencari informasi dan ingin terhubung dengan teman-teman mereka di dunia maya. Generasi Z merupakan pengguna internet terbanyak di Indonesia, terutama pengguna TikTok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fear of missing out terhadap perilaku phubbing pada Generasi Z pengguna TikTok di Kota Bandung. Sampel penelitian berjumlah 384 orang, pengambilan sampel dengan teknik non-probability sampling dengan convenience sampling. Uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS for windows. Pengumpulan data menggunakan adaptasi skala fear of missing out dari Przybyski et al., (2013) dan phubbing scale dari Chotpiyasunondh (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan fear of missing out terhadap perilaku phubbing Gen Z pengguna TikTok di Kota Bandung sebesar 0,619 atau 69.1% dan sisanya 30.9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Hal ini berarti semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi perilaku phubbing Gen Z pengguna TikTok di Kota Bandung, begitupun sebaliknya semakin rendah fear of missing out (FoMO) maka semakin rendah pula perilaku phubbing Gen Z pengguna TikTok di Kota Bandung. Hasil crosstab menunjukkan jenis kelamin perempuan lebih banyak melakukan phubbing sebanyak 31%.
Pengaruh Self-Esteem terhadap Psychological Well-Being Siswa SMA dengan Orang Tua Bercerai
Safitri, Mutiara Tectonia;
Sulisworo Kusdiyati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10150
Abstract. The high divorce rate in Indonesia, especially in Bandung, has a negative impact on various parties. The negative impacts of divorce are not only experienced by married couples, but also experienced by children, especially teenagers. Several studies show that teenagers with divorced parents have low levels of psychological well-being. Meanwhile, psychological well-being is crucial, especially during high school, which will determine future success. One of the factors that influences psychological well-being is self-esteem. This research aims to find out how much influence self-esteem has on the psychological well-being of high school students with divorced parents in the city of Bandung. This research design uses a non-experimental quantitative causality method with a convenience sampling technique. The participants of this research are 171 high school students in the city of Bandung aged 15 to 18 years with divorced parents. The measuring instrument used is the Self-Liking/Self-Competence Scale-Revised (SLCS-R) from Tafarodi and Swann (2001) which was adapted by Siddik et al (2020) and Ryff's Scale of Psychological Well-Being (RPWB) from Ryff (1995) which was adapted by Rachmayani and Ramdhani (2014). Data processing was carried out using multiple regression analysis techniques. The regression equation value obtained was 0.0408, meaning that the contribution of the two dimensions of self-esteem to psychological well-being was 40.8%. The research results show that the research hypothesis is accepted, there is a significant influence between self-esteem and psychological well-being. This means that the higher the level of self-esteem, the higher the level of psychological well-being. Abstrak. Tingginya angka perceraian di Indonesia terutama di kota Bandung, menimbulkan dampak yang negatif bagi berbagai pihak. Adapun dampak negatif perceraian tidak hanya dialami oleh pasangan suami istri, namun juga berdampak pada anak, khususnya pada remaja. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan orang tua bercerai memiliki tingkat psychological well-being yang rendah. Sedangkan, psychological well-being merupakan hal yang krusial, terutama pada masa SMA yang akan menentukan keberhasilan di masa depan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap psychological well-being adalah self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh self-esteem terhadap psychological well-being siswa SMA dengan orang tua bercerai di kota Bandung. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif kausalitas non-eksperimental dengan teknik sampling convenience sampling. Partisipan penelitian ini merupakan 171 siswa SMA di kota Bandung dengan rentang usia 15 hingga 18 tahun dengan orang tua bercerai. Alat ukur yang digunakan adalah Self-Liking/Self-Competence Scale-Revised (SLCS-R) dari Tafarodi dan Swann (2001) yang diadaptasi oleh Siddik et al (2020) dan Ryff`s Scale of Psychological Well-Being (RPWB) dari Ryff (1995) yang diadaptasi oleh Rachmayani dan Ramdhani (2014). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Nilai persamaan regresi yang didapatkan sebesar 0.0408, artinya besar kontribusi kedua dimensi self-esteem terhadap psychological well-being sebesar 40.8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, terdapat pengaruh yang signifikan antara self-esteem dan psychological well-being. Artinya semakin tinggi tingkat self-esteem maka semakin tinggi pula tingkat psychological well-being.
Academic Hardiness: Studi Literatur
Daphna Ivanka Latisha;
Djamhoer, Temi Damayanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10158
Abstract. This article is a literature review aimed at delving into the concept of academic hardiness in the academic context and as a form of stress management. A profound understanding of this concept is essential to depict the role of academic hardiness in facing challenges within the academic environment. Through literature analysis, this article seeks to provide a comprehensive overview of the significance of academic hardiness in understanding and managing stress in the academic domain. Abstrak. Artikel ini merupakan tinjauan literatur yang bertujuan untuk mendalami konsep academic hardiness dalam konteks akademis dan sebagai suatu bentuk manajemen stres. Pemahaman yang mendalam terhadap konsep ini menjadi kunci untuk menggambarkan peran academic hardiness dalam menghadapi tantangan di lingkungan akademis. Melalui analisis literatur, artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang arti penting academic hardiness dalam memahami dan mengelola stres di ranah akademis.
Pengaruh Kecemburuan terhadap Perilaku Cyber Dating Abuse pada Mahasiswa di Kota Bandung
Azalia, Zahra
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10177
Abstract. Cyber Dating Abuse (CDA) behavior is a new form of violence in dating relationships. CDA is violent behavior carried out by a partner via digital media or the internet with the aim of hurting and controlling the partner. Many factors influence the occurrence of CDA, one of which is jealousy. The risk of CDA occurring is greatest at the student level. Therefore, the aim of this research is to find out and obtain data about jealousy that can predict the occurrence of CDA behavior that occurs among college students in the city of Bandung. Type of causality research with a quantitative approach. The data collection technique used was a questionnaire distributed to 111 college students in the city of Bandung. The measuring tools used in this research include the cyber dating abuse questionnaire (CDAQ) from Borrajo and Multidimensional Jealousy Scale (MJS)from Pfeiffer and Wong. The data obtained will be tested using simple linear regression analysis. From the data obtained by the researcher, it shows that the p-value in the t test is (Sig.) = 0.000 < = 0.05, so the hypothesis (H0) is rejected, this shows that jealousy can predict CDA behavior among students in Bandung City with a significant influence. is positive, which means that the higher the level of jealousy, the higher the level of CDA, and vice versa. Abstrak. Perilaku Cyber Dating Abuse (CDA) merupakan salah satu bentuk baru dari kekerasan dalam hubungan pacaran. CDA adalah perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pasangan melalui media digital atau internet dengan tujuan menyakiti dan untuk mengontrol pasangan. Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya CDA salah satunya adalah faktor kecemburuan. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan mendapatkan data tentang kecemburuan dapat memprediksikan terjadinya perilaku CDA yang terjadi pada Mahasiswa di Kota Bandung. Jenis penelitian kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan kuesioner yang disebarkan pada 111 Mahasiswa di Kota Bandung. . Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cyber dating abuse questionnaire (CDAQ) dari Borrajo dan Multidimensional Jealousy dari Pfeiffer dan Wong. Data yang diperoleh akan diuji menggunakan analisis regresi linear sederhana. Dari hasil data yang diperoleh oleh peneliti menunjukkan bahwa nilai p-value pada uji t sebesar (Sig.) = 0,000 < = 0.05 maka hipotesis (H0) ditolak, hal ini menunjukkan bahwa kecemburuan dapat memprediksikan perilaku CDA pada mahasiswa di Kota Bandung dengan pengaruh yang bersifat positif, yang artinya semakin tinggi tingkat kecemburuan maka semakin tinggi tingkat CDA, dan sebaliknya.