cover
Contact Name
masyhuri rifai
Contact Email
elmaqraiqt@gmail.com
Phone
+6282345133563
Journal Mail Official
elmaqra@iainkendari.ac.id
Editorial Address
Jl. Mekar. BTN Nur 4 Ranomeeto Konawe Selatan
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
El-Maqra' : Tafsir, Hadis dan Teologi
ISSN : 29633982     EISSN : 2829114X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Kajian jurnal meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan al-Qur’an, tafsir, ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu tafsir, living al-Qur’an, pemikiran tokoh tentang al-Qur’an, ilmu al-Qur’an, tafsir, ilmu tafsir dan seterusnya; demikian pula meliputi hal yang berhubungan dengan hadis, ilmu-ilmu hadis, living hadis, pemikiran tokoh tentang hadis dan sebagainya. Bahkan kajian berkaitan dengan theology seperti Perkembangan Teologi dan Keagamaan, sejarah, penelitian keagaamaan islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 104 Documents
ANALISIS KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN IMAM MASJID KECAMATAN NAMBO KOTA KENDARI (STUDI LIVING QUR’AN) Kusniati, Kusniati; Trisnawati, Ira; Rifai, Masyhuri
EL-MAQRA' Vol 3 No 2 (2023): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v3i2.6406

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah mengenai kemampuan para imam dalam membaca al-Qur’an.Para imam memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk memimpin shalat berjemaah dimasjid, salah satu syarat utama dalam menjadi imam adalah memiliki bacaan yang baik danbenar. Akan tetapi melihat dari observasi yang telah dilakukan, masih terdapat banyak kesalahanbacaan yang dilakukan oleh para imam. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini untukmengidentifikasi kemampuan bacaan al-Qur’an para imam masjid Kecamatan Nambo KotaKendari, untuk mengidentifikasi latar belakang para imam mengenai ilmu tajwid dan relasikemampuan membaca al-Qur’an para imam dengan latar intelektual dan sosialnya. untukmenjawab tujuan tersebut, maka jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif Deskriptif,dengan jenis penelitian lapangan (field research), yang menyajikan data sesuai hasil penelitian,dengan menggunakan beberapa teknik penelitian yaitu metode observasi, wawancara mendalamdan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para imam memiliki pengalaman belajar yang berbeda-beda, mulai dari tingkat pendidikan formal maupun non formal serta keadaan sosial para imam. Akan tetapi, yang lebih mempengaruhi bacaan para imam dengan melihat metode living Qur’an yaitu faktor lingkungan sosial, ekonomi dan profesi.     
MENILIK METODE TAKHRIJ HADIS MANUAL DAN DIGITAL Alisa, Nur Alisa; Silondae, Prades Ariato; Sahib, Muhammad Amin; Sakka, Abdul Rahman; Asiah, Nur Asiah
EL-MAQRA' Vol 3 No 2 (2023): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v3i2.6460

Abstract

Hadith initially relied solely on the power of memorization of companions and scholars. However, as more and more hadith memorizers became martyred and the fear of the loss of the Prophet's words increased, the codification of hadith books was soon undertaken. After the process of codification of hadith, the next problem is the difficulty of finding the original source of a hadith. The type of research used is descriptive qualitative research using literature study as a method of collecting data. The purpose of this research is to find out the definition, history, process and methods used in conducting hadith research or tracking. The results showed that the method used to find out the location of a hadith in the original book that lists the hadith complete with its sanad and matan is called the hadith takhrij method. This method was initially not really needed by the mutaqaddimin scholars because they had an established knowledge of hadith. The development of increasingly complex Islamic disciplines made it difficult for the later scholars to find the original source of a hadith, so they tried to formulate various methods in order to find hadith quickly and easily. Along with the development of time, hadith takhrij methods can not only be searched through books (manually) but can also be done through applications or digital platforms.          
NYANYIAN DALAM PERSPEKTIF HADIST (KAJIAN HADIS TEMATIK) Septiadi, Muhamad Dandi; Luthfi, Hikmatul
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.6961

Abstract

Perkembangan zaman yang kini telah modern, diikuti juga oleh perkembangan para musisi dengan ditandai banyaknya lagu-lagu yang di ciptakan, Gabungan antara musik pendek dan lagu atau biasa di sebut nyanyian yakni menuai pro dan kontra dalam pandangan hadis, hal ini disebabkan karena banyak hadis yang mengharamkanya dan banyak hadis juga yang membolehkanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode tematik. Objek formal pada penelitian ini adalah Pandangan hadist terkait nyanyian yang dirumuskan berdasarkan tema-tema hadist. Objek material pada penelitian ini adalah nyanyian dalam perspektif hadis. Hasil daripada penelitian ini menunjukkan, bahwa tema-tema hadis terkait nyanyian dapat dirumuskan dalam kerangka teoritis moral islam dan etika nyanyian. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak sepenuhnya nyanyian itu dilarang oleh Hadis, akan tetapi terdapat beberapa aspek serta kriteria dalam hal ini yang menjadikanya di bolehkan, yang mana aspek dan kriteria tersebut mencakup situasi dan kondisi seseorang bernyanyi dan juga kepentingan dari nyanyian itu sendiri.
KONSEP CEMAS DAN RASA TAKUT BERLEBIH DALAM QS. AL-BAQARAH (STUDI ASINONIMITAS) kasmin, kasmin; Zuhrah, Nikmatuz; Fatirawahidah, Fatirawahidah; Danial, Danial
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.7042

Abstract

Fokus penelitian ini adalah mengkaji studi asinonimitas konsep cemas dan takut dalam QS. Al-Baqarah. Tujuan penelitian ini, ingin mengungkapkan makna dari kata cemas dan takut  terkait konteks penggunaannya dalam QS. Al-Baqarah dan juga menjelaskan bagaimana relevansi analisis makna khauf dan khasyyah menurut Al-Qur’an dengan makna takut dalam bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini bersifat kepustakaan atau (library research), dengan analisis menggunakan metode muqaran. Hasil penelitian ini, menguatkan bahwa tidak adanya sinonimitas dalam QS. Al-Baqarah pada kata khauf dan khasyyah, meskipun keduanya memiliki arti yang sama namun penggunaan makna dan kedudukan kata khauf dan khasyyah berbeda. Khauf adalah ketakutan kepada ganjaran Allah terhadap perbuatan yang dilakukannya yang kemudian hari akan dipertanggung jawabkan, khauf ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang seperti takut pada makhluk dan kedudukannya lebih rendah dibandingkan khasyyah. Sedangkan khasyyah adalah ketakutan kepada Allah akan keagungan dan kekuasaannya dan kedudukannya lebih tinggi dari khauf, perbedaan kedudukan tersebut berdasarkan objek ketakutan  dan lebih tinggi untuk ditakuti adalah Allah bukan makhluknya. Adapun relevansi khauf dan khasyyah dalam QS. Al-Baqarah dengan kamus Indonesia yaitu ketakutan yang menambah kedekatan kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Berbeda apa yang diartikan dalam bahasa Indonesia, takut sebagai sesuatu yang dihindari dan mendatangkan bencana.
PEMAHAMAN MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR TERHADAP QS. AL-ISRA/17:32 SEBAGAI MOTIVASI MENJOMLO Rizki, Yupita Tri; Ikhsan, Muh. Ikhsan; Has, Muh. Hasdin
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7191

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman mahasiswa program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Kendari terhadap QS. Al-Isra/17:32 secara tidak langsung dipahami sebagai motivasi untuk menjomlo atau tidak pacaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan pendekatan sosiologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi bersama mahasiswa program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Hubungan antara individu satu dan lainnya yang bukan mahram dan tidak mempunyai ikatan pernikahan secara syariat Islam serta hanya berlandaskan ketertarikan secara biologis (syahwat) sudah tentu hubungan yang dilarang dalam Islam sebagaimana dalam QS. Al-Isra/17:32 telah jelas dikatakan jangan mendekati zina. Mendekati saja dilarang apalagi melakukan perbuatan zina. (2) pemahaman mahasiswa IAT terhadap QS. Al-Isra/17:32 menyatakan bahwa telah jelas dalam ayat tersebut larangan Allah kepada hambanya untuk menjauhi zina. Pacaran adalah suatu perbuatan yang dapat mendekati zina karena di dalamnya terjadi aktivitas bersama pasangan yang tidak sah tentu hal ini melanggar norma agama. Oleh sebab itu dari pemahaman ini mahasiswa IAT menganggap QS. Al-Isra/17:32 menjadi suatu motivasi untuk tidak pacaran. (3) Manfaat yang dirasakan mahasiswa IAT dari pemahaman QS. Al-Isra/17:32 sebagai motivasi menjomlo adalah merasa terlindungi dari perbuatan zina, merasa hati dan pikiran lebih tenang, lebih fokus beribadah, fokus dalam Pendidikan, dan lebih fokus dalam menggapai cita-cita. 
BIAS PATRIARKHI DALAM PRAKTIK POLIGINI DI KALANGAN DA’I PERSPEKTIF TAFSIR MAQASHIDI Hafadzah, Ahmad Sona
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7227

Abstract

The issue of polygyny is still controversial not only among the public, but also among Da'i, Ulama, Mufassir from classical to contemporary. This research will examine the patriarchal bias in the practice of polygyny which is widely narrated by Da'i circles. This study aims to analyze more objectively the verses about polygyny in the Qur'an using the maqasidi interpretation paradigm approach as a method of interpretation (as methodology) to further review the relationship between the interpretation of polygynous verses and the maqasid al-syari' principle. ah and maqashid al-qur'an and reveal maqashid behind polygynous verses that have been understood in society. The results of this study indicate that this verse has only reached the initial stage of interpretation where the ultimate goal or main maqasid of the verse is contained in the value of justice.
RESEPSI FUNGSIONAL AMALAN QS. IBRĀHĪM/14:41 STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN HAFALAN QURAN AHLUL ZIKRI WAL FIKRI DI DESA TAPULAGA KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA Kasim, Mira Kasim; Has, Muh. Hasdin Has Hasdin Has; Nasri Akib, Nasri Akib; Akbar, Akbar Akbar
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.7355

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Resepsi fungsional amalan QS. Ibrāhīm/14:41 Studi Kasus di Pondok Pesantren Hafalan Quran Ahlul Zikri Wal Fikri. Penelitian ini bertujuan untuk Pertama mendeskripsikan wacana QS. Ibrāhīm/14:41 dalam literatur tafsir, Kedua menelusuri prosesi serta respon pengamalan bagi pimpinan dan para santri dalam pembacaan QS. Ibrāhīm/14:41, Ketiga mengungkap hubungan pengamalan doa melancarkan hafalan al-Qur’an terhadap QS. Ibrāhīm/14:41 dalam tinjauan resepsi al-Qur’an. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis berdasarkan kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis yaitu teori living Qur’an yang menggunakan resepsi fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama wacana QS. Ibrāhīm/14:41 dalam literatur tafsir tidak memiliki relasi dari amalan doa melancarkan hafalan, Kedua tradisi pembacaan QS. Ibrāhīm/14:41 dilaksanakan setiap hari sebelum melakukan penyetoran hafalan al-Quran dengan memiliki runtutan tata cara, Adapun menurut respon pimpinan yaitu dapat dijadikan sebagai strategi dalam melancarkan/memudahkan menghafal al-Quran. Sedangkan respon santri ada 85% santri memperoleh manfaat sebagai praktik doa mempermudah menghafal Quran, Ketiga tipologi tinjauan resepsi al-Qur’an terjadi karena adanya transmisi dan transformasi dalam pengamalan doa melancarkan hafalan yang menggambarkan adanya proses transfer pengetahuan, adaptasi, penyesuaian diri, perubahan praktik dan interpretasi dalam pengamalan.  Bacaan QS. Ibrāhīm/14:41, Resepsi Fungsional, Pondok pesantren hafalan Quran ahlul zikri wal  fikri
KHOTMUL QUR’AN: PEMAKNAAN SPIRITUALITAS DALAM PERINGATAN 100 TAHUN PONDOK MODERN DARUSSALAM, GONTOR Al-Hafids, Ahmad; Arifiyanto, Fuat; Maghfiroh, Fahma Amalia; Ma’rifah, Indriyani Ma’rifah
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8330

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi tentang praktik Khotmul Qur’an dalam konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Al-Qur’an, sebagai panduan utama dalam kehidupan, mendapat perhatian khusus dalam tradisi Khotmul Qur’an di pesantren tersebut. Pada konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Khotmul Qur’an menjadi simbol semangat dan komitmen para santri untuk mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Khotmul Qur’an juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar santri dan antara santri dengan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena Khotmul Qur’an dalam konteks Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif. Subjek penelitian melibatkan santri yang aktif dalam kegiatan Khotmul Qur’an dan beberapa guru pembimbing. Hasil penelitian memberikan wawasan mendalam tentang pemaknaan Al-Qur’an dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat pesantren. Khotmul Qur’an dalam Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi sorotan utama, dengan penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang fenomena pembacaan Al-Qur’an di masyarakat. Prospek penelitian ini melibatkan pengembangan lebih lanjut terkait praktik keagamaan di lembaga pendidikan Islam dan implikasinya dalam pengembangan pesantren.
ASPEK MAGIS DALAM TRADISI JAPPI-JAPPI PADA MASYARAKAT BUGIS MUSLIM KENDARI Darasyiddin A Safa'a, S.Ag, Muhammad Yusuf; Saputri, Irdawati Saputri; Safrudin, Moh Safrudin
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8596

Abstract

Tradisi jappi-jappi adalah salah satu bentuk resepsi fungsional Al-Qur’an yang ditemukan dalam komunitas masyarakat Muslim Bugis di kota Kendari yang mengamalkan surah Al-Fātiḥah untuk menemukan barang hilang. Berangkat dari fenomena tersebut artikel ini bertujuan untuk menganalisis lebih komprehensif terkait praktik tradisi jappi-jappi sebagai proses asimilasi dan islamisasi budaya lokal dengan menggunakan perspektif teori living qur’an. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan integrasi keilmuan antara studi Al-Qur’an, sosial, dan historis. Temuan dalam artikel ini menunjukan bahwa tradisi jappi-jappi memiliki proses pelaksanaanya dimulai dengan melaksanaakan shalat sunnah hajat sebanyak dua rakaat, berdzikir, dan membacakan  surah Al-Fātiḥah kedalam air, kemudian artikel ini menemukan transmisi tradisi jappi-jappi yang ternyata dipelopori oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas ia merupakan seorang ulama sufistik yang memadukan dua ilmu tarekat, artikel ini juga mengungkap mayoritas masyarakat setuju dengan dipraktikannya tradisi jappi-jappi. Maka tradisi jappi-jappi merupakan sebuah fenomena resepsi Al-Qur’an yang terjadi di kalangan Muslim Bugis di Kota Kendari.    
KONSEP MODERASI BERAGAMA DALAM PENAFSIRAN QS. AL-BAQARAH [2]: 143 (STUDI KOMPARATIF TAFSIR IBNU KAṠIR DAN TAFSIR AL-MISBAH) wakhidah, siti nur; Gaffar, Abdul Gaffar; Danial, Danial Danial; Rifai, Masyhuri Rifai
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8809

Abstract

This research is about the concept of religious moderation in the interpretation of QS. AlBaqarah [2]: 143 (comparative study of Ibnu Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsiraims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2]:143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M.Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah. Study This aims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2] :143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M. Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah after that in order to analyze the relationship between QS interpretation. Al-Baqarah [2]: 143 against religious moderation in Ibn Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsir. This research is qualitative research with the type of library research (Library research). The analysis technique used is the comparative analysis method (comparison). The research results show that: first, religious moderation in QS. Al-Baqarah [2] : 143 in Ibn Kaṡir's commentary which interprets from The word Ummatan Wasathan is the best choice, from the interpretation of the word الوسط interpreted with the word حيار choice then جواداال best so is choice the best جوادَاالَخيارو while in Tafsir Al-Misbah interprets the word Ummatan Waslahan is the middle or middle way. Second, the method used in Ibn Kaṡir's tafsir in interpreting QS. Al-Baqarah [2] : 143 is tahlili with a method of interpreting pieces of verse and strengthening it with Other verses of the Qur'an and hadith, while in the interpretation of Al-Misbah interpret QS. Al-Baqarah [2] : 143 using the opinion of para scholars and the opinions of the commentators themselves. Third, in terms of style, second This interpretation has differences if Ibn Kaṡir's interpretation tends to lead to tafsir Bi al-Matsur (interpreting the Qur'an with the Qur'an, the Qur'an with hadith) while the interpretation of Al-Misbah tends to be in the Adabi Ijtima'i style (style social culture literature). These two commentators lived in different eras namely the contemporary era and the present era. The writing also has different interpretations Ibn Kaṡir was written much more than 700 years ago while Tafsir Al-Misbah written in today's era, now from here it is clear that there must be differences in era or period that influences the interpretation of each interpreter.

Page 8 of 11 | Total Record : 104