cover
Contact Name
masyhuri rifai
Contact Email
elmaqraiqt@gmail.com
Phone
+6282345133563
Journal Mail Official
elmaqra@iainkendari.ac.id
Editorial Address
Jl. Mekar. BTN Nur 4 Ranomeeto Konawe Selatan
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
El-Maqra' : Tafsir, Hadis dan Teologi
ISSN : 29633982     EISSN : 2829114X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Kajian jurnal meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan al-Qur’an, tafsir, ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu tafsir, living al-Qur’an, pemikiran tokoh tentang al-Qur’an, ilmu al-Qur’an, tafsir, ilmu tafsir dan seterusnya; demikian pula meliputi hal yang berhubungan dengan hadis, ilmu-ilmu hadis, living hadis, pemikiran tokoh tentang hadis dan sebagainya. Bahkan kajian berkaitan dengan theology seperti Perkembangan Teologi dan Keagamaan, sejarah, penelitian keagaamaan islam.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 94 Documents
KONSEP MODERASI BERAGAMA DALAM PENAFSIRAN QS. AL-BAQARAH [2]: 143 (STUDI KOMPARATIF TAFSIR IBNU KAṠIR DAN TAFSIR AL-MISBAH) wakhidah, siti nur; Gaffar, Abdul Gaffar; Danial, Danial Danial; Rifai, Masyhuri Rifai
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8809

Abstract

This research is about the concept of religious moderation in the interpretation of QS. AlBaqarah [2]: 143 (comparative study of Ibnu Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsiraims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2]:143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M.Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah. Study This aims to describe the method of interpreting QS. Al-Baqarah [2] :143 in the tafsir of Ibn Kaṡir and M. Quraish Shihab in the tafsir of Al-Misbah after that in order to analyze the relationship between QS interpretation. Al-Baqarah [2]: 143 against religious moderation in Ibn Kaṡir's tafsir and Al-Misbah's tafsir. This research is qualitative research with the type of library research (Library research). The analysis technique used is the comparative analysis method (comparison). The research results show that: first, religious moderation in QS. Al-Baqarah [2] : 143 in Ibn Kaṡir's commentary which interprets from The word Ummatan Wasathan is the best choice, from the interpretation of the word الوسط interpreted with the word حيار choice then جواداال best so is choice the best جوادَاالَخيارو while in Tafsir Al-Misbah interprets the word Ummatan Waslahan is the middle or middle way. Second, the method used in Ibn Kaṡir's tafsir in interpreting QS. Al-Baqarah [2] : 143 is tahlili with a method of interpreting pieces of verse and strengthening it with Other verses of the Qur'an and hadith, while in the interpretation of Al-Misbah interpret QS. Al-Baqarah [2] : 143 using the opinion of para scholars and the opinions of the commentators themselves. Third, in terms of style, second This interpretation has differences if Ibn Kaṡir's interpretation tends to lead to tafsir Bi al-Matsur (interpreting the Qur'an with the Qur'an, the Qur'an with hadith) while the interpretation of Al-Misbah tends to be in the Adabi Ijtima'i style (style social culture literature). These two commentators lived in different eras namely the contemporary era and the present era. The writing also has different interpretations Ibn Kaṡir was written much more than 700 years ago while Tafsir Al-Misbah written in today's era, now from here it is clear that there must be differences in era or period that influences the interpretation of each interpreter.
ORISINALITAS AL-QUR’AN MENURUT PANDANGAN ORIENTALIS ( STUDI ANALISIS PEMIKIRAN TOSHIHIKO ISUTZU, ANDHREW RIPPIN DAN ANGELIKA NEUWIRTH) Mubarak, Muhammad Syahrul; Astika, Widia; Rahmawati, Rahmawati
EL-MAQRA' Vol 4 No 1 (2024): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i1.8907

Abstract

This article aims to provide a conceptual overview regarding orientalist thought towards the Koran which is in line with the thinking of Muslims in general. In this process, the authors apply qualitative data analysis based on library research through the steps of textual analysis and historical and dynamic contextual interpretation of orientalist thought which is in line with the thinking of Muslims in general. Through this analytical procedure, the author reveals that if the researchers previously examined non-Muslim orientalists who did not believe in the authenticity of the Al-Qu'an and the history of the revelation of the Qur'an. In contrast to the findings of the authors in this article, it shows that there are some non-Muslim orientalists who acknowledge the authenticity of the Qur’an and the history of the revelation of the Qur’an, although these thoughts are not immune to objections by orientalists or other scholars.
TELAAH KRITIS: ANALISIS KRITIK MUHAMMAD MUSTHAFA AS SIBAI TERHADAP PEMIKIRAN AHMAD AMIN Amamatu Shobiro, Khodijah Firdaus; Hendiyanti, Nisa; Arifin, Aziz
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.9467

Abstract

Penelitian ini menganalisis kritik Muhammad Musthafa As-Sibai terhadap pemikiran Ahmad Amin, dua tokoh intelektual besar di dunia Islam. As-Sibai, seorang ulama dan pemikir Islam yang berpengaruh, dikenal karena pandangannya yang tegas dan komprehensif terhadap pemikiran modern dalam Islam. Ahmad Amin, sebaliknya, merupakan tokoh reformis yang sering kali menyuarakan pandangan progresif yang kadang berbenturan dengan pandangan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi latar belakang kritik As-Sibai terhadap Ahmad Amin, mengidentifikasi poin-poin utama dari kritik tersebut, serta menganalisis dampaknya terhadap perkembangan pemikiran Islam kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif, melibatkan analisis teks-teks utama karya kedua tokoh serta literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik As-Sibai terhadap Ahmad Amin berfokus pada interpretasi teks-teks agama, metodologi pemikiran, dan pandangan mereka mengenai modernitas dan tradisi. As-Sibai menekankan pentingnya menjaga otentisitas ajaran Islam dan waspada terhadap pengaruh pemikiran Barat yang dianggap dapat merusak esensi Islam. Sementara itu, Ahmad Amin mendorong reinterpretasi dan adaptasi ajaran Islam agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Analisis ini menyimpulkan bahwa meskipun terdapat perbedaan mendasar antara kedua pemikir, kritik As-Sibai terhadap Ahmad Amin merupakan refleksi dari dinamika intelektual dalam Islam yang terus berusaha menyeimbangkan antara pelestarian tradisi dan penerimaan terhadap perubahan. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana debat intelektual seperti ini berkontribusi pada pembentukan wacana keislaman yang dinamis dan beragam.
SIFAT BERLEBIH LEBIHAN DALAM BERAGAMA (KAJIAN MA’NĀ CUM-MAGHZĀ TERHADAP QS. AL-NISĀ’/4:171) Irmayanti, Sitti Hastuti; Akbar, Muh; Safrudin, Moh
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.9818

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri konsep sifat berlebih lebihan dalam penafsiran tafsir klasik dan kontemporer terhadap QS. al-Nisā/4:171, menganalisa penafsiran al-Nisā’/4:171 perspektif ma’nā cum-maghzā, serta mengetahui relevansi guluw dalam QS. al-Nisā’/4:171 di era kekinian. Penelitian ini berbasis kualitatif atau library search (kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan teks dan konteks melalui kerangka ma’nā cum-maghzā yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin yaitu dengan mendeskripsikan guluw pada abad ke-7, Intratekstual dan Intertekstualitas (analisis linguistik), melihat historis secara mikro maupun makro dan mengungkap signifikansi ayat. Adapun hasil temuan dengan tinjauan analisis tekstual mengungkap guluw dalam QS. al-Nisā’/4:171 menjelaskan tentang sikap berlebih-lebihan, melampaui batas, keterlaluan, pemujaan, dan pengukultusan sehingga menjadikan seorang Nabi menjadi Tuhan yang mereka sembah. Dengan tinjauan analisis historis pada QS. al-Nisā’/4:171 menunjukkan awal mula munculnya perilaku tersebut karena adanya rasa kesombongan yang ada di hati para pemuka agama sehingga menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya dari kaumnya para Ahl Al-Kitab. Kemudian, melalui analisis tekstual dan konteks historis, sikap guluw yang terjadi di era kekinian ini dapat dilihat dari berlebihan dalam bermahabbah kepada seorang Habib, Kyai, dan Ustadz. Bahkan tak jarang sampai mengkultuskan mereka. Implikasi dari kajian tersebut bahwa QS. al-Nisā’/4:171 sebenarnya mampu menjadi solusi di tengah-tengah permasalahan masyarakat. Larangan untuk tidak bersikap berlebih-lebihan (guluw) dan anjuran untuk menyampaikan kebenaran yang terdapat pada QS. al-Nisā’/4:171 harus dikaji lagi agar memperoleh maksud utama ayat untuk konteks kekinian.
PENDEKATAN TAFSIR AL-MISBAH DAN TAFSIR AT-THABARI TERHADAP KONSEP TAUBAT NASUHA DALAM QS. AT-TAHRIM [66]:8 Fatmawati, Fatmawati; Gaffar, Abdul; Rifai, Masyhuri
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.9832

Abstract

fokus penelitian ini adalah QS At-tahrim 66:8. untuk memahami makna tersebut diperlukan penafsiran para ahli tafsir. dalam menganalisis ayat tersebut terdapar beberapa perbedaan penafsiran tentang taubat Nasuha pada tafsir al-misbah dan tafsir at-thabari. berwal dari latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk(mengetahui bagaimana pendapat ulama dalaam menafsirkan taubat nasuha dalam kitab tafsir al- misbah dan at-thabari. teknik mengumpulan data yang digunakan yaitu kepustakaan. sumber data primer merupakan kitab tafsir al- misbah dan kitab tafsir at=thabari. teknik analisis data denfan menggunakan komparatif ( perbandingan). pendekatan penelitian menggunakan pendekatan tafsir. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:1berikut beberapa penafsiran Ahli tafsir tentang taubat nasuha(1) tafsir jalalain taubat yang semurni- murninya, (2) tafsir Al-Quran taubat dengan sungguh-sungguh, (3) tafsir al-misbah taubat yang menasehati,(4) tafsir ibnu katsir memiliki hati yang benung dalam hal ini iya mengemukakan 23 pendapa, (5) tafsir at-thabari taubat yang sesungguhnya yang tidak akan kembali lagi pada perbuatan dosa sebelumnya, (6)tafsir al- munir taubat yang sejujur-jujurnya menyesali yang telah lalu dan yidak akan mengulanginya. 2, persamaan tafsir ayat tersebut, ayat itu ditujukan untuk orang-orang yang beriman, dalam menafsirkan keduanya melakukan tarjih ( pertimbangan) jika ada perbedaan pendapat pada makna kata tertentu, dana menguatkan pendapat salah satunya. sedangkan perbedaannya tafsir al- misbah menafsirkan kata taubat nasuha lebih luas maknanya yaitu di artikan sebagai" nasehat" karna menurutnya manusia merupakan mahluk yang sering khilaf maka harus terus di ingatkan dengan cara menasehati.
SIMBOLISME QS. AL-FATIHAH DALAM TRADISI PENANAMAN ARI-ARI BAYI DI MASYARAKAT BOMBANA Hidayanti, Nurul; Ikhsan, Muh
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.10285

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi Penanaman ari ari anak bayi dengan menggunakan sobekan Qs Al-Fatihah. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk tradisi yang hanya ditemukan di kalangan Masyarakat di Desa Watu-watu Kec Lantari Jaya Kab Bombana. tokoh yang melakukan tradisi ini biasanya disebut sebagai paksandro dengan adanya penomenal tersebut maka peneliti menganggap penting untuk diteliti lebih lanjut, terkait hubungan antara Al Qur’an dengan budaya, tradisi yang di peraktekkan oleh Masyarakat di Desa Watu-watu Kec Lantari Jaya Kab Bombana maka masalah yang di angkat dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pertama Bagaimanakah praktik penanam ari ari anak bayi dalam melakukan tradisi dengan menggunakan sobekan Qs Al-Fātiḥah sebagai media penanaman Ari Ari di desa Watu-watu kabupaten bombana kedua Bagaimana resepsi fungsional Al Qur’an dapat berkontribusi dalam mengembangkan wacana dari fungsi Al Qur’an sebagai media tanam ari ari ketiga Bagaimanakah dampak penanaman ari ari dengan menngunakan Qs Al-fatihah sebagai media penanam ari ari Bagaimana resepsifungsional Al-Qur’an dapat berkontribusi dalam mengembangkan wacana fungsi Al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan skunder. Penelitian ini menerapkan pendekatan integrasi keilmuan antara studi Al-Qur’an, sosial dan historis Teknik pengumpulan data yang di lakukan didalam penelitian ini yaitu dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian Teknik analisis data yang digunakan di penelitian ini adalah analisis deskriptif, yang merupakan bentuk penelitian dengan cara mendeskripsikan data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa. Penelusuran penelitian tradisi penanaman Ari-ari bersumber dari turun temurun masyarakat setempat yang hingga saat ini masih ada, di dalam proses tradisi penanaman ari-ari ada beberapa tahapan yang di lakukan oleh pak sandro yakni menanam ari ari yang dalam pelaksanannya tak berhenti melafadzkan Qs Al-fatihah dan wirid hingga ari ari tersebut selesai di tanam.Qs Al-fatihah yang di gunakan sobekan al-Qur’an bisa berupa tulisan tangan dari ayat 1-7. Dalam tradisi tidak semua masyarakat desa melakukan tradisi penanaman ari ari. adapun resepsi Qs Al-fatihah yakni penanaman ari ari yamh melinatkan Qs Al-fatihah boleh dilakukan karena sesuai maknanya yakni sebagai do’a.
RESEPSI PENGAMALAN DOA KEMUDAHAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN DARUL IHSAN WAWOGGURA Syam, Abd. Rahman; Trisnawati, Ira; Hasanah, Miratul
EL-MAQRA' Vol 4 No 2 (2024): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v4i2.10502

Abstract

Tradisi pembacaan surah Al-ˋAlaq sebagai doa untuk mempermudah hafalan Al-Qur'an merupakan bentuk resepsi Al-Qur'an yang ditemukan di Pondok Pesantren Darul Ihsan Wawonggura. Berangkat dari fenomena ini, penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara fungsi Al-Qur'an sebagai doa kemudahan dengan resepsi budaya yang diterapkan oleh santri putri di pesantren tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sosio-fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini berasal dari ajaran KH. Muhammad Munawwir, pimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Tradisi ini meliputi beberapa tahapan, dimulai dengan niat, dilanjutkan dengan doa khusus, dan diakhiri dengan pembacaan QS. Al-ˋAlaq. Praktik ini berfungsi sebagai resepsi fungsional Al-Qur'an yang signifikan dalam membantu santri mengatasi kesulitan dalam menghafal. Tradisi ini berperan penting dalam mengembangkan fungsi Al-Qur'an sebagai doa kemudahan di Pondok Pesantren Darul Ihsan.
REKONSTRUKSI OTORITAS SUNAH DI ERA MODERN: ANALISIS KRITIS ATAS PEMIKIRAN DANIEL W. BROWN Sugeng, Laksamana Naufal Hadi; Nurhaliza Oktaviani Z
EL-MAQRA' Vol 5 No 2 (2025): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v5i2.11689

Abstract

This study examines Daniel W. Brown’s thought in Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought to map the epistemological evolution of the Sunnah from an early living tradition within the Muslim community to a rigid textual construct following al-Shafi‘i’s codification. Using a qualitative descriptive method through content analysis of Brown’s work and supporting literature, the study finds that contemporary debates between textualist and contextualist approaches are a continuation of classical tensions in the history of Islamic law. Brown emphasizes the need to distinguish the universal moral values of the Sunnah from the Prophet’s context-specific practices and highlights the importance of revitalizing matn criticism so that the Sunnah is not reduced to a rigid normative corpus but remains relevant to modern challenges. The study concludes that Brown’s historical-critical framework provides a significant foundation for reconstructing a more balanced understanding of the Sunnah, although further research is needed to develop a more operational and reconstructive methodology.
POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM NARASI TEKS KISAH AL-QUR’AN; ANALISIS FAMILY COMMUNICATION PATTERNS THEORY Anggy Rayhana Haswy; Ni'matu Zuhrah; Safrudin
EL-MAQRA' Vol 5 No 2 (2025): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v5i2.11718

Abstract

This study analyzes family communication patterns in the narrative of Prophet Ibrahim using the Family Communication Patterns Theory (FCPT). Employing qualitative library research and textual analysis of selected Qur’anic verses, the study examines Ibrahim’s interactions with his father Azar, his wife Hajar, and his son Ismail. The findings indicate that: (1) the Qur’an presents prophetic communication as an ethical model for intergenerational transmission of spiritual values, characterized by honesty, gentleness, and respect for human dignity; (2) Ibrahim’s family reflects a Consensual Family type, marked by high conversation and conformity orientations, demonstrated through the harmonious application of six Qur’anic communication principles—qaulan sadīdan, balīghan, layyinan, karīman, ma‘rūfan, and maysūran—balancing open dialogue with strong value commitment; and (3) this model is highly relevant for contemporary Indonesian families, aligning with cultural ideals of familial harmony, respect for parents, and balanced parenting between authoritative and permissive styles. The integration of empirical Western communication theory with normative Islamic perspectives offers an ideal framework for strengthening family relationships, preventing domestic conflict, and developing effective communication models for modern Indonesian society.
KONSTRUKSI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DALAM TAFSIR AL-AZHAR: SEBUAH ANALISIS WACANA KRITIS Salsadilah, Nijma Auliah; Indal Abror
EL-MAQRA' Vol 5 No 2 (2025): November
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v5i2.11926

Abstract

This research analyzes how Muhammadiyah ideology influences Buya Hamka's interpretation in his Tafsir Al-Azhar through Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA). Using library research methodology with a qualitative approach, this study examines three selected Quranic verses: QS. Ali 'Imran :104 (structured da'wah), QS. Al-Baqarah :170 (rationalism and anti-taqlid), and QS. Al-Ma'un :1-7 (concrete social action). The findings reveal that Hamka consistently employs lexical choices and discourse strategies that reflect three dimensions of Muhammadiyah ideology: (1) structured organization, (2) rationalism, and (3) concrete social action. At the textual level, word choices such as "systematic," "organized," and "good management" demonstrate that da'wah is a collective project requiring organizational structure. At the discourse level, Hamka employs rhetorical strategies to provide Quranic legitimacy for Muhammadiyah's da'wah program. At the socio-cultural level, the tafsir functions as a medium for socializing organizational values to its readers. The three dimensions are integrated into a consistent narrative pattern: rational thinking structured organization concrete social action. This research contributes to understanding the role of tafsir as an arena where religious meaning is contested and reconstructed according to the contextual needs of modern Islamic movements. The research implications are relevant to tafsir studies, inter-Islamic tradition dialogue, and religious education in Indonesia.

Page 9 of 10 | Total Record : 94