cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsied@unisba.ac.id
Phone
+6285157882369
Journal Mail Official
bcsied@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Islamic Education
ISSN : -     EISSN : 28282515     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsied.v2i2
Bandung Conference Series Islamic Education (BCSIED) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Pendidikan Agama Islam dengan ruang lingkup Akhlak Pendidik, Baca Tulis Quran, Iman, Taqwa, Karakter Kurikulum lokal, Kedisiplinan siswa, Kemandirian, Berbusana Muslimah, Kewajiban Suami, Konsep Pendidikan, Manajemen Tahfidz Quran, Manajemen Kepesantrenan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Waktu, Mawaddah, Mentoring, Metode Tikrar, Model Pembinaan, Model Project Based Learning, Mufassir, Nilai Pendidikan, Pembelajaran Kitab Kuning, Pembelajaran Tahsin, Pendidikan Karakter, Rahmah (Sikap), Rasa Syukur (Hifdzun nafs), Religius Menulis, Remaja, Sakinah, Tanggung Jawab Pendidik. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari yang ahli dalam bidangnya.
Articles 374 Documents
Analisis Konsep Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas dengan Orientasi Pendidikan Islam Nisa Lisyani; Sobar Al Ghazal
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6088

Abstract

Abstract. The era of globalization is characterized by quality competition which requires all parties in various fields, including the field of education, to always increase their competition, so that in such conditions the demand for the quality of human resources is highly prioritized. The cycle of Islamic education that should be designed is relevant to changing times and the needs of society in an era, both concepts, teacher quality, objectives, curriculum and others. If new challenges are faced using the old strategy then all efforts undertaken will fail. The author tries to recommend several ideas through the thoughts of Islamic figures who provide ideas and concerns regarding Islamic education, one of which is Syed Muhammad Naquib Al-Attas who was born on September 5, 1931 in Bogor, West Java. The approach used in this research is qualitative (qualitative research) using a type of literature research because it is based on library data. In this study the authors used the method of content analysis (content analysis). Syed Muhammad Naquib Al-Attas argues that humans are physical and spiritual beings as well as consisting of aspects of spirit (ruh), soul (nafs), heart (qalb) and intellect (aql). When it is related to the body, humans are referred to as the animal soul (al-nafs al-hayawaniyyah) and when it is related to the rational soul (al-nafs al-nathiqah). The implication for education is that the orientation of Islamic education according to al-Attas directs humans so that a rational soul can lead the animal soul contained in the term ta'dib because the structure in it includes knowledge (ilm), teaching (ta'lim) and upbringing (tarbiyah). This means that education in the ta'dib concept is not only limited to the transfer of knowledge by educators but directs how the initial human potential leads to the final goal, namely happiness in the world and in the hereafter. Abstrak. Era globalisasi ditandai dengan kompetisi mutu yang menuntut semua pihak dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan untuk senantiasa meningkatkan kompetisinya, sehingga dalam kondisi yang demikian tuntutan terhadap kualitas sumber daya manusia sangat diprioritaskan. Siklus pendidikan Islam yang harusnya didesain relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada suatu era, baik konsep, kualitas guru, tujuan, kurikulum dan lain-lain. Jika tantangan-tantangan baru dihadapi dengan menggunakan strategi lama maka segala usaha yang dijalankan akan menemui kegagalan. Penulis mencoba merekomendasikan beberapa gagasan lewat pemikiran tokoh Islam yang memberikan gagasan dan perhatiannya mengenai pendidikan Islam salah satunya yaitu Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif (qualitative research) dengan menggunakan jenis penelitian pustaka karena didasarkan pada data-data kepustakaan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis konten (content analysis). Syed Muhammad Naquib Al-Attas berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk jasadilah dan ruhaniah sekaligus yang terdiri dari aspek ruh (ruh), jiwa (nafs), hati (qalb) dan intelek (aql). Ketika berkaitan dengan jasad, manusia disebut sebagai jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyyah) dan ketika berkaitan dengan jiwa rasional (al-nafs al-nathiqah). Implikasinya terhadap pendidikan, maka orientasi pendidikan Islam menurut al-Attas mengarahkan manusia supaya jiwa rasional dapat memimpin jiwa hewani yang terdapat dalam istilah ta’dib karena struktur di dalamnya mencangkup pengetahuan (ilm), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan (tarbiyah). Artinya pendidikan dalam konsep ta’dib dilakukan tidak hanya terbatas pada pentransferan ilmu oleh pendidik tetapi mengarahkan bagaimana potensi awal manusia menuju arah tujuan akhir yakni bahagia di dunia dan di akhirat.
Pembinaan Karakter Santri Baru Melalui Program MCB (Mimkho Character Building) di Pondok Pesantren Miftahul Khoir Dago Bandung Davit As'ari; Dedih Surana; Khambali
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6111

Abstract

Abstract. Moral issues have always been a hot topic of discussion in society. In fact the morals of a child, teenager and even adult are not getting better because they are caused by a lack of character development and education in society. So that it has an impact on the world of education and even Islamic boarding schools. During the MCB program at the Miftahul Khoir Dago Islamic Boarding School, Bandung, there were still students who skipped class when learning started, came late during lessons to the mosque to carry out the five daily prayers, were lazy to carry out congregational prayers, lazy to read the Koran and not show politeness or reverence to teachers or people who are older than them. This study aims to determine the planning, implementation, supporting and inhibiting factors of the MCB (Mimkho Character Building) program in fostering the character of new students at the Miftahul Khoir Islamic Boarding School. The method used in this research is descriptive qualitative method. The type of data used is qualitative data. In terms of collecting data, researchers used observation techniques, interviews, and documentation studies. While the data analysis techniques used are through, reduction, data presentation, triangulation and drawing conclusions (verification). The results of this study generally indicate that the MCB program which was carried out when new students entered the Miftahul Khoir Dago Islamic Boarding School in Bandung, had brought significant results to the students. However, there are still students at the Miftahul Khoir Islamic Boarding School who still do not have a sense of awareness in following the rules of the MCB program, only some of them already have the awareness to obey the rules. Abstrak. Permasalahan akhlak selalu menjadi perbincangan yang hangat di lingkungan masyarakat. Nyatanya akhlak yang dimiliki seorang anak, remaja bahkan dewasa tidak semakin membaik karena diakibatkan oleh kurangnya pembinaan dan pendidikan karakter di masyarakat. Sehingga berdampak pada dunia pendidikan bahkan pondok pesantren, pada saat program MCB di Pondok Pesantren Miftahul Khoir Dago Bandung, masih ada santri yang membolos ketika pembelajaran dimulai, datang terlambat pada saat pembelajaran ke masjid untuk melaksanakan solat lima waktu, malas untuk melaksanakan solat berjamaah, malas untuk membaca Al-Qur’an dan kurang menunjukan sikap sopan atau ta’dzim kepada guru maupun orang yang lebih tua darinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, faktor pendukung dan penghambat program MCB (Mimkho Caracter Building) dalam pembinaan karakter santri baru di Pondok Pesantren Miftahul Khoir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif bersifat deskriftif, jenis data yang digunakan yaitu data kualitatif. Dalam hal mengumpulkan data peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu melalui, reduksi, penyajian data, triangulasi dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa Program MCB yang di laksanakan pada saat santri baru memasuki Pondok Pesantren Miftahul Khoir Dago Bandung, telah membawa hasil yang signifikan pada santri. Akan tetapi masih ada santri Pondok Pesantren Miftahul Khoir masih belum memiliki rasa kesadaran dalam mengikuti tata tertib program MCB hanya sebagian yang sudah memiliki kesadaran untuk mentaati tata tertib.
Nilai-Nilai Pendidikan Menurut Al Quran Surat An-Nisa Ayat 58 tentang Kompetensi Guru Muhammad Qais Arrasyid; Erham Wilda; Fitroh Hayati
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6193

Abstract

Abstract. A professional teacher must have several competencies needed by a teacher. Competence is a form of work that is responsible for achieving a goal. These competencies include Pedagogic competencies, Professional competencies, personality competencies, and social competencies. Therefore, the formulation of the essence of Trustworthiness, Fairness and Competence according to experts emerged. (3) What are the educational values in QS An-Nisa verse 58 regarding teacher competence. This research used a descriptive-analytical collection technique, namely literature (Study Literature) with a study of interpretations, books, literature, notes, reports related to the subject matter of the research. From this study, it was concluded that educational values according to An-Nisa verse 58 concerning teacher competence. namely, (1) Trustworthy values regarding Teacher Competence, namely the teacher is obliged to have the ability, understanding, management, understanding, development, design, implementation and evaluation and understand competency standards and subject content standards and teaching materials in the curriculum, understand the structure , concepts, and scientific methods that cover teaching materials, understand the relationship between concepts related subjects. As well as applying scientific concepts in everyday life (2) Fair values regarding teacher competencies, namely teachers are obliged to have attitudes and treatments that are applied to their students and provide examples of good behavior in everyday life. Abstrak. Seorang guru profesional harus memiliki beberapa kompetensi yang dibutuhkan seorang guru. Kompetensi adalah bentuk pekerjaan yang bertanggung jawab untuk mencapai suatu tujuan. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi Pedagogik, kompetensi Profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.. Maka dari itu, munculah rumusan hakikat Amanah, adil dan Kompetensi menurut para ahli. (3) Bagaimana nilai-nilai pendidikan dalam QS An-Nisa ayat 58 tentang kompetensi Guru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis teknik pengumpulan yaitu kepustakaan (Study Literature) dengan penelahan study terhadap tafsir, buku, literatur, catatan, laporan yang berhubungan dengan pokok masalah penelitian. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa Nilai-nilai pendidikan menurut An-Nisa ayat 58 tentang kompetensi guru. yaitu, (1) Nilai-nilai Amanah tentang Kompetensi Guru yaitu Guru berkewajiban mempunyai kemampuan, pemahaman, pengelolaan, pemahaman, pengembangan, perancangan, pelaksanaan dan evaluasi dan memahami standar kompetensi dan standar isi mata pelajaran serta bahan ajar yang ada dalam kurikulum, memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menaungi materi ajar, memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. Serta menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari (2) Nilai-nilai Adil tentang kompetensi Guru yaitu Guru berkewajiban mempunyai sikap dan perlakuan yang diaplikasikan kepada anak didiknya dan memberikan contoh prilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Kegiatan Pembiasaan di SMP PGII 2 Bandung yayat hidayat; Nan Rahminawati; Eko Surbiantoro
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6230

Abstract

Abstract. The purpose of this research is (1) to find the basis for implementing habituation activities at SMP PGII 2 Bandung (2) to identify planning, implementation and evaluation of habituation activities in the context of forming religious character at SMP PGII 2 Bandung (3) to explore the impact of implementing habituation activities on character, religious attitudes and actions of students in SMP PGII 2 Bandung. This research is an empirical research using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques in this research are using the methods of observation, interviews, and documentation studies. This qualitative research uses theoretical and empirical activities presented in the form of narrative texts to clearly explain the basis for implementing habituation activities, planning, implementing and evaluating habituation activities, as well as the impact of implementing habituation activities on the character, attitudes and religious actions of students in SMP PGII 2 Bandung. The results of this study are (a) The basis for habituation activities at SMP PGII 2 Bandung is made at the policy of the Education Foundation and has been stated in the school's vision and mission. (b) Planning for habituation activities at SMP PGII 2 Bandung is carried out at the beginning of the semester by the student curriculum together with the principal including planning for chanting Asmaul Husna, tadarus together, tausiyah about aqidah, morality, and worship, as well as dhuha prayers and fasting Monday-Thursday. (c) Habituation activities on religious characters produce a positive impact because students become obedient in practicing worship and apply it slowly to become habitual within themselves so that religious values ​​are attached to students. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menemukan landasan pelaksanaan kegiatan pembiasaan di SMP PGII 2 Bandung (2) Mengidentifikasi perencanaan, pelasanaan dan evaluasi kegiatan pembiasaan dalam rangka pembentukan karater religius di SMP PGII 2 Bandung (3) Mendalami dampak pelaksanaan kegiatan pembiasaan terhadap karakter, sikap dan perbuatan religius siswa di SMP PGII 2 Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian empirik dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam peneltian ini yaitu menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan kegiatan secara teoritis dan empiris yang disajikan dalam bentuk teks naratif untuk memaparkan secara jelas mengenai landasan pelaksanaan kegiatan pembiasaan, perencanaan, pelasanaan dan evaluasi kegiatan pembiasaan, serta dampak pelaksanaan kegiatan pembiasaan terhadap karakter, sikap dan perbuatan religius siswa di SMP PGII 2 Bandung. Hasil dari penelitian ini yaitu (a) Landasan kegiatan pembiasaan di SMP PGII 2 Bandung dibuat atas kebijakan dari Yayasan Pendidikan dan telah tertuang dalam visi dan misi sekolah. (b) Perencanaan kegiatan pembiasaan di SMP PGII 2 Bandung dilakukan pada awal semester oleh bidang kesiswaan kurikulum bersama dengan kepsek meliputi perencanaan pelantunan asmaul husna, tadarus bersama, tausiyah tentang aqidah, akhlaq, dan ibadah, serta sholat dhuha dan puasa senin-kamis (c) Kegiatan pembiasaan terhadap karakter religious menghasilkan dampak yang positif sebab peserta didik menjadi taat dalam mengamalkan ibadah dan menerapkannya secara perlahan menjadi pembiasaan dalam diri sendiri sehingga nilai religious melekat pada peserta didik.
Implementasi Metode Cerita Islami dalam Menanamkan Moral Keagamaan Siswa Hafizhatul Hilma; Ikin Asikin; Huriah Rachmah
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6239

Abstract

Abstract. There are several moral dilemmas in this globalization era, such as the association between boys and girls being too open. Initial observations at MI al-Mukhlisin Bojongsoang revealed various undesirable trends, including 10% of pupils who used harsh language, 30% who littered, 10% who joined bad external groups, and 10% who got into arguments with friends. To address this, the Islamic nuanced story method is used by the MI Al-Mukhlisin teacher, Mr. Ahmad as the Islamic Cultural History (SKI) teacher, specifically for the formation and moral development of students, such as the stories of the Prophets and their companions, which are unquestionably true in accordance with al-Mukhlisin. Al-Hadith and the Qur'an. This study employed a descriptive qualitative research methodology focused on schools. students, teachers of Islamic Cultural History (SKI), and administrators. It can be deduced from the preparation of the Islamic tale method used at MI Al-Mukhlisin Bojongsoang to inculcate students' religious values that Mr. Ahmad, a teacher of Islamic Cultural History (SKI), developed Prota, Promissory Notes, KKM, Syllabus, and RPP. Abstrak. Era globalisasi ini banyak terjadi krisis moral, sebagai contohnya adalah pergaulan antara anak laki-laki dan anak perempuan sudah terlewat bebas. Berdasarkan observasi awal di MI al-Mukhlisin Bojongsoang terlihat beberapa fenomena yang kurang baik yaitu terdapat 10% siswa yang berbicara kasar, 30% siswa membuang sampah sembarangan, 10% mengikuti kelompok eksternal yang negatif, dan 10% berkelahi sesama teman. Untuk mengatasi hal tersebut guru MI Al-Mukhlisin yaitu bapak Ahmad selaku guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) menggunakan metode cerita bernuansa Islami dikhususkan sebagai pembentukan dan pembinaan moral terhadap siswa, seperti contohnya kisah para Nabi dan sahabatnya yang tidak diragukan lagi akan kebenarannya sesuai dalam al-Qur’an dan al-Hadist. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dilakukan kepada kepala sekolah, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan siswa. Mengenai perencanaan metode cerita Islami dalam menanamkan moral keagamaan siswa yang dilakukan di MI Al-Mukhlisin Bojongsoang dapat disimpulkan bahwa bapak Ahmad selaku guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) mempersiapkan Prota, Promes, KKM, Silabus dan RPP in order to carry out learning activities successfully and efficiently. The application of the Islamic story-learning method begins with the opening activity, in which the students sit nicely, then the instructor greets them, leads them in prayer, and takes their attendance. The SKI teachers' biggest hindrance is the necessity of supporting technologies like infocus while learning occurs while watching videos. In addition, associations outside of school have a significant impact on kids' character because a bad association will likewise have a negative effect on children.
Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Konsep Khauf dan Raja’ Menurut Imam Al-Ghazali Syintia Nisa Utami; Sobar Al Ghazal; A. Mujahid Rasyid
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6252

Abstract

Abstract. Khauf and raja’ is the path taken to draw closer to Allah. Khauf or fear is present in a person because he commits sinful and evil deeds or is forbidden by Allah. The more people know about Allah, the more those fears can influence a person to restrain lust and avoid forbidden deeds. So, raja’ or hope is very necessary because it is to encourage the heart to obey and worship God and it is easier to endure in the face of hardships and difficulties.This research uses a qualitative approach with a descriptive method and uses library research techniques by studying in depth various books and articles or sources related to the subject matter of the research. From this research, it was concluded that Imam al-Ghazali’s persfective about khauf and raja’ in their practice can cultivate commendable morals, keep away from all things forbidden by Allah and can increase obedience so as to make a person become taqwa and earnest in carrying out good deeds. As the values of moral education derived from the concept of khauf and raja’ Imam al-Ghazali, namely: (1) Educate everyone to always stay away from Allah's prohibitions for fear of His wrath; (2) Cultivate the politeness and always joyful person when doing good; (3) Educate everyone to be earnest and not easily discouraged; (4) To bear a person who is always tawakkal to Allah after making serious efforts. Abstrak. Khauf dan raja’ adalah jalan yang ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah. Khauf atau rasa takut hadir pada diri seseorang dikarenakan melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau yang dilarang oleh Allah. Semakin orang mengetahui ilmu tentang Allah, maka ketakutan-ketakutan itu dapat mempengaruhi seseorang untuk menahan hawa nafsu dan menghindari perbuatan yang dilarang. Maka raja’ atau harapan sangat diperlukan karena untuk mendorong hati agar taat dan beribadah kepada Allah serta lebih mudah untuk bertahan dalam menghadapi kesusahan dan kesulitan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan teknik penelitian library research (kajian kepustakaan) dengan mengkaji secara mendalam berbagai buku dan artikel atau sumber yang berhubungan dengan pokok masalah penelitian. Dari penelitian ini, diperoleh simpulan bahwa khauf dan raja’ Imam al-Ghazali dalam pengamalannya dapat menumbuhkan akhlak yang terpuji, menjauhkan dari segala hal yang dilarang oleh Allah dan dapat meningkatkan ketaatan sehingga menjadikan seseorang menjadi taqwa dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal kebaikan. Sebagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak yang diperoleh dari konsep khauf dan raja’ Imam al-Ghazali, yaitu: (1) Mendidik setiap insan agar senantiasa menjauhi larangan Allah karena takut akan kemurkaan-Nya; (2) Menumbuhkan pribadi yang santun dan senantiasa bergembira ketika melakukan kebaikan; (3) Mendidik setiap insan untuk bersungguh-sungguh dan tidak mudah berputus asa; (4) Melahirkan insan yang senantiasa bertawakkal kepada Allah setelah berusaha secara bersungguh-sungguh.
Peran Guru Aqidah Akhlak dalam Meningkatkan Ketaatan Siswa terhadap Peraturan di MTsN 2 Sumedang Naufal Ridotul Irfan; Enoh Nuroni; Dewi Mulyani
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6307

Abstract

Abstract. Discipline is an attitude and behavior that reflects obedience to rules, regulations, and norms that apply both written and unwritten. With discipline, it is hoped that students will discipline themselves in obeying school rules so that the teaching and learning process runs smoothly and facilitates the goals of achieving education. Discipline functions in supporting the process of educational activities so that it runs smoothly and influences the creation of schools as an educational environment that is conducive to learning activities. Discipline can also have an impact on the growth of a good personality. Disciplined attitudes and behavior are formed through practice. Likewise, an orderly, orderly and obedient personality needs to be trained and accustomed to. The formation of a disciplined personality requires guidance from the teacher, this is done so that students can apply disciplinary behavior in their daily lives on the basis of their own desires without any coercion from parents or teachers. This study aims to determine the efforts of Akidah Akhlak teachers in fostering student discipline in implementing school rules in class VIII students. This type of research is descriptive qualitative field, which takes place at MTsN 2 Sumedang. The data sources used are primary and secondary data sources. Methods of data collection using three methods, namely the method of interviews (interview), observation (observation), and documentation then analyzed by means of inductive thinking. The data validation technique uses triangulation. Data analysis techniques namely reduction, data presentation and conclusion. Based on the description of the data from the survey results, the role of the Akidah Akhlak teacher in fostering student discipline in implementing school rules for class VIII students at MTsN 2 Sumedang is that the teacher has a role as an educator, namely the teacher conducts coaching, as a motivator, namely the teacher motivates students to be able to behave in discipline, as class manager and supervisor. As for the efforts that have been made by the teacher are by exemplary efforts, conducting supervision, providing motivation, giving punishment and sanctions to students who are not disciplined in conducting coaching there are supporting factors and inhibiting factors. The supporting factors are facilities and infrastructure, cooperation between school members, cooperation between the school and the surrounding community. The inhibiting factors are infrastructure, lack of teaching staff, lack of support from parents and the surrounding community. ABSTRAK. Kedisiplinan adalah suatu sikap dan prilaku yang mencerminkan ketaatan terhadap peraturan, tata tertib, serta norma-norma yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Dengan adanya ketaatan diharapkan peserta didik mendisiplinkan diri dalam menaati peraturan sekolah sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan memudahkan tujuan pencapaian pendidikan. Ketaatan berfungsi dalam mendukung proses kegiatan pendidikan agar berjalan lancar dan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Sikap taat juga dapat memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Sikap dan prilaku taat terbentuk melalui latihan. Demikian pula kepribadian yang tertib, terarur dan patuh perlu dilatih dan dibiasakan. Pembentukan pribadi yang taat perlu adanya pembinaan dari guru hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menerapkan prilaku taat dalam kehidupanya sehari-hari atas dasar keinginanya sendiri tanpa adanya perintah atau pemaksaan dari orang tua atau guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan ketaatan siswa terhadap peraturan sekolah pada siswa kelas VIII. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif lapangan, yang mengambil lokasi di MTsN 2 Sumedang. Sumber data yang digunakan peneliti adalah sumber data primer dan skunder. Metode pengumpulan data menggunakan tiga metode diantaranya yaitu, metode wawancara (interview), observasi (pengamatan), dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan cara berfikir induktif. Teknik analisa data yang digunakan yaitu Reduksi, Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. Berdasarkan deskripsi data dari hasil pra survey adapun peranan guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan ketaatan siswa terhadap peraturan sekolah pada siswa kelas VIII di MTsN 2 Sumedang adalah guru memiliki peranan sebagai edukator yaitu guru melakukan pembinaan ketaatan, sebagai motivator yaitu guru memotivasi siswa agar dapat berprilaku taat terhadap peraturan, sebagai pengelola kelas dan supervisor. adapun upaya yang telah dilakukan oleh guru aqidah akhlak adalah dengan upaya keteladanan, melakukan pengawasan, memberikan motivasi, memberikan hukuman dan sanksi pada siswa yang tidak taat terhadap peraturan dalam melakukan pembinaan terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung diantaranya adalah sarana dan prasarana, kerjasama antar warga sekolah, kerja sama antar pihak sekolah dengan masyarakat sekitar. Adapun faktor penghambatnya diantaranya yaitu sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, kurangnya dukungan orangtua dan masyarakat sekitar.
Upaya Asatidz dalam Mencegah Ma'ashil Yadain melalui Pembelajaran Akhlaq Kajian Kitab Muroqil Ubudiyah Ilham Alamsyah; Mujahid Rasyid; Ayi Sobarna
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6311

Abstract

Abstract. This essay discusses the phenomenon of ma’ashil yadain they are theft and ghasab at Islamic Boarding School, Bandung. This study aims to reveal the causes of the occurrence of acts of theft and ghasab and efforts to overcome them by the teachersthrough a study of the Muroqil Ubudiyah book how to implement it and what solutions can be offered to overcome the theft and the culture of the ghasab. This study uses a descriptive qualitative approach, because researcher want to describe and illustrate how acts of theft and ghasab occur at the Islamic Boarding School. Data collection techniques in this study used direct observation/observation, interviews, and documentation of the head of the boarding school, the teachers administrators and students. Data analysis uses three stages, the first is data reduction, the second is data presentation, and the third is drawing conclusions. The results showed: 1) The theft that occurred at the Islamic Boarding School was caused by several factors including economic factors, urgent circumstances and the carelessness of the owner of the goods while ghasab was caused by 3 factors, namely individual factors: weak awareness of students not to commit ghasab , an innate tradition from the previous environment and likes to belittle the items in the ghasab. Environmental factors: the absence of role models, patterns of interaction that are too close to be abused, and factors of the moral education system: the quality of educators is not maintained, the moral development is not optimal. 2). Efforts to implement prevention through the study of the book of muroqil ubudiyah at Pondok Pesantren are not going well. This is shown by the students who often arrive late for recitation, are not disciplined when reciting the recitation and lack of support from other the teachers 3). Solutions that can be offered as an effort to reduce theft and ghasab in Islamic boarding schools are changing perceptions of ghasab, setting an example not to commit theft and ghasab, making regulations about stealing and ghasab and improving the quality of moral education. For now, efforts have been made by Islamic Boarding School to tackle cases of theft and ghasab culture, namely changing perceptions about stealing and ghasab, doing punishment, and improving the quality of moral education. Abstrak. Skripsi ini membahas fenomena ma’ashil yadain yaitu pencurian dan ghasab di Pondok Pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sebab terjadinya tindakan pencurian dan ghasab serta upaya penanggulangannya yang dilakukan asatidz melalui kajian kitab muroqil ubudiyah bagaimana pelaksanaannya serta solusi apa yang bisa ditawarkan guna menanggulangi pencurian dan budaya ghasab tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, sebab peneliti ingin mendeskripsikan dan menggambarkan bagaimana terjadinya tindakan pencurian dan ghasab di Pondok Pesantren. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pengamatan langsung/observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pimpinan pesantren, asatidz, pengurus dan santri. Analisis data menggunakan tiga tahapan yang pertama reduksi data kedua penyajian data dan yang ketiga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan: 1) Pencurian yang terjadi di Pondok Pesantren disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor ekonomi, faktor keadaan yang mendesak dan faktor kecerobohan si pemilik barang sedangkan ghasab disebabkan oleh 3 faktor yaitu faktor individu: lemahnya kesadaran santri untuk tidak berbuat ghasab, tradisi bawaan dari lingkungan sebelumnya dan suka meremehkan barang yang di ghasab. Faktor lingkungan: tidak adanya sosok teladan, pola interaksi yang terlalu dekat yang disalahgunakan, serta faktor sistem pendidikan akhlak: kualitas pendidik yang kurang terjaga, kurang maksimalnya pembinaan akhlak yang dilakukan. 2). Upaya pelaksaan pencegahan melalui kajian kitab muroqil ubudiyah di Pondok Pesantren, berjalan kurang baik. Hal ini ditunjukkan dengan santri yang sering datang terlambat dalam pengajian, tidak disiplin ketika mengaji dan kurangnya dukungan dari asatidz lain. 3). Solusi yang dapat ditawarkan sebagai upaya mengurangi pencurian dan ghasab di pondok pesantren yaitu mengubah persepsi tentang ghasab, memberi teladan untuk tidak melakukan pencurian dan ghasab, membuat peraturan tentang mencuri dan ghasab serta meningkatkan mutu pendidikan akhlak. Untuk saat ini upaya yang sudah dilakukan Pondok Pesantren untuk menanggulangi kasus pencurian dan budaya ghasab yaitu mengubah persepsi tentang mencuri dan ghasab, melakukan ta’zir, dan meningkatkan mutu pendidikan akhlak.
Pendidikan Profetik dalam Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dan Implikasinya pada Capaian Pembelajaran PAI Kurikulum Merdeka Neng Susilawati; Ayi Sobarna; Heru Pratikno
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6361

Abstract

Abstract. Education is the link to make humans bring out their best potential. Islamic education has an important role in overcoming the degradation of the eastern values of the Indonesian nation. Islamic education aims to guide humans as the best of God's creatures and make perfect humans (insan kamil). Islamic education that positions the Prophet Muhammad as an ideal figure in exemplary morals is interpreted as prophetic education. This study discusses the form of prophetic education in the novel Bumi Cinta by Habiburrahman El Shirazy and its implications for the PAI Learning Outcomes of the Merdeka Curriculum. The research method used is descriptive method by using documentation techniques in collecting data and using content analysis techniques in analyzing the data that has been obtained. Based on the results of research and discussion, the value of prophetic education in the novel Bumi Cinta by Habiburrahman El Shirazy is the value of humanization including brotherhood, justice, and mutual respect; the value of liberation includes hurriyah (self-liberation from attachment or oppression) and preventing bad behavior; and the value of transcendence includes faith, piety, and sincerity. There are implications between the values of prophetic education in the novel Bumi Cinta by Habiburrahman El Shirazy and the PAI Learning Outcomes of the Kurikulum Merdeka, namely the importance of applying Islamic values in everyday life. In the PAI Learning Outcomes of Kurikulum Merdeka, the values of humanization, liberation, and transcendence are contained in the elements of Al-Qur'an-Hadith, Akidah, Akhlak, Fikih, and History of Islamic Civilization in each learning phase. abstrak. Pendidikan merupakan penghubung untuk menjadikan manusia mengeluarkan potensi terbaiknya. Pendidkan Islam mempunyai peran penting dalam mengatasi degradasi nilai ketimuran bangsa Indonesia. Pendidikan Islam bertujuan memandu manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah dan menjadikan manusia yang sempurna (insan kamil). Pendidikan Islam yang memposisikan Nabi Muhammad saw sebagai sosok ideal dalam keteladanan akhlak dimaknai sebagai pendidikan profetik (pendidikan kenabian). Penelitian ini membahas tentang bentuk pendidikan profetik dalam novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan implikasinya terhadap Capaian Pembelajaran PAI Kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik dokumentasi dalam pengumpulan data-data serta menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dalam menganalisis data yang telah didapatkan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, nilai pendidikan profetik yang ada di dalam novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah nilai humanisasi meliputi persaudaraan, adil, dan saling menghargai; nilai liberasi meliputi hurriyah (pembebasan diri dari keterikatan atau penindasan) dan mencegah perilaku kemungkaran; dan nilai transendensi meliputi keimanan, ketakwaan, dan keikhlasan. Terdapat implikasi antara nilai-nilai pendidikan profetik yang ada di dalam novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dengan Capaian Pembelajaran PAI Kurikulum Merdeka, yaitu tentang pentingnya menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Capaian Pembelajaran PAI Kurikulum Merdeka, nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi dimuat dalam elemen Al-Qur’an-Hadis, Akidah, Akhlak, Fikih, dan Sejarah Peradaban Islam yang ada di setiap fase pembelajaran.
Nilai - Nilai Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 8 Eric Kisswanto; Fitroh Hayati
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v3i1.6365

Abstract

Abstract. Al-Quran is the main source that can be used as a guide by every Muslim in practicing noble morals. And the Prophet Muhammad SAW can be used as a role model in fostering noble morals. Because the Koran is the morals of the Prophet Muhammad SAW or the Prophet Muhammad SAW is the living Al-Quran. Thus the importance of noble morals in human life so that in the Islamic religion there are many mentions in the Koran, one of the verses of the Koran that talks about morals is the Al-Quran surah Al-Maidah Verse 8. This research wants to know the moral education contained in the letter Al-Maidah verse 8. This research was conducted through library research, namely by taking data from books or scientific works related to the issues to be discussed either in the form of interpretations, Al -Quran, education and morals. The interpretation method used is the tahlili interpretation method, namely interpreting the verses of the Koran by explaining all the aspects contained in the verses being interpreted and explaining the meanings contained therein in accordance with the expertise of the interpreter who interprets these verses. The results of the research show that the essence of Surah Al-Maidah verse 8 is, (1) A believer must speak righteously because Allah SWT. ordered to carry out charity and work honestly only because Allah is All-Seeing and All-Knowing. (2) A believer must act sincerely because of Allah SWT. not because they want praise from others. (3) A believer must have piety to Allah SWT, that is, have a good relationship with Allah and be able to put everything in its place. (4) A believer must act fairly under any circumstances and to anyone without discriminating between kinship, family or enemies. The values of moral education contained in the letter Al-Maidah verse 8 are: (1) The value of righteously. (2) The value of sincerity. (3) The value of piety. (4) The value of justice. ABSTRAK. Al-Quran merupakan sumber utama yang dapat dijadikaan pedoman oleh setiap muslim dalam mengamalkan akhlak yang mulia. Dan Nabi Muhammad SAW dapat dijadikaan tauladan dalam pembinaan akhlak yang mulia. Karena Al-Quran adalah akhlak Nabi Muhammad SAW atau Nabi Muhammad SAW adalah Al-Quran hidup. Demikian pentingnya akhlak yang mulia dalam kehidupaan manusia sehingga dalam agama islam banyak di sebutkaan dalam Al-Quran, salah satu ayat Al-Quran yang membicaraakan tentang akhlak adalah Al-Quran surat Al-Maidah Ayat 8. Penelitian ini untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam surat Al-Maidah ayat 8. Penelitian ini dilakukan melalui study kepustakakaan (Library research), yaitu dengan mengambil data dari buku-buku atau karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas baik berupa tafsir, Al-Quran, pendidikan dan akhlak. Adapun metode tafsir yang digunakan yaitu metode tafsir tahlili yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan memamarkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercantum didalamnya sesuia dengan keahlian muffasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa esensi dari surat Al-Maidah ayat 8 adalah, (1) Seorang mukmin harus berkata benar karena Allah SWT. memerintahkan untuk melaksanakan amal dan pekerjaan secara baik dan benar hanya karena Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. (2) Seorang mukmin harus berbuat ikhlas karena Allah SWT. bukan karena ingin pujian dari orang lain. (3) Seorang mukmin harus memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT., yaitu memiliki hubungan baik dengan Allah dan dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. (4) Seorang mukmin harus adil berlaku adil dalam keadaan bagaimana pun dan terhadap siapapun tanpa adanya memilah-milih antara kekerabatan, keluarga atau pun musuh. Adapun nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalam surat Al-Maidah ayat 8 adalah: (1) Nilai kebenaran. (2) Nilai keikhlasan. (3) Nilai ketaqwaan. (4) Nilai keadilan.