cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsied@unisba.ac.id
Phone
+6285157882369
Journal Mail Official
bcsied@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Islamic Education
ISSN : -     EISSN : 28282515     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsied.v2i2
Bandung Conference Series Islamic Education (BCSIED) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Pendidikan Agama Islam dengan ruang lingkup Akhlak Pendidik, Baca Tulis Quran, Iman, Taqwa, Karakter Kurikulum lokal, Kedisiplinan siswa, Kemandirian, Berbusana Muslimah, Kewajiban Suami, Konsep Pendidikan, Manajemen Tahfidz Quran, Manajemen Kepesantrenan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Waktu, Mawaddah, Mentoring, Metode Tikrar, Model Pembinaan, Model Project Based Learning, Mufassir, Nilai Pendidikan, Pembelajaran Kitab Kuning, Pembelajaran Tahsin, Pendidikan Karakter, Rahmah (Sikap), Rasa Syukur (Hifdzun nafs), Religius Menulis, Remaja, Sakinah, Tanggung Jawab Pendidik. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari yang ahli dalam bidangnya.
Articles 374 Documents
Nilai-Nilai Pendidikan QS. An-Nahl Ayat 90 tentang Anjuran untuk Melakukan Akhlakul Karimah Rini Mustika Putri; Enoh; Dewi Mulyani
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.887 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3868

Abstract

Abstract. How important is moral education for humans, because moral education is education about the basics of morals and the virtues of temperament, traits that must be possessed and made a habit by children from the time of analysis until they reach maturity. become someone who is ready to sail the ocean of life. This study aims to determine the thoughts of commentators, essences, education experts and educational values regarding the content of Q.S An-Nahl verse 90. Judging from the type of data the research approach used is a qualitative approach, this study is library research. The data of this study were obtained from the translation of the Qur'an and several commentators. The technique used in this study used a book survey technique and this study used the method of content analysis. The results of this study reveal that there are three things that must be owned by all mankind, namely fairness, ihsan and doing good to relatives and three things that must be shunned by mankind, namely vile, munkar and al-baghy, all of this for the smooth running of life that lies ahead. earth, because it is a sense of obedience to Allah SWT and asking for help only from Allah Ta'ala and praying to Him by mentioning his names, because Allah SWT knows everything that his creatures do. Allah SWT commands his servants to do three things, namely justice, ihsan and doing good and stay away from three things, namely vile, evil and al-baghy. Akhlakul Karimah is a good and commendable character, which is a rule or norm that regulates the relationship between human beings and God and the universe. As humans, we should always take lessons from what Allah has taught all of his servants. Abstrak. Betapa pentingnya pendidikan akhlak bagi manusia, karena pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa sampai ia menjadi seseorang yang siap mengarungi lautan kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pemikiran para mufassir, esensi, ahli pendidikan dan nilai-nilai pendidikan mengenai kandungan Q.S An-Nahl ayat 90. Ditinjau dari jenis datanya pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, kajian ini merupakan penelitian pustaka (library research), data penelitian ini diperoleh dari Al-Qur’an terjemahan dan beberapa mufassir, Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik book survey dan penelitian ini menggunakan metode analisis isi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa tiga perkara yang harus di miliki semua umat manusia yaitu adil, ihsan dan berbuat baik kepada kerabat serta tiga perkara yang harus dijauhi umat manusia yaitu keji, munkar dan al-baghy, semua ini demi kelancaran kehidupan yang ada di muka bumi, karena itu adalah rasa taat kepada Allah Swt serta meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya dengan menyebut asma-asmanya, karena sesungguhnya Allah Swt maha mengetahui segala sesuatu yang dilakukan makhluknya. Allah Swt memerintahkan kepada hambanya untuk menjalankan tiga perkara yaitu adil, ihsan dan berbuat baik serta menjauhi tiga perkara yaitu keji, munkar dan al-baghy. Akhlakul Karimah adalah Akhlak yang baik dan terpuji yaitu suatu aturan atau norma yang mengatur hubungan antar sesama manusia dengan tuhan dan alam semesta. Sebagai manusia hendaknya selalu mengambil pelajaran atas apa yang telah Allah beri pengajaran kepada seluruh hambanya.
Analisis Program Tazkiyatun Nafs pada Pesantren Mahasiswa Universitas Aisyiyah Bandung Moh. Irsyad Junaidi; Nan Rahminawati; Ayi Sobarna
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.763 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3872

Abstract

Abstract. The Tazkiyatun Nafs program is a new program that has existed and was then repackaged. This program is carried out at the beginning of the lecture, namely during the new student period. The aims of the research are (1) to find the philosophical basis for the Tazkiyatun Nafs program at the Islamic boarding school of Aiysiyah University, Bandung. (2) To examine the ideological basis of the Tazkiyatun Nafs program at the Islamic boarding school of Aisyiyah University, Bandung. (3) Analyzing the design of the Tazkiyatun Nafs program related to the formulation of materials, methods, educators, facilities and infrastructure as well as assessment in Islamic boarding schools, Aisyiyah University, Bandung. This research is an empirical research using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques in this study used the interview method and the study of documentation. This qualitative research uses theoretical and empirical activities presented in the form of narrative texts to explain clearly how the philosophical basis and ideological basis for the formation of the Tazkiyatun Nafs program at Aisyiyah University Bandung, designs related to the formulation of materials, methods, educators, facilities and infrastructure as well as assessment in reviewing Tazkiyatun Nafs program at the Aiysiyah University Islamic boarding school in Bandung. The results of this study are: (a) the philosophical basis for the formation of the Tazkiyatun Nafs program, which is a phenomenon that occurs in this era of globalization so that mankind can remain focused in life. (b) the ideological basis for the formation of the Tazkiyatun Nafs program is to want to carry out da'wah in stages, starting with self-improvement and making students have good morals by providing education and teaching through coaching in pesantren. (c) The design of the Tazkiyatun Nafs program at Aisyiyah University Bandung, namely first, the formulation of the material which is divided into 3 stages of Tazkiyatun Nafs 1,2 and 3. Second, the formulation of methods using classical and practical learning methods. third, the determination of presenters who are tailored to their respective expertise. Fourth, the facilities and infrastructure on campus already support the activities of student boarding schools. Fifth, the program assessment is carried out with several elements, namely cognitive aspects, affective aspects and psychomotor aspects. Abstrak. Program Tazkiyatun Nafs merupakan program baru yang pernah ada dan kemudian di kemas kembali. Program ini dilaksanakan pada awal perkuliahan yaitu saat masa mahasiwa baru. Tujuan dari penelitian adalah (1) Menemukan dasar filosofi terjadinya program Tazkiyatun Nafs di pesantren Universitas Aiysiyah Bandung. (2) Mengkaji dasar idiologis terjadinya program Tazkiyatun Nafs di pesantren Universitas Aisyiyah Bandung. (3) Menganalisis perancangan program Tazkiyatun Nafs terkait perumusan materi, metode, pendidik, sarana dan prasarana serta penilaian di pesantren Universitas Aisyiyah Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian empiric dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara dan studi dokumentasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan kegiatan teoritis dan empiris disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif untuk memaparkan secara jelas bagaimana dasar filosofis dan dasar idiologis terbentuknya program Tazkiyatun Nafs di Universitas Aisyiyah Bandung, perancangan terkait perumusan materi, metode, pendidik, sarana dan prasarana serta penilaian dalam mengkaji program Tazkiyatun Nafs di pesantren Universitas Aiysiyah Bandung. Hasil dari penelitian ini yaitu: (a) landasan filosofis terbentuknya program Tazkiyatun Nafs yaitu fenomena yang terjadi pada zaman globalisasi ini agar umat manusia dapat tetap terarah dalam kehidupan. (b) landasan ideologis terbentuknya program Tazkiyatun Nafs yaitu ingin melakukan dakwah secara bertahap yang diawali dengan pembenahan diri dan menjadikan mahasiswa berakhlakul karimah dengan memberikan Pendidikan dan pengajaran melalui pembinaan di pesantren. (c) Perancangan program Tazkiyatun Nafs di Universitas Aisyiyah Bandung yakni pertama, perumusan materi yang terbagi dalam 3 tahap Tazkiyatun Nafs 1,2 dan 3. Kedua, perumusan metode dengan menggunakan metode pembelajaran klasikal dan praktikal. ketiga, penentuan pemateri yang disesuaikan dengan keahliannya masing-masing. Keempat, sarana dan prasarana yang terdapat di kampus sudah mendukung kegiatan pesantren mahasiswa. Kelima, penilaian program yang dilakukan dengan beberapa unsur yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik.
Kerjasama Sekolah dan Orangtua dalam Pembinaan Akhlak Siswa Amalia Rizki Febrianti; Asep Dudi Suhardini; Fitroh Hayati
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.753 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3878

Abstract

Abstract. This research was conducted to find out the description of the cooperation carried out by schools and parents in fostering the morals of students at Mdt. Al-Ikhlas in Gandasari Village, a description of the morals of students in increasing cognitive insight, appreciation of affective values and behavioral habits in moral development. The approach used is a qualitative approach with the type of case study research. This research was conducted at Gandasari Village with informants from this study the Principal and Teachers and Parents. Data collection techniques in this study used interviews and questionnaires. Data analysis includes steps of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Test the validity of the data using triangulation. The results of the study of School and Parent Cooperation in Moral Development shows that: 1. Cooperation between schools and parents in fostering the morals of students in the cognitive domain goes well because the teacher carries out his responsibilities and roles in school well and parents do the same thing where the learning that children get at school is repeated continuously by parents at home. 2. Cooperation between schools and parents in fostering students' morals in the affective domain can be indicated through the development of discipline in studying a learning material. Schools encourage students to be responsible for completing the material provided and parents have more roles to encourage children to understand the material taught at school. 3. cooperation between schools and parents in the psychomotor domain is to encourage children to develop skills in completing work related to motor activities. This is obtained through training and habituation carried out by teachers and parents. Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kerjasama yang dilakukan sekolah dan orangtua dalam pembinaan akhlak sisw di Mdt. Al-Ikhlas Desa Gandasari, gambaran akhlak peserta didik dalam meningkatkan wawasan kognitif, penghayatan nilai afektif dan kebiasaan berperilaku dalam pembinaan akhlak. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini dilakukan di Desa Gandasari dengan informan dari penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan Guru serta Orangtua. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dan kuesioner. Analisis data meliputi langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian Kerjasama Sekolah dan Orangtua dalam Pembinaan Akhlak siswa menunjukan bahwa: 1. Kerjasama sekolah dan orangtua dalam pembinaan akhlak siswa di pada ranah kognitif berjalan dengan baik karena guru melaksanakan tanggung jawab dan perannya disekolah dengan baik dan orangtua pun melakukan hal yang sama yang mana pembelajaran yang didapatkan anak disekolah diulang kembali secara kontinyu oleh orangtua dirumah. 2. Kerjasama sekolah dan orangtua dalam pembinaan akhlak siswa pada ranah afektif dapat diindikasikan melalui pembinaan kedisplinan dalam mempelajari suatu materi pembelajaran. Sekolah mendorong siswa untuk bertanggung jawab dalam menyelesaikan materi yang diberikan dan orangtua memiliki peran yang lebih untuk mendorong anak dalam memahami materi yang diajarkan disekolah. 3. kerjasama sekolah dan orangtua pada ranah psikomotorik adalah mendorong anak dalam memunculkan keterampilan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas motoric. Hal ini didapat melalui latihan dan pembiasaan yang dilakukan oleh guru dan orangtua.
Nilai-Nilai Pendidikan dari Q.S Al-A’raf Ayat 179 tentang Pentingnya Optimalisasi Peran Hati, Akal, Penglihatan dan Pendengaran dalam Menghindari Perilaku Lalai (Ghaflah) Rizani Adawiyah; Enoh; Dinar Nur Inten
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.297 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3892

Abstract

Abstract. Negligent behavior is a behavior that is wrong with all existing potential and energy. Of course, such an attitude does not provide any benefit, instead it harms and destroys. The Qur'an emphasizes the corruption of this tendency and calls it negligence. Many people neglect Allah commands, even stay away from Allah, worship is not on time, and many sunnah practices are abandoned. This problem shows that humans are deceived by the life of the world. A lot of time is spent on worldly affairs, but for the affairs of the hereafter only time is left and sometimes it is still considered negligent. The aims of this study were to: (1) To identify the content of Q.S. Al-A'raf verse 179 according to the opinion of the commentators. (2) To pull the essence of Q.S Al-A'raf verse 179. (3) To identify ghaflah according to experts. (4) To pull educational values contained in Q.S. Al-A'raf verse 179 about the importance of optimizing the role of the heart, mind, sight, and hearing in avoiding negligent behavior (ghaflah). This study uses a descriptive qualitative analysis method, this type of research uses a literature study and the data collection technique uses a documentation review technique by searching for or investigating matters related to the object of research. The results of the study of educational values from Q.S Al-A'raf verse 179 about the importance of optimizing the role of the heart, mind, sight and hearing in avoiding negligent behavior (ghaflah) are as follows: (1) Humans are required to cultivate a fear of Allah swt. (2) Humans are required to be serious in utilizing the potential of the heart, reason, sight and hearing and to grow gratitude for the potentials that Allah has given. (3) Humans are required to maintain human values by utilizing the potential of the heart, reason, sight and hearing proportionally in order to avoid animal traits. (4) Humans are required to keep asking for Allah protection to avoid laziness and negligence. Abstrak. Perilaku lalai merupakan suatu perilaku yang salah terhadap segenap potensi dan energi yang ada. Tentunya sikap lalai sama sekali tidak memberikan manfaat, tetapi akan membahayakan dan membinasakan. Al-Qur’an menegaskan rusaknya kecenderungan seperti ini dan menamakannya sebagai kelalaian. Banyak orang-orang yang melalaikan perintah Allah, bahkan menjauh dari Allah, ibadah tidak tepat waktu, dan amalan sunnah pun banyak yang ditinggalkan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa manusia terperdaya dengan kehidupan dunia. Banyak waktu yang dihabiskan untuk urusan dunia, namun untuk urusan akhirat hanya waktu sisa dan terkadang masih dinilai lalai. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Untuk mengidentifikasi isi kandungan Q.S. Al-A’raf ayat 179 menurut pendapat para mufassir. (2) Untuk menarik esensi dari Q.S Al-A’raf ayat 179. (3) Untuk mengidentifikasi ghaflah menurut para ahli. (4) Untuk menarik nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179 tentang pentingnya optimalisasi peran hati, akal, penglihatan, dan pendengaran dalam menghindari perilaku lalai (ghaflah). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis, jenis penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dan teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik telaah dokumentasi dengan mencari atau menyelidiki hal-hal terkait objek penelitian. Hasil penelitian dari Nilai-nilai pendidikan dari Q.S Al-A’raf ayat 179 tentang pentingnya optimalisasi peran hati, akal, penglihatan dan pendengaran dalam menghindari perilaku lalai (ghaflah) adalah sebagai berikut: (1) Manusia diharuskan untuk menumbuhkan rasa takut akan siksaan Allah Swt. (2) Manusia dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan potensi hati, akal, penglihatan dan pendengaran serta menumbuhkan rasa syukur atas potensi-potensi yang telah Allah berikan. (3) Manusia diharuskan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dengan memanfaatkan potensi hati, akal, penglihatan dan pendengaran secara proporsional agar terhindar dari sifat-sifat binatang. (4) Manusia diharuskan untuk tetap meminta perlindungan Allah Swt. agar dihindarkan dari kemalasan dan kelalaian.
Implementasi Pendidikan Iman bagi Santri melalui Program Belajar Bersama Orang Tua di Kuttab Al-Fatih Cimenyan Bandung Level Kuttab Awal Tiga Muhammad Zulfikar; Aep Saepudin; Fitroh Hayati
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.844 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3978

Abstract

Abstract. The role of parents in children's faith education cannot be completely replaced by the role of the teacher. Therefore, there needs to be good cooperation between parents and teachers in the faith education process that is carried out. The purpose of this study was to determine the planning, implementation, evaluation as well as supporting and inhibiting factors in the implementation of Faith Education for students through the Learning with Parents program at Kuttab Al-Fatih Bandung. This study uses a descriptive method using a qualitative approach to examine the implementation of Faith Education through the Learning with Parents program. Data collection techniques were carried out by means of interviews, observations, and documentation studies. The results showed that: (a). Planning for faith education through the study program with parents consists of preparing a schedule for the BBO program for one academic year by the coordinator of the faith class and making a kuttab activity plan (RKK) made by the faith class teacher. (b). The implementation of faith education through the BBO program is carried out continuously between teachers and parents. Beginning with faith education conducted in the classroom by the faith class teacher, then followed by parents with a faith class assignment guide. (c). The evaluation or assessment used in the BBO program is an attitude assessment that is carried out in stages (d). The supporting factor that dominates the implementation of the program is parents' awareness of the importance of the role of parents in accompanying children when studying at home. While the inhibiting factor is the lack of understanding of parents in the technical implementation and writing feedback on activities that have been carried out at home. Abstrak. Peran orangtua dalam pendidikan iman anak tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh peran guru. Oleh karenanya perlu ada kerjasama yang baik antara orangtua dan guru dalam proses pendidikan iman yang dilakukan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi Pendidikan Iman bagi santri melalui proram Belajar Bersama Orangtua di Kuttab Al-Fatih Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk meneliti implementasi Pendidikan Iman melalui program Belajar Bersama Orangtua. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (a). Perencanaan pendidikan iman melalui program berlajar bersama orangtua terdiri dari penyusunan jadwal program BBO untuk satu tahun ajaran oleh koordinator kelas iman dan pembuatan rencana kegiatan kuttab (RKK) yang di buat oleh guru kelas iman. (b). Pelaksanaan pendidikan iman melalui program BBO dilakukan secara berkesinambungan antara guru dengan orangtua. Diawali dengan pendidikan iman yang dilakukan di kelas oleh guru kelas iman, kemudian dilanjutkan oleh orangtua dengan panduan tugas kelas iman. (c). Evaluasi atau penilaian yang digunakan pada program BBO adalah penilaian sikap yang dilakukan secara bertahap (d). Faktor pendukung yang mendominasi pelaksanaan program adalah kesadaran orangtua akan pentingnya peran orantua dalam membersamai anak saat belajar di rumah. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya pemahaman orangtua dalam teknis pelaksanaan dan penulisan feedback atas kegiatan yang telah dilakukan di rumah.
Implikasi Pendidikan dari Al-Qur’an Surat Ar-Rahman Ayat 1-4 tentang Proses Pengajaran Al-Qur’an terhadap Upaya Menanamkan Karakter Kasih Sayang dan Komunikasi Pembelajaran Shifa Nurul Aulia; Aep Saeupudin; Ikin Asikin
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.499 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.3993

Abstract

Abstract. In the world of education, the growth of affection greatly affects the learning outcomes created. Thus, effective learning cannot be created without the love of a teacher to students. This is because love is the essence of teacher-student communication. This verse explains about Allah swt mentioning the most blessings to all mankind. So the first thing that Allah mentions is the blessing of compassion he teaches the Qur'an to His servants. Then the second favor, Allah strengthens with the creation of man. After that, al-bayan's third blessing was Allah teaching him the ability to speak and understand. The formulation of the problem arises: (1) How is the content of Q.S. Ar-Rahman verses 1-4 according to the commentators? (2) How is the essence of Q.S. Ar-Rahman verses 1-4 ? (3) What is the character of love and learning communication according to the experts? (4) What are the educational implications of the Al-Qur'an letter Ar-Rahman verses 1-4 regarding the process of teaching the Qur'an on efforts to instill the character of love and learning communication? The results of this study reveal in Qs Ar-Rahman verses 1-4 that Allah mentions the Qur'an as the most important after that al-insan (humans). Humans are given the potential of al-bayan to be taught in the form of speaking, speaking and expressing thoughts. With this potential, humans can develop and progress rapidly, especially in educational institutions. The implications contained in the Al-Qur'an letter Ar-Rahman verses 1-4 are that love in education is a very urgent matter and the most effective method in education is the affectionate approach. Parents and teachers should ideally be able to work together in building good communication towards the teaching of students. Abstrak. Dalam dunia pendidikan penumbuhan kasih sayang sangat berdampak terhadap hasil pembelajaran yang diciptakan. Sehingga, pembelajaran efektif tidak mampu diciptakan tanpa adanya kasih sayang dari seorang guru kepada peserta didik. Hal ini disebabkan kasih sayang merupakan inti dari komunikasi guru dan peserta didik. Ayat ini menerangkan tentang Allah swt menyebutkan nikmat – nikmat yang paling banyak kepada seluruh umat manusia. Maka yang lebih dahulu Allah sebutkan yaitu nikmat kasih sayang diajarkannya Al-Qur’an kepada para hamba-Nya. Kemudian nikmat kedua, Allah perkuat dengan penciptaan manusia. Setelah itu, nikmat yang ketiga al-bayan yaitu Allah mengajarinya kemampuan berbicara dan memahami. Munculah rumusan masalah : (1) Bagaimana isi kandungan Q.S. Ar – Rahman ayat 1-4 menurut para mufassir ? (2) Bagaimana esensi Q.S. Ar – Rahman ayat 1-4 ? (3) Bagaimana karakter kasih sayang dan komunikasi pembelajaran menurut para ahli ? (4) Apa implikasi pendidikan dari Al – Qur’an surat Ar-Rahman ayat 1-4 tentang proses pengajaran Al-Qur’an terhadap upaya menanamkan karakter kasih sayang dan komunikasi pembelajaran? Hasil dari penelitian ini mengungkapkan di dalam Qs Ar-Rahman ayat 1-4 bahwa Allah menyebutkan Al-Qur’an paling utama setelah itu al-insan (manusia). Manusia diberi potensi al-bayan untuk diajarinya berupa berbicara, berbahasa serta mengungkapkan pikiran. Dengan potensi ini manusia dapat berkembang dan mengalami kemajuan pesat terkhusus pada lembaga pendidikan. Implikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 1-4 adalah Kasih sayang dalam pendidikan menjadi suatu hal yang sangat urgent dan metode yang paling efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih sayang. Orang tua dan guru idealnya dapat bekerjasama dalam membangun komunikasi yang baik terhadap pengajaran peserta didik.
Strategi Guru PAI dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Peserta Didik di SDIT Generasi Cendekia Kec. Wanasalam Kab. Lebak-Banten Masyitoh Fathonah Khoiriyah; Nan Rahminawati; Eko Surbiantoro
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.94 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.4036

Abstract

Abstract. Reading the Qur'an with makhrajul letters according to the correct rules of tajwid science is an obligation for every Muslim. To teach tajwid science in the learning process can be done by islamic religious education teachers. The technique that Islamic Religious Education teachers can do this is to plan learning in reading the Qur'an to students. At SDIT Generasi Cendekia, activities to improve reading the Qur'an and memorization are contained in the educational curriculum and provide motivation for teachers in improving the quality of the Qur'ani generation. This study aims to; (1) The program of improving the reading of the Qur'an and memorization, namely the difficulty of reading the Qur'an to students, then with this there is an effort by the school and teachers to carry out the process learning is used to learn the Qur'an in schools and outside of school kbm as well. (2) The steps taken by Islamic Religious Education teachers in improving the reading ability of classes IV, V, and VI, namely first, opening learning with tadaradus together. Second, the teacher recites verses of the Qur'an and then the learners imitate them. Third, students are given motivation and reminded not to forget to memorize. Fourth, reading the do'a finishes the lesson. (3) The method used by the teacher of Islamic Religious Education Iqro Method', in that method the teacher carries out a learning process about recognizing the letter hijaiyah and its pronunciation according to the letter makhrajul. The Tallaqi method, by making a circle below so that students are closer, then the Islamic Religious Education teacher reads 5-10 verses in reading, then students imitate what is read. (4) Factors faced by Islamic Religious Education teachers, namely, the principal, the family environment, students, and facilities and infrastructure. As for the inhibiting factors, namely the lack of awareness of parents, as well as the feeling of laziness that hits students. Abstrak. Membaca Al-Qur’an dengan makhrajul huruf sesuai kaidah ilmu tajwid yang benar merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Untuk mengajarkan ilmu tajwid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam. Teknik yang bisa dilakukan guru PAI melakukan hal tersebut adalah dengan melakukan perencanaan pembelajaran dalam membaca Al-Qur’an terhadap peserta didik. Di SDIT Generasi Cendekia kegiatan peningkatan membaca Al-Qur’an serta hafalan tertuang dalam kurikulum pendidikan serta memberikan motivasi untuk para guru dalam meningkatkan kualitas generasi Qur’ani. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) Program peningkatan membaca Al-Qur’an serta hafalan yakni adanya kesulitan membaca Al-Qur’an pada peserta didik, maka dengan hal tersebut adanya upaya pihak sekolah dan para guru untuk melakukan proses pembelajaran yang digunakan untuk belajar Al-Qur’an disekolah dan diluar KBM sekolah juga. (2) Langkah-langkah guru PAI dalam meningkatkan kemampuan membaca kelas IV, V, dan VI yakni pertama, membuka pembelajaran dengan tadaradus bersama. Kedua, guru membacakan ayat-ayat Al-Qur’an lalu peserta didik menirunya. Ketiga, peserta didik diberikan motivasi serta diingatkan untuk tidak lupa mnyetorkan hafalan. Keempat, membaca do’a selesai pelajaran. (3) Metode yang digunakan oleh guru PAI Metode Iqro', dalam metode itu guru melakukan proses pembelajaran tentang mengenali huruf hijaiyah dan pengucapannya sesuai dengan huruf makhrajul. Metode Tallaqi, dengan membuat lingkaran dibawah agar peserta didik agar lebih dekat, selanjutnya guru PAI membacakan 5-10 ayat dalam membaca, lalu peserta didik meniru apa yang dibacakan. (4) Faktor yang dihadapi guru PAI yakni, kepala sekolah, lingkungan keluarga, peserta didik, dan sarana dan prasarana. Sedangkan untuk faktor yang menghambat yakni minimnya kesadaran orang tua, serta rasa malas yang melanda peserta didik.
Analisis Pendidikan terhadap Q.S Ali Imran Ayat 137-138 tentang Sinergisitas Iman, Ilmu, dan Akhlak Fuad Bahrudin; Sobar Al Ghazali; Alhamuddin
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.332 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.4075

Abstract

Abstract. Education as a scientific activity must be based on the principles of faith and monotheism. The Qur'an in every discussion about science (knowledge) is inseparable from the value of faith. Experts formulate educational goals to form students to have strong faith, have noble character, and have useful knowledge. As explained in the Al-Qu'an Surah Ali Imraan verses 137-138, it calls on humans to learn and take lessons and examples from the previous people. So that human beings can walk on this earth following the provisions of Allah SWT in order to avoid human groups who lie to Allah SWT. This research uses descriptive-analytical method. The collection technique uses library research by examining in depth various interpretations, books and articles related to the main research problem. From this research, it is concluded that an educator must have a synergy of faith, noble character, in order to have useful knowledge. The implications contained in the Qur'an Surah Ali Imrran Verse 137-138 are (1) So that humans can take lessons from past history, from the sunnahs of Allah that applied to humans before. (2) So that humans know the way of life that is straight and true, where the Qur'an is the one who becomes the educator and becomes the light of the way of human life. (3) In order for humans to become educators to create human beings who are faithful, knowledgeable and civilized, it is impossible for education providers alone, there must be intervention from parents/guardians of students and the community, which is very important in monitoring so that they become pioneers of education at home and in their respective environments each. Abstrak. Pendidikan sebagai aktivitas ilmu pengetahuan harus dilandasi prinsip keimanan dan ketauhidan. Al-Qur’an dalam setiap pembicaraanya tentang ilmu (pengetahuan) tidak terlepas dari nilai keimanan. Para ahli merumuskan tujuan pendidikan untuk membentuk para peserta didik memiliki keimanan yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana di jelaskan di dalam Al-Qu’'an surat Ali Imraan ayat 137-138, menyeru kepada manusia agar belajar dan mengambil hikmah dansuri tauladan dari umat terdahulu. Aagar umah manusian dapat berjalan di muka bumi ini mengikuti ketentuan-ketentuan Allah SWT agar terhindar dari golongan manusia yang berdusta kepada SWT. penelitian ini menggunakan Metode deskriptif-analitis, Teknik pengumpulan menggunakan kepustakaan (library research) dengan mengkaji secara mendalam dari berbagai tafsir, buku dan artikel yang berhubungan dengan pokok masalah penelitian. Dari penelitian ini, diperoleh simbpulan bahwa seorang pendidik harus memiliki sinergitas keimanan, berakhlak mulia, agar mempunyai lilmu yang bermanfaat. Implikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Ali Imrran Ayat 137-138 adalah (1) Agar manusia bisa mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu, dari sunnah-sunnah Allah yang berlaku pada manusia sebelumnya. (2) Agar manusia mengetahui jalan hidup yang lurus dan benar, dimana Al-Qur’an lah yang menjadi pendidik dan menjadi penerang jalan hidup manusia. (3) Agar manusia dapat menjadi pendidik untuk mewujudkan manusia yang beriman, berilmu dan beradab tidak mungkin dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan semata, harus ada campur tangan orang tua/wali murid serta masyarakat sangat penting dalam memonitoring hingga menjadi pelopor pendidikan di rumah dan di lingkungan masing-masing.
Implikasi Pendidikan dari Al-Quran Surat An-Nur Ayat 30-31 tentang Perintah Menjaga Pandangan terhadap Pendidikan Akhlak Dicky Mohammad Ilham; Aep Saepudin; Eko Surbiantoro
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.466 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.4078

Abstract

Abstract. This research is motivated by how Muslims and Muslim women in association can protect themselves, hold their views and maintain their genitals according to the perspective of the Qur'an. This study uses a descriptive-analytical method of collection technique, namely library research by examining in depth various interpretations and books related to the main research problem. His study aims to determine: (1). The contents of the content of Q.S An-Nur verses 30-31 according to the opinions of the commentators. (2). The essence of Q.S An-Nur verses 30-31 (3). Opinions of experts on moral education. (4). The educational implications contained in Q.S An-Nur verses 30-31 about maintaining the view of a Muslim towards moral education. From this study, the contents of Q.S An Nur verses 30-31 which contain the values of moral education that humans must keep their eyes, maintain their genitals and cover their genitals. The concept of covering the genitals for men is that they are ordered to keep their gaze and their genitals on women who are not their mahram. Likewise, women are commanded to guard their gaze and their private parts towards men who are not their mahram. In Islam, the female genitalia limit is the entire body except the face and palms, while the male genitalia limit is between the navel to the knees. The implications contained in the Qur'an Surah An Nur verses 30-31 (1). The behavior of a Muslim must be based on the Qur'an and Hadith, because a Muslim is obliged to keep his eyesight in order to avoid immoral acts. (2). Islam is very concerned about the distribution of sexual desire in accordance with the right rules and ethics. (3). Covering the aurat for every Muslim is an obligation that must be fulfilled. By covering the genitals, you can avoid crimes such as sexual harassment, and avoid other dangers. So from the importance of self-awareness and guidance from the family about covering the genitals for every Muslim. (4). Reflect on yourself by regretting the sins that have been committed in earnest. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh bagaimana kaum muslim dan muslimah dalam pergaulan agar dapat menjaga diri, menahan pandangannya serta memelihara kemaluan sesuai perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis teknik pengumpulan yaitu kepustakaan (library reasearch) dengan mengkaji secara mendalam berbagai tafsir dan buku yang berhubungan dengan pokok masalah penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1). Isi kandungan Q.S An-Nur ayat 30-31 menurut para pendapat para mufassir. (2). Esensi Q.S An-Nur ayat 30-31 (3). Pendapat para ahli tentang pendidikan akhlak. (4). Implikasi pendidikan yang terkandung dalam Q.S An-Nur ayat 30-31 tentang menjaga pandangan seorang muslim terhadap pendidikan akhlak. Dari penelitian ini, diperoleh isi kandungan Q.S An Nur ayat 30-31 yang mengandung nilai-nilai pendidikan akhlak bahwa manusia harus menjaga pandangan mata, memelihara kemaluannya serta menutup aurat. Konsep menutup aurat bagi kaum laki-laki yaitu diperintahkan untuk menjaga pandangan dan kemaluannya terhadap perempuan yang bukan mahramnya. Demikian juga bagi perempuan diperintahkan untuk menjaga pandangan dan kemaluannya terhadap laki-laki yang bukan mahramnya. Dalam Islam batas aurat perempuan yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan batas aurat laki-laki yaitu antara pusar sampai lutut. Implikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat An Nur ayat 30-31 (1). Perilaku seorang muslim harus berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadist, sebab seorang muslim di wajibkan untuk menjaga pandangan agar terhindar dari perbuatan maksiat. (2). Islam sangat memperhatikan penyaluran hasrat seksual sesuai dengan aturan dan etika yang benar. (3). Menutup aurat bagi setiap muslim adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Dengan menutup aurat dapat terhindar dari kehajatan seperti pelecehan seksual, dan terhindar dari marabahaya lainnya. Maka dari pentingnya kesadaran diri dan bimbingan dari keluarga tentang menutup aurat bagi setiap muslim. (4). Muhasabah diri dengan menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Implikasi Pendidikan dari Al-Qur’an Surat Al-An’am Ayat 151-153 tentang Akhlak Mahmudah terhadap Upaya Pembinaan Aqidah dan Akhlak Ninis Nurjanah; Aep Saepudin; A. Mujahid Rasyid
Bandung Conference Series: Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.494 KB) | DOI: 10.29313/bcsied.v2i2.4087

Abstract

Abstract. The reality of the crisis of aqidah and morals in Indonesia today still seems so alarming and it seems that the phenomena that occur in human life today are far from the basic values of Islam, namely the Qur'an and Hadith. As a result, deviations occur in the community. This study aims to 1) find out the opinion of the commentators regarding the QS. Al-An'am verses 151-153, 2) find the essence contained in the QS. Al-An'am verses 151-153, 3) find the educational implications contained in the QS. Al-An'am verses 151-153 about the morals of the easy way towards efforts to build aqidah and morals. The approach used in this research is a qualitative approach, while the method used is descriptive analysis method with the type of library research, namely by collecting data that is related to the researcher's discussion. Based on the results of this research analysis shows that the essence of QS. Al-An'am verses 151-153, 1) the importance of Aqidah for a Muslim in order to avoid deviant teachings, 2) a Muslim must have a good morality in fostering aqidah and morals, 3) Muslims are obliged to avoid deviant teachings of the Islamic religion. Educational Implications of QS. Al-An'am verses 151-153 namely: 1) stay away from polytheism to Allah, 2) do good to both parents, 3) protect children, 4) avoid evil deeds, 5) protect the soul, 6) love orphans, 7) perfecting measures and scales, 8) fair in speech and action, 9) keeping promises, 10) and being obedient and obedient to the rules. Efforts in fostering Aqidah and Morals are carried out by several methods, namely the first method, the exemplary method, the habituation method, the advice method, the story method, the Ibrah method, and the educating method. Abstrak. Realitas krisis aqidah dan akhlak di Indonesia sekarang ini masih nampak begitu memprihatinkan dan nampaknya fenomena yang terjadi di kehidupan umat manusia pada zaman sekarang sudah jauh dari nilai-nilai dasar agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Akibatnya penyimpangan-penyimpangan terjadi ditengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pendapat para mufassir mengenai QS. Al-An’am ayat 151-153, 2) menemukan esensi yang terkandung dalam QS. Al-An’am ayat 151-153, 3) menemukan implikasi pendidikan yang terkandung dalam QS. Al-An’am ayat 151-153 tentang akhlak mahmudah terhadap upaya pembinaan aqidah dan akhlak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan yaitu dengan cara mengumpulkan data yang ada keterkaitan dengan pembahasan peneliti. Berdasarkan hasil analisis penelitian ini menunjukan bahwa esensi dari QS. Al-An’am ayat 151-153, 1) pentingnya Aqidah bagi seorang Muslim agar terhindar dari ajaran yang menyimpang, 2) seorang Muslim harus memiliki Akhlak Mahmudah dalam membina aqidah dan akhlak, 3) kaum Muslim wajib untuk menghidari ajaran-ajaran yang menyimpang dari agama Islam. Implikasi Pendidikan dari QS. Al-An’am ayat 151-153 yaitu: 1) menjauhi kemusyrikan kepada Allah, 2) berbuat baik kepada kedua orangtua, 3) perlindungan terhadap anak, 4) menghindari perbuatan keji, 5) perlindungan terhadap jiwa, 6) menyayangi anak yatim, 7) menyempurnakan takaran dan timbangan, 8) adil dalam bertutur kata dan berbuat, 9) menepati janji, 10) serta taat dan patuh pada peraturan. Upaya dalam membina Aqidah dan Akhlak dilakukan dengan beberapa metode yang pertama, metode keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat, metode kisah, metode Ibrah, dan metode mendidik.

Page 9 of 38 | Total Record : 374