cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 17 No 1 (2019)" : 11 Documents clear
Puitisasi Ajaran Islam: Analisis Tekstual Nadoman Akhlak karya Kiai Muhyidin Limbangan (1903-1980) Gunawan, Aditia
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.538 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.578

Abstract

This article will discuss the work of a scholar who has never been mentioned in Islamic literature in West Java. He is Kiai Muhyidin (1903-1980) from Limbangan, Garut. His work is called Nazmul Hujah, or commonly referred to among santri as Nadoman Akhlak. The selection of this work is mainly due to the absence of a special study of the author and his work. In fact, this work is interesting enough to be studied further because it shows the author's attempt to translate the great works of Imam al-Ghāzāli, Iḥyā ‘ulum al-din, even though only a small part of it is in Sundanese, and in poetic form. This research will first discuss in passing the terms nadoman, pupujian, and syi'iran. Then, the author will introduce the biography of Kiai Muhyidin through a review of the text in the Den Maki collection autograph script and interview. Finally, one of his works, Nadoman Akhlak, will be explored through textual analysis. In the broader Sundanese-Islamic context, this work is another example of the indigenous efforts of Islam as a Sundanese identity, through efforts to translate Arabic works into languages that were easily understood by Sundanese santri’s.Keywords: Nadoman Akhlak, Poetization, textual analysis, Kiai Muhyidin, Limbangan Artikel ini akan membicarakan karya seorang ulama yang selama ini belum pernah disebut-sebut dalam literatur Islam di Jawa Barat. Ulama tersebut adalah Kiai Muhyidin (1903-1980) yang berasal dari Limbangan, Garut. Karyanya berjudul Nazmul Hujah, atau biasa disebut di kalangan santri sebagai Nadoman Akhlak. Pemilihan karya ini terutama disebabkan belum adanya kajian secara khusus terhadap penulis dan karyanya. Padahal, karyanya ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut karena menunjukkan usaha penulis untuk menerjemahkan karya besar Imam al-Ghāzāli, Iḥyā ‘ulum al-dīn, meski hanya bagian kecilnya saja ke dalam bahasa Sunda, serta ke dalam bentuk puisi. Penelitian ini pertama-tama akan membahas secara sepintas tentang istilah nadoman, pupujian, dan syi’iran. Kemudian, penulis akan memperkenalkan biografi Kiai Muhyidin melalui telaah teks dalam naskah autograf koleksi Den Maki dan wawancara. Terakhir, salah satu karyanya, Nadoman Akhlak, akan dikupas melalui analisis tekstual. Dalam konteks Sunda-Islam yang lebih luas, karya ini merupakan sebuah contoh lain dari usaha membumikan Islam ke dalam identitas Sunda, melalui usaha penerjemahan karya Arab ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.Kata kunci: Nadoman Akhlak, puitisasi, analisis tekstual, Kiai Muhyidin, Limbangan
The Thought of KH Ahmad Sanusi (1889-1950) in Da’wah and Education Paradigm Shodiqin, Asep
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.18 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.582

Abstract

KH Ahmad Sanusi adalah sosok yang memiliki karakter pemikiran yang unik. Dalam beberapa hal ia memiliki pemikiran yang berbeda dalam memandang praktek keagamaan, khususnya dalam koteks hegemoni pemikiran modernis maupun tradisionalis. Keterlibatan KH Ahmad Sanusi dalam perdebatan-perdebatan yang bersifat furu’iyyah baik dengan kalangan modern maupun dengan kalangan tradisional merupakan suatu bukti bahwa ia merupakan tokoh yang berpengaruh secara intelektual dalam persoalan agama. Permasalahan pokok yang dikaji dalam tulisan ini adalah karakter pemikiran keagamaan KH Ahmad Sanusi yang mengambil posisi tidak menerima sepenuhnya terhadap kalangan tradisionalis dan tidak pula berpihak secara sepenuhnya pada pandangan-pandangan kaum modernis, terutama fokusnya pada pemikiran dakwah dan pendidikan.Kata kunci: Da’wah, Pendidikan, Tafsir. KH Ahmad Sanusi is a figure who has a unique character of thought. In some ways he has different ideas in view of religious practice, especially in the hegemony of modernist and traditionalist hegemony. KH Ahmad Sanusi's involvement in furu'iyyah debates both with the modern and the traditional is a proof that he is an intellectually influential figure in religious matters. The main issue examined in this paper is the character of KH Ahmad Sanusi's religious thought which takes a position of not fully accepting the traditionalists and is not entirely aligned with the views of the modernists, especially its focus on da'wah and education.  Keyword : Da’wah, Education, Tafseer
Masjid dan Musala dalam Sorotan: Kajian Sosiopragmatik Kesalahan Nama Masjid/ Musala di Padang Hadi, Syofyan; Faisol, Yufni; Wartiman, Wartiman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.197 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.588

Abstract

This study is an extension research of previous research finding conducted by researcher and team, which resulted in more than 50 names of mosques and musalas in Padang were considered error. These forms of error exist in terms of morphological, semantic, morphology and semantic contexts and imla’ rules. However, to explain these errors more compre­hensively, a sociopragmatic viewpoint is required. In this context, it can be assumed that in understanding a word or language, the socio­logical context of the speaker and its use in determining and choosing certain symbols in their language are necessary to be considered. The phe­nomenon of naming a house of worship such as a mosque and musala cannot be separated from social context of the owners of the place of worship. This frequently causes pragmalinguistic failure in under­standing the phenomenon of language which only relies on how to express language structurally, following the rules exclusively without giving attention to the social and cultural context of the speaker itself. This research is a field research which applies qualitative methods. The main data is obtained through interviews with mosques and musalas administrator and also the surrounding community to find out the historical and socio-cultural background of naming the mosques or musalas. The data of this study are all the names of mosques and musalas in Padang, especially those 50 names that are considered error from the perspective of Arabic grammar.Keywords: Sociopragmatics, mosque, musala, Padang Kajian ini adalah kelanjutan dari temuan peneliti dan tim yang dalam penelitian sebelumnya mendapatkan kesalahan pada lebih dari 50 nama masjid dan musala yang ada di kota Padang. Bentuk-bentuk kesalahan tersebut ada dalam konteks morfologis, semantic, morfologis dan semantic serta kaidah imlai’. Akan tetapi, untuk menjelaskan kesalahan tersebut secara lebih komprehensif diperlukan sudut pandang sosiopragmatik. Dalam konteks ini bisa dipahami bahwa pemahaman sebuah kata atau bahasa haruslah memperhatikan konteks sosiologis penutur dan pengguna­nya dalam menentukan dan memilih simbol tertentu dalam bahasa mereka. Tidak terkecuali tentunya penamaan sebuah rumah ibadah seperti masjid dan musala yang juga tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial masyarakat yang menjadi pemilik rumah ibadah tersebut. Hal ini yang seringkali menjadi penyebab kegagalan pragmalinguistik dalam memahami feno­mena bahasa yang hanya bertumpu pada bagaimana mengungkapkan bahasa sesuai aturan tanpa memberikan perhatian kepada koteks sosial dan cultural penutur itu sendiri. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif, di mana data utama diperoleh melalui wawancara dengan pengurus masjid dan musala dan juga masyarakat sekitar untuk mengetahui latar belakang historis dan sosio-budaya penamaan masjid atau musala mereka. Adapun data pene­litian ini adalah semua nama masjid dan musala yang ada di kota Padang, khususnya yang dianggap keliru dalam sudut pandang tata bahasa Arab yaitu kurang lebih 50 masjid dan musala.Kata Kunci: Sosiopragmatik, Masjid, Musala, Padang
Peran Seni Tari Zikir Saman di Pandeglang, Banten Hayati, Ela Hikmah; Rasikin, Rasikin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.893 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.596

Abstract

This study discusses one of the dance arts in Pandeglang Banten, namely the Dhikr Saman dance. This dance is one culture that is able to carry Islamic values. The emergence of the Dhikr Saman dance culture is from a tarekat called Samaniyah brought by Sheikh Muhammad bin Abd Karim al-Samman from Aceh in the 18th century, by modifying the teachings of the Khalwiyat, Qadiriyah, Naqsabandiyah and Syadziliyah orders. This study aims to reveal how the role of the Dhikr Saman dance uses the structural functional theory analysis tool proposed by Talcot Parsons. The results of this study reveal that the Dhikr Saman Dance art is able to give a role in spreading Islamic values in the Pandeglang community in the aspects of religion and culture, but after 2009 the Dhikr Saman Dance no longer has an important role in the Society due to more modern thought changes brought by Muhammadiyah, which suggests that Islamic values contained in the Dhikr Saman dance are impure teachings.Keywords: Influence, Islamic Culture, Dhikr Saman, Pandeglang Studi ini membahas tentang salah satu seni budaya Tari di Pandeg¬lang Banten yaitu tari Zikir Saman. Seni tari ini merupakan salah satu budaya yang mampu membawa nilai-nilai Islam. Munculnya budaya tari Zikir Saman yaitu dari sebuah tarekat yang bernama Samaniyah yang dibawa oleh Syekh Muhammad bin Abd Karim al-Samman dari Aceh pada abad ke-18 M, dengan cara memodifikasi ajaran tarekat Khalwiyat, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Syadziliyah. Studi ini bertujuan meng¬ungkap bagaimana peran seni tari Zikir Saman dengan menggunakan alat analisis teori fungsionalisme struktural yang dikemukakan oleh Talcot Parsons. Hasil dari studi ini mengungkapkan bahwa seni tari Zikir Saman mampu memberikan peran dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di kalangan Masyarakat Pandeglang dalam aspek agama dan budaya, akan tetapi setelah tahun 2009 tari Zikir Saman tidak lagi mempunyai peran penting dalam Masyarakat karena adanya perubahan pemikiran yang lebih modern yang dibawa oleh Muhammadiyah, yang menggap bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung dalam seni tari Zikir Saman merupakan ajaran yang sudah tidak murni.Kata Kunci: Pengaruh, Seni Budaya Islam, Zikir Saman, Pandeglang
Kitāb Seribu Masā’il Salinan dari Banten: Sebuah Konstruksi Sejarah Proses Islamisasi Nusantara shoheh, muhamad; Sugito, Muhammad Shofin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.795 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.599

Abstract

This brief paper discusses one of the classical literary texts of Islamic Nusantara entitled Kitab Seribu Masalah (the book of a thousand problems). This study uses a philological and textual approach to reveal the relationship and linkage between text and context, which then leads to efforts to produce interpretations related to the history of the Islamization process in the archipelago. This research is conducted to answer three problems, namely: How the KSM manuscript description, what is the content of the text, and how the context behind the birth of the work.From the idea side, Kitab Seribu Masalah contains dialogue between two people: First, the figure of Muhammad saw. in the manuscript is described as an end-time prophet of God's messenger, who calls to believe in Him. He is believed to have abundant knowledge from Allah swt., so that it can answer various problems that are considered and faced by Humans. Second, the figure of Abdullah ibn As-Salam of the Tribe of Thamud illustrated as a clever Jewish clergyman, very pious to the contents of the Torah, Gospel, Zabur and earlier books. He is so trustworthy and has a large fanatic followers of up to seven hundred people. The dialogue at least explores the problem of the relationship between God and His Messenger, regarding cosmological issues, about eschatology, testing the intelligence of the end-time prophet, the puzzle, the meaning of numbers, and others.Keywords: Kitab Seribu Masalah, Hikayat, 'Abdullah bin Salam, Islamization of the Archipelago Tulisan singkat ini membahas salah satu teks klasik Islam Nusantara yang berjudul Kitab Seribu Masalah. Penelitian ini menggunakan pende­katan filologis dan tekstologis untuk mengungkap hubungan antara teks dan konteks, yang kemudian bermuara pada usaha-usaha memproduksi interpretasi-interpretasi terkait sejarah proses Islamisasi di Nusantara. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah kandungan isi naskah KSM, dan konteks yang melatarbelakangi lahirnya, serta kaitannya dengan proses Islamisasi Nusantara.Penelitian ini berkesimpulan bahwa terdapat 13 buah naskah yang berjudul Kitāb Seribu Masā’il atau Hikayat Seribu Masalah. Dari tiga belas naskah tersebut, 9 naskah ada di PNRI Jakarta dan 4 naskah ada di Universitas Leiden, Belanda. Ketiga belas naskah yang dimaksud adalah naskah ML 19, ML 59, ML200, ML 442, W 82, W 83, W 84, W 85, W 86, KL.26, 6064 D, OPH 72, dan Cod. Or. 1960. Setelah melakukan perban­dingan akhirnya peneliti memilih naskah ML 19 sebagai obyek untuk dila­kukan penyuntingan dan edisi kritis.Dari sisi ide, Kitāb Seribu Masalah berisi dialog antara Nabi Muhammad saw. dan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam adalah seo­rang tokoh dari Suku Tsamud yang diilustrasikan sebagai seorang pendeta Yahudi yang cerdik-pandai, alim akan isi Taurat, Injil, Zabur dan kitab-kitab terdahulu. Ia begitu dipercaya dan mempunyai banyak pengikut fanatik hingga lebih dari tujuh ratus orang. Dialog tersebut berisi masalah relasi Allah dan Rasul-Nya, kosmologis, eskatologis, ujian kecerdasan Nabi, teka-teki, arti bilangan, dan lain-lain.Kata Kunci: Kitāb Seribu Masā’il, Hikayat, ‘Abdullah bin Salam, Islamisasi Nusantara
Jaringan Pesantren di Jawa Barat Tahun 1800-1945: Critical Review atas Disertasi “Jaringan Pesantren di Priangan 1800-1945” Karya Ading Kusdiana Fauzan, Pepen Irpan; Fata, Ahmad Khoirul
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.026 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.602

Abstract

Pesantren as subcultures are indeed interesting to be studied. Several studies have been carried out such as Zamakhsary Dhofier on the network of pesantren in Java and Martin van Bruinessen on the pesantren and tarekat. Continuing it, Ading Kusdiana through her dissertation at Padjadjaran University conducted a research on the network of Pesantren in the Priangan region (West Java), focusing on the existence and conti­nuity of Pesantren through five inter-Islamic networks: scientific networks, marriage, genealogical, congregational religious views, and the similarity of the vision of opposition to the invaders. Kusdiana's research confirmed Zamakhshari Dhofier's theory and did not refute it at all. So that this feels like a new work with a sense of "old work". The study of this theme will be even more interesting if Kusdiana uses the new genealogical theory as Yudi Latif did. This will also portray changes and continuity in the network of Pesantren. However, Kusdiana’s work deserves to be appre­ciated because it presents a lot of new data-information regarding the traces and spreads of Pesantren in Priangan. Through thiswork, we can get a relatively completed picture of the world of Pesantren in Priangan in the 1800-1945 period.Keywords: Network of Pesantren, Genealogy Theory, Pesantren in Priangan Pesantren sebagai subkultur memang menarik dikaji. Beberapa kajian telah dilakukan seperti Zamakhsary Dhofier tentang jaringan pesantren di Jawa dan Martin van Bruinessen tentang pesantren dan tarekat. Melanjut­kan keduanya, Ading Kusdiana melalui disertasinya di Universitas Padjadjaran melakukan penelitian jaringan pesantren di wilayah Priangan (Jawa Barat), dengan titik-fokus pada proses eksistensi dan kesinam­bungan pesantren melalui lima bentuk jaringan antarpesantren: jaringan keilmuan, perkawinan, genealogis, kesamaan pandangan keagamaan tare­kat, serta kesamaan visi penentangan terhadap penjajah. Namun penelitian Kusdiana ini meneguhkan teori Zamakhsyari Dhofier dan sama sekali tidak melakukan penyanggahan terhadapnya. Sehingga ini terasa sebagai karya baru dengan rasa “karya lama”. Kajian terhadap tema ini akan semakin menarik jika Kusdiana menggunakan teori genealogis baru seperti yang dilakukan Yudi Latif. Ini sekaligus akan memotret perubahan dan kontinuitas dalam jaringan pesantren yang dikajinya. Namun demikian, karya Kusdiana ini layak diapresiasi karena menyajikan banyak data-informasi baru terkait jejak dan sebaran-pertumbuhan pesantren di Priangan. Melalui karya Kusdiana ini, kita bisa mendapatkan gambaran relatif utuh terkait dunia pesantren di Priangan pada periode 1800-1945.Kata Kunci: Jaringan Pesantren, Teori Genealogi, Pesantren di Priangan
Sufisme dalam Pandangan Muslim Modernis Awal: Telaah Pemikiran Tasawuf Kiai Moechtar Boechari (1899-1926) Ali, Mohamad
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.229 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.606

Abstract

This research tries to find sufism thought by early modernist muslim from Surakarta, Kiai Moechtar Boechari (1899-1926), by tracing his religious view and Sufism thought. He was a santri and friend of K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) who pioneered in establish Muhammadiyah branch Surakarta. In general, as modernist muslim movement, Muham­madiyah is considered as anti-sufism. In contrast to that, Kiai Boechari paid attention to Sufism by writing a thin book, Tasawoef Tjekakan. This intellectual position is somewhat different from the mainstream modernist Islam movement. To explore this issue, this paper uses historical method by Berkhofer‟s situational approach. The result of the research points out, that firstly, religious view of Kiai Boechari is a modernist with authentic formulation, that is: purifying Tauhid, awakening scientific ethos, promoting movement of Islamic modernist, preaching Islam softly, and appreciating women‟s equality. Secondly, the character of Kiai Boechari‟s thought on Sufism seems to resemble Imam Al-Ghazali‟s mysticism of personality (transcendental mysticism), only that he modified by reducing zuhud station in order for a sufi to be involved dynamically in many aspects of life.Keywords: Kiai Moechtar Boechari, modernist muslim, sufism, Surakarta Penelitian ini berupaya mengungkap pemikiran tasawuf seorang muslim modernis awal asal Surakarta, Kiai Moechtar Boechari (1899-1926), dengan cara melacak pandangan keagamaan dan corak pemikiran tasawufnya. Dia merupakan santri dan sahabat K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) yang turut mendirikan Muhammadiyah cabang Surakarta. Pada umumnya, sebagai gerakan Islam modernis, Muhammadiyah dipandang anti-tasawuf. Berbeda dengan itu, Kiai Boechari memberi perhatian pada sufisme dengan menulis buku tipis, Tasawoef Tjekakan. Posisi intelektual yang demikian seolah-olah menempatkannya berada “di luar arus utama” gerakan Islam modernis. Untuk mengeksplorasi masalah tersebut, peneliti memakai metode sejarah dengan pendekatan situasional Berkhofer. Hasil penelitian menunjukkan pertama, pandangan keagamaan Kiai Boechari berhaluan modernis dengan formulasi yang otentik, yakni: memurnikan tauhid; membangkitkan etos keilmuan, aktif di gerakan Islam modern, mendakwahkan Islam dengan kelembutan, dan menghargai kesetaraan perempuan. Kedua, pemikiran tasawuf Kiai Boechari bercorak mistik kepribadian (transendental mistik) seperti halnya Imam Al-Ghazali. Lebih dari itu, dia memodifikasinya dengan tidak memasukkan tangga zuhud, agar sufi lebih dinamis menapaki berbagai aspek kehidupan.Kata kunci: Kiai Moechtar Boechari, muslim modernist, sufisme, Surakarta
Rekonstruksi Kisah Pangeran Samudro: di Tengah Mitos Ritual Seks Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen Widiani, Desti; Jiyanto, Jiyanto
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.484 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.632

Abstract

The story of Prince Samudro's tomb invites pros and cons. This arises because of the negative paradigm that developed in the community that there is trust if the wish is granted, then the visitors to Prince Samudro's grave must perform a ritual of having sex with the opposite sex but not their wife or husband 7 times in one eighty/35 days. From the negative paradigm makes the myth on Mount Kemukus an opportunity for the perpetrators of the practice of prostitution. This negative paradigm needs to be clarified so that the pilgrims are not trapped in the wrong paradigm and belief. The sex ritual at Mount Kemukus is a reality that cannot be covered. Although the Sragen Regency Government has banned the practice of such deviant behavior, the reality is that there are still ritualists who perform the sex ritual. From this reality, there needs to be an effort to straighten out the understanding of the community about the pilgrimage ritual at the tomb of Prince Samudro. One thing that can be done is by reconstructing the story of Prince Samudro so that the people know the true story about Prince Samudro. This research is a descriptive study using historical methods with the following steps: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The research site was conducted at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen. This study aims to (1) find out about the myths of sex rituals at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen (2) reconstruct the true story of Prince Samudro at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen.Keywords: Reconstruction, Prince Samudro, Myth of Sexual Rituals Kisah tentang makam Pangeran Samudro ini mengundang pro dan kontra. Hal ini muncul karena paradigma negatif yang berkembang di masyarakat bahwa adanya kepercayaan apabila ingin permohonannya terkabul, maka para pengunjung makam Pangeran Samudro harus mela­kukan suatu ritual berhubungan intim dengan lawan jenis tetapi bukan istri atau suaminya selama 7 kali dalam satu lapan/ 35 hari. Dari paradigma negatif tersebut menjadikan mitos di Gunung Kemukus menjadi peluang bagi para pelaku praktik prostitusi. Paradigma negatif ini perlu diluruskan agar para peziarah tidak terjebak dalam paradigma dan kepercayaan yang keliru. Ritual seks di Gunung Kemukus adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi. Meskipun Pemerintah Kabupaten Sragen sudah melarang adanya praktik perilaku menyimpang tersebut, namun realitasnya masih ada pelaku ritual yang melakukan ritual seks tersebut. Dari realitas tersebut perlu adanya upaya dalam meluruskan pemahamaman masyarakat tentang ritual ziarah di makam Pangeran Samudro. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan rekonstruksi terhadap kisah Pangeran Samudro agar masyarakat mengetahui kisah yang sebenarnya tentang Pangeran Samudro. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut: heuristik, verifikasi, inter­pretasi, dan historiografi. Tempat penelitian dilaksanakan di Gunung Kemu­kus, Sumber Lawang, Sragen. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui tentang mitos ritual seks di Gunung  Kemukus, Sumber Lawang Kabupaten Sragen (2) merekonstruksi kisah yang sesungguhnya tentang Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Sumber Lawang Kabupaten Sragen.Kata Kunci: Rekonstruksi, Pangeran Samudro, Mitos Ritual Seks
Solidaritas Sosial di Era Post-Modern: Sakralitas Komunitas Salawatan Jaljalut Indonesia Hefni, Wildani; Ahmadi, Rizqa
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.94 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.648

Abstract

This study attempts to elucidate the emergence of forms of Islamic spirituality in Indonesian Islam identified as the Jaljalut community of Salawatan. This group has proliferated on Java in the last two decades both in urban and rural areas. This group also has attracted followers from a wide social base to their practices, hence contributing significantly to the improvement of religious performance and social solidarity among Indonesian Muslims. By using Durkheim’s approach of social solidarity and phenominological approach, this paper presents how religious community functions in the integration process, especially in the face of modernity. Social solidarity is the main theme discussed by Durkheim as a moral source for forming social order in society. Conclusions indicated from this study include the proposition that religious community can contribute to integration which is called by Durkheim a collective conscience and collective representations.Keywords: social solidarity, Jaljalut community, modernity. Artikel ini menjelaskan munculnya bentuk spritualitas Islam di Indonesia yang direpresentasikan oleh komunitas salawatan Jaljalut. Komunitas ini tumbuh dan berkembang di Jawa baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Komunitas ini diikuti oleh pelbagai kelompok kelas sosial yang kemudian berkontibusi besar dalam pembentukan karakter keberagamaan serta penguatan solidaritas sosial. Dengan menggunakan teori Durkheim tentang solidaritas sosial dan pendekatan fenomenologis, artikel ini mendedah bagaimana komunitas keagamaan salawatan Jaljalut di tengah tantangan modernitas dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk kohesi sosial di tengah masyarakat. Solidaritas sosial menjadi tema utama yang dikaji oleh Durkheim sebagai sumber moral untuk membentuk tatanan sosial di masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa komunitas keagamaan yang lahir dari solidaritas mekanis dapat berkontribusi pada penguatan integrasi yang disebut oleh Durkheim sebagai nurani kolektif dan representasi kolektif.Kata kunci: solidaritas sosial, komunitas Jaljalut, modernitas.
Nilai Pendidikan Karakter Religius Novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran Karya Mashdar Zainal: Perspektif Tradisi Islam Nusantara Chandra, Afry Adi; Waluyo, Herman J; Wardani, Nugraheni Eko
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.51 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.681

Abstract

This article describes the educational value of the religious character in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) by Mashdar Zainal based on the perspective of the Islam Nusantara tradition. The existence of the value of religious character education is a very important aspect to internalize the students, as an effort to shape the distinctive character of the Indonesian nation. The acculturation between Javanese culture and Islamic tradition has had a major impact on the life of the Javanese people. The acculturation process had a positive impact on both, both for the development of Islam and Javanese culture. The main data source of this research is the text in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) which relates to the value of character education based on the perspective of the Islamic Nusantara tradition. Data collection techniques use content analysis. Data validity techniques using data source triangulation and method triangulation. The flow models of Miles and Huberman, namely data reduction, data presentation, and conclusion and verification are used as techniques for analyzing data. The results of the study show in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) by Mashdar Zainal there are various manifestations of the value of religious character education based on the perspective of the Islamic Nusantara tradition, namely (1) love God’s creatures, (2) believe in God’s destiny, (3) spread kindness to others, and (4) attitude of gratitude for God’s giving.Keywords: novel, the value of religious character education, Islam Nusantara Artikel ini mendeskripsikan nilai pendidikan karakter religius novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal berdasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara. Keberadaan nilai pendidikan karakter religius merupakan aspek yang amat penting untuk diinternalisasikan ke­pada peserta didik, sebagai upaya membentuk karakter khas dari bangsa Indonesia. Adanya akulturasi antara budaya Jawa dengan tradisi Islam, membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat Jawa. Proses akul­turasi tersebut membawa dampak positif bagi keduanya, baik bagi per­kembangan Islam maupun budaya Jawa. Sumber data utama penelitian ini berupa teks di dalam novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran yang terkait nilai pendidikan karakter berdasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara. Teknik pengumpulan data menggunaan analisis konten (content analysis). Teknik validitas data dengan menggunakan triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Model alir Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi digunakan sebagai teknik untuk menganalisis data. Hasil penelitian menujukkan bahwa dalam novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal terdapat berbagai wujud nilai pendidikan karakter religius ber­dasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara, yaitu (1) mengasihi sesama ciptaan Tuhan, (2) percaya terhadap takdir Tuhan, (3) menebar kebaikan kepada sesama, dan (4) sikap syukur atas pemberian Tuhan.Kata Kunci: novel, nilai pendidikan karakter religius, Islamic Nusantara

Page 1 of 2 | Total Record : 11