cover
Contact Name
Nathanail Sitepu
Contact Email
psnail21@gmail.com
Phone
+6281321151320
Journal Mail Official
psnail21@gmail.com
Editorial Address
Rukan Mutiara Marina No.40 Semarang - Jawa Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 23029498     EISSN : 26850834     DOI : 10.52104
Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan Kristen
Articles 100 Documents
Transmisi Kepemimpinan Lintas Generasi Berbasis 2 Timotius 2:2: Paradigma Pendidikan Kristen bagi Generasi Z di Era Post-Truth Yohana Fajar Rahayu; Elisa Nimbo Sumual
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.430

Abstract

Christian education in the post-truth era faces serious challenges in transmitting faith leadership rooted in biblical absolute truth to Generation Z. The fragmentation of truth relativism and the dominance of digital narratives related to hoaxes have weakened the process of sustainable church leadership regeneration. The text of 2 Timothy 2:2 is an important theological reference for understanding how Paul designed intergenerational leadership transmission. This study aims to analyse Paul's concept of leadership transmission according to 2 Timothy 2:2 and its relevance to Generation Z Christian education in the post-truth era. The research method used is descriptive qualitative with an exegetical and literature study approach. It can be concluded that, based on the historical and theological context of 2 Timothy 2:2, Paul's leadership emphasises the importance of conscious, layered, and continuous transmission of faith and ministry authority within the Christian community. Exegetical analysis of this verse shows that Paul's concept of leadership transmission is not only about passing on teachings but also about shaping character, integrity, and the competence of trustworthy teachers across generations. In the context of the post-truth era, Paul's leadership paradigm provides a strategic foundation for Christian education to nurture leaders who are rooted in the truth of the Gospel, critical of relativism, and faithful in authentically transmitting the faith. AbstrakPendidikan Kristen pada era post-truth menghadapi tantangan serius dalam mentransmisikan kepemimpinan rohaniyang berakar pada kebenaran mutlak alkitabiah kepada Generasi Z. Fragmentasi dari relativisme kebenaran, dan dominasi narasi digital berkaitan dengan hoak menyebabkan melemahnya proses kaderisasi kepemimpinan gerejawi yang berkelanjutan. Teks 2 Timotius 2:2 menjadi rujukan teologis penting untuk memahami bagaimana Paulus merancang transmisi kepemimpinan yang berorientasi lintas generasi atau inter generasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep transmisi kepemimpinan Paulus menurut 2 Timotius 2:2 serta implikasinya  bagi pendidikan Kristen Generasi Z di era post-truth. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskritif dengan pendekatan studi eksegetis dan studi literature. Maka dapat disimpulkan bahwa berangkat dari konteks historis dan teologis 2 Timotius 2:2, kepemimpinan Paulus menegaskan pentingnya transmisi iman dan otoritas pelayanan secara sadar, berlapis, dan berkesinambungan dalam komunitas Kristen. Analisis eksegetis ayat ini menunjukkan bahwa konsep transmisi kepemimpinan Paulus tidak hanya bersifat pewarisan ajaran, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan kompetensi pengajar yang dapat dipercaya lintas generasi. Dalam konteks era post-truth, paradigma kepemimpinan Paulus menjadi landasan strategis bagi pendidikan Kristen untuk menumbuhkan pemimpin yang berakar pada kebenaran Injil, kritis terhadap relativisme, dan setia mentransmisikan iman secara autentik.
Ketahanan Spiritual dalam Pelayanan Pastoral Berdasarkan 2 Korintus 4:7–15: Model Teologis bagi Gembala Sidang Stefanus Sujatmoko
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.466

Abstract

This study aims to examine the concept of Paul’s militancy based on 2 Corinthians 4:7–15 and its implications for contemporary pastoral ministry. This research is motivated by the increasing complexity of pastoral challenges, including psychological pressure, congregational conflicts, ministry burnout, and social pressures that affect the spiritual resilience of church leaders. The study employs a qualitative method using a theological and biblical analysis approach to the text of 2 Corinthians 4:7–15. The findings reveal that Paul’s militancy should not be understood as radicalism or violence, but rather as steadfast faith, courage, commitment, and spiritual endurance in carrying out God’s calling amid suffering. Paul’s militancy is reflected through total dependence on God, resilience in facing pressure, perseverance in difficult circumstances, confidence in God’s presence, willingness to sacrifice for the Gospel, orientation toward God’s glory, and strong eschatological hope. Furthermore, this study finds that Paul’s militancy has significant relevance for contemporary pastoral ministry, particularly in developing pastoral leadership that is resilient, faithful, and steadfast amid the dynamics of modern church ministry. Therefore, Paul’s militancy in 2 Corinthians 4:7–15 can serve as a theological and pastoral model for church leaders in carrying out Christ-centered ministry oriented toward the glory of God. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji konsep militansi Paulus berdasarkan 2 Korintus 4:7–15 serta implikasinya bagi pelayanan gembala sidang masa kini. Kajian ini dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya tantangan pelayanan pastoral, seperti tekanan psikologis, konflik jemaat, kejenuhan pelayanan, serta tekanan sosial yang memengaruhi ketahanan rohani para pelayan Tuhan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi teologis dan analisis biblika terhadap teks 2 Korintus 4:7–15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa militansi Paulus tidak dipahami sebagai tindakan radikal atau kekerasan, melainkan sebagai keteguhan iman, keberanian, kesetiaan, dan ketahanan rohani dalam menjalankan panggilan pelayanan di tengah penderitaan. Militansi Paulus tercermin melalui ketergantungan penuh kepada Allah, ketahanan menghadapi tekanan, sikap tidak mudah putus asa, keyakinan akan penyertaan Allah, kesediaan berkorban demi Injil, orientasi hidup bagi kemuliaan Allah, serta pengharapan eskatologis yang kuat. Kajian ini juga menemukan bahwa militansi Paulus memiliki relevansi yang signifikan bagi pelayanan gembala sidang masa kini, khususnya dalam membangun kepemimpinan pastoral yang tangguh, setia, dan berdaya tahan di tengah dinamika pelayanan gereja modern. Dengan demikian, militansi Paulus dalam 2 Korintus 4:7–15 dapat menjadi model teologis dan pastoral bagi para pemimpin gereja dalam menjalankan pelayanan yang berpusat kepada Kristus dan berorientasi pada kemuliaan Allah.
Philargyria dan Fenomena Judi Online: Analisis Eksegetis 1 Timotius 6:10 dalam Perspektif Teologi Moral Kristen Susi Susi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.336

Abstract

Online gambling is a rapidly growing phenomenon in the digital age and has serious social, economic, moral, and spiritual implications, especially within Christian communities. This study aims to analyze the practice of online gambling from a Christian theological perspective using a qualitative approach with a literature review and theological analysis of 1 Timothy 6:10. The selection of 1 Timothy 6:10 is based on its relevance as a moral warning against the dangers of the love of money (φιλαργυρία/philargyria), which reflects the roots of greed and dependence on wealth, an attitude that is evident in the practice of online gambling. The research question highlights how understanding this verse can be used to assess and reject online gambling practices in the light of Christian theology. This study contributes to expanding the study of Christian theology in the digital age through exegetical analysis that confirms the relationship between greed (philargyria) and online gambling behavior, a topic that has not been studied in depth in the Indonesian context. The results of the analysis show that online gambling reflects the nature of the love of money and encourages actions that are contrary to Christian ethical principles such as hard work, moral responsibility, and dependence on God. Thus, the practice of online gambling is not in line with Christian theological teachings and cannot be justified morally or spiritually. AbstrakJudi online merupakan fenomena yang berkembang pesat di era digital dan menimbulkan dampak serius dalam aspek sosial, ekonomi, moral, dan spiritual, khususnya dalam komunitas Kristen. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik judi online dalam perspektif teologi Kristen melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis teologis terhadap 1 Timotius 6:10. Pemilihan teks 1 Timotius 6:10 didasarkan pada relevansinya sebagai peringatan moral terhadap bahaya cinta uang (φιλαργυρία/philargyria), yang mencerminkan akar keserakahan dan ketergantungan pada kekayaan, suatu sikap yang tampak nyata dalam praktik judi online. Rumusan masalah penelitian ini menyoroti bagaimana pemahaman terhadap ayat tersebut dapat digunakan untuk menilai dan menolak praktik judi online dalam terang teologi Kristen. Penelitian ini berkontribusi dengan memperluas kajian teologi Kristen di era digital melalui analisis eksegetis yang menegaskan hubungan antara keserakahan (philargyria) dan perilaku berjudi daring, suatu topik yang belum banyak dikaji secara mendalam dalam konteks Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa judi online mencerminkan sifat cinta uang dan mendorong tindakan yang bertentangan dengan prinsip etika Kristen seperti kerja keras, tanggung jawab moral, dan kebergantungan pada Tuhan. Dengan demikian, praktik judi online tidak sejalan dengan ajaran teologi Kristen dan tidak dapat dibenarkan secara moral maupun spiritual.
Fondasi Teologis Moderasi Beragama Berdasarkan Lukas 10:25–37: Kajian Eksegetis tentang Orang Samaria yang Murah Hati Sapta Baralaska Utama Siagian; Nini Adelina Tanamal
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.440

Abstract

Indonesia as a pluralistic society continues to face challenges in the form of intolerance, identity polarization, and weakening of social solidarity. In this context, religious moderation is an important framework to strengthen peaceful coexistence without sacrificing faith beliefs. This study aims to examine how Luke 10:25–37 can be read as a theological foundation for religious moderation through the figure of the Good Samaritan. This study uses a descriptive qualitative approach with a literature study design. Analysis is carried out through historical-grammatical exegetical methods, narrative analysis, and theological-contextual reflection. Primary data are in the form of the text of Luke 10:25–37, while secondary data comes from journal articles, books, and cutting-edge scholarly documents that discuss religious moderation, Jewish–Samaritan relations, compassion, hospitality, and public theology. The results show that the scribes' question of "who is my neighbor?" reflects a tendency to limit moral obligations based on group identity. Jesus responded by overhauling that frame of mind: others are not defined by identity categories, but by real acts of love. The Samaritan became a model of cross-border love embodied in empathy, hospitality, and social responsibility. This study concludes that religious moderation in a Christian perspective does not stop at passive tolerance, but manifests in openness, respect for human dignity, and active involvement in restoring common life. AbstrakIndonesia sebagai masyarakat majemuk terus menghadapi tantangan berupa intoleransi, polarisasi identitas, dan melemahnya solidaritas sosial. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama menjadi kerangka penting untuk meneguhkan kehidupan bersama yang damai tanpa mengorbankan keyakinan iman. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana Lukas 10:25–37 dapat dibaca sebagai fondasi teologis bagi moderasi beragama melalui figur Orang Samaria yang Murah Hati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi pustaka. Analisis dilakukan melalui metode eksegetis historis-gramatikal, analisis naratif, dan refleksi teologis-kontekstual. Data primer berupa teks Lukas 10:25–37, sedangkan data sekunder berasal dari artikel jurnal, buku, dan dokumen ilmiah mutakhir yang membahas moderasi beragama, relasi Yahudi–Samaria, belas kasih, hospitalitas, dan teologi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan ahli Taurat tentang “siapakah sesamaku?” mencerminkan kecenderungan membatasi kewajiban moral berdasarkan identitas kelompok. Yesus merespons dengan merombak kerangka berpikir tersebut: sesama bukan ditentukan oleh kategori identitas, melainkan oleh tindakan kasih yang nyata. Orang Samaria menjadi model kasih lintas batas yang diwujudkan dalam empati, hospitalitas, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi beragama dalam perspektif Kristen tidak berhenti pada toleransi pasif, tetapi terwujud dalam keterbukaan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keterlibatan aktif dalam memulihkan kehidupan bersama.
Budaya Populer Marvel sebagai Arena Dialog Teologi Kristen bagi Pelayanan Kaum Muda Heryanto Heryanto
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.391

Abstract

The dynamics of globalization, alongside advancements in communication technology, have become catalysts for the widespread expansion of popular culture within society. Mass media holds significant authority in constructing consumer trends, particularly among the youth, primarily for commercial interests. This culture transcends mere entertainment; it functions as an instrument that shapes daily attitudes, habits, and behaviors. Theological issues have emerged regarding popular culture disseminated through visual media, such as Marvel films, which present superhero narratives encompassing themes of good, evil, sin, atonement, and salvation—all of which are often juxtaposed with Christian theology. This research explores the popular culture of Marvel films, identifying concepts and doctrines that deviate from Biblical teachings and examining their implications for youth ministry. Employing a qualitative method through literature review and theoretical analysis, this study discusses the Church's stance and three primary strategies to utilize popular culture as a medium for evangelism and a tool for introducing existential issues, ensuring the Church remains relevant without compromising its core doctrinal essence. The findings of this research suggest that the Church can transform these cultural challenges into opportunities to fortify the faith of young people through a steadfast foundation in Jesus Christ as the sole source of authority and true salvation.  AbstrakDinamika globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi saat ini menjadi katalisator bagi meluasnya budaya populer di tengah masyarakat. Media massa memiliki otoritas besar dalam mengonstruksi tren yang dikonsumsi masyarakat, terutama kaum muda, untuk kepentingan komersial. Budaya ini bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen yang membentuk sikap, kebiasaan, dan perilaku sehari-hari. Munculnya isu-isu teologis seputar budaya populer yang disebarkan melalui media visual seperti film-film produksi Marvel yang menghadirkan kepahlawan super yang berkaitan tema kebaikan, kejahatan, dosa, penebusan hingga keselamatan yang dikaitkan dengan teologi Kristen. Penelitian ini mengeksplorasi budaya populer film-film Marvel yang memiliki konsep dan doktrin yang menyimpang dengan doktrin Alkitab dan implikasinya terhadap pelayanan kaum muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui kajian pustaka dan analisis teoritis,  penelitian ini juga membahas sikap dan tiga strategi utama gereja untuk menjadikan budaya populer sebagai sarana penginjilan dan sarana pengenalan isu eksistensial, gereja dapat tetap relevan tanpa kehilangan esensi doktrin intinya. Temuan penelitian ini dapat dipergunakan gereja untuk mengubah tantangan budaya ini menjadi peluang untuk memperkuat iman kaum muda melalui dasar iman yang kokoh di dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya sumber otoritas dan keselamatan sejati.
Integritas dan Moralitas Gembala dalam Perspektif Amsal 11:3: Kajian Teologis Kepemimpinan Pastoral Hiskia Kanalung; Tju Lie Lie; Selviawati Selviawati
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.436

Abstract

Christian leadership plays a strategic role in shaping the character and mindset of the congregation, particularly through the example of a pastor who leads with integrity and biblical moral principles. The pastor’s morality and mindset are key pillars in fostering effective leadership, as a leader’s conduct that is consistent with God’s Word is able to guide the congregation in spiritual growth and ethical living. This study aims to analyse how Christian leadership can shape the mentality and morality of pastors based on the principle of Proverbs 11:3. The research method employs a theological-qualitative approach involving biblical exegesis and a review of contemporary theological literature. The research findings indicate that the essence of Christian leadership and the pastor’s mindset constitute the primary foundation for shaping character and the direction of ethical ministry. An analysis of Proverbs 11:3 confirms that morality serves as the guiding pillar for the pastor, making integrity and sincerity of heart the core of effective leadership practice. Thus, the integration of morality and mentality in pastoral practice yields authentic, transformative leadership capable of guiding the congregation holistically in spiritual and ethical growth. AbstrakKepemimpinan Kristen memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan mentalitas jemaat, terutama melalui teladan gembala yang memimpin dengan integritas dan prinsip moral Alkitab. Moralitas dan mentalitas gembala menjadi pilar utama dalam menciptakan kepemimpinan yang efektif, karena perilaku pemimpin yang konsisten dengan firman Tuhan mampu membimbing jemaat dalam pertumbuhan rohani dan etika hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kepemimpinan Kristen dapat membentuk mentalitas dan moralitas gembala berdasarkan prinsip Amsal 11:3. Metode penelitian menggunakan pendekatan teologis-kualitatif dengan eksegesis teks Alkitab dan kajian literatur teologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hakikat kepemimpinan Kristen dan mentalitas gembala merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan arah pelayanan yang beretika. Analisis Amsal 11:3 menegaskan bahwa moralitas menjadi pilar yang membimbing gembala, sehingga integritas dan ketulusan hati menjadi pusat praktik kepemimpinan yang efektif. Dengan demikian, integrasi moralitas dan mentalitas dalam praktik gembala menghasilkan kepemimpinan yang autentik, transformatif, dan mampu membimbing jemaat secara holistik dalam pertumbuhan rohani dan etika.
Hamartia di Era Digital: Strategi Kepemimpinan Kristen dalam Menghadapi Krisis Moralitas Yulius Bhiantara; Andreas Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.395

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly affected human life, not only in social and cultural domains but also in spiritual growth and the quality of faith. On one hand, digitalization opens new spaces for communication, information, and effective ministry; on the other hand, it presents challenges through the rise of digital sin that contributes to a moral crisis within Christian communities. Observable phenomena include increasing digital consumerism, the spread of negative content, and the decline of spiritual sensitivity in the use of digital media. The excessive use of technology, the proliferation of hoaxes, and various practices that undermine moral integrity illustrate the severity of the crisis faced by the church today. This study aims to analyze the concepts of digital sin and moral crisis from a Christian theological perspective and to formulate contextual and innovative Christian leadership strategies for shaping morality, strengthening character, and nurturing contemporary faith in the digital era. This research employs a qualitative method with a literature-based approach. The findings indicate that Christian leadership rooted in the theology and spirituality of Christ is capable of fostering digital ethical awareness, strengthening spiritual character, and enhancing the quality of faith amid digital transformation. With contextual strategies grounded in Christ-centered values, Christian leadership plays a vital role in character formation, fortifying contemporary faith, and guiding believers to remain faithful to Gospel values within an increasingly digitalized environment. Consequently, this study concludes that adaptive, visionary, and Christ-centered leadership is essential for confronting the challenges of digital sin and serves as a foundational pathway for restoring moral integrity and strengthening the faith of believers in the complexities of modern digitalization. AbstrakPerkembangan teknologi digital telah membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, baik dalam ranah sosial, kebudayaan maupun kerohanian yaitu iman. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang baru bagi komunikasi, informasi, dan pelayanan yang maksimal, namun di sisi lain menghadirkan tantangan berupa munculnya dosa digital yang mendorong krisis moralitas di tengah umat Kristen. Fenomena yang terlihat, misalnya meningkatnya perilaku konsumtif digital, penyebaran konten negatif, serta menurunnya kepekaan spiritual umat dalam penggunaan media digital. Penggunaan teknologi secara berlebihan, maraknya hoaks, serta berbagai praktik yang merusak moralitas menjadi bukti nyata dari krisis yang dihadapi gereja masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dosa digital dan krisis moralitas dalam perspektif teologi Kristen serta merumuskan strategi kepemimpinan Kristen yang kontekstual dan inovatif dalam membentuk moralitas, karakter umat, dan penguatan iman kontemporer di era digital. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen yang berakar pada teologi dan spiritualitas Kristus mampu menumbuhkan kesadaran etis digital, memperkuat karakter rohani, dan meningkatkan kualitas iman umat di tengah arus digitalisasi. Dengan strategi yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai Kristus, kepemimpinan Kristen terbukti memainkan peran penting dalam membentuk karakter, memperkuat iman kontemporer, serta menuntun umat untuk tetap setia pada nilai-nilai Injil di era digital. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan Kristen yang adaptif, visioner, dan berpusat pada teladan Kristus merupakan kunci dalam menghadapi tantangan dosa digital sekaligus menjadi fondasi bagi pemulihan moralitas dan penguatan iman umat di tengah dinamika digitalisasi modern.
Pembelaan Iman Berbasis Kitab Yudas: Kajian Teologis terhadap Ajaran Palsu dalam Gereja Kontemporer Desti Samarenna
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.256

Abstract

False teaching has been one of the enduring challenges faced by the church from the New Testament period to the present time. The Epistle of Jude specifically addresses the danger posed by false teachers who threaten the purity of doctrine and the perseverance of believers’ faith. This study aims to analyze the concept of the defense of faith against the threat of false teaching in the Epistle of Jude and to examine its theological implications for the contemporary church. The research employs a qualitative method using exegetical and theological approaches to the text of Jude, focusing on historical, literary, and theological contexts. The findings indicate that false teaching in Jude is portrayed as a serious spiritual threat characterized by moral corruption, rejection of divine authority, and the misuse of grace as a license for sinful living. In response, Jude emphasizes the necessity of contending for the faith once delivered to the saints, building a strong spiritual life, and maintaining vigilance against various forms of doctrinal deviation. This study concludes that the message of the Epistle of Jude provides a relevant theological foundation for the contemporary church in defending the faith, preserving doctrinal purity, and strengthening the spiritual resilience of the Christian community amid the proliferation of teachings that contradict the Gospel truth.  AbstrakAjaran palsu merupakan salah satu tantangan yang dihadapi gereja sejak masa Perjanjian Baru hingga masa kini. Kitab Yudas secara khusus menyoroti bahaya kehadiran pengajar-pengajar sesat yang dapat mengancam kemurnian ajaran dan keteguhan iman jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pembelaan iman terhadap ancaman ajaran palsu dalam Kitab Yudas serta mengkaji implikasi teologisnya bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegetis dan teologis terhadap teks Kitab Yudas melalui analisis konteks historis, literer, dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kitab Yudas menggambarkan ajaran palsu sebagai ancaman serius yang ditandai oleh penyimpangan moral, penolakan terhadap otoritas Allah, dan penyalahgunaan anugerah sebagai legitimasi untuk hidup dalam dosa. Sebagai respons, Yudas menekankan pentingnya mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus, membangun kehidupan rohani yang kokoh, serta menunjukkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penyimpangan ajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pesan Kitab Yudas menyediakan landasan teologis yang relevan bagi gereja masa kini dalam membela iman, menjaga kemurnian doktrin, dan memperkuat ketahanan spiritual jemaat di tengah berkembangnya berbagai ajaran yang bertentangan dengan kebenaran Injil.
Teologi Penatalayanan dalam Pemberdayaan Jemaat untuk Penguatan Partisipasi Finansial Gereja Jeffry Cartouche Laseduw; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.396

Abstract

Church fundraising is an important aspect in supporting the sustainability of ministry and spiritual mission, but it often faces challenges in the form of suboptimal congregational participation, a lack of congregational understanding of spiritual responsibility, and limited management strategies that are integrated with congregational empowerment. Amidst developments in technology and Christian education, churches are required to develop approaches that are not only administrative in nature, but also build awareness, motivation, and commitment among congregations as a whole.  This study aims to analyse the congregation empowerment model as the foundation for church fundraising. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach and analysis of theological literature and church practices. The results show that congregation empowerment based on Christian education and the development of individual gifts increases the congregation's spiritual involvement and awareness. The integration of technology can maximise programme personalisation, while community-based collaborative strategies strengthen participation and the sustainability of church services. Thus, congregation empowerment becomes an essential foundation for the effectiveness of sustainable and spiritually meaningful fundraising. AbstrakPengumpulan dana gereja merupakan aspek penting dalam mendukung keberlanjutan pelayanan dan misi spiritual, namun seringkali menghadapi tantangan berupa partisipasi jemaat yang belum optimal, kurangnya pemahaman jemaat mengenai tanggung jawab rohani, serta keterbatasan strategi pengelolaan yang terintegrasi dengan pemberdayaan jemaat. Di tengah perkembangan teknologi dan pendidikan Kristen, gereja dituntut untuk mengembangkan pendekatan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga membangun kesadaran, motivasi, dan komitmen jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pemberdayaan jemaat sebagai fondasi pengumpulan dana gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis literatur teologis serta praktik gerejawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan jemaat berbasis pendidikan Kristen dan pengembangan karunia individu meningkatkan keterlibatan dan kesadaran spiritual jemaat. Integrasi teknologi dapat memaksimalkan personalisasi program, sementara strategi kolaboratif berbasis komunitas memperkuat partisipasi serta keberlanjutan pelayanan gereja. Dengan demikian, pemberdayaan jemaat menjadi fondasi esensial bagi efektivitas pengumpulan dana yang berkelanjutan dan bermakna secara spiritual.
Kepemimpinan Pastoral yang Autentik dalam Membentuk Spiritualitas Gen Z di Era Post-Truth: Kajian 1 Petrus 5:2–3 Riska Aftur; Roni Kurniawan; Haryadi Sarjono
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v11i1.427

Abstract

Generation Z, who live in a massive flow of digital information that is often detached from objective truth. Pastoral leadership faces new demands to not only carry out the administrative functions of the church, but also to build real and tangible spiritual exemplarity and integrity. 1 Peter 5:2–3 offers a framework for pastoral leadership based on biblical truth, but its relevance to the spiritual formation of Gen Z in the post-truth era has not been systematically explored, especially given Gen Z's increasing scepticism towards spiritual leadership and their tendency to develop individual and digital spirituality. This study aims to analyse pastoral leadership and theology based on 1 Peter 5:2–3 in strengthening Gen Z spirituality in the post-truth era. A qualitative approach with biblical analysis and contextual pastoral theology studies was used. It can be concluded that a biblical study of 1 Peter 5:2–3 confirms that pastoral leadership based on willingness, integrity, and exemplary behaviour is a solid theological foundation for church ministry. Analysis of the characteristics of Gen Z spirituality in the post-truth era shows the need for a pastoral leadership model that is dialogical, authentic, and contextual in order to respond to the scepticism and digital dynamics of this generation. The integration of biblical principles with adaptive educational and pastoral ministry strategies has proven to be relevant in strengthening Gen Z spirituality and enriching the development of contemporary pastoral theology. AbstrakEra post-truth menghadirkan tantangan serius bagi pembentukan spiritualitas generasi Z yang hidup dalam masifnya arus informasi digital yang sering kali terlepas dari kebenaran objektif. Kepemimpinan gembala menghadapi tuntutan baru untuk tidak hanya menjalankan fungsi administratif gereja, tetapi juga membangun keteladanan dan integritas spiritual yang realita dan nyata. Teks 1 Petrus 5:2–3 menawarkan kerangka tentang kepemimpinan pastoral yang berlandaskan kebenaran alkitabiah, namun relevansinya bagi pembinaan spiritualitas Gen Z di era post-truth belum banyak dieksplorasi secara sistematis. apalagi meningkatnya skeptisisme generasi Z terhadap kepemimpinan rohani serta kecenderungan membangun spiritualitas yang bersifat individual dan digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepemimpinan gembala dan teologi pastoral berdasarkan 1 Petrus 5:2–3 dalam memperkuat spiritualitas Gen Z di era post-truth. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis biblika dan kajian teologi pastoral kontekstual. Maka dapat disimpulkan bahwa Kajian biblika terhadap 1 Petrus 5:2–3 menegaskan bahwa kepemimpinan gembala yang berlandaskan kerelaan, integritas, dan keteladanan merupakan fondasi teologis yang kokoh bagi pelayanan gereja. Analisis terhadap karakteristik spiritualitas Gen Z di era post-truth menunjukkan perlunya model kepemimpinan pastoral yang dialogis, autentik, dan kontekstual untuk menjawab skeptisisme serta dinamika digital generasi ini. Integrasi prinsip alkitabiah dengan strategi pendidikan dan pelayanan pastoral yang adaptif terbukti relevan dalam memperkuat spiritualitas Gen Z serta memperkaya pengembangan teologi pastoral kontemporer.

Page 10 of 10 | Total Record : 100