cover
Contact Name
Nathanail Sitepu
Contact Email
psnail21@gmail.com
Phone
+6281321151320
Journal Mail Official
psnail21@gmail.com
Editorial Address
Rukan Mutiara Marina No.40 Semarang - Jawa Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 23029498     EISSN : 26850834     DOI : 10.52104
Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan Kristen
Articles 90 Documents
Menanamkan Spiritualitas Kepemimpinan Kristiani melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Zebua, Syukurman; Siburian, Steven Tong; Zakhirsyah, Denny; Pinoa, Stevan Andi; Rende, Aloycius Reinhard
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.374

Abstract

This study aims to examine the role of Christian Religious Education (CRE) as a strategic medium in instilling the spirituality of Christian leadership in a holistic manner. Christian leadership is understood not merely as an authoritative position, but as a calling to serve, rooted in a relationship with God and modeled on Jesus Christ as the Good Shepherd. In the educational context, particularly in CRE, the urgency of instilling leadership spirituality arises as a response to the modern tendency to focus on cognitive aspects while neglecting affective and spiritual dimensions. This research employs a literature analysis method with a thematic approach through data reduction, categorization, comparative analysis, and conceptual synthesis from theological, pedagogical, and interdisciplinary sources. The findings indicate that CRE plays an essential role in cultivating humility, integrity, exemplary conduct, courage to serve, and self-sacrifice as the primary indicators of Christian leadership spirituality. Participatory, reflective, and contextual learning strategies such as project-based learning and service learning can strengthen the internalization of Gospel values into leadership practices. CRE not only contributes to the formation of personal faith but also has a transformative impact on the church, society, and nation by nurturing leaders with Christ-like character. Thus, this study affirms that CRE serves as a vital foundation for the development of holistic, relevant, and transformative Christian leadership in the contemporary era. AbstrakPenelitian ini bertujuan menelaah peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai media strategis dalam menanamkan spiritualitas kepemimpinan Kristiani secara holistik. Kepemimpinan Kristiani dipahami bukan sekadar posisi otoritatif, melainkan panggilan pelayanan yang berakar pada relasi dengan Allah dan keteladanan Yesus Kristus sebagai Gembala Agung. Dalam konteks pendidikan, khususnya PAK, urgensi penanaman spiritualitas kepemimpinan muncul sebagai respons terhadap kecenderungan pendidikan modern yang berfokus pada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan spiritual terabaikan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis literatur dengan pendekatan tematik melalui reduksi data, kategorisasi, analisis komparatif, dan sintesis konseptual dari berbagai sumber teologis, pedagogis, dan interdisipliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAK memiliki peranan penting dalam membentuk kerendahan hati, integritas, keteladanan, keberanian melayani, dan pengorbanan diri sebagai indikator utama spiritualitas kepemimpinan Kristiani. Strategi pembelajaran partisipatif, reflektif, dan kontekstual, seperti project-based learning dan service learning dapat memperkuat internalisasi nilai Injil ke dalam praksis kepemimpinan. PAK tidak hanya berkontribusi pada pembentukan iman personal, tetapi juga berdampak transformatif bagi gereja, masyarakat, dan bangsa melalui lahirnya pemimpin-pemimpin yang berkarakter Kristus. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa PAK merupakan fondasi penting bagi pengembangan kepemimpinan Kristiani yang holistik, relevan, dan transformatif di era kontemporer.
Pendidikan Agama Kristen sebagai Sarana Pembentukan Pemimpin Pelayan (Servant Leader) Haninuna, Benyamin; Haluk, Paskalis; Pinoa, Stevan Andy; Souk, Angri Meliani Puspita; Buntula'bi', Semuel
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.381

Abstract

This study aims to examine the role of Christian Religious Education (CRE) as a strategic medium in shaping the character of servant leadership among students. In the context of globalization marked by leadership crises, individualism, and power-oriented practices, there is an urgent need for a leadership model grounded in Christian values, namely leadership through service. This research employs a Systematic Literature Review (SLR) by analyzing reputable academic sources that discuss the integration of CRE, servant leadership values, the role of teachers, curriculum, and faith communities. The findings reveal that CRE significantly contributes to shaping servant leaders through three main dimensions: (1) curriculum integration with Christian values such as love, humility, and service; (2) the role of teachers as life models who internalize and embody servant leadership in the teaching–learning process; and (3) the contribution of faith communities as praxis spaces where students experience and practice the values of service in real-life contexts. The study further highlights that synergy among schools, teachers, families, and faith communities creates a holistic educational ecosystem that nurtures a new generation of leaders with integrity and a service orientation. Thus, CRE functions not merely as an instrument of cognitive instruction but as a transformative means for spiritual growth and the development of leadership character aligned with the example of Jesus Christ. These findings are expected to enrich academic discourse while providing practical direction for curriculum development, pedagogical strategies, and the engagement of faith communities in forming future leaders who serve. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai sarana strategis dalam membentuk karakter kepemimpinan pelayan (servant leadership) pada peserta didik. Dalam konteks globalisasi yang ditandai dengan krisis kepemimpinan, individualisme, dan orientasi kekuasaan, dibutuhkan model kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Kristiani, yaitu kepemimpinan yang melayani. Pendekatan penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah berbagai sumber akademik bereputasi yang membahas integrasi PAK, nilai kepemimpinan pelayan, peran guru, kurikulum, dan komunitas iman. Hasil kajian menunjukkan bahwa PAK memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk pemimpin pelayan melalui tiga dimensi utama, yaitu integrasi kurikulum dengan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kerendahan hati, dan pelayanan; peran guru sebagai teladan hidup yang menginternalisasikan nilai kepemimpinan pelayan dalam proses belajar-mengajar; dan kontribusi komunitas iman sebagai ruang praksis bagi siswa untuk menghidupi dan mempraktikkan nilai pelayanan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini juga menemukan bahwa sinergi antara sekolah, guru, keluarga, dan komunitas iman menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dalam membentuk generasi pemimpin pelayan yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan. Dengan demikian, PAK tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengajaran kognitif, tetapi juga sebagai sarana transformasi spiritual dan karakter kepemimpinan yang sejalan dengan teladan Yesus Kristus. Temuan ini diharapkan memperkaya wacana akademik sekaligus memberikan arah praktis bagi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, dan keterlibatan komunitas iman dalam pembentukan pemimpin masa depan yang melayani.
Simon Kirene dan Teologi Empati: Kajian Pastoral tentang Solidaritas di Tengah Derita Siregar, Budiman; Antonius, Yosef; Jonathans, Kornelius Rulli
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.386

Abstract

The story of Simon of Cyrene being compelled to carry Jesus’ cross (Luke 23:26) is often read as a peripheral narrative within the Passion account. However, from a pastoral theological perspective, Simon’s figure represents a profound act of empathy and an actualization of solidarity in suffering. This article aims to highlight the pastoral significance of Simon of Cyrene’s action as a paradigm of empathy in pastoral ministry. Through a pastoral hermeneutical approach and biblical narrative analysis, the study elaborates how Simon’s action reflects an active presence amid the suffering of others, even without prior preparation or willingness. This context is highly relevant for contemporary pastoral care, especially in accompanying individuals or communities experiencing trauma, crisis, or marginalization. The theology of empathy derived from Simon’s story challenges pastoral ministers to embody real solidarity—not merely through words of consolation, but through concrete involvement in bearing the burdens of others. The article also emphasizes the importance of pastoral readiness to become “contemporary Simons,” present not because of position or authority, but out of a heartfelt calling to compassionate accompaniment. Thus, the story of Simon of Cyrene serves as a reflective mirror for a humanistic, responsive, and transformative model of pastoral ministry amidst the realities of suffering in today’s world. AbstrakKisah Simon dari Kirene yang dipaksa untuk memikul salib Yesus (Lukas 23:26) sering kali dibaca sebagai narasi sampingan dalam sengsara Kristus. Namun, dari perspektif teologi pastoral, figur Simon justru merepresentasikan tindakan empatik yang mendalam dan aktualisasi solidaritas dalam penderitaan. Artikel ini bertujuan untuk mengangkat makna pastoral dari tindakan Simon Kirene sebagai paradigma empati dalam pelayanan pastoral. Melalui pendekatan hermeneutika pastoral dan telaah naratif biblika, kajian ini mengelaborasi bagaimana tindakan Simon mencerminkan kehadiran aktif di tengah penderitaan orang lain, sekalipun tanpa persiapan atau kerelaan awal. Konteks tersebut relevan bagi pelayanan pastoral masa kini, terutama dalam mendampingi individu atau komunitas yang mengalami trauma, krisis, atau marginalisasi. Teologi empati yang digali dari kisah Simon menantang para pelayan pastoral untuk menghadirkan solidaritas yang nyata, bukan hanya melalui kata-kata penghiburan, tetapi melalui keterlibatan konkret dalam memikul beban sesama. Artikel ini juga menyoroti pentingnya kesiapsediaan pastoral untuk menjadi "Simon-Simon masa kini" yang hadir bukan karena posisi, melainkan karena panggilan hati untuk berbela rasa. Dengan demikian, kisah Simon Kirene menjadi cermin reflektif bagi model pelayanan pastoral yang humanis, responsif, dan transformatif di tengah realitas penderitaan zaman ini.
Faktor Penyebab Pelecehan Seksual di Tana Toraja: Peran Etika Kristen sebagai Respons Pastoral dan Sosial Petrus, Simon; Tanhidy, Jamin; Susanto, Susanto
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.408

Abstract

Sexual harassment occurring in Tana Toraja has been a case that continues to increase in recent years, and most of it is committed by close family members and adults, with the victims primarily being underage children. This situation reflects a decreasing understanding of Christian ethics in the Toraja community, which is generally composed of Christian believers. Therefore, this study aims to explore the factors causing sexual harassment in Tana Toraja and the role of Christian ethics in these cases. The research method used is a qualitative method of literature review. The study found that criminogenic, socio-cultural factors and law enforcement are the main causes. The role of Christian ethics as a pastoral and social response in preventing the increase of sexual violence cases in Toraja is to act as an agent upholding the sanctity of the church in the world and an agent of social, moral, and spiritual change/transformation in the Toraja community. These findings contribute to efforts in church development, Christian ethics education, and child protection advocacy. AbstrakPelecehan seksual yang terjadi di Tana Toraja merupakan kasus yang terus meningkat beberapa tahun belakangan ini dan kebanyakan dilakukan oleh keluarga dekat dan orang dewasa, korbannya terutama anak-anak di bawah umur. Kondisi ini mencerminkan berkurangnya pemahaman tentang etika Kristen dalam masyarakat Toraja  yang umumnya merupakan pemeluk agama Kristen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor penyebab pelecehan seksual di Tana Toraja dan bagaimana peran etika Kristen dalam kasus ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif jenis kajian literatur. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor kriminogen, sosial—budaya dan penegakan hukum menjadi penyebab utama. Peran etika Kristen sebagai respons pastoral dan sosial dalam mencegah peningkatan kasus kekerasan seksual di Toraja adalah menjadi agen pelindung kesucian gereja di tengah dunia dan agen perubahan/transformasi sosial, moral dan spiritual Masyarakat Toraja. Temuan ini berkontribusi kepada upaya pembinaan gereja, pendidikan etika Kristen, dan advokasi perlindungan anak.
Integrasi Teologi Garam dan Terang, Budaya Tongkonan, dan Sosialisasi Digital dalam Pembinaan Generasi Z di Gereja Toraja Tangdilintin, Aussie Femy
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.294

Abstract

The formation of Christian character among Generation Z has become an urgent concern for the Toraja Church amid rapid digital advancement, cultural transformation, and moral pluralism. Generation Z lives within a hyperconnected digital ecosystem that reshapes moral reasoning, religious identity, and patterns of faith formation, while traditional church-based discipleship often struggles to respond effectively. This study examines how the Toraja Church embodies its vocation as “salt and light” (Matt. 5:13–16) in shaping the Christian character of Generation Z within the Torajan socio-cultural and digital context. This research employs a systematic literature review of theological, educational, and sociological studies published between 2018 and 2025, analyzed through a thematic-critical approach. The theoretical framework integrates the theology of salt and light, adolescent moral development theory, contextual ecclesiology, and digital faith formation. The findings reveal three core insights. First, Christian character formation among Generation Z is most effective when faith education moves beyond doctrinal transmission toward holistic formation integrating cognitive, affective, and practical dimensions. Second, the interaction between Torajan cultural values and digital media creates moral ambiguity, requiring the church to cultivate ethical digital literacy as part of discipleship. Third, experiential and community-based approaches—such as small groups, social engagement, and participatory digital ministry—significantly strengthen character formation. The novelty of this study lies in proposing an integrative conceptual model that combines Torajan contextual theology, ethical digital literacy, and experience-based community formation, contributing to contextual practical theology and contemporary Christian education. AbstrakPembentukan karakter Kristiani Generasi Z menjadi isu yang semakin mendesak bagi Gereja Toraja di tengah pesatnya kemajuan digital, transformasi budaya, dan pluralisme moral. Generasi Z hidup dalam ekosistem digital yang hiperterhubung, yang membentuk cara berpikir moral, identitas keagamaan, dan pola pembinaan iman, sementara model pembinaan iman gereja yang konvensional kerap menghadapi keterbatasan dalam merespons realitas tersebut. Penelitian ini mengkaji bagaimana Gereja Toraja menjalankan panggilannya sebagai “garam dan terang” (Mat. 5:13–16) dalam membentuk karakter Kristiani Generasi Z di tengah konteks sosial, budaya, dan digital Toraja. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur sistematis terhadap kajian teologi, pendidikan iman, dan sosiologi agama yang dipublikasikan pada periode 2018–2025, dengan pendekatan analisis tematik-kritis. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi teologi garam dan terang, teori perkembangan moral remaja, eklesiologi kontekstual, dan konsep pembinaan iman digital. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pembentukan karakter Kristiani Generasi Z paling efektif ketika pembinaan iman tidak berhenti pada transfer doktrin, tetapi dilakukan secara holistik dengan mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan praksis. Kedua, interaksi antara nilai budaya Toraja dan media digital menciptakan ruang ambiguitas moral yang menuntut gereja mengembangkan literasi digital etis sebagai bagian integral dari pemuridan. Ketiga, pendekatan pembinaan berbasis pengalaman dan komunitas—melalui persekutuan kecil, pelayanan sosial, dan pelayanan digital partisipatif—secara signifikan memperkuat pembentukan karakter Kristiani. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model konseptual integratif yang menggabungkan teologi kontekstual Toraja, literasi digital etis, dan pembinaan komunitas berbasis pengalaman, yang berkontribusi bagi pengembangan teologi praktis kontekstual dan pendidikan iman di era digital. 
Peran Gereja dalam Pembentukan Etika Kepemimpinan Kristen Holistik Berbasis Sensitivitas Ekologis Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.405

Abstract

The increasingly complex global ecological crisis demands that the church focus not only on spiritual development, but also on the development of leadership ethics that are responsive to environmental damage. The lack of integration between creation theology and leadership formation has resulted in Christian leaders being less sensitive to ecological issues that impact church life and society. Furthermore, leadership approaches that still tend to be anthropocentric hinder the church from presenting a holistic witness that reflects God's concern for all creation. The increasing phenomenon of natural disasters, environmental degradation, and the ecological suffering of local communities emphasises the urgency of forming leadership ethics rooted in ecological sensitivity. This study aims to analyse the role of the church in shaping a holistic Christian leadership ethic based on ecology. The research method used is qualitative-descriptive analysis through a review of theological and pastoral literature. The results show that a holistic Christian leadership ethic is rooted in a theological foundation that views ecological responsibility as an integral part of the call to faith and service. The church plays a strategic role as an agent of formation that fosters ecological sensitivity as a core competency of Christian leadership through education, pastoral training, and community praxis. Thus, an ecology-based theological-pastoral model becomes a transformative framework for forming Christian leaders who are faithful, ethical, and responsible for the integrity of creation. AbstrakKrisis ekologis global yang semakin kompleks menuntut gereja untuk tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pengembangan etika kepemimpinan yang responsif terhadap kerusakan lingkungan. Minimnya integrasi antara teologi penciptaan dan formasi kepemimpinan telah menyebabkan pemimpin Kristen kurang peka terhadap persoalan ekologis yang berdampak pada kehidupan gerejawi dan masyarakat. Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang masih cenderung antroposentris menghambat gereja dalam menghadirkan kesaksian holistik yang mencerminkan kepedulian Allah terhadap seluruh ciptaan. Fenomena meningkatnya bencana alam, degradasi lingkungan, dan penderitaan ekologis komunitas lokal mempertegas urgensi pembentukan etika kepemimpinan yang berakar pada sensitivitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dalam membentuk etika kepemimpinan Kristen holistik berbasis ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  etika kepemimpinan Kristen holistik berakar pada fondasi teologis yang memandang tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari panggilan iman dan pelayanan. Gereja berperan strategis sebagai agen formasi yang menumbuhkan sensitivitas ekologis sebagai kompetensi inti kepemimpinan Kristen melalui pendidikan, pembinaan pastoral, dan praksis komunitas. Dengan demikian, model teologis-pastoral berbasis ekologi menjadi kerangka transformatif untuk membentuk pemimpin Kristen yang beriman, beretika, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan.
Verifikasi Keakuratan Penyalinan Teks Alkitab Berdasarkan Gulungan Laut Mati: Analisis Filologis Yesaya 53:11 dan Implikasi Teologisnya Sinaga, Sahat Martua
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.301

Abstract

In the field of biblical text studies, the discovery of the Dead Sea Scrolls (DSS) in Qumran in 1947 stands as one of the greatest archaeological findings, significantly contributing to textual criticism of the Old Testament. These ancient manuscripts, estimated to date from 250 BCE to 100 CE, serve as crucial evidence in verifying the accuracy of Old Testament textual transmission, particularly when compared with the Masoretic Text (MT) as the basic for the Old Testament. Previous studies have primarily focused on the historical and archaeological aspects of the DSS, whereas this research fills the existing gap by emphasizing a philological verification of the textual variant in Isaiah 53:11 and its implications for Christian theology. This study aims to assess how far the DSS support textual accuracy verification and to examine their theological implications, especially in Isaiah 53:11. Using a textual-critical and philological approach to analyze variants between DSS, MT, and LXX, the study finds only minor differences that do not alter theological meaning. The presence of the word ’ôr (“light”) in DSS and LXX enriches the theological interpretation, affirming the Servant’s resurrection and glorification after suffering. These findings verify the remarkable precision of biblical text transmission and reaffirm the reliability and theological authority of Scripture. AbstrakDalam ranah studi teks Alkitab, penemuan Gulungan Laut Mati (DSS) di Qumran pada tahun 1947 merupakan penemuan bukti arkeologis yang sangat penting dan berkontribusi signifikan dalam kritik teks Alkitab Perjanjian Lama. DSS tersebut merupakan manuskrip kuno yang diperkirakan berasal dari tahun 250 SM hingga 100 M, menjadi sumber penting dalam memverifikasi keakuratan penyalinan teks Alkitab Perjanjian Lama, khususnya terhadap Teks Masoret (MT) yang selama ini menjadi standar Alkitab Perjanjian Lama. Penelitian sebelumnya lebih fokus pada aspek historis dan arkeologis DSS, sedangkan penelitian ini berfokus pada verifikasi filologis terhadap varian teks Yesaya 53:11 serta implikasi teologisnya. Tujuan penelitian ini adalah meninjau sejauh mana DSS mendukung verifikasi keakuratan teks Alkitab dan menguji implikasi teologisnya, terutama pada Yesaya 53:11. Dengan pendekatan kritik teks dan analisis filologis terhadap varian antara DSS, MT, dan LXX, ditemukan bahwa perbedaan teks bersifat minor dan tidak mengubah substansi teologis. Keberadaan kata “terang” (’ôr, אור) dalam Yesaya 53:11 pada DSS dan LXX justru memperkaya makna teologis, yakni menegaskan kebangkitan dan kemuliaan Hamba Tuhan setelah penderitaan. Temuan ini memverifikasi bahwa proses penyalinan teks Alkitab dilakukan secara akurat dan konsisten, serta secara teologis meneguhkan otoritas Alkitab.
Narasi Padang Gurun: Tafsir Teologis Kitab Bilangan Dalam Perspektif Kontekstual di Indonesia Latupeirissa, Jacobus; Wesley, Jhon; Yeremia, Yeremia; Pratiwi, Pratiwi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.410

Abstract

The desert narrative in the Book of Numbers is often understood merely as a symbol of suffering or a test of faith for the Israelites. However, this article offers a new perspective: reading the narrative as a pattern of faith transformation that is integral and relevant to the Indonesian context. This study uses a qualitative-descriptive approach through contextual hermeneutics, combined with literature review. The focus is on analyzing the desert dynamics—from complaints, divine guidance, purification, renewal, to recontextualization—and relating it to the experience of the church in Indonesia facing a “social desert,” namely economic crisis, marginalization, environmental degradation, and the challenges of secular modernity. The study results find that, first, the desert narrative is understood not merely as an individual spiritual dimension. It exists as a collective, ecological, and missional framework that connects faith with community life. Second, this research brings together the Old Testament text with Indonesian contextual theological discourse, thus producing a model of faith transformation that can be used as a practical paradigm for local churches in formulating a wilderness spirituality that is relevant to contemporary socio-economic, ecological and religious realities and practices. AbstrakNarasi padang gurun dalam Kitab Bilangan seringkali dipahami hanya sebagai simbol penderitaan atau ujian iman bagi bangsa Israel. Namun, artikel ini menawarkan perspektif baru, yaitu membaca narasi itu sebagai pola transformasi iman yang integral dan relevan bagi konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui hermeneutika kontekstual, dipadukan dengan kajian literatur. Fokusnya adalah menganalisis dinamika padang gurun mulai dari keluhan, tuntunan ilahi, purifikasi, pembaruan, hingga rekontekstualisasi dan mengaitkannya dengan pengalaman gereja di Indonesia yang menghadapi “gurun sosial” yaitu krisis ekonomi, marginalisasi, kerusakan lingkungan, dan tantangan modernitas sekuler. Hasil penelitian menemukan bahwa,  Pertama, narasi padang gurun dipahami bukan sekadar dimensi spiritual-individual. Ia hadir sebagai kerangka kolektif, ekologis, dan misioner yang menghubungkan iman dengan kehidupan komunitas. Kedua, penelitian ini mempertemukan teks Perjanjian Lama dengan wacana teologi kontekstual Indonesia, sehingga menghasilkan model transformasi iman yang dapat dijadikan paradigma praksis bagi gereja lokal dalam merumuskan spiritualitas padang gurun yang relevan dengan realitas dan praktik sosial-ekonomi, ekologis dan religius pada masa kini.
Di Balik Gerbang Kekayaan: Penderitaan Orang Kaya yang Tidak Berbelas kasihan dan Kebahagiaan Abadi Lazarus yang Miskin dalam Lukas 16:19-31 Bangun, Josapat; Sitepu, Nathanail
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.355

Abstract

Jewish religious leaders, despite living within a deeply religious environment and actively engaging in ritual and institutional religious practices, were not always successful in applying the teachings of the Torah and the Prophets to their social and ethical lives. This study aims to examine the religious and socio-economic realities of these leaders during the time of Jesus, with particular attention to their lack of compassion toward the poor and suffering, even as they themselves lived in wealth and luxury, as illustrated in Jesus’ parable of the rich man and Lazarus (Luke 16:19–31). Employing a qualitative research approach, this article critically reviews, analyzes, and synthesizes relevant biblical texts, theological literature, and scholarly studies. The findings indicate that Jewish religious leaders, driven by an attachment to wealth, increasingly prioritized financial gain within their leadership practices. This ethical failure emerged from a mode of religious understanding that remained largely cognitive, without meaningful integration into the affective and practical dimensions of faith. As a result, inner spiritual transformation marked by divine virtues was absent, leading to an inability to embody love and compassion in concrete social relationships. This article contributes to contemporary theological discourse by arguing that authentic spiritual transformation requires an integrated formation of belief, moral sensibility, and social responsibility, particularly in addressing both personal and structural dimensions of poverty. AbstrakPara pemimpin agama Yahudi, meskipun hidup dalam lingkungan yang sangat religius dan aktif terlibat dalam ritual dan praktik keagamaan institusional, tidak selalu berhasil menerapkan ajaran Taurat dan para Nabi dalam kehidupan sosial dan etika mereka. Studi ini bertujuan untuk meneliti realitas keagamaan dan sosial-ekonomi para pemimpin ini pada zaman Yesus, dengan perhatian khusus pada kurangnya belas kasih mereka terhadap orang miskin dan yang menderita, bahkan ketika mereka sendiri hidup dalam kekayaan dan kemewahan, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19–31). Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, artikel ini secara kritis meninjau, menganalisis, dan mensintesis teks-teks Alkitab yang relevan, literatur teologis, dan studi ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa para pemimpin agama Yahudi, yang didorong oleh keterikatan pada kekayaan, semakin memprioritaskan keuntungan finansial dalam praktik kepemimpinan mereka. Kegagalan etika ini muncul dari cara pemahaman keagamaan yang sebagian besar tetap kognitif, tanpa integrasi yang bermakna ke dalam dimensi afektif dan praktis iman. Akibatnya, transformasi spiritual batin yang ditandai dengan kebajikan ilahi tidak ada, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mewujudkan kasih dan belas kasih dalam hubungan sosial yang konkret. Artikel ini berkontribusi pada wacana teologis kontemporer dengan berargumen bahwa transformasi spiritual yang autentik membutuhkan pembentukan keyakinan, kepekaan moral, dan tanggung jawab sosial yang terintegrasi, khususnya dalam menangani dimensi pribadi dan struktural kemiskinan.
Transformasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer: Integrasi Teologi dan Nilai Kristen dalam Misiologi Rares, Irwan Revianto; Suseno, Aji; Arifianto, Yonatan Alex
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.411

Abstract

The phenomenon of contemporary church leadership transformation shows a shift from a hierarchical leadership pattern to a more participatory, collaborative, and contextual model, in line with the demands of globalisation, technological advances, and the increasingly complex socio-cultural dynamics of congregations. This study aims to explore how the integration of theology and Christian values can strengthen church missiology in the context of modern leadership. The research method used is a descriptive qualitative approach through literature study, which concludes that Christian leadership theory remains relevant in the contemporary context when rooted in Christian values as an ethical and spiritual foundation. The transformation of church leadership structures in the digital age requires an adaptive and collaborative approach without neglecting theological principles. The integration of theology and Christian values in missiological strategies strengthens the direction of church ministry so that it remains contextual, sustainable, and oriented towards authentic faith formation and social impact. Whereby, the transformation of contemporary church leadership not only requires adaptation to external changes, but must also maintain theological foundations and Christian values as the main footing in missiology. AbstrakFenomena transformasi kepemimpinan gereja kontemporer menunjukkan adanya pergeseran pola kepemimpinan yang sebelumnya bersifat hierarkis menuju model yang lebih partisipatif, kolaboratif, dan kontekstual, seiring dengan tuntutan globalisasi, kemajuan teknologi, serta dinamika sosial budaya jemaat yang semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi teologi dan nilai-nilai Kristen dapat memperkuat misiologi gereja dalam konteks kepemimpinan modern. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dapat disimpulkan bahwa teori kepemimpinan Kristen tetap relevan dalam konteks kontemporer ketika berakar pada nilai-nilai Kristen sebagai fondasi etis dan spiritual. Transformasi struktur kepemimpinan gereja di era digital menuntut pendekatan adaptif dan kolaboratif tanpa mengabaikan prinsip teologis. Integrasi teologi dan nilai Kristen dalam strategi misiologi memperkuat arah pelayanan gereja agar tetap kontekstual, berkelanjutan, serta berorientasi pada pembentukan iman dan dampak sosial yang autentik. Dimana, transformasi kepemimpinan gereja kontemporer tidak hanya memerlukan adaptasi terhadap perubahan eksternal, tetapi juga harus mempertahankan fondasi teologi dan nilai Kristen sebagai pijakan utama dalam misiologi.