cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
TINDAK TUTUR PADA NASIHAT BERBAHASA JAWA YANG BERKONJUNGSI YEN Wiwin Erni Siti Nurlina
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.381 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.324

Abstract

This research analyzes advisory utterance in Javanese language. The advisory speech contains conjunction element yen “if”. The advisory utterance contains teaching that reflects Javanese culture .The teaching was a grandeur cultural heritage in character education.The approach used is pragmatics and structural theory.The structural theory approach is used to see form of advisory speech.The next discussion employs pragmatics theory to explain intention embodied in Javanese advisory speech. The method is descriptive and qualitative method based on pragmatics. The result shows that the advisory utterance with conjunction element yen “if”, particularly verbal act review are five speech act types. Those were (i) reminding, (ii) advising, (iii) ordering, (iv) prohibiting, and (v) expecting or imagining. Those speech acts could be used as part of education learning. Tulisan ini mengkaji tuturan yang berisi nasihat dalam bahasa Jawa. Tuturan nasihat tersebut memuat unsur konjungsiyen‘jika’. Tuturan nasihat itu memuat ajaran yang mencerminkan budaya Jawa. Ajaran yang termuat pada tuturan nasihat itu merupakan warisan budaya yang luhur dalam pendidikan budi pekerti. Dalam kajian ini digunakan teori pragmatik dan teori struktural. Pendekatan dengan teori struktural digunakan untuk melihat bentuk tuturan nasihat. Pembahasan selanjutnya digunakan paradigma pragmatik untuk menjelaskan kandungan maksud pada tuturan nasihat dalam bahasa Jawa. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif, dengan pijakan atau landasan pragmatis. Hasil dari kajian dengan teoripragmatik pada tuturan nasihat berunsur kata yen ini, khususnya kajian tindak verbal, ialahlima jenis tindak tutur. Tindak tutur tersebut diungkapkan dalam bentuk kata kerja.Kelima tindak tutur yang termuat dalam tuturan nasihat berunsur konjungsi yen yaitu (i) mengingatkan, (ii) menganjurkan, (iii) menyuruh, (iv) melarang, dan (v) mengharap atau berangan-angan.Kelima  jenis tindak tutur itu dapat digunakan sebagai bagian dalam pembelajaran budi pekerti.
KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TIDAK LANGSUNG DALAM WACANA BERITA TERTULIS BERBAHASA INDONESIA Praptomo Baryadi Isodarus
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.907 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.839

Abstract

This article presented the results of research on the elements and functions of direct sentences and indirect sentences in written news discourse in Indonesian. The theory used is the theory of the element of speech and the element of paragraph. This research data is paragraphs containing direct sentences and paragraphs containing indirect sentences in indonesian written news discourse. In this study, observation methods were used for data collection, the method for immediate constituents and the referential identity method for data analysis, and the informal method for presenting the results of data analysis. In Indonesian written news discourse, the direct sentences have a structure: quotations of speech enclosed with double quotes ("..."), commas, actions in the stem that referent 'disclosure', speaker, and (situations of speech). In a direct sentence, the element highlighted is a quote of speech. As a paragraph element, direct sentences tend to serve as developement sentences. Indirect sentences have two types of structures, namely (1) the speaker, the act of speech expressed in the transitive active verbs that referent to 'disclosure', (bahwa, comma), and quotations of speech that are not enclosed with quotation marks; (2) menurut speaker, the quote is not enclosed in quotation marks. In indirect sentences, the highlight is the speaker. As a paragraph element, indirect sentences tend to serve as topic sentences.Dalam artikel ini disajikan hasil penelitian tentang unsur dan fungsi kalimat langsung dan kalimat tidak langsung dalam wacana berita tertulis berbahasa Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori tentang unsur tuturan dan unsur pembentuk paragraf. Data penelitian ini adalah paragraf yang mengandung kalimat langsung dan paragraf yang mengandung kalimat tidak langsung dalam wacana berita tertulis berbahasa Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan metode simak untuk pengumpulan data, metode bagi unsur langsung dan metode padan referensial untuk analisis data, serta metode informal untuk penyajian hasil analisis data. Kalimat langsung memiliki struktur berupa kutipan tuturan yang diapit dengan tanda kutip ganda (“…”), tanda koma, tindak tutur yang berupa kata asal yang menyatakan makna ‘pengungkapan’, narasumber, dan situasi tindak tutur. Dengan struktur tersebut, kalimat langsung lebih menonjolkan kutipan tuturan. Dalam paragraf, kalimat langsung cenderung berfungsi sebagai kalimat penjelas. Kalimat tidak langsung memiliki dua jenis struktur, yaitu (1) narasumber, tindak tutur yang diungkapkan dalam bentuk verba aktif transitif yang menyatakan makna ‘pengungkapan’ (bahwa atau tanda koma), dan kutipan tuturan yang tidak diapit dengan tanda kutip serta (2) menurut narasumber dan kutipan tuturan yang tidak diapit dengan tanda kutip. Dengan struktur tersebut, kalimat tidak langsung lebih menonjolkan narasumber. Dalam paragraf, kalimat tidak langsung cenderung berfungsi sebagai kalimat topik.
ANALISIS PENGGUNAAN HURUF KANA OLEH MAHASISWA BAHASA JEPANG PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN Imelda Imelda
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1922.677 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.96

Abstract

Kemampuan menulis merupakan kompetensi awal yang diajarkan kepada mahasiswa baru bahasa Jepang. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian serius dalam pembelajaran Bahasa Jepang dasar, menengah, hingga kompetensi tingkat lanjutan. Meskipun demikian, belum ada penelitian-penelitian yang berbasis language aquisation di Program Studi Sastra Jepang menjadi salah satu input untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menulis huruf Jepang. Penelitian ini berbasis kualitatif deskriptif dengan menggunakan 20 responden mahasiswa tingkat I, II, dan III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat I, dan tingkat III lebih cenderung banyak menggunakan huruf hiragana dibanding huruf katakana, sehingga tidak banyak terjadi kesalahan dalam penulisan katakann, sedangkan mahasiswa tingkat II lebih banyak mengeksplor kemampuan menggunakan katakana disusul dengan mahasiswa tingkat L Hal ini disebabkan karena mahasiswa tingkat I dan tingkat II masih menempuh perkuliahan Menulis, sedangkan mahasiswa tingkat III sudah tidak ada perkuliahan tentang menulis kana. Di samping itu, ada beberapa huruf kana yang cenderung di tulis tidak tepat dan bahkan bertukar, seperti huruf hiraganayang ditulis menjadi huruf katakanadan huruf katakana untuk huruf. Penulisan yang tidak tepat berpotensi menjadi error jika pembelajar tidak diberi input oleh pengajar. Hal itu, selain bentuknya yang berubah, juga dapat mengubah arti kata itu sendiri atau bahkan tidak berarti apa-apa. Writing competency is initial competency that is taught to new Japanese university student. Therefore, it should be given serious attention in basic Japanese, intermediate, until advanced level competency. However, there has not been a research on basis of language acquisition in Japanese literature Study program ns one of inputs to acknowledge Japanese writing student competency. This research is based on descriptive qualitative with 20 student respondents of level I, II, and III. The results shows that students of level I and level III Are more likely to use hiragana than katakana, so that there is not much mistake in writing katakana, while students of level II are more likely to explore the ability of using katakana, followed by the students of level I. This is because the students of level I and level II are still taking Writing lecture, while the students of level III have not had kana writing lecture anymore. Besides, there are some kana letters that tend to be written incorrectly and more were exchange, such ashiragana is written intoand forkatakana letter. Incorrect writing potentially becomes error if the students are not given input by the teacher. Thus, beside of the change of form, it also can change the meaning of the word itself or more over it does not mean anything.
TEKS “NAH INI DIA” DI POSTKOTA NEWS: KAJIAN PADA STRUKTUR DAN GAYA BAHASA Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.577 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.648

Abstract

This study is a discourse analysis of the "Nah Ini Dia" text, the daily text uploaded on online Poskota News. The text is a news text reported a household problem containing "infidelity or the existence of a third party". This study uses a qualitative descriptive discourse analysis approach. The discourse structure, the language style, and the pragmatic aspects are discussed in this study.  In data collection, the recording method is used, in the analysis micro text and macro text analysis methods are used. Micro-text is used to analyze the language style of vocabulary and sentence; macro-text is used to analyze the text discourse structure and the text pragmatic aspects. The research findings are as follows. The schematic structure of the text is the opening of the text (the main/summary of the story, an overview), the content of the text (the beginning of the story, the beginning of the conflict, the peak of the conflict, the climax of the story), and the closing (the author's comments). The language style of the text "Nah Ini Dia" is humorous that makes the stories that are reported neat, interesting, and funny. In fact, the sense of humor that arise can close the irony in it. For this reason, it seems that the humor has become the icon for the text "Nah Ini Dia". The pragmatic aspect of the text "Nah Ini Dia" is the social satire (disputes and hostility between humans) on events that occur in the household, as the smallest form of social society.Kajian ini merupakan analisis wacana pada teks “Nah Ini Dia”, teks muat harian yang terdapat pada Poskota News berbasis daring. Teks tersebut merupakan teks berita dengan yang memberitakan kisah masalah rumah tangga yang berbau “perselingkuhan atau adanya pihak ketiga”. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis wacana secara deskriptif kualitatif. Yang dikaji ialah struktur wacana, gaya bahasa, dan aspek pragmatik pada teks tersebut. Dalam pengambilan data digunakan metode catat, dalam penganalisisan digunakan metode analisis mikroteks dan makroteks. Mikroteks digunakan untuk menganalisis gaya bahasa kosakata dan kalimat; makroteks digunakan untuk menganalisis struktur wacana teks dan aspek pragmatik teks. Hasil kajiannya ialah sebagai berikut. Skema struktur teks ialah pembuka teks (inti/ringkasan berita cerita, gambaran umum), isi teks (awal cerita, awal konflik, puncak konflik, klimaks cerita), dan penutup (komentar penulis). Gaya bahasa teks “Nah Ini Dia” ialah gaya kejenakaan yang menjadikan cerita yang diberitakan itu apik, menarik, dan lucu. Bahkan, kejenakaan yang timbul mampu menutup cerita ironi di dalamnya. Untuk itu, tampaknya kejenakaan itu yang menjadi ikon teks “Nah Ini Dia”. Aspek pragmatik yang ditimbulkan dari teks “Nah Ini Dia” ialah sindiran sosial (pertikaian dan permusuhan antarmanusia) atas peristiwa yang terjadi di rumah tangga, sebagai bentuk masyarakat sosial terkecil.
GRAFITI KAMPANYE PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP: STUDI KASUS GRAFITI PELAJAR KOTA PATI Edi Setiyanto; Sudartomo Macaryus
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.431 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.977

Abstract

This study discusses environmental-theme graffiti created by. The aspects studied include verbal and nonverbal aspects. The results of this study show the level of understanding of adolescents on environmental issues so that can be used as input in formulating bottom-up environmental learning materials. The approach used is a multimodal approach. Theory using Van Dijk's theory and semiotic theory. This study is descriptive qualitative. The data used are in the form of text and illustrations on environmental campaign graffiti made by students in Pati Regency. The data were obtained using the observation method, the portrait technique, which was followed up by the quote technique. The analysis uses the distribution, insertion, permutation, referent equivalent technique, and read bookmarks. Based on the study, it is known that there are seven environmental campaign themes selected, namely (1) save the earth, (2) preserve plants/trees, (3) free from plastic waste, (4) prevent global warming, (5) prevent air pollution, (6 ) one earth to be with, and (7) earth to be forever. From the nonverbal aspect, the selected pictures or illustrations are thematic, for (1) visualizing the text or (2) detailing the details of the text message.Kajian ini membahas grafiti lingkungan hidup karya pelajar. Kajian mencakup aspek verbal dan nonverbal. Kajian bertujuan menemukan tingkat pemahaman remaja akan isu lingkungan hidup sehingga bermanfaat untuk merumuskan materi pembelajaran secara bottom up. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan multimodal. Teori yang digunakan ialah analisis wacana kritis van Dijk dan semiotika. Kajian bersifat deskriptif kualitatif. Data berupa grafiti kampanye lingkungan karya pelajar di Kabupaten Pati. Data diperoleh dengan metode simak, teknik potret, dilanjutkan teknik salin. Analisis menggunakan teknik sisip, permutasi, padan referen, dan baca markah. Berdasarkan kajian, diketahui ada tujuh tema kampanye lingkungan hidup, yaitu (1) selamatkan bumi, (2) lestarikan tumbuhan, (3) bebaskan bumi dari sampah plastik, (4) cegah pemanasan global, (5) cegah polusi udara, (6) satu bumi untuk bersama, dan (7) bumi untuk selamanya. Dari aspek nonverbal, gambar atau ilustrasi bersifat tematik, untuk (1) visualisasi teks atau (2) memerinci detail pesan teks.
WACANA NOVEL DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN POLA-POLA SUPERSTRUKTUR Edi setiyanto
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1917.901 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.24

Abstract

Kajian ini bertujuan merumuskan pola-pola superstruktur novel dalam bahasa Jawa. Kajian ini dipandang perlu untuk (1) inventarisasi pola-pola superstruktur novel Jawa dan (2) dasar perumusan keunikan pola sebagai cermin kespesifikan pola pikir masyarakat Jawa. Kajian ini menggunakan teori struktural. Novel dipahami sebagai wacana yang tersusun dari dua unsur, yaitu (1) pesan atau isi yang berupa rangkaian peristiwa dan (2) hal ada (existent), yaitu fakta-fakta di luar peristiwa (karakter dan latar). Sebagai struktur, novel terorganisasi secara linear (mikro dan makrostruktur) serta hierarkis (superstruktur). Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Analisis memanfaatkan kaidah makro yang berupa pelesapan, perampatan, dan pengonstruksian. Data kajian berupa enam novel dalam bahasa Jawa yang terbit dalam kurun waktu 19552008. Berdasarkan data, diperoleh tiga pola superstruktur, yaitu (1) alur tunggal lurus, (2) alur tunggal bolak-balik, dan (3) alur ganda bolak-balik.This study is meant to formulate the pattern of superstructure in the Javanese novels. This study is considerably required for in order to (1) make an inventory of the pattern of superstructure in the Javanese novels and (2) outline an underlying formula of the Javanese novels distinctive patterns as the mirror of specificity of the Javaneses ways of thinking. This study applies structural theory. ln this case, the novel is viewed as discourse that consists of two elements, i.e. (1) the message or content in the series of events and (2) the existent, i.e. the facts outside the events (the characters and settings). As for the structure, novel is arranged in linear (micro- and macrostructure) and hierarchical (superstructure) organizations. This is a qualitative descriptive rcsearch. The analysis utilizes "macro rules" as in the forms of ellipsis, generalization and construction. As for the data, this research employs six Javanese novels that appeared in the ranges of time 1955-2008. The data shows three patterns of superstructures, i.e. (1) straight singleplot, (2) back and forth single-plot, and (3) back and forth dauble-plot.
KAJIAN STRUKTURAL WANDA WAYANG DURGA DALAM PERSPEKSTIF CERITA PEWAYANGAN SUDAMALA DAN BUDAYA JAWA Restu Budi Setiawan; Sahid Teguh Widodo; Suyitno Suyitno
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.85 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.161

Abstract

This article want to describe and explain about the meaning of wanda wayang Durga gagrag Surakarta on Javanese culture perspective. Wanda wayang Durga which explain in this article consist of the Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, and wanda wewe. The approach which used on this research is structuralism-semiotic approach from Levi-Strauss model. This approach is chosen because it is considered can explain the object deeper from two side that are outside structure or surface-structure and inside structure or deep- structure. Material object of this research is the figure of Durga from many kind of wanda. Formal object of this research is structural analysis. Primary data on in this research is document wanda wayang of Durga figure. Therefore, the secondary data are interview document and literature review. Analysis data technique on this research consist on four phases, that are data collected phase, data reduction, data presentation, and conclusion drawing.Artikel ini mengupas makna dari wanda wayang Durga gagrag Surakarta dalam perspektif cerita pewayanganSudamala dan kebudayaan Jawa. Pedekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme semiotik model Levi Strauss yang menjelaskan suatu objek kajian secara struktural melalui dari dua sisi yaitu struktur luar yang dikenal dengan istilah surface structure dan struktur dalam   yang dikenal dengan istilah deep structure. Objek material dari penelitian ini adalah sosok Durga yang terdapat dalam berbagai macam wanda tersebut diatas. Objek formal penelitian ini adalah sebuah kajian struktural. Data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah dokumen wanda wayang tokoh Durga, sedangkan data sekundernya adalah wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi empat tahap, yakni tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Temuan yang terdapat dalam penelitian ini diantaranya adalah berbagai macam wanda wayang tokoh Durga dalam pewayangan gaya Surakarta yang diantaranya adalah Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, wanda reca, wanda ngerik, wanda ratudan wanda wewe.
ASPEK-ASPEK SOSIAL NOVEL RANTAU 1 MUARA KARYA AHMAD FUADI Rahmat Gunawan; Suyitno Suyitno; Slamet Supriyadi
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.49 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.189

Abstract

This study aims to describe the form of social aspect of the novel, Rantau 1 Muara Ahmad Fuadi. The novel narrates about the struggle denomination, moral value, love, kinship, responsible, and life stare. This method that was used in this study is descriptive qualitative and used literature sociology study. Data collecting technique is recording heeding technique, and literature study. The novel was analyzed and was interpreted based on existing theory, then  was describe appropriate on the study aim. Data analyses result, there are four social aspects. They are love, kinship, economic, and moral aspect. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan bentuk aspek-aspek sosial dalam novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi. Novel ini mengisahkan tentang nilai perjuangan, nilai moral, cinta kasih, kekerabatan, tanggung jawab, dan pandangan hidup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan menggunakan kajian sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak catat, dan studi pustaka. Novel tersebut dianalisis dan diiterpretasikan berdasarkan teori yang ada, kemudian di deskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis data, diketahui ada empat bentuk aspek sosial, yaitu: aspek cinta kasih, aspek kekerabatan, aspek ekonomi dan aspek moral.
PERBANDINGAN ASPEK LINGKUNGAN PADA CERITA RAKYAT “PEMUDA BERSERULING AJAIB” JERMAN DENGAN “DEWI LIUNG INDUNG BUNGA” KALIMANTAN SELATAN Muhammad Yusuf Saputro
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.46 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.529

Abstract

This study aims to determine the comparison of environmental aspects in the German folklore "The man with the Magic Flute" with “Dewi Liung Indung Bunga” folklore from South Borneo/South Kalimantan. The research approach is a qualitative description with comparative literature study data analysis methods as well as with literary ecology theory. This research proves that the folklore of the two countries has similarities and differences from ecological studies. The results of the study as a representation of nature depicting tropical forests in the story from South Kalimantan and in urban areas in the story from Germany. The local wisdom value of the story from Kalimantan illustrates the belief in giving worship and sacrifice to nature, on the other hand, the story from Germany depicts people who like littering. Examining the heroic elements of the story from Kalimantan was represented by a woman named Dewi Liung Indung Bunga who dared to sacrifice herself for nature and in the story from Germany was represented by a male figure with his power clean the city from rat plague. An analysis of the apocalyptic narrative of a story from Kalimantan shows that humans (Datu Beritau) can receive revelations from God and are vigorous with supernatural nuances and stories from Germany with magical powers that emerge from the sound of flutes that can deceive humans and animals. The research shows that the elements of the apocalyptic environment in both folklore have in common the absence of human consciousness to utilize and protect the environment. This shows that a literary work is part of the natural environment (ecology) of the local community.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aspek lingkungan pada cerita rakyat “Pemuda Berseruling Ajaib” Jerman dengan cerita rakyat “Dewi Liung Indung Bunga” dari Kalimantan Selatan. Pendekatan penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dengan metode analisis data kajian sastra banding serta dengan teori ekologi sastra. Penelitian ini membuktikan bahwa cerita rakyat dari kedua negara tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan dari kajian ekologi. Hasil penelitian sebagai beriku representasi alam yang menggambarkan hutan tropis pada cerita dari Kalimantan Selatan dan wilayah kota dalam perbukitan pada cerita dari Jerman. Nilai kearifan lokal cerita dari Kalimantan menggambarkan kepercayaan memberikan sesembahan dan pengorbanan untuk alam dan cerita dari Jerman sebaliknya menggambarkan penduduk yang suka membuang sampah sembarangan. Telaah unsur kepahlawanan cerita dari Kalimantan diwakili oleh perempuan yaitu Dewi Liung Indung Bunga yang berani mengorbankan dirinya untuk alam dan cerita dari Jerman diwakili oleh tokoh laki-laki dengan kekuatannya dapat membersihkan kota dari wabah tikus. Telaah narasi apokaliptik cerita dari Kalimantan menunjukkan bahwa manusia (Datu Beritau) dapat menerima wahyu dari Tuhan dan kental dengan nuansa supranatural dan cerita dari Jerman kekuatan ajaib yang muncul dari suara seruling yang dapat memperdaya manusia dan hewan. Telaah unsur lingkungan apokaliptik dalam kedua cerita rakyat memiliki kesamaan yaitu tidak adanya kesadaran manusia untuk memanfaatkan dan menjaga lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya sastra bagian dari lingkungan alam (ekologi) masyarakat setempat.
PROBLEMATIKA PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENYIARAN PROGRAMA 4 RRI UNTUK PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH Darmanto Darmanto
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3276.868 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.86

Abstract

Guna memperkuat eksistensi budaya lokal, termasuk untuk pemertahanan bahasa daerah, Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) telah merevisi kebijakan penyiaran Programa 4 sebagai saluran khusus budaya yang dikeluarkan tahun 2007. Dalam kebijakan baru tahun 2013, penggunaan bahasa daerah diperbanyak. Studi ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan berkenaan dengan macam problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan penyiaran Pro 4, khususnya sebagai satu bentuk upaya pemertahanan bahasa daerah. Mengacu pada teori implementasi kebijakan dan penggunaan metode triangulasi dalam proses pengumpulan data, diperoleh simpulan bahwa pada level pelaksanaannya, kebijakan penyiaran Pro 4 menghadapi sejumlah problematik yang dapat dibedakan menjadi dua. Problematik pertama berasal dari lingkungan luar RRI yang solusinya harus datang dari kemauan politik negara. Problematik kedua berasal dari lingkungan dalam RRI, baik bersifat struktural maupun kultural. Persoalan struktural menyangkut hubungan antara Dewan Pengawas dan Dewan Direksi LPP RRI selaku pembuat kebijakan dengan pihak pelaksana. Persoalan kultural disebabkan oleh iklim kerja yang dibangun pada era Orde Baru sebagai lembaga birokrasi, bukan lembaga media massa yang harus profesional dan independen. To strengthen local culture existence, including local language maintenance, Indonesia Republic Radio Public Broadcasting Institution (LPP RRI) has reaised program 4 broadcasting policy as special channel for culture that has been released since 2007. The new policy in 2013 states that the use of local language had been added. The study is conducted to answer question regarding to various problems in implementation of Pro 4 broadcasting policy, particularly as a way to maintain local language. Referring to policy implementation theory by using triangulation method in process of data collection, it can be concluded that in the level of its implementation, Pro broadcasting policy has faced some problematic matters, which can be differentiated into two. The first problem from RRI outside environment and solution for this problem should come from state political will. The second problem is inside RRI environment structurally as well as culturally. Structural problem involves relation between Supervision Board and Director Board LPP RRI as policy maker and doer party. Meanwhile, cultural problem is caused by working climate that is built in New Era as bureaucratic institution, not as mass media institution that should be professional and independent.

Page 6 of 35 | Total Record : 345