cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
snh@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
snh@unja.ac.id
Editorial Address
Jalan Jambi - Ma Bulian, KM 15, Mendalo Indah, Gedung G, Jurusan Sejarah, Seni dan Arkeologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29641780     EISSN : 29641217     DOI : -
Seminar Nasional Humaniora adalah kumpulan artikel ilmiah prosiding pada konferensi Nasional tentang budaya Melayu secara lokal dan global yang diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi. Prosiding meliputi bidang studi humaniora (budaya) yang meliputi kajian Sejarah, Budaya, Hukum, Antropologi, Bahasa (linguistik), Sastra, Seni (Kesenian), Kearifan lokal. Penerbitan Prosiding ini terbuka untuk mempublikasikan berbagai artikel penelitian, studi literatur, studi lapangan, ide konseptual, studi aplikasi dalam perspektif teori humaniora. Prosiding ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.
Articles 52 Documents
Analisis Strategi Guru PPKN dalam Mengembangkan Kecerdasan Moral untuk Menciptakan Generasi Bermoral Pada SMP Negeri Se-Kabupaten Muaro Jambi Usmanto, Heri; Sariani, Dona; Syarifuddin , Amir; Seprina, Reka
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam mengembangkan kecerdasan moral guna membentuk generasi bermoral di SMP Negeri se-Kabupaten Muaro Jambi. Subjek penelitian meliputi guru PPKn, siswa, serta kepala sekolah sebagai informan tambahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PPKn telah mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam pembelajaran melalui pembiasaan, diskusi, studi kasus, penggunaan media kreatif, serta keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Strategi yang digunakan meliputi pembiasaan perilaku positif, pembelajaran kolaboratif, serta keteladanan guru yang konsisten dalam menanamkan nilai Pancasila. Temuan ini menegaskan bahwa peran guru PPKn sangat sentral dalam membentuk karakter siswa sehingga tercipta generasi yang bermoral dan berintegritas. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya inovasi berkelanjutan dalam metode pembelajaran berbasis digital serta penguatan kapasitas guru PPKn sebagai teladan moral di sekolah  Abstract This research aims to analyze the strategies of Civic Education (PPKn) teachers in developing moral intelligence to shape a morally upright generation in public junior high schools across Muaro Jambi Regency. The subjects of this study include PPKn teachers, students, and principals as additional informants. This study employed a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The findings reveal that PPKn teachers have integrated moral values into learning through habituation, discussions, case studies, creative media use, and linking lessons to students’ daily lives. The strategies applied include fostering positive behavior, collaborative learning, and consistent teacher role-modeling in instilling Pancasila values. These results highlight the central role of PPKn teachers in shaping students’ character, thereby fostering a generation with morality and integrity. The study recommends continuous innovation in digital-based learning methods and strengthening the capacity of PPKn teachers as moral role models in schools.
Sawer Panganten Sebagai Sastra Tradisional: Analisis Tema, Simbol, dan Amanat Akbar, Dioka Muhammad; Naida, Winka
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sawer Panganten is a form of traditional oral literature in the Sundanese culture of West Java. The Sawer Panganten text analyzed is part of a traditional wedding ceremony that is rich in cultural, moral, and religious values. The purpose of this study is to identify and analyze the themes, symbols, and messages contained in the sawer text. The method used is descriptive qualitative with a content analysis approach to the sawer texts collected from documentation of the oral traditions of the Sundanese people. The results of the analysis show that the main themes in the Sawer Panganten text include advice on household life, husband and wife obligations, respect for parents, and piety to God. Sawer Panganten is not only a traditional entertainment, but also a medium for conveying noble values passed down from generation to generation. Thus, this study confirms that Sawer Panganten has an important position in the preservation of oral literature and Sundanese culture, and is relevant as a source of character and cultural learning in the modern era. AbstractSawer Panganten sebagai salah satu bentuk sastra tradisional lisan dalam budaya Suku Sunda di Jawa Barat. Teks Sawer Panganten yang dianalisis merupakan bagian dari prosesi adat pernikahan yang sarat akan nilai-nilai budaya, moral, dan religius. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis tema, simbol, serta amanat yang terkandung dalam teks sawer tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi (konten) terhadap teks-teks sawer yang dihimpun dari dokumentasi tradisi lisan masyarakat Suku Sunda. Hasil analisis menunjukkan bahwa tema utama dalam teks Sawer Panganten meliputi nasihat kehidupan berumah tangga, kewajiban suami istri, penghormatan kepada orang tua, dan ketakwaan kepada Tuhan. Sawer Panganten selain sebagai hiburan adat, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Sawer Panganten memiliki kedudukan penting dalam pelestarian sastra lisan dan budaya Suku Sunda, serta relevan dijadikan sumber pembelajaran karakter dan budaya di era modern.
Kepraktisan Media Flashcard Berbasis Kontekstual pada Pembelajaran Aksara Bima Kelas Tinggi di SDN Rabakodo Fauziah, Naila; Khatimah, Khusnul; Khairunnufus, Nastri
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media flashcard pada pembelajaran Aksara Bima untuk mengukur kepraktisan penggunannya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan dalam proses pembelajaran Aksara Bima di sekolah, yang pada umumnya masih bergantung pada buku ajar sebagai satu-satunya sumber. Ketiadaan variasi media menyebabkan motivasi belajar siswa yang rendah serta belum optimalnya kemampuan mereka dalam membaca dan menulis Aksara Bima. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE. Subjek penelitian terdiri dari 15 siswa yang dipilih secara purposif dari kelas IV, V, dan VI di SDN Rabakodo. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui instrumen angket yang diberikan kepada siswa dan guru untuk menilai tingkat kepraktisan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji kepraktisan yang dilakukan kepada siswa dengan 15 butir pernyataan menghasilkan nilai rata-rata sebesar 99,22%. Nilai ini mengindikasikan bahwa media flashcard yang dikembangkan berada pada kategori sangat praktis dan mudah digunakan dalam kegiatan belajar. Selanjutnya, uji kepraktisan yang dilakukan kepada dua orang guru memperoleh nilai rata-rata sebesar 97,50%, yang juga termasuk dalam kategori sangat praktis. Hasil ini memperlihatkan bahwa baik siswa maupun guru menilai media flashcard mampu mendukung proses pembelajaran secara efektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produk media pembelajaran flashcard yang dikembangkan valid dan sangat praktis digunakan dalam pembelajaran Aksara Bima pada kelas tinggi Sekolah Dasar di Rabakodo. AbstractThis research aims to develop a flashcard media for Bima script learning to measure the practicality of its use. This research was motivated by the limitations in the learning process of Bima Script in schools, which generally still relies on textbooks as the only source. The absence of media variations has led to low student learning motivation and their ability to read and write the Bima script has not been optimized. The type of research used is Research and Development (R&D) with the ADDIE development model. The research subjects consisted of 15 students who were purposively selected from classes IV, V, and VI at SDN Rabakodo. The data collection technique was carried out through a questionnaire instrument given to students and teachers to assess the level of practicality of the media. The results showed that the practicality test conducted on students with 15 statement items resulted in an average score of 99.22%. This value indicates that the flashcard media developed is in the very practical category and easy to use in learning activities. Furthermore, the practicality test conducted on two teachers obtained an average score of 97.50%, which is also included in the very practical category. These results show that both students and teachers assess flashcards as able to support the learning process effectively. Thus, it can be concluded that the flashcards learning media products developed by the teachers are very practical.
Persepsi Model Pembelajaran ADLX pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Yolandini, Renilda Pratiwi; Patindra, Gani; Hasanah, Fidyatun
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian language learning at the junior high school level is still often dominated by teacher-centered and traditional methods, which make students passive and slow in developing language skills. This study aims to explore students’ perceptions of the Active Deep Learning Xperience (ADLX) model in Indonesian language learning. A qualitative phenomenological approach was employed with Grade VIII students at SMP IT Ash-Shiddiiqi as participants. Data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed thematically. The findings indicate that ADLX enhances student motivation, language skills, active participation, and self-confidence. It also creates a more interactive, collaborative, and reflective classroom atmosphere compared to conventional teaching. Theoretically, this study enriches the literature on active learning in the Indonesian educational context. Practically, it recommends that teachers consistently apply ADLX with adequate training and institutional support to optimize its effectiveness.   Abstract Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP masih sering berpusat pada guru dengan metode tradisional, sehingga siswa cenderung pasif dan keterampilan berbahasa berkembang lambat. Penelitian ini bertujuan menggali persepsi siswa terhadap penerapan model Active Deep Learning Xperience (ADLX) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan partisipan siswa kelas VIII SMP IT Ash-Shiddiiqi. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ADLX mampu meningkatkan motivasi, keterampilan berbahasa, partisipasi aktif, serta rasa percaya diri siswa. Suasana kelas menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan reflektif dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian mengenai pembelajaran aktif dalam konteks Indonesia. Secara praktis, penelitian merekomendasikan penerapan ADLX secara konsisten oleh guru dengan dukungan pelatihan dan kebijakan sekolah yang memadai.
Menyelisik Sejarah Sastra Pariwisata di Barat dan Indonesia Pulungan, Alpi Anwar; Wulandari, Sovia; Firismanda, M. A. Haris
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the history and development of literary tourism in the Western and Indonesia. In the West, literary tourism originated from traditions such as visiting authors’ residences, publishing literary biographies, and creating literary maps, which later evolved into modern forms such as fictional character museums and film adaptation sites. In Indonesia, literary tourism is rooted in oral traditions that have developed into literary festivals, writers’ houses, and literary museums. The main difference between the two lies in their orientation and cultural foundations: Western literary tourism is centered on written literacy traditions and the individuality of authors, whereas Indonesian literary tourism emphasizes collective cultural values. This research employs a qualitative approach using library research methods to explore and analyze written sources related to literary tourism. The findings indicate that literary tourism in both regions continues to develop as an integral part of modern cultural tourism. Abstrak Penelitian ini membahas sejarah dan perkembangan wisata sastra di Barat dan Indonesia. Di Barat, wisata sastra berawal dari tradisi kunjungan ke rumah sastrawan, penerbitan biografi, dan peta sastra, yang kemudian berkembang menjadi bentuk modern seperti museum karakter fiksi dan lokasi film adaptasi karya sastra. Sementara itu, di Indonesia, wisata sastra berakar pada tradisi lisan yang berkembang menjadi festival sastra, rumah sastrawan, dan museum sastra. Perbedaan utama keduanya terletak pada orientasi dan basis kultural: Barat berpusat pada tradisi literasi tertulis dan individualitas pengarang, sedangkan Indonesia menonjolkan nilai budaya kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan untuk menelusuri dan menganalisis sumber tertulis terkait sastra pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisata sastra di kedua wilayah terus berkembang sebagai bagian dari pariwisata budaya modern.
Penguatan Kecerdasan Emosional melalui Cerita Anak Dwibahasa Berbasis Budaya Jambi (Indonesia-Melayu Jambi) sebagai Bahan Ajar Multiliterasi untuk Pembaca Pemula Wilyanti, Liza Septa; Wulandari, Sovia; Izar, Julisah; Helty, Helty
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kecerdasan emosional yang terdapat dalam cerita anak dwibahasa berbasis budaya Jambi (Indonesia-Melayu Jambi). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis dan memahami objek penelitian secara mendalam dengan mengutamakan ketajaman analisis terhadap data secara alamiah. Objek penelitian ini adalah cerita anak dwibahasa yang diterbitkan oleh kantor Bahasa Provinsi Jambi. Analisis karakteristik cerita dari perspektif kecerdasan emosional menganalisis adanya lima tingkatan kecerdasan emosional dalam cerita yang meliputi mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati), dan menjaga hubungan dengan orang lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerita anak dwibahasa berbasis budaya jambi (Indonesia-Melayu Jambi) berjudul Batu Tuo Si Fosil Kayu Arau Si Fosil Kayu memenuhi kelima tingkatan kecerdasan emosional dan dapat dijadikan bahan ajar multiliterasi untuk pembaca pemula. Cerita anak dwibahasa berbasis budaya jambi (Indonesia-Melayu Jambi) berjudul Batu Tuo Si Fosil Kayu Arau Si Fosil Kayu memuat beberapa jenis literasi dasar yang membuatnya dapat dikategorikan sebagai bahan ajar multiliterasi. Secara lebih rinci, jenis-jenis literasi yang terdapat dalam cerita yaitu literasi bahasa dan sastra, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, dan literasi budaya dan kewarganegaraan. Hanya literasi finansial yang tidak termuat dalam cerita anak dwibahasa berbasis budaya jambi (Indonesia-Melayu Jambi) berjudul Batu Tuo Si Fosil Kayu Arau Si Fosil Kayu ini. Abstract This study aims to identify emotional intelligence contained in Jambi culture-based bilingual children's stories (Indonesian-Malay Jambi). This research is a descriptive qualitative study that aims to analyze and understand the object of research in depth by prioritizing the sharpness of analysis of natural data. The object of this research is bilingual children's stories published by the Jambi Provincial Language Office. Analysis of the characteristics of the story from the perspective of emotional intelligence analyzes the existence of five levels of emotional intelligence in the story which include recognizing one's own emotions, managing one's emotions, motivating oneself, recognizing the emotions of others (empathy), and maintaining relationships with others. The results of the analysis show that the jambi culture-based bilingual children's story (Indonesian-Malay Jambi) entitled Batu Tuo Si Fossil Kayu Arau Si Fossil Kayu fulfills the five levels of emotional intelligence and can be used as multiliteracy teaching materials for beginning readers. The bilingual children's story based on Jambi culture (Indonesian-Malay Jambi) entitled Batu Tuo Si Fosil Kayu Arau Si Fosil Kayu contains several basic types of literacy that make it categorized as multiliteracy teaching materials. In more detail, the types of literacy contained in the story are language and literary literacy, numeracy literacy, science literacy, digital literacy, and cultural and civic literacy. Only financial literacy is not included in this bilingual children's story based on Jambi culture (Indonesian-Malay Jambi) entitled Batu Tuo Si Fossil Kayu Arau Si Fossil Kayu.
Tindak Tutur Ilokusi Anak Usia 5 Tahun Berdasarkan Perbedaan Gender: Perspektif John Searle Anasti, Huriyah Padhilah; Wulandari, Sovia
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to describe the types of illocated speech acts and their differences based on gender in children aged 5 years. The method used is descriptive qualitative with data sources of illocutionary speech acts produced by children aged 5 years based on gender differences. The data collection techniques used were listening and speaking proficiently, listening proficiently and the listening technique without speaking proficiency. The results of this study were found 16 data which became the basis of the study in distinguishing between illocutionary speech acts of children aged 5 years based on gender differences. In girls, there was no commissive speech act, while boys found complete illocutionary speech act. The difference is seen in girls who are more polite and detailed than boys. The resulting speech acts are also in accordance with the social activities they do. Abstract Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur ilokusi dan perbedaannya berdasar gender pada anak usia 5 tahun. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan sumber data tindak tutur ilokusi yang dihasilkan oleh anak usia 5 tahun berdasarkan perbedaan gender. Teknik pengumpulan data digunakan simak dan cakap, simak libat cakap dan teknik simak bebas libat cakap. Adapun hasil dari penelitian ini adalah ditemukan 16 data yang menjadi dasar kajian dalam membedakan antara tindak tutur ilokusi anak usia 5 tahun berdasarkan perbedaan gender. Pada anak perempuan tidak ditemukan tindak tutur komisif, sedangkan pada anak laki-laki ditemukan tindak tutur ilokusi yang lengkap. Perbedaan terlihat pada anak perempuan lebih sopan dan rinci dibandingkan laki-laki. Tindak tutur yang dihasilkan juga sesuai dengan aktifitas sosial yang mereka lakukan.
Etika Sastra dan Kontroversi Puisi Ibu Indonesia Karya Sukmawati Soekarnoputri Nalurita, Baiq Annisa Yulfana
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literature essentially provides authors with the opportunity to explore freely without restrictive conventional rules. Freedom in writing literature provides a broader space for authors to express their thoughts and critique phenomena within society. Literary freedom ultimately allows literature to intersect with various social sectors, which often creates problems between authors and the public (readers). The use of symbols in literary works, which are rife with ambiguity, often creates a dualism of meaning for readers. The multi-interpretive nature of literature elicits varying responses from each reader, not always positive. Polemics, debates, and even clashes resulting from differing perspectives are commonplace in the literary world. Avoiding debates stemming from differing reader perspectives is difficult, but it can be achieved by observing ethics and maintaining societal norms. Literary freedom, in essence, does not free authors from their attachment to prevailing societal norms. Literary ethics exist, where social, cultural, religious, and other norms must be maintained throughout the creative process. Abstrak Hakikatnya sastra membuka peluang bagi pengarang untuk dapat bereksplorasi dengan bebas tanpa ada aturan konvensional yang membatasi. Kebebasan dalam bersastra membuka ruang yang lebih luas bagi pengarang untuk dapat berekspresi menyampaikan pikiran dan mengkritik suatu fenomena yang berada ditengah masyarakat. Kebebasan bersastra pada akhirnya membuka memungkinkan sastra untuk dapat bersinggungan dengan berbagai sektor sosial yang tidak jarang menimbulkan permasalahan antara pengarang dan masyarakat (pembaca). Penggunaan simbol-simbol pada karya sastra yang sarat dengan ambiguitas tidak jarang menimbulkan dualisme makna terhadap pembaca. Sifat sastra yang multitafsir menimbulkan respon berbeda-beda dari setiap pembaca yang tidak selalu positif. Polemik, perdebatan, hingga bentrok akibat perbedaan sudut pandang menjadi sesuatu yang lumrah dalam dunia kesastraan. Menghindari perdebatan dari perbedaan sudut pandang pembaca menjadi suatu yang sulit akan tetapi bisa diusahakan dengan memperhatika etika dan tetap mempertimbangkan norma yang berlaku di tengah masyarakat.  Kebebasan bersastra pada hakikatnya tidak kemudian membebaskan pengarang dari keterikatannya terhadap norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat. Terdapat etika bersastra di mana norma sosial, budaya, agama dan norma-norma lainnya harus terus tetap dijaga selama proses kreatif bersastra.
Simbol dan Perilaku Tokoh dalam Kumpulan Cerpen Ragdi F. Daye: Melihat Mimikri dan Ambivalensi Terhadap Budaya Kota yang Modern Komar, Rein De; Prihatiningsih, Titiek
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis tiga cerpen dalam buku kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu karya Ragdi F. Daye. Ketiga cerpen tersebut berjudul “Kubah”, “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”, dan “Seekor Anjing yang Menangis”. Fokus penelitian diarahkan pada representasi mimikri dan ambivalensi masyarakat Minangkabau di kampung terhadap modernitas budaya kota. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menelaah simbol dan perilaku tokoh dalam cerpen. Hasil penelitan menunjukkan bahwa mimikri di dalam cerpen terlihat pada perilaku tokoh dalam meniru budaya kota yang modern dan kebarat-baratan serta perilaku penindasan yang dilakukan oleh tokoh yang memiliki kuasa. Simbol-simbol benda yang modern, mahal, dan buatan luar negeri juga merupakan bentuk mimikri yang muncul di dalam cerpen. Sementara itu ambivalensi muncul dalam perilaku tokoh yang gamang, rasa terasing, kerinduan pada adat, serta penolakan terhadap modernitas. Abstract This study analyzes three short stories in the short story collection Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu by Ragdi F. Daye. The three short stories are entitled “Kubah”, “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”, and “Seekor Anjing yang Menangis”. The focus of the research is directed at the representation of mimicry and ambivalence of Minangkabau society in the village towards the modernity of urban culture. The method used is descriptive analysis by examining the symbols and behavior of the characters in the short stories. The results of the study show that mimicry in the short stories is seen in the behavior of the characters in imitating modern and westernized urban culture as well as oppressive behavior carried out by figures in power. Symbols of modern, expensive, and foreign-made objects are also forms of mimicry that appear in the short stories. Meanwhile, ambivalence appears in the behavior of the characters who are uncertain, a sense of alienation, longing for tradition, and rejection of modernity.
Keris dalam Masyarakat Melayu Jambi: Kajian Etnolinguistik Fikriya, Maisan Ashfa; Khotimah, Khusnul; Tampubolon, Gita Novelia; Fitriah, Siti
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the lexical and cultural meanings of various traditional keris of the Jambi Malay community, such as Keris Siginjei, Keris Cundrik, and Keris Singa Merjaya, along with supporting photos and texts, using an ethnolinguistic approach. This study aims to reveal the cultural, historical, and spiritual values attached to these keris and their role in shaping the identity of the Malay community in Jambi. The method used is qualitative descriptive analysis, which examines both the literal (lexical) and symbolic (cultural) meanings of each object of study. The results of the study show that the keris is not merely a physical tool, but also a symbol of power, resistance, spirituality, and diplomatic relations in the context of the Jambi Sultanate. In conclusion, the keris as an artifact is a concrete manifestation of the interconnection between language, symbols, and culture that deeply reflects the identity and noble values of the Jambi Malay community. Abstrak Penelitian ini membahas makna leksikal dan kultural dari berbagai keris tradisional masyarakat Melayu Jambi dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai budaya, sejarah, dan spiritual yang melekat pada keris-keris tersebut serta peranannya dalam membentuk identitas masyarakat Melayu Jambi. Metode yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif yang memeriksa makna harfiah (leksikal) sekaligus makna simbolis budaya (kultural) dari setiap objek studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keris bukan sekadar alat fisik, melainkan juga merupakan simbol kekuasaan, perlawanan, spiritualitas, dan hubungan diplomatik dalam konteks Kesultanan Jambi. Kesimpulannya, keris sebagai artefak adalah manifestasi konkrit dari keterkaitan antara bahasa, simbol, dan budaya yang mencerminkan identitas serta nilai-nilai luhur masyarakat Melayu Jambi secara mendalam.