cover
Contact Name
Nur Asni Setiani
Contact Email
nur.asni@stfi.ac.id
Phone
+6285718360277
Journal Mail Official
jurnal@stfi.ac.id
Editorial Address
Gedung 1 Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta no. 354 (Parakan Resik) Bandung, 40266 West Java, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Indonesia
ISSN : 23032138     EISSN : 2830201X     DOI : http://dx.doi.org/10.58327/jstfi
Core Subject : Health, Science,
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA (P-ISSN: 2303-2138) is open access and peer-reviewed (double-blind) Scientific Journal that publishes all research articles/reviews/ short communication related to the pharmacy research. The focus of JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA is to publish articles in pharmacy. Scope of this journal are: 1. Pharmacology, 2. Pharmaceutical biology, 3. Pharmacy, 4. Pharmaceutical chemistry, 5. Community pharmacy, 6. Biotechnology and biomolecular sciences.
Articles 130 Documents
UJI EFEK TERATOGEN KAKAO BUBUK PADA FETUS MENCIT PUTIH Almahdy - A; Nurul Afifah Almunawwarah; Najmiatul - Fitria
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.011 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i1.22

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian mengenai efek teratogen kakao bubuk pada fetus mencit putih. Bubuk kakao diberikan secara oral pada dosis larutan 5,5; 7,0 dan 8,5 g/kg BB pada hari ke-6 hingga hari ke-15 kehamilan. Laparatomi dilakukan pada hari ke-18 kehamilan, kemudian dua pertiga isi perut fetus direndam dalam larutan merah alizarin dan sepertiga bagian lainnya difiksasi hingga mengeras dalam larutan Bouin’s. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berat badan tikus dipengaruhi oleh coklat bubuk, tetapi kuantitas dan berat badan fetus tidak terpengaruh oleh variasi dosis. Efek teratogenik diamati secara makroskopik pada fetus dan uterus menunjukkan bahwa kakao bubuk pada dosis 5,5 g/kg BB dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, kematian, curling ekor pada janin dan situs resorpsi. Sedangkan pada dosis 7 g/kg BB menyebabkan kelainan tulang, akhir pertumbuhan, kematian, curling ekor pada janin dan situs resorpsi. Bubuk kakao pada dosis 8,5 g/kg BB menyebabkan perdarahan pada tikus, situs resorpsi, kematian dan kelainan tulang pada janin. Kata kunci: Kakao, Teratogenik, Mencit putih AbstractThe teratogenic effect of cocoa powder on white mice has been investigated. Cocoa powder was given orally in solution at doses of 5.5; 7.0 and 8.5 g/kg BW on 6th to 15th day of pregnancy. Laparatomy was performed on 18th day of pregnancy and followed by eviscerating two third of the fetuses with red alizarin and the others were hardened in Bouin’s fixation solution. Body weight of mice are influenced by cocoa powder, but quantity and body weight of fetuses are not influenced at all dosage studied. Teratogenic effect observed macroscopically on fetus, and uterus was displayed that cocoa powder at the dose 5.5 g/kg BW caused late of growth, death, curling tail on fetuses and resorption site. While on the dose of 7 g/kg BW caused skeletal abnormalities, late of growth, death, curling tail on fetuses and resorption site. Cocoa powder at the dose of 8.5 g/kg BW caused bleeding in mice, resorption site, death and skeletal abnormalities on fetuses.  Keywords: Cacao, Teratogenic, White mice
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI PIGMEN KAPANG MONASCUS PURPUREUS MUTAN ALBINO Dewi - Astriany; Syarif - Hamdani; Wiwit - Pamuji
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.67 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i2.26

Abstract

AbstrakMonascus purpureus mutan albino adalah suatu jenis kapang hasil mutasi M. purpureus dengan menggunakan etil metana sulfonat. Kandungan pigmen dari M. purpureus mutan albino belum diketahui. Penelitian diawali dengan pembiakan kapang M. purpureus mutan albino dalam media padat kemudian dilanjutkan dalam media cair. Ekstraksi dilakukan dengan pelarut etil asetat, etanol, air, dan n-heksan. Identifikasi dengan menggunakan kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa ekstrak pigmen M. purpureus mutan albino memiliki dua bercak yang identik dengan M. purpureus st andard yaitu bercak merah dan bercak yang berflouresensi. Identifikasi dengan menggunakan spekrofotometer UV-Vis menunjukkan pada ekstrak etil asetat diperoleh pigmen dengan nilai panjang gelombang 409 nm dan 534 nm, sedangkan pada ekstrak etanol diperoleh pigmen dengan panjang gelombang 393 nm dan 497 nm, dan pada ekstrak n-heksan memberikan nilai panjang gelombang 334 nm dan 468 nm. Kata kunci: M. purpureus mutan albino, Kromatografi lapis tipis, Spektrofotometri UV-Vis AbstractMonascus purpureus mutant albino is one of mold type obtained by ethyl methane sulphonate mutation of M. purpureus. Pigment content of M. purpureus albino mutan has not been known yet. The research was initiated by cultivation of M. purpureus mutant albino in solid medium followed by cultivation in liquid medium. The pigment was extracted using ethyl acetate, ethanol, water, and n-hexane. Identification by thin layer chromatography showed that pigment extract of M. purpureus mutant albino has two spots which are equivalent with pigment extract of M. purpureus standardd. Identificated by using UV-Vis spectrophotometer showed that ethyl acetate extract have pigments with 409 nm wavelength and 534 nm. Ethanol extract showed pigment with 393 nm wavelength and 497 nm. N-hexane extract showed pigment with 334 nm wavelength and 468 nm.  Keywords: Monascus purpureus mutant albino, Thin layer chromatography, UV-Vis spectrophotometry
UJI RESISTENSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS TERHADAP KOMBINASI ISONIAZID DAN ETAMBUTOL DENGAN TEKNIK NUKLIR Ratna Dewi Purwanti; Aang Hanafiah Wangsaatmadja; Nanny Kartini Oekar
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.075 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i2.27

Abstract

AbstrakMycobacterium tuberculosis merupakan bakteri tahan asam penyebab penyakit tuberkulosis (TB). Bakteri ini menyerang paru dan organ lain, seperti tulang, kulit, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, dan saluran urogenital. M. tuberculosis sangat mudah resisten terhadap obat anti tuberkulosis, sehingga berdampak pada sulitnya pengobatan penyakit TB secara tuntas. Resistensi yang terjadi umumnya diakibatkan oleh adanya mutasi. Deteksi resistensi M. tuberculosis terhadap INH dengan menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui adanya mutasi gen katG M. tuberculosis telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Kali ini dilakukan uji resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap kombinasi INH dan etambutol dengan menggunakan senyawa bertanda 99mTc-etambutol secara in-vitro. Pengujian resistensi M. tuberculosis meliputi pemberian kombinasi obat INH dan etambutol pada M. tuberculosis, inkubasi, penambahan kadar antibiotik INH di minggu ke-2 pengamatan, penambahan senyawa bertanda 99mTc-etambutol, dan pencacahan radioaktivitas. INH yang ditambahkan ke dalam kelompok tabung adalah 1 μg/mL, sedangkan kadar etambutol yang ditambahkan ke dalam kelompok tabung adalah 2 μg/mL, 4 μg/mL, 6 μg/mL, dan tanpa penambahan etambutol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. tuberculosis yang telah diinduksi oleh INH dan etambutol masih dapat tumbuh secara bertahap selama 4 minggu inkubasi, sedangkan % uptake radioaktivitas 99mTc-etambutol dan 99mTc-perteknetat cenderung menurun dengan bertambahnya konsentrasi INH dan etambutol. Kata Kunci : Mycobacterium tuberculosis, INH, etambutol, resistensi, 99mTc-etambutol AbstractMycobacterium tuberculosis is an acid-resistant bacteria causing tuberculosis (TB). This bacteria attacks lungs and other organs such as bones, skin, lymph nodes, thyroid gland and urogenital track. M. tuberculosis is very easy resistant to anti-tuberculosis drugs, thus it makes the madical of TB disease completely difficult. Generally, resistant is caused by mutation. The previous research has made resistance detection of M. tuberculosis to INH by using PCR (Polymerase Chain Reaction) to detect gene mutations of katG M. tuberculosis. In this research, in-vitro resistance test of M. tuberculosis has been done to INH combination and ethambutol by using 99mTc-ethambutol labelled compound. The resistance test of M. tuberculosis includes giving INH drugs combination and ethambutol on M. tuberculosis, incubation time, additional of INH antibiotics in the second week of observation, additional of 99mTc-ethambutol compound and radioactivity enumeration. INH were added to the tube group is 1 mg/mL, whereas the levels of ethambutol were added to the tube group is 2 mg/mL, 4 mg/mL, 6 mg/mL, and without the addition of ethambutol The results show that % radioactivity uptake of 99mTc-ethambutol tends to decrease with the increasing of INH and ethambutol concentration.  Keywords: Mycobacterium tuberculosis, resistance, INH, ethambutol, 99mTc- ethambutol.
Pengaruh Waktu dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kadar Amoksisilin dan Asam Klavulanat dari Produk Ruahan (Bulk) Sirup Kering Co-Amoxiclav Sundalian, Melvia; Husein, Sri Gustini; Ayuningtyas, Vidya Putri Putri
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.367 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.177

Abstract

Co-Amoxiclav merupakan antibiotik kombinasi antara amoksisilin dan asam klavulanat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri yang sudah resisten terhadap amoksisilin tunggal. Amoksisilin dan asam klavulanat memiliki gugus cincin β-laktam yang mudah terhidrolisis jika kondisi penyimpanan tidak sesuai. Untuk itu dilakukan monitoring kadar amoksisilin dan asam klavulanat pada produk ruahan saat proses penyimpanan selama proses produksi berlangsung. Waktu dan suhu penyimpanan mempengaruhi penurunan kadar zat aktif dalam produk ruahan. Penentuan kadar dilakukan dengan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) dengan fase gerak metanol : NaH2PO4 0,05 M (10:90) dengan fase diam kolom inertsil ODS 4 ukuran 150 x 4,6 mm 5 µm, laju alir 1,0 mL/menit dengan volume injek 20 µl pada panjang gelombang 220 nm. Sampel produk ruahan ini disimpan pada suhu chiller (2-8°C), suhu AC 24 jam (16-25°C) dan suhu ambient (< 30°C) selama 12 hari dengan waktu pengujian pada hari ke-0, 4, 8 dan 12. Penurunan kadar amoksisilin dan asam klavulanat yang paling signifikan terjadi pada suhu ambient (< 30°C), sedangkan kondisi penyimpanan yang paling stabil terhadap kadar amoksisilin dan asam klavulanat yaitu pada suhu chiller (2-8°C). Lama penyimpanan produk ruahan yang disarankan tidak lebih dari 4 hari.
ANALISIS KEMOMETRIKA SPEKTRUM Fourier transformed infrared (FTIR) DARI MINYAK NABATI Husein, Sri Gustini; Firmansyah, Adang; Yusuf, Fuzy Fauziah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.38 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v9i2.189

Abstract

Minyak nabati adalah minyak yang di ekstraksi dari berbagai tumbuhan. Ada banyak jenis minyak nabati diantaranya minyak kacang, bunga matahari, jagung, kedelai, wijen, kelapa, zaitun dan lain sebagainya. Banyak industri makanan yang menggunakan minyak nabati sebagai bahan baku olahannya seperti margarin, mentega, dan produk lainnya, menyebabkan banyaknya minyak nabati yang beredar dipasaran sehingga memerlukan metode analisis yang tepat untuk mengetahui kualitas dari berbagai jenis minyak nabati tersebut. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan metode analisis minyak nabati menggunakan kemometrika spektrum FTIR dari minyak nabati.  Kemometrika merupakan salah satu teknik pengukuran yang berhubungan dengan pengukuran data multivariat yaitu data yang dihasilkan dari pengukuran banyak variabel pada satu sampel yang sejenis.  Tujuan  penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap 20 jenis sampel minyak nabati menggunakan Fourier transformed infrared- Attenuated Total Reflectance  (FTIR-ATR). Hasil analisis menunjukkan dengan menggunakan metode kemometrika hasil spekrum 20 jenis minyak nabati, di kombinasikan berdasarkan  analisis komponen utama atau principal component analysis (PCA) dan analisis klaster atau Cluster Analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa FTIR dapat digunakan untuk uji kualitas terhadap sampel uji 20 jenis minyak nabati secara semi-kuantitatif yang dielaborasi oleh  kemometrik. Kemometrika juga mendukung analisis perbedaan spesifik dari kandungan kimia minyak nabati. Kata kunci : Kemometrika,  minyak nabati, spektrofotometer FTIR-ATR. 
AKTIVITAS ANTIHIPERKOLESTEROLEMIA EKSTRAK ETANOL BUAH LABU SIAM (Sechium edule Sw.) TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR Yunita - Hermayanti; Ahmad - Muhtadi; Yoppi - Iskandar
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.942 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i2.29

Abstract

AbstrakLabu Siam (Sechium edule) memiliki banyak senyawa kimia dan sering digunakan sebagai obat, salah satunya adalah sebagai antihiperkolesterolemia. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antihiperkolesterolemia ekstrak etanol buah labu siam terhadap kadar kolesterol total, HDL-kolesterol, dan LDL-kolesterol tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi secara eksogen (pakan lemak tinggi) dan secara endogen (propiltiourasil 0,01% secara oral) dengan metode enzimatik CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase Phenol Aminoantipyrine) dan metode pengendapan. Bahan uji diberikan secara oral dengan dosis 125 mg/Kg, 250 mg/Kg, dan 500 mg/Kg berat badan tikus selama 10 hari. Simvastatin 10 mg/Kg BB digunakan sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dari masing-masing perlakuan terhadap parameter yang diukur pada α = 0,01. Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak etanol buah labu siam memiliki aktivitas antihiperkolesterolemia yang dapat menurunkan kadar kolesterol total, LDL-kolesterol, dan menaikkan kadar HDL-kolesterol. Dosis terbaik dari ekstrak etanol buah labu siam pada penelitian ini adalah 500 mg/Kg BB. Kata kunci : Labu siam (Sechium edule), Antihiperkolesterolemia, Ekstrak etanol. AbstractChayote (Sechium edule) has many chemical compounds and is often used as a drug, one of them is as antihypercholesterolemic. The study has been conducted to determine the activity of ethanol extract antihypercholesterolemic chayote fruit on serum total cholesterol, HDL-cholesterol, and LDL-cholesterol white male Wistar rats which was induced by exogenous and endogenous with the CHOD-PAP enzymatic method and precipitation method. The tested materials were given orally at doses of 125 mg/Kg, 250 mg/Kg, and 500 mg/Kg of rat body weight for 10 days. Simvastatin was used as a standard. Results of this research showed that there were significant differences of each treatment on parameters which was measured at α = 0.01. This research proved that the ethanol extract of chayote fruit has an antihypercholesterolemic activities that can reduce total cholesterol, LDL-cholesterol, and raise HDL-cholesterol levels. The best doses of chayote ethanol extract in this research was 500 mg/Kg BW.  Keywords: Chayote (Sechium edule), Antihypercholesterolemic, Ethanol extract
KARAKTERISASI KRISTALINITAS LEMAK BIJI TENGKAWANG (Shorea stepnotera Ridley) MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTION (XRD), FOURIER TRANSFORM INFRA RED (FTIR) DAN AUTOMATIC MELTING POINT Rival - Ferdiansyah; Revika - Rachmaniar; Viega Yohanna Herman
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.533 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v8i2.114

Abstract

Tengkawang (Shorea stenoptera Ridley) merupakan tanaman khas Kalimantan, dimana bijinya menghasilkan lemak nabati. Masyarakat Kalimantan menggunakan lemak biji tengkawang sebagai bahan dasar pembuatan minyak makanan, lilin, dan margarin. Selain itu, lemak biji tengkawang juga dapat digunakan sebagai campuran sediaan farmasi seperti bahan baku kosmetika, suppositoria, dan sediaan semisolid lainnya. Lemak biji tengkawang akan mengalami perubahan kristalinitas selama proses pembuatan sediaan semisolid dengan adanya pemanasan, pendinginan, dan penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kristalinitas lemak biji tengkawang dengan cara dilakukan preparasi pada suhu 37°C dan disimpan pada tiga tempat penyimpanan yang berbeda yaitu pada suhu 14°C, dibekukan pada suhu 24°C dan disimpan pada suhu 14°C, serta disimpan pada suhu 24°C. Perubahan sifat polimorfisme dan stabilitas kristalinitas di identifikasi menggunakan instrumen Fourier Transform Infra Red (FTIR), instrumen X-Ray Diffractometer (XRD), dan Automatic Melting Point. Hasil analisis lemak biji tengkawang belum mengalami perubahan sifat polimorfisme setelah diberi perlakuan seperti basis sediaan farmasi bentuk semisolid. Dari hasil pengujian FTIR, XRD, dan titik leleh diketahui bahwa stabilitas kristalinitas lemak biji tengkawang tidak mengalami perubahan setelah dipreparasi.Kata kunci: Shorea mecistopteryx Ridley, FTIR, XRD, titik leleh.
PENAMBATAN MOLEKUL MUTAN TOKSIN DIFTERI TERHADAP SENYAWA NAD+ SEBAGAI ALTERNATIF CRM197 PADA VAKSIN KONJUGAT Baroroh, Umi; Fauziyah, Hanifa; Astriany, Dewi; Yusuf, Muhammad; Novianti, Mia Tria
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.996 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v9i2.148

Abstract

Difteri merupakan penyakit pernapasan menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematianpada anak-anak. Penggunaan formaldehid pada pembuatan toksoid difteri dinilai merusak sejumlahsitus antigenik penting pada toksoid. CRM197 merupakan komponen vaksin yang mengalami mutasiasam amino pada toksin difteri. Adanya efek sitotoksisitas CRM197 terhadap sel mamalia dan sel ragimenandakan bahwa mutasi yang terjadi belum menurunkan toksisitas secara optimal, sehinggadiperlukan studi lebih lanjut untuk pengembangan mutan toksin difteri baru. Penelitian ini bertujuanuntuk memodelkan mutan tersebut dan menguji afinitasnya terhadap ligan NAD+. Pendekatanbioinformatika dilakukan dengan penambatan molekul menggunakan program AutoDock 4.2.Diperoleh energi bebas ikatan terendah pada natif sebesar -7,62 kcal/mol. Asam amino Ile31 dan Tyr65dirancang dengan mensubstitusi menjadi Lys31 dan Gln65 (I31K/Y65Q). Hasil penambatan molekulmutan uji menunjukkan nilai energi ikatan meningkat menjadi -5,91 kcal/mol, menandakan adanyapenurunan afinitas NAD+. Titik mutasi ini dapat diusulkan untuk pengembangan mutan toksin difteridengan afinitas rendah terhadap NAD+ sebagai kandidat vaksin difteri.Kata kunci: toksin difteri, CRM197, penambatan molekul, vaksin, bioinformatika
FORMULASI KRIM ANTIOKSIDAN EKTRAK ETANOLIK KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) putri, yola desnera; Setyani, Fitri; Kartamihardja, Haruman
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.228 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.178

Abstract

Sinar biru saat penggunaan layar perangkat digital berbahaya untuk kesehatan kulit manusia karena memicu pembentukan radikal bebas reactive oxygen species (ROS) pada kulit yang mengakibatkan kolagen dan sel kulit rusak sehingga terjadi penuaan dini. Hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa ekstrak etanol kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai IC50 ekstrak kulit buah rambutan dan nilai IC50 krim ekstrak kulit buah rambutan, membuat formulasi krim ekstrak kulit buah rambutan sebagai antioksidan dengan tiga konsentrasi polietilenglikol 1000 yang berbeda F1(0%), F2 (1%), dan F3 (0,5%) serta mengetahui nilai IC50 nya dan mengetahui kesetabilan sediaan tersebut. Ekstrak kulit rambutan dan sediaan krim ekstrak kulit rambutan diuji aktivitas antioksidanya dengan menggunakan metode penangkapan radikal 1,1-diphenyl-2-pikrilhidrazil (DPPH). Hasilnya menunjukan bahwa nilai IC50 ekstrak kulit buah rambutan sebesar 1,511 µg/mL dan nilai IC50 krim hari kesatu pada F1, F2, F3 secara berturut - turut sebesar 83,125 µg/mL, 750 µg/mL, 556,667 µg/mL. Pada hari ke 28 nilai IC50 pada F1 meningkat sebesar 103,333 µg/mL. Hasil uji stabilitas ketiga formula stabil dalam segi konsistensi, pH, bau, dan warna, selama penyimpanan 28 hari.
UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK, FRAKSI AIR, FRAKSI ETIL ASETAT DAN FRAKSI N-HEKSAN DAUN PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) Umi - Yuniarni; Clara - Sunardi; Minarti - -
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.267 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v2i2.28

Abstract

AbstrakPecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) merupakan tumbuhan obat multi guna, dian-taranya berkhasiat terhadap penyakit yang terinfeksi oleh mikroorganisme. Pada penelitian ini telah dilakukan ekstraksi dan fraksinasi daun pecut kuda dengan metode ekstraksi cair-cair. Ekstrak dan fraksi-fraksi yang diperoleh diuji aktivitasnya terhadap bakteri Escherichia coli (ATCC 9001), Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus epidermidis (ATCC 12228). Fraksi yang memberikan aktivitas paling tinggi selain ditentukan Konsentrasi Hambat Mini-mum (KHM), juga dilakukan kromatografi lapis tipis (KLT) untuk menetapkan golongan sen-yawa dominan yang terdapat dalam fraksi tersebut. Sebagai pembanding digunakan Tetrasiklin HCl dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air memberikan aktivitas terhadap Escherichia coli, dengan KHM untuk ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi air = 7,5 mg/mL dan untuk fraksi etil asetat 4,3 mg/mL. Setelah dibandingkan dengan Tetrasiklin HCl, maka 250 mg/mL ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air sebanding dengan masing-masing 12,683 μg/mL, 8,135 μg/mL, 105,4 μg/mL, dan 6,817 μg/mL. Ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan fraksi air memberikan aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa dengan KHM 15,6 mg/mL. Setelah dibandingkan dengan Tetrasiklin HCl maka 250 mg/mL ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan fraksi air masing-masing sebanding dengan 5,981 μg/mL, 5,336 μg/mL, dan 8,026 μg/mL. Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat memberikan aktivitas ter-hadap Staphylococcus epidermidis dengan KHM 15,6 mg/mL. Setelah dibandingkan dengan Tetrasiklin HCl, maka 250 mg/mL ekstrak etanol dan fraksi etil asetat sebanding dengan 13,487 μg/mL dan 36,1 μg/mL. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memberikan aktivitas paling tinggi terhadap Escherichia coli dengan KHM 4,3 mg/mL. Fraksi tersebut pada kromatogram KLT menunjukkan adanya bercak golongan fenolat pada Rf 0,4. Kata kunci: Daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl), Ekstrak dan fraksi-fraksi, Aktivitas antibakteri AbstractPecut kuda ( Stachytarpheta jamaicensis ( L.) Vahl) is a multipurpose medical in plant. It can be used to deal with dieases caused by microorganism infection. In this research, extraction and fractionation of Pecut kuda's leaves were done using liquid-liquid extraction method. Activities of extract and fractions obtained from this method were tested against Escherichia coli ( ATCC 9001), Pseudomonas aeruginosa, and Staphylococcus epidermidis ( ATCC 12228). The most active fraction was selected and analyzed to figure out its Minimum Inhibitory Concentration (MIC). In addition, thin layer chromatography (TLC) was done to identify the group of mager compound of the most active fraction. As a comparator of the result, Tetracyclin HCl was used by diffusion method with paper disc. The result of this research showed activities of ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction and water fraction to Escherichia coli with MIC for ethanol extract, n-hexane fraction, water fraction = 7.5 mg/mL and ethyl acetate frac-tion 4.3 mg/mL. Comparing with the Tetracyclin HCl result, hence 250 mg/mL ethanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction are proportional with, respectively, 12.683 μg/mL, 8.135 μg/mL, 105.4 μg/mL, and 6.817μg/mL. Ethanol extract, ethyl acetate frac-tion and water fraction give activity to Pseudomonas aeruginosa with MIC of 15.6 mg/mL. Comparing with the Tetracyclin HCl result, hence 250 mg/mL ethanol extract, ethyl acetate fraction, and water fraction are proportional with, respectively, 5.981 μg/mL, 5.336 μg/mL, and 8.026 μg/mL. Ethanol extract and ethyl acetate fraction showed activity against Staphylococ-cus epidermidis with MIC of 15.6 mg/mL. Comparing with the Tetracyclin HCl result, hence 250 mg/mL ethanol extract and ethyl acetate fraction are proportional with, respectively, 13.487 μg/mL and 36.1 μg/mL. This research concluded that ethyl acetate fraction shows the highest activity against Escherichia coli with MIC of 4.3 mg/mL. The fraction depicts phenolic compound spot at Rf 0.4 at chromatogram TLC.  Keywords: Pecut kuda leaves ( Stachytarpheta jamaicensis ( L.) Vahl), Extract and fractions, Antibacterial activities.

Page 3 of 13 | Total Record : 130