cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 126 Documents
FENOMENA QUATER-LIFE CRISIS DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DEWASA: KAJIAN BIBLIS TERHADAP PERGUMULAN IDENTITAS TOKOH YUNUS Yonathan Paulus Maluw; Louis Budi Prasetyo; Debora Indriastuti; Julio Eleazer Nendissa
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.313

Abstract

: Fenomena quarter-life crisis menjadi salah satu isu psikososial yang semakin banyak dialami oleh kaum dewasa awal, ditandai dengan kebingungan identitas, kecemasan terhadap masa depan, krisis makna hidup, serta ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena quarter-life crisis dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen (PAK) Dewasa melalui analisis biblis terhadap pergumulan identitas yang dialami tokoh Yunus. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis hermeneutik terhadap narasi Kitab Yunus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman Yunus merefleksikan dinamika krisis identitas yang relevan dengan pergumulan dewasa awal masa kini, khususnya ketika individu menghadapi ketegangan antara panggilan Allah, ekspektasi pribadi, dan realitas kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan. Penolakan Yunus terhadap mandat ilahi, pelariannya ke Tarsis, serta konflik batin yang muncul setelah pertobatan Niniwe menggambarkan adanya disorientasi identitas dan pergumulan eksistensial yang serupa dengan karakteristik quarter-life crisis. Kajian ini menemukan bahwa proses pembentukan identitas yang sehat dalam perspektif Kristen tidak berpusat pada pencapaian diri, melainkan pada pemahaman akan kehendak Allah dan kesediaan untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya. PAK Dewasa memiliki peran strategis dalam mendampingi individu yang mengalami quarter-life crisis melalui pembinaan spiritual, refleksi teologis, dan penguatan identitas sebagai pribadi yang dipanggil dan dikasihi Allah. Dengan demikian, narasi Yunus memberikan kontribusi teologis dan pedagogis yang signifikan bagi pengembangan model pendidikan Kristen yang responsif terhadap tantangan krisis identitas pada generasi dewasa awal di era kontemporer.The quarter-life crisis phenomenon has become a psychosocial issue increasingly experienced by young adults, characterized by identity confusion, anxiety about the future, a crisis of meaning in life, and uncertainty in decision-making. This study aims to examine the quarter-life crisis phenomenon from the perspective of Adult Christian Religious Education through a biblical analysis of the identity struggles experienced by the character of Jonah. The method used is qualitative research with a literature study approach and a hermeneutic analysis of the narrative of the Book of Jonah. The results show that Jonah's experience reflects the dynamics of an identity crisis that are relevant to the struggles of young adults today, especially when individuals face tensions between God's calling, personal expectations, and the reality of life that does not align with expectations. Jonah's rejection of the divine mandate, his flight to Tarshish, and the inner conflict that emerged after the repentance of Nineveh illustrate the identity disorientation and existential struggles similar to the characteristics of the quarter-life crisis. This study finds that the process of healthy identity formation from a Christian perspective is not centered on self-achievement, but on understanding God's will and a willingness to live in obedience to Him. Adult Christian Education plays a strategic role in assisting individuals experiencing a quarter-life crisis through spiritual guidance, theological reflection, and strengthening their identity as individuals called and loved by God. Thus, the narrative of Jonah provides significant theological and pedagogical contributions to the development of a Christian education model that responds to the challenges of identity crises in the contemporary early adult generation. 
SEJARAH GEREJA LOKAL SEBAGAI LIVING CURRICULUM DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Della Gita Van Gobel
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.321

Abstract

Sejarah gereja lokal selama ini lebih banyak dipahami sebagai bagian dari historiografi yang mendokumentasikan perkembangan gereja, tokoh, dan peristiwa masa lalu, sehingga potensinya sebagai sumber pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) belum banyak dikembangkan secara konseptual. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemaknaan sejarah gereja lokal sebagai Living Curriculum melalui dialog Historical Consciousness, Curriculum-as-Lived, dan Shared Christian Praxis. Penelitian menggunakan analisis konseptual berbasis literatur dengan pendekatan analisis isi kualitatif. Literatur dipilih berdasarkan relevansi substantif terhadap konstruk penelitian dan dianalisis melalui tahap identifikasi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Historical Consciousness memberikan landasan pemaknaan hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan; Curriculum-as-Lived menjelaskan pengalaman historis sebagai pengalaman belajar yang dihidupi; sedangkan Shared Christian Praxis mengarahkan pengalaman tersebut pada refleksi iman dan praksis kontekstual. Sintesis ketiga perspektif tersebut menghasilkan “Historipa” sebagai kerangka konseptual yang menjelaskan transformasi sejarah gereja lokal dari memori historis menjadi pengalaman kurikuler yang dihidupi, direfleksikan dalam terang iman Kristen, dan diwujudkan dalam praksis. Penelitian ini menegaskan bahwa sejarah gereja lokal dapat berfungsi sebagai Living Curriculum dalam PAK melalui integrasi pemaknaan historis, pengalaman kurikuler, refleksi iman, dan praksis kontekstual.Local church history has often been approached primarily as a form of historiography that documents past events, significant figures, and institutional development. Consequently, its potential as a meaningful resource for Christian Religious Education (CRE) has received limited conceptual attention. This study examines how local church history can be understood as a Living Curriculum through a dialogue among Historical Consciousness, Curriculum-as-Lived, and Shared Christian Praxis. The methodology employs a literature-based conceptual analysis using qualitative content analysis. Relevant literature was selected based on its substantive contribution to the core constructs and analyzed through identification, categorization, interpretation, and conceptual synthesis. The findings indicate that Historical Consciousness provides a basis for interpreting the relationship between the past, present, and future; Curriculum-as-Lived frames historical experience as lived learning; and Shared Christian Praxis connects such experience with Christian reflection and contextual action. The synthesis of these perspectives results in “Historipa”, a conceptual framework explaining how local church history moves from historical memory to lived curricular experience, theological reflection, and contextual praxis. The study concludes that local church history functions effectively as a Living Curriculum in CRE when historical meaning, lived experience, faith reflection, and contextual action are fully integrated.
OPTIMALISASI HASIL ANALISIS KEBUTUHAN BELAJAR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PERKULIAHAN PRAKTIK PERENCANAAN PEMBELAJARAN PAK Muharoma Chomsatul Farida; Desember Buulolo
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.315

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kebutuhan belajar mahasiswa semester VI dan mengkaji optimalisasi hasil analisis kebutuhan belajar dalam meningkatkan kualitas perkuliahan Praktik Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri atas 8 mahasiswa, sedangkan wawancara mendalam dilakukan kepada 4 mahasiswa yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa membutuhkan pembelajaran yang praktis, interaktif, dan berbasis pengalaman. Optimalisasi hasil analisis kebutuhan belajar terbukti meningkatkan kualitas perkuliahan, ditunjukkan oleh peningkatan pengetahuan dari 80,0% menjadi 87,0%, motivasi belajar dari 75,0% menjadi 84,0%, dan pemenuhan kebutuhan belajar dari 81,8% menjadi 88,0%. Selain itu, kesulitan belajar menurun dari 51,2% menjadi 38,0%. Mahasiswa juga menjadi lebih aktif, reflektif, dan mampu mengintegrasikan hasil analisis kebutuhan peserta didik ke dalam penyusunan perencanaan pembelajaran. Dengan demikian, analisis kebutuhan belajar berperan sebagai dasar strategis untuk meningkatkan kualitas perkuliahan praktik perencanaan pembelajaran PAK.This study aimed to analyze the learning needs characteristics of sixth-semester students and examine the optimization of learning needs analysis results in improving the quality of the Christian Religious Education (CRE) Learning Planning Practice course. The study employed a Classroom Action Research (CAR) approach based on the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles. The participants were eight sixth-semester students enrolled in the CRE Learning Planning Practice course. Data were collected through questionnaires, observations, interviews, and documentation, and were analyzed using descriptive qualitative techniques with data triangulation. The findings revealed that students required practical, interactive, dialogical, and experiential learning through discussions, instructional planning exercises, microteaching, and constructive feedback. The optimization of learning needs analysis significantly improved the quality of the course, as indicated by an increase in students’ knowledge from 80,0% to 87,0%, learning motivation from 75,0% to 84,0%, and fulfillment of learning needs from 81,8% to 88,0%. In addition, learning difficulties decreased from 51,2% to 38,0%. Students also became more active, reflective, and capable of integrating learners’ needs analysis into instructional planning. Therefore, learning needs analysis serves as a strategic foundation for improving the quality of CRE learning planning practice courses.
MENINGKATKAN KARAKTER SIKAP TOLERANSI MELALUI PRINSIP RELASI BERDASARKAN YAKOBUS 1:19-20 DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI INDONESIA Ester Widiyaningtyas; Areyne Christi; Elfan Putra Laia; Eddy Suriaatmadja
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.308

Abstract

Responsiveness character is a psychological, moral, or ethical trait that is inherent in an individual and distinguishes him or her from others. It involves being quick to respond and respond to others with responsibility and an effort to understand deeply,and maintain harmonious interactions. The purpose of this study is to analyze how the meaning of "Raising Awareness of Tolerance through CharacterResponsiveness based on James 1:19-20 in Christian Education in Indonesia." . The research method used is the literature study method, which involves collecting and analyzing relevant information based on the title under study. . The results show that the teachings of James 1:19 provide strong guidelines in the development of responsive attitudes. This teaching emphasizes the importance of listening carefully before speaking, speaking wisely, and being able to control anger. In the context of religious pluralism in Indonesia, responsive character becomes the moral basis for individuals in facing challenges and maintaining religious harmony. This research also highlights the contribution of responsiveness in strengthening tolerance among religious communities.  It is hoped that this research can make a positive contribution in the effort to build a society that is tolerant, respectful, and upholds religious diversity.Karakter sikap responsif adalah sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang melekat pada individu dan membedakannya dari yang lain, melibatkan sikap cepat memberi respon dan tanggapan terhadap orang lain dengan tanggung jawab dan upaya untuk memahami secara mendalam dan menjaga interaksi yang harmonis.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana makna “Meningkatkan Kesadaran Toleransi Melalui Karakter Sikap Responsif  berdasarkan Yakobus 1:19 dalam Pendidikan Agama Kristen di Indonesia.” Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi pustaka, yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi yang relevan berdasarkan judul yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Yakobus 1:19 memberikan pedoman yang kuat dalam pengembangan karakter sikap responsif. Ajaran ini menekankan pentingnya mendengarkan dengan cermat sebelum berbicara, berbicara dengan bijaksana, dan dapat mengendalikan amarah. Dalam konteks toleransi agama di Indonesia, karakter sikap responsif menjadi dasar moral bagi individu dalam menghadapi tantangan dan mempertahankan kerukunan agama. Penelitian ini juga menyoroti kontribusi karakter sikap responsif dalam memperkuat toleransi antar umat beragama. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang positif dalam upaya membangun masyarakat yang toleran, saling menghormati, dan menjunjung tinggi keragaman agama.Responsiveness character is a psychological, moral, or ethical trait that is inherent in an individual and distinguishes him or her from others. It involves being quick to respond and respond to others with responsibility and an effort to understand deeply,and maintain harmonious interactions. The purpose of this study is to analyze how the meaning of "Raising Awareness of Tolerance through Character Responsiveness based on James 1:19-20 in Christian Education in Indonesia." . The research method used is the literature study method, which involves collecting and analyzing relevant information based on the title under study. . The results show that the teachings of James 1:19 provide strong guidelines in the development of responsive attitudes. This teaching emphasizes the importance of listening carefully before speaking, speaking wisely, and being able to control anger. In the context of religious pluralism in Indonesia, responsive character becomes the moral basis for individuals in facing challenges and maintaining religious harmony. This research also highlights the contribution of responsiveness in strengthening tolerance among religious communities.  It is hoped that this research can make a positive contribution in the effort to build a society that is tolerant, respectful, and upholds religious diversity.
THE TRANSFORMATION OF CHRISTIAN EDUCATION: A COMPARATIVE HISTORICAL PERSPECTIVE Ira Ririhena
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.317

Abstract

Penelitian ini melakukan analisis komparatif terhadap transformasi pendekatan pendidikan Kristen mulai dari era Gereja Perdana, periode Reformasi Protestan, hingga era Kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif historis-komparatif dan teknik analisis isi, penelitian ini mengkaji berbagai sumber sekunder berupa dokumen sejarah gereja, tulisan tokoh-tokoh Reformasi, serta literatur kontemporer mengenai pendidikan Kristen. Analisis difokuskan pada tujuan pendidikan, metode pengajaran, peran pendidik, serta respons terhadap tantangan sosial dan budaya pada setiap periode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen pada era Gereja Perdana menekankan pendekatan yang holistik dan partisipatif dalam komunitas gereja dan keluarga. Pada masa Reformasi, pendekatan pendidikan bergeser ke arah literasi Alkitab dan integrasi nilainilai moral-intelektual yang dipengaruhi oleh humanisme Kristen. Sementara itu, pada era Kontemporer, pendidikan Kristen menghadapi tantangan sekularisme dan disrupsi digital yang menuntut pendekatan yang transformatif, kontekstual, dan holistik. Penelitian ini menegaskan pentingnya adaptasi pendekatan pendidikan terhadap realitas kontekstual setiap zaman tanpa mengabaikan tujuan utama pembentukan iman secara menyeluruh. Temuan penelitian memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik pendidikan Kristen yang relevan dan efektif dalam membentuk generasi muda yang beriman, kritis, dan mampu menghadapi tantangan zaman.This study conducts a comparative analysis of the transformation of Christian education approaches from the Early Church era, through the Protestant Reformation period, to the Contemporary era. Using a qualitative historical-comparative approach and content analysis techniques, the study examines secondary sources including historical church documents, writings of Reformation figures, and contemporary literature on Christian education. The analysis focuses on educational goals, teaching methods, the role of educators, and responses to social and cultural challenges in each period. The findings reveal that early Christian education emphasized a holistic and participatory approach within church and family communities. During the Reformation, the approach shifted towards biblical literacy and the integration of moral-intellectual values influenced by Christian humanism. In the contemporary era, Christian education faces challenges such as secularism and digital disruption, requiring a transformative, contextual, and holistic approach. This study highlights the importance of adapting educational approaches to the contextual realities of each era without compromising the primary goal of holistic faith formation. The findings provide valuable insights for developing relevant and effective Christian education practices that nurture faithful and critical younger generations. 
PEMURIDAN GENERASI Z DI ERA DIGITAL: MODEL PELAYANAN GEREJA YANG RELEVAN DAN TRANSFORMATIF Ibrahim Ibrahim; Yesi Novianti Puntu
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 3 (2026): Vol 6, No 3 (2026): September 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i3.318

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara Generasi Z berkomunikasi, belajar, membangun relasi, dan memahami kehidupan spiritual. Perubahan ini menjadi tantangan bagi gereja untuk mengembangkan pemuridan yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan iman, tetapi juga bersifat kontekstual, relasional, dan transformatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan tantangan pemuridan Generasi Z di era digital, mengkaji pengaruh budaya digital terhadap pembentukan iman, serta merumuskan model pelayanan gereja yang relevan berdasarkan perspektif teologi praktis. Kontribusi penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara relasi autentik, pendampingan spiritual, pemanfaatan teknologi digital, dan komunitas iman dalam pemuridan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dan analisis teologi praktis dengan teknik pengumpulan data melalui kajian literatur. Data dianalisis secara deskriptif-analitis melalui identifikasi, kategorisasi, dan refleksi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan Generasi Z membutuhkan pendekatan holistik yang mampu menjawab tantangan budaya instan, individualisme digital, serta kebutuhan akan pengalaman iman yang autentik dan relevan.  Abstract: The development of digital technology has changed the way Generation Z communicates, learns, builds relationships, and understands the spiritual life. This change poses a challenge for the church to develop discipleship that is not only focused on the transfer of knowledge of faith, but also contextual, relational, and transformative. This research aims to analyze the characteristics and challenges of Generation Z discipleship in the digital era, examine the influence of digital culture on faith formation, and formulate relevant church service models based on practical theology perspectives. This research contribution emphasizes the importance of integration between authentic relationships, spiritual assistance, the use of digital technology, and faith communities in the discipleship of Generation Z. This research uses a qualitative approach through library research and practical theological analysis with data collection techniques through literature review. The data are analyzed descriptive-analytically through identification, categorization, and theological reflection. The results show that Generation Z's discipleship requires a holistic approach that is able to answer the challenges of instant culture, digital individualism, and the need for authentic and relevant faith experiences.  

Page 13 of 13 | Total Record : 126