cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 415 Documents
Pemberdayaan masyarakat berbasis smart emergency village untuk meningkatkan kesiapsiagaan gawat darurat dan bencana Etika Emaliyawati; Yanny Trisyani; Aan Nuraeni; Ayu Prawesti Priambodo; Anastasia Anna; Cecep Eli Kosasih; Ristina Mirwanti; Donny Nurhamsyah; Firman Sugiharto
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4312

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs) and disasters represent two public health threats requiring a rapid community response prior to the arrival of professional medical aid; however, rural communities often lack the knowledge to recognize the associated emergency signs. Purpose: To provide health education based on the "Smart Emergency Village" model, aiming to enhance community knowledge regarding medical emergencies caused by NCDs and disaster preparedness. Method: The Smart Emergency Village community service program was conducted in Sagaracipta Village, Ciparay District, Bandung Regency, between March and August 2026. The initiative aimed to provide education on NCD-related medical emergencies and guided training on disaster preparedness for health volunteers and the general public, involving 27 participants. The program utilized a community empowerment approach and a one-group pretest-posttest evaluation design. Participant knowledge levels were assessed using a structured nine-item questionnaire administered before the health education (pretest) and after the completion of the educational sessions (posttest). The results were analyzed descriptively to evaluate the success of the education and training activities. Furthermore, the analysis findings served as a basis for selecting and establishing a village-level "emergency first responder" cadre group responsible for monitoring and implementing NCD-related medical emergency and disaster preparedness concepts within the village. Results: The findings indicate that prior to the educational activity, participants' knowledge levels were categorized as good for 2 participants (7.4%), fair for 10 (37.0%), and poor for 15 (55.6%); following the activity, there was a proportional improvement, with 22 participants (81.5%) demonstrating good knowledge and 5 (18.5%) demonstrating fair knowledge. The mean knowledge score rose from 4.67 points at the pre-test to 6.70 points at the post-test, and the Wilcoxon Signed-Rank test yielded a p-value of <0.001. Conclusion: The Smart Emergency Village program demonstrates that community empowerment—through education on non-communicable disease emergencies and disaster preparedness—significantly enhances community knowledge (p<0.001). In addition to raising the average knowledge score, the program also fostered a more uniform level of understanding among participants. These results indicate improved community capacity to recognize and respond to both medical emergencies and disasters. Suggestion: Program sustainability requires a commitment from village authorities and community health centers (Puskesmas) to integrate the training and mentoring of emergency first responder volunteers into routine programming, as well as to conduct periodic simulations and refresher training. Universities are encouraged to further develop this model as a sustainable community service program that can be replicated in other regions. Keywords: Community empowerment; Disaster preparedness; Emergencies; Smart emergency village Pendahuluan: Penyakit tidak menular (PTM) dan kejadian bencana merupakan dua ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan respons cepat dari komunitas sebelum bantuan medis profesional tiba, namun masyarakat pedesaan umumnya memiliki keterbatasan pengetahuan dalam mengenali tanda kegawatdaruratan tersebut. Tujuan: Memberikan edukasi kesehatan berbasis smart emergency village sebagai upaya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai kegawatdaruratan medis akibat PTM dan kesiapsiagaan bencana. Metode: Program pengabdian kepada masyarakat smart emergency village dilaksanakan di Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dalam periode Maret hingga Agustus 2026. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan edukasi kegawatdaruratan medis akibat penyakit tidak menular dan pelatihan dengan pendampingan mengenai kesiapsiagaan bencana pada kader kesehatan dan masyarakat umum. Sebanyak 27 orang untuk menjadi partisipan. Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) menggunakan desain evaluasi one-group pretest and posttest. Pengukuran tingkat pengetahuan peserta dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur berupa sembilan item pertanyaan yang diberikan kepada seluruh partisipan sebelum pelaksanaan edukasi kesehatan (pretest) dan setelah rangkaian edukasi selesai (posttest). Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi kegawatdaruratan medis akibat penyakit tidak menular dan pelatihan dengan pendampingan mengenai kesiapsiagaan bencana. Sedangkan hasil analisa digunakan sebagai rujukan dalam pemilihan dan pembetukan kader emergency first responder Desa sebagai kelompok kader yang melakukan monitoring dan penerapan konsep kegawatdaruratan medis akibat penyakit tidak menular dan kesiapsiagaan bencana di tingkat Desa. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan partisipan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 partisipan (7.4%) baik, sebanyak 10 partisipan (37.0%) cukup, dan sebanyak 15 partisipan (55.6%) kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 22 partisipan (81.5%) baik dan sebanyak 5 partisipan (18.5%) cukup. Sedangkan rata-rata skor pengetahuan partisipan mengalami peningkatan dari 4.67 poin pada saat pretest menjadi 6.70 poin pada posttest, dan uji Wilcoxon Signed-Rank mendapatkan p-value<0.001. Simpulan: Program Smart emergency village membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi kegawatdaruratan penyakit tidak menular dan kesiapsiagaan bencana secara signifikan meningkatkan pengetahuan masyarakat (p<0.001). Selain meningkatkan rata-rata skor pengetahuan, program ini juga meratakan pemahaman peserta. Hasil ini menunjukkan kapasitas komunitas yang lebih baik dalam mengenali dan merespons kondisi darurat medis maupun bencana. Saran: Keberlanjutan program membutuhkan komitmen pemerintah desa dan puskesmas untuk mengintegrasikan pelatihan dan pendampingan kader emergency first responder ke dalam program rutin, serta melaksanakan simulasi dan pelatihan penyegaran secara berkala. Universitas diharapkan mengembangkan model ini sebagai program pengabdian berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Sosialisasi dan demonstrasi pijat oksitoksin untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu post sectio caesarea Yanti Rosmiyanti; Sarini Sarini; Desty Lismayanti; Sumitro Sumitro; Okti Rahayu Asih; Debi Novita; Sapa’ah Sapa’ah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4344

Abstract

Background: The early postpartum period is challenging for mothers, particularly after a Caesarean section (CS), due to surgical wound pain, limited mobility, fatigue, and anxiety regarding delayed or insufficient breast milk flow. Oxytocin massage serves as a simple approach to support the lactation process. Purpose: To enhance the knowledge and skills of post-CS mothers regarding oxytocin massage, breastfeeding, breast pumping, and the handling and storage of expressed breast milk. Method: The activity was conducted in June 2026 in the postpartum ward of Dewi Sri Hospital, Karawang. The target participants were eight post-CS mothers receiving care in the hospital's postpartum ward. Education was delivered through lectures, interactive discussions, and Q&A sessions, complemented by practical demonstrations. Participants' knowledge and understanding were evaluated through observations of simulations during the educational session and their actual practice of oxytocin massage. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the educational activity's success and the participants' ability to independently perform oxytocin massage and handle breast milk. Results: Improvements were observed in knowledge regarding the definition of breast milk, the lactation process, and oxytocin. Regarding skills, the majority of participants demonstrated the ability to perform oxytocin massage independently, thereby boosting their confidence to seek health consultations should they encounter issues related to oxytocin massage and their post-CS recovery. Participants also established a more regular breastfeeding routine approximately every two hours and became more active in independent breast pumping. Conclusion: The outreach and demonstration activities regarding oxytocin massage for post-cesarean section mothers were successfully conducted. There was an increase in breast milk output from the first to the third day, leading mothers to breastfeed more regularly—approximately every two hours—and to more actively express milk independently. The activity was also effective in enhancing the mothers' knowledge, skills, and confidence regarding milk expression techniques, as well as the independent handling and storage of expressed breast milk. Suggestion: Healthcare facilities are encouraged to provide education on oxytocin massage to every patient undergoing a cesarean section as a form of non-pharmacological support within lactation services for post-cesarean mothers. Keywords: Breast milk; Health education; Oxytocin massage; Milk expression; Post-cesarean section Pendahuluan: Masa awal setelah persalinan merupakan periode yang menantang bagi ibu, terutama setelah sectio caesarea (SC), akibat nyeri luka operasi, keterbatasan gerak, kelelahan, dan kekhawatiran ketika ASI belum keluar lancar. Pijat oksitosin dapat menjadi salah satu pendekatan sederhana dalam mendukung proses laktasi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu post SC dalam melakukan pijat oksitosin, menyusui, pumping, serta menangani dan menyimpan ASI perah. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni 2026 di ruang rawat inap nifas RS Dewi Sri Karawang. Sasaran kegiatan adalah 8 orang ibu post SC yang sedang menjalani perawatan di ruang rawat inap nifas RS Dewi Sri Karawang. Penyuluhan dilakukan melalui ceramah, diskusi interaktif dan tanya jawab dengan intervensi berupa demonstrasi. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi selama kegiatan edukasi dan ketika melakukan praktik penerapan pijat oksitosin. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan kemampuan partisipan dalam melakukan pijat oksitosin hingga penanganan ASI secara mandiri. Hasil: Menunjukkan peningkatan dari aspek pengetahuan meliputi pengertian ASI, prose laktasi, dan oksitosi. Sedangkan aspek kemampuan responden menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan mampu melakukan pijat oksitosin secara mandiri sehingga menumbuhkan kepercaya diri untuk melakukan konsultasi kesehatan apabila mendapatkan permasalahan terkait pijat oksitosin dengan post SC. Partisipan semakin teratur menyusui bayi sekitar setiap dua jam dan lebih aktif melakukan pumping secara mandiri. Simpulan: Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pijat oksitosin yang dilakukan pada ibu post sectio caesarea berjalan dengan baik. Terdapat peningkatan pengeluaran ASI dari hari pertama hingga hari ketiga sehingga ibu menjadi lebih teratur menyusui bayinya dengan frekuensi sekitar setiap dua jam dan lebih aktif melakukan pumping secara mandiri. Kegiatan ini juga efektif dalam memberikan peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri pada ibu dalam melakukan teknik pumping serta menangani dan menyimpan ASI perah secara mandiri. Saran: Diharapkan kepada fasilitas kesehatan dapat memberikan edukasi tentang pijat oksitosin pada setiap pasien SC sebagai salah satu bentuk dukungan nonfarmakologis dalam pelayanan laktasi pada ibu post SC.
Pelatihan konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA) bagi kader Posyandu sebagai upaya pencegahan stunting Sutrio Sutrio; Anggun Rusyantia; Antun Rahmadi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4359

Abstract

Background: Stunting remains a serious public health issue in Indonesia, including in Pesawaran Regency, Lampung. Gerning Village has 11 stunted toddlers and 51 undernourished toddlers out of a total of 171. Infant and Young Child Feeding (IYCF) practices in the village remain suboptimal, with coverage rates of only 43.7% for Early Initiation of Breastfeeding and 40.9% for Exclusive Breastfeeding. Posyandu (Integrated Health Post) volunteers had not previously received training in IYCF counseling, resulting in the counseling station (Step 5) not functioning optimally. Purpose: To improve the knowledge and skills of Posyandu volunteers regarding IYCF counseling techniques as a stunting prevention measure. Method: This education and training activity was conducted in June 2026 at the Gerning Village Hall, targeting 30 Posyandu volunteers from six Posyandu units. Participatory education was delivered through interactive lectures, group discussions, demonstrations, and simulations/role-plays using IYCF modules and counseling aids. Participant knowledge improvement was measured using pre- and post-tests consisting of 10 questions on IYCF concepts and counseling techniques. Skills were assessed through observation during role-play sessions. Data were analyzed descriptively to observe changes in participants' knowledge and skill levels. Results: Participant participation reached 100%. Participants' knowledge scores increased significantly, rising from an average of 62.3 points in the pre-test to 90.1 points in the post-test (an increase of 27.8 points). All 30 volunteers (100%) successfully performed counseling simulations meeting "good" criteria, achieving an average score of 92% across all assessed aspects. Conclusion: The IYCF (Infant and Young Child Feeding) counseling training conducted for community health volunteers yielded positive results. Enhancing volunteers' knowledge of IYCF concepts and counseling techniques proved highly effective in changing family behaviors regarding the provision of optimal nutrition for child growth and development. Improving the knowledge of these volunteers who serve as the frontline of primary healthcare directly contributes to better service quality and accelerates improvements in public health status. Suggestion: It is recommended that IYCF counseling training for Posyandu volunteers be conducted on a continuous basis to ensure that counseling knowledge and skills are maintained and further enhanced. Village authorities and community health centers (Puskesmas) are encouraged to support these training activities by providing counseling aids such as flipcharts, posters, or educational materials at every Posyandu. Keywords: Education and training; Counseling techniques; IYCF; Posyandu; Volunteers Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Desa Gerning memiliki 11 balita stunting dan 51 balita gizi kurang dari total 171 balita. Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) di desa ini masih rendah, dengan cakupan Inisiasi Menyusu Dini hanya 43.7% dan ASI Eksklusif 40.9%. Kader Posyandu belum pernah mendapatkan pelatihan konseling PMBA sehingga meja penyuluhan (langkah 5) tidak berfungsi optimal.  Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu mengenai teknik konseling PMBA sebagai upaya pencegahan stunting.  Metode: Kegiatan edukasi dan pelatihan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2026 di Balai Desa Gerning dengan sasaran 30 kader Posyandu dari 6 Posyandu. Penyuluhan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi, dan simulasi/roleplay menggunakan modul dan media konseling. Peningkatan pengetahuan peserta diukur menggunakan pretest dan posttest yang terdiri dari 10 pertanyaan terkait konsep PMBA dan teknik konseling. Keterampilan dinilai melalui observasi selama sesi roleplay. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta.  Hasil: Menunjukkan tingkat partisipasi peserta mencapai 100%. Nilai pengetahuan partisipan meningkat secara signifikan dari rata-rata nilai 62.3 poin pada pretest menjadi 90.1 poin pada posttest (peningkatan 27.8 poin). Seluruh 30 kader (100%) berhasil melakukan simulasi konseling dengan kriteria baik, dengan rata-rata capaian 92% pada seluruh aspek yang dinilai.  Simpulan: Kegiatan pelatihan konseling PMBA yang dilaksanakan pada kader menunjukkan hasil yang positif. Peningkatan pengetahuan kader mengenai konsep PMBA dan teknik konseling sangat efektif untuk mengubah perilaku keluarga dalam memberikan gizi terbaik bagi tumbuh kembang anak. Peningkatan pengetahuan kader kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar secara langsung berkontribusi terhadap perbaikan kualitas pelayanan dan percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan pelatihan konseling PMBA bagi kader Posyandu untuk dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan dan keterampilan konseling dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Pihak desa dan puskesmas diharapkan dapat mendukung kegiatan pelatihan dengan menyediakan media informasi konseling, seperti lembar balik, poster, atau materi edukatif di setiap Posyandu.
Orientasi skrining kesehatan otak lansia pada kader Posyandu sebagai upaya deteksi dini penurunan fungsi kognitif Bertalina Bertalina; Sutrio Sutrio; Antun Rahmadi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4360

Abstract

Background: The elderly are an age group vulnerable to cognitive decline, nutritional disorders, and reduced physical activity, all of which can negatively impact their quality of life. Bagelen Village in Pesawaran Regency has a significant elderly population; however, *Posyandu* (integrated health post) cadres for the elderly have never received orientation on cognitive function screening, resulting in suboptimal early detection of cognitive decline among the elderly. Purpose: To enhance the knowledge and skills of *Posyandu* cadres regarding cognitive function screening, nutritional status assessment, and monitoring of physical activity among the elderly, as a means of early detection of cognitive decline. Method: This community service activity was conducted on July 23, 2026, at the Bagelen Village Hall, Gedong Tataan District, Pesawaran Regency, Lampung Province. The activity targeted 30 active elderly *Posyandu* cadres from six *Posyandu* units in Bagelen Village. Participant knowledge levels and skills were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Respondent skill levels were evaluated based on observations of simulations performed during screening practice sessions. The evaluation data were then analyzed descriptively to observe changes in the participants' knowledge and skills following the training activity. Results: The activity proceeded smoothly and successfully, achieving 100% participant participation. Participant knowledge improved significantly, with the average score rising from 58.4 points in the pre-test to 87.6 points in the post-test (an increase of 29.2 points). All 30 health volunteers (100%) successfully performed the screening simulation with a "good" rating, achieving an average score of 90% across all assessed aspects. Conclusion: The orientation activity regarding brain health screening for the elderly was conducted successfully and yielded positive results. Evaluation findings indicate an increase in participants' knowledge regarding elderly health concepts and screening techniques. The improvement in the volunteers' knowledge and capabilities will significantly contribute to the sustainability of elderly health programs, the early detection of brain function disorders (such as dementia or stroke), and the quality of healthcare services at the community level. Suggestion: Orientation activities on brain health screening for the elderly, aimed at *Posyandu* (Integrated Health Post) volunteers in Bagelen Village, should be conducted on an ongoing basis to ensure that screening knowledge and skills are maintained and enhanced. Village authorities and the Community Health Center are expected to support these orientation activities by providing screening information materials such as flipcharts, posters, or screening guidelines at every elderly Integrated Health Post. Furthermore, future orientation activities could incorporate more varied and participatory methods and be followed by field-based mentoring to further improve the volunteers' screening skills during actual practice at the elderly Integrated Health Post. Keywords: Cognitive screening; Early detection; Elderly; Integrated health post volunteers; Orientation Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif, gangguan gizi, dan penurunan aktivitas fisik yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Desa Bagelen, Kabupaten Pesawaran, memiliki jumlah lansia yang cukup besar, namun kader Posyandu lansia belum pernah mendapatkan orientasi skrining fungsi kognitif sehingga deteksi dini penurunan fungsi otak pada lansia belum optimal. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam skrining fungsi kognitif, penilaian status gizi, serta pemantauan aktivitas fisik lansia sebagai upaya deteksi dini penurunan fungsi otak pada lansia. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada 23 Juli 2026 di Balai Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Sasaran kegiatan adalah 30 kader Posyandu lansia aktif yang berasal dari 6 Posyandu di Desa Bagelen. Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan pengamatan dari simulasi ketika melakukan praktik observasi skrining. Data hasil evaluasi kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan partisipan setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar serta menunjukkan tingkat partisipasi peserta mencapai 100%. Pengetahuan peserta meningkat secara signifikan dari rata-rata nilai 58.4 poin pada pretest menjadi 87.6 poin pada posttest (peningkatan 29.2 poin). Seluruh 30 kader (100%) berhasil melakukan simulasi skrining dengan kriteria baik, dengan rata-rata capaian 90% pada seluruh aspek yang dinilai. Simpulan: Kegiatan orientasi skrining kesehatan otak lansia yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan menunjukkan hasil yang positif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai konsep kesehatan lansia dan teknik skrining. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan pada kader akan berkontribusi besar terhadap keberlanjutan program kesehatan lansia, deteksi dini gangguan fungsi otak (seperti demensia atau stroke), dan mutu pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Saran: Kegiatan orientasi skrining kesehatan otak lansia bagi kader Posyandu di Desa Bagelen perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan dan keterampilan skrining dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Pihak desa dan Puskesmas diharapkan dapat mendukung kegiatan orientasi dengan menyediakan media informasi skrining, seperti lembar balik, poster, atau panduan skrining di setiap Posyandu lansia. Selain itu, kegiatan orientasi selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode yang lebih variatif dan partisipatif, serta dilanjutkan dengan pendampingan lapangan agar mampu meningkatkan keterampilan skrining kader dalam praktik nyata di Posyandu lansia.
Kegiatan promotif-preventif kesehatan keluarga dan pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pengelolaan sampah Agus Mi’raj Derajat; Rahmat Santoso; Yunisa Mega Pasha; Ina Sugiharti; Madinatul Munawaroh; Dewi Kurnia; Nadia Ushfuri Amini; Roganda Situmorang
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4419

Abstract

Background: Indonesia faces significant health challenges, ranging from the double burden of disease to issues regarding the distribution of medical facilities and personnel. Official data from the Indonesian Ministry of Health and Statistics Indonesia (BPS) indicate that the country is grappling with a double health burden: a high prevalence of infectious diseases alongside a surge in non-communicable diseases. Consequently, educational interventions are required to provide insights aimed at improving health outcomes. Purpose: To enhance public knowledge regarding the risks of stunting, adolescent early marriage, and hypertension, and to provide guided training on household waste management and the adoption of clean and healthy living behaviors. Method: This initiative consisted of interactive education and training interventions conducted in Mandalahaji Village, Pacet District, Bandung Regency. Forty-two residents participated in the program, which involved eight lecturers and twenty-six students. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activities. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while participant skills were assessed through observations of waste sorting practices, health cadres conducting screening visits, and the implementation of clean and healthy living behaviors. These results were analyzed descriptively to provide an overview of healthy living behaviors implementation and to evaluate the success of the educational activities. Results: Evaluation showed an improvement in participants' knowledge and skills across the entire series of activities, with achievements approaching or exceeding the minimum target of 70% of the total program target. Post-test results indicated that the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge was 38 (90.5%) for waste management; 40 (95.2%) for balanced nutrition and immunization; 38 (90.5%) for screening techniques and hypertension; and 42 (100.0%) for the prevention of early marriage. Additionally, 40 participants (95.2%) demonstrated a "good" level of knowledge regarding clean and healthy living behavior following the educational activities. Conclusion: The program successfully improved community knowledge and skills regarding household waste management, balanced nutrition, early detection of hypertension, adolescent reproductive health, and healthy living behavior, with outcomes approaching or meeting the minimum target of 70% of the program's objectives. Suggestion: Periodic follow-up support by health volunteers and waste bank administrators is necessary to ensure the sustainability of waste management and healthy living behaviors practices. Health volunteers need to continue monitoring changes in community behavioral patterns specifically waste sorting practices, screening visits, and healthy living behaviors implementation in the subsequent months to ensure the program's impact is sustained. Keywords: Community empowerment; Family health education; Healthy living behaviors; Household waste management Pendahuluan: Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar di bidang kesehatan, mulai dari beban ganda penyakit hingga masalah penyebaran fasilitas dan tenaga medis. Data resmi dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia menghadapi beban ganda kesehatan, yaitu tingginya penyakit menular serta lonjakan penyakit tidak menular. Sehingga diperlukan intervensi edukasi untuk memberikan wawasan sebagai upaya perbaikan derajat kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai risiko stunting, pernikahan dini pada remaja, hipertensi, serta pelatihan dengan pendampingan pengelolaan sampah rumah tangga dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini diikuti 42 warga untuk menjadi partisipan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan 8 orang dosen serta 26 orang mahasiswa. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi ketika melakukan praktik pemilahan sampah, kader dalam melakukan kunjungan skrining, dan penerapan PHBS. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk memberikan gambaran penerapan PHBS dan menilai keberhasilan kegiatan edukasi. Hasil: Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pada seluruh rangkaian kegiatan, dengan capaian mendekati atau melampaui target minimal 70 persen dari total sasaran program. Berdasarkan posttest menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai gizi seimbang dan imunisasi dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%), untuk tingkat pengetahuan mengenai teknik skrining dan hipertensi dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai pencegahan pernikahan dini dalam kategori baik menjadi sebanyak 42 partisipan (100.0%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Program berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, gizi seimbang, deteksi dini hipertensi, kesehatan reproduksi remaja, dan PHBS, dengan capaian mendekati atau memenuhi target minimal 70 persen dari sasaran program. Saran: Perlu dilakukan pendampingan lanjutan secara berkala oleh kader kesehatan dan pengurus bank sampah agar praktik pengelolaan sampah dan PHBS dapat berjalan berkelanjutan. Pemantauan perubahan pola perilaku masyarakat (praktik pemilahan sampah, kunjungan skrining, dan penerapan PHBS) perlu terus dilakukan oleh kader kesehatan pada bulan-bulan berikutnya untuk memastikan keberlanjutan dampak program.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue