cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 415 Documents
Edukasi tertib administrasi tentang identitas pasien sebagai upaya mencegah duplikasi rekam medis Lienda Wati; Hadi Kurniawan; Risna Gizha Aulia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4016

Abstract

Background: Patient identity discrepancies such as variations in name spelling, the use of nicknames, or inconsistencies with civil registry documents can increase the risk of medical record number duplication, thereby affecting data quality and the continuity of healthcare services. One preventive measure is to raise public awareness regarding the importance of maintaining accurate and consistent patient identity records. Purpose: To educate the public on the use of accurate, complete, and consistent identity information to prevent medical record duplication. Method: A community outreach activity was conducted in Sinar Mulya Village, Banyumas District, Pringsewu Regency, Lampung Province, in January 2026. The activity took the form of an interactive educational session. Thirty-three residents meeting the inclusion criteria participated as respondents. Evaluation was conducted qualitatively by observing participant engagement during the session and their responses during the discussion and Q&A segments, serving as indicators of their involvement and understanding of the material presented. Results: The results indicate that participants understood the importance of using identity information that matches official documents when accessing healthcare services. Regarding knowledge, respondents gained an understanding of medical records, the concept of medical record number duplication, the consequences of medical record errors, and identity verification procedures in medical record administration. In terms of attitude, respondents gained insight into the importance of maintaining identity consistency with official documents, adhering to administrative data procedures at healthcare facilities, and preventing identity discrepancies to ensure high-quality medical record data. Conclusion: Community outreach activities focused on educating the public about maintaining accurate patient identity records have provided valuable insights regarding the importance of using identification that matches official documents when accessing healthcare services. These educational efforts have also fostered public awareness regarding the prevention of identity discrepancies—which can lead to duplicate medical record numbers and compromise the continuity of care. Suggestion: The public is encouraged to consistently maintain accurate patient identity information to help ensure the quality of medical record data. This educational initiative is intended to serve as a starting point and should be implemented on an ongoing basis, involving village authorities and healthcare facilities.   Keywords: Administrative accuracy; Healthcare service quality; Medical records; Patient data duplication   Pendahuluan: Ketidaksesuaian identitas pasien, seperti perbedaan penulisan nama, penggunaan nama panggilan, atau ketidaksesuaian data pada dokumen kependudukan, dapat meningkatkan risiko terjadinya duplikasi nomor rekam medis yang berdampak pada kualitas data rekam medis dan kesinambungan pelayanan kesehatan. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya tertib administrasi identitas pasien. Tujuan: Untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan identitas yang akurat, lengkap, dan konsisten sebagai upaya mencegah duplikasi rekam medis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Sinar Mulya, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada bulan Januari 2026. Kegiatan ini merupakan penyuluhan interaktif. Mendapatkan 33 warga masyarakat yang sesuai kriteria untuk menjadi responden. Evaluasi kegiatan, yang dilakukan secara kualitatif melalui observasi terhadap partisipasi peserta selama pemberian edukasi berlangsung serta respons peserta pada sesi diskusi dan tanya jawab sebagai indikator keterlibatan dan pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil: Menunjukkan bahwa peserta memahami pentingnya penggunaan identitas sesuai dokumen resmi ketika mengakses pelayanan kesehatan. Dalam aspek pengetahuan responden mendapatkan pengetahuan tentang pengertian rekam medis, pengertian duplikasi nomor rekam medis, dampak dari kesalahan rekam medis, dan langkah-langkah verifikasi identitas pada administrasi rekam medis. Sedangkan dalam aspek sikap responden mendapatkan gambaran untuk menjaga identitas yang sesuai dokumen resmi, tertib data administrasi sesuai prosedur di setiap pelayanan kesehatan, dan mencegah ketidaksesuaian identitas terhadap kualitas data rekam medis. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi tertib administrasi tentang identitas pasien memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi masyarakat mengenai pentingnya penggunaan identitas yang sesuai dengan dokumen resmi saat mengakses pelayanan kesehatan. Kegiatan edukasi ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mencegah terjadinya ketidaksesuaian identitas yang berpotensi menyebabkan duplikasi nomor rekam medis dan berdampak pada kesinambungan pelayanan kesehatan. Saran: Diharapkan kepada masyarakat untuk selalu menerapkan perilaku tertib administrasi identitas pasien sebagai upaya menjaga kualitas data rekam medis. Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi tentang keputihan fisiologis dan patologis melalui media edukasi leaflet Monalisa Siregar; Siti Maimunah; Evy Ernawati
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4031

Abstract

Background: Vaginal discharge is a common reproductive health issue among women, occurring in both physiological and pathological forms. A lack of knowledge regarding the distinction between these two conditions leads many women to regard all forms of discharge as normal, resulting in delayed medical examination and treatment. Observations at the Majelis Sirrul Anwar in Sintang Regency revealed that there are still women unable to distinguish between physiological and pathological discharge or understand proper reproductive hygiene practices. Purpose: To improve women's knowledge regarding physiological and pathological vaginal discharge through health education using leaflets. Method: This community service activity was conducted on July 15, 2026, at the Majelis Sirrul Anwar in Sintang Regency, with 45 women participating as respondents. The activity aimed to provide reproductive health knowledge to women regarding the differentiation between physiological and pathological vaginal discharge. Levels of knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved comparing pretest and posttest results to measure improvements in knowledge and understanding, thereby supporting early detection of reproductive health issues. Results: The findings showed an increase in the participants' average knowledge score from 51.1 points at the pre-test to 87.8 points at the post-test, representing a 71.8% increase. In terms of proportions, the number of respondents with knowledge in the "good" category rose from just 5 (11.1%) before the education session to 38 (84.4%) afterward. Descriptively, the improvement in knowledge also reflected heightened awareness regarding the maintenance of reproductive health and an improved ability to recognize signs of vaginal discharge requiring medical attention. Conclusion: Health education using leaflets proved effective in enhancing participants' knowledge regarding physiological and pathological vaginal discharge. The activity successfully improved mothers' knowledge about these types of discharge and raised awareness of the importance of maintaining reproductive health. Suggestion: Respondents are encouraged to apply the knowledge gained in their daily lives—specifically by maintaining reproductive hygiene, recognizing signs of pathological vaginal discharge, and promptly seeking medical attention at a healthcare facility if they experience abnormal symptoms. Keywords: Health education; Reproductive health; Vaginal discharge; Women Pendahuluan: Keputihan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami perempuan, baik yang bersifat fisiologis maupun patologis. Rendahnya pengetahuan mengenai perbedaan kedua kondisi tersebut menyebabkan banyak perempuan menganggap semua jenis keputihan sebagai kondisi normal sehingga terlambat melakukan pemeriksaan dan penanganan. Berdasarkan hasil observasi di Majelis Sirrul Anwar Kabupaten Sintang, masih ditemukan ibu yang belum mampu membedakan keputihan fisiologis dan patologis serta belum memahami cara menjaga kebersihan organ reproduksi dengan benar. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang keputihan fisiologis dan patologis melalui edukasi kesehatan menggunakan media leaflet. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2026, bertempat di Majelis Sirrul Anwar Kabupaten Sintang. Kegiatan di ikuti oleh 45 orang ibu untuk menjadi responden. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi pada ibu terkait dalam membedakan keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pencapaian pemahaman responden dalam menjaga kesehatan reproduksi sebagai upaya melakukan deteksi dini terhadap gangguan pada organ reproduksi perempuan. Hasil: Menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pengetahuan peserta dari 51.1 poin pada saat pretest menjadi 87.8 poin pada saat posttest atau mengalami peningkatan sebesar 71.8%. Peningkatan pengetahuan responden secara proporsional menunjukkan sebelum edukasi dilaksanakan sebanyak hanya 5 responden (11.1%) yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik dan menjadi sebanyak 38 responden (84.4%) setelah kegiatan edukasi. Secara deskriptif peningkatan pengetahuan juga menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dalam menjaga kesehatan reproduksi serta kemampuan dalam mengenali tanda-tanda keputihan yang memerlukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Simpulan: Edukasi kesehatan menggunakan media leaflet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai keputihan fisiologis dan patologis.     Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan ibu tentang keputihan fisiologis dan patologis serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Saran: Diharapkan kepada responden dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjaga kebersihan organ reproduksi, mengenali tanda-tanda keputihan patologis, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang tidak normal.
Pelatihan dan penyuluhan penggunaan alat cek kolesterol pada kader Posyandu Iqbal Wahid Abdullah; Gunawan Pamuji Widodo; Agus Gunawan; Agatha Tyva Julian Atmajaningtyas; Chossy Fradine; Erika Kiky Septiana; Putri Rovita Sari; Anangga Widhuta; Dwi Nooriskandar Sugiyo; Melinda Hidayatul Munawaroh; Almas Amalul Fasha; Zulfian Laila Aziz; Amara Fismasari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4085

Abstract

Background: Hypercholesterolemia is a major modifiable risk factor for atherosclerosis, coronary heart disease, and stroke. However, public awareness regarding blood cholesterol levels in Indonesia remains low, particularly among community health volunteers the front line for early disease detection at the local level. Purpose: To increase the knowledge of Integrated Health Post volunteers regarding hypercholesterolemia and to provide practical skills in operating Point-of-Care Testing (POCT) cholesterol devices. Method: This community service activity consisted of an educational session and training for volunteers, conducted in Serengan Urban Village, Serengan District, Surakarta City, Central Java. Fifteen Integrated Health Post volunteers participated, serving as the target audience for education aimed at improving their knowledge and proficiency in conducting cholesterol screenings using POCT. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activity. Proficiency levels were evaluated through observation of simulations where volunteers practiced using the POCT cholesterol device. These evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the education and training program. Results: The results showed that the mean age of participants was 27.7 years, with the majority (11 participants or 73.3%) falling within the 26–35 age range. Most participants (9 or 60.0%) had a high school education. There was a notable increase in the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge: rising from 2 participants (13.3%) before the activity to 11 participants (73.3%) afterward. Regarding proficiency, all participants (100.0%) were able to use the POCT device independently following the training. This indicates that the educational and training materials were effectively conveyed to and understood by the volunteers. Conclusion: Interactive educational sessions and training on the use of point-of-care testing (POCT) cholesterol devices proved effective in enhancing health volunteers' knowledge of hypercholesterolemia and improving their practical skills in independently operating the POCT equipment. Increased knowledge and proper technical training for volunteers will contribute positively by ensuring valid and reliable screening results for the community. Suggestion: It is recommended that similar activities be conducted on a regular and sustainable basis, supported by adequate equipment and consumables as well as routine guidance from the Community Health Center, thereby enabling Integrated Health Post volunteers to play an optimal role as the frontline for the early detection of non-communicable diseases within the community. Keywords: Cholesterol screening training; Community health volunteers; Health education; Hypercholesterolemia Pendahuluan: Hiperkolesterolemia merupakan factor risiko utama yang dapat dimodifikasi untuk aterosklerosis, penyakit jantung coroner,dan stroke. Namun kesadaran masyarakat di Indonesia mengenai kadar kolestrol darah masih rendah, khususnya dikalangan kader kesehatan masyarakat yang merupakan garda terdepan dalam deteksi dini penyakit tingkat lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu mengenai hiperkolesterolemia dan memberikan keterampilan praktis dalam mengoprasikan alat tes kolestrol POCT. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan edukasi dengan pelatihan pada kader yang dilaksanakan di Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan dikuti 15 kader Posyandu untuk menjadi partisipan sebagai sasaran pemberian edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemeriksaan kolesterol berbasis point of care testing (POCT). Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik penggunaan alat cek kolesterol POCT. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan pemeriksaan kolesterol dengan POCT. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 27.7 tahun dan mayoritas berada direntang usia 26-35 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (73.3%). Sebagian besar tingkat pendidikan partisipan adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebanyak 9 partisipan (60.0%). Secara porporsional terdapat peningkatan pengetahuan partisipan dalam kategori baik dari sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 partisipan (13.3%) menjadi menjadi sebanyak 11 partisipan (73.3%). Sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan setelah kegiatan pelatihan, seluruh partisipan (100.0%) mampu menggunakan POCT secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa materi kegiatan edukasi dan pelatihan dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh kader. Simpulan: Kegiatan penyuluhan interaktif dan pelatihan penggunaan alat cek kolesterol point of care testing (POCT) terbukti efektif meningkatkan pengetahuan kader mengenai hiperkolesterolemia dan juga meningkatkan keterampilan praktik seluruh kader dalam mengoperasikan alat POCT secara mandiri. Peningkatan pengetahuan dan pelatihan teknis yang benar bagi kader akan memberikan kontribusi positif berupa hasil pemeriksaan yang valid dan dapat dipercaya pada masyarakat. Saran: Diharapkan untuk kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan dengan dukungan alat dan bahan habis pakai yang memadai, disertai pendampingan rutin dari Puskesmas, sehingga kader Posyandu dapat berperan optimal sebagai ujung tombak deteksi dini penyakit tidak menular di tingkat masyarakat.
Pemeriksaan ankle brachial index (ABI) sebagai upaya deteksi dini gangguan sirkulasi perifer pada pengunjung Apotek K-24 A.R. Hakim Makassar Marwono Marwono; Guntur Roryngosan Fara; Muhammad Asrul Apris; Hafifah Naila Boften; Zahra Ramadhani; Nabila Zahrotun Nisa U. Ukkas; Dwita Aliffa Lamondjong; Prima Rosari Caesaria
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4100

Abstract

Background: Peripheral circulation disorders are vascular issues that often go undetected in the early stages because symptoms can be nonspecific. The Ankle-Brachial Index (ABI) examination is a simple, objective, and non-invasive method for detecting peripheral arterial blood flow impairment. Pharmacies, being healthcare facilities that are easily accessible to the public, have the potential to serve as sites for community-based health screening. Purpose: To conduct early detection of peripheral circulation disorders via ABI screening and provide education to improve public understanding of risk factors associated with peripheral vascular disease. Method: The activity employed a community screening approach targeting visitors to the K-24 A.R. Hakim Pharmacy in Makassar on Saturday, June 13, 2026. The initiative aimed to provide health services specifically ABI screening as a preventive measure along with follow-up consultations. Eighteen pharmacy visitors participated as respondents. Program evaluation was based on the number of participants screened, the completeness of screening data, the distribution of ABI results, participant response to the educational component, and the number of participants receiving recommendations for follow-up care. Results: A total of 18 participants underwent ABI screening, with a mean age of 57.89 ± 10.36 years. The majority of participants were female (66.7%). Screening results showed that 14 participants (77.8%) had normal ABI values, while 4 participants (22.2%) fell into the borderline category. No participants were found to have abnormal ABI values ​​or results in the non-compressible category. This activity also improved participants' understanding of the importance of controlling cardiovascular risk factors. Conclusion: Community-based ABI screening conducted at pharmacies can serve as a practical approach to support the early detection of peripheral circulation disorders and raise public awareness regarding vascular health. Suggestion: The implementation of ABI screening should be expanded on a sustainable basis to reach a broader target population, particularly high-risk groups such as individuals with hypertension, diabetes mellitus, smokers, and the elderly. Keywords: Ankle-brachial index; Early detection; Peripheral circulation disorders; Vascular health Pendahuluan: Gangguan sirkulasi perifer merupakan salah satu permasalahan vaskular yang sering tidak teridentifikasi pada tahap awal karena gejalanya dapat muncul secara tidak spesifik. Pemeriksaan ankle brachial index (ABI) merupakan metode noninvasif yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan aliran darah arteri perifer secara sederhana dan objektif. Apotek sebagai fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi skrining kesehatan berbasis komunitas. Tujuan: Untuk melakukan deteksi dini gangguan sirkulasi perifer melalui pemeriksaan ABI dan memberikan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko penyakit vaskular perifer. Metode: Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan skrining komunitas pada pengunjung Apotek K-24 A.R. Hakim Makassar pada hari sabtu 13 juni 2026. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan ankle brachial index (ABI) sebagai upaya preventif dan konsultasi tindak lanjutnya. Melibatkan 18 pengunjung apotek untuk menjadi responden. Evaluasi program dilakukan melalui penilaian jumlah peserta yang diperiksa, kelengkapan data pemeriksaan, distribusi hasil ABI, respons peserta terhadap edukasi, serta jumlah peserta yang mendapatkan rekomendasi tindak lanjut. Hasil: Sebanyak 18 peserta mengikuti pemeriksaan ABI dengan rata-rata usia 57.89 ± 10.36 tahun. Mayoritas peserta berjenis kelamin perempuan (66.7%). Hasil pemeriksaan menunjukkan 14 peserta (77.8%) memiliki nilai ABI normal, sedangkan 4 peserta (22.2%) berada pada kategori borderline. Tidak ditemukan peserta dengan ABI abnormal maupun kategori noncompressible. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pengendalian faktor risiko kardiovaskular. Simpulan: Pemeriksaan ABI berbasis komunitas melalui fasilitas apotek dapat menjadi pendekatan yang aplikatif untuk mendukung deteksi dini gangguan sirkulasi perifer dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan vaskular. Saran: Pelaksanaan skrining ABI perlu dikembangkan secara berkelanjutan dengan sasaran yang lebih luas, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti penderita hipertensi, diabetes melitus, perokok, dan usia lanjut.
Sosialisasi dan pelatihan penggunaan aplikasi mobile untuk monitoring kualitas hidup bayi Sutrani Syarif; Tekla Makdalena; Mona Mona
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4112

Abstract

Background: Infancy is a crucial period in the human life cycle, characterized by rapid physical, cognitive, and emotional growth and development. An infant's quality of life serves as a key indicator for assessing a child's health and well-being from an early stage. Monitoring this quality of life is still largely done manually for instance, through entries in Maternal and Child Health (MCH) booklets or based on parental recall. These methods often present challenges, such as incomplete data and delays in detecting health issues. Purpose: To enhance the knowledge and skills of healthcare workers, health volunteers, and parents regarding the use of digital technology to monitor child growth and development. Method: This initiative involved interactive education and training conducted on May 18, 2026, at the Vivin Zahlia Independent Midwifery Practice (TPMB) in Barombong District, Gowa Regency, South Sulawesi. The activity aimed to teach pregnant women, breastfeeding mothers, parents of infants (aged 0–24 months), Posyandu volunteers, and supporting healthcare workers how to identify infant growth and development milestones using a digital application. Participants included 25 parents of infants, 4 Posyandu volunteers, and 1 midwife. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the education and training on using the mobile application for monitoring child growth and development. Results: The activity demonstrated an increase in participants' knowledge regarding the importance of monitoring infant quality of life and improved their ability to use the mobile application for tracking infant health. Most participants were able to accurately input data, interpret infant growth charts, understand age-appropriate developmental indicators, and utilize reminder features for immunizations and health check-ups. Participants also reported that the application was user-friendly and practical, facilitating a more systematic approach to recording infant health data compared to manual methods. Conclusion: This activity positively impacted public health digital literacy and strengthened collaboration among health workers, community health volunteers, and families in ensuring continuous infant health monitoring. The mobile application made the monitoring process faster, more accurate, and better documented; it also supports the early detection of growth and developmental issues, enabling timely interventions. Suggestion: It is recommended that community health volunteers or health facilitators conduct periodic educational activities so that the use of the mobile application for monitoring child growth and development can benefit a wider segment of the community. Keywords: Health education; Infant health monitoring; Infant growth and development; Mobile application dissemination Pendahuluan: Masa bayi merupakan periode yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia karena pada fase ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Kualitas hidup bayi menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kondisi kesehatan dan kesejahteraan anak sejak dini. Pemantauan kualitas hidup bayi masih banyak dilakukan secara manual, seperti melalui pencatatan di buku kesehatan ibu dan anak (KIA) atau berdasarkan ingatan orang tua. Cara ini sering kali menimbulkan kendala, seperti data yang tidak lengkap, keterlambatan dalam mendeteksi gangguan kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan, kader kesehatan, serta orang tua dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pemantauan tumbuh kembang anak. Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2026 di TPMB Vivin Zahlia, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan cara mengidentifikasi tumbuh kembang bayi melalui aplikasi digital pada ibu hamil, ibu menyusui, orang tua bayi (0–24 bulan) dan kader Posyandu atau tenaga kesehatan pendamping. Peserta kegiatan terdiri dari 25 orang tua bayi, 4 orang kader Posyandu, dan 1 orang Bidan.  Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan penggunaan aplikasi mobile dalam memantau tumbuh kembang anak. Hasil: Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pentingnya monitoring kualitas hidup bayi dan meningkatnya kemampuan peserta dalam mengoperasikan aplikasi mobile sebagai media pemantauan kesehatan bayi. Sebagian besar peserta mampu melakukan input data dengan benar, membaca grafik pertumbuhan bayi, memahami indikator perkembangan sesuai usia, serta memanfaatkan fitur pengingat untuk imunisasi dan kunjungan kesehatan. Peserta juga menyatakan bahwa aplikasi mudah digunakan, praktis, serta membantu proses pencatatan kesehatan bayi secara lebih sistematis dibandingkan pencatatan manual. Simpulan: Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi digital kesehatan masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, dan keluarga dalam melakukan pemantauan kesehatan bayi secara berkesinambungan. Dengan adanya aplikasi mobile, proses monitoring menjadi lebih cepat, akurat, terdokumentasi dengan baik, serta dapat mendukung deteksi dini masalah pertumbuhan dan perkembangan bayi sehingga intervensi dapat dilakukan secara tepat waktu. Saran: Diharapkan kepada kader atau tenaga pendamping kesehatan untuk memberikan kegiatan edukasi secara berkala, sehingga penggunaan aplikasi mobile untuk monitoring tumbuh kembang anak dapat bermanfaat pada masyarakat yang lebih luas.
Pelatihan penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan kontrasepsi jangka panjang Nurqalbi Sampara; Hasriani Hasriani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4129

Abstract

Background: Long-Acting Reversible Contraception (LARC) methods are an effective strategy for improving reproductive health and preventing unplanned pregnancies. The success and sustained use of LARC are influenced by demographic and social factors, client characteristics, and the quality of healthcare services. Healthcare worker competence in providing counseling and facilitating evidence-based decision-making is crucial for enhancing LARC service quality. Implementing a prediction model for LARC usage success has the potential to help healthcare workers provide more targeted services; however, its utilization is currently hindered by limited knowledge and skills. Purpose: To enhance the knowledge and skills of healthcare workers in applying a prediction model for LARC usage success through structured, practical training. Method: This community service activity employed a participatory training approach grounded in evidence-based practice to improve healthcare worker competence in understanding and applying a prediction model for LARC usage success within family planning services. The activity took place on Thursday, January 17, 2026, at the service area of ​​TPMB Hj. Hasmah in North Galesong Regency. Twenty healthcare workers participated in the activity. Respondent knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while respondent proficiency was assessed through observations of simulations involving the practical application of the prediction model. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the education and training, interpret findings, identify counseling needs, and integrate predictive information into the family planning counseling process. Results: There was a proportional increase in the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge following the educational activity, rising to 18 participants (90.0%), while 14 participants (70.0%) showed improved capabilities after the training session. The activity enhanced participants' understanding of the determinants of Long-Acting Reversible Contraception (LARC) success, their ability to interpret prediction models, and their skills in integrating prediction results into counseling and clinical decision-making. Conclusion: The community service activity comprising training on the application of a prediction model for LARC success was successfully conducted and positively impacted the capacity building of healthcare workers. The training proved effective in improving the knowledge, skills, and attitudes of healthcare workers regarding the identification of LARC success determinants and the integration of prediction results into counseling and clinical decision-making processes. Suggestion: Healthcare workers are encouraged to consistently apply the LARC success prediction model in family planning services and to enhance their competence through continuous learning and evidence-based practice. Healthcare facilities specifically TPMB Hasmah are encouraged to integrate the LARC success prediction model into their Standard Operating Procedures (SOPs) for family planning services to ensure the sustainability and consistency of its implementation. Keywords: Contraceptive methods; Family planning; Health worker training; LARC; Prediction model    Pendahuluan: Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan strategi efektif dalam meningkatkan kesehatan reproduksi dan mencegah kehamilan tidak direncanakan. Keberhasilan dan keberlanjutan penggunaan MKJP dipengaruhi oleh faktor demografis, sosial, karakteristik klien, serta kualitas pelayanan kesehatan. Kompetensi tenaga kesehatan dalam melakukan konseling dan pengambilan keputusan berbasis bukti menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan MKJP. Penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan MKJP berpotensi membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih tepat sasaran, namun pemanfaatannya masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menerapkan model prediksi keberhasilan penggunaan MKJP melalui pelatihan yang terstruktur dan aplikatif.   Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif berbasis evidence-based practice untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam memahami dan menerapkan model prediksi keberhasilan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dalam pelayanan keluarga berencana (KB). Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 17 Januari 2026  yang bertempat di wilayah kerja TPMB Hj. Hasmah Kabupaten Galesong Utara. Peserta dalam kegiatan ini sebanyak 20 orang tenaga kesehatan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik penggunaan model prediksi. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan menggunakan model prediksi, menginterpretasikan hasil, mengidentifikasi kebutuhan konseling, dan mengintegrasikan informasi prediktif ke dalam proses konseling KB.   Hasil: Menunjukkan peningkatan secara proporsional untuk pengetahuan partisipan kategori baik sesudah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 18 partisipan (90.0%) dan peningkatan kemampuan partisipan setelah kegiatan pelatihan menjadi sebanyak 14 partisipan (70.0%). Kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai faktor determinan keberhasilan MKJP, kemampuan menginterpretasikan model prediksi, serta keterampilan mengintegrasikan hasil prediksi dalam konseling dan pengambilan keputusan klinis.   Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) telah terlaksana dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Pelatihan ini terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi faktor determinan keberhasilan penggunaan MKJP serta mengintegrasikan hasil prediksi ke dalam proses konseling dan pengambilan keputusan klinis.   Saran: Diharapkan agar tenaga kesehatan dapat menerapkan model prediksi keberhasilan MKJP secara konsisten dalam pelayanan keluarga berencana serta meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berkelanjutan dan praktik berbasis bukti. Fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya TPMB Hasmah, diharapkan dapat mengintegrasikan penerapan model prediksi keberhasilan MKJP ke dalam standar operasional prosedur (SOP) pelayanan KB sebagai upaya menjamin keberlanjutan dan konsistensi implementasinya.
Implementasi gerakan sikat gigi massal sebagai upaya pencegahan karies gigi pada anak prasekolah Sultan Amin Yasin; Arsad Arsad; Reski Dirman; Lili Rahmadani; Wahyu Wahyu
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4189

Abstract

Background: Dental caries remains a major oral health issue among preschool-aged children in Indonesia; the prevalence of early childhood caries in Luwu Regency is reported to reach 60–70%. Preschoolers are particularly vulnerable due to a lack of understanding among both parents and children regarding proper dental care, high consumption of sweet and sticky foods, and the absence of established regular tooth-brushing habits. The preschool years represent a "golden period" for behavioral development; therefore, educational interventions combined with hands-on practice from an early age are crucial for fostering healthy lifestyle habits. Purpose: To increase preschool children's knowledge and awareness regarding oral health and to teach proper tooth-brushing techniques. Method: A community service activity utilizing a community health education approach was conducted on Friday, May 1, 2026, at Ananda Lebani Kindergarten in Lebani Village, North Belopa District, Luwu Regency, South Sulawesi Province. Thirty children participated, accompanied by four classroom teachers. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, employing observational questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Participant proficiency was evaluated based on observations of their performance during a tooth-brushing simulation, specifically focusing on the correct procedural steps. Results: The community service activity was attended by 30 children from Ananda Lebani Kindergarten with great enthusiasm. Prior to the activity, the children's understanding of oral health was low; only about 20% knew the causes of cavities, and approximately 30% knew which foods were beneficial for teeth. Following the educational session and demonstration, about 93% of the children could identify the causes of caries, foods harmful to teeth, and the correct times to brush their teeth. Regarding skills, most children initially brushed only the front surfaces of their teeth using random motions for less than one minute; however, after the guided session, approximately 87% were able to use a directional brushing motion (from gum to tooth), clean all tooth surfaces, and brush for at least two minutes. The children also displayed a more positive and enthusiastic attitude toward maintaining oral hygiene compared to before the activity. Conclusion: Interactive health education combined with a group toothbrushing session proved effective in improving the knowledge, skills, and attitudes of preschool-aged children regarding oral health maintenance. This approach serves as a strategic initial step in preventing dental caries among preschoolers. Suggestion: Similar activities should be conducted on an ongoing basis every 3 to 6 months—to reinforce the children's understanding, while directly involving parents to ensure consistent toothbrushing habits at home. Schools are also encouraged to monitor the children's oral hygiene and provide adequate clean water facilities for group toothbrushing activities. Keywords: Caries prevention; Dental health education; Preschoolers; Toothbrushing technique Pendahuluan: Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut yang utama pada anak usia prasekolah di Indonesia, dengan prevalensi karies anak usia dini di Kabupaten Luwu dilaporkan mencapai 60-70%. Anak usia prasekolah sangat rentan karena masih kurangnya pemahaman orang tua dan anak tentang cara merawat gigi yang benar, tingginya konsumsi makanan manis dan lengket, serta belum terbentuknya kebiasaan menyikat gigi secara teratur. Masa prasekolah merupakan periode emas pembentukan perilaku, sehingga intervensi edukasi disertai praktik langsung sejak usia dini sangat penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak usia prasekolah mengenai kesehatan gigi dan mulut serta mengajarkan teknik menyikat gigi yang benar. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan community health education yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Mei 2026 bertempat di TK Ananda Lebani, Desa Lebani, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan diikuti sebanyak 30 orang anak sebagai partisipan yang didampingi oleh 4 orang guru kelas. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner observasi yang dilakukan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan hasil observasi dari simulasi ketika melakukan praktik sikat gigi dengan tahapan yang benar. Hasil: Kegiatan pengabdian masyarakat diikuti oleh 30 anak TK Ananda Lebani dengan antusiasme yang tinggi. Sebelum kegiatan dilaksanakan, pemahaman anak mengenai kesehatan gigi dan mulut masih rendah, di mana hanya sekitar 20% anak yang mengetahui penyebab gigi berlubang dan sekitar 30% anak yang mengetahui makanan yang baik untuk gigi. Setelah kegiatan edukasi dan demonstrasi dilaksanakan, sekitar 93% anak mampu menyebutkan penyebab karies, makanan yang merusak gigi, serta waktu yang tepat untuk menyikat gigi. Pada aspek keterampilan, sebagian besar anak sebelumnya hanya menyikat permukaan depan gigi dengan gerakan acak dan durasi kurang dari satu menit, sedangkan setelah pendampingan sekitar 87% anak sudah mampu melakukan gerakan menyikat gigi searah dari gusi ke gigi, membersihkan seluruh permukaan gigi, dan mempraktikkannya selama minimal dua menit. Anak-anak juga menunjukkan sikap yang lebih senang dan antusias terhadap kegiatan menjaga kebersihan gigi dibandingkan sebelum kegiatan dilaksanakan. Simpulan: Edukasi kesehatan interaktif yang dikombinasikan dengan praktik sikat gigi massal terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak usia prasekolah dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut. Pendekatan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam mencegah karies gigi pada anak usia prasekolah. Saran: Kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan setiap 3-6 bulan untuk memperkuat pemahaman anak, dengan melibatkan orang tua secara langsung agar kebiasaan menyikat gigi berjalan konsisten di rumah. Pihak sekolah juga diharapkan terus memantau kebersihan gigi anak dan menyediakan fasilitas air bersih yang memadai untuk kegiatan sikat gigi bersama.
Pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus dan pencegahan melalui senam diabetes Siti Robeatul Adawiyah; Nadia Artika Mulya Sari; Juarti Saputri; Jihan Syakira; Siti Hardianti; Salsabila Aprilia Putri; Heriyanah Heriyanah; Isti Monalisa; Lenny Anggitawati; Nadila Hamda Prihatni; Izza Tunnisa; Intan Intan; Merlina Merlina; Risky Tasyana Putri; Siti Firli Martanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4278

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease with a steadily rising prevalence, particularly among the productive age group, thereby impacting the community's quality of life and productivity. Early symptoms such as frequent urination, excessive thirst, excessive hunger, tingling sensations, and fatigue are often overlooked, creating a risk of serious complications. Limited public knowledge regarding the prevention, management, and early detection of diabetes mellitus is a factor that exacerbates the situation. Purpose: To enhance public knowledge about diabetes mellitus through health education and diabetes-specific exercise sessions. Method: This community service activity involved community nursing care delivered via health education, conducted from April 17 to 20, 2026, in Alam Jaya Urban Village, Jatiuwung District, Tangerang City. The activity targeted adults and the elderly who had a history of diabetes mellitus or possessed potential risk factors. Forty individuals participated as respondents. Levels of knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Health status was evaluated based on observations of random blood glucose level measurements. The activity's success was assessed descriptively based on improvements in participants' knowledge, increased community participation in health activities, and changes in community behavior regarding the prevention and control of diabetes mellitus. Results: The study showed that the mean age of respondents was 55.2 years, with the majority (32 respondents or 80.0%) falling within the 45–59 age range. Most respondents were female (70.0%). Regarding knowledge levels prior to the educational activity, 26 respondents (65.0%) were in the "good" category, 8 (20.0%) were "fair," and 6 (15.0%) were "poor"; following the educational activity, there was a proportional improvement, with 37 respondents (92.5%) reaching the "good" category and 3 (7.5%) the "fair" category. Meanwhile, the respondents' mean random blood glucose level decreased from 167.71 mg/dL at the pre-test to 151.88 mg/dL at the post-test. Conclusion: Educational activities incorporating diabetes exercise interventions are highly effective in improving public knowledge and understanding of diabetes. Health screenings and blood glucose measurements motivate the community to manage diabetes, particularly by fostering awareness regarding the adoption of healthy lifestyles and regular physical activity. Suggestion: Healthcare facilities are encouraged to provide periodic and sustained education involving diabetes exercises to reach a wider audience; this approach can serve as a preventive measure against diabetes within the community. Keywords: Diabetes exercise; Diabetes mellitus; Health education; Prevention Pendahuluan: Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif, sehingga berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Gejala awal seperti sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, lapar berlebihan, kesemutan, dan kelelahan sering kali diabaikan sehingga berisiko menimbulkan komplikasi serius. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan, pengelolaan, dan deteksi dini diabetes mellitus menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang diabetes mellitus melalui penyuluhan kesehatan dan senam diabetes. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan asuhan keperawatan komunitas melalui edukasi kesehatan yang dilaksanakan dari tanggal 17-20 April 2026 di Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Sasaran kegiatan adalah penerapan senam pada masyarakat usia dewasa dan lansia yang memiliki riwayat diabetes melitus atau berpotensi memiliki faktor risiko. Kegiatan diikuti 40 orang untuk menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Pemeriksaan kesehatan di evaluasi berdasarkan observasi dari pengukuran kadar gula darah sewaktu. Keberhasilan kegiatan dinilai secara deskriptif berdasarkan peningkatan pengetahuan peserta, peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan, serta perubahan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 55.2 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 32 responden (80.0%). Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (70.0%). Tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 26 responden (65.0%) kategori baik, sebanyak 8 responden (20.0%) kategori cukup, dan sebanyak 6 responden (15.0%) kategori kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 37 responden (92.5%) kategori baik dan sebanyak 3 responden (7.5%) kategori cukup. Sedangkan rata-rata nilai gula darah sewaktu responden mengalami penurunan dari 167.71 mg/dL pada saat pretest menjadi 151.88 mg/dL pada posttest. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi senam diabetes sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang diabetes pada masyarakat. Melalui pemeriksaan kesehatan dan pengukuran kadar gula darah memberikan motivasi pada masyarakat dalam pengendalian diabetes terutama kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat dan aktivitas fisik secara teratur. Saran: Diharapkan kepada fasilitas kesehatan untuk memberikan edukasi dengan senam diabetes secara berkala dan berkelanjutan sebagai upaya peningkatan pengetahuan tentang diabetes kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga kegiatan senam diabetes dapat menjadi salah satu solusi pencegahan terjadinya diabetes di masyarakat.
Pendampingan kader melalui pembuatan crinkle cookies ubi ungu sebagai upaya pencegahan anemia remaja putri Rismawati Rismawati; Nurqalbi Sampara; Hardyanty Subair; Erni Erni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4281

Abstract

Background: Stunting remains a pressing issue that requires resolution. The government has undertaken various efforts to address rising stunting rates across all levels of society, including in rural communities. Anemia is one factor potentially contributing to stunting. Anemia can be prevented through the consumption of foods rich in vitamins and minerals that support red blood cell formation. Purple sweet potato, which is rich in carbohydrates, vitamins, and minerals, holds great potential for use in food products designed to address nutritional issues, including anemia prevention. Purpose: To empower community health volunteers by enhancing their knowledge and skills regarding anemia screening and the production of purple sweet potato crinkle cookies as a nutritional source. Method: This community service activity was conducted at the Romang Polong Urban Village Hall in Gowa Regency. The initiative aimed to equip *Posyandu* (Integrated Health Post) volunteers with the knowledge and skills to process local purple sweet potatoes into crinkle cookies, serving as an alternative strategy for anemia prevention, particularly among adolescents. Twenty volunteers participated in the activity, accompanied by five adolescents as participating subjects. Participants' knowledge and understanding were assessed using a one-group pre-test and post-test design, utilizing questionnaires administered before and after the educational session. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the educational activity and the training on making purple sweet potato crinkle cookies as an alternative nutritional option for adolescents. Results: The findings indicate that prior to the educational activity, participant knowledge levels were categorized as good for 1 participant (5.0%), fair for 5 participants (25.0%), and poor for 14 participants (70.0%); following the activity, there was a proportional improvement, with 17 participants (85.0%) reaching the "good" category and 3 participants (15.0%) the "fair" category. Regarding participant proficiency in hemoglobin (Hb) testing and the technique for processing purple sweet potatoes into crinkle cookies, improvements were observed post-training, with all participants (100.0%) achieving the "good" category. Descriptively, the evaluation results also demonstrate a significant improvement in both knowledge and skills. Conclusion: This community service activity was conducted smoothly and effectively, enhancing community knowledge regarding anemia and providing skills aligned with community needs. The activity also motivated the community and fostered awareness regarding anemia prevention through the use of local food products to meet nutritional needs. Improved community knowledge and skills concerning nutrition will positively impact public health quality. Suggestion: It is hoped that this service activity can be continued through collaborative efforts aimed at preventing anemia among adolescents. Support from local government or relevant agencies is needed to enable the training to be conducted on a wider scale and over a longer period. Keywords: Adolescent girls; Anemia; Crinkle cookies; Health volunteers; Purple sweet potato Pendahuluan: Stunting masih menjadi permasalahan yang harus dituntaskan saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi peningkatan angka penderita stunting pada semua tingkatan termasuk pada masyarakat pedesaan. Salah satu faktor yang berpotensi menimbulkan stunting adalah anemia. Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang menunjang pembentukan sel darah merah. Ubi ungu yang kaya akan karbohidrat, vitamin dan mineral sangat potensial digunakan dalam pembuatan produk yang dapat membantu mengatasi masalah gizi, termasuk pencegahan anemia. Tujuan: Pemberdayaan kader untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan pemeriksaan kesehatan mengenai anemia serta pembuatan crinkle cookies dari ubi ungu sebagai sumber gizi. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Aula Kantor Kelurahan Romang Polong Kabupaten Gowa. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan pada kader Posyandu dalam pengolahan pangan lokal ubi ungu menjadi crinkle cookies sebagai alternatif upaya pencegahan anemia khususnya pada remaja. Kegiatan diikuti oleh 20 kader untuk menjadi partisipan dan 5 remaja sebagai subyek penyerta. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group posttest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (posttest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan pembuatan crinkle cookies ubi ungu sebagai salah satu alternatif pemenuhan gizi pada remaja. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan partisipan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 1 partisipan (5.0%) baik, sebanyak 5 partisipan (25.0%) cukup, dan sebanyak 14 partisipan (70.0%) kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 17 partisipan (85.0%) baik dan sebanyak 3 partisipan (15.0%) cukup. Sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan dalam pemeriksaan Hb dan teknik pengolahan ubi ungu menjadi crinkle cookies mengalami peningkatan setelah kegiatan pelatihan menjadi seluruh partisipan dalam kategori baik (100.0%). Secara deskriptif hasil evaluasi juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dari aspek pengetahuan dan kemampuan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini terlaksana dengan lancar dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai anemia dan juga memberikan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini juga memberikan motivasi dan menumbuhkan kesadaran pada masyarakat dalam mencegah anemia dengan menggunakan olahan bahan pangan lokal sebagai pemenuhan kebutuhan gizi. Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan masyarakat tentang pemenuhan gizi akan memberikan dampak positif pada perbaikan kualitas kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan untuk kegiatan pengabdian ini dapat dilanjutkan sebagai kegiatan kerjasama dalam upaya pencegahan anemia pada remaja. Perlunya bantuan pelaksanaan dari pemerintah setempat atau instansi terkait agar pelaksanaan pelatihan dapat dilaksanakan dalam lingkup yang lebih luas serta jangka waktu yang lebih lama.
Terapi fungsi motorik halus pada lansia melalui aktifitas kerajinan gelang tangan dari manik-manik Siti Robeatul Adawiyah; Hana Nuzula Furqonia; Nadila Hamda Prihatni; Nadia Artika Mulya Sari; Lenny Anggitawati; Heriyanah Heriyanah; Jihan Syakira; Isti Monalisa; Muhammad Agung Permana; Titik Widyastuti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4302

Abstract

Background: A decline in fine motor skills is a common issue among the elderly resulting from the aging process. This condition can make it difficult for them to perform daily activities requiring hand and finger coordination. One non-pharmacological intervention to help maintain and improve fine motor skills is group activity therapy involving the crafting of beaded bracelets. This activity engages hand-eye coordination, precision, and concentration, thereby serving as effective stimulation for the elderly. Purpose: To improve fine motor skills in the elderly through group activity therapy involving the crafting of beaded bracelets. Method: This activity was a community service initiative conducted on April 14, 2026, at the Marfati Social Institution for the Elderly (PSTW Marfati) in Tangerang City. The participants consisted of 30 elderly individuals who were physically stable and capable of participating in group activities. The initiative aimed to maintain memory and exercise the concentration of individuals aged over 60 who were experiencing reduced muscle strength affecting their fine motor skills. Evaluation was conducted descriptively through observation, focusing on participant engagement, the ability to follow instructions, hand coordination, concentration, social interaction, mood, and the finished products created by the participants. Results: Changes were observed in cognitive aspects, specifically an improvement in memory function; the majority of participants were able to follow instructions well and actively engage in the bead-making process. Regarding fine motor skills, improvements were noted in hand-eye coordination for identifying shapes and stringing beads, as well as a reduction in hand muscle stiffness. Psychosocial aspects showed a calmer demeanor, an increased ability to concentrate, and reduced susceptibility to frustration or anger; participants experienced enjoyment and satisfaction, exhibited more cooperative behavior, and found it easier to interact with fellow seniors. Conclusion: Implementing group activity therapy involving the creation of beaded bracelets offers significant benefits for the elderly, particularly in exercising fine motor skills. This activity fosters an enjoyable atmosphere, encourages greater activity among seniors, and positively influences their psychosocial well-being. This therapeutic activity is effective and beneficial for enhancing fine motor skills while supporting the overall well-being and quality of life of the elderly. Keywords: Beaded bracelets; Elderly cognition; Fine motor skills; Psychosocial; Therapeutic activity Pendahuluan: Penurunan kemampuan motorik halus pada lansia merupakan salah satu masalah yang sering terjadi akibat proses penuaan. Kondisi ini dapat menyebabkan lansia mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang memerlukan koordinasi tangan dan jari. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan kemampuan motorik halus adalah terapi aktivitas kelompok melalui kegiatan membuat kerajinan gelang tangan dari manik-manik. Kegiatan ini melibatkan koordinasi mata dan tangan, ketelitian, serta konsentrasi sehingga dapat menjadi stimulasi yang baik bagi lansia. Tujuan: Untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada lansia melalui terapi aktivitas kelompok membuat kerajinan gelang tangan dari manik-manik. Metode: Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2026 di PSTW Marfati Kota Tangerang. Peserta kegiatan berjumlah 30 lansia dengan kondisi fisik relatif stabil dan mampu mengikuti aktivitas kelompok. Sasaran dalam kegiatan ini adalah mempertahankan daya ingat dan melatih konsentrasi lansia berusia >60 tahun yang mengalami penurunan kekuatan otot dan memengaruhi kemampuan motorik halus. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui observasi berdasarkan keterlibatan peserta dan kemampuan mengikuti instruksi, koordinasi tangan, konsentrasi, interaksi sosial, suasana hati, serta hasil karya peserta. Hasil: Menunjukkan perubahan pada aspek kognitif yaitu terdapat peningkatan kemampuan aspek memori, sebagian besar mampu mengikuti instruksi dengan baik, dan terlibat aktif dalam proses pembuatan manik-manik. Sedangkan pada aspek motorik halus menunjukkan perubahan baik mengenai kemampuan mata dan tangan dalam mengidentifikasi bentuk dan merangkai manik-manik dan berkurangnya kekakuan otot tangan. Sedangkan pada aspek psikososial menunjukkan sikap terlihat lebih tenang, mampu berkonsentrasi lebih lama, dan tidak mudah frustrasi atau marah, memberikan rasa senang, menunjukkan ekspresi kepuasan, perilaku menjadi lebih kooperatif, dan lebih mudah berinteraksi dengan sesama lansia. Simpulan: Pelaksanaan terapi aktivitas kelompok dengan kegiatan membuat gelang tangan dari manik-manik memberikan manfaat yang baik bagi lansia, khususnya dalam melatih kemampuan motorik halus. Kegiatan ini juga menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat lansia lebih aktif dan memberikan pengaruh positif terhadap kondisi psikososial lansia. Kegiatan terapi terapeutik ini efektif dan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan motorik halus sekaligus mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup lansia.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 5 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue