cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
sehat.jurnalkesehatanterpadu1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai No.23 Bangkinang Kabupaten Kampar Provinsi Riau Telp. (0762) 21677
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
SEHAT : JURNAL KESEHATAN TERPADU
ISSN : -     EISSN : 29854687     DOI : https://doi.org/10.31004
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Journal of Health is a broad field of health such as health, Occupational Safety and Health, Epidemiology, nursing, public health, midwifery, medicine, Health Economics, Health Policy, Environmental health .pharmacy, health psychology, nutrition, health technology, health analysis, health information systems, health law, hospital management, and so on
Articles 296 Documents
ANALISIS PENGARUH BEBAN KERJA, MOTIVASI, DAN KETERSEDIAAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KUALITAS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT (SIMRS) DI RSUD DR. L. M. BAHARUDDIN, M.KES Annisa Aulliyah Samandy; Suhadi Suhadi; Adius Kusnan
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i2.59031

Abstract

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan sistem berbasis teknologi informasi yang digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan kesehatan di rumah sakit. Namun, implementasi SIMRS masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait beban kerja, motivasi kerja, dan ketersediaan sumber daya manusia. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas penggunaan SIMRS di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beban kerja, motivasi kerja, dan ketersediaan sumber daya manusia terhadap kualitas SIMRS di RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 239 tenaga kesehatan dan pegawai pengguna SIMRS, dengan jumlah sampel sebanyak 150 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh signifikan terhadap kualitas SIMRS dengan nilai p-value sebesar 0,000. Motivasi kerja juga berpengaruh signifikan terhadap kualitas SIMRS dengan nilai p-value sebesar 0,006. Sementara itu, ketersediaan sumber daya manusia tidak berpengaruh signifikan pada analisis multivariat dengan nilai p-value sebesar 0,170. Variabel beban kerja menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi kualitas SIMRS dengan nilai Exp(B) sebesar 36,381. Beban kerja dan motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kualitas SIMRS, sedangkan ketersediaan sumber daya manusia tidak berpengaruh signifikan. Pengelolaan beban kerja dan peningkatan motivasi tenaga kesehatan perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas implementasi SIMRS di rumah sakit
PENGARUH KEBISINGAN MESIN DAN PERSEPSI RISIKO KESEHATAN TERHADAP GANGGUAN PENDENGARAN PENGEMUDI KAPAL KATINTING : LITERATURE REVIEW La Ode Muhammad Jems Trailing Labalue; Sartiah Sartiah; Fikki Prasetya
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i2.59032

Abstract

Kebisingan mesin kapal merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran pada pengemudi kapal katinting. Paparan kebisingan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama dapat menyebabkan Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Selain faktor kebisingan, persepsi risiko kesehatan juga memengaruhi perilaku pencegahan pekerja terhadap gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebisingan mesin dan persepsi risiko kesehatan terhadap gangguan pendengaran pengemudi kapal katinting melalui pendekatan literature review. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review dengan menelaah berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang diperoleh melalui database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Garuda. Literatur yang digunakan dipublikasikan pada tahun 2014–2025 dan berkaitan dengan kebisingan kerja, gangguan pendengaran akibat kebisingan, serta persepsi risiko kesehatan pada pekerja kapal dan nelayan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebisingan mesin kapal memiliki hubungan signifikan terhadap gangguan pendengaran pada pekerja sektor transportasi laut dan nelayan pengguna kapal motor. Paparan kebisingan di atas 85 dBA dalam durasi lama meningkatkan risiko terjadinya Noise-Induced Hearing Loss. Faktor usia, masa kerja, dan lama paparan turut memperbesar risiko gangguan pendengaran. Selain itu, persepsi risiko kesehatan memengaruhi perilaku pekerja dalam penggunaan alat pelindung telinga. Pekerja dengan persepsi risiko rendah cenderung mengabaikan tindakan pencegahan sehingga lebih rentan mengalami gangguan pendengaran. Kebisingan mesin dan persepsi risiko kesehatan merupakan faktor penting yang berhubungan dengan gangguan pendengaran pada pengemudi kapal katinting.
DIVERSIFIKASI PANGAN LOKAL MELALUI PEMANFAATAN TEPUNG ULAT SAGU PADA PRODUK CAKE BERGIZI DI KAMPUNG YOBOI KABUPATEN JAYAPURA Rosmin Mariati Tingginehe; Citra Kumala Dewi; Suriani Surbakti
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i2.59169

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh potensi pangan lokal Kampung Yoboi berupa sagu (Metroxylon sp) dan ulat sagu (Rhynchophorus bilineatus var papuanus) yang memiliki kandungan gizi tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas pada olahan tradisional dan belum dikembangkan menjadi produk pangan modern yang bernilai tambah. Rendahnya diversifikasi pangan lokal, keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai kandungan gizi ulat sagu, serta minimnya keterampilan pengolahan pangan modern menjadi tantangan dalam pengembangan pangan lokal berbasis sumber daya daerah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah sagu dan ulat sagu menjadi produk cake bergizi yang memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi lebih tinggi, sehingga dapat mendukung ketahanan pangan dan peningkatan gizi keluarga. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura selama 1hari menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan pendekatan learning by doing. Tahapan kegiatan meliputi persiapan teknis dan identifikasi bahan baku, penyusunan modul pelatihan dan SOP sederhana, pelatihan pengolahan tepung ulat sagu, formulasi dan produksi cake bergizi berbasis tepung sagu dan tepung ulat sagu, serta edukasi mengenai higiene pangan sederhana. Peserta kegiatan terdiri dari kelompok mama-mama, pemudi kampung, dan masyarakat setempat berjumlah 31 orang dan mahasiswa FKM Uncen 41 orang yang terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan ini. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah ulat sagu menjadi tepung sebagai fortifikan protein pangan lokal. Masyarakat juga mampu memproduksi cake berbasis tepung sagu dan tepung ulat sagu dengan tekstur, aroma, dan rasa yang dapat diterima masyarakat.
ANALISIS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DI PT Y Lira Mufti Azzahri Isnaeni; Mahdivikiah Annisa; Putry Maulani; Raysah Zettira Edlin; Suci Amalya Salni
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v4i4.44752

Abstract

Selamat Artikel anda telah masuk pada tahap Copyediting, silahkan cek tulisan pada manuscript terkait Judul, nama penulis, afiliasi. Serta terkait penulisan, kesalahan penulisan,komentar reviewers, penggunakan bahasa asing serta tanda baca. Karena setelah tahap ini author tidak berhak lagi melakukan perubahan apapun.   Jika semua telah diperbaiki dan dianggap benar silahkan Balas pesan dengan cara ADD MESSAGE , isikan pesan pada editor serta UPLOAD FILE WORD FINAL pada Attached Files -> Upload file pada laman discussion.   Terimakasih
KARAKTERISTIK KLINIS INFEKSI METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI CIREBON Najwah Al Firdausie; Mohammad Erwin Indrakusuma; Widiyatmiko Arifin Putro
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.14982

Abstract

Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus atau MRSA merupakan suatu penyebab infeksi yang berasal dari bakteri Staphylococcus aureus yang resistant terhadap antibiotik beta laktam yaitu methicillin. MRSA dapat dikatakan positif apabila resisten dengan cefoxitin dan oxacillin. Namun, perlu eksplorasi data penunjang mengenai karakteristik infeksi yang menyebabkan MRSA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik klinis infeksi MRSA di Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati. Observasional deskriptif dengan data rekam medis dan WHO net dengan analisis data univariat. Teknik sampling yang digunakan total sampling. Dilaksanakan bulan Juli-Agustus 2024. Populasi pasien MRSA di Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati berjumlah 60 pasien. Dari 60 pasien MRSA didapatkan perempuan (32 sampel, 53,3%), usia terbanyak yaitu 48 tahun (4 sampel, 6,7%), diagnosis klinis terbanyak pada sepsis (12 sampel, 23,3%), komorbiditas Diabetes melitus tipe 2 (21 sampel, 35%), riwayat tindakan operasi debridement (20 sampel, 33,3%), riwayat pengggunaan infus (59 sampel, 98,3%), lama rawat terbanyak yaitu satu hari, dan mortalitas MRSA (33,3%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MRSA terbanyak pada jenis kelamin perempuan, usia 48 tahun, diagnosis klinis terbanyak pada sepsis, komorbiditas terbanyak pada Diabetes melitus tipe 2, riwayat tindakan operasi terbanyak pada debridement, penggunaan alat medis terbanyak pada penggunaan infus, lama rawat terbanyak 1 hari, dan mortalitas MRSA (33,3%).
EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN PRIMER TERPADU DI POSYANDU KOTA SEMARANG : PENDEKATAN MODEL CIPP Firmansyah Kholiq Pradana P.H; Muhammad Iqbal; Winda Rahma Maulida; Hafisha Huwaida; Upik Dwi Lestari
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.25543

Abstract

Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan kebijakan nasional yang bertujuan mentransformasikan Posyandu menjadi layanan kesehatan komunitas berbasis siklus hidup yang komprehensif. Kota Semarang sebagai wilayah perkotaan dengan keragaman demografis, mobilitas penduduk yang tinggi, serta variasi capaian Posyandu antarwilayah menghadapi tantangan berupa fragmentasi layanan, ketidaksinkronan data, dan kebutuhan integrasi pencatatan digital. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Posyandu ILP di Kota Semarang menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Populasi penelitian meliputi Posyandu ILP di Kota Semarang dengan sampel enam kelurahan, yaitu Srondol Wetan, Karangayu, Tlogosari Kulon, Rowosari, Muktiharjo Kidul, dan Gemah. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Variabel penelitian meliputi komponen context, input, process, dan product. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengelompokkan temuan berdasarkan komponen model CIPP. Aspek context menunjukkan bahwa ILP relevan dalam mengatasi fragmentasi layanan dan memperkuat akses layanan primer. Aspek input mengindikasikan ketersediaan tenaga kesehatan dan kader yang memadai, namun masih terdapat keterbatasan pada kompetensi digital, sarana antropometri, dan pendanaan. Aspek process menunjukkan perencanaan dan monitoring telah berjalan, meskipun pelaksanaan bervariasi akibat keterampilan kader dan kendala aplikasi ASIK. Aspek product menunjukkan peningkatan cakupan layanan dan integrasi data, tetapi kehadiran sasaran dan ketepatan pelaporan digital belum optimal. Pelaksanaan Posyandu ILP di Kota Semarang memberikan kontribusi positif terhadap penguatan layanan kesehatan primer di tingkat komunitas, namun efektivitas program perlu ditingkatkan melalui penguatan sumber daya manusia, sarana digital, dan dukungan multisektoral.
EFEKTIVITAS DANCE MOVEMENT THERAPY TERHADAP TINGKAT KECEMASAN AKADEMIK DALAM MENGHADAPI TES KEMAMPUAN AKADEMIK (TKA) Martini Nur Sukmawaty; Tiara Lani
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.59314

Abstract

Kecemasan akademik merupakan salah satu masalah psikologis yang sering dialami remaja dalam menghadapi tes kemampuan akademik. Kondisi ini dapat memengaruhi konsentrasi, motivasi belajar, dan hasil akademik siswa. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan adalah Dance Movement Therapy(DMT). Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Dance Movement Therapy terhadap tingkat kecemasan akademik dalam menghadapi tes kemampuan akademik. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Martapura menggunakan desain pre and post test with control group. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 20 responden kelompok intervensi dan 20 responden kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan Dance Movement Therapy, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Tingkat kecemasan diukur sebelum dan sesudah intervensi dengan kategori ringan, sedang, dan berat. Karakteristik responden pada kelompok intervensi mayoritas berusia 14–15 tahun sebanyak 16 responden (80%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 14 responden (70%). Pada kelompok kontrol mayoritas berusia 14–15 tahun sebanyak 18 responden (90%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 responden (60%). Sebelum diberikan intervensi, mayoritas responden kelompok intervensi mengalami kecemasan berat sebanyak 11 responden (55%). Setelah diberikan Dance Movement Therapy, tingkat kecemasan responden mayoritas berubah menjadi kategori sedang sebanyak 10 responden (50%). Hasil uji bivariat menunjukkan nilai p-value = 0,001 (<0,05) Dance Movement Therapy efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan akademik pada remaja dalam menghadapi tes kemampuan akademik.
CLINICAL PROFILE OF UVEITIS IN BEHÇET DISEASE: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Syafa Nuril Abdillah; RA Hani Faradis; Wiwik Wirnaningsih; Lailatul Muqmiroh
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.59318

Abstract

Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil klinis, epidemiologi, dan komplikasi uveitis pada penyakit Behçet di daerah endemik dan non-endemik. Pencarian literatur dilakukan di PubMed, ScienceDirect, Taylor & Francis, dan SpringerLink untuk artikel yang diterbitkan antara 2016 dan 2026. Studi yang disertakan dilakukan di 11 negara. Dari total 328 penelitian yang diidentifikasi, 41 dinilai untuk kelayakan teks lengkap, dan 13 akhirnya dimasukkan dalam tinjauan sistematis. Tiga belas studi dari 11 negara disertakan, mencakup wilayah endemik dan non-endemik, dengan ukuran sampel mulai dari 14 hingga 385 pasien per penelitian. Usia rata-rata pasien adalah 30,4 tahun, dengan dominasi pria dilaporkan dalam sebagian besar penelitian. Panuveitis non-granulomatosa bilateral adalah bentuk dominan di daerah endemik, dan vaskulitis retina secara konsisten hadir. Hipopion diidentifikasi bersamaan dengan tingkat uveitis anterior yang tinggi. Edema makula adalah komplikasi yang paling umum, diikuti oleh katarak dan atrofi optik. Variasi geografis adalah salah satu faktor paling signifikan yang mempengaruhi prevalensi uveitis Behçet. Namun, perbedaan dalam presentasi gejala dan profil klinis juga dapat disebabkan oleh faktor lain, termasuk kepositifan HLA-B51, bias rujukan pusat tersier, dan pengaruh lingkungan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Tidak ada penilaian perubahan hasil visual dari waktu ke waktu, dan tidak ada batasan usia yang diterapkan pada subjek penelitian. Tidak adanya batas usia dapat menimbulkan variabilitas dalam faktor risiko independen di antara subjek, serta perbedaan profil klinis di seluruh penelitian.
ASUHAN AKUPUNKTUR PENDERITA JIAN NIN ZHENG DI KLINIK MANDIRI CR JAKARTA UTARA Coroline Coroline; Leny Candra Kurniawan; Mayang Wulandari
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.59384

Abstract

Jian nin zheng atau frozen shoulder merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal ketiga di Dunia dengan prevalensi 2-5% dari seluruh populasi, sering terjadi pada usia >50 tahun, 10% wanita, 8% laki-laki. Data di Indonesia menunjukkan angka prevalensi sama yaitu 2-5% dan sekitar 60% jumlah penduduk dengan rentang usia 40-60 tahun, pada wanita 8,5% dan 6,1% laki-laki. Hasil studi pendahuluan pada 2 orang wanita di Klinik Mandiri CR Jakarta Utara yaitu keduanya mengalami frozen shoulder. Tujuan penelitian yaitu memberikan asuhan akupunktur pada penderita jian nin zheng di Klinik Mandiri CR Jakarta Utara. Desain studi kasus, sampel 1 partisipan, kriteria inklusi yaitu sesuai diagnostik klinik, menggunakan terapi akupunktur saja, teknik purposive sampling, Informed consent dilakukan sebelum pemberian terapi, pengumpulan data menggunakan lembar data klien dan skala nyeri NRS (Numerik Rating Scale), intervensi terapi akupunktur pada titik LI 15 (Jianyu), TE 14 (Jianliao), SI 9 (Jianzhen), SI 11 (Tianzong), EX-UE (Jianqian), LI 4 (Hegu), LR3 (Taichong), SP 10 (Xuehai), BL 17 (Geshu), HT7 (Shenmen), EX-HN22 (Anmian), Titik Ashi. Analisis content analysis. Terapi akupunktur diberikan 1 minggu 2 kali selama 12 kali sesi terapi pada titik meridian terpilih menunjukkan perbaikan status kesehatan klien setelah dibandingkan antara terapi sesi ke-1 dengan terapi ke- 6 sampai ke-12. Terdapat perbedaan signifikan sesi terapi ke-1 dengan skala NRS 7 dengan sesi terapi ke-6 dan 12 dengan skala NRS yaitu 2 dan 0. Terapi akupunktur titik ini dapat dianjurkan diberikan pada klien dengan sindrom lembab panas dan angin dingin serta adanya stagnasi Qi dan darah.
ACUPUNCTURE ELECTRO POINT STIMULATION PENDERITA YAO TONG KLINIK MANDIRI RA JAKARTA UTARA Rudy Gunawan; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.59392

Abstract

Yao tong menjadi salah satu permasalahan kesehatan global >17 miliar orang di Dunia. Insiden Rate 70-80% penduduk di negara maju dan 60% orang dewasa di Indonesia. Hasil studi pendahuluan pada 2 Januari 2026 di Klinik Mandiri RA Jakarta Utara pada 2 orang klien berusia >40 tahun bahwa keduanya menderita yao tong, 1 orang bekerja sebagai sopir truk, 1 orang lagi bekerja di kantor swasta. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi penderita yao tong dengan acupuncture electro point stimulation (AEP) di Klinik Mandiri RA Jakarta Utara. Desain studi kasus, sampel 1 orang partisipan, kriteria inklusi yao tong > 1 bulan, menggunakan terapi akupunktur saja, purposive sampling, informed consent dilakukan sebelum penelitian. Pengumpulan data menggunakan lembar data klien dan skala nyeri NRS (Numerik Rating Scale), intervensi terapi akupunktur pada titik BL 23; BL 52; DU 3; BL 25; BL 40; BL 57; BL 17; SP 10 dengan acupuncture electro point stimulation (AEP), analisis data menggunakan content analysis. Terapi akupunktur diberikan 1 minggu 2 kali selama 12 kali sesi terapi pada titik meridian terpilih dengan AEP menunjukkan perbaikan status kesehatan klien antara terapi sesi ke-1 dengan terapi ke- 4. Ke-8 sampai ke-12. Terdapat perbedaan signifikan sesi terapi ke-1 dengan skala NRS 7 dengan sesi terapi ke-4 skala NRS 4 dan terapi ke-8 dan ke-12 dengan skala NRS masing-masing 0. Asuhan akupunktur pada titik meridian ini direkomendasikan untuk partisipan dengan sindrom Stagnasi Qi dan Stasis Darah (Qi Zhi Xue Yu).