cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 1 (2023): April" : 17 Documents clear
KARAGENIN SEBAGAI MODEL INFLAMASI PADA KULIT MENCIT: GAMBARAN MAKROSKOPIK DAN HISTOPATOLOGIS Sitarina Widyarini; Sugiyono Sugiyono; Yuli Purwandari Kristianingrum; Bambang Sutrisno
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.62689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat model inflamasi kulit pada punggung mencit betina galur Swiss dengan menggunakan karagenin dengan berbagai konsentrasi. Pada penelitian ini akan digunakan 45 ekor mencit  betina galur Swiss umur 2 bulan yang dibagi dalam tiga kelompok secara acak. Kelompok I diberi karagenin  1%. Kelompok II diberi karagenin 2%, dan kelompok III diberi karagenin 4%. Induksi inflamasi dengan karagenin dilakukan melalui injeksi sub kutan karagenin dengan volume 0,1 mL pada kulit punggung mencit.  Sebelum dilakukan injeksi karagenin tebal lipat kulit (skin-fold thickness) diukur dengan menggunakan jangka sorong digital. Selanjutnya setiap jam setelah injeksi sampai dengan jam ke- 6 pasca injeksi. Hewan coba selanjutnya dietanasi dengan cara dislokasi servikalis pada akhir jam ke-6. Organ kulit diambil dengan memotong kulit pada area dimana injeksi karagenin dilakukan dan selanjutnya diawetkan dengan formalin 10% untuk pemeriksaan histopatologis dengan pewarnaan hematoxylin eosin. Analisis data tebal lipat kulit dianalisis dengan Two Ways Anova dan diikuti dengan post hoc test Tukey test. Hasil penelitian memperlihatkan  ada perbedaan bermakna pada tebal lipat kulit antar kelompok perlakuan (p<0,05). Injeksi subkutaneuos karagenin 1%, 2% dan 4% meningkatkan tebal lipat kulit sebesar 35%, 50% dan 60% pada jam pertama pasca injeksi (p<0,05). Inflamasi mild dan moderate  pada bagian dermis ditemukan pasca injeksi karagenin 1% dan 2%. Infamasi severe pada bagian dermis dan panikulus ditemukan pasca injeksi karagenin 4%. Karagenin  dapat dipakai sebagai model inflamasi akut pada kulit punggung mencit. 
PEMETAAN POLA SUHU PERMUKAAN TUBUH KUDA MENGGUNAKAN KAMERA TERMAL INFRAMERAH Koekoeh Santoso; Rivangga Yuda Hendika; Mokhamad Fakhrul Ulum; Amrozi .; Ridi Arif; Agik Suprayogi; Kudang Boro Seminar
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.66859

Abstract

Infrared thermal camera is an alternative and non-invasive method used to identify various physiological and pathological process related to body surface temperature changes.  The aim of this research was to study the body surface temperature pattern based on the observed regios. Three horses were randomly selected as animal experiments. Thermal image data was collected at 17.00 – 19.00 WIB for five days. Images were retrieved from seven regios: head, thorax, abdomen, and four lower legs. The result of horse A’s surface temperature in five days on head, thorax, abdomen, front left leg, front right leg, rear left leg, and rear right leg regios were 33.42, 33.49, 33.56, 31.30, 31.48, 31. 33.14, 31.34 °C, respectively. The resulf of horse B’s surface tempereture were 33.55, 33.65, 33.64, 31.45, 31.35, 31.53, 31.48 °C, respectively. The resulf of horse C’s surface tempereture were 33.45, 33.55, 33.60, 31.37, 31.45, 31.34, 31.42 °C, respectively. The result showed that difference on horse A’s rear left leg (p<0.05) because of inflamation. Inflamation recovery process on horse A occured on the fifth day, indicated by a drop in temperature and a change in colors on thermal image. Color noises on some images were color difference between objects and poor color saturation. Color noises on thermal images did not affect the results of temperature interpretation. 
ANALISIS KARTOGRAFI KASUS WABAH AFRICAN SWINE FEVER DI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA Roza Azizah Primatika; Bambang Sumiarto; Dyah Ayu Widiasih; Yatri Drastini; Heru Susetya; Widagdo Sri Nugroho; M.Th. Khrisdiana Putri
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.70218

Abstract

African Swine Fever (ASF) is an infectious disease in pigs caused by the African Swine Fever virus (ASFV) with virus species in the Asfarviridae family and Asfivirus genus. African Swine Fever causes economic losses for pig farmers with the number of deaths until 100%. This study aims to determine the distribution of ASF disease directions in Dairi Regency, North Sumatra Province and clusters and outliers in ASF cases in 2019 and 2020. This research method uses cartographic analysis, namely the distribution of directions and clusters and outliers with Moran's Index. Software using ArcGIS 10.5. This study obtained the results that the distribution of ASF disease in Dairi Regency in 2019 had an average center in Siempat Nempu Hulu District with longitude coordinates of 98.265459 and latitude 2.8055450. The distribution of ASF cases in 2019 is in the northwest – southeast region with a rotation of 121.05°. The ASF case in 2020 has a mean center in Lae Parira District with coordinates of longitude 98.3998 and latitude 2.7367. Meanwhile, the distribution of ASF cases in 2020 is northwest – southeast with a rotation of 133.58°. The conclusion of this study can be seen that cases of swine mortality due to ASF virus have a pattern of distribution of ASF disease and ASF case groups in 2019 and 2020.
Tingkat Morbiditas dan Mortalitas African Swine Fever pada Peternakan Rakyat di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia Korbinianus Feribertus Rinca; Elisabeth Yulia Nugraha; Yohana Maria Febriski Bollyn; Maria Tarsisia Luju; Hendrikus Demon Tukan; Wigbertus Gaut Utama
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75422

Abstract

African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit menular dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi yang menyerang ternak babi, baik ternak babi domestik maupun babi liar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat mobiditas dan mortalitas African Swine Fever pada Peternakan Rakyat yang tersebar di 12 Kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder ternak babi yang sakit dan mati akibat virus ASF. Penentuan status infeksi ASF melalui pemeriksaan sampel melalui metode polymerase chain reaction (PCR) yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morbiditas dan mortalitas pada ternak babi yang terinfeksi ASF mengalami peningkatan dari tahun 2020 hingga 2021. Morbiditas atau tingkat kesakitan secara menyeluruh meningkat dari 1,67 % di tahun 2020 menjadi 3,86% di tahun 2021. Penyebab tingginya morbiditas ASF di Kabupaten Mangarai Barat antara lain masyarakat belum memahami penerapan biosekuriti yang ketat, sistem pemeliharaan masih secara tradisonal, populasi babi liar yang tidak teridentifikasi dan personal. Mortalitas atau tingkat kematian secara menyeluruh meningkat dari 1,36 % di tahun 2020 menjadi 3,37% di tahun 2021. Penyebab meningkatnya mortalitas antara kurangnya pengetahuan masyarakat tentang transmisi penyakit, gejala klinis penyakit, sumber infeksi penyakit, dan pencegahan penyakit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas, peningkatan kasus ASF di Kabupaten Manggarai Barat disebabkan oleh peternak itu sendiri. Oleh karena itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan perlu melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada peternak di Kabupaten Mangggarai Barat agar lebih memahami ASF sehingga angka morbiditas dan mortalitas menurun.
Pemberian Gliserol secara Oral dengan Dosis 2-4 Ml/Kg Berat Badan Meningkatkan Kadar Fisiologik Glukosa Darah: Kajian pada Kambing Kacang (Capra Aegagrus Hircus) Christin Melkianus; Hary Purnamaningsih; Yanuartono Yanuartono; Irkham Widiyono
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75525

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh aplikasi gliserol secara oral drenching terhadap kadar glukosa darah pada kambing Kacang (Capra aegagrus hircus). Sebanyak 7 ekor kambing Kacang betina, umur ± 2 tahun, bobot badan 26 kg, kondisi tubuh BCS (2,5–3), tidak bunting, dan secara klinis sehat. Hewan dibagi menjadi 2 kelompok yakni kelompok perlakuan dengan larutan gliserol (G) dan kelompok perlakuan dengan air (A) sebagai kontrol. Larutan gliserol dibuat dengan melarutkan gliserol dalam air dengan perbandingan 1:1. Setelah melampaui masa adaptasi sekitar satu bulan, setiap hewan pada kelompok G diberi 2 kali perlakuan oral drenching larutan gliserol dengan dosis 4 ml/kg BB (G2) dan 8 ml/kg BB (G4), sedang setiap hewan kelompok A diberi air dengan dosis 4 ml/kg BB (A4) dan 8 ml/kg BB (A8). Pelaksanaan kedua perlakuan pada setiap hewan berselang 3 pekan. Sampel darah diambil sebelum (pada menit ke-0) dan pada menit ke-60, 120, dan 180 menit setelah oral drencing. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA. P<0,05 ditentukan sebagai kriteria signifikansi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemberian gliserol pada kelompok G2 dan G4 mengakibatkan peningkatan yang signifikan pada jam kedua dan belum menunjukkan penurunan sampai menit ke 180 yakni berada pada level 80.75 g/dL dan 88.30 mg/dL (P<0,05), sedang pemberian air dengan dosis yang sama pada kelompok A4 dan A8 tidak mengakibatkan perubahan kadar glukosa darah secara signifikan dan berada pada kisaran 58-66 mg/dL (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwan pemberian gliserol secara oral drenching dengan dosis sampai 2-4 ml/kg BB pada kambing Kacang potensial meningkatkan kadar glukosa darah secara cepat dan bertahan tidak kurang dari 3 jam setelah pemberian.
Isolasi dan Identifikasi Agen Etiologi Gejala Snot pada Ayam Broiler di Kabupaten Kupang Elisabet Tangkonda; Antin Yeftanti Nugrahening Widi; Bergita Soge
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75848

Abstract

Snot adalah salah satu gejala infeksi saluran pernafasan atas pada ayam, yang biasanya ditandai oleh kesulitan bernafas, eksudat dari rongga hidung, pembengkakan sinus infraorbital, ngorok, dan bersin. Meskipun seringkali dihubungkan dengan snot, tidak semua kejadian penyakit dengan gejala snot disebabkan oleh Avibaterium paragallinarum. Penyakit unggas dengan gejala snot sulit untuk diberantas karena manajemen peternakan yang kurang baik, variasi umur unggas dalam peternakan yang sama, fluktuasi suhu, dan kelembaban yang lebih tinggi, seperti yang sering ditemui Indonesia. Penyakit unggas dengan gejala snot telah dilaporkan dari berbagai provinsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri penyebab snot pada ayam broiler di Kabupaten Kupang. Sebanyak 4 sampel swab eksudat sinus infraorbital dan trakea dari unggas yang menunjukkan gejala khas snot diambil dari 2 peternakan broiler komersial di Kabupaten Kupang, dikultur pada agar darah dan agar coklat (disiapkan dengan 5% darah domba), dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam pada kondisi aerob dan anaerob. Sejumlah 23 isolat dimurnikan pada media nutrient agar kemudian dilanjutkan dengan untuk uji biokimia (katalase, oksidase, uji motilitas dan produksi indol) dan uji fermentasi gula. Hasil pengamatan menunjukkan, dari 23 isolat yang diuji, 17 isolat (73,91%) teridentifikasi sebagai Avibacterium paragallinarum (4 isolat), Ornithobacterium rhinotracheale (4 isolat), Pasteurella multocida (3 isolat) dan Mycoplasma sp. (6 isolat), sedangkan 6 isolat (26,09%) tidak teridentifikasi.. Dapat disimpulkan bahwa Avibacterium paragallinarum, Ornithobacterium rhinotracheale, Pasteurella multocida, dan Mycoplasma sp adalah penyebab gejala snot pada ayam broiler di Kabupaten Kupang.
Acute Moist Dermatitis with Thrombocytopenia in Cat Kurnia Desiandura; Intan Permatasari Hermawan; Hana Cipka Pramuda Wardhani; Era Hari Mudji Restijono; Palestin .
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75944

Abstract

Abstract    Background: The causes of cases of Acute Moist Dermatitis (AMD) or also known as hotspots are numerous. Early AMD is accompanied by symptoms of pruritus or different behaviors triggered by itching such as scratching or licking. Many causes of pruritus in cats such as hypersensitivity dermatitis, ectoparasites, fungal infections, bacterial infections, or skin reactions to systemic diseases. Gradually clinical symptoms will occur alopecia and erythema because it is very itchy, moist and smells on the surface of the skin. Case Description: A male Persian cat, 1.6 years old and weighing 3.4 kg, presented with a history of pruritus, alopecia, erythema and wet skin in several locations, especially around the neck, and had been present for 3 months. Appetite to eat and drink is not very good because the cat is busy scratching and biting its fur due to excessive itching. Examination Results and Treatments: After clinical examination and microscopic examination of samples, the main trigger in this case was furmite in a cat, Lynxacarus radovskyi with secondary bacterial infection causing Acute Moist Dermatitis (AMD). Not only that, ectoparasites in this case also cause other systemic diseases, namely suspicion of blood parasites that cause thrombocytopenia as evidenced by the results of a Complete Blood Count (CBC), and is characterized by clinical symptoms of hematuria and epistaxis. This cat underwent intensive treatment for several weeks with several combinations of drugs such as antiparasitics, antibiotics. antihistamines, NSID and vitamins. Conclusion: This
Profil Leukosit Tikus Jantan (Rattus novergicus L.) Galur Sprague Dawley Setelah Paparan Nanopartikel Kitosan Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss.) Fauziah Mustika Putri; Agung Janika Sitasiwi; Sri Isdadiyanto; Siti Muflichatun Mardati
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75946

Abstract

Ekstrak daun mimba memiliki aktivitas antioksidan yang memberikan efek terapeutik luas. Penelitian in vivo berbasis bio-nanomaterial banyak digunakan sebagai drug delivery untuk meningkatkan ketersediaan hayati pada obat selama berada di sirkulasi sistemik. Kombinasi antara nanopartikel dan ekstrak daun mimba perlu diketahui kadar keamananya bagi tubuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kitosan ekstrak etanol daun mimba terhadap profil leukosit tikus jantan galur Sprague Dawley jantan yang ditunjukkan dengan jumlah total dan diferensial leukosit. Penelitian ini menggunakan desain RAL dengan 4 ekor tikus jantan dari 4 kelompok perlakuan terdiri dari P0 (akuades), P1 (larutan nanopartikel kitosan), P2 (NEEDM 50%), P3 (NEEDM 100%). Pemberian perlakuan diberikan secara oral selama 28 hari. Semua prosedur penelitian telah disetujui oleh komisi etik KEPK FK UNDIP, Semarang dengan nomor sertifikat 29/EC/H/FK-UNDIP/III/2021. Sintesis nanopartikel kitosan menggunakan metode gelasi ionik dan berhasil mendapatkan ukuran nano sebesar 232,3 nm, 700,1 nm, dan 297,3 nm. Uji fitokimia pada ekstrak etanol daun mimba positif mengandung senyawa fenolik, alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, dan saponin. Variabel yang diamati yaitu jumlah total dan diferensial leukosit. Data dianalisis dengan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan secara nyata antar kelompok perlakuan (P>0,05). Jumlah total leukosit, dan jumlah rataan limfosit, monosit, dan neutrofil segmen masih dalam kisaran normal. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian sediaan nanopartikel kitosan ekstrak etanol daun mimba memberikan efek protektif terhadap sistem imun dan tidak bersifat toksik.
Laporan Kasus Auricular Hematoma pada Singa Afrika (Panthera leo) di Taman Margasatwa Ragunan Maria Yohana Simarmata; Rantimah .; Syafri Edwar; Kusdiantoro Mohamad
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75951

Abstract

Singa afrika merupakan salah satu hewan yang dikategorikan rentan terhadap kepunahan (vulnerable) menurut IUCN. Kebun Binatang Ragunan merupakan lembaga konservasi ex-situ yang memiliki peran penting dalam upaya konservasi satwa liar. Seekor singa afrika di Taman Margasatwa Ragunan bernama Suki, berumur ± 14 tahun, betina, dilaporkan mengalami pembengkakan di telinga kanannya. Pembengkakan sudah berlangsung sekitar seminggu dan singa sering menggosokkan telinganya ke dinding kandang. Hasil pemeriksaan menunjukkan singa tersebut menderita auricular hematoma (othematoma). Perawatan pilihan adalah metode bedah dengan sayatan linier untuk menghilangkan cairan hematoma. Singa Suki diberi antibiotik, antiradang, dan multivitamin untuk perawatan pascabedah. Auricular hematoma pada singa Suki mengalami proses penyembuhan yang lambat dan sembuh setelah 47 hari pascabedah.
Analisis Pemberian Serbuk Jahe Merah, Kunyit, dan Temulawak Dengan Metode Insilico dan Invivo pada Ayam Broiler Herawati .; Renanda Nur Al Jabbar; Yudit Oktanella
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76111

Abstract

This study aimed to eveluate effect of combination powder of red ginger (Zingiber officinale var. Rubrum), turmeric (Curcuma domestica), and temulawak (Curcuma xanthorrhiza) on the calculation of normal Liberkhun crypts by insilico and invivo methods. Molecular docking conducted in the pocket site of Interferon Lambda Receptor (IFN-λR) to modulate anti-inflammatory activity in chicken caecum. The study used 20 day old chickens (DOC) which were randomly grouped into 5 groups: negative control without treatment (P0) and powder addition group {0,5% (P1); 1%(P2); 1.5%(P3); 2%(P4)}. All chickens were reared for 35 days then chickens were euthanized using halal slaughter method and caecum organs were collected  for histopathological observations. all active substances red ginger (gingerol, shogaol); turmeric (curcumin,tetrahydrocurcumin); and temulawak (demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin) can bind to IFN-λR. Curcumin (-6.0 kcal/mol) have highest affinity values. Invivo treatment showed significant effect (p<0.05) on normal calculation of Liberkhun crypts due to tissue damage. Tukey's test confirmed that negative group was significantly different from P2, P3, and P4 with an average (4.35 ± 1.09b; 5.6 ± 1.54c; and 5.7 ± 1.78c). This research suggests that the addition of combination powder by 1,5% can potentially used for anti-inflamatory agent that confirmed by insilico method.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue