cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 824 Documents
Test the Activity of the Juice and Infusion of Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) againts Ascaridia galli worms in Vitro Isti widayati; Dwi Nurhayati; Alnita Baaka
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.48550

Abstract

Kebar grass contains active compounds that can be used as herbal ingredients in the treatment of diseases. This study was conducted to test the anthelmintic activity of grass kebar against worms Ascaridia galli in vitro. This study uses Kebar grass juice and infusion with a concentration of 15%, 30%, 45%, and 60%, and 4 repetitions. Each level of the experiment is placed in each cup containing 25 ml of solution and 5 worms. Worm mortality is recorded every 2 hours. The results showed that the juice and infusion of kebar grass were concentrations of 15%, 30%, 45%, 60% capable of killing worms with a mean time on the juice of Kebar grass respectively 9.5; 8; 7.5; 7 hours, and the average time for Kebar grass infusion is 9.5; 8.5; 8; 7.5 hours. The immersion time is a good variable to explain the variable of worm death at each concentration of treatment. There is an anthelmintic effect on grass juice and infuse kebar grass against worms Ascaridia galli in vitro. The duration of soaking and the concentration of juice and infusion of Kebar grass in this study had a significant effect on the mortality of worms. It was concluded that the juice and grass infuse kebar(Biophytum Petersianum Klotzsch) have anthelmintic effect against worms Ascaridia galli in vitro. Concentration Kebar grass juice and infuse kebar is increasing, then the shorter the time it takes to kill the worms Ascaridia galli in vitro.
Penyebaran Penyakit Brucellosis di Wilayah Koasistensi Administrasi Dinas dan Kesmavet Roza Azizah Primatika; Bambang Sumiarto; Widagdo Sri Nugroho; Dyah Ayu Widiasih; Yatri Drastini; Doddy Yudhabuntara; Heru Susetya
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.51253

Abstract

Brucellosis is a Brucella bacterial infectious disease that is spread from animals to humans, generally through consumption of milk, especially unpasteurized milk, or other dairy products. Veterinary public health has an important role in preventing transmission of disease to humans through both animals and foodstuffs of animal origin or other animal origin ingredients. Brucellosis is one of the problems often faced by the Animal Husbandry Department, especially at the Animal Health Unit. Handling and controlling about Brucellosis is very vital to maintain animal health and reduce the level of economic losses of farmers due to Brucellosis experienced by livestock owned. This study aims to determine the spread of Brucellosis disease by mapping in the Administrative and Service Coordination areas, to know the handling and control actions carried out by the Animal Husbandry Service throughout the implementation of the Administrative Coordination Office and Veterinary Public Health. The results of the mapping of the spread of Brucellosis in the District of Veterinary Public Health and Public Service Administration Coordination can be divided into 3 groups with the number of cases <10, 10 - 66, and> 66. The number of cases between the range of 10 - 66 there are 3 regions, while the number of cases> 66 there are 2 regions.            Keywords : Brucellosis; Mapping; Handling and Control; Descriptive Statistics
Potensi Tepung Magot Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Agen Antibakteri dan Immunomodulator Pakan Ternak Unggas secara In vitro Desy Cahya Widianingrum; Melinda Erdya Krismaputri; Listya Purnamasari
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.53347

Abstract

Tepung Magot dalam pakan unggas tidak hanya dapat digunakan sebagai alternatif sumber protein namun juga diharapkan memiliki efek antibakterial dan immunomodulator. Penelitian ini menggunakan metode in vitro untuk mengetahui efek antimikrobial dan immunomodulator tepung magot. Uji sensitivitas dilakukan dengan metode disc difusi agar, uji aktivitas fagositosis diamati pada makrofag peritoneum mencit Balb-C jantan berumur 8 minggu terhadap Staphylococcus aureus (S. aureus), serta uji tantang S. aureus terhadap tepung magot dilihat di bawah scanning electron microscopy (SEM). Data hasil uji sensitivitas dan pengamatan dengan teknik SEM dilaporkan secara deskriptif. Perbedaan aktivitas fagositosis makrofag antar perlakuan diuji dengan analisis varian satu arah dengan uji lanjut honestly significant difference (HSD) Berdasar hasil penelitian diketahui bahwa tepung memiliki 38,22% kandungan protein dengan profil asam amino yang lengkap. Kandungan asam amino tertinggi pada tepung magot adalah (7685,84 mg/kg), aspartat (5864,19 mg/kg), leusin (5034,31 mg/kg). Asam lemak esensial yang terkandung pada tepung magot adalah asam laurat (13,39%) Hasil uji sensitivitas diketahui tepung magot tidak memberikan zona hambat pada bakteri S. aureus. Introduksi tepung magot pada fagositosis secara in vitro dapat meningkatkan kinerja makrofag dengan perannya seperti opsonin berdasar pengamatan SEM. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tepung magot potensial digunakan sebagai imunomodulator natural dan pengganti protein pakan unggas.
Penilaian Risiko Kualitatif Masuknya Rabies Melalui Pergerakan Anjing dari Provinsi Jawa Barat ke Kota Surakarta Indri Permatasari; Bambang Sumiarto; Heru Susetya
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.58147

Abstract

Abstrak      Lalu lintas anjing dari daerah tertular rabies ke daerah bebas rabies masih terjadi di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu pemicu terhadap munculnya kasus rabies di daerah bebas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko kualitatif kemungkinan masuknya rabies melalui pergerakan anjing konsumsi dari Jawa Barat ke Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara, kuesioner, pendapat pakar, dan observasi langsung di lapangan. Data sekunder diperoleh melalui kajian literatur, penelusuran publikasi ilmiah, dan dokumen dari instansi berwenang yang tidak dipublikasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian pelepasan dari daerah asal anjing adalah “sedang” dengan ketidakpastian rendah. Tingkat kejadian rabies pada hewan di Provinsi Jawa Barat tahun 2019 sebesar 3,1%. Penilaian pendedahan adalah “tinggi” dengan ketidakpastian rendah karena frekuensi pengiriman anjing konsumsi dari Jawa Barat dilakukan setiap hari. Penilaian dampak adalah “tinggi” dengan ketidakpastian rendah karena ada dampak tunggal yang masuk dalam kategori signifikan di tingkat nasional. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penilaian risiko kualitatif masuknya rabies ke Kota Surakarta adalah tinggi dengan ketidakpastian rendah. Evaluasi kemungkinan kualitatif dapat mempertimbangkan tingkat kejadian rabies daerah asal dan frekuensi pengiriman anjing konsumsi setiap hari yang merupakan masalah penting risiko masuknya rabies. 
POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK ALGA HIJAU Halimeda makroloba Decaisne DARI PERAIRAN DESA HUTUMURI KOTA AMBON Sriyati Sampulawa; Wa Nirmala
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.59980

Abstract

Perkembangan penggunaan obat-obatan tradisional  untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat sudah cukup meluas, salah satu tumbuhan yang sering digunakan dalam bidang kesehatan yaitu alga hijau, penggunaan alga hijau karena memiliki senyawa metabolit sekunder yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri, namun isolasi senyawa aktif dari alga hijau yang efektif  dalam menghambat pertumbuhan bakteri masih jarang dilakukan, salah satunya Halimeda makroloba Decaisne sehingga perlu dilakukuan isolasi dan identifikasi senyawa yang aktif dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak alga hijau Halimeda makroloba Decaisne dari perairan Desa Hutumuri Kota Ambon dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu proses pengambilan sampel, proses ekstraksi, proses uji fitokimia uji daya hambat bakteri. Berdasarkan hasil penelitian uji fitokimia menunjukan bahwa ekstrak alga hijau Halimeda makroloba Decaisne kandungan senyawa Alkoloid, Flavonoid, Terpenoid, Fenolik, dan saponin yang berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Kemampuan ekstrak alga hijau Halimeda makroloba Decaisne dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60% dan 80%, dan Kemampuan ekstrak dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 60% dan 80%.
Efficacy of Albendazole Against Strongylus sp. and Hematology Changes on Equine in Yogyakarta Special Region yuriadi yuriadi; Ida Tjahajati; Guntari Titik Mulyani; Kelviano Muqit; Aidah Rahmanita
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.60110

Abstract

The infestation of Strongylus sp. in horses can cause losses to horse breeders, including anorexia, anemia, gastrointestinal diseases and can cause death and decrease the horse population in DIY. Albendazole was a Benzimidazole preparation that is often used to treat worms in ruminants. This study also aims to determine the effect of Albendazole on blood images before and after treatment. The material used in this study were 10 horses with male and female sex,  over 3 years old, and infected with Strongylus sp. with an infestation rate of 200 EPG in faeces. Before treatment of drug was carried out, the faeces was examined with Mc Master method. After treatment with Albendazole, the worm eggs were examined three times at intervals of three days. Routine examination of worm eggs and blood was carried out at the Laboratory of the Department of Internal Medicine, Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada. The results showed that the EPG number decreased from the 0th, 3rd, 6th and 9th day of examinations. The average number of EPG on the 0th day was 990 eggs/gram, and the examination on the 9th day showed the number of eggs was 0 eggs/gram. The results of the hematology examination also showed no significant difference except for the high number of eosinophils on the 12th day after drug administration. The conclusion from this research is that Albendazole as a worm medicine can kill Srongylus sp. however, it does not affect the horse's hematology and health status.
Identifikasi Molekuler Bakteri Staphylococcus sp. dan Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Subklinis pada Ternak Kambing Perah Clara Ajeng Artdita; Fatkhanuddin Aziz; Nurulia Hidayah; Achmad Fauzi; Triastuti Septi Wulandari; Reza Luthfi Hamid
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.60557

Abstract

Mastitis merupakan radang pada glandula mammae (ambing) ternak perah. Mastitis tipe subklinis sering dikaitkan pada kejadian mastitis di peternakan ruminansia kecil seperti kambing perah (kambing Peranakan Etawah, Saanen, dan Sapera). Patogen utama yang berperan dalam kejadian mastitis ini adalah genus Staphylococcus. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan identifikasi bakteri Staphylococcus sp. dan Staphylococcus aureus sebagai penyebab mastitis subklinis pada kambing perah dengan menggunakan metode polymerase  chain reaction (PCR). Tahapan metode yang dilakukan adalah ekstraksi DNA dengan teknik spin-collumn system terhadap 26 isolat bakteri yang telah dilakukan uji biokimia sebelumnya dan amplifikasi gen spesifik 23s rRNA Staphylococcus sp. dan Staphylococcus aureus, serta methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA), dilanjutkan dengan visualisasi menggunakan UV-transluminator. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 12 isolat sampel teridentifikasi Staphylococcus sp. dan 1 diantaranya teridentifikasi Staphylococcus aureus. Isolat yang teridentifikasi Staphylococcus aureus bukan termasuk MRSA. 
Effectiveness Comparison Between Young Leaf Extracts Acacia nilotica with Desmanthus virgatus Against Vermicidal Potency of Haemonchus contortus In-vitro I Gusti Komang Oka Wirawan; Aholiab Aoetpah; Jois Moriani Jacob
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.60809

Abstract

Acacia nillotica and Desmanthus virgatus are two entopharmacologycal plants that thrives throughout the season in East Nusa Tenggara Province, other Provinces in Indonesia or tropical countries. Extraction of young leaves of Acacia nillotica (EDMAN) and Desmanthus virgatus (EDMDV) contains tannin compound. By pharmacodynamic viewpoint, this extraction has potency as an anthelmintic. Objective: to compare the in-vitro effectivity of young leaves extraction of the two plants as a vermicidal power to combat Haemonchus contortus. Materials: young leaves of Acacia nillotica and Desmanthus virgatus and Haemonchus contortus. Method: The study was grouped into four treatments: EDMAN, EDMDV, Positive control (Albendazole 0,055%) and negative control (aquades).  The concentration of the young leaves extracts are 2.5%, 3.5%, 4.5% out of 0.01 g/mL of extraction. Each treatment was applied to 6 female Haemonchus contortus with four replicates allowing immersion time for 1, 3, 5 or 7 hours. Variable measured and tested was mortality of the H. contortus. The vermicidal effectively was descriptively analysed. The results showed that mortality percentage (vermicidal) treatment of 2.5%, 3.5%, 4.5% EDMAN for 7-hour immersion was 16.7%, 45.8%, 12.5%, respectively. That values for EDMDV for similar concentrations and immersion time was 50%, 33.3%, 12.5%, respectively. Conclusion: EDMDV has a more effective vermicidal power between the two etnopharmacological treatments at 2.5% concentration.
Kepincangan Akibat Kuku Abnormal Sapi Perah di Kandang dengan Alas Karet dan Beton Soedarmanto Indarjulianto; Catur Sugiyanto; Ambar Pertiwiningrum; Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Teguh Ari Prabowo; Ahmad Syahrul Fauzi
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.61684

Abstract

Kepincangan pada sapi perah yang dapat diebabkan kuku abnormal dapat mempengaruhi kesehatan dan produksi susu. Penelitian ini bertujuan membandingkan kasus kepincangan akibat kuku abnormal pada sapi perah yang dipelihara di kandang dengan alas karet dan beton. Penelitian ini menggunakan 104 ekor sapi perah dari 23 peternak, yang terdiri dari 72 ekor dipelihara dengan alas kandang karet dan 32 beton. Semua sapi diperiksa kukunya, kemampuan berdiri dan berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kasus kuku abnormal sebanyak 26 dari 105 ekor sapi (25%) yang terdiri dari 16/72 ekor (22,2%) pada kandang alas karet dan 10/32 ekor (31,3%) pada kandang alas beton. Kondisi kuku tersebut menyebabkan sebanyak 8 ekor sapi (30,8%) kesulitan berdiri atau kesulitan berjalan dan (69,2%) masih dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Sebanyak 6/16 ekor (37,5%) sapi pada kandang alas karet dan 2/10 ekor (20%) sapi pada kandang alas beton menunjukkan kesulitan berdiri dan berjalan. Abnormalitas kuku pada penelitian ini kemungkinan disebabkan kuku tidak dipotong tepat waktu karena peternak kurang berpengalaman. Kesimpulan dari peneltian ini adalah prevalensi problem kuku abnormal adalah 25% yang didapatkan lebih banyak terjadi pada kandang alas beton. Kepincangan akibat kuku abnormal terjadi pada 30,8% sapi perah kuku abnormal dan kejadian didapatkan lebih banyak pada sapi yang dipelihara di kandang dengan alas karet.
Estimasi Kadar Air Daging Sapi Berdasarkan Luas Area Jejak Air Daging Fresh Meat Water Estimate Based On Meat Water Stain Area Fakhri Husain; Elok Elita Rahmawati; Widagdo Sri Nugroho
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.62386

Abstract

Daging sapi mengandung protein tinggi, zat besi, seng, selenium, riboflavin, vitamin B6, vitamin B12, niasin, fosfor, dan asam amino esensial yang dibutuhkan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk  mengestimasi kadar air daging sapi berdasarkan jejak air daging pada kertas. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengantisipasi pemalsuan daging (gelonggongan). Sebanyak 10 sampel daging bagian silrloin sberat 250gram diambil dari individu berbeda yang telah dipastikan dalam kondisi sehat dan normal dan dipotong di RPH. Daging dibawa dengan kotak pendingin dari ke laboratorium. Sebanyak 100gram daging diuji proksimat dan lima (5) gram untuk uji tekan dengan berat beban sebagai perlakuan yaitu 0,5 kg dan 2 kg selama 5 menit di atas kertas di kertas saring Whatmann no 1. Luas area jejak air daging pada kertas diukur menggunakan planimeter (Planix-5, Tamaya®, Jepang). Data luas area jejak air daging hasil uji tekan dan kadar  air hasil uji proksimat dianalisis regresi linier sederhana. Hasil uji proksimat menunjukkan kandungan nutrisi daging yaitu kadar air -rata 74,16±1,11%, kadar abu 0,98 ± 0,09%, kadar protein 19,38±1,47%, dan kadar lemak 3,98±2,86%. Rerata luas jejak air daging menggunakan beban 0,5 kg adalah 27,03±14,3 cm2, dan persamaan linier yang dihasilkan kadar air daging (Y)= 72,925+0,046 (P>0,05), sedangakan dengan beban 2 kg menghasilkan luas rata-rata 43,37±15,67 cm2, dan persamaan linier Y = 71,573 + 0,059X (P<0,05). Berdasarkan persamaan linier dengan beban 2 kg maka kisaran luas jejak air untuk daging normal diperoleh dari 1-143 cm2 dengan perkiraan kadar air 71,63-80,01%.  

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue